Modify Profile

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - minyounglee

Pages: [1] 2 3 ... 11
1
Short Fanfic / SESOSOK - Minsun Short Story
« on: January 15, 2012, 07:20:16 am »
SESOSOK

By Minyounglee

Cerita kecil ini ditulis menjelang subuh, seperti tulisan-tulisanku lainnya. Dan ceritanya dipersembahkan untuk Moow, yang dengannya lah aku berceloteh ketika tengah menulis ‘Sesosok’. Selamat membaca!


Kami duduk berdampingan pada kedua sofa rotan bulat yang memenuhi balkon kecil apartemenku. Langit sedang senang, lihat saja cahaya manis dari taburan bintang-bintang. Kuhembuskan helaan nafas kagum, kemudian berpindah pandang menatap wanita di sebelahku sana.

Cantik. Mata bulatnya kini tertutup, seakan ia menikmati embusan pelan angin sepoi. Tetapi kutahu ia kedinginan, rona kedua pipinya mengatakan kejujurannya. Bagaimana tidak? Ia telanjang dibalik jubah mandi suteranya.

“Sayang, ayo kita masuk,” bujukku lembut.

Ia menggeleng. Matanya terbuka dan berkedip. Ketajaman dan kecerdasan dari pandangan mata itu tak pernah gagal memanggil segenap kekagumanku.

“Belum, suasananya indah,” jawabnya gamblang. Ia membasahi bibir lalu memandang lurus-lurus hamparan langit malam diatas kami. Sekilas suara transportasi terdengar, kota hampir tertidur, lagipula ini sudah lewat tengah malam sehingga tak banyak orang berkeliaran.

Aku membiarkan ia termenung kembali. Kami diliput kesenyapan yang menenangkan. Kuputuskan, kalau ada wanita paling tepat yang akan mengisi seluruh penjuru kehidupanku hingga tua nanti, dialah orangnya. Kurasakan sejumput senyum simpul menarik bibirku. Tak habis pikir, aku bisa sebegini bersyukurnya atas kehadiran seseorang dalam hidupku.

Jikalau suasana ini indah baginya…, bagiku keindahan sejati itu adalah dirinya. Aku mampu menatap sosok serupawan malaikat ini berjam-jam bahkan berhari-hari tanpa didera kebosanan. Aku terkagum, aku terpikat, hatiku benar-benar habis tak bersisa diambilnya. Wanita ini telah mencuri setiap inci dari ruang hatiku dan tak kupungkiri kuberikan semua untuknya dengan mudah. Bagaimana tidak ketika, bibir seksi itu menyihir kewarasanku, jemari mungilnya membelai rambut hitamku, sementara suaranya yang mengairahkan berbisik ‘I love you, darling.’. Aku semakin terjatuh pada lubang tak berdasar, dahulu kunamakan lubang itu cinta, namun seiring berjalannya waktu tak ada kata yang dapat menamakan perasaanku terhadapnya.

Aku menyilangkan lenganku dalam upaya menghangatkan tubuh. Aku tak berpakaian kecuali seonggok jins belel yang membalut kaki panjangku. Orang-orang mungkin berpikir, pria waras mana yang mau bertelanjang dada pada bulan Januari saat Seoul sedang dingin-dinginnya. Namun, inilah caraku satu-satunya untuk menjaga akal sehat selama aku bersamanya. Atau kemungkinan lain adalah kami takkan berada disini menikmati kehadiran satu sama lain, melainkan diatas kasur sampai pagi menjelang sambil sibuk mendesah nikmat.

Wanitaku sangat sibuk akhir-akhir ini, sibuknya menghalahkan presiden. Terkadang ia tak pulang, kami bahkan belum bertemu seminggu terakhihr sesungguhnya.

Dalam kesadaran yang minim, aku bangkit sebab terpaan anginnya semakin menjadi. Aku berjongkok dihadapannya dan tersenyum hangat sembari mengeluskan punggung tanganku pada pipinya. Ia sudah setengah tertidur, kelopak matanya tertutup tak sadar.

“Hye-Sun.”

Susah payah ia membuka mata, aku tahu ia kelelahan, Hye-Sun baru datang lima belas menit sebelum tengah malam tadi.

“Hai, pangeran, maaf aku loyo,” balasnya, tawa kecil terlepas dari mulut Hye-Sun.

“Shhh.” Aku menyuruh ia diam, membawa tubuh mungil itu kedalam pelukanku dan mengendongnya. Pekik kaget Hye-Sun sempat terdengar, tetapi aku menghiraukannya, kami sudah melakukan lebih jauh daripada sekedar menggendong.

“Hmmm…” Hye-Sun bergumam senang sewaktu aku membawanya kedalam apartemen, dimana udara hangat berangsur menyelimuti kulit kami yang meremang. Aku mendorong pintu kamar tidur utama yang tak sepenuhnya ditutup, ruangannya gelap kecuali sinar bulan yang mengintip dari balik jendela raksasa di sisi kanan kamar. Langkah kakiku melambat di samping tempat tidur dan berhati-hati membaringkan tubuh Hye-Sun pada permukaan empuknya.

“Trims,” gumam Hye-Sun, ia mencari-cari guling dan boneka beruang berpita yang kuberikan saat tahun baru.

Aku terkekeh parau, oh Tuhan, mahluk ini sangat seksi. Aku tak dapat melayangkan pandanganku dari tubuhnya yang kini mulai berbaring tenang dengan mata terpejam sesudah memeluk boneka beruang.

“Min-Ho,” panggilnya dengan suara lesu yang hampir tak terjamah telinga.

“Ya?”

“Kenapa kau masih berdiri diam disitu?” tanyanya heran, tapi aku lebih heran dibuatnya karena Hye-Sun dapat menerka apa yang sedang kulakukan dengan mata terpejam.

“Mengagumimu?”

Hye-Sun tertawa tanpa membuka matanya, aku hafal betul saat Hye-Sun terlampau lelah ia takkan lagi membiarkan matanya terbuka sedikitpun. “Aku tersanjung. Maukah kau berbaring juga? Aku menyanyangi baby bear nya, tetapi si kecil ini tak bisa berbicara dan menyanyikan lagu penghantar tidur sepertimu,” pintu Hye-Sun, sekarang mata sayunya menatapku penuh harap.

“Apapun untuk kekasih manisku,” aku menjawab, menyalipkan sedikit nada nakal yang disukainya. Setelah aku berbaring bersamanya, Hye-Sun perlahan meringuk diatas dada bidangku…, aku menyambut wanita itu lalu bolak-balik mengusap rambut halusnya yang dipangkas pendek karena tuntutan peran. Kami sejenak terdiam puas…, puas dengan bagaimana kami adanya pada detik ini.

“Min-Ho.”

“Ya?”

“Maukah kau menyanyikan sesuatu?”

“Lagu apa?”

“Lagu yang mengambarkan perasaanmu saat ini.”

Sesaat setelah Hye-Sun menyampaikan kemauannya, sebuah lagu muncul begitu saja menggenangi benakku. Lagu yang berjudul Milk Tea. Aku sangat menyukai lagu tersebut, lagu yang menurutku bak cermin dari hubungan romansa kami selama tiga tahun ini.

’I'm sorry’… Why can't I say it naturally, I wonder?... ‘Thanks’… The truth is, that's what I'm always thinking… I'm no good at speeches, I'm tall… I wonder if you don't like those things about me?... I wonder if you'll grow to like them?

“Oh ya, aku sangat menyukainya. Aku tergila-gila pada setiap senti tubuhmu, hatimu, jiwamu, pikiranmu” bisik Hye-Sun, memberi kecupan-kecupan manis diatas dada telanjangku.

Aku melanjutkan lagu itu, berusaha melawan gairah yang tersulut, “I want to love you, I want to see you… That's what I'm shouting out in my heart, right now… I dream of tomorrow in which I am loved by you… All of my heart is already yours…It's only yours!

‘You idiot’… Sometimes you smile and scold me with that… ‘Give it your best’… You really do encourage me… Because you know that, I've had loves that have been sad ones…Will you be kind to me, I wonder?

Hye-Sun tertawa disela sendat tangis, airmatanya mulai membasahi ceruk leherku. Ia benar-benar sensitif akhir-akhir ini, kuputuskan itu pengaruh dari kesibukannya yang gila. Aku merangkul pundaknya erat-erat kemudian menghapus airmatanya sambil meneruskan bait terakhir lagu, “I want to love you, I want to see you… That's what I'm shouting out in my heart, right now… I dream of tomorrow in which I am loved by you… All of my heart is already yours… It's only yours! Saranghae, Gu Hye-Sun, saranghae...”

Itu benar, aku mencintai wanita ini, memujanya setengah mati…

Bibirku bertemu dengan bibirnya, menghentikan isakan itu dengan sebuah ciuman yang awalnya perlahan dan menyeluruh. Aku memposisikan tubuh kecilnya dibawahku sementara ciuman kami berubah liar…, semakin menuntut satu sama lain.

“Aku menginginkanmu,” desahnya di mulutku. Dari caranya menyatakan hal itu, aku tahu ia tak hanya semata-mata mengingini tubuh fisik, tetapi juga hati dan jiwaku. Aku disini menyadari bahwa lebih dari segalanya di dunia, keinginan wanita ini lah yang hendak mati-matian kupenuhi apapun resikonya.

“Aku… tahu,” kataku parau, kata-kataku tumpang tindih. Seluruh fokus berada pada libido yang kini mengendalikan tanganku. Setelah menyingkirkan jubah mandi suteranya, tangan itu menjelajahi lekuk-lekuk pada tubuh Hye-Sun, tubuh yang tenaganya dikuras habis-habisan tiap hari berselang, dan fakta sederhana tersebut memancing kemarahanku. Malam ini, aku bersumpah akan memanjakan tubuh itu dan menawarkan seluruh kenikmatan yang dapat kuberikan.

“Sayang… Cantik, sangat cantik,” godaku…, tak lupa memberikan sentuhan-sentuhan di setiap titik sensitif pada tubuhnya yang membuat wanita itu meneriakkan namaku. Aku tergila-gila terhadap teriakannya yang menyebutkan namaku…, aku begitu tergila-gila sehingga aku tak berhenti bermain-main dengan tubuhnya sampai ia terpekik memohon, kuku-kukunya tertancap diatas punggungku. Aku terpaksa bangkit sejenak untuk menanggalkan celana jinsku, tak lagi peduli apakah resletingnya akan rusak atau tidak, lalu aku melemparnya melayang entah kemana. Aku kembali dan segera menyatukan tubuh kami. Hye-Sun bergerak liar dibawahku, aku tak lebih sabaran daripadanya dengan irama percintaan kami yang semakin tergesa-gesa menuntut pelepasan. Kami meraih puncaknya bersama-sama, sebelum akhirnya tergolek lemah untuk mengatur nafas masing-masing dalam diam, terlalu terpuaskan untuk berbicara.

Beberapa menit berlalu, kami memeluk tubuh satu dengan lainnya, hampir terlelap. Namun, kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi segala penjuru perasaanku, dan aku takkan bisa tidur tanpa mengatakan ini kepadanya. Bahkan hari esok tak bisa menunggu.

“Hye-Sun, kau wanitaku. Aku menginginimu bukan hanya malam ini, tetapi pada semua malam dalam hidupku. Aku mau semua anak-anakku bertembuh hanya dalam rahimmu. Aku ingin melihatmu bangun setiap pagi dan terlelap setiap malam disisiku. Aku ingin menemukan helai rambutmu diatas kasurku. Aku ingin mencium aroma sabunmu dalam kamar mandiku. Aku ingin menemukan pakaianmu diantara pakaianku. Aku ingin kita menikah dan bercinta dengan liar sepanjang malam. Kau tak tahu betapa aku sangat mengingini semua itu, manis. Dahulu aku mengira semua ini cinta, tetapi sekarang bahkan tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku terhadapmu,” bisikku lirih.

“Aku tahu karena aku merasakan hal yang sama,” balasnya dengan mata terpejam, siap untuk terbang ke alam mimpi nun jauh.

Dan aku tak bisa lebih bahagia, mendapatkan balasan seperti itu dari sosok wanita yang teramat kucintai. Sesosok sehidup sematiku, itulah dia…

 

 

END

2
si maminya cuma cengegesan berarti dia sendiri juga setuju nih  [on] [hmpfh]

malem2 sotoy, pdhl besok sekolah jam stgh 8..   [bored] [bored]

3
si mami keliatan di balik komen polos, omesnya setengah mati, ngga usah ngeles deh mi  [on] [on] [on] [on]

4
Nanti kedepan kalau libby jadi galak bagus jg kayaknya  [on]

Itu, ada majalah gossip yg ngegossipin mereka berdua hahaha di majalah yg dipegang Seb.. [hmpfh]

Mimpi basah asal libby gak tau aja nanti bisa kabur si libby-nya  [jumpy]

5
@Mak,

Jadi ane berhasil ya?! Soalnya beberapa bulan ini ane lg kumpulin koleksi Harlequin, terus ini project pertama ane bikin cerita sepola Harlequin  [hmpfh]  [on]

6
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 07, 2011, 09:58:43 am »
Chapter 4


Dada bidang Seb dibalik setelan abu-abu..., mengintimidasi dan membentengi meja kerjanya dari pantulan sinar matahari pagi.

"Aku yang bertanggung jawab." Seb bersikeras.

Seb berencana akan menyewa perawat untuk Dad selama mereka berada di mansion Jaimes nanti. Itu bukan apa-apa. Namun amplop yang tersegel rapi ini..., ketebalannya menyingkapkan dengan jujur apa yang tersembunyi dibalik amplop.

Uang..., banyak uang.

Genggaman Libby mengerat pada ujung amplop, seakan kemarahan itu mengalir dan bermuara pada jari-jari panjangnya.

Aroma parfum berkelas yang menyelimuti tubuh Seb meneriakkan keangkuhan. Tidak salah. Karir adalah pasangan hidup Seb dan arogansi merupakan sahabat karibnya. Memutuskan segala pilihan sendiri..., memerintah seenaknya..., dan memperlakukan semua orang seolah ia pernah duduk disamping Tuhan. Terdengar sangat Sebastian.

"Saya tidak memerlukan uang Anda." Libby menaruh amplop itu, mati-matian mengendalikan tangannya agar tidak membanting atau melempar.

"Ambil..., Libby!" Kilatan mata Seb menahan wajah Libby..., menantangnya. Kalau saja bibir Seb tidak seseksi itu sampai membuat Libby berpikir seribu kali untuk melayangkan tinju.

"Ketika saya memberitahu Anda...,"

"Sialan Libby, jangan berbicara seperti para klien yang sedang mengemis kontrak." potong Seb jengkel, tapi tidak sebanding dengan kejengkelan Libby. Libby merutuk tanpa suara, menyadari ketampanan Seb tampak tidak berkurang sedikitpun padahal kebrengsekan pria itu mengguncang ambang kesabarannya.

Libby menahan nafas, menelan amukan yang hampir tumpah. "Begini, Sebastian, minggu lalu di rumah sakit, aku tak bercerita tentang penyakit Dad semata-mata supaya kau memberikanku uang. Dan, tidak, aku bukan pengemis, entah itu demi kontrak atau uang," ujar Libby perlahan, menyuntikkan harga dirinya pada setiap kata. Seb memang atasannya, dan Libby menghargai fakta itu, namun Seb kelewat bodoh jika mengharapkan toleransi untuk hal yang satu ini.

Sewaktu Libby bercerita, ia mengira Seb akan mengerti, bahwa ayahnya sakit dan Libby enggan meninggalkannya hanya untuk rencana menginap konyol Jaimes Wright. Lalu sepanjang waktu Libby membiarkan harapannya menggantung di udara, berpikir mungkin Seb bisa melepaskan 'tugas' ini darinya dan mencari wanita lain yang bersedia pergi 3 hari bersama diktator itu.

Tetapi alih-alih Seb hendak menyewa perawat pribadi, menawarkan uang, dan kembali pada rencana semulanya tanpa mempertimbangkan 'pembebasan' Libby.

Egois.

"Anggap ini bayarannya..., menjadi kekasih palsuku."

Oh, lagi-lagi uang yang berbicara.

"Tidak, Seb. Sebenarnya aku tak pernah menjawab 'ya' untuk tawaranmu itu, kau yang berasumsi begitu. Tapi kau benar, tadinya aku terlalu memikirkan Dad, aku tak mau kehilangan pekerjaan jadi aku menurut seperti bocah tolol. Namun aku bukan mantan asistenmu yang mungkin menganggukan kepala atas seluruh perintahmu..., termasuk menginjak harga dirinya sendiri." Melihat Seb bergeming tanpa ekspresi memanggil kepuasan mengisi benak Libby.

Libby berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan mantap, membiarkan Seb membisu dibelakangnya. Mungkin Libby akan menjadi pengunjung terlarang dalam kantor setelah ini. Namun ia tidak rugi. Dipecat adalah harga sepadan yang harus ia bayar untuk memusnahkan pria tak beradab macam Seb dalam hidupnya.

Terlebih, Mrs. Walker tetangga Libby sekaligus pemilik Cherubs Daycare, menawarkan lowongan paruh waktu kemarin pagi. Tetapi sekarang, Libby tidak perlu bekerja paruh waktu karena ia akan segera dikeluarkan oleh Seb dan memiliki seluruh waktu yang dibutuhkan Mrs. Walker untuk menjaga balita-balita lucu di Cherubs.


***

Libby menghilang dibalik pintu, langsung meninggalkan Seb tanpa tedeng aling. Entah kumpulan dari perasaan apa yang membuat Seb merasa kacau..., sekaligus takjub.

Libby baru saja melawannya.

Si mungil itu.

Seb bertopang dagu pada meja dengan pandangan menerawang. Ia sungguh lupa kapan terakhir kalinya ada seorang wanita yang berani menampik pesona Sebastian Marcus dan mendiktenya seperti yang Libby lakukan.

Seb tertawa sinis, lucu juga, selama ini para wanita mengejarnya karena uang. "Libby..., Libby...," Seb bergumam sedikit geli, tampang lugu Elizabeth pasti membuat semua orang salah menginterpretasikan kepribadiannya. Nyatanya, Libby seperti sekotak kembang api..., hanya berpenampilan polos diluar tetapi ledakan-ledakan besar tersimpan didalamnya.

Seb menarik laci meja lalu meraih majalah gosip yang diselipkan Barb kemarin, sebuah notes Post-It pink bertuliskan 'Hati-hati!' ditempelkan pada sudut kanan majalah.

Seb menatap tajam headline yang dicetak dengan ukuran raksasa..., sekarang Libby boleh pergi, tapi tunggu sampai ia melihat berita utama majalah ini.

Libby tak akan bisa kabur darinya.

Lagipula, tidak setiap hari Seb bertemu dengan wanita seunik Libby. Kalau sudah begini, Seb tak lagi bisa menjanjikan tempurung yang kokoh bagi dinding perasaannya.

Karena kali ini, ia benar-benar tertarik. Dan hanya Tuhan yang tahu kemana ketertarikan itu akan membawa Seb.

7
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 03, 2011, 12:27:21 pm »
^

ebuset kenape ane yg jadi tutor seh?! ujung2nya ane yg kena gini  [head break] [head break] 4 ema harusnya duo bikin sop iler  [hmff] [hmff]

8
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 03, 2011, 11:00:58 am »
^
Sesama teman sesat dateng nih  [on] [on] my twin  [hmpfh]

9
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 03, 2011, 07:21:34 am »
Mawar Jingga,

Sorry buat km bingung, tapi perhatiin deh kalimat ini

Quote

“Entah itu membatalkan kontrak bisnis, atau menuruti amanat terkutuk Jaimes,” Seb menyambar kursi plastik dan duduk, ia mulai memijat pelipisnya dengan kasar. “Tapi pintu bagi kekasih lain sudah ditutup. Jaimes tahu identitasmu, ia bertanya sebelum memberitahu tentang rencana menginap sialan itu.

Seb sama Libby belum kencan semalam, Jaimes ngerubah rencananya dr kencan semalem jd kencan tiga hari  whistling Hmm, kalau gitu aku bakal tambahin bbrp kalimat biar nggak ambigu lagi, and thanksss untuk komennya  [clap]

___

EDIT

Udh kutambahi, semoga ga ada yg bingung lg...  [smiley]

10
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 03, 2011, 07:00:54 am »
Imah,

Hugs, thank you for ur comment and encouragement. This year will be my last year of Junior High, so its kinda busy for me here. I'm doing my IT essay right now, totally stressed out  [cry]

11
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 03, 2011, 06:14:34 am »
Hey all, appreciate ur comments, somehow please keep giving me suggestions and critics, tell me how's my writing style, or if the plot of this story until this chapter is clear enough for u. I'd love to read that and improve my writing ability. Anyway, no more update until the end of this week, bunch of tasks and tests @school, thanks  [arms] *hugs and kisses*

12
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 03, 2011, 06:09:34 am »
Chapter 3

“Apa?” Pensil biru kabur dari genggaman Libby seakan ingin melarikan diri saat teriakan Seb meletus. Libby membasahi bibir, mengacuhkan dokumen yang tengah ia kerjakan dan mempertajam pedengarannya.

“Tapi ini keterlaluan, Jaimes!” Gertakan Seb bisa mengusir singa. Ternyata Jaimes Wright. Karena bapak tua ini, Libby ditarik menjadi kekasih palsu Seb. Sialan, demi Tuhan, Libby akan mengambil jarum dan menusuk perut gembul Wright sampai kempis kalau ia harus berperan lebih jauh daripada yang seharusnya.

“Jaimes...? Hey, Jaimes...? Jaimes!” Semoga Seb tidak membanting ponsel puluhan ribu dollar itu. Libby merapatkan sweater dan mengepalkan pergelangan tangannya yang basah saat derap sol sepatu Seb terasa semakin jelas. Sama sekali bukan waktu yang tepat untuk berhadapan dengan Seb, tetapi Libby tidak dapat mengusir atasannya jika lelaki tersebut sungguh datang.

“Miss Reyes.” Nah, untung raut wajah Seb tidak membuat seluruh benda dalam ruangan ini melompat ketakutan. Malah, mereka amat tenang dan gurat-gurat amarah yang begitu mengintimidasi itu hanya berpengaruh pada Libby. Sangat tidak adil.

Libby bangkit dan spontan sedikit membungkuk..., sampai ia menyadari kalau ini bukan Korea dan Seb mungkin menganggapnya menderita otak dungu tingkat ringan. “Mr. Marcus.”

“Jaimes meminta sesuatu dari kita. Maksudku, ia sudah tahu aku sedang 'berkencan'.” Tangan kiri Seb berkacak pinggang, tangan yang lainnya bertopang pada permukaan kaca, dan alisnya menyatu geram.

“La...lu?” Libby tergagap, tidak tahu harus berkata apa.

“Lalu, Jaimes membatalkan makan malam, tapi sebagai gantinya kita harus datang menginap di mansion pedesaannya selama 3 hari..., atau tidak ada perjanjian bisnis.” Pandangan Seb menggelap. Libby menggerakkan bola matanya, menatap apapun kecuali Seb yang tampak ingin menerkam seseorang. Beribu kata makian tumpah dalam otak Libby, Wright benar-benar tahu cara memancing murka Seb  -- dan murkanya. Menginap di mansion? Yang benar saja.

“Pasti ada cara lain. Anda tidak keberatan kan menyewa kekasih lain.” Lengan Libby bertumpu lemas pada meja.

“Entah itu membatalkan kontrak bisnis, atau menuruti amanat terkutuk Jaimes,” Seb menyambar kursi plastik dan duduk, ia mulai memijat pelipisnya dengan kasar. “Tapi pintu bagi kekasih lain sudah ditutup. Jaimes tahu identitasmu, ia bertanya sebelum memberitahu tentang rencana menginap sialan itu.”

Kaki Libby berubah menjadi adonan pudding, ia terduduk lesu. Meninggalkan ayahnya selama 3 hari? Libby tidak pindah ke Australia untuk menghiraukan ayahnya. Seb harus mengerti. “Mr. Marcus..., saya...,”

“Miss Reyes!” Hardikan Seb membisukan Libby, Seb mungkin tahu ia hendak membantah.

“Perjanjian bisnis ini terlalu penting. Kalau begini kemauan Jaimes, maka aku bersumpah bapak tua itu akan mendapatkannya. Kau masih menjadi kekasihku, kita akan pergi bersama, akhir pembicaraan!” Seb meninggalkan mulut Libby yang terganga lebar. Kalimat penolakan Libby tersumbat ditengah leher dan mulai menimbulkan perasaan yang teramat buruk. Tetapi, kencan sandiwara semalam yang bertumbuh menjadi kencan 3 hari terasa jauh lebih mengerikan.

Dan ini baru permulaan.


*****


“Seb lembur..., lagi.” Jawaban praktis. Libby mengatakannya setiap hari.

“Tidak ada 'lagi', tapi 'selalu'. Bumi berbentuk kotak kalau Seb tidak lembur,” kelakar Barb. Ia mengambil tas jinjingnya, bersiap pulang. Lampu kantor dimatikan jam 9 dan sekarang mereka mengandalkan penerangan dari jalan yang terpantul melalui jendela.

“Awalnya aku tak percaya,” gumam Libby lembut. Sepanjang hidupnya, tak ada seorangpun yang pernah bertindak begitu menyedihkan. Seb mendedikasikan dirinya pada perusahaan dan Seb pulang ke rumah semata-mata karena ia cukup waras untuk tidak menaruh tempat tidur didalam kantor.

Berapa anggota keluarga Seb? Bagaimana kehidupannya diluar? Apa rahasia dari masa lalu Seb? Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah melewati garis terkaan. Tidak peduli, betapa masyarakat yang tertarik dengan Sebastian Marcus memaksa media untuk menguntit lelaki itu, Seb tak akan mengeluarkan pernyataan sampai langit terancam runtuh. Dan Libby tidak memerlukan kepastian langsung dari Seb untuk memutuskan bahwa kehidupan Seb mungkin tak lebih bermakna daripada sejumput bunga bakung. Libby yakin ada kala dimana uang hanya menjanjikan kekosongan hidup.

“Setahun kemudian, fakta ini akan menjadi makanan sehari-harimu, Lib.” Barb menepuk pundak Libby.

“Aku ragu.” Libby memencet tombol lift.

Rambut pirang Barb berguncang oleh tawanya. “Kalau begitu, selamat, kau adalah 1 diantara 100.”

“Uh. Mungkin hari bersejarah saat Seb memilih untuk tidak lembur akan datang sebentar lagi.” Libby mengangkat bahu.

Mereka melangkah masuk setelah bunyi 'ting' kecil. Barb menghela nafas, “Oh, well, tidak ada yang mustahil.”

Libby mengangguk penuh harap. Tidak ada yang mustahil, termasuk mencari cara agar Sebastian Marcus mengurungkan niatnya.


*****


Nyawa Rusakov bergantung pada selang-selang kecil pengangkut obat yang menginvasi tubuhnya. Pagi tadi ia sempat mengobrol singkat dengan Seb. Dan sekarang Rusakov koma, dengan mudah meninggalkan perusahaan-perusahaan raksasanya, seakan mereka merupakan balita ingusan yang dapat dititipkan pada Daycare Center.

Rusakov membutuhkan Seb.

Padahal perusahaan Seb sendiri sudah cukup mengisolirnya dari aktivitas diluar kantor. Perusahaan-perusahaan Rusakov adalah beban berat yang akan membabat sisa waktu luang Seb. Salah Rusakov, menunda keturunan sampai ia bahkan tidak mampu lagi membelai pipi istrinya.

Seb mengomel tidak jelas lalu menghabiskan latte dalam satu tegukan. Alam berlagak seperti wanita yang sedang dikunjungi tamu bulanan dan melemparkan serentet kejadian menjengkelkan pada Seb.

Rencana Wright, perusahaan Rusakov, dan wanita itu!

Elizabeth Sunshine Reyes.

Ini menggelikan. Bagaimana bisa Libby menyelinapi mimpinya semalam dalam keadaan telanjang?! Seb luar biasa jarang bermimpi, apalagi setelah bekerja seperti kerbau pembajak, rasa kantuknya menjadi terlalu egois untuk berbagi ruang dengan mimpi-mimpi sepele.

Dan kalau ia benar-benar bermimpi, mungkin masalah ini tidak dapat dikategorikan sebagai hal sepele.

Apalagi semalam ia terbangun dalam keadaan mendambakan asistennya sendiri.

Ibu jari dan telunjuk Seb memainkan cangkir plastik didepannya. Mungkin, Seb terlalu terbawa peran. Totalitas adalah karakter mutlak Seb, tidak heran sekarang ia berlagak seolah Libby memang kekasih sungguhannya. Dan itu mustahil terjadi..., disaat genting seperti ini hatinya menjelma sekeras tempurung kura-kura..., hanya tersisa pikiran yang setiap hari ia asah dengan dokumen-dokumen dan kontrak bisnis, ketajaman otaknya akan membuat pisau cincang tertunduk malu.

“Mr. Marcus?”

Kepala Seb menengok kearah sumber suara dan menemukan sosok mungil Elizabeth tengah memegang sandwich ham dan kopi hitam.

“Miss Reyes?” Seb tidak repot-repot menawarkan tempat duduk, karena Libby menghamburkan tas dan makanannya diatas meja.

“Lancang, maaf. Tapi kantin rumah sakit lebih penuh daripada Disneyland.” Bibir Libby mengerucut sebal – dan keindahan bibir Libby dalam mimpi Seb tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenyataan yang sesungguhnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Pandangan Seb beralih pada anak perempuan montok yang menangis rewel disebelah pot Anthurium, dibujuk untuk meneguk sirup obat.

“Menemani Dad.” Libby menghela nafas, lalu menyesap kopi. Dan tanpa perintah benak Seb membayangkan ujung cangkir kopi itu digantikan oleh kulitnya.

Ini..., sungguh-sungguh sinting.

Gejolak hormon Seb mulai memasuki tahap berbahaya.

“Mr. Marcus..., hmm..., sebaiknya saya pindah.” Libby tak mengerti, keriyitan dahi Seb bukanlah indikasi dari rasa keberatan, melainkan gairah primitif yang dibangunkan oleh wanita itu.

“Tolong jangan, ini bukan..,”

“Mr. Marcus, anda sakit?” Sorot mata Libby tidak menyembunyikan apapun kecuali ketulusan.

“Sama sekali tidak,” tegas Seb mantap.

“Kalau begitu, saya pindah.” Libby akan berakhir duduk di lantai jika nekat meninggalkan meja ini.

“Kubilang..., jangan!” Perintah Seb diikuti cengkramannya pada lengan Libby. Seb baru menyadari Libby agak pucat, Seb menghibur diri dengan berpikir bahwa Libby mungkin terlambat makan alih-alih jeri karena ia bertingkah bak anjing polisi.

“Maaf..., Mr. Marcus.” Libby kembali duduk, kedua pundaknya mengencang tak nyaman. Libby membuka bungkusan sandwich dan rahangnya melahap seperti robot yang diprogram.

“Kalau kau sadar, Elizabe..., Libby..., mukamu pucat. Aku akan tinggal sampai sandwich itu lenyap . Omong-omong, panggil aku Seb, orang-orang akan berasumsi kau adalah klienku kalau kau terus menggunakan panggilan seperti itu.”

Libby mengangguk pelan dan berbisik, “Seb.”

Seb tersenyum kecut melihat perubahan dari eskpresi wajah Libby yang sekarang menjadi sedatar tripleks.“Nah, itu jauh lebih baik. Sekarang..., ayahmu kenapa?”

13
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 01, 2011, 10:08:42 am »
Chapter 2

Sebastian menggeram kesal.

"Orang itu?"

"Ya, aku yakin sekali panggilan barusan dari Mr. Wright."

"Brengsek."

Sekali ini Seb sangat ingin merutuki kepiawaian Libby dalam bekerja dan menangani tiga sambungan telefon yang senang meraung-raung disaat bersamaan. 

"Maaf, kukira  Mr. Wright... yang itu, selalu membawa keuntungan besar." Libby mengeriyit bingung, wanita dihadapan Seb tersebut ketakutan seperti anak kucing yang akan disiram air es. Buku jari Libby memutih saat cengkramannya pada map dokumen mengencang.

"Duduklah Miss Reyes." Tubuh mungil Libby yang tenggelam dalam kursi putar memancing pertanyaan tak diundang melewati pikiran Seb, apakah tubuh Libby serapuh ukurannya? Rahang Seb berdenyut tak nyaman ketika ia menangkap sekelebat imajinasi ngawur mulai bermunculan mengisi benaknya tanpa kendali. Libby memang menarik, tapi apa peduliku, batin Seb kesal.

Helaan nafas Libby mengetuk kesadaran Seb yang sempat terinterupsi. Seb memaksa otaknya berderu menyusun rencana. Si bapak tua itu pasti tidak akan berhasil dikibuli lagi. "Jaimes Wright," Seb memutar bolpoin Mont Blanc diatas meja, tiba-tiba berlaku seakan Libby adalah rekan bisnis. "Aku takkan bisa lari darinya kali ini."

"Jangan berkata Anda terlibat kasus penipuan?!" Pekikan Libby dibalas dengan tatapan menusuk Seb.

"Tentu saja otakku masih mampu menghasilkan uang tanpa harus menipu, Miss Reyes!" Seb menjawab ketus, Libby mengigit bibir bawahnya dengan keras karena berani menyuarakan kesimpulan tolol.

"Lalu apa? Kenapa Anda menyuruh saya duduk?" Libby bertanya kaku untuk melenyapkan rasa malunya. Rona yang perlahan menjalari pipi Libby sangat manis, Seb tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia bertemu wanita yang tak perlu menyumbang keuntungan pada pabrik blush-on.

"Aku berpikir mungkin kau bisa menelefon Jaimes dan berpura-pura kalau aku tak bisa menemuinya dalam waktu dekat." Seb telah mengantisipasi pelototan tidak setuju itu.

"Anda mungkin atasan saya, tapi saya tidak akan melakukan hal semacam itu apalagi terhadap Jaimes Wright!" Libby berteriak setengah histeris, sementara Seb mengutuk hari dimana gelar 'orang-terkaya-Australia' dilayangkan kepada Jaimes.

"Lalu apa solusimu, Miss Elizabeth Reyes? Agar aku mendapatkan lima menit perjanjian bisnis tapi membuang satu setengah jam ceramah pernikahan dari Jaimes..., yang konon mau memotong kepala anjing agar aku menikah!" Amukan Seb mencabik nyali Libby yang sempat mencuat untuk melawannya.

Pundak Libby menegang ketika keduanya membisu, berada dalam sebuah ruangan yang terletak di lantai 45 hanya menambah beratnya ketegangan, tidak ada suara apapun bahkan samar-samar deru kendaraan.

"Mungkin mencari dan menyewa kekasih rekayasa bisa mempersingkat jam temu Anda dengan Mr. Wright, mengingat Anda tak bisa membatalkan salah satu pertemuan terpenting dalam bisnis perusahaan ini," jawab Libby dingin, menjaga nadanya tetap sedatar papan walaupun ketidakaturan irama nafas Libby mengungkapkan emosi ia yang sesungguhnya.

Seb menyeringai atas ide cerdik Libby. Selama ini ia selalu mengarang cerita tentang kekasih fiksi pada Jaimes dan memperburuk durasi waktu ceramahnya. Mengatakan bahwa kekasihnya sibuk, kekasihnya sakit, kekasihnya sedang mengunjungi Roma..., Seb mengira bisa membodohi Jaimes yang ternyata membaca majalah gosip istrinya dan suatu hari menemukan artikel Sebastian Marcus masih setia melajang sejak entah kapan! Sekarang Seb bisa menutup mulut Jaimes dengan membawa wanita nyata tanpa perlu menyusun karangan imajinatif apapun.

Dan..., melihat bagaimana karakter istri Jaimes yang polos sangat mirip dengan wanita didepannya, keberuntungan tiba-tiba mengerumuni Seb.

"Miss Reyes, kurasa masalah ini baru saja selesai."


****


Kantin kantor yang sepi pada jam 12 siang adalah kemustahilan, namun menolak permintaan Seb tanpa menghadapi resikonya tampak lebih mustahil bagi Libby.

"Barb, tapi ini keterlaluan, dia ingin aku jadi kekasihnya!" Beberapa minggu bekerja di perusahaan itu, mustahil bagi Libby untuk melewatkan kebiasaan bergosip Barbara saat jam makan siang. Topik favorit wanita 50 tahun itu tidak lain adalah Sebastian Marcus, lajang tampan incaran para gadis sekaligus atasannya sendiri. Kebetulan sasaran obrolan mereka kali ini juga menyangkut diri Libby.

"Uh-hu, kukoreksi, kekasih bohongan Libby! Makan malam gratis bersama Wright dan Marcus, idiot kalau kau merasa begitu rugi. " Barb mengomel sambil menancapkan garpunya pada steik ikan untuk yang kesekian kali.

"Aku akan kehilangan waktu berhaga bersama Dad, itu merugikan. Oh Barb, stop menyiksa ikan malang dengan Mr. Garpu, makan sajalah please!" Libby menggerutu kesal.

"Demi Tuhan Miss Vegetarian Sejati, ikan ini mati dan aku akan makan seperti orang kelaparan jika memiliki badanmu." Barb mendecak iri, tubuh Libby bagaimanapun akan terlihat fantastis jika ia berhenti mengenakan blus dan jins yang kelonggaran. "Aku ingin mencakar pakaianmu sampai robek Elizabeth."

Libby terbahak, untung ia belum meneguk jus, Barb pasti keberatan kalau setelan mahalnya menjadi target semburan.

"Aku serius Lib! Kurasa Seb tidak salah memilihmu, matanya akan keluar tatkala melihat kau berdandan nanti."

"Barb, terima kasih, tapi pujianmu tidak mengubah apapun. Kau tahu aku tidak akan berdandan ala model Victoria Secret jika ini maksudmu." Tidak ada seorangpun yang pernah bilang Libby jelek, karena kenyataannya jauh daripada itu. Dengan rambut hitam sebahu yang dipotong modis, mata cokelat yang cerdas, dan tubuh mungil yang ramping, setidaknya beberapa agensi pasti bersedia merekrut Libby menjadi model mereka. Hanya saja, Libby mewarisi sifat ayahnya yang tidak rela menghabiskan jam-jam berharga untuk merombak penampilan, menjadi diri sendiri adalah kualitas berharga dalam hidup, Libby tidak mau melebih-lebihkan kecantikan yang sudah alam berikan jika memang tak diperlukan.

"Kau akan bersantap satu meja dengan para  miliuner Australia, berdandanlah yang layak Libby atau aku akan meneror rumahmu." Barb mengancam setiap saat, jadi kenapa Libby harus mulai merasa takut terhadap satu dari ribuan ancaman Barb yang tidak pernah terbukti benar?!

"Kau sedang bercanda Barbara!" Dengus Libby, Barb orang yang baik tapi tidak ada sepasang rekan kerja yang dapat bertingkah sepeduli teman lama ketika mereka bahkan tidak akan mengenal satu sama lain jika bertemu di Woolworths bulan lalu.

"Sayang, tatap mataku dan apakah kau menemukan candaan disana?" Kelembutan disela nada Barb memanggil selusin kupu-kupu terbang dalam perut Libby.

Mungkin...., Libby salah.

Dan mungkin
...., apapun yang akan ia lakukan nanti, Barbara memang benar-benar akan peduli.

14
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 01, 2011, 09:22:36 am »
Iya maklum kl masih bingung, soalnya ini baru perkenalan aja sih istilahnya. Konflik dan plot antara hubungan Libby n Seb baru kerasa nanti chapter 2 keatas..

Chapter 1 biar readers tau, posisi Seb itu sebagai BOS, kebetulan asistennya dipecat, jadi dia nyari asisten baru, nah Libby yg baru pindah dari Korea krn ayahnya sakit, langsung ngelamar jadi asisten dan diterima. Kenapa Libby ngelamar kerja? Selain buat biaya sehari2, ini krn ayahnya Libby lg sakit kanker (yg menjadi alasan jg kenapa dia balik ke Australia, biar bisa ngurusin ayahnya).

Anyway, Mami Love bener banget, ini biar pembaca ga pusing ngingetin karakter seabrek, mending dibebasin aja imajinasi mrk sendiri2 haha  [mischevolous]


15
Regular Fanfic / Re: The Wildest Affair of Ours
« on: August 01, 2011, 07:55:45 am »
Biar lbh jelas, Seb-Minho, Libby-Hyesun

Cerita ini perpaduan barat sm Korea, bosen kalau masukin unsur Korea semua. Tp tenang, nanti bagian2 akhir dr cerita ini berpusat di Korea kok..

Well begini, anggap Seb itu Asian yg tinggal di Australia. Dan Libby itu, sprt yg udh kalian baca, dia anak campuran, ayahnya org Australia dan ibunya org Korea.

Karakter selebihnya, terserah imajinasi kalian aja bagaimana, yg penting karakter utama disini itu MINSUN.  [jumpy]

Thx buat comments-nya  [arms]



PS: Cerita ini udh ditulis smp chapter 4, buat cadangan, sbnrnya cerita ini udh ditulis smp chp 7, tp kmrn datanya hilang semua, terpaksa ngulang dr awal. Plus sbnrnya yg cuci otak ane itu VOLDI, makanya FF ini akhirnya dipost hahaha

Pages: [1] 2 3 ... 11