1
Regular Fanfic / Re: The Curse - Chapter Fifteen, Updated 15 Mar'13
« on: March 30, 2013, 05:26:11 am »CHAPTER SIXTEEN
Joon Sung mengamati Kae Bi yang sedang tertidur pulas. Wanita itu begitu lemah dan lugu dalam tidurnya, membuat ia tak mau berhenti menatap bahkan mengalihkan pandangan kearah lain. Semalam, setelah mereka usai bercinta, Kae Bi tiba-tiba mengucapkan namanya dalam risau, ia mengiggau memanggil nama Joon Sung berulang kali.
Sejak saat itu, ia selalu terjaga dan tak bisa terlelap kembali. Joon Sung menenangkan Kae Bi saat sesekali wanita itu bergerak tak tenang dalam tidurnya. Ia Memeluk, melindungi Kae Bi. Hingga jam tiga pagi barulah Kae Bi bisa terlelap sepenuhnya. Meringkuk dalam dekapan Joon Sung dan menjadikan dada suaminya sebagai tumpuan kepalanya.
Joon Sung menarik selimut yang Kae Bi kenakan dengan hati-hati saat dilihat bahan tebal nan halus itu sedikit tersingkap dari tubuh istrinya. Kegelisahan serta ketakutan meliputi, kini untuk sekedar memandang Kae Bi dengan lekat saat wanita itu tersadar, Joon Sun pun sudah tak mampu lagi. Ia tak sanggup membayangkan hal-hal yang akan terjadi setelah mereka melewati semua kebahagiaan ini.
Seharusnya ia dapat membenci segala sesuatu yang ia perjuangkan untuk Kae Bi. Seharusnya ia menyesal. Tapi ia tahu ia tak akan bisa. Jangankan membenci, berniat seperti itu saja Joon Sung sudah pasti akan bersumpah bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
Kae Bi tidak ada kaitannya dengan masa lalu keji itu. Berulang kali Joon Sung meyakini jika Kae Bi tidak terlibat sedikit pun dalam kejadian empat belas tahun lalu, kejadian yang menyebabkannya kehilangan orang-orang yang menyayangi dan mencintainya.
“Joon Sung?” Pandangannya langsung berganti kaku. Kesadarannya membawa penglihatannya menoleh pada Kae Bi. Wanita itu telah terjaga dari tidurnya dan kini malah mencoba beranjak dari pembaringan untuk mengambil tempat yang sama sepertinya, duduk disisi ranjang.
“Sejak kapan kau berada disini?” Kae Bi mengamati penampilan suaminya dari atas sampai bawah. Lelaki itu telah berpakaian rapi dan terlihat segar. Joon Sung mengenakan kemeja bewarna biru gelap yang bagian tangannya di lipat sampai ke siku dengan setelan celana hitamnnya.
“Baru saja. Berniat membangunkanmu” Kilahnya tanpa sempat lagi berpikir untuk berkata jujur. “Apakah kau merasa kedinginan dalam tidurmu?” Ia mencemaskan Kae Bi yang semalaman hanya tertidur dengan dilapisi selimut tanpa pakaian yang dikenakan lagi.
“Tidak. Aku malah sama sekali tidak merasakan hembusan angin malam menyentuh kulitku” Tentu saja. Bagaimana ia bisa merasa kedinginan jika seluruh tubuh perkasa Joon Sung melindunginya, memeluk seluruh bagian tubuhnya yang mungil dan meringkih lirih di dalam dekapan lelaki itu. Joon Sung menjaganya semalaman.
“Apakah tidurmu nyenyak?” Raut wajahnya berubah dan membuat Joon Sung tak tenang. Jadi, semalam Kae Bi benar-benar merasakan kesakitan saat memanggil namanya?
“Aku memimpikanmu” Kesedihan mulai terlihat pada ekspresi wajah Kae Bi, ia memandang Joon Sung tak bersemangat.
”Aku kehilanganmu, dan aku tersiksa..., Rasanya aku ingin mati”
Saraf-saraf pada tubuh Joon Sung menegang. Rasa nyeri yang bersemayam disekitar dadanya meluas.
“Itu hanya mimpi, Kae Bi” Nadanya memperingati penuh kesungguhan. ”Dan berjanjilah, apapun yang terjadi ku mohon..., jangan pernah mencoba bertindak bodoh”
Kae Bi segera mengangguk, menuruti perintah Joon Sung. “Ya, Joon Sung”
Joon Sung tersenyum tipis menanggapi ucapan Kae Bi, setidaknya kini ia bisa sedikit bernafas lega.
“Mandilah” Tangan Joon Sung mulai bergerak mengelus pipi lembut Kae Bi. “Aku akan menunggumu untuk sarapan”
Seketika Kae Bi ditaburi rasa bahagia saat mendengar perintah manis dari Joon Sung. Ia tak bisa menyembunyikan senyum cerahnya kala suaminya itu semakin menatapnya dengan jarak mereka yang amat sangat dekat. Cintanya semakin mendalam untuk lelaki ini, perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Joon Sung justru membuatnya tak lagi merasa canggung dan kaku.
Dengan satu gerakan ia pun menghantarkan bibirnya ke arah bibir Joon Sung. Hanya kecupan hangat yang diselingi deru nafas Kae Bi.
“Ciuman selamat pagi” Bisiknya ditelinga Joon Sung setelah ia sempat mengecup bibir suaminya itu.
Tak ada respon dari Joon Sung setelah Kae Bi melakukan hal yang begitu romantis untuknya. Ia hanya mengembangkan senyum lagi, lalu mengusap sekilas bibir ranum Kae Bi dengan ibu jarinya.
Joon Sung harus keluar dari ruangan ini, ia harus secepatnya pergi dari hadapan Kae Bi. Hatinya tak kan bisa menampung segala keberanian lagi kala melihat raut wajah bahagia yang Kae Bi tunjukkan padanya. Ini semua takkan berakhir, Ia dan Kae Bi memiliki pembatas keras. Dan pembatas itu ialah dendam yang terjalin diantara Ayahnya dengan Ayah Kae Bi.
***
Siang itu Hyun Woo menemui Joon Sung. Mereka menghabiskan waktu disalah satu restoran ternama yang jaraknya dekat dari Goo Seoul Corp.
Awalnya, suasana yang terasa diantara Hyun Woo dan Joon Sung begitu kaku dan canggung. Apalagi saat mereka bertatapan langsung di meja makan. Sebelumnya Hyun Woo telah memberitahu Joon Sung bahwa ia ingin menemui lelaki itu saat jam makan siang berlangsung. Joon Sung menyetujuinya dan akhirnya disinilah mereka, duduk dan saling mengawasi gerakan masing-masing.
Hingga seluruh hidangan yang mereka santap telah dibawa oleh beberapa pelayan, dan mereka masih terdiam seperti patung yang baru selesai dipahat.
Tiba-tiba saja Hyun Woo tersenyum geli menghadapi situasi seperti ini.
“Mau sampai kapan kita seperti ini? Sungguh, aku merasa muak dengan kau dan segala kekakuanmu itu” Joon Sung menatapnya namun tidak memberikan tanggapan apapun. Ia masih menatap Hyun Woo dengan sikap tenang.
“Lalu situasi seperti apa yang kau inginkan? Tersenyum selalu saat kau menatapku, bermimpilah yang panjang untuk itu” Kata Joon Sung dingin dan ditimpali kekehan Hyun Woo yang khas.
“Itu berlebihan” Hyun Woo menggelengkan kepalanya dengan sengaja. Menunjukkan raut wajah sok peduli dan malah membuat Joon Sung mendengus kesal. “Aku takkan memintamu untuk tersenyum, karena aku tahu itu bukan keahlianmu”
“Dan juga keahlianku bukan menunjukkan wajah sok peduli sepertimu” Ia balas menyindir dan membuat Hyun Woo seakan menertawai perdebatan kekanakan mereka seperti ini.
Tapi ia harus bersyukur. Di masa kecilnya, selalu ada hati yang tak tulus, selalu ada kedengkian, dan juga perasaan benci saat berbicara pada Joon Sung. Namun sekarang, ia bisa memperoleh kesenangan sendiri saat dapat berbicara kembali dengan seseorang yang ia rindukan kehadirannya sejak lama, yaitu adik kesayangannya—Lee Jae Hyun
“Apakah kau tahu, aku sangat membencimu saat itu” Hyun Woo menatap Joon Sung dengan wajah muram. ”Aku benci kau yang dilimpahi kasih sayang dari Ayah dan Ibu, aku benci kau yang selalu diunggulkan, kau yang selalu dicintai”
Hati Joon Sung melengos mendengar pengakuan saudara sekandungnya itu. Benarkah ia terlahir dengan limpahan cinta seperti yang dituturkan Hyun Woo saat ini? Benarkah ia yang selalu diunggulkan?
“Tapi aku tak bisa mendapatkan ingatan tentang hal itu” Nadanya berubah rendah dan lirih. Hyun Woo tahu betapa Joon Sung ingin merasakan segala yang tadi dituturkannya. Lelaki itu menginginkan sebuah rasa kasih sayang dan rasa terlindungi.
Ia tersenyum pahit. “Ya, kita setimpal, bukan? Aku mendapat masa terpurukku dimasa lalu dan kau mendapatkannya disaat ini”
“Sepeti apa sosok ibu?” Pertanyaan Joon Sung membuat Hyun Woo membeku. Ia sempat terkeluh dan merasa takkan sanggup menceritakan tentang sang Ibu pada Joon Sung.
“Ibu wanita cantik dengan kepribadian yang lembut dan penyayang. Ia sangat mencintaimu dan selalu menenangkanmu ketika kau menangis karena ulahku” Hyun Woo tersenyum miris menerawang hampa. ”Bahkan saat tubuhmu jelas terperosok kedalam jurang sialan itu, Ibu menangis dan menjerit pilu, berlari dan mencoba meraihmu kembali”
Dadanya seperti ditancap sesuatu yang begitu amat tajam, menembus bagian-bagian dalam tubuhnya. Membuat rasa sesak memenuhi dan ia tak mampu lagi bertahan.
Joon Sung menahan air yang hendak mengalir dari sudut matanya. Wajahnya telah memerah dan membeku. Membayangkan sosok wanita yang mencintainya setelah Kae Bi, wanita itu adalah ibunya, yang melahirkannya kedunia ini, yang melindungi dan menyayanginya. Bahkan ingatan terkutuk itu melenyapakan segalanya! Ia tak bisa mengingat apapun.
Nafasnya sudah tidak teratur, Hyun Woo tahu saat ini Joon Sung tengah menahan isak tangis.
“Semua bersedih untuk kematianmu, bahkan Ayah hidup dalam penderitaan saat tak menemukan mayatmu didalam jurang itu”
Ruang gelap dalam hatinya seolah menjerit. Betapa ia ingin kembali lagi kemasa itu, ia menginginkan kejadian empat belas tahun itu terulang kembali. Mencegah kecelakaan maut itu agar ia dapat hidup seperti yang seharusnya ia rasakan. Ia menginginkan keluarganya kembali utuh.
“Apakah kau juga bersikap sama seperti mereka?” Seharusnya Joon Sung tahu bahwa dimasa kecil mereka, Hyun Woo bahkan sangat membencinya melebihi apapun.
“Tidak, bahkan sebelum kau pergi aku berterus terang padamu bahwa aku tidak menginginkan kau ada didalam hidupku” Ia menahan nafas mendengarkan kata-perkata yang Hyun Woo ucapakan begitu saja dari bibirnya.
“Tapi menyaksikanmu terlempar begitu saja ke jurang, rasanya membuatku sakit. Perasaan benciku lenyap, nafasku tertahan melihat adikku mati dalam kecelakaan maut itu” Keduanya saling memandang dalam raut wajah masing-masing.
Hyun Woo tersenyum ironis lalu melanjutkan perkataanya lagi. “Saat itulah, aku sadar bahwa aku menyayangi adikku—Lee Jae Hyun”
Joon Sung terdiam menahan air bening yang sudah tak terbendung dari kedua matanya. Ia menundukkan kepala tak mau menatap Hyun Woo dengan keadaan seperti ini. Ia lemah dan ia butuh penopang, itulah yang selalu Jae Hyun kecil keluhkan sehingga kini Hyun Woo dapat membaca perasaan adik kandungnya itu.
“Hiduplah dengan bahagia, Jae Hyun-aa” Mereka saling bertatapan lagi. Betapa terkejutnya Joon Sung saat melihat mata Hyun Woo yang mulai memerah dan air mata mengalir disana.
“Walaupun kau tak mengingat kita dimasa lalu, hiduplah dengan bahagia. Kau pantas untuk mendapatkannya”
***
Siang yang membosankan bagi Kae Bi. Sejak dua jam yang lalu ia masih terus berada diatas sofa di dekat ruang tamu, menyaksikan acara televisi. Gae In tidak hadir pagi ini, biasanya gadis itu akan menemaninya seharian sampai Joon Sung kembali pulang. Kae Bi memang tidak mempunyai teman di Apartemen ini selain Gae In.
Joon Sung melarangnya berpergian keluar kecuali jika ditemani bersama Gae In atau Bibi Yoon. Dan sekarang, ia hanya sendirian di ruangan yang cukup mewah ini. Bingung apa yang harus dilakukan untuk membuang rasa jenuhnya.
Seketika dentingan bel membawa kesadarannya kembali utuh dari lamunan. Dengan cepat ia meraih remote televisi dan mematikannya. Kae Bi beranjak dari tempat dan mengarah ke depan pintu.
Seorang pria tengah baya yang memilik postur tubuh gagah berdiri mulus dihadapannya. Lelaki itu menunjukkan raut wajah dingin dengan senyum yang entah mengapa menurut Kae Bi terkesan jahat.
Dan setelah mengamati lagi wajah yang tak asing baginya, raut mukanya berubah ketakutan. Kae Bi ingat, lelaki ini adalah lelaki yang mencoba membunuhnya... Dia.
“Kau?” Desis Kae Bi tertahan tanpa sadar memundurkan langkahnya dengan tubuh bergetar.
“Selamat siang Nona Goo, senang dipertemukan lagi denganmu” Pria berjas hitam itu lalu melangkah masuk kedalam Apartemen Kae Bi. Ia mengambil tempat dihadapan wanita itu lagi, membuat wajah Kae Bi pucat pasi dan tersirat ketakutan yang mencekam dikedua bola matanya.
Kae Bi mengepal tangan erat saat pria baya itu semakin dekat dengannya. Apakah pria ini akan mencoba membunuhnya lagi? Nafasnya tertahan, sejak tadi hanya dirinyalah yang ada diruangan ini. Dan keinginan pria ini untuk membunuhnya berpeluang sangat besar, mengingat tak kan ada saksi mata ataupun orang yang akan membeberkan percobaan pembunuhan pada dirinya.
“Apa yang kau inginkan?” Nadanya sedikit gemetar, Kae Bi mencoba menatap mata tajam itu dengan segala keberaniannya yang masih tersisa.
“Kau pun pasti tahu apa yang aku inginkan setelah pertemuan terakhir kita, Goo Kae Bi” Joon Shik menyeringai puas saat melihat Kae Bi tersudut seperti binatang kecil yang siap untuk di terkam oleh pemangsanya. “Nyawamu lah yang aku inginkan”
Darahnya berdesir hebat dan saluran-saluran nadinya seperti timbul dari kulit. Kae Bi mencoba menghela nafas perih.
“Apa salahku?” Ia bertanya pada dirinya sendiri dan tentu pada Joon Shik. ”Apa kau ingin membalas rasa sakit hati putramu? Apa itu yang kau inginkan?”
“Putra yang mana, Kae Bi?” Joon Shik menertawakan pertanyaan bodoh gadis itu.
Kae Bi mengernyitkan kedua alisnya. Setahunya, Hyun Woo adalah putra tunggal. Lelaki itu tak pernah menceritakan tentang saudara sekandungnya saat mereka masih menjalin hubungan. Ini aneh.
“Aku memiliki dua putra, Kae Bi” Joon Shik beralih kearah lain, ia berjalan perlahan menjauh dari Kae Bi. ”Dan kedua putraku itu amat mengenalmu dengan baik”
“Apa maksudmu?” Rasa keingin tahuan terlihat jelas dari wajahnya. Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai melangkah mendekat kearah Joon Shik.
“Kedua putraku pernah kau rayu dengan tubuh murahanmu itu!” Kemarahan terdengar jelas disetiap perkataanya yang menekan terhadap Kae Bi, sehingga gadis itu meringkuk ketakutan. ”Mereka menjadi lemah dan saling bersiteru! Untuk itulah wanita pengganggu seperti mu harus dilenyapkan”
Sakit yang Kae Bi rasakan terselip di setiap perkataan yang Joon Shik ucapkan. Ia menahan nafas dan air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Ia tak pernah direndahkan seperti ini. Ia tak pernah mendapat cacian kejam seperti yang Joon Shik katakan tentang dirinya.
Kedua lelaki yang saling bersiteru karena dirinya? Kae Bi mencoba mengingatnya. Lelaki yang pernah berhubungan dengannya, itu adalah Hyun Woo dan...
“Joon Sung” Ia berbisik tercekat. Jadi Joon Sung dan Hyun Woo
“Ya, Joon Sung—putra bungsuku” Tubuhnya tak mampu menyanggah lagi. Kae Bi jatuh terduduk begitu saja dengan pandangan nanar. Apakah selama ini Joon Sung membohonginya? Jadi lelaki itu masih mempunyai keluarga dan... Hyun Woo adalah saudara sekandungnya.
Air terus mengalir dari dadanya yang terasa sesak.
“Meskipun aku sangat berniat membunuhmu tapi kurasa hal itu tidak menguntungkanku untuk melihatmu menderita terlebih dahulu” Joon Shik memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Ia mengamati Kae Bi begitu dalam.
“Tinggalkan Joon Sung. Jika kau tak ingin membuatku melukainya, tinggalkan Joon Sung” Ia menengadah, menatap Joon Shik dengan raut wajah kelam.
“Kau akan melukai putramu sendiri? Sekejam itukah dirimu?” Kae Bi menahan isak tangisnya saat mengingat Joon Sung memberitahunya bahwa lelaki itu tak dibutuhkan oleh siapapun, tidak ada yang menginginkan kehadirannya.
“Aku bisa melakukan apa saja, Kae Bi. Aku akan melenyapkan siapapun yang mencoba menentang setiap keinginanku, sekali pun itu Joon Sung dan Hyun Woo” Tentu saja ucapan ini hanya ancaman bagi Kae Bi agar wanita itu mengikuti perintahnya.
Manusia berhati seperti apa yang kini berada dihadapannya? Kepalanya berdenyut kesakitan memikirkan hal itu. Air mata tak dapat lagi ditahannya, Kae Bi menangis dalam diam kemudian berkata.
“Baiklah” Dengan suara bergetar ia mencoba berucap. ”Aku akan meninggalkan Joon Sung”
Joon Shik menyeringai mendengarnya “Gadis pintar”
Setelah itu ia mengayunkan sepasang kakinya untuk meninggalkan ruangan itu. Tepat saat ia telah memunggungi Kae Bi dan berjalan menuju ke bibir pintu, tiba-tiba suara wanita itu mencegahnya melangkah
“Apakah Joon Sung mengetahui segalanya?” Joon Shik tak berniat menatap Kae Bi lagi. Ia hanya terdiam tanpa membalikkan tubuhnya. ”Apakah Joon Sung tahu bahwa kau dan Hyun Woo adalah keluarga yang dinantinya selama ini?”
“Awalnya tidak” Ia mulai menjawab. ”Tapi kejadian dimana ia menghilang saat perayaan purusahaan Ayahmu itu, Ia telah mengetahui segalanya”
***
Kae Bi masih menangis, dengan gerakan lemahnya ia mulai mengepak seluruh pakaiannya yang ada di dalam lemari, memindahkannya kedalam koper besar yang sudah siap untuk dimasuki. Kepalanya terasa nyeri dan seluruh dadanya berusaha menahan sesak yang sejak tadi bagai ditusuk benda tajam.
Apakah ia harus meninggalkan Joon Sung saat lelaki itu membutuhkannya? Kae Bi mengerti, setelah kejadian malam itu. Joon Sung menyembunyikan segalanya, ia tak siap dengan kenyataan yang membuatnya dipertemukan dengan keluarganya lagi. Tapi, jika ia tidak meninggalkan lelaki itu, apa yang akan terjadi pada Joon Sung selanjutnya? Apa yang akan pria itu lakukan terhadap suaminya?
Dan, mengapa pria itu begitu ingin memisahkannya dari Joon Sung? Jika semua ini bersangkut-paut pada Hyun Woo dan kejadian percobaan pembunuhan pada dirinya, akankah pria itu mau mengerti bahwa ia amat mencintai Joon Sung dan tak sanggup melepasnya?
Tubuh rentannya mengambil tempat di bibir ranjang. Kae Bi menutup kopernya dan dengan gerakan cepat, menghapus sisa air mata yang masih membekas di pipi dengan punggung tangannya. Sekuat tenaga mencoba menghentikan tangis dan menahan isakannya.
Semua ia lakukan untuk Joon Sung, semua ia lakukan karena ia mencintai lelaki itu. Tekad Kae Bi dalam hatinya.
***
Pintu bergerak terbuka dan membuat Kae Bi menahan nafasnya. Itu pasti Joon Sung. Ia melirik kearah jam dinding dan waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Benar saja, sosok lelaki itu telah menjulang, memunggunginya saat menutup pintu. Tatapan mereka akhirnya bertemu saat Joon Sung membalikan badan dan berhadapan dengannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Joon Sung bertanya dengan suara yang sedikit ragu. Mata tajamnya berjaga, mengawasi Kae Bi yang masih tetap membeku, berdiri di hadapannya dengan tatapan muram.
Wajah wanita itu begitu pucat dengan mata memerah. Joon Sung menggeram saat ia yakin bahwa Kae Bi telah menangis dan menyembunyikan sesuatu darinya. Ia mencoba mendekat, menghampiri Kae Bi dengan langkah agak tergesa namun terhenti begitu saja.
Kilatan matanya mulai tercipta, memencak marah kala melihat koper hitam besar terselip dibalik punggung Kae Bi. Detak jantungnya berdebar kuat, raut wajahnya diliputi ketakutan. Ia pernah mengalami kejadian ini, saat Kae Bi mencoba meninggalkannya dan kini apakah wanita itu akan melakukannya kembali?
“Apa yang akan kau lakukan dengan koper itu, Kae Bi?” Tanyanya berhati-hati. Penampilannya terlihat agak kusut dengan rambut acak-acakkan dan kemeja yang sudah sedikit keluar dari setelan celananya.
Kae Bi menghela nafas dan menyembunyikan tangis saat mencoba menjawab pertanyaan Joon Sung. “Pergi dari tempat ini, tentu saja”
“Pergi?” Bisikan Joon Sung membuat dadanya terkoyak, seperti tubuhnya tenggalam dalam lubang tak mendasar. ”Pergi katamu, Kae Bi?” Kali ini ia menatap Kae Bi yang masih berdiri di hadapannya.
“Ya, aku akan pergi” Suara yang ditangkap oleh pendengarannya menyiratkan jika wanita ini merasa lelah. Joon Sung bergerak gusar, mendekat lagi kearah Kae Bi.
“Tapi, mengapa?” Kata Joon Sung seolah-olah tidak bisa bernafas.
”Karena aku tidak bahagia, karena aku tertekan berada disini, bersamamu” Ia dapat melihat air mata Kae Bi mengalir. Wanita itu menangis
“Begitukah?” Emosi Joon Sung meluap dan raut wajahnya mengeras. Siapa yang berani-beraninya meracuni Kae Bi dengan pemikiran seperti ini!? ”Lalu segalanya, semua yang kau katakan, yang kita perjuangkan”
“Selama ini aku mencobanya, Joon Sung dan, aku tidak bisa” Kata-kata Kae Bi menekan, menembus tubuhnya dan menyebabkan rasa sakit. ”Aku menyadari, tidak ada yang kubutuhkan disini”
“Aku tidak bisa, Joon Sung” Lanjutnya lagi. Joon Sung menutup matanya dengan rasa kemarahan. Dia benar-benar hancur. Kesakitan merasuk dahsyat pada tubuhnya dan menyebabkan ia kaku.
“Tidak, kumohon jangan” Ia sempat bergumam kecil dan membuat Kae Bi semakin ingin pergi dari tempat itu. Meluapkan tangisnya, menyesali perkataan bodohnya pada Joon Sung.
“Maafkan aku” Kae Bi meraih kopernya, kemudian menyeretnya dan mulai melangkah, melewati tubuh Joon Sung begitu saja. Jemarinya menyentuh knop pintu.
“Aku mencintaimu, Kae Bi” Gerakannya terhenti, Kae Bi meraih rasa perihnya bersama isak tangis. Ia terdiam mencoba mendengarkan suara gelap Joon Sung. ”Aku bahagia bersamamu”
“Selamat tinggal, Joon Sung” Bisik Kae Bi yang langsung pergi, menembus pintu kokoh itu. Tangisnya pecah dan ia terus berjalan, menyeka buliran air mata yang semakin lama semakin mengalir deras di pipinya. Kae Bi masih menyeret kopernya, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya saat memasuki lift. Sampai di Lobby ia menghentikan sebuah taksi lalu memasukinya.
Kae Bi mencoba menahan tangisnya yang kembali muncul. Wanita itu menghela nafas berat dan memejamkan kedua matanya. Setelah kejadian ini ia tahu, pada akhirnya takkan ada kebahagiaan untuknya dan Joon Sung.
***
Kendaraan beroda empat itu menggebu-gebu memasuki gerbang Lee Mansion. Beberapa pengawal yang berjaga disana langsung bergegas lari berniat menahannya. Mereka lalu menuju mobil Joon Sung yang kini terparkir melintang di halaman depan. Begitu lelaki itu keluar dari mobil, para pengawal tersebut hanya membeku dan berusaha menundukkan kepala. Mr.Lee dan Hyun Woo telah menginstruksikan mereka untuk menjaga sikap pada Joon Sung karena mulai saat ini lelaki itu juga bagian dari keluarga Lee, yang tak lain adalah majikan mereka.
Joon Sung melirik sekilas lalu tak mengindahkan sapaan hormat itu. Raut wajahnya mengeras, matanya terbakar nyala api dan keadaanya benar-benar buruk. Ia berjalan memasuki rumah bergaya elegan tersebut, melangkah tegap dan mengarah pada ruang kerja Mr. Lee.
Kae Bi meninggalkannya untuk alasan yang tak jelas, dan Joon Sung tahu jika perbuatan Kae Bi telah dikendalikan oleh sang Ayah. Entah ancaman apa yang telah dikeluarkan pria itu terhadap Kae Bi, tapi yang pasti ia akan menghancurkan siapapun yang akan mengusik kebahagiannya. Karena hanyalah Kae Bi yang tersisa bagi Joon Sung, karena ia membutuhkannya, karena ia mencintai Kae Bi.
Kebetulan Pak Jang bersipapas dengannya saat berada diruang tamu, pria baya itu membungkuk hormat dan mencoba tersenyum. Joon Sung menatap dingin dan tajam, ia hanya terdiam karena kondisi batinnya sedang tercekam. Tanpa menunggu perkataan pak Jang, ia kembali mengayunkan langkah kaki lalu membuka pintu dengan tak sabar.
“Apa!?” Itu suara Hyun Woo, ia dapat mengingatnya dengan jelas. Tapi mengapa nada suara lelaki itu membuatnya bertanya, ia dapat mendengar keterkejutan disana. ”Jadi, Pendonor dari operasi kornea mata Kae Bi adalah Ibu!?”
Tenaganya untuk melampiaskan segala kemarahannya tiba-tiba menghilang begitu saja. Joon Sung merasa tubuhnya sudah tidak bisa menopang bobot tubuhnya lagi. Inilah kejutan pahit yang diterimanya. Rasa keingintahuannya sudah terjawab, Kae Bi berada pada kejadian empat belas tahun itu, Kae Bi terikat dengan masa lalu kejinya. Oh tuhan!
“Benarkah itu?” Raut wajah Joon Sung seketika mengeras, ia masih bertanya tak percaya.
“Astaga, Joon Sung!” Hyun Woo segera beranjak dari tempatnya, menghampiri Joon Sung yang dengan perlahan menapak diatas duri. Ia menyentuh pundak Sang adik.
“Joon Sung” Hyun Woo mendengus lemah. Semua sudah terungkap. Ia memejamkan kedua mata, tak bisa membayangkan betapa tersiksanya Joon Sung mendengar pernyataan menyakitkan ini.
Ia menghempaskan tangan Hyun Woo pada pundaknya lalu menatap Joon Shik yang duduk tenang dan sedari tadi
menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
“Benarkah itu?” Ulang Joon Sung dengan nada menekan.
“Ya, kedua bola mata yang kini tersemat pada wajah istrimu itu adalah kedua bola mata ibumu” Jawab Joon Shik dengan suara perlahan, menjaga hati putra bungsunya dengan pandangan mengawasi.
Joon Sung pun tak lagi merasa kuat, ia lemah dan meluncur begitu saja dilantai, jatuh terduduk dengan kemelut pemikiran yang menggerogoti setiap inchi dari tubuhnya. Jika waktu itu ia bisa menyembunyikan tangisnya diruangan ini, kini jangan berharap ia bisa menahannya lagi. Linangan air bening jatuh dari kedua matanya yang sudah memerah.
Hatinya berkeluh pilu semenjak kenyataan pahit itu harus ditelannya hidup-hidup, dan yang paling membuatnya merasa bahwa hidupnya telah berakhir adalah saat ini, saat mendengar jika sepasang bola mata dari wanita yang ia cintai adalah sepasang bola mata milik sang Ibu. Nafasnya menderu tak teratur, ia mengepal tangan kuat dan tak memedulikan lagi tatapan mata Joon Shik dan Hyun Woo yang tengah memerhatikannya dengan cemas.
“Bawa dia kekamar, Hyun Woo” Joon Shik berkata tanpa melepas pandangannya pada Joon Sung.
Hyun Woo langsung mematuhi. Ia mencengkaram kedua sisi lengan Joon Sung, berusaha merajuk adiknya itu untuk beranjak dari posisinya. Dengan gerakan perlahan akhirnya Joon Sung menurut tanpa membuat perlawanan lagi. Mereka berada di kamar kosong di sebelah kamar Hyun Woo, disana lelaki itu merebahkan tubuh Joon Sung diatas ranjang.
Hyun Woo meringis perih dalam hati, ia berdiri dan mengamati Joon Sung setelah menarik selimut keatas tubuh adiknya. Kondisi Joon Sung benar-benar memprihatinkan, sangat kacau dan begitu hancur. Penampilannya berantakkan dan tatapannya berubah kosong, tak ada raut wajahnya yang bisa tertangkap oleh Hyun Woo.
“Bertahanlah” Kesedihan menyelimuti nada suaranya. Hyun Woo menatap Joon Sung Iba. “Untuk Kae Bi, untuk kalian..., bertahanlah”
Bahkan perkataannya tak membuahkan reaksi apapun bagi Joon Sung. Lelaki itu masih sama, diam membisu dengan pancaran tatapan mata yang hampa dan kosong. Hyun Woo menghela nafas dalam gelisah lalu memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan Joon Sung menggapai ketenangannya sendiri.
“Dia meninggalkanku, Hyung” Suara lirih dan lemah Joon Sung membuat Hyun Woo bergidik kaku, ia menoleh guna menatap Joon Sung. ”Kae Bi meninggalkanku”
Tubuh Ideliasnya merengkuh ranjang luas itu dalam puncak kesedihan. Joon Sung mengenyampingkan tubuhnya dalam luka teramat. Mendesis perih dan mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan akan raut wajah cantik Kae Bi mengusiknya lagi, melumpuhkan hatinya dan membuatnya seperti akan dilenyapkan. Jiwanya terapit lahar panas saat hendak bernafas. Seharusnya ia tahu, inilah akhir dari segalanya. Ia tidak pernah ditakdirkan untuk bahagia. Takkan ada kebahagiaan abadi yang mampu ia raih, sekalipun bersama Kae Bi.
Memikirkan segalanya, membuat air mendesak keluar lagi dari kedua matanya. Joon Sung menangis dalam diam.
***
Sejak saat itu, ia selalu terjaga dan tak bisa terlelap kembali. Joon Sung menenangkan Kae Bi saat sesekali wanita itu bergerak tak tenang dalam tidurnya. Ia Memeluk, melindungi Kae Bi. Hingga jam tiga pagi barulah Kae Bi bisa terlelap sepenuhnya. Meringkuk dalam dekapan Joon Sung dan menjadikan dada suaminya sebagai tumpuan kepalanya.
Joon Sung menarik selimut yang Kae Bi kenakan dengan hati-hati saat dilihat bahan tebal nan halus itu sedikit tersingkap dari tubuh istrinya. Kegelisahan serta ketakutan meliputi, kini untuk sekedar memandang Kae Bi dengan lekat saat wanita itu tersadar, Joon Sun pun sudah tak mampu lagi. Ia tak sanggup membayangkan hal-hal yang akan terjadi setelah mereka melewati semua kebahagiaan ini.
Seharusnya ia dapat membenci segala sesuatu yang ia perjuangkan untuk Kae Bi. Seharusnya ia menyesal. Tapi ia tahu ia tak akan bisa. Jangankan membenci, berniat seperti itu saja Joon Sung sudah pasti akan bersumpah bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
Kae Bi tidak ada kaitannya dengan masa lalu keji itu. Berulang kali Joon Sung meyakini jika Kae Bi tidak terlibat sedikit pun dalam kejadian empat belas tahun lalu, kejadian yang menyebabkannya kehilangan orang-orang yang menyayangi dan mencintainya.
“Joon Sung?” Pandangannya langsung berganti kaku. Kesadarannya membawa penglihatannya menoleh pada Kae Bi. Wanita itu telah terjaga dari tidurnya dan kini malah mencoba beranjak dari pembaringan untuk mengambil tempat yang sama sepertinya, duduk disisi ranjang.
“Sejak kapan kau berada disini?” Kae Bi mengamati penampilan suaminya dari atas sampai bawah. Lelaki itu telah berpakaian rapi dan terlihat segar. Joon Sung mengenakan kemeja bewarna biru gelap yang bagian tangannya di lipat sampai ke siku dengan setelan celana hitamnnya.
“Baru saja. Berniat membangunkanmu” Kilahnya tanpa sempat lagi berpikir untuk berkata jujur. “Apakah kau merasa kedinginan dalam tidurmu?” Ia mencemaskan Kae Bi yang semalaman hanya tertidur dengan dilapisi selimut tanpa pakaian yang dikenakan lagi.
“Tidak. Aku malah sama sekali tidak merasakan hembusan angin malam menyentuh kulitku” Tentu saja. Bagaimana ia bisa merasa kedinginan jika seluruh tubuh perkasa Joon Sung melindunginya, memeluk seluruh bagian tubuhnya yang mungil dan meringkih lirih di dalam dekapan lelaki itu. Joon Sung menjaganya semalaman.
“Apakah tidurmu nyenyak?” Raut wajahnya berubah dan membuat Joon Sung tak tenang. Jadi, semalam Kae Bi benar-benar merasakan kesakitan saat memanggil namanya?
“Aku memimpikanmu” Kesedihan mulai terlihat pada ekspresi wajah Kae Bi, ia memandang Joon Sung tak bersemangat.
”Aku kehilanganmu, dan aku tersiksa..., Rasanya aku ingin mati”
Saraf-saraf pada tubuh Joon Sung menegang. Rasa nyeri yang bersemayam disekitar dadanya meluas.
“Itu hanya mimpi, Kae Bi” Nadanya memperingati penuh kesungguhan. ”Dan berjanjilah, apapun yang terjadi ku mohon..., jangan pernah mencoba bertindak bodoh”
Kae Bi segera mengangguk, menuruti perintah Joon Sung. “Ya, Joon Sung”
Joon Sung tersenyum tipis menanggapi ucapan Kae Bi, setidaknya kini ia bisa sedikit bernafas lega.
“Mandilah” Tangan Joon Sung mulai bergerak mengelus pipi lembut Kae Bi. “Aku akan menunggumu untuk sarapan”
Seketika Kae Bi ditaburi rasa bahagia saat mendengar perintah manis dari Joon Sung. Ia tak bisa menyembunyikan senyum cerahnya kala suaminya itu semakin menatapnya dengan jarak mereka yang amat sangat dekat. Cintanya semakin mendalam untuk lelaki ini, perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Joon Sung justru membuatnya tak lagi merasa canggung dan kaku.
Dengan satu gerakan ia pun menghantarkan bibirnya ke arah bibir Joon Sung. Hanya kecupan hangat yang diselingi deru nafas Kae Bi.
“Ciuman selamat pagi” Bisiknya ditelinga Joon Sung setelah ia sempat mengecup bibir suaminya itu.
Tak ada respon dari Joon Sung setelah Kae Bi melakukan hal yang begitu romantis untuknya. Ia hanya mengembangkan senyum lagi, lalu mengusap sekilas bibir ranum Kae Bi dengan ibu jarinya.
Joon Sung harus keluar dari ruangan ini, ia harus secepatnya pergi dari hadapan Kae Bi. Hatinya tak kan bisa menampung segala keberanian lagi kala melihat raut wajah bahagia yang Kae Bi tunjukkan padanya. Ini semua takkan berakhir, Ia dan Kae Bi memiliki pembatas keras. Dan pembatas itu ialah dendam yang terjalin diantara Ayahnya dengan Ayah Kae Bi.
***
Siang itu Hyun Woo menemui Joon Sung. Mereka menghabiskan waktu disalah satu restoran ternama yang jaraknya dekat dari Goo Seoul Corp.
Awalnya, suasana yang terasa diantara Hyun Woo dan Joon Sung begitu kaku dan canggung. Apalagi saat mereka bertatapan langsung di meja makan. Sebelumnya Hyun Woo telah memberitahu Joon Sung bahwa ia ingin menemui lelaki itu saat jam makan siang berlangsung. Joon Sung menyetujuinya dan akhirnya disinilah mereka, duduk dan saling mengawasi gerakan masing-masing.
Hingga seluruh hidangan yang mereka santap telah dibawa oleh beberapa pelayan, dan mereka masih terdiam seperti patung yang baru selesai dipahat.
Tiba-tiba saja Hyun Woo tersenyum geli menghadapi situasi seperti ini.
“Mau sampai kapan kita seperti ini? Sungguh, aku merasa muak dengan kau dan segala kekakuanmu itu” Joon Sung menatapnya namun tidak memberikan tanggapan apapun. Ia masih menatap Hyun Woo dengan sikap tenang.
“Lalu situasi seperti apa yang kau inginkan? Tersenyum selalu saat kau menatapku, bermimpilah yang panjang untuk itu” Kata Joon Sung dingin dan ditimpali kekehan Hyun Woo yang khas.
“Itu berlebihan” Hyun Woo menggelengkan kepalanya dengan sengaja. Menunjukkan raut wajah sok peduli dan malah membuat Joon Sung mendengus kesal. “Aku takkan memintamu untuk tersenyum, karena aku tahu itu bukan keahlianmu”
“Dan juga keahlianku bukan menunjukkan wajah sok peduli sepertimu” Ia balas menyindir dan membuat Hyun Woo seakan menertawai perdebatan kekanakan mereka seperti ini.
Tapi ia harus bersyukur. Di masa kecilnya, selalu ada hati yang tak tulus, selalu ada kedengkian, dan juga perasaan benci saat berbicara pada Joon Sung. Namun sekarang, ia bisa memperoleh kesenangan sendiri saat dapat berbicara kembali dengan seseorang yang ia rindukan kehadirannya sejak lama, yaitu adik kesayangannya—Lee Jae Hyun
“Apakah kau tahu, aku sangat membencimu saat itu” Hyun Woo menatap Joon Sung dengan wajah muram. ”Aku benci kau yang dilimpahi kasih sayang dari Ayah dan Ibu, aku benci kau yang selalu diunggulkan, kau yang selalu dicintai”
Hati Joon Sung melengos mendengar pengakuan saudara sekandungnya itu. Benarkah ia terlahir dengan limpahan cinta seperti yang dituturkan Hyun Woo saat ini? Benarkah ia yang selalu diunggulkan?
“Tapi aku tak bisa mendapatkan ingatan tentang hal itu” Nadanya berubah rendah dan lirih. Hyun Woo tahu betapa Joon Sung ingin merasakan segala yang tadi dituturkannya. Lelaki itu menginginkan sebuah rasa kasih sayang dan rasa terlindungi.
Ia tersenyum pahit. “Ya, kita setimpal, bukan? Aku mendapat masa terpurukku dimasa lalu dan kau mendapatkannya disaat ini”
“Sepeti apa sosok ibu?” Pertanyaan Joon Sung membuat Hyun Woo membeku. Ia sempat terkeluh dan merasa takkan sanggup menceritakan tentang sang Ibu pada Joon Sung.
“Ibu wanita cantik dengan kepribadian yang lembut dan penyayang. Ia sangat mencintaimu dan selalu menenangkanmu ketika kau menangis karena ulahku” Hyun Woo tersenyum miris menerawang hampa. ”Bahkan saat tubuhmu jelas terperosok kedalam jurang sialan itu, Ibu menangis dan menjerit pilu, berlari dan mencoba meraihmu kembali”
Dadanya seperti ditancap sesuatu yang begitu amat tajam, menembus bagian-bagian dalam tubuhnya. Membuat rasa sesak memenuhi dan ia tak mampu lagi bertahan.
Joon Sung menahan air yang hendak mengalir dari sudut matanya. Wajahnya telah memerah dan membeku. Membayangkan sosok wanita yang mencintainya setelah Kae Bi, wanita itu adalah ibunya, yang melahirkannya kedunia ini, yang melindungi dan menyayanginya. Bahkan ingatan terkutuk itu melenyapakan segalanya! Ia tak bisa mengingat apapun.
Nafasnya sudah tidak teratur, Hyun Woo tahu saat ini Joon Sung tengah menahan isak tangis.
“Semua bersedih untuk kematianmu, bahkan Ayah hidup dalam penderitaan saat tak menemukan mayatmu didalam jurang itu”
Ruang gelap dalam hatinya seolah menjerit. Betapa ia ingin kembali lagi kemasa itu, ia menginginkan kejadian empat belas tahun itu terulang kembali. Mencegah kecelakaan maut itu agar ia dapat hidup seperti yang seharusnya ia rasakan. Ia menginginkan keluarganya kembali utuh.
“Apakah kau juga bersikap sama seperti mereka?” Seharusnya Joon Sung tahu bahwa dimasa kecil mereka, Hyun Woo bahkan sangat membencinya melebihi apapun.
“Tidak, bahkan sebelum kau pergi aku berterus terang padamu bahwa aku tidak menginginkan kau ada didalam hidupku” Ia menahan nafas mendengarkan kata-perkata yang Hyun Woo ucapakan begitu saja dari bibirnya.
“Tapi menyaksikanmu terlempar begitu saja ke jurang, rasanya membuatku sakit. Perasaan benciku lenyap, nafasku tertahan melihat adikku mati dalam kecelakaan maut itu” Keduanya saling memandang dalam raut wajah masing-masing.
Hyun Woo tersenyum ironis lalu melanjutkan perkataanya lagi. “Saat itulah, aku sadar bahwa aku menyayangi adikku—Lee Jae Hyun”
Joon Sung terdiam menahan air bening yang sudah tak terbendung dari kedua matanya. Ia menundukkan kepala tak mau menatap Hyun Woo dengan keadaan seperti ini. Ia lemah dan ia butuh penopang, itulah yang selalu Jae Hyun kecil keluhkan sehingga kini Hyun Woo dapat membaca perasaan adik kandungnya itu.
“Hiduplah dengan bahagia, Jae Hyun-aa” Mereka saling bertatapan lagi. Betapa terkejutnya Joon Sung saat melihat mata Hyun Woo yang mulai memerah dan air mata mengalir disana.
“Walaupun kau tak mengingat kita dimasa lalu, hiduplah dengan bahagia. Kau pantas untuk mendapatkannya”
***
Siang yang membosankan bagi Kae Bi. Sejak dua jam yang lalu ia masih terus berada diatas sofa di dekat ruang tamu, menyaksikan acara televisi. Gae In tidak hadir pagi ini, biasanya gadis itu akan menemaninya seharian sampai Joon Sung kembali pulang. Kae Bi memang tidak mempunyai teman di Apartemen ini selain Gae In.
Joon Sung melarangnya berpergian keluar kecuali jika ditemani bersama Gae In atau Bibi Yoon. Dan sekarang, ia hanya sendirian di ruangan yang cukup mewah ini. Bingung apa yang harus dilakukan untuk membuang rasa jenuhnya.
Seketika dentingan bel membawa kesadarannya kembali utuh dari lamunan. Dengan cepat ia meraih remote televisi dan mematikannya. Kae Bi beranjak dari tempat dan mengarah ke depan pintu.
Seorang pria tengah baya yang memilik postur tubuh gagah berdiri mulus dihadapannya. Lelaki itu menunjukkan raut wajah dingin dengan senyum yang entah mengapa menurut Kae Bi terkesan jahat.
Dan setelah mengamati lagi wajah yang tak asing baginya, raut mukanya berubah ketakutan. Kae Bi ingat, lelaki ini adalah lelaki yang mencoba membunuhnya... Dia.
“Kau?” Desis Kae Bi tertahan tanpa sadar memundurkan langkahnya dengan tubuh bergetar.
“Selamat siang Nona Goo, senang dipertemukan lagi denganmu” Pria berjas hitam itu lalu melangkah masuk kedalam Apartemen Kae Bi. Ia mengambil tempat dihadapan wanita itu lagi, membuat wajah Kae Bi pucat pasi dan tersirat ketakutan yang mencekam dikedua bola matanya.
Kae Bi mengepal tangan erat saat pria baya itu semakin dekat dengannya. Apakah pria ini akan mencoba membunuhnya lagi? Nafasnya tertahan, sejak tadi hanya dirinyalah yang ada diruangan ini. Dan keinginan pria ini untuk membunuhnya berpeluang sangat besar, mengingat tak kan ada saksi mata ataupun orang yang akan membeberkan percobaan pembunuhan pada dirinya.
“Apa yang kau inginkan?” Nadanya sedikit gemetar, Kae Bi mencoba menatap mata tajam itu dengan segala keberaniannya yang masih tersisa.
“Kau pun pasti tahu apa yang aku inginkan setelah pertemuan terakhir kita, Goo Kae Bi” Joon Shik menyeringai puas saat melihat Kae Bi tersudut seperti binatang kecil yang siap untuk di terkam oleh pemangsanya. “Nyawamu lah yang aku inginkan”
Darahnya berdesir hebat dan saluran-saluran nadinya seperti timbul dari kulit. Kae Bi mencoba menghela nafas perih.
“Apa salahku?” Ia bertanya pada dirinya sendiri dan tentu pada Joon Shik. ”Apa kau ingin membalas rasa sakit hati putramu? Apa itu yang kau inginkan?”
“Putra yang mana, Kae Bi?” Joon Shik menertawakan pertanyaan bodoh gadis itu.
Kae Bi mengernyitkan kedua alisnya. Setahunya, Hyun Woo adalah putra tunggal. Lelaki itu tak pernah menceritakan tentang saudara sekandungnya saat mereka masih menjalin hubungan. Ini aneh.
“Aku memiliki dua putra, Kae Bi” Joon Shik beralih kearah lain, ia berjalan perlahan menjauh dari Kae Bi. ”Dan kedua putraku itu amat mengenalmu dengan baik”
“Apa maksudmu?” Rasa keingin tahuan terlihat jelas dari wajahnya. Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai melangkah mendekat kearah Joon Shik.
“Kedua putraku pernah kau rayu dengan tubuh murahanmu itu!” Kemarahan terdengar jelas disetiap perkataanya yang menekan terhadap Kae Bi, sehingga gadis itu meringkuk ketakutan. ”Mereka menjadi lemah dan saling bersiteru! Untuk itulah wanita pengganggu seperti mu harus dilenyapkan”
Sakit yang Kae Bi rasakan terselip di setiap perkataan yang Joon Shik ucapkan. Ia menahan nafas dan air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Ia tak pernah direndahkan seperti ini. Ia tak pernah mendapat cacian kejam seperti yang Joon Shik katakan tentang dirinya.
Kedua lelaki yang saling bersiteru karena dirinya? Kae Bi mencoba mengingatnya. Lelaki yang pernah berhubungan dengannya, itu adalah Hyun Woo dan...
“Joon Sung” Ia berbisik tercekat. Jadi Joon Sung dan Hyun Woo
“Ya, Joon Sung—putra bungsuku” Tubuhnya tak mampu menyanggah lagi. Kae Bi jatuh terduduk begitu saja dengan pandangan nanar. Apakah selama ini Joon Sung membohonginya? Jadi lelaki itu masih mempunyai keluarga dan... Hyun Woo adalah saudara sekandungnya.
Air terus mengalir dari dadanya yang terasa sesak.
“Meskipun aku sangat berniat membunuhmu tapi kurasa hal itu tidak menguntungkanku untuk melihatmu menderita terlebih dahulu” Joon Shik memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Ia mengamati Kae Bi begitu dalam.
“Tinggalkan Joon Sung. Jika kau tak ingin membuatku melukainya, tinggalkan Joon Sung” Ia menengadah, menatap Joon Shik dengan raut wajah kelam.
“Kau akan melukai putramu sendiri? Sekejam itukah dirimu?” Kae Bi menahan isak tangisnya saat mengingat Joon Sung memberitahunya bahwa lelaki itu tak dibutuhkan oleh siapapun, tidak ada yang menginginkan kehadirannya.
“Aku bisa melakukan apa saja, Kae Bi. Aku akan melenyapkan siapapun yang mencoba menentang setiap keinginanku, sekali pun itu Joon Sung dan Hyun Woo” Tentu saja ucapan ini hanya ancaman bagi Kae Bi agar wanita itu mengikuti perintahnya.
Manusia berhati seperti apa yang kini berada dihadapannya? Kepalanya berdenyut kesakitan memikirkan hal itu. Air mata tak dapat lagi ditahannya, Kae Bi menangis dalam diam kemudian berkata.
“Baiklah” Dengan suara bergetar ia mencoba berucap. ”Aku akan meninggalkan Joon Sung”
Joon Shik menyeringai mendengarnya “Gadis pintar”
Setelah itu ia mengayunkan sepasang kakinya untuk meninggalkan ruangan itu. Tepat saat ia telah memunggungi Kae Bi dan berjalan menuju ke bibir pintu, tiba-tiba suara wanita itu mencegahnya melangkah
“Apakah Joon Sung mengetahui segalanya?” Joon Shik tak berniat menatap Kae Bi lagi. Ia hanya terdiam tanpa membalikkan tubuhnya. ”Apakah Joon Sung tahu bahwa kau dan Hyun Woo adalah keluarga yang dinantinya selama ini?”
“Awalnya tidak” Ia mulai menjawab. ”Tapi kejadian dimana ia menghilang saat perayaan purusahaan Ayahmu itu, Ia telah mengetahui segalanya”
***
Kae Bi masih menangis, dengan gerakan lemahnya ia mulai mengepak seluruh pakaiannya yang ada di dalam lemari, memindahkannya kedalam koper besar yang sudah siap untuk dimasuki. Kepalanya terasa nyeri dan seluruh dadanya berusaha menahan sesak yang sejak tadi bagai ditusuk benda tajam.
Apakah ia harus meninggalkan Joon Sung saat lelaki itu membutuhkannya? Kae Bi mengerti, setelah kejadian malam itu. Joon Sung menyembunyikan segalanya, ia tak siap dengan kenyataan yang membuatnya dipertemukan dengan keluarganya lagi. Tapi, jika ia tidak meninggalkan lelaki itu, apa yang akan terjadi pada Joon Sung selanjutnya? Apa yang akan pria itu lakukan terhadap suaminya?
Dan, mengapa pria itu begitu ingin memisahkannya dari Joon Sung? Jika semua ini bersangkut-paut pada Hyun Woo dan kejadian percobaan pembunuhan pada dirinya, akankah pria itu mau mengerti bahwa ia amat mencintai Joon Sung dan tak sanggup melepasnya?
Tubuh rentannya mengambil tempat di bibir ranjang. Kae Bi menutup kopernya dan dengan gerakan cepat, menghapus sisa air mata yang masih membekas di pipi dengan punggung tangannya. Sekuat tenaga mencoba menghentikan tangis dan menahan isakannya.
Semua ia lakukan untuk Joon Sung, semua ia lakukan karena ia mencintai lelaki itu. Tekad Kae Bi dalam hatinya.
***
Pintu bergerak terbuka dan membuat Kae Bi menahan nafasnya. Itu pasti Joon Sung. Ia melirik kearah jam dinding dan waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Benar saja, sosok lelaki itu telah menjulang, memunggunginya saat menutup pintu. Tatapan mereka akhirnya bertemu saat Joon Sung membalikan badan dan berhadapan dengannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Joon Sung bertanya dengan suara yang sedikit ragu. Mata tajamnya berjaga, mengawasi Kae Bi yang masih tetap membeku, berdiri di hadapannya dengan tatapan muram.
Wajah wanita itu begitu pucat dengan mata memerah. Joon Sung menggeram saat ia yakin bahwa Kae Bi telah menangis dan menyembunyikan sesuatu darinya. Ia mencoba mendekat, menghampiri Kae Bi dengan langkah agak tergesa namun terhenti begitu saja.
Kilatan matanya mulai tercipta, memencak marah kala melihat koper hitam besar terselip dibalik punggung Kae Bi. Detak jantungnya berdebar kuat, raut wajahnya diliputi ketakutan. Ia pernah mengalami kejadian ini, saat Kae Bi mencoba meninggalkannya dan kini apakah wanita itu akan melakukannya kembali?
“Apa yang akan kau lakukan dengan koper itu, Kae Bi?” Tanyanya berhati-hati. Penampilannya terlihat agak kusut dengan rambut acak-acakkan dan kemeja yang sudah sedikit keluar dari setelan celananya.
Kae Bi menghela nafas dan menyembunyikan tangis saat mencoba menjawab pertanyaan Joon Sung. “Pergi dari tempat ini, tentu saja”
“Pergi?” Bisikan Joon Sung membuat dadanya terkoyak, seperti tubuhnya tenggalam dalam lubang tak mendasar. ”Pergi katamu, Kae Bi?” Kali ini ia menatap Kae Bi yang masih berdiri di hadapannya.
“Ya, aku akan pergi” Suara yang ditangkap oleh pendengarannya menyiratkan jika wanita ini merasa lelah. Joon Sung bergerak gusar, mendekat lagi kearah Kae Bi.
“Tapi, mengapa?” Kata Joon Sung seolah-olah tidak bisa bernafas.
”Karena aku tidak bahagia, karena aku tertekan berada disini, bersamamu” Ia dapat melihat air mata Kae Bi mengalir. Wanita itu menangis
“Begitukah?” Emosi Joon Sung meluap dan raut wajahnya mengeras. Siapa yang berani-beraninya meracuni Kae Bi dengan pemikiran seperti ini!? ”Lalu segalanya, semua yang kau katakan, yang kita perjuangkan”
“Selama ini aku mencobanya, Joon Sung dan, aku tidak bisa” Kata-kata Kae Bi menekan, menembus tubuhnya dan menyebabkan rasa sakit. ”Aku menyadari, tidak ada yang kubutuhkan disini”
“Aku tidak bisa, Joon Sung” Lanjutnya lagi. Joon Sung menutup matanya dengan rasa kemarahan. Dia benar-benar hancur. Kesakitan merasuk dahsyat pada tubuhnya dan menyebabkan ia kaku.
“Tidak, kumohon jangan” Ia sempat bergumam kecil dan membuat Kae Bi semakin ingin pergi dari tempat itu. Meluapkan tangisnya, menyesali perkataan bodohnya pada Joon Sung.
“Maafkan aku” Kae Bi meraih kopernya, kemudian menyeretnya dan mulai melangkah, melewati tubuh Joon Sung begitu saja. Jemarinya menyentuh knop pintu.
“Aku mencintaimu, Kae Bi” Gerakannya terhenti, Kae Bi meraih rasa perihnya bersama isak tangis. Ia terdiam mencoba mendengarkan suara gelap Joon Sung. ”Aku bahagia bersamamu”
“Selamat tinggal, Joon Sung” Bisik Kae Bi yang langsung pergi, menembus pintu kokoh itu. Tangisnya pecah dan ia terus berjalan, menyeka buliran air mata yang semakin lama semakin mengalir deras di pipinya. Kae Bi masih menyeret kopernya, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya saat memasuki lift. Sampai di Lobby ia menghentikan sebuah taksi lalu memasukinya.
Kae Bi mencoba menahan tangisnya yang kembali muncul. Wanita itu menghela nafas berat dan memejamkan kedua matanya. Setelah kejadian ini ia tahu, pada akhirnya takkan ada kebahagiaan untuknya dan Joon Sung.
***
Kendaraan beroda empat itu menggebu-gebu memasuki gerbang Lee Mansion. Beberapa pengawal yang berjaga disana langsung bergegas lari berniat menahannya. Mereka lalu menuju mobil Joon Sung yang kini terparkir melintang di halaman depan. Begitu lelaki itu keluar dari mobil, para pengawal tersebut hanya membeku dan berusaha menundukkan kepala. Mr.Lee dan Hyun Woo telah menginstruksikan mereka untuk menjaga sikap pada Joon Sung karena mulai saat ini lelaki itu juga bagian dari keluarga Lee, yang tak lain adalah majikan mereka.
Joon Sung melirik sekilas lalu tak mengindahkan sapaan hormat itu. Raut wajahnya mengeras, matanya terbakar nyala api dan keadaanya benar-benar buruk. Ia berjalan memasuki rumah bergaya elegan tersebut, melangkah tegap dan mengarah pada ruang kerja Mr. Lee.
Kae Bi meninggalkannya untuk alasan yang tak jelas, dan Joon Sung tahu jika perbuatan Kae Bi telah dikendalikan oleh sang Ayah. Entah ancaman apa yang telah dikeluarkan pria itu terhadap Kae Bi, tapi yang pasti ia akan menghancurkan siapapun yang akan mengusik kebahagiannya. Karena hanyalah Kae Bi yang tersisa bagi Joon Sung, karena ia membutuhkannya, karena ia mencintai Kae Bi.
Kebetulan Pak Jang bersipapas dengannya saat berada diruang tamu, pria baya itu membungkuk hormat dan mencoba tersenyum. Joon Sung menatap dingin dan tajam, ia hanya terdiam karena kondisi batinnya sedang tercekam. Tanpa menunggu perkataan pak Jang, ia kembali mengayunkan langkah kaki lalu membuka pintu dengan tak sabar.
“Apa!?” Itu suara Hyun Woo, ia dapat mengingatnya dengan jelas. Tapi mengapa nada suara lelaki itu membuatnya bertanya, ia dapat mendengar keterkejutan disana. ”Jadi, Pendonor dari operasi kornea mata Kae Bi adalah Ibu!?”
Tenaganya untuk melampiaskan segala kemarahannya tiba-tiba menghilang begitu saja. Joon Sung merasa tubuhnya sudah tidak bisa menopang bobot tubuhnya lagi. Inilah kejutan pahit yang diterimanya. Rasa keingintahuannya sudah terjawab, Kae Bi berada pada kejadian empat belas tahun itu, Kae Bi terikat dengan masa lalu kejinya. Oh tuhan!
“Benarkah itu?” Raut wajah Joon Sung seketika mengeras, ia masih bertanya tak percaya.
“Astaga, Joon Sung!” Hyun Woo segera beranjak dari tempatnya, menghampiri Joon Sung yang dengan perlahan menapak diatas duri. Ia menyentuh pundak Sang adik.
“Joon Sung” Hyun Woo mendengus lemah. Semua sudah terungkap. Ia memejamkan kedua mata, tak bisa membayangkan betapa tersiksanya Joon Sung mendengar pernyataan menyakitkan ini.
Ia menghempaskan tangan Hyun Woo pada pundaknya lalu menatap Joon Shik yang duduk tenang dan sedari tadi
menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
“Benarkah itu?” Ulang Joon Sung dengan nada menekan.
“Ya, kedua bola mata yang kini tersemat pada wajah istrimu itu adalah kedua bola mata ibumu” Jawab Joon Shik dengan suara perlahan, menjaga hati putra bungsunya dengan pandangan mengawasi.
Joon Sung pun tak lagi merasa kuat, ia lemah dan meluncur begitu saja dilantai, jatuh terduduk dengan kemelut pemikiran yang menggerogoti setiap inchi dari tubuhnya. Jika waktu itu ia bisa menyembunyikan tangisnya diruangan ini, kini jangan berharap ia bisa menahannya lagi. Linangan air bening jatuh dari kedua matanya yang sudah memerah.
Hatinya berkeluh pilu semenjak kenyataan pahit itu harus ditelannya hidup-hidup, dan yang paling membuatnya merasa bahwa hidupnya telah berakhir adalah saat ini, saat mendengar jika sepasang bola mata dari wanita yang ia cintai adalah sepasang bola mata milik sang Ibu. Nafasnya menderu tak teratur, ia mengepal tangan kuat dan tak memedulikan lagi tatapan mata Joon Shik dan Hyun Woo yang tengah memerhatikannya dengan cemas.
“Bawa dia kekamar, Hyun Woo” Joon Shik berkata tanpa melepas pandangannya pada Joon Sung.
Hyun Woo langsung mematuhi. Ia mencengkaram kedua sisi lengan Joon Sung, berusaha merajuk adiknya itu untuk beranjak dari posisinya. Dengan gerakan perlahan akhirnya Joon Sung menurut tanpa membuat perlawanan lagi. Mereka berada di kamar kosong di sebelah kamar Hyun Woo, disana lelaki itu merebahkan tubuh Joon Sung diatas ranjang.
Hyun Woo meringis perih dalam hati, ia berdiri dan mengamati Joon Sung setelah menarik selimut keatas tubuh adiknya. Kondisi Joon Sung benar-benar memprihatinkan, sangat kacau dan begitu hancur. Penampilannya berantakkan dan tatapannya berubah kosong, tak ada raut wajahnya yang bisa tertangkap oleh Hyun Woo.
“Bertahanlah” Kesedihan menyelimuti nada suaranya. Hyun Woo menatap Joon Sung Iba. “Untuk Kae Bi, untuk kalian..., bertahanlah”
Bahkan perkataannya tak membuahkan reaksi apapun bagi Joon Sung. Lelaki itu masih sama, diam membisu dengan pancaran tatapan mata yang hampa dan kosong. Hyun Woo menghela nafas dalam gelisah lalu memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkan Joon Sung menggapai ketenangannya sendiri.
“Dia meninggalkanku, Hyung” Suara lirih dan lemah Joon Sung membuat Hyun Woo bergidik kaku, ia menoleh guna menatap Joon Sung. ”Kae Bi meninggalkanku”
Tubuh Ideliasnya merengkuh ranjang luas itu dalam puncak kesedihan. Joon Sung mengenyampingkan tubuhnya dalam luka teramat. Mendesis perih dan mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan akan raut wajah cantik Kae Bi mengusiknya lagi, melumpuhkan hatinya dan membuatnya seperti akan dilenyapkan. Jiwanya terapit lahar panas saat hendak bernafas. Seharusnya ia tahu, inilah akhir dari segalanya. Ia tidak pernah ditakdirkan untuk bahagia. Takkan ada kebahagiaan abadi yang mampu ia raih, sekalipun bersama Kae Bi.
Memikirkan segalanya, membuat air mendesak keluar lagi dari kedua matanya. Joon Sung menangis dalam diam.
***
END OF CHAPTER
![[cry]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/012.gif)
apakah akan merasa bersalah ma joon sung [what]ataukah sebaliknya membenci joonsung
![[on]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/on.png)
![[heh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/heh.gif)
![[bored]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/48.gif)
waaaaa sist windaaa ayahx kaebii jgn d bunuhhh itu si hyun woo am bpkx joon sunggg tega bangett kan kasian kaebiii. . . .gmn ya reaksix kaebi klo tau jonnsung it bersaudara sm hyun wooo. . . Hhhhh jgn" kaebi stres trus brniat bunuh diri lagi hukss hukss mkshh updateanx. . . . .bu author yank baik xixixixi ![[chin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/chin.gif)
![[rofl]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/rofl.gif)
![[dry]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/dry.gif)