Modify Profile

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - shiz cha

Pages: [1]
1
Voldy, penasaran neh sm si iblis mesum.

Lanjut yaaaa . . Jgn smpe kehlngan mood gtu donk.

Hwaiting ! ! !

(Ditunngu m-versnya yg hoootttttt. Hehehe . . PM jg bleh.)

Azza . . Azza . . Hwaiting ! ! !

2
Short Fanfic / Re: short story-edisi VALENTINE- neneii&echyn
« on: March 14, 2011, 03:33:12 pm »
Song of the day..
-my valentine-
Martina mcbride..

If there were no words, no way to speak, I would still hear you
If there were no tears, no way to feel inside, I'd still feel you

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart until the end of time
You're all I need, my love, my valentine

ALL of my life I have been waiting for all you give to me
You've opened my eyes and shown me how to love unselfishly

I've dreamed of this a thousand times before
In my dreams I couldn't love you more
I will give you my heart until the end of time
You're all I need, my love, my valentine

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my haert until the end of time
'Cause all I need is you, my valentine
You're all I need, my love, my valentine


Cast: MinSun..



***


12 februari
Pukul 21.00

 
"Mwo? Wee antwe?" Suara sedih mendayu terdengar dari sebrang

"Miane.. hari itu aku harus pergi ke taiwan untuk membahas mengenai dramaku bersama.."

"Stop baby! Jangan kau sebut nama pria itu karna setiap mendengarnya darah ditubuhku langsung memanas"hentak minho sebal

"Yaaa.. Bisakah jangan bersikap begitu? Kau akan lebih sering mendengar namanya jika dramaku sudah proses syuting.."

"Haaaah..." Minho menghela nafas berat," berarti dihari spesial lusa kau tak bersamaku untuk melewatinya?" Minho berkata lirih

"Mianhe.. " Hye sun hanya bisa berucap maaf pada kekasih yang sudah menemaninya 2 tahun terakhir ini.

"Lalu aku bagaimana?" Tanya minho seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya. Sangat membuat hati sedih bila mendengar.

"Kau bisa merayakan hari valentine bersama omma-appa, noona-mu, atau bahkan managermu.." Hibur hye sun

"Yaa!! Bagaimana bisa aku merayakan bersama mereka yang semuanya sudah punya pasangan!" Keluh minho gusar," baby..kumohon..yaa??" Minho semakin merajuk

"Mianhe minho-a.. Aku tidak bisa membatalkannya.."

"Ukh! Kau memang tidak memperdulikan aku!" Sifat egois minho mulai muncul dipermukaan masalah

"Mwo? Memangnya mau aku apa pergi ke taiwan di hari valentine dan meninggalkanmu tanpa merayakan moment itu!!" Hye sun tak terima dengan perkataan minho yang mengatakan bahwa ia tidak perduli padanya.

"Sudahlah memang kau yang merencanakan ini semua! Yasudah sana rayakan saja dengan wu chun-mu itu!" Tambah minho yang sudah termakan dan terhanyut oleh emosi-nya

"Hah arasseo!!! aku akan merayakan dengannya! PUAS?!!" Hye sun menjerit di kata -puas- lalu setelah itu ponsel segera ia matikan.

"YAAA BABY!!" Itu kata terakhir yang hye sun dengar dari minho

"Ukh! Dasar pencemburu! Padahal aku hanya membohonginya untuk memberi kejutan di hari valentine tapi  ujung ujungnya malah bertengkar! Memang paling tidak bisa bicara dengannya kalau sudah menyangkut taiwan dan wu chun!" Dengus hye sun sebal sembari melanjutkan aktivitas pada kanvasnya..





***---***



13 februari
Pukul 08.00



Hye sun menggeliat saat matahari mulai menusuk matanya..perlahan mata yang tertutup itu terbuka menyambut datangnya pagi..
Posisinya sekarang sedang berada di kursi goyang.. Ia tertidur disana disamping lukisannya yang mana sudah dua hari terakhir ini dibuatnya di sela sela kesibukan yang menggerogoti waktunya..

"Uuuukh.. sepertinya aku baru saja terpejam tapi kenapa sudah pagi saja?" Gumamnya pada diri sendiri

Hye sun tersenyum melihat tepat dihadapannya satu buah lukisan yang khusus ia buat untuk kekasihnya EHEM -lee minho- sebagai kado di hari valentine besok.. Ia melukis wajah minho yang tengah tertawa sumringah menatap langit cerah berteman dengan si choco anjing peliharaan yang ia beri diwaktu hari ulang tahun minho.
Hye sun sengaja meng-kado-i minho sebuah lukisan, sebab teringat tempo lalu waktu wu chun berulang tahun hye sun memberi hadiah sebuah lukisan karnyanya sendiri. Tentu saja sang pacar cemburu bukan main.

Hanya tinggal beberapa polesan lagi lukisan itu akan menjadi sempurna!

"Aigoo..minho-ku tampan sekali" puji hye sun pada lukisannya sendiri.. Ia tersenyum lebar memperlihatkan dua lesung pipitnya

"Baiklah mandi lalu sarapan dan setelah itu melukis kembali! HWAITING!!" Ucapnya mantap!!




***____***



Sementara itu...


"Minhossi bangun.."Panggil manager minho tn. Han

"Wee? Bukankah hari ini aku kerja nanti sore?" Tanya minho setengah tidak sadar

"Memang. Tapi pagi ini bukankah jadwalmu untuk fitnes?" Tn. Han mengingatkan

"Auuush lupakan fitnes itu! Aku tidak perduli!" Minho malah semakin merapatkan selimut ke tubuhnya

"Yaa! Bukankah kau sendiri yang minta dibangunkan kemarin siang karna ingin membentuk badanmu menjadi sixpack seperti.." Belum sempat menyebutkan nama si..** Minho langsung bangun dan duduk menampakkan wajah ketidaksukaannya

"Tn. Han!! Jangan menyebut namanya padaku! Gara gara nama itu aku jadi bertengkar dengan hye sun!" Luapnya penuh kekesalan

Tn. Han menggeleng geleng kepala," hmmh..kau ini masih saja belum bisa beradaptasi dengan pekerjaan hye sun di taiwan.."

"Aku tidak masalah asal tak mengganggu waktu berdua kami!"Bela minho

"Maksudmu?"

"Hye sun di hari valentine harus pergi ke taiwan membahas dramanya meninggalkan aku.. Sudah pasti ia akan merayakan bersama dia (wu chun) bukan bersamaku.." Minho memeluk gulingnya gemas

"Ah kau ini seperti anak kecil saja! Memangnya hari kasih sayang itu hanya terjadi di tanggal 14 februari? Tidak! Kasih sayang itu selalu ada disetiap hari kita minhossi.." Jelas tn. Han panjang lebar

"Memang.. Tapi setiap orang bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya yang lebih pada orang yang disayanginya kan? Aku paham itu, namun aku juga ingin seperti pasangan yang lain bisa merayakannya berdua saja untuk lebih formal menunjukkan rasa kasih sayang kami.." Minho memperjelas maksudnya pada tn. Han yang disambut dengan tepukan mengerti dipundak minho

"Arasseo.. Tapi mau bagaimana lagi jika.."Belum lagi sempat berucap tiba tiba ponsel manager han berdering..

Tulululululuuut..
Tn. Han segera mengangkat telpon itu

"Yobseyeo?"

"Tn. Han jika kau sedang bersama minho segera menjauh dan jangan menyebut namaku" perintah hye sun

"Ah arasseo.." Tn. Han pun segera berlalu dari kamar minho diiringi dengan tatapan aneh dari majikannya

"Wee hye sunssi?"

" tn. Han bisa aku minta bantuanmu?" Pinta hye sun

"Mwo? Tentu saja! Apa sih yang tidak untuk pacar majikanku!" Canda tn. Han

Hye sun tertawa disebrang," hhihii.. Kau memang paling bisa bergombal! Begini....."

Bla..bla..blaaa..

5 menit kemudian..

"Arasseo hye sunssi.. Kau tinggal terima beres saja!" Ucap tn. Han mantap

"Gumawo... Aku tidak salah mengandalkanmu tn.han..."

Setelah mematikan telpon tn. Han segera kembali ke kamar majikannya..

Dilihat minho tengah memegangi ponsel dengan wajah memerah menahan kesal dan rasa penasaran.

"Wee? Apho?"

Minho menggeleng," anyi.."

"Lalu?"

"Hye sun! Aku mencoba menelponnya berkali kali tapi sibuk! Aaaargh entah siapa yang menelponnya! Hanya SMS -minho aku pergi! Bye...-" Minho menggaruk kepala frustasi

"Hmm.. Mungkin soal pekerjaan.." Tn. Han berusaha untuk tidak keceplosan dalam hal ini

"Ih! Aku kan ingin menanyakan berapa lama ia disana."

"Nah mungkin sedang di dalam pesawat!" Tambah tn. Han

"Tidak mungkin. Hye sun baru sms -aku pergi- berarti masih dijalan menuju bandara" minho mulai merasa tidak enak pada perasaannya

"Atau mungkin hye sunssi sengaja tidak memberitahumu!"

"Alasannya?"

"Bukankah kalian sedang bertengkar? Mungkiiin..."

"YAAAA!! Sekali lagi kau berkata MUNGKIN ku potong gajimu yaa!!"

"Ampuuuuuuuuuuuuuuuuunnn!!!"



****----****



@ Manolin caffe..
Pukul 19.00


"Hye sun-a.. Apa begini bagus?" Tanya onnie yang bertugas menata ruang tamu yang disulap menjadi tempat candle light dinner..

Hye sun menyipitkan mata melihat setiap sudut," ah.. Sepertinya bunga mawar itu kurang ke arah samping.."Ucapnya sambil mengibas tangan

"Ah nee!!"

Kembali hye sun ke kesibukannya menghias choco almond cake yang ia buat sendiri khusus untuk kekasih tercintanya -lee minho-

Yaaa.. Dimalam menyambut hari valentine hye sun bersama manager dan onnie-nya sibuk menyulap manolin menjadi tempat super romantis.. Banyak bunga mawar menghiasi sudut ruangan beserta pita berwarna pink di atas langit langit tembok... Hye sun menyiapkan satu teropong bintang untuk dilihatnya hanya bersama minho di samping kaca sebelah meja makan mereka yang sudah berisikan satu vas dengan 3 mawar merah dan satu botol wine..


***____***



sementara itu malam semakin larut
13 februari
Pukul 22.00



"Aigooo lelah sekali rasanya.." Minho meregangkan tangannya ke kiri dan ke kanan guna mengembalikan otot ototnya yang menegang selesai pemotretan sedari tadi.

"Nanti juga segar kembali" celetuk tn. Han

"Mwo?"

Tn. Han pun sadar akan ucapannya yang mulai menjurus,"ah maksudku kau akan segar kembali saat kita tiba dirumah. Hahha.." Dustanya

"Hye sun..." Desah minho

"Nee?"

"Entah sedang apa dia.. Tidak bisa dihubungi sama sekali. " Minho terlihat sedih

"Kangenkah?"

"Sangat.. Makin merindukannya jika mengingat besok hari valentine.."

"Haaah.. Kachaaaa!!" Ajak tn. Han

"Kemana?"

"Ketempat yang paling indaaaaaaaahh.. Pak supir kachaaaaaaa!!!!"




***____***



"Onnie... Apa aku cantik?" Hye sun memutar putarkan badannya seperti model

"Wuaaah yeppo!!" Puji onnie dengan mata berbinar

Hye sun benar benar seperti cinderella saat ini.. Mengenakan gaun mini berwarna pink bertali V... Ditambah sangat mempesona dengan rambut panjangnya yang di hair extention dan di curly demi tampil sempurna untuk minho..wajahnya dipoles sentuhan make up warna natural..

Onnie melirik jam tangannya," hmm.. Sudah pukul setengah dua belas malam dan sudah waktunya aku pulang.." Pamitnya sambil tersenyum puas melihat hasil kerja mereka setengah hari ini mendandani manolin.

Hye sun memeluk onnie erat," gumawo onnie..."

"Gwenchana.. Semua untukmu!"

"Ehehehe..."

"Selamat bersenang senang dongsaeng!"





***____***




Ckiiiit
Van hitam milik minho sudah terparkir manis di depan manolin caffe..

"Yaa kenapa kita kesini?" Tanya minho kebingungan

"Hye sun menyuruhku mengantarmu kesini"

"Wee? Bukankah pacarku sudah di taiwan?" Kata minho dengan wajah tak mengerti

"Memang. Tapi ia ingin kau mengambil hadiah di dalam sana" tn. Han menunjuk ke arah cafee dengan jari telunjuknya

"Coungmalyeo?"Minho tidak mempercayai perkataan tn. Han

"Jika tidak benar kenapa aku harus mengantarmu kesini!"

"Hehhe.. Tapi percuma saja ada hadiah tapi sosok pacarku yang cantik tidak menghiasi pengelihatanku.."Minho kembali bersedih

"Sudah sana masuk dan ambil hadiahmu lalu kita pulang!" Suruh tn. Han tak sabaran

"Arasseo! Kau ini bawel sekali..." Minho pun memakai sweater hitamnya lalu cepat dikenakan dan segera turun dari van-nya




***___***



Minho melihat kesekeliling manolin cafee begitu sepi sekali..tentu saja sudah hampir pukul 12 malam..ia semakin merapatkan sweeter sebab udara terasa sangat menusuk tulang..

Sesampainya di pintu belakang,
Sedikit perlahan minho menekan gagang pintu dan membukanya...

Srrrrrrr!
Minho terhenyak menatap sesuatu di depannya sekitar 3 meter darinya..

Wanita cantik seperti boneka barbie yang ia rindukan setengah mati itu kini tengah berdiri manis membawa cake ditangannya sambil tersenyum sangat manis..di sekeliling hye sun terdapat bunga mawar yang membentuk sebuah hati..

"Baby...." Minho tercengang.. Matanya memancarkan sinar ketidakpercayaan..

Teng!
Jam dinding berbunyi menunjukkan pukul 12 lewat 1 menit yang bertanda hari sudah berganti...yaa dengan tanggal 14 februari..

"Happy valentine, my mine..." Ucap hye sun lembut

"A..aa..ka..kau.." Mulut minho berkomat kamit tak tentu kata. Masih ditempat yang sama dengan rasa keterkejutannya

Hye sun melihatnya pun mendengus sebal," huh kau ini bisa tidak bersikap romantis sedikit! Padahal aku sudah bersusah payah menyiapkan ini semua tapi kau malah berdiri saja di depan pintu!"

Minho akhirnya tersadar," ah mian.. Habis aku bagitu terkejut melihatmu.. Kau berbohong padaku.." Perlahan minho berjalan mendekat pada hye sun dengan mata penuh cinta dan keterpesonaan yang amat  melihat hye sun sangat cantik dengan rambut panjangnya.

Hye sun tersipu malu ditatap begitu," hei jangan tatap aku seperti itu..."

Sampai!
Minho telah sampai tepat di hadapan hye sun sekarang..

"Putriku yang cantik...."
Cuuuups..
Kecupan hangat di daratkan minho di kening hye sun..lama dan dalam..ciuman yang mengatakan bahwa hye sun adalah satu satunya yang tidak akan tergantikan..

Yang di cium hanya mampu terpejam dan tersenyum penuh arti...

"Happy valentine too, my princess.." Bisik minho lembut

"Hehhe.." Hye sun terkekeh mendengarnya.. Aah.. Penderitaannya selama empat hari ini terbayar sudah!

Minho mengambil choco almond cake dari tangan hye sun dan menaruhnya di meja samping mereka...

"Yaa..kenapa di.."

Belum selesai memprotes, tiba tiba minho menarik hye sun ke dalam pelukannya...dipeluknya tubuh mungil itu begitu erat dan dalam..

"Gumawo baby..."

Hye sun membalas mendekap pinggang minho erat," untuk apa?"

"Untuk kejutanmu... Aku sangat bahagiaaaaa..coungmal.." Minho menggoyangkan badan manja ke kiri dan kekanan bersama hye sun

"Benarkah? Bukankah kau sedang ngambek?" Goda hye sun

"Memang.. Tapi semua itu hilang setelah melihatmu berdiri manis seperti barbie..maafkan aku yang terlalu cemburu"

"Hhmm..stok maafku untukmu tak terbatas kok..hihhi.."

"Arra...karna kau bukan tipe wanita pendendam .."

"Masih ada dua hadiah untukmu.."

"Mwonte?"

Hye sun melepas pelukan minho lalu menarik tangan kanan minho untuk mengajaknya ke suatu tempat...

-di lantai bawah manolin-

Minho dibuat tercengang kembali..
Candle light dinner sudah tersedia manis dan romantis disana..

"Baby ini...."

"Semuanya untukmu!" Hye sun tersenyum lebar..

"Aaaa.. Gumawo..." Minho kembali meraup hye sun kedalam pelukannya

"Sepertinya kau terlalu senang minho..."

"Sangat! Amat sangat! Aku bahkan masih belum mempercayai ini..."Minho semakin merapatkan hye sun ditubuhnya

"Hei.. Aku tidak bisa bernafas..." Protes hye sun

"Biar! Memelukmu seperti ini hal yang paling membuatku merasa nyaman lebih dari siapapun.."

"Apa sebegitu pentingkah aku?"

"Melebihi siapapun..."

Hye sun tiba tiba melepaskan pelukan minho..ditatapnya minho lekat lekat, lalu kedua tangannya meraih wajah pemuda itu dan ditundukkannya sedikit menghadapnya..

Minho hanya diam mengikuti..

Hye sun tersenyum dan memiringkan kepalanya sedikit..
Cuuuuups..

Bibir mungil itu sekarang sudah berada tepat di atas bibir minho..

Minho tersenyum mendapati itu..
Tangan kanannya merangkul mesra pinggang hye sun menyambutnya.. Sementara tangan kirinya memegang tengkuk hye sun untuk lebih mendekat padanya..

Minho merasakan getaran menjalari tubuh hye sun, mendengarkan pekikan samar dari sela sela ciumannya.. Minho mencium tanpa ampun dengan gairah yang ia sengaja..
Mulut minho yang hangat terasa lembut di bibir hye sun, hye sun dapat merasakan ujung lidah minho di setiap sudut bibirnya.. Memaksa masuk ke dalam dan mengorek rongga mulutnya..

"Minho..."Desah hye sun tanpa bisa melepas dari minho yang semakin liar bermain main dibibirnya

"Hmm..."

"Ki...kita masih..ukh!" Belum selesai berkata, mulut hye sun sudah kembali lagi dilahap habis oleh minho

Akhirnya hye sun gemas! Di raihnya kedua pipi minho dan ditekannya kuat sehingga bibir minho maju ke depan *monyong*

"Aww baby..." Minho merintih kesakitan

"Kita masih punya banyak waktu!" Bentak hye sun

"Uh.. Aku..."

"Kendalikan nafsumu! Aku sudah bersusah payah menyiapkan ini tau..." Ucap hye sun tak terima

"Hehhe.. Mian...aku khilaf.." Kekeh minho dengan wajah memerah

Hye sun yang tak kalah memerah membalas perkataan minho dengan mata yang dibulatkan lebar lebar

"Jangan begitu! Kau terlihat lebih menggemaskan tauuuu..." Goda minho

"Ih lee minhoooo!!!"


***____***

-sesudah makan dini hari mereka-
Pukul 01.30 pagi..


Cheersss..
Ting..
Bunyi dua gelas wine yang saling beradu..

Minho dan hye sun saling menatap mesra sambil menenggak wine mereka..

"Baby..." Panggil minho tanpa melepas tatapannya

"Nee?"

"Bisakah kita berfoto?"

"Mwo?"

"Foto.. Aku ingin mengabadikan hari ini.. Hanya hari ini aku melihat rambutmu yang panjang.."

"Kau suka sekali ya jika rambutku panjang?"

Minho mengangguk mantap," nee..sangat! Tapi aku hanya ingin rambut panjangmu hanya dilihat olehku. Tidak boleh orang lain"

Hye sun terkekeh mendengar jawaban minho," mulai lagi sifat egoismu.."

"Biar saja! Itu namanya penjagaan yang ketat baby" dengus minho

"Dasar hyper protektif"

"Ini semua salahmu yang terlalu cantik!"

"Kalau begitu berterimakasihlah pada omma-ku! Hehhee.."

Minho tersenyum lembut,"ayo kita foto foto baby..."Katanya merajuk

"Keluarkan ponselmu."




***____***



"Ih lucuuu.. Sekali lagi baby!" Pinta minho

"Uh daritadi sekali lagi terus tapi tidak selesai juga..."

Hye sun pun kembali bergaya di depan minho yang menjadi fotografernya...

"Sekarang kita berdua!"Minho mendekat riang pada hye sun..

Naaa
Dhuuul
Saaaaaan!!
Kliiik!
Terabadikan sudah foto minho yang tengah mencium pipi hye sun manja..yang dicium tampak mengekspresikan wajah malunya..

"Hmm.. Ini akan kuperbesar dan kupajang dikamar!" Seru minho

"Pabo! Mau mencetak dimana!" Hye sun menyadarkan ketidakmungkinan minho

"Ih sudah kuputuskan aku akan membuat ruang gelap di apartemen. Jadi aku bisa kapan saja mencuci cetak fotomu sesuka hati!" Ucap minho bangga membusungkan dadanya

"Kenapa tidak dilakukan dari duluuu?"Protes hye sun

"Ehehe aku kira sulit tapi kutanya temanku ternyata mudah sayang..."

"Hmm.. Minho-a!"

"wee?"Minho menjawab tanpa memandang hye sun karna ia sibuk dengan ponselnya

"Aaaaargh kau ini! Susah payah aku mencoba bersikap manis tapi kau malah cuek!" Dengus hye sun sebal

Minho langsung segera menghentikan aktifitasnya, menarik hye sun cepat lebih dekat padanya," hmm... Lalu kau mau apa sayang..." Ucap minho mesra sembari merapihkan poni hye sun yang sedikit berantakan

"Berdansalah denganku!" Hye sun berkata dengan tampang polosnya

"Hahaha! Yaa baby! Harusnya itu ajakanku tauuu..." Minho mencubit pipi hye sun gemas

Hye sun memonyongkan bibirnya," habis kau tidak ada inisiatifnya!"

Cuuups
Minho mengecup singkat bibir mungil itu..

"Dengan senang hati sayang...."




***___***


Terdengar lantunan denting piano lagu yang sangat begitu familiar ditelinga minho.. Bagaimana tidak itu adalah lagunya sendiri..-my everything- hanya saja musik yang terdengar hanya instrumental piano yang khusus dibuat hye sun di hari spesial ini..

"Baby...." Desah minho penuh haru

Hye sun tersenyum dan menggelayut manja di leher minho," kau suka?"

"Sangat.. Ini musik yang sangat indah..kau memang berbakat sayang.." Puji minho..kedua tangannya melingkar di pinggang ramping hye sun..,"kapan kau buat ini?"

"Dua hari yang lalu..."

Tubuh mereka pun mulai bergerak seiring alunan denting piano -my everything- kaki hye sun menapak di atas telapak kaki minho..

"Kau tau baby?"

"Mwonte?"

"Aku semakin mencintaimu...coungmal..." Minho menatap hye sun dalam dalam

"Aku tau...." Balas hye sun dengan senyumannya..ia semakin bergelayut manja di leher minho dan merapatkan diri sehingga tidak ada jarak lagi diantara mereka..

"Keu nu gu deo.. Neo mankeum nal uttkae ..nareul ulkkae han saram obsseosseo ..Na dabjin anhjiman" minho menyanyi seirama denting piano yang mengalun..suara serak dan berat itu membuat hye sun merinding setiap kali mendengar

"Eo jik neo ha na man bogo deutkeo shippeun geol ...
Nae anae neoreul salkkae hageo shippeun geol ...." Hye sun melanjutkan lirik setelah minho tanpa melepas pandang pada pemuda itu..

"Nal barabwa..Naui peum euro wa.. you're my every.. My everything.. You're my everything..Love for you..." Hye sun dan minho bersamaan melantunkan -my everything- tanpa mampu melepas tatapan mereka yang sudah dikuasi oleh suasana romantis keduanya..
Tubuh mereka bergerak seirama denting piano yang mengalun.. Tak ada kata yang mampu mewakilkan perasaan keduanya saat ini..

"I love you you're my everything...." Minho mengecup kening hye sun...dan dari situ hye sun merasakan bulir air mata yang menetes...

Hye sun refleks menatap minho," sayang..kau menangis?" Disentuhnya lembut pipi minho dan menghapus sisa air mata disitu..

"Ini tangis bahagia...untukmu sayang.." Cups..dikecupnya dalam buku tangan hye sun..

Hye sun begitu terharu..ia begitu bahagia mempunyai kekasih yang begitu sangat mencintainya.. Menaruh dirinya diatas segala-galanya..," aku cinta kamu minho!"

"Katakan sekali lagi..." Pinta minho..mata itu menatap sayu penuh sayang. Membuat siapa saja betah berlama lama menatap.

Hye sun mengambil nafas dalam lalu menghembukannya cepat.."Aku cinta kamu! Sangat amat! Hanya lee minho tidak mau dan tidak akan ada yang lain. Aku cinta...ukh"

Kebahagiaan minho terlalu meluap hingga tak mampu mengendalikan dirinya sendiri..sekarang sepenuh bibirnya sudah merajai mulut hye sun.. Mencoba merasai kata cinta yang baru saja diucap.. Ciuman yang menginginkan lebih dan begitu bergejolak..

Minho terus menyesap bibir mungil itu..menelan kenikmatannya, membelai mesra tubuh hye sun yang hangat. Darah bergemuruh di setiap aliran tubuhnya, kebutuhan untuk pelepasan mengentak seiring debaran jantung yang semakin menggila.

"Baby...aku ingin.." Desah minho disela sela ciumnya..

Hye sun tidak menjawab dengan kata.. Ia menjawab dengan bahasa tubuhnya.. Kedua tangannya lebih dilingkarkan erat pada leher minho.. Jawaban yang mengatakan kalau ia mengharapkan itu..

Minho tersenyum mengerti..ia semakin menenggelamkan bibirnya..melumat habis bibir hye sun tanpa ampun. Decakan halus terdengar menambah hasrat manis dan liar yang semakin merajai..

Tangan kanan minho merayap ke belakang leher hye sun.. Menarik simpul tali yang melingkar dileher..hanya perlu beberapa detik agar simpul itu terbuka..

Sruuuuk
Mini dress pink berbahan sutra itu langsung terjatuh ke lantai.. Memperlihatkan betapa indahnya lekukan tubuh hye sun yang bagai biola..yang tersisa hanya bra hitam tanpa tali dan celana dalam yang berwarna senada..

Minho mendesah tertahan.. Ia selalu terhipnotis tiap kali melihat tubuh hye sun begini.. Apalagi ditambah dengan rambut panjangnya yang terurai.. Ini sudah lebih dari cukup untuk membuat birahinya memuncak.

"Sayang..." Ukh, minho kembali mengambil hye sun erat erat. Diciuminya bibir mungil itu dengan ritme cepat. Dilumat habis tanpa ada celah.. Mengulumnya seperti permen lolipop..

Hye sun tak mau kalah, dilepasnya sweeter hitam minho dan juga kaos putih yang ia pakai sambil terus membalas kecupan minho yang makin menganas..

Kedua tangan minho berada di belakang punggung hye sun. Mencoba melepas pengait bra disana..
Sruuuk
Bra hitam itu copot dan jatuh kelantai yang menandakan bahwa keduanya sama sama polos bagian atas.

Dari bibir minho terus beralih menciumi leher hye sun.. Menjilatnya dan menyedot sedikit hingga menimbulkan bekas tanda berwana pink.. Terus dan terus merayap turun hingga membuat hye sun memekik. Tangan hye sun hanya mampu menjambak halus rambut minho. Tubuh hye sun bergetar tiap bibir minho bergerak disekujur tubuhnya

"Minho.." Protes hye sun dengan suara serak. Minho langsung berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan memandang dalam mata hye sun

"Wee sayang? Sidho?"

Hye sun menggeleng," anyi..aku ingin..lebih.." Jantung hye sun berdebar, kata katanya terhenti ditenggorokan dan matanya berubah gelap

Permintaan yang dibisikkan itu menjalari tubuh minho. Minho kembali menangkup wajah hye sun dan melumat bibirnya. Memiringkan mulutnya di atas mulut hye sun. Menggigit bibir bawah itu dan menghisapnya dalam..

Tangan kanan minho mulai bermain kembali. Ia menekan sedikit puncak dada hye sun.

"Minho-a.." Hye sun memekik

Minho lalu menunduk, mencium dada hye sun. Menjilat puncaknya dan mengulum tak tersisa.. Sebelah tangannya lagi membelai dada sebelahnya.

Hye sun meronta liar dalam pelukan minho. Rambutnya tergerai ke belakang bagai sutra.
Minho menatap wajah hye sun ketika ia menangkup dada hye sun dan membelai puncaknya dengan ibu jari. Hye sun mendesah. Bulu matanya yang lentik menyapu pipinya yang merona

Hye sun cantik. Sangat cantik.
Dan wanita itu miliknya.

***PM-an sama echyn pas tanggal 14-nya yaaaahh***





***____***



Pagi harinya...


Terlihat di sofa pasangan kekasih tengah tertidur pulas disana.. Tubuh mereka hanya ditutupi oleh selembar kain putih diatas tubuh polos keduanya...

"Ukh.." Hye sun menggeliat mendapati sinar matahari menusuk kelopak matanya.
Perlahan mata bulat itu terbuka..

Ia tersenyum melihat minho disisinya.. Memeluknya erat dan masih terpejam..

Hye sun masih dengan jelas merasakan sisa malam spesial mereka.  bagaimana hangat dekapan minho ditubuhnya, wangi nafasnya yang memburu, dan juga lembab bibirnya yang menelusuri habis tubuhnya..

Disentuhnya pipi minho lembut dan diberinya kecupan singkat disitu...

Hye sun terbelak!
Pipi yang barusan ia kecup berubah posisi menghadapnya. Terlambat menghindar sebab kedua tangan kekar itu sudah terlanjur menekan kepalanya sehingga minho bisa dengan leluasa menciumnya lagi..
melahap habis dan melumat dalam hingga tak bersisa.

Disini hye sun bersusah payah meronta ronta.. Namun tidak berdaya sebab tenaganya jauh lebih besar minho..

"Hhmmphh.. Yaaa..." Rengek hye sun mencoba mencari celah.

Akhirnya tiga menit berlalu minho menghentikan kegemarannya itu. Tersenyum nakal pada hye sun.

"Puas??" Dengus hye sun sebal

Minho menggeleng," belum. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah puas karna ini (menunjuk ke bibir hye sun) sudah mengalihkan duniaku..."

"Yaaaa!! Pabooo!!" Dipukulnya dada minho. Wajah hye sun memerah..selalu memerah jika minho sudah mengeluarkan jurus gombalnya.

"Iiiiihh malu tuuuuhh..." Minho semakin asyik dengan kejahilannya

"Aaaaarrghh lee minhoooo kau menyebalkan!!" Tanpa sadar hye sun mendorong tubuh minho kuat kuat sehingga minho jatuh tersungkur ke lantai

BRUUUK!

"Aaaakh.." Minho merintih kesakitan

"KYAAAA KABUUR ADA ULAR SUCI BANGUUUN.." Jerit hye sun.. Ia pun berlari dengan terlilit kain putih ditubuhnya menjauhi minho. Ia terus tertawa terbahak bahak melihat minho telanjang.

"AAARGH AWAS KAU BABYY!!!!!"





***----***


Satu jam kemudian..

Akhirnya minho kembali normal kembali setelah melakukan aksi -ngambeknya- pada hye sun yang telah menggodanya habis habisan. Hye sun harus bersusah payah dulu meminta satu kata -maaf- dari minho. Ia terpaksa menari striptiss dengan minho yang bertugas sebagai tiangnya. Dan kalian pasti tau pria tidak akan bisa menahan imannya jika sudah di goyangi oleh wanita. Maka terjadilah hubungan intim kembali.. Hanya 10 menit dengan posisi berdiri.. Satu ronde cukup untuk mengawali pagi mereka di hari VALENTINE ini-

"Baby..." Minho memeluk hye sun dari belakang.

"Hmm? Sebentar aku potong cake ini dulu.." Tangan kanan hye sun sibuk memotong choco almond cake yang belum tersentuh semalam.

"Pasti sangat lezaat.." Puji minho

"Tentu! Kau tak perlu meragukan masakanku.." Jawab hye sun bangga

"Arasseo.. Kau sudah sangat pantas ku jadikan istri.." Bisik mesra minho

"Aaaa..cukup! Aku sudah kenyang mendengar gombalanmu!"

"Ih tidak gombal tau.. Semua yang ku katakan itu benar. Kau saja yang beranggapan sendiri kalau Semua ucapanku itu gombal.." Bela minho sungguh sungguh

"Sudahlah lebih baik kau cicipi cake ini.." Hye sun mengambil satu potong cake untuk minho

"Suapiii.." Rengek minho manja

"Buka mulutmu."

"Aaaaa"

Hup
Hye sun memasukkan cake yang ia pegang ke mulut minho.

-nyam nyam..nyam..-

"Bagaimana?"

Minho mengangguk mantap," sangat lezaat" ia memberikan dua ibu jarinya untuk hye sun

Hye sun tersenyum sumringah mendengarnya," syukurlaah.."

"Kau juga ayo makan..." Minho gantian menyuapi hye sun

Jadilah mereka berdua bersuap suapan kue valentine.. Mereka melahap habis satu choco almond cake itu tak bersisa berdua. Mereka memang pasangan gembul- :p




***____***


"Minho kemarilah!!" Panggil hye sun

"Wee baby?" Minho yang tengah memakai sepatunya segera menghampiri hye sun.

"Sini..paliiiii.." Perintah hye sun lebih cepat

"Auuuushh ada apa si sayaaaang..." Tanya minho ketika sudah sampai di depan hye sun. Disamping hye sun ada sebuah kotak besar dengan sampul berwarna cokelat. "Apa itu?" Minho menunjuk benda itu

Hye sun tersenyum," oh ini? Hadiah untukmu! Bukankah masih ada satu hadiah yang ingin kuberi? Ya inilah hadiah itu.." Hye sun menarik tangan minho," bukalah..."

"Baiklah kita lihat apakah ini!!" Ucap minho penuh semangat merobeki sampul yang membungkus kota besar itu.

Minho terhenyak..
Tak mampu berkata kata melihat apa yanh kini ada tepat di depan matanya..isi dari sampul cokelat tadi..

"Bagaimana? Sangat tampan bukan?"

"Baby..demi tuhan ini sangat indah..dan terlihat nyata.." Mata minho tak lepas memandangi dirinya sendiri bersama dengan si choco-

"Yaa.. Ini untukmu.." Hye sun membelai lembut punggung minho

"Gumawo baby...coungmaaal..aaaaa kemarilaaah.." Minho manarik hye sun ke dalam dadanya yang bidang.

"Hehhe..kau suka?"

"Sangat. Akan kupajang dikamar! Hei..bagaimana bisa kau membuatnya?"

"Tentu saja kubuat dengan tanganku"

"Yaaa bukan itu maksudku! Maksudku bagaimana bisa kau melukisku padahal kan minggu ini jadwal kerjamu padat.."

"Aku membuatnya di sela sela waktu senggang.."

"Kau pasti sangat lelah.." Minho membelai sayang rambut hye sun

Hye sun menggeleng," anyi..tidak merasa lelah karna yang kulukis itu kamu.."

"Kau begitu mencintaiku ya?"

"Sama sepertimu mencintaiku.."

"Tidak! Cintaku harus berada di atasmu!" Minho tak mau mengalah

"Aigooo.. Terserah kau saja! Memang tidak mau mengalah.."

"Hehhe... Baby..." Panggil minho

"Hmm?"

"Pulang yuk.."

Hye sun mendongak menatap minho," kemana?"

"Tentu saja apartemenku! Aku sudah tidak sabar memajang lukisan ini dikamarku..dan juga biar aku memasak untukmu.." Ucapnya sambil mengelus lembut pipi hye sun

Hye sun tersenyum dan mengiyakan dengan senang hati ajakan minho," nee!"

Minho terkekeh," hehhe.. Apa yang ingin kau makan sayang?"

"Hmmmm.. Beef teriyaki, capcay, sop misso, ayam goreng, telur gulung, lalu..."

"Arasseo. Arasseo. Pasti akan kubuatkan untuk pacarku yang gembul ini.." Minho mencubit gemas pipi hye sun.

"Hehhe.. Gumawo my mine." Cuuuups. Hye sun mencium mesra pipi minho.

Setelah itu mereka pun bersiap melanjutkan hari special ini di apartemen rahasia mereka berdua-



***TAMAT***

Beginilah ide gue sama echyn yang terlalu ngarep tujuh turunan! Hehhe.. Mudah"an short story edisi valentine ini bisa jadi obat vitaminsun sekeluarga- *sekian dan trimakasi*

PM in mvers nya donk.
Hehehe . .
Mian . . Bru gbung & baca soalnya.
Gomawo

3
Regular Fanfic / Re: DESTINY, update 11 oktober
« on: March 14, 2011, 09:50:22 am »
Hye Sun POV : on

Pernikahan. PER-NI-KA-HAN. Demi apapun yang ada di atas sana, aku sangat berharap waktu berhenti berputar saat ini juga. Ah, tidak, tidak. Waktu jangan berhenti, hanya.....

MUSNAHKAN SAJA LEE MIN HO SIALAN PEMIMPIN MAKHLUK HALUS ITU DARI MUKA BUMIIIII...........!!!

Hingga detik ini aku masih terus memikirkan alasan paling logis sehingga kedua orangtua kami dengan begitu santainya melaksanakan perjodohan sialan ini. What the ****! Umurku bahkan belum 18 tahun tapi dalam hitungan menit aku AKAN menyandang gelar NYONYA LEE MUDA!. Great. Apa yang dipikirkan kedua sahabatku itu nanti jika mengetahui hal ini. Terutama Ji Eun, oh..aku tidak bisa membayangkan ekspresi Ji Eun nanti. Tuhan, atau apapun yang ada di atas sana, tolonglah aku. Aku tahu aku sering berbohong pada mom dan dad, aku tahu aku sering menyembunyikan kunci mobil Jae Ha jika dia sudah bertingkah kelewatan, aku tahu aku sering membuang tomat dimakananku jika ada mom (itu bukan salahku, sudah tahu aku benci tomat!), aku tahu aku sangat keterlaluan telah memasukkan kodok ke dalam tas Yu Mi, aku tahu...ah sudahlah! Tidak ada gunanya membuat pengakuan dosa sekarang ini. Apapun yang terjadi, mau ada tsunami, banjir, Daniel Radcliffe datang sekalipun, toh orangtuaku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Lagian untuk apa Daniel Radcliffe datang kemari.

KAMFRED!

Hye Sun POV : off

Hye Sun memperhatikan gaun pengantinnya sekali lagi. Gaun berwarna putih berbahan jenis satin itu terpasang dengan pas dan ujung-ujungnya jatuh menyentuh tumit kakinya. Dia tidak terlalu memperhatikan segala tetek bengek yang menghiasi gaunnya. Yang ia ketahui, gaun inilah yang menjadi saksi bisu atas pernikahan yang tidak pernah ia harapkan. Miss Park membantunya mengangkat gaun dan turun ke taman belakang Lee Mansion, tempat sakral yang akan menjadi saksi ikatan pernikahannya dengan Lee Min Ho. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, Hye Sun mengikuti langkah beberapa pelayan yang juga ikut membantunya. Ingin rasanya ia lari dan segera kembali ke Seoul, tapi dengan nyali yang sudah ciut duluan ia membatalkan niatnya tersebut. Bagaimana nyalinya tidak ciut, diseluruh Lee Mansion ini dipasangi kamera CCTV beserta ratusan pengawal dengan senjata lengkap. Menurut kabar burung yang beredar (gak tahu burungnya siapa), seluruh persiapan keamanan tingkat tinggi ini di perintahkan langsung oleh Min Ho. Sejak semalam Hye Sun bertanya-tanya, untuk apa anak bocah tengil itu sebegitu niatnya mempersiapkan pernikahan mereka? Beberapa kemungkinan masuk ke dalam pikirannya, termasuk kemungkinan bahwa Min Ho melakukannya karena mencintai Hye Sun. Belum lima detik Hye Sun memikirkan kemungkinan itu ia langsung menghapusnya dan memasukkannya ke dalam black list, kemungkinan-kemungkinan yang sangat tidak mungkin.

Hye Sun berjalan ke altar dengan dibimbing daddynya. Ujung matanya menangkap mom dan ibu Min Ho menangis tersedu-sedu. Hye Sun mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kenapa mereka menangis?, tanyanya dalam hati.
Pandangan matanya beradu dengan mata tajam Min Ho. Min Ho berdiri di atas altar dengan angkuhnya, wajah stoicnya tetap diperlihatkannya. Ingin rasanya Hye Sun berlari ke arah altar dan mencakar-cakar wajah sok coolnya itu. Tapi kembali diurungkannya niatnya itu, bukan karena ia takut pada Min Ho, ia hanya tidak ingin hak sepatunya patah karena berlari. Bagaimanapun juga ini sepatu kesayangannya. Hei, tapi bisa kan melepaskan sepatu dulu lalu kemudian berlari?. Auk ah, gelap. Sesampainya didepan altar, Min Ho mengulurkan tangan kanannya dan disambut oleh dad Hye Sun. Ia meletakkan tangan kiri Hye Sun diatas tangan Min Ho, setelah itu ia pergi ke samping istrinya. Berusaha menenangkan tangisan istrinya yang semakin menjadi-jadi.

Pendeta memulai aksinya. Membuka alkitab yang digenggamnya dan mulai bercuap-cuap. “Dihari yang sakral ini, Tuhan Yesus telah mempertontonkan keajaibannya, menyatukan dua insan dalam lingkaran cinta. Bla bla bla”, perkataan pendeta setelahnya tidak lagi di dengar oleh Min Ho dan Hye Sun. Keduanya malah sibuk saling memberikan pandangan mematikan yang sialnya dianggap pandangan cinta oleh orangtua mereka masing-masing.

Acara selanjutnya tidak begitu berarti bagi Hye Sun, ia hanya tersenyum menanggapi pujian dan ucapan selamat dari para tamu. Sedangkan Min Ho sedari tadi merangkul pinggangnya dan berpura-pura mesra dengannya. Hye Sun sudah membuat catatan virtual dikepalanya agar memberikan pelajaran pada suaminya itu karena sudah berlaku seenaknya.

Malam berlanjut, para tamu masih berada di Lee Mansion, tapi para tamu sudah dipindahkan ke ruang keluarga yang super besar di dalam Lee Mansion. Mereka tengah membicarakan hal-hal seputar perusahaan ditemani bergelas-gelas wine yang nominal nol dibelakangnya bisa membuat orang muntah. Hal-hal yang dibahas tidak jauh-jauh dari masalah bisnis. Kenaikan sahamlah, jatuh tempolah, fluktuasilah, dan sebangsanya. Kalian hanya perlu mengingat rumus alam; pengusaha + pengusaha = meeting. Hanya Hye Sun satu-satunya orang yang melongo mendengar pembicaraan orang-orang kelas atas itu. Min Ho yang melihatnya langsung berpamitan dan mengajaknya kembali ke kamarnya. Err—kamar Hye Sun juga sekarang.

“Wah, anak-anak zaman sekarang sudah tidak sabaran ya... Ingin cepat-cepat melakukan ‘itu’”, celetuk salah seorang wanita yang duduk tak jauh dari ibu Min Ho. Serentak seluruh orang yang ada dalam ruangan itu (termasuk Miss Park dan Mr. Jung) membentuk satu paduan suara. Tertawa terbahak-bahak. Dengan muka yang nyaris menandingi kepiting rebus, Hye Sun berjalan cepat menuju ke lantai dua. Dibelakangnya mengekor Min Ho yang tetap stay cool.

Dengan kasar Hye Sun membuka pintu kamarnya dan langsung menjatuhkan dirinya diranjang. Dengan gemas ia mencopot high heelsnya dan melemparkannya dengan asal. Hye Sun kemudian merangkak ke balik selimut dan bersiap untuk tidur. Min Ho yang melihatnya hanya mengangkat alisnya, kemudian ia bertanya, “Mau apa kau?”

Hye Sun sedikit menurunkan selimut yang menutupi kepalanya, “Tentu saja tidur”

“Dengan pakaian seperti itu? Cepat bersihkan dirimu”, Min Ho kemudian segera duduk di sofa dan menyalakan televisi. Ia tidak memperdulikan Hye Sun yang menghentak-hentakkan kakinya ketika berjalan menuju kamar mandi.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan diri bagi Hye Sun. Ia keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan kimono handuk berwarna putih polos. Hye Sun kemudian menuju lemari pakaian Min Ho yang super besar. Sedikit kerutan didahinya muncul ketika membuka lemari itu. “Hei, genderuwo. Mana baju-bajuku?”

Min Ho mengalihkan pandangannya ke Hye Sun yang sedang mengamati isi lemarinya. “Baju-bajumu dipindahkan besok”

Hye Sun berbalik dan meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Mwo? Besok? Memangnya para pelayanmu itu tidak tahu kalau aku akan tidur disini malam ini? Apa saja sih yang mereka lakukan? Mereka bekerja tidak sih?”, cerocos Hye Sun tanpa henti dan diakhiri dengan, “HUH!! Aku tidak suka semua pelayanmu!”, Hye Sun menghentakkan kakinya ke lantai. Min Ho menghembus napasnya pelan. Tidak lama kemudian ia kembali menekuni siaran televisi, meninggalkan Hye Sun yang dikepalanya sekarang telah muncul perempatan. Suami brengsek, umpatnya dalam hati.

”Ehm ehm. Tes tes.. halo halo... Mino-a, Hye Sun-a, kalian ada disana?”, sebuah suara menyeruak diantara mereka.

Hye Sun celingak-celinguk mencari sumber suara itu. Sedangkan Min Ho dengan santai berjalan ke arah dinding di dekat meja kerjanya dan menekan sebuah alat yang terpasang disitu.

“Jangan ganggu kami”, ujarnya dingin. Hye Sun berlari ke arah Min Ho dan bersembunyi dibalik punggungnya. Ia sedikit menjulurkan kepalanya di balik punggung tegap Min Ho. “Alat apa itu?”, tanyanya penasaran. Saking penasarannya ia bahkan tidak menyadari bahwa jarak mereka sekarang sudah tidak ada. Tubuh mereka bagai sudah menempel satu sama lain.

Min Ho menengok ke arah belakang, “Interkom”, ia kemudian berbalik lagi ke arah alat yang disebut interkom itu. “Aku akan menonaktifkan alat ini. Jangan ganggu kami”

“Eh...tunggu tunggu. Omma ingin bicara dengan Hye Sun. Hye Sun-a, kamu masih disana?”

“Ah, ne. Ne, Mrs. Tiffany”

“Aaahh...jangan terlalu formal begitu”, diseberang sana Mrs. Tiffany mengibasakan tangannya yang tentu saja tidak bisa dilihat Hye Sun. “Panggil aku omma. Omma. Araseo?”

“Ne. Omma. Ne”

“Bagus. Kau masih ingat tentang percakapan kita dipanti asuhan itu kan? Omma mau malam ini kau mengabulkannya. Oke? Bye bye.... oh, omma lupa. Omma masih ingin anak perempuan. Pokoknya harus perempuan, titik. Good luck, honey”

SIIIIIIIIINNGGGGGGGGGGG............

Kamar Min Ho tiba-tiba berubah sunyi. Dengan masih posisi yang seperti tadi, keduanya saling berhadapan dengan wajah yang memerah. Min Ho kemudian melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Hye Sun yang masih shock atas perkataan (baca:permintaan) ibu Min Ho barusan. Dengan langkah lesu ia berjalan ke sofa dan mendudukkan dirinya disitu dengan nyaman.

20 menit

45 menit

1 jam 5 menit

Arghh!!! Cukup sudah. Hye Sun berjalan ke kamar mandi dan menggendor pintunya dengan sekuat tenaga. “WOY BOCAH... KAU MASIH LAMA TIDAK SIH? AKU MAU PIPIS. CEPAT KELUAR....”

Tidak ada jawaban

Genderuwo sinting, sekali lagi Hye Sun mengetuk pintunya dan sang tersangka (baca:Min Ho) belum keluar dari kamar mandi, Hye Sun bersumpah akal langsung menerjang kedalamnya. Ia benar-benar sudah tidak tahan. Panggilan alam ini benar-benar membuat tensinya naik.

DUK DUK DUK

Tidak mendapat balasan lagi Hye Sun dengan nekatnya menendang-nendang pintu kamar mandi. Yang tidak diketahui Hye Sun ialah bahwa didalam sana Min Ho tengah tersenyum mesum semesum-mesumnya *saia saja tak ngerti maksudnya apa*

Tidak sampai sedetik, Hye Sun menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Selangkah lagi ia melangkah, sudah bisa dipastikan ia akan jatuh. Karena dibalik pintu itu sudah berdiri dengan wajah stoicnya, angkuh, dan tanpa lupa senyum mesumnya. Ah ya, juga dengan dada bidangnya, karena Min Ho saat ini tengah ****. *aww....mau dong....*

Tanpa basa-basi Min Ho mendekatkan tubuhnya pada Hye Sun dan dengan cepat membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu, “Aku suka anak kecil jadi, bagaiman jika kau memberikanku seorang bayi mungil. Hmm?”

Dengan gerakan cepat, Min Ho menarik baju mandi Hye Sun, lalu mencium bibir gadis dihadapannya. Melumatnya, mencoba
memberikan rangsangan pada Hye Sun. Sedangkan Hye Sun diam tidak membalas perlakuan Min Ho, ia masih shock. Min Ho terus melakukan cumbuannya, dari bibir lalu Min Ho berlanjut pada pipi Hye Sun. Menciumnya secara bertahap, perlahan namun pasti bibir Min Ho telah berada di telinga Hye Sun. Menjilatnya sebentar, lalu menghisap cuping telinga Hye Sun, "Ayolah
Hye Sun kau jangan menahan hasratmu." desahnya menggoda. Sementara bibirnya sibuk dengan wajah Hye Sun, jemari Min Ho perlahan membuka tali kimono Hye Sun dan melepaskannya perlahan.

Membukanya perlahan, lalu meremas dua bukit milik Hye Sun. Min Ho mencium leher Hye Sun, menghisapnya pelan. Tidak berhenti sampai disitu Min Ho mencoba menekan benda kenyal miliknya pada dada besar Hye Sun, dengan jarinya yang tetap meremas dada gadis itu. Min Ho tahu gadis didepannya ini sudah mulai terangsang, terdengar jelas dari detak jantung Hye Sun yang semakin cepat dan napasnya yang semakin memburu. Min Ho tersenyum, ia kemudian melepaskan kimono Hye Sun dan setelah terlepas dari tubuh Hye Sun, Min Ho melemparnya sembarangan. Sementara Min Ho sibuk merangsangnya, Hye Sun
mencoba menahan dirinya agar tidak terbuai dengan aksi Min Ho. Ia meremas tangannya sendiri mencoba melawan hasratnya akibat perlakuan Min Ho pada leher dan dadanya. Puas dengan wajah Hye Sun, Min Ho menurunkan wajahnya sampai tepat berada didepan dada Hye Sun. Min Ho menyentuh benda kecoklatan yang sudah tegang itu, mengusapnya pelan lalu bibir ranumnya menggantikan aktifitas jarinya. Gerakan menjilat, menghisap dan menggigit ia berikan pada tonjolan dada Hye Sun yang besar.

Tanpa disangka-sangka Hye Sun segera mendorong Min Ho dan membungkus kembali tubuhnya dengan kimono yang tadi tergeletak di bawah kakinya. “A-aku tunggu di dalam”

Segera Hye Sun keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya. Didalam kamar mandi Min Ho mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Jadi dia tidak suka melakukannya di tempat seperti ini?, batinnya mesum.

Dugaan semu, err ralat, maksudnya dugaan MESUM Min Ho meleset drastis. Saat iris hitamnya menjelajahi kamar luasnya, tak ada pandangan 'indah' yang sejak tadi dibayangkannya. Tak ada bau harum parfum Hye Sun yang menyerbak diruangan.  Tak ada Hye Sun yang duduk ataupun berbaring di atas ranjang, hanya ada Hye Sun yang berdiri membelakanginya seraya sibuk dengan kemeja Min Ho yang otomatis kebesaran ditubuhnya yang mungil. Tak ada kimono putih yang dipakai Hye Sun tadi yang berserakan dilantai. Juga tak ada. . . posisi menggariahkan yang dilakukan Hye Sun, yaitu duduk mengkangkang di atas ranjang, dengan tangan kanan yang bermain di selangkanya dimana alat vitalnya sendiri sudah basah dan berwarna kemerah-merahan, sementara tangan kiri memainkan buah dadanya yang besar, dan tak lupa dengan saliva yang menetes dari bibir ranumnya. Seraya mengucapkan 'Mino-a, touch me.. Mmmnh. Please! Oooh’ lagi-lagi Min Ho harus menahan agar tak ada noda merah yang muncul di bawah hidungnya gara- gara fantasi liarnya tersebut.

Tidak tahan lagi, Min Ho segera mendekati Hye Sun dan langsung memeluknya dari belakang. “Kita lanjutkan yang tadi”

“Ap-apa?”, wajah Hye Sun kembali memerah.

******************************

AKU SKIP.... MAAFF.... PM AKU YANG MAU

Pagi yang cerah. Burung-burung berkicau, dehasan angin lembut menyapu pepohonan rindang disekitar Lee Mansion. Secercah cahaya menembus masuk sebuah kamar besar nan megah, menyinari dua orang yang tidur sambil berpelukan dalam keadaan telanjang. Yak, benar sekali sodara-sodara, telanjang. Kita ulangi lagi, TELANJANG.

Hye Sun menggeliat pelan. Ia ingin bergerak kesamping tapi serasa ada yang menahannya dari atas. Perlahan ia membuka kelopak matanya. Pemandangan pertama yang berhasil diakomodasi matanya adalah rambut. Hitam. Daaaaaann.....

“MENYINGKIR DARI TUBUHKU, MANIAK!!”, suara Hye Sun bergema di kamar luas itu.

Min Ho –pelaku- mengangkat pelan kepalanya. Mencari sumber suara yang dengan beraninya sudah menganggu tidur nyenyaknya. Senyum mesum mengawali harinya pagi itu. “Kenapa teriak-teriak?”

BUKK

Dengan satu hentakan Hye Sun berhasil mendorong Min Ho dari atas tubuhnya. Hye Sun segera bangkit dari tidurnya dan menutup tubuh polosnya dengan selimut. Min Ho yang melihatnya tersenyum sinis. “Ternyata kau ganas juga ya diatas ranjang”. Tanpa dikomando lagi Hye Sun kembali berteriak sehingga membuat Min Ho harus menutup kedua telinganya. “MESUUUUUMM”. Kalau di film-film keadaan Hye Sun sekarang ini bisa digambarkan seperti ini; dibelakang Hye Sun atau biasa kita sebut backround berubah menjadi warna hitam, plus kilat dan petir yang menyambar-nyambar. Ah, jangan lupakan suara petir yang menggelegar.

tbc
PM m-vers nya donk. Hehehe >,<)
(Agak telat sih. Abis bru gbung & bru baca)

Pages: [1]