Modify Profile

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - lluluMH

Pages: [1] 2 3 ... 6
1
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 4* 15 Juni 2012
« on: July 09, 2012, 10:11:46 am »
Iseng ahhhhhh  [hmpfh] [hmpfh]



          Mereka berdua terdiam saling menyelami perasaan masing-masing. Sampai akhirnya Min Ho berdeham memecahkan keheningan, lalu berkata, “Itu.....,” katanya sambil menunjuk dahi Hye Sun. Hye Sun tampak bingung seketika. “Boleh aku pegang?” tanyanya lebih lanjut.
          Hye Sun terkejut saat mendengar bahwa pria dihadapannya ingin memegang dahinya—memeriksa suhu tubuhnya. Ia tidak bisa mengatakan apapun selain menganggukan kepalanya. Matanya terpejam saat ia merasakan tangan Min Ho yang besar dengan lembut menyentuh dahinya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, merasa begitu tenang saat tangan Min Ho berada di dahinya.




          Dua kubu yang dulunya saling membenci dan iri saat melihat satu diantara mereka mendekati Hye Sun, kini saling mempercayai satu sama lain. Dua kubu yang dulunya saling menatap pun enggan, kini berpelukan erat. Demi Hye Sun yang harus tetap aman dan bahagia saat ia pergi, Donghae rela dan yakin untuk menyerahkan gadis itu pada Min Ho. Demi Hye Sun yang harus tetap merasa aman dan bahagia, Min Ho harus menjaga gadis itu baik-baik seperti apa yang dipinta Donghae.


UPDATE SOON  [bye]

2
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 4* 15 Juni 2012
« on: June 19, 2012, 02:00:38 am »
minjung ntr mau ngerisuh ya lu? klo hye tau minho bhong ttg istrinya pasti marah.....  [goodgrief]
hae juga ngapain pergi sih? kan minho gak ada sai gan lol
haduh makin seru ceritanya kasian hae kasian yesung udh lempar ke gue aja  [lovestruck] [hmpfh]

eh iya itu si ye eun tau gak klo minjung ibu kandungnya?
thanks lulu updatenya ayo dilanjut jgn lama2
 [biggrin] Hface [smiley-dance013]

ngga kak, ye eun ga tau kalo minjung itu ibunya. Dari awal MH udah bilang ke ye eun kalo ibunya udah meninggal

3
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 4* 15 Juni 2012
« on: June 15, 2012, 06:02:31 pm »
minjung mau ngerusuh nanti. Tapi sebelum masalah perusahaan ayahnya selesai minjung blm beraksi kok. Terus kalo nanti dia tau kalo MH udh punya penggantinya dia, obsesi dia buat balik sama MH akan makin kuat. Masalah pernikahannya di Amerika dia emg ga nganggep serius, dia ga cinta2 bgt sm suaminya itu, bahkan sekarang dia  ada niat mau ceraiin suaminya.

4
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 4* 15 Juni 2012
« on: June 15, 2012, 03:31:38 am »
Akhrnya LULU update. Gue kira ente ud lupa! Nah loh, ntr hye jd g ad penjagax <satpam kalie> kalo donghae ke sydney? Ad satpam bru? Minho? Nahhh

hehehe alhamdulillah masih inget kak  [sweat] iya nih kayaknya MH bakal merangkap jadi bos sekalian satpam juga  [hmpfh]

thank you sis udah updateeeeeee...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

itu min jung ngapain coba balik lg??  [chin] [chin]

seenak jidat ninggalin laki ma anak,sekarang seenak udel muncul lagi gitu,ckckck..  [guns] [guns]

hahaha..gpp yang penting min ho ude jatoh cintrong sama hye sun..  Hface Hface

lanjut sis,akika gak sbar baca lanjutannya,  [smiley-gen013] [smiley-gen013]

wihiuy iya dong MH udah jatuh cintrong sama HS  [lovestruck] udah jarang berantem, terus juga MH kalo ngomong sama HS suka ga sadar ngomong apa  [laughing]

5
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 2* 25 Juni 2011
« on: June 14, 2012, 11:37:08 pm »
AAAAAAAAAAAAAAAAAAA sebelumnya aku mau tumpengan dulu yaa soalnya ID yang ini udh bisa dipake lagi  [clap] [clap]
Aku jadi punya dua ID, boleh ga? gapapa ya  [biggrin]
Terus FF ini udah setahun kurang sepuluh hari ga di update. Gilak banget authornya  [laughing] [laughing]
Pasti udah pada lupa sama ceritanya. Gapapa deh bacanya pada nerawang-nerawang aja hehe. Jiwa MinSunHae lagi dateng jadi pengen aja lanjutin FF ini. Oiya, buat sista Imahminsun sorry baru bisa aku update sekarang  [sweat]
Yaudah deh selamat baca yaa  [biggrin] [biggrin]


CHAPTER 4



          Goo Hye Sun berdiri dibalik jendela. Matanya menatap lurus keindahan kota Seoul di malam hari. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, raut wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
          “Haruskah aku menerima tawarannya?” gumamnya pelan. Ia terlihat begitu bingung.



**********


         Lee Min Jung kembali menginjakan kakinya di kota Seoul. Saat mendengar kabar bahwa Min Ho masih bekerja di Seoul Magazine Center tanpa berpikir panjang setibanya di bandara, Min Jung langsung pergi menuju SMC. Sebenarnya ia juga mempunyai keperluan lain di SMC selain menemui Min Ho.
          Setibanya di sana semua karyawan terlihat terkejut akan kedatangannya. Saat ia masih bersama Min Ho ia memang sering ke sini, dan semuanya juga pasti tahu tentang apa yang terjadi diantara dirinya dan Min Ho sampai akhirnya mereka harus berpisah.
          “Min Jung nuna?” Hyun Jin tampak terkejut dan langsung berdiri dari duduknya ketika melihat kedatangan Min Jung.
          “Oh Hyun Jin-ssi..” Min Jung memamerkan senyumnya pada Hyun Jin, lalu bertanya, “Apa Min Ho ada di ruangannya?”
          Hyun Jin menggeleng. Mulutnya terbuka. Sepertinya ia masih kaget. Lalu saat ia merasa bahwa ini memang nyata, ia menjawab pertanyaan Min Jung tadi. “Oh Min Ho hyung, hmmm, sejak habis makan siang aku belum melihatnya. Atau mungkin dia ada di ruang pemotretan.”
          “Begitu? Baiklah, aku ke ruang pemotretan saja kalau begitu. Terimakasih,” Min Jung membungkukan tubuhnya, dan langsung berlalu pergi menuju ruang pemotretan.
          Saat memasuki ruang pemotretan ia bisa melihat semua orang tampak begitu sibuk akan pekerjaan mereka masing-masing. Min Jung memutar kepalanya kekanan dan kekiri mencari sosok Min Ho. Tetapi sepertinya laki-laki itu tidak di sana. Karena sejak tadi kedua matanya tidak juga menangkap keberadaan laki-laki itu.
          “Nona, apakah Lee Min Ho-ssi ada di sini?” tanya Min Jung kepada salah satu photographer di ruangan itu.
          “Tuan Lee? Tidak, dia tidak di sini,” jawab photographer itu sambil menggeleng.
          “Oh, ya sudah kalau begitu terima kasih,” ucap Min Jung. Begitu ingin berlalu, langkahnya terhenti saat melihat nametag gadis photographer dihadapannya “Goo Hye Sun” ucapnya dalam hati.
          “Kau Goo Hye Sun phorographer yang baru saja terpilih untuk bekerja di sini?”
          “Betul, ada apa?”
          “Bisa bicara sebentar?”
          “Hmm, oke baiklah,”
          Hye Sun mengajak wanita cantik yang ia tidak tahu namanya itu menuju sofa dekat pintu masuk ruang pemotretan.
          “Ingin bicara apa?”
          “Sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Lee Min Jung. Begini, salah satu anak perusahaan ayahku sedang dalam keadaan buruk.Aku rasa salah satu faktornya karena photographer di sana kurang handal. Ada beberapa customer yang kurang puas akan service yang diberikan. Ayahku bilang ada orang dalam yang sengaja melakukan ini untuk menjatuhkan perusahaannya.” Jelas Min Jung panjang lebar.
          “Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Hye Sun bingung.
          “Kau photographer pilihan Min Ho. Aku tau itu, dan jangan tanya darimana aku mengetahuinya. Lee Min Ho adalah seseorang yang perfeksionis, dia tidak mungkin memilih photographer untuk SMC dengan asal, semuanya pasti ia perhatikan dengan sangat teliti. Jadi aku yakin kau adalah salah satu photographer terbaik yang pernah dipilih olehnya.”
          “Lalu?”
          “Lalu, maukah kau bekerja di perusahaan ayahku? Tidak perlu khawatir, aku menjamin pekerjaan ini tidak akan mengganggu pekerjaanmu di sini.”
          “Bagaimana bisa kau menjaminnya?”
          “Kau hanya akan bekerja satu bulan selagi aku mencari photographer handal untuk menggantikanmu, dan kau akan bekerja pada hari Sabtu dan Minggu. Terpaksa harus menggunakan hari liburmu karena tidak ada cara lain. Aku akan membayarmu dua kali lipat atau lebih atau kau boleh menuliskan nominal yang kau inginkan.”
          “Sepertinya kau sudah merencakannya,”
          “Terus terang saja, iya. Jadi maukah kau membantuku?”
          “Entahlah, akan kupikirkan.”



**********


          Walaupun tidak bertemu Min Ho, Min Jung tetap merasa senang karena secara kebetulan ia bertemu dengan Hye Sun—seorang photographer yang sudah beberapa hari terakhir ini ia cari tau identitasnya. Pamannya yang tinggal di Seoul memberitahu bahwa SMC baru saja menerima satu photographer baru. Setelah Min Jung mencari tau segala hal tentang gadis si photographer itu,  benar saja, Min Ho tidak pernah salah akan pilihannya. Satu yang disadarinya, gadis photographer itu jauh berbeda seperti di foto yang ia lihat. Jauh lebih cantik. Sampai-sampai ia tidak mengenalinya tadi siang.
          Ayah Min Jung mendirikan sebuah perusahaan yang berhubungan dengan photography, dan sialnya saat ini salah satu anak perusahaannya sedang terancam dan itulah alasan mengapa ia kembali ke kota kelahirannya ini. Min Jung tertarik untuk menyuruh Hye Sun membantunya dalam masalah ini. Entah bagaimana saat pertama kali ia mencari tau tentang gadis itu, hatinya mengatakan semuanya akan kembali baik-baik saja dengan campur tangan gadis itu.
         “Setidaknya aku sudah membuatnya ingin mempertimbangkan permintaanku,” gumam Min Jung sedikit bangga. Untuk sesaat Min Jung tidak memikirkan seorang Lee Min Ho. Hatinya sedikit agak lega karena dengan bertemunya ia dengan Hye Sun, itu membuat satu masalahnya terlewati.



**********


          “Ada apa?” akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Donghae setelah beberapa menit ia memperhatikan Hye Sun dari belakang.
          Hye Sun sedikit tersentak lalu menolehkan kepalanya menuju asal suara dan berkata, “Oh, kau. Tidak. Tidak ada apa-apa.”
          “Mencoba menyembunyikan sesuatu dariku? Maaf, itu salah satu kelemahanmu nona cantik,” ucap Donghae sambil menghampiri Hye Sun.
          “Duduklah,” Hye Sun menyuruh Donghae duduk di sofa dekat jendela. “Begini,..........” mulailah Hye Sun menceritakan kejadian tadi siang dari A sampai Z pada Donghae. Donghae terlihat begitu serius mendengarkan apa yang diceritakan Hye Sun.
          “Sebaiknya kau terima saja. Hitung-hitung pengalaman, lagipula hanya sebulan. Masalah hari liburmu terpakai,.. hmm.. aku bisa menghiburmu kalau kau kelelahan,” Donghae menyuarakan pendapatnya setelah Hye Sun selesai bercerita. Degup jantungnya seakan bergerak dua kali lebih cepat saat ia mengatakan bahwa ia bisa menghibur Hye Sun saat gadis itu kelelahan.
          “Menurutmu begitu?” Hye Sun tampak menimbang-nimbang.
          “Ya.., dan uang bayaran yang kau terima nanti bisa saja menggantikan uangmu yang kau pakai untuk membeli apartemen baru, bukan?” seru Donghae, mengingat kalau Hye Sun ingin membeli apartemen baru yang lebih dekat dengan SMC.
          “Ah kau benar! Baiklah akan ku coba.” Hye Sun tersenyum pada Donghae. “Kau memang teman terbaik, kau selalu tau jalan keluar yang tepat untuk ku. Terimakasih..” Hye Sun semakin mengembangkan senyumnya. Donghae hanya bisa membalas senyum gadis dihadapannya itu.

         Hanya teman yang terbaik. Donghae menekankan kata-kata itu dalam hati. Dan percayalah, kata-kata itu membuat hati Donghae cukup teriris.
          “Sudah tidak bingung lagi, kan? Sekarang istirahatlah.” Donghae mengacak-acak rambut Hye Sun lalu bangkit dari duduknya. Langkahnya terhenti saat ia merasa pergelangannya dicekal.
          “Tunggu dulu,” cegat Hye Sun. “Besok setelah aku menemui wanita itu, mau tidak kau menemaniku mencari apartemen baru?” pinta Hye Sun pada Donghae.
          “Tentu saja. Sekarang tidurlah,” setelah melepas cekalan tangan Hye Sun dilengannya Donghae keluar dari kamar Hye Sun.

          Setidaknya kali ini  ia tidak membicarakan Tuan Lee itu di depanku. Donghae bersyukur dalam hati.


**********


         “Jadi kau menerimanya?” tanya Min Jung memastikan. Wajahnya terlihat begitu senang.
          “Setelah memikirkannya semalaman, kupikir tidak ada salahnya dicoba,” jawab Hye Sun memastikan. Ia membalas senyum Min Jung yang terlihat sangat senang itu.
          “Ahhh akhirnya satu masalah selesai. Kuharap kau bisa membantuku. Terimakasih telah menerima tawaranku,” tangan Min Jung terulur dan Hye Sun menjabat tangannya yang terulur. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Ternyata bertemu dengan Goo Hye Sun tidak sesulit yang ia bayangkan.
Min Jung memutuskan untuk mentraktir Hye Sun makan. Sebagai tanda terimakasih karena gadis itu sudah ingin bersedia membantunya. Setelah memesan makanan mereka, tiba-tiba ponsel Min Jung berbunyi. “Sebentar ya,” ucap Min Jung lalu mengangkat teleponnya.
          “Iya aku sudah bertemu dengannya....... Dia menyetujuinya...... Tenang saja.... Apa? Baiklah aku akan melupakannya sementara..... Tetapi setelah semuanya kembali baik-baik saja, biarkan aku melakukan semua yang kuinginkan.... Ya, baiklah,” Min Jung menutup ponselnya, lalu kembali membenarkan duduknya. “Ayahku,” katanya seakan menjawab raut wajah Hye Sun yang tampak penasaran.
          Hye Sun mengangguk, “Dia menanyakan tentang tawaranmu terhadapku?” tanya Hye Sun.
          “Ya,” Min Jung mengangguk. “Dan sedikit masalah pribadi.” Tambahnya.
          “Boleh bertanya sesuatu?” Hye Sun kembali bertanya.
          “Silahkan.”
          “Kemarin katamu anak perusahaan ayahmulah yang terancam bangkrut. Berarti perusahaan ayahmu perusahaan yang besar. Dan bagaimana bisa kau bilang kalau di sana photographernya tidak handal? Itu sangat aneh.”
          “Seperti yang sudah kukatakan kemarin, ada orang dalam yang berusaha menjatuhkan perusahaan ayahku. Orang kepercayaan ayahku yang bekerja di anak perusahaan itu ternyata punya dendam terpendam. Entah apa alasannya, Ayah tidak cerita padaku. Ia tidak pernah curiga dengan orang itu. Tidak berapa lama banyak customer  yang mengeluh karena projek mereka dikerjakan dengan asal.   Dan inilah hasilnya. Dia menyuruhku kembali ke Seoul untuk membantu memulihkan keadaan.”
          “Kembali ke Seoul? Memang sebelumnya kau tinggal dimana?”
          “Beberapa tahun lalu aku pindah ke Amerika karena satu insiden yang memalukan. Lalu aku dinikahkan dengan seorang laki-laki di sana. Sebenarnya ada satu alasan lain mengapa aku setuju kembali lagi ke sini.” Min Jun tersenyum samar.
          “Alasan lain?”
          “Ya,” Min Jung mengangguk. “Mencari cinta pertamaku.” Lanjutnya mantap.
          Min Jung dan Hye Sun terlihat sangat akrab meskipun baru kedua kalinya bertemu. Mungkin karena umur mereka yang tidak berbeda jauh. Min Jung yang nyatanya tiga tahun lebih tua dari Hye Sun tidak ingin dipanggil Onni. Katanya agar mereka bisa lebih akrab dan di Amerika ia juga tidak terbiasa dipanggil Onni. Dan entah mengapa dengan lancarnya ia menceritakan semua masa lalunya dengan cinta pertamanya pada Hye Sun. Ia bilang ia sedang tidak ingin memikirkan cinta pertamanya itu sebelum semua masalah perusahaan Ayahnya selesai. Ia tidak mengatakan siapa nama cinta pertamanya karena menurutnya itu tidak perlu dan walaupun ia tau bahwa Min Ho lah yang memilih Hye Sun untuk menjadi photographer di SMC, otak dan perasaannya mengatakan kalau hubungan Min Ho dan Hye Sun hanya sebatas sampai pemilihan photographer itu selesai. Karena sepengetahuannya Min Ho adalah seorang atasan yang dingin dan jarang ingin mendekatkan diri pada karyawannya.
          Setelah setengah jam lebih mereka bertukar cerita, akhirnya mereka menyudahi pertemuan mereka itu. Min Jung bilang Hye Sun sudah bisa mulai bekerja dengannya minggu depan. Saat sudah berada diambang pintu restoran ponsel Hye Sun berbunyi. Sementara Hye Sun mengangkat ponselnya, Min Jung pamit untuk pergi lebih dulu.
          “Ya, Hyun Jin-ssi ada apa?” ternyata Hyun Jin yang meneleponnya.
          “Hye Sun-ssi, apakah kau lupa memberiku foto-foto model yang akan dijadikan sampul majalah edisi lusa?” terdengar suara bertanya Hyun Jin di seberang sana.
          “Astaga, iya maaf, aku lupa. Baiklah aku akan kembali ke kantor. Tunggu aku, oke?” Hye Sun langsung memberhentikan taksi dan pergi ke SMC. Di dalam taksi ia tidak lupa untuk menelepon Donghae, menyuruh temannya itu untuk menjemputnya di kantor baru pergi mencari apartemen baru untuknya.



**********


          Saat Min Ho membuka pintu ruangannya ia merasakan tiba-tiba jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dan hatinya serasa sangat lega, ketika melihat gadis dihadapannya. Meja kerja Hyun Jin memang tidak jauh dari ruangannya. Maka itulah ia bisa melihat dengan jelas gadis di depan meja Hyun Jin yang sedang memberikan sesuatu. Dua hari terakhir ini jadwalnya sangat padat sampai ia tidak bisa melihat gadis dihadapannya itu. Entah mengapa ia merasa bahwa ia rindu dengan gadis itu. Dan ketika melihat gadis itu lagi hatinya sangat senang.
          “Oh Tuan Lee, selamat sore.” Suara gadis itu membuyarkan lamunannya.
          “Oh ya, selamat sore Hye Sun-ssi.” Min Ho membalas salam Hye Sun agak kikuk.
          “Kau tidak pulang, hyung?” tanya Hyun Jin pada Min Ho.
          “Baru saja akan pulang. Kau, Hye Sun-ssi kenapa masih di sini? Kau tidak pulang?” bukannya balik bertanya pada Hyun Jin—karna Hyun Jin lah yang bertanya padanya lebih dulu—ia malah menayakan Hye Sun.
          “Oh, saya? Sebenarnya tadi saya sudah keluar kantor untuk pulang, tapi saya lupa memberi foto-foto model yang akan dijadikan sampul majalah edisi lusa pada Hyun Jin, jadi saya balik lagi.” Jawab Hye Sun menjelaskan dengan tersenyum agak takut. Takut dimarahi.
          “Begitu? Lalu apakah sekarang sudah selesai? Ingin turun bersama denganku?” entah darimana Min Ho mendapatkan keberanian untuk mengatakan itu, tapi dapat dipastikan kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
          “Ya?” Hye Sun terkejut saat mendengar tawaran atasannya itu untuk turun bersama.
          Seakan mengerti apa yang Min Ho inginkan, Hyun Jin berkata, “Sudah kok hyung. Hye Sun sudah menyerahkan semua foto-fotonya. Jadi, Hye Sun-ssi sebaiknya kau ikut turun saja bersama dengan Min Ho hyung.”
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Hye Sun pun setuju untuk turun ke lantai dasar bersama Min Ho. Mereka berdua terlihat canggung sampai akhirnya Hye Sun memecahkan keheningan diantara mereka. “Dua hari yang lalu, gadis kecil itu benar anakmu?” ternyata sejak tadi Hye Sun sedang memberanikan dirinya untuk menanyakan ini pada Min Ho.
          “Benar,” jawab Min Ho singkat.
          “Berarti kau sudah menikah?” tanya Hye Sun lagi.
          Min Ho terlihat agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Hye Sun. Lalu ia menjawab pertanyaan gadis itu setenang mungking, “Ibunya meninggal saat melahirkannya,” jawab Min Ho. Tentu saja ia berbohong.
Berarti kau sudah menikah? Mulutnya terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan itu.
          “Begitu?”
          “Ya,”
          Bunyi dentingan lift menghentikan pembicaraan mereka. Mereka pun keluar dari lift dan sekarang mereka sudah sampai di luar SMC.
          “Ingin kuantar pulang?”
          “Tidak perlu, temanku sudah menjemput.” Hye Sun menunjuk kearah mobil Donghae, dan tidak lama mobil itu sudah berada dihadapan mereka.
          Donghae membuka kaca mobilnya. “Ayo, masuklah!” Donghae menyuruh Hye Sun memasuki mobil dan saat itu pula ia menyadari ada seorang laki-laki—yang sudah tidak asing lagi—di samping Hye Sun.
          “Oh, kau. Senang bertemu denganmu lagi.” Donghae menyapa Min Ho lalu menundukan tubuhnya sedikit.
Min Ho pun membalas sapaaan Donghae, “Ya, senang juga bertemu denganmu lagi.”
Setelah Min Ho dan Donghae bertegur sapa dan Hye Sun berpamitan pada Min Ho untuk pergi lebih dulu akhirnya mobil Donghae melesat pergi dari hadapan Min Ho. Hatinya seakan terbakar api saat melihat siapa yang menjemput Hye Sun.

          Ada apa dengan ku? Oh... Entahlah...


**********


         “Lagi-lagi bersama laki-laki itu,” gerutu Donghae kesal di dalam mobil saat ia sedang mengendarai mobilnya menghampiri Hye Sun.
          Setelah menyapa Min Ho dengan raut wajah yang dipaksakan sebaik mungkin Donghae menginjak pedal gas meninggalkan tempat itu.
          “Sepertinya kau sudah menemukan sesuatu yang bisa membuatmu betah dikantor itu.” Ucap Donghae asal.
          “Apa?” Hye Sun terkejut. Lalu ia terlihat berpikir. “Maksudmu Tuan Lee?”
          “Yah, siapalah namanya..,”
          “Menurutmu begitu? Aku bahkan baru bertemu dengannya hari ini, setelah dua hari sama sekali tidak melihatnya.” Hye Sun menjelaskan dengan tetap memandang lurus ke depan.

          Baru bertemu dengannya hari ini, katanya. Umpat Donghae dalam hati. Lagi-lagi hatinya terasa teriris saat menemukan kenyataan bahwa walaupun baru bertemu tetapi mereka—Hye Sun dan Min Ho—sudah sedekat itu.
          Berjam-jam Hye Sun dan Donghae mengitari kota Seoul mencari apartemen baru untuk Hye Sun. Sulit memang mencari apartemen yang bagus dengan harga yang terjangkau. Setelah hampir seharian mencari akhirnya Hye Sun dan Donghae menemukan apartemen yang cocok.
          Apartemennya tidak terlalu besar, memiliki satu kamar utama dan satu kamar yang lebih kecil, satu dapur, dan satu kamar mandi. Harganya juga tidak terlalu mahal. Dan yang paling bagus, letak apartemen itu tidak jauh dari SMC. Rencananya besok—hari Minggu—Hye Sun sudah akan pindah ke apartemen barunya ini.



**********


          Tangan kanan Min Ho sibuk mengeringkan rambutnya. Wajahnya terlihat lebih segar setelah ia membersihkan dirinya. Saat baru saja ia duduk di atas tempat tidur, terdengar suara seseorang membuka pintu kamarnya.
Kepalanya menoleh ke arah pintu, setelah mengetahui siapa yang membukanya ia berkata, “Oh, anak Appa. Ada apa?”
          “Aku ingin menanyakan sesuatu,” jawab Ye Eun sambil menghampiri Ayahnya.
          “Menanyakan apa? Sini, kemarilah.” Min Ho mengangkat tubuh mungil Ye Eun ke pangkuannya.
          “Soal kakak kue beras,” jawab Ye Eun lagi. Ia menatap Ayahnya dengan tatapan serius.
Min Ho terkejut. “Apa yang ingin kau tanyakan tentangnya?” tanya Min Ho.
          “Siapa namanya? Lalu bolehkah aku bertemu dengannya besok?” dua pertanyaan sekaligus keluar dari mulut Ye Eun.
          “Namanya Goo Hye Sun. Kalau bertemu dengannya.......” belum sempat Min Ho menyelesaikan jawabannya, posel yang ia letakan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya tiba-tiba saja berbunyi. “Sebentar,” ucapnya pada Ye Eun. Lalu menurunkan putri kecilnya dari pangkuannya.
          “Ya, Hyun Jin-ssi?............ Apa? Tunggu sebentar,” Min Ho menunda pembicaraannya dengan Hyun Jin di telepon lalu berkata pada Ye Eun, “Ye Eun-ah bisakah kau kembali ke kamarmu? Appa harus bicara dengan Paman Hyun Jin. Masalah besok kau ingin bertemu kakak kue beras, Appa akan meneleponnya nanti. Oke?”
          “Ya, baiklah.” Ye Eun terlihat kecewa. Min Ho menuntunnya keluar dari kamarnya. Min Ho tersenyum  kecil saat melihat putri kecilnya mengerucutkan bibirnya. Sungguh menggemaskan.
          “Maaf tadi ada Ye Eun di sini. Silahkan lanjutkan ceritamu,” Min Ho kembali berbicara dengan Hyun Jin melalui ponselnya setelah mengantar Ye Eun keluar. Dan Hyun Jin menceritakan tentang peristiwa—kedatangan Min Jung di SMC—kemarin. Min Ho terkejut. Entah mengapa dadanya terasa berdetak lebih cepat. Cinta pertamanya, Ibu kandung Ye Eun. Dia kembali.
          Min Ho menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya masih terlihat terkejut.

          Dia kembali. Setelah apa yang ia lakukan terhadapku dan Ye Eun, apa yang harus kulakukan?
          Saat masih tenggelam dalam keterkejutannya, tiba-tiba saja Min Ho ingat apa yang sedang ia dan Ye Eun bicarakan tadi. Putri kecilnya ingin bertemu Hye Sun besok, dan ia sudah berjanji untuk menelepon gadis itu. Ia tampak agak ragu. Tetapi karena ia sudah berjanji pada Ye Eun mau tidak mau ia harus memberanikan dirinya menelepon gadis itu.
          “Halo. Hye Sun-ssi,” sapa Min Ho saat terdengar tanda bahwa gadis itu menjawab teleponnya.
          “Oh, Tuan Lee?” Min Ho bisa mendengar nada terkejut dari ucapan Hye Sun.
          “Ya, ini aku. Maaf mengganggumu malam-malam,”
          “Tidak apa-apa.” Jawab Hye Sun kikuk “Ada apa meneleponku?”
          “Hmm, begini, Ye Eun—anakku—ingin bertemu denganmu besok. Apa kau ada waktu?”
          “Besok? Maaf sekali, besok aku harus memindahkan barang-barang ke apartemenku yang baru.”
          “Begitukah?”
          “Ya, maaf sekali. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ye Eun,”
          Sekitar setengah menit keheningan terjadi diantara mereka.
          “Ada lagi, Tuan Lee?” akhirnya Hye Sun memecahkan keheningan diantara mereka.
          “Oh, tidak hanya itu saja,” ucap Min Ho sambil menggeleng walaupun ia tau Hye Sun tidak melihatnya. Lalu ia melanjutkan, “Hye Sun-ssi kau tidak perlu memanggilku Tuan Lee saat di luar kantor. Panggil saja aku Min Ho-ssi atau siapalah terserahmu asalkan jangan Tuan Lee.” Pinta Min Ho.
          “Baiklah,” kali ini Hye Sun mengangguk tanpa sepengetahuan Min Ho.
          “Besok, jika kau membutuhkan bantuan kau bisa meneleponku.” Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulut Min Ho.  Untuk kedua kalinya ia berkata di luar kesadarannya pada Hye Sun.
          “Ya?” Hye Sun terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Min Ho barusan.
          “Ya sudah hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Selamat malam,” walaupun ia tau kalau Hye Sun sedang terkejut setelah mendengar apa yang ia katakan, tapi ia tidak ingin mengulangnya untuk kedua kalinya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menutup ponselnya dan mengakhiri pembicaraan.



**********


           Donghae memasuki kamar Hye Sun saat ia melihat gadis itu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
           “Oh, Tuan Lee?” seketika telinganya memanas saat mendengar apa yang diucapkan Hye Sun.

           Tuan Lee. Ucapnya dalam hati.
          Sekitar tiga menit lamanya ia hanya berdiri tertegun di belakang Hye Sun sambil sedikit-sedikit mendengar dan  mencerna apa yang sedang Hye Sun bicarakan dengan laki-laki itu. Sampai akhirnya Hye Sun menutup ponselnya dan membalikan tubuh mungilnya.
          “Oh,” Hye Sun terkejut.
          Donghae hanya tersenyum kecil melihat gadis dihadapannya terkejut. Lucu sekali.
          “Selalu seperti ini. Masuk ke kamarku tanpa mengatakan apapun. Seperti hantu,” ucap Hye Sun kesal. Ia menghampiri Donghae dan menyuruhnya duduk di ruang tv.
          “Maaf, aku tidak bermaksud,” Donghae tersenyum pada Hye Sun. Tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut gadis mungil itu. Ia sangat suka melakukannya. “Sudah kau rapihkan semuanya?” tanya Donghae. Ia melihat ke sekeliling dan sepertinya begitu—Hye Sun sudah merapihkan semua barang-barangnya.
          “Sudah,” Hye Sun mengangguk. “Donghae-ah bagaimana kalau kau ikut pindah ke apartemenku? Sepertinya aku terlalu takut untuk tinggal sendiri.” Pinta Hye Sun melanjutkan. Sejak tadi—setelah ia pulang dari mencari apartemen baru—ia sudah memikirkan ini. Donghae memang sepertinya harus ikut pindah bersamanya. Dan benar saja ia memang merasa terlalu takut untuk tinggal sendirian di apartemen barunya nanti. Jika ada Donghae ia baru bisa merasa aman.
          “Maumu seperti itu?” tanya Donghae. “Tapi aku belum sama sekali merapihkan barang-barangku,” lanjutnya.
          “Barang-barangmu tidak penting. Kita bisa memindahkannya lusa. Yang penting kau ikut pindah bersamaku. Kau mau?” Hye Sun mulai merajuk.
          “Baiklah. Tapi,.... apa kau tidak takut tinggal bersamaku?”
          “Mengapa harus takut? Selama ini kau selalu menjagaku, dan tidak pernah menyakitiku.”
          “Segitu percayanya kah kau padaku?”
          “Sejauh ini, iya.”
          “Terimakasih,”
          “Untuk?”
          “Percaya padaku.”
          Hye Sun tersenyum. Laki-laki dihadapannya membalas senyumnya.
          “Kalau begitu, terimakasih juga,” kali ini Hye Sun yang berterimakasih.
          “Untuk?”
          “Menjagaku.”
          Tangan Donghae terulur untuk mengelus rambut halus Hye Sun. Untuk sementara hatinya terasa lega karena Hye Sun tidak menceritakan apa dan siapa yang meneleponnya barusan. Ia tau kalau ia tidak bisa memaksakan gadis itu untuk mencintainya, atau setidaknya hanya sekedar melihatnya. Memang, gadis itu sudah melihatnya, tetapi melihatnya sebagai seorang teman terbaik bukan sebagai seseorang yang penting—seperti yang ia rasakan terhadap gadis itu. Entah sampai kapan ia harus memendam rasa cintanya.



**********


         Min Ho meletakan kembali ponselnya ke atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Hye Sun jantungnya masih berdegup dua kali lebih cepat. Direbahkannya tubuhnya yang jenjang di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya, wajahnya terlihat sedang menerawang. Menerawang apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang.
          Setelah peristiwa di taman dua hari yang lalu, hatinya menjadi terasa aneh jika bertemu gadis itu, jantungnya menjadi berdetak lebih kencang saat menatap gadis itu, dan perkataannya menjadi terucap begitu saja—diluar kesadarannya—saat bicara dengan gadis itu.
          Min Jung kembali disaat rasa yang berbeda pada Hye Sun datang. Perasaannya semakin tidak bisa dideskripsikan.  Tetapi satu yang pasti, ia tidak akan kembali pada Min Jung. Hatinya sudah cukup sakit dengan apa yang telah Min Jung lakukan terhadapnya. Dan ada satu alasan lagi yang membuatnya sangat tidak bisa kembali pada wanita itu. Kebohongan yang telah ia lakukan—mengatakan pada Ye Eun bahwa ibu kandungnya telah meninggal. Dan mulai saat ini sepertinya ia akan mempertimbangkan soal perjodohan yang putri kecilnya inginkan.



**********


           Donghae baru saja kembali ke kamarnya setelah menemani Hye Sun di kamar gadis itu. Saat di kamar Hye Sun tadi, mereka menelepon orang tua dan bibi Hye Sun. Sudah hampir seminggu mereka tidak menghubungi keluarga mereka. Rasanya rindu sekali.
          Ponselnya berbunyi saat ia baru saja ingin merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
          “Donghae-ssi,” terdengar suara seorang gadis dari ponselnya.
          “Ya, Eun Hye-ssi. Ada apa?” tanya Donghae.
          “Begini, Ayahku menyuruhku pergi ke Sydney bulan depan.”
          “Benarkah? Untuk apa?” tanya Donghae terkejut.
          “Melanjutkan kuliahku di sana. Dan ia juga menyuruhku mengurus studio fotonya di sana.”
          “Ayahmu juga punya studio foto di Sydney.”
          “Ya, apa aku belum cerita padamu?”
          “Sepertinya belum. Lalu studio foto yang di sini? Apa aku harus mengurusnya sendiri?” jika memang benar begitu, aku akan merasa sangat tidak enak. Lanjut Donghae dalam hati.
          “Tidak. Kau tidak perlu lagi mengurus studio foto yang di sini.”
          “Maksudmu?”
          “Ayahku memintamu ikut pergi ke Sydney bersamaku,”
          Donghae terkejut. Bagaimana bisa ia ikut ke Sydney bersama Eun Hye. Ia tidak punya cukup uang.
          “Tidak perlu khawatir. Ayahku sudah menyiapkan semuanya, kau hanya perlu mengemasi barang-barangmu. Dan aku harap kau tidak menolaknya,” ucap Eun Hye menjawab keterkejutan Donghae.
          “Tapi......” Donghae kebingungan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ya, baiklah.” Jawab Donghae pasrah.
          Setelah menyetujui permimntaan Eun Hye dan sedikit berbincang tentang apa yang akan mereka lakukan di Sydney nanti akhirnya pembicaraan mereka pun selesai. Donghae menutup ponselnya lalu meletakannya di atas bantal di sampingnya. Satu yang ia pikirkan saat ini setelah menyetujui permintaan Eun Hye tadi. Bagaimana dengan Hye Sun kalau ia pergi?
          Hanya Hye Sun yang ia khawatirkan saat ia pergi nanti. Siapa yang akan menjaganya? Tuan Lee itu? Haruskah ia mempercayakan laki-laki itu untuk menjaga Hye Sun? Haruskah ia merelakan Hye Sun pada laki-laki itu? Memikirkannya membuat hatinya terasa nyeri. Andai saja Ayah Min Jung belum mempersiapkan semuanya, pasti ia akan menolak untuk pergi bersama Min Jung. Dan sekarang ia pun pusing memikirkan bagaimana caranya mengatakan ini pada Hye Sun.

          Apakah ini saatnya untuk melepaskannya? Apakah Tuhan sudah tidak mengizinkanku lagi untuk menjaganya?





To Be Continued

6
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 2* 25 Juni 2011
« on: June 25, 2011, 06:26:58 am »
GO HAESUN GO HAESUN GO HAE SUN  [AddEmoticons04224] [AddEmoticons04224] [AddEmoticons04224][AddEmoticons04257] PEACE PAPI MINOOO  [AddEmoticons04254]

yuhuuuuuuuuuuuu~ GO HAESUN GO HAESUN! nyahahaha *papi kebakaran* lol

7
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 2* 25 Juni 2011
« on: June 25, 2011, 06:04:50 am »
Kyaaaaaaaaa luluuuuuuuuuuuuuuu akhirnya diupdate jg #cium2 lulu ga pk bibir laki ane ye lol

Wkkkkkk ketemu jg tu akhirnya kirain bakalan ceker2an kek ayam lol ditaman waaaaaaaa bakalan ada yg jeles dunk liat hyesun ma donghae ngarep siy tetep disamperin gt biar minho sm donghae kenalan :p

Lulu jgn lama2 ya updatenya hehe

Maaaaaakk ciumnya pake bibir laki mu jg gapapa mak, lumayan lulu icip2 dikit /plak hahaha

Liat judulnya gw bnr2 lupa ama ff ini hehe tp as dibaca, ingat lagi [hmpfh]
Yuhuuuuu si minho jatuh cintrong ke hyesun [lovestruck] noh noh putrinya kok centil banget, pakai jodohin appanya sgl. Tidak kah dia th umurnya msh terlalalu beliau buat ngelakuin tugas bgtuan (jd mak comblang maksud gw [hmpfh] ) smg minho sgr bertemu cewek yg pingin dijodohkan putrinya ke dia, and smoga aja minho jelezzzzzz wkt ketemu hyesun datang bareng donghae [laughing]

mam itu si Ye Eun udh kebelet mau punya eomma plus ga mau diejek sama temennya jd begono dah dia, nekad nyomblangin appanya sama hye sun  [biggrin] [biggrin]

8
Masih ingat kah sama FF ini? Sudah lupa? Baca lagi deh dari awal LOL  [jumpy] [jumpy]

CHAPTER 3 PART 2

Cahaya oranye itu mulai masuk menerobos jendela menuju wajah polos seorang Goo Hye Sun yang sedang tertidur lelap. Hye Sun mengedip-ngedipkan matanya saat ia merasakan silaunya cahaya oranye itu memasuki alam tidurnya.

“Hooooaaaa” Hye Sun terbangun dari tidurnya. “Sudah jam tujuh.” Kata Hye Sun dengan santai saat melihat jam di samping tempat tidurnya. Tidak ada pekerjaan yang penting hari in untuknya, ia hanya tinggal menunggu kabar dari SMC tentang interview kemarin, apakah ia akan diterima atau tidak.

“Apa yang harus kulakukan hari ini?” Hye Sun bertanya pada dirinya sendiri, ia tidak pernah merasa sebebas hari ini. “Donghae, pasti ia sudah pergi ke studio, ya sudahlah aku mandi saja dulu.” Hye Sun beranjak pergi menuju kamar mandi, entah apa yang akan ia lakukan setelah mandi nanti.


                                                                                     ---o0o---

Rumah Mino

“Masih marah pada appa?” Mino bertanya pada peri kecilnya yang sedang sibuk memasukan buku-bukunya ke dalam tas mungilnya.

“Anni.” Jawab Ye Eun dengan senyuman. “Ayo, appa kita pergi sarapan.” Ye Eun menarik tangan appanya, sepertinya Ye Eun sudah melupakan masalah yang kemarin. Senyuman bahagia tersungging di wajah Mino, inilah yang ia suka dari peri kecilnya. Ye Eun tidak pernah berlarut-larut marah pada seseorang. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya untuk melupakan semua masalah yang membuatnya kesal.
“Ne, kachaaaaaaa !” Mino dan Ye Eun pergi ke ruang makan dan siap untuk menyantap sarapan mereka.

                                                                                    ---o0o---

Studio

“Donghae-a bagaimana dengan interview Hye Sun kemarin? Apakah lancar?” Eun Hye bertanya pada Donghae sambil membersihkan kameranya.

“Ya, dia bilang semua lancar-lancar saja.” Jawab Donghae dengan senyum.

“Ooo” Eun Hye mengiyakan. “Hei, Lee Donghae apakah kau masih menyimpan perasaan pada Hye Sun.” Eun Hye mengeriyitkan alisnya. Entah apa yang membuat Eun Hye tiba-tiba bertanya seperti itu pada Donghae.

“Ne?” Donghae kaget. “Mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Donghae pada Eun Hye.

“Tidak, aku ingin tau saja.” Jawab Eun Hye singkat.

“Ooo” Donghae mengangguk. “Ya, dia selalu ada di tempat yang special di hatiku.” Jawab Donghae sambil membayangkan wajah manisnya Hye Sun.

“Lalu mengapa kau tidak mengungkapkan perasaan mu padanya?” Eun Hye mulai mengorek informasi dari Donghae.

“Na ddo molla” Donghae mengangkat bahunya. “Entah apa itu, ada sesuatu yang membuatku tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Entah mengapa aku merasa aku tidak pantas untuknya, dan aku lebih senang melihatnya hidup sebagai Goo Hye Sun sahabat terbaikku daripada Goo Hye Sun sebagai kekasihku.” Jawab Donghae dengan menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong.

“Benarkah?” Eun Hye memiringkan kepalanya. “Mengapa bisa seperti itu?”

“Entahlah, aku juga tidak tau.” Jawab Donghae tidak peduli.

“Lalu sekarang apa yang ingin kau lakukan untuknya?” Tanya Eun Hye lagi.

“Selalu menjaganya, dan aku akan berusaha untuk membuatnya selalu tersenyum.” Jawab Donghae lagi-lagi dengan senyuman dengan tatapan kosong.

“Mmmm..” Eun Hye mengangguk mengerti.

                                                                                          ---o0o---

Setelah setengah jam lalu mengantar peri kecilnya pergi ke sekolah, sekarang Mino sudah sampai di kantornya. Senyum manisnya selalu melekat di wajah tampannya.

“Hyung kau terlihat sangat bahagia pagi ini. Ada apa denganmu?” Hyun Jin ikut tersenyum melihat calon kakak iparnya terlihat begitu bahagia pagi ini.

“Haha, bisa saja kau. Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa lebih senang saja hari ini.” Jawab Mino dengan senyum bahagianya.

“Ooo ku kira kau habis bertemu wanita cantik barusan.” Hyun Jin menggoda Mino.

“Auuussshh kau ini. Ya sudah aku masuk dulu.” Mino menepuk bahu Hyun Jin lalu pergi menuju ruangannya.

“Yaaa Hyung cakaman.” Hyun Jin berlari menghampiri Mino. “Bagaimana dengan Hye Sun photographer yang terpilih kemarin, apakah harus sekarang aku meneleponnya?” Hyun Jin baru ingat dengan hal ini.

“Mwo? Kau belum menelepon orang itu? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk meneleponnya kemarin?” Senyuman yang tadi menghiasi wajah Mino sekarang menghilang, ia sedikit kesal dengan Hyun Jin karena Hyun Jin belum juga menelepon Hye Sun untuk datang ke SMC hari ini.

“Mianhae Hyung, aku harus memastikan dulu kapan pastinya kau bisa menemuinya hari ini, daripada nanti Hye Sun harus menunggumu karena waktunya tidak pas dengan jadwalmu.” Hyun Jin menjelaskan alasannya pada Mino.

“Ooo, baiklah. Ya sudah sekarang cepat kau menghubunginya, katakan padanya untuk datang ke sini pukul 09.30” Alasan Hyun Jin benar juga, lalu Mino menlanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Sedangkan Hyun Jin kembali ke meja kerjanya dan menelepon Hye Sun.

“Yeoboseyo..” Terdengar suara Hyun Jin dari ponsel Hye Sun.

“Ne, nuguseyo.” Tanya Hye Sun.

“Oo, aku Lee Hyun Jin dari Seoul Magazine Center. Apakah benar kau Goo Hye Sun?” Jawab Hyun Jin lalu kembali bertanya pada Hye Sun.

“Ya benar aku Goo Hye Sun. Seoul Magazine Center? Ada apa anda meneleponku?” Hye Sun tidak percaya kalau ia akan mendapat telepon dari SMC.

“Ada kabar baik untukmu. Kau diterima bekerja di SMC.” Hyun Jin ikut merasa senang memberitahu kabar ini pada Hye Sun.

“Ne? Joungmalyo?” Tanya Hye Sun tidak percaya, ini seperti mimpi baginya.

“Ya, untuk membuktikannya kau harus datang ke kantor kami hari ini pukul 09.30.” Perintah Hyun Jin pada Hye Sun.

“Baiklah aku segera ke sana. Joungmal gomaweo.” Hye Sun membungkukan dirinya, lalu segera bersiap-siap untuk pergi ke SMC.

Entah apa yang masuk dalam mimpi Hye Sun semalam, sampai-sampai ia mendapat kabar sebahagia ini.
 
“Bibi, iya dia harus tau tentang kabar baik ini.” Kata Hye Sun semangat. Tanpa basa-basi lagi ia langsung mencari nomor ponsel bibinya di dalam ponselnya.

“Hye Sun” Setelah melihat tulisan itu bibi Hye Sun langsung mengangkat teleponnya. “Ssssu..” baru saja bibi Hye Sun ingin memanggil Hye Sun tetapi sudah terdengar teriakan keras dari seberang sana. “Bibiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..” Hye Sun berteriak memanggil bibinya dengan raut wajah yang terlihat sangat semangat. Mendengar teriakan keponakannya yang luar biasa kencangnya itu bibi Hye Sun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
 
“Yaaaaaaa Sun-a waegude? Neo gwenchana?” Tanya bibi Hye Sun kaget ia menjadi sedikit khawatir mendengar teriakan keponakannya tadi, ia takut terjadi sesuatu pada keponakannya.
 
“Gwenchana bibi-a, aku punya kabar baik untukmu.” Senyum bahagia terukir di wajah Hye Sun.
 
“Kabar bahagia? Apakah begitu bahagianya kabar itu sampai-sampai kau berteriak seperti tadi?” Bibi Hye Sun terkejut, ia kira tadi adalah teriakan musibah, tetapi ternyata itu teriakan kebahagiaan seorang Goo Hye Sun.

“Hahahaha, apakah teriakan ku sangat membuatmu kaget bi? Ya sudah lupakan saja teriakan ku tadi, sekarang aku ingin memberitahu kabar baiknya padamu.” Kata Hye Sun sambil menarik nafasnya, ia terlihat sangat bahagia sampai-sampai ia bingung ingin mulai darimana ia memberitahu kabar bahagia ini.

“Yaaaa Sun-a cepat beritahu, jangan buat bibi penasaran seperti ini.” Bibi Hye Sun dibuat penasaran oleh Hye Sun yang sedari tadi hanya mengatakan akan dan akan memberitahu kabar itu padanya, tapi tidak juga kabar itu keluar dari mulut Hye Sun.
 
“Baiklah bi, sepertinya aku terlalu berlebihan. Ehmmm..ehmmmm..” Hye Sun bersiap-siap untuk mengatakan kabar ini.

“Akuuuuuuuuuuuuuu diterima bekerja di Seoul Magazine Center biiiiiiiiiiiiiiiiii..” Lagi-lagi teriakan super kencang itu keluar dari mulut Hye Sun.

“MWOOOOOOOO? Joungmalyo? Mengapa kau tidak mengatakannya daritadi Sun-a.” Bibi Hye Sun juga terlihat sangat bahagia, teriakan super kencang Hye Sun yang kedua tadi tidak dipedulikan olehnya, terkejut, terharu, dan bahagia pastinya itu yang bibi Hye Sun sekarang. Ia merasa berhasil menjaga dan merawat Hye Sun selama ini. Yang diinginkan Hye Sun selama ini sudah ia dapatkan sekarang, dan sekarang Hye Sun mempunyai tanggung jawab untuk menjaga apa yang ia dapatkan dan menjaga kebahagiaannya untuk ke depannya nanti. Semoga tuhan selalu menjaganya dan memberikan kebahagiaan untuknya, itulah doa bibi Hye Sun.

“Ne, bi. Aku harus ke Seoul Magazine Center sebentar lagi. Aku tutup ya teleponnya aku harus bersiap-siap. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku bi, jagalah kesehatanmu. Saranghae.” Dengan senyuman yang sejak tadi tidak lepas dari wajah Hye Sun, Hye Sun menutup teleponnya. Hatinya sungguh bahagia sekarang, semoga ini awal yang baik untuk Hye Sun memulai hidup di kota yang besar, jauh dari keluarganya, dan sebentar lagi ia akan benar-benar hidup seorang diri. Karena sekarang Hye Sun sudah diterima bekerja dan kembali pada kebutuhan awal, Hye Sun harus mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan SMC, dan ia juga sudah menyuruh Donghae untuk tetap di sini dan membiarkan dirinya pergi mencari tempat tinggal berpisah dengan Donghae.

Setelah semua siap, Hye Sun segera meluncur menuju SMC. Dengan wajah yang terlihat sangat bahagia dan jantungnya yang terasa berdegup lebih kencang Hye Sun melewati perjalanannya menuju SMC. Senyuman bahagia seorang Goo Hye Sun tidak pernah lepas dari wajahnya.

Setelah 30 menit lebih akhirnya Hye Sun sampai di SMC. Perlahan tapi pasti kaki mungil itu melangkah ke dalam SMC.  Tersenyum dan tersenyum hanya itu yang Hye Sun lakukan sejak tadi, ia terlihat sangat bahagia. Sampailah ia sekarang di lantai dua, lalu Hye Sun mencari meja kerja seorang Lee Hyun Jin. Setelah berputar-putar di beberapa ruangan akhirnya ia menemukannya juga, dan terlihat seorang Lee Hyun Jin sedang berbicara dengan seorang model cantik yang sudah tidak asing lagi di matanya.

“Annyeonghaseyo.” Hye Sun membungkuk memberi salam.

“Ne, annyeonghaseyo.” Hyun Jin dan Hyorim berdiri membalas salam Hye Sun.

“Oh, kau Goo Hye Sun ya.” Hyun Jin keluar dari meja kerjanya dan menghampiri Hye Sun.

“Ne.” Hye Sun menganggukan kepalanya. “Baiklah kau ikut aku sekarang, atasan ku ingin menemuimu.” Perintah Hyun Jin pada Hye Sun untuk mengikutinya. “Hyorim-a tunggu sebentar aku harus mengantar Hye Sun ke ruangan Mino hyung.” Hyun Jin pamit pada Hyorim. “Ne..” Hyorim menganngguk lalu kembali duduk di kursinya dan memberi senyum manisnya pada Hye Sun. setelah membungkukan dirinya pada Hyorim lalu Hye Sun mengikuti Hyun Jin dari belakang menuju ruangan Mino.

“Tok..tokk…ttoookk..” terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangan Mino.

“Ne, masuklah.” Mino mengizinkan orang itu masuk.

“Ckleeekkk..” Hyun Jin masuk ke ruangan Mino terlebih dahulu tanpa Hye Sun.

“Hyung, Goo Hye Sun sudah ada di sini. Apakah kau ingin bertemu dengannya sekarang?” Hyun Jin bertanya pada Mino yang sedang serius menandatangani beberapa berkas-berkasnya.

“Tentu saja. Suruh dia masuk ke ruanganku.” Mino menyuruh Hyun Jin untuk menyuruh Hye Sun masuk ke ruangannya.

“Baiklah.” Hyun Jin kembali keluar memanggil Hye Sun. “Masuklah” Hyun Jin menyuruh Hye Sun masuk. “Ne” Hye Sun mengangguk lalu menuruti perintah Hyun Jin dengan hati yang deg-degan.

“Hyung ini Goo Hye Sun, Hye Sun ini Lee Min Ho atasan ku dan akan menjadi atasanmu juga mulai sekarang.” Hyun Jin memperkenalkan keduanya.

“Ne, aaa..aaann..MWO?” Mata Hye Sun terbelalak lebar. Ia tidak percaya dengan siapa yang ia tatap di depannya yang akan menjadi atasannya nanti.

“KA..KAAA….KAUUUUUUUUUUUU !” Mata Mino tidak kalah besar terbelalak. Ia langsung berdiri dari duduknya. Sedangkan Hyun Jin hanya diam dalam kebingungan.

“Waegudae? Apakah kalian sudah saling mengenal?” Hyun Jin bertanya pada Mino dan Hye Sun.

“OMO.. aku tidak percaya ini. Kau Goo Hye Sun? Hyun Jin-a apakah kau tidak salah orang?” Mino masih tidak percaya, ia bertanya pada Hyun Jin untuk memastikan kalau Hyun Jin tidak salah orang.

“Tssssssssshhhhh..” Hye Sun menghempaskan wajahnya.

“Tentu saja tidak hyung. Ini di Goo Hye Sun, photographer yang kita pilih kemarin.” Jawab Hyun Jin memastikan.

“Baiklah kau boleh keluar. Aku ingin bicara dengannya.” Sambil menghembuskan nafasnya Mino menyuruh Hyun Jin keluar.

“Baik hyung.” Sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi diantara Mino dan Hye Sun, Hyun Jin beranjak keluar.

“Fuuuusshhhh..” Mino menghembuskan nafasnya lagi. “Duduklah.” Mino menyuruh Hye Sun untuk duduk yang sedari tadi nampak pasrah dan diam saja. “Ne..” Hye Sun duduk tepat di depan Mino hanya meja kerja Mino yang memisahkan jarak diantara mereka.

“Ternyata kau Goo Hye Sun.” Mino menyapa Hye Sun dengan kata-kata itu.

“Ne.” Hye Sun hanya mengangguk dan menundukan kepalanya. Ia tidak habis pikir mengapa sudah tiga hari ia berada di Seoul selalu bertemu dengan pria yang ada di depannya sekarang.

“Hahaha.. apa kau salah makan tadi pagi?” Mino menggoda Hye Sun.

“Apa maksudmu?” Hye Sun bertanya pada Mino dengan sabar, Mino akan menjadi atasannya mulai sekarang, jadi ia harus bisa menahan dirinya untuk tidak kesal pada Mino.

“Kau tidak mengerti? Jika saja saya bertemu denganmu waktu itu dengan sikapmu yang seperti ini, sepertinya saya akan jatuh hati padamu.” Senyman jahil tampak di wajah Mino.

“Sudahlah Mino-ssi, sekarang katakan apa yang harus ku kerjakan hari ini aku tidak ingin membuang waktuku hanya dengan membicarakan hal yang tidak penting.” Kekesalan sudah merajai Hye Sun sekarang, tetapi ia tetap mencoba untuk sabar.

“Baiklah, ikut aku.” Mino berdiri dari duduknya, lalu mengajak Hye Sun keluar dari ruangannya. Hye Sun tampak mengikuti Mino dari belakang.

“Hyun Jin-a.” Mino memanggil Hyun Jin saat ia dan Hye Sun sudah keluar dari ruangannya.

“Ne, hyung. Waegudae?” Hyun Jin langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Mino dan Hye Sun.

“Tolong antarkan Hye Sun berkeliling melihat suasana di kantor ini. Lalu tunjukan juga meja kerjanya.” Setelah mengatakan semua perintahnya pada Hyun Jin, tanpa basa-basi dan tanpa melirik ke wajah Hye Sun sedikitpun langkah Mino langsung berbalik kembali menuju ruangannya.

“Baiklah hyung.” Hyun Jin dan Hye Sun membungkukan badannya saat Mino sudah berbalik menuju ruangannya.

“Hye Sun-ssi silahkan.” Hyun Jin mempersilahkan Hye Sun berjalan lebih dulu.

“Ooo.. baiklah.” Tanpa basa-basi lagi Hye Sun dan Hyun Jin berkeliling melihat suasana di SMC.

“Ke mana Hyorim onnie?” Hye Sun bertanya pada Hyun Jin saat mereka mulai berjalan mengelilingi SMC.

“Hyorim? Ooo, dia baru saja pergi. Dia ada pemotretan hari ini. Wae?” Hyun Jin kembali bertanya pada Hye Sun.

“Anniyo.. Sepertinya kau mempunyai hubungan khusus dengannya.” Hye Sun melirik ke arah Hyun Jin sambil tetap meneruskan langkahnya mengikuti Hyun Jin.

“Ne? ah kau ingin tahu saja urusan orang lain.” Jawab Hyun Jin sedikit kaget.

“Hahaha, wajahmu memerah berarti benar apa kataku.” Hye Sun menggoda Hyun Jin. Mereka berdua terlihat akrab satu sama lain, walaupun baru kali ini mereka bertemu.

“Yaaaa.. kau ini ! Sudah jangan menggodaku lagi, dan sekarang cepat aku akan menunjukan meja kerjamu.” Hyun Jin langsung berlalu jalan mendahului Hye Sun.

“Arasso” Hye Sun mengangguk lalu berjalan mengejar Hyun Jin.

“Ini meja kerjamu.” Hyun Jin menunjukkan meja kerja Hye Sun yang berada tepat di depan meja kerjanya.

“Di sini?” tanya Hye Sun. “Cukup nyaman.” Lanjutnya.

“Oke, selamat bekerja Hye Sun-ssi. Jika butuh sesuatu katakanlah padaku.” Hyun Jin menepuk pundak Hye Sun lalu kembali ke meja kerjanya.

“Ne, Gomawo Hyun Jin-ssi..” Hye Sun membungkukkan badannya, lalu ia menghampiri meja kerjanya.

“Goo Hye Sun, bekerjalah yang baik. Kau harus menunjukkan pada semua orang kalau kau memang pantas bekerja di sini.”  Hye Sun bicara dalam hati.

                                                                                         ---o0o---

Pukul 11.30

“Di mana Hye Sun?” Min Ho bertanya pada Hyun Jin yang sedang merapihkan berkas-berkas di mejanya.

“Hye Sun? Dia di studio, sedang melakukan pemotretan untuk majalah edisi minggu depan.” Jelas Hyun Jin pada Min Ho.

“Hmm, arasso.” Setelah mengatakan itu Min Ho langsung berlalu pergi.

“STUDIO” begitulah tulisan yang tertera di atas pintu yang Min Ho lewati. Niatnya ingin langsung pergi ke sebuah restoran untuk makan mengisi perutnya, tetapi setelah membaca tulisan itu, tiba-tiba ia berhenti. Sejenak terlintas perkataan Hyun “Hye Sun? Dia di studio” lalu ia miringkan kepalanya.

“Apa salahnya jika aku masuk, katakan saja kalau aku ingin melihat pekerjaannya.” Min Ho berkata dengan berbisik pelan, lalu dibukanya pintu studio itu.

Terlihat gadis cantik sedang memotret seorang model di depannya. Hye Sun tidak mengetahui keberadaan Min Ho. Perlahan tapi pasti kaki jenjang Min Ho semakin lama semakin mendekat pada Hye Sun. Lalu Min Ho duduk di satu kursi yang letaknya sangat pas untuk melihat wajah cantik Hye Sun ketika ia sedang memotret. “Cantik.” Katanya dalam hati. “Haha, apakah aku jatuh cinta padanya?” Tatapan cinta itu tampak pada wajah Min Ho. “Mungkin IYA!!” Ya. Hati seorang Lee Min Ho mengakui itu. Mengakui kalau ia telah jatuh cinta pada seorang Goo Hye Sun yang selalu membuatnya marah. Semua orang di dalam studio terlihat bingung melihat apa yang sedang Min Ho lakukan, tetapi Hye Sun masih saja asik dalam pekerjaannya.

Min Ho mulai berdiri dari duduknya “Hye Sun-ssi.” Min Ho memanggil Hye Sun.

“Ne.” Hye Sun menengokan kepalanya mencari dari mana suara itu berasal. “Kau..” Hye Sun tampak terkejut saat ia melihat siapa yang memanggilnya. “Ada apa?” Tanya Hye Sun pada Min Ho.

“Sekarang waktunya makan siang. Mengapa kau masih saja asik dengan kameramu?” Min Ho berkata pada Hye Sun sambil menunjuk kearah jam yang berada di atas pintu bermaksud memberi tahu Hye Sun jam berapa sekarang.

“Hahaha, kau mengkhawatirkan ku?” Hye Sun tertawa menggoda Min Ho. Lalu ia mulai membereskan semua alat-alat pemotretan yang ia pakai tadi.

“Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku mengkhawatirkan para model yang kau ambil waktu makan siangnya untuk memaksakan pemotretan ini selesai.” *Min Ho ngeles*

“Tsssshhhh. Sudahlah kau pergi saja sana, lagipula pemotretan juga sudah selesai. Dan semua model akan segera makan siang. PUAS?!” Hye Sun tampak kesal

“YAAAAA beraninya kau mengusir atasanmu.” Min Ho berteriak kesal pada Hye Sun.

“Aaaa iya iya kau atasanku.” Kata Hye Sun pasrah. “Baiklah. Mianhaeyo Tuan Lee.” Hye Sun minta maaf pada Min Ho dan membungkukan tubuhnya lalu ia langsung beranjak pergi.

“Mmmpphh..” Min Ho tersenyum puas.

                                                                                           ---o0o---

Tidak terlintas dalam pikiran Hye Sun sedikitpun, kalau di dekat sebuah gedung yang besar terdapat taman bermain yang dipenuhi anak-anak kecil yang lucu.

Ya, Hye Sun menghabiskan waktu makan siangnya di sana, di taman bermain itu. Dia selalu sibuk dengan kameranya, memotret semua yang terjadi di sekitarnya. Terlihat sekumpulan anak perempuan cantik di depan sebuah ayunan. Hye Sun beranjak mendekati mereka untuk memotretnya.

“Kau itu anak yang tidak punya ibu. Jadi kau tidak pantas bermain dengan kami. PERGI SANA!” Hye Sun pun kaget melihat anak sekecil mereka mengatakan hal seperti itu. Dan terlihat gadis mungil yang sedang menangis karena perkataan itu.

“Yaaaa, apa yang kalian lakukan?” Hye Sun mendekati gadis kecil yang menangis, lalu memeluknya.

“Gwenchana?” tanyanya pada gadis itu. “Mmm..” gadis itu menjawab dalam isak tangisnya.

“Yaaa kalian, minta maaf.” Hye Sun menyuruh para anak kecil tadi untuk minta maaf.

“Tidak mau! Biarkan saja dia menangis, memang itu kenyataannya. Weeee.” Anak-anak itu memeletkan lidahnya pada Hye Sun dan gadis kecil yang masih menangis, lalu berlari meninggalkan mereka tanpa kata maaf.

“Yaaa Yaaaaaaa kaliaaaaaaaaaaaaannn!!!!!!!!!!” Hye Sun tampak sangat kesal. Bagaimana bisa anak sekecil mereka menindas temannya seperti ini.

“Gadis kecil, kau tidak apa?” Tanya Hye Sun khawatir pada gadis itu.

“Mmm, aku gapapa.” Jawab gadis kecil itu dengan senyum manisnya dan tangannya mulai menyeka air matanya.

“Di mana rumahmu? Biar aku antar pulang.” Hye Sun mengelus pipi gadis itu dengan lembut.

“…….” Gadis kecil itu tidak menjawab pertanyaan Hye Sun.

“Emm? Kenapa kau tidak menjawabku? Kau tidak ingin pulang?” Sejenak Hye Sun melirik jam tangannya. “Aku masih punya waktu 15 menit lagi, ingin makan kue beras denganku?”

“Mmm..” Gadis kecil itu mengangguk.

“Okee! Kachaaaaaaa..” Hye Sun menarik tangan gadis itu lalu berlari bersamanya.

                                                                                    ---o0o---

“Aiiisssshh Min Ho! Kenapa di harus ada di depan meja kerjaku? Alasan apa yang harus ku katakan padanya?” Kata Hye Sun kesal dalam hati. Dia terlihat terengah-engah seperti habis dikejar anjing.

“Dari mana saja kau?” Tanya Min Ho singkat dengan wajah marahnya.

“Seosonghamnida Min Ho-ssi, tadi aku ada urusan mendadak.” Wajah Hye Sun terlihat takut, ia takut kalau Min Ho benar-benar marah.

“URUSAN APA? Tadi itu waktu makan siang, bukan waktu untuk mengurusi urusan lain.” Min Ho benar-benar tampak kesal. Bagaimana bisa Hye Sun telat seperti ini di hari pertamanya bekerja, seharusnya ia menunjukkan citra baiknya pada Min Ho.

“Min Ho-ssi aku sudah minta maaf tadi. Masih kurangkah?” Hye Sun sedikit mengadahkan kepalanya pada Min Ho.

“Hyung, sudahlah biarkan Hye Sun duduk. Mungkin urusan mendadak tadi memang penting untuk Hye Sun, sudahlah kau kembali bekerja sana.” Hyun Jin yang sedari hanya diam di balik meja kerjanya, tiba-tiba ia membela Hye Sun.

“Hhhhh..” Min Ho menghela nafasnya. “Baiklah. Kau boleh kembali bekerja Hye Sun-ssi. Tapi ingat jangan kau ulangi peristiwa seperti ini lagi. Arasso?” Akhirnya Min Ho membolehkan Hye Sun untuk kembali bekerja, dan ia menekankan pada Hye Sun untuk tidak mengulanginya lagi.

“Ne, arasso. Gomapseumnida Min Ho-ssi.” Hye Sun membungkukan tubuhnya lalu duduk di kursinya. Dan Hyun Jin hanya tersenyum melihat Min Ho dan Hye Sun.

“Namaku Ye Eun, Lee Ye Eun. Appa bilang padaku kalau eomma telah meninggal saat melahirkanku, dan teman-temanku selalu mempermasalahkan hal itu.” Hye Sun tampak melamun memikirkan kata-kata itu.

Hye Sun POV

Gadis itu terlalu manis itu dicibir oleh teman-temannya. Wajahnya seperti malaikat, pasti kedua orang tuanya cantik dan tampan. Hhhhh apakah ia selamat sampai rumah? Tadi aku meninggalkannya begitu saja. Seharusnya tadi aku menelepon orang tuanya dulu untuk menjemputnya.

                                                                                      ---o0o---

Rumah Min Ho

“Appaaaaaaaaaaaaa..” Saat Min Ho baru saja membuka pintu kamar Ye Eun, Ye Eun langsung berlari menghampiri appanya, lalu memeluknya erat.

“Mmmm Ye Eun-a.” Min Ho mempererat pelukan mereka dengan senyum manis di wajahnya.

“Appa, kau harus menemui kakak cantik itu.” Ye Eun berkata disela-sela pelukan mereka.

“Kakak cantik? Nugu?” Min Ho tampak bingung dengan perkataan gadis kecilnya, lalu melepas pelukan mereka.

“Kemarilah.” Ye Eun menyuruh appanya duduk di tempat tidur bersamanya. “Tadi, saat aku bermain di taman ada seorang kakak cantik menolongku.” Ye Eun mulai menceritakan kejadian tadi siang pada Appanya.

“Menolongmu? Apa yang terjadi padamu sampai ia harus menolongmu?” Min Ho tampak khawatir.

“Kakak cantik itu menolongku saat teman-temanku mencibirku.” Ye Eun menatap Appanya dengan tatapan sendu.

“Mencibirmu?” tanya Min Ho kaget.

“Mmm..” Ye Eun mengangguk kecil. “Sudahlah lupakan saja masalah cibir-mencibir itu, sekarang yang penting adalah aku mau kau bertemu dengan kakak cantik yang menolongku.” Ye Eun kembali tersenyum dan ia ingin sekali Appanya bertemu dengan kakak cantik yang menolongnya.

“Haruskah? Kau mencoba menjodohkanku padanya?” Min Ho tersenyum dan memegang kedua pipi gadis kecilnya.

“NEEEE!” Jawab Ye Eun semangat. “Besok datanglah ke taman bermain di dekat kantormu yaa Appa. Aku akan menunggumu di sana.” Sepertinya Ye Eun ingin sekali menjadikan kakak cantik itu sebagai Eomma keduanya.

“Baiklah jika itu yang kau inginkan. Tunggu Appa di sana saat makan siang yaa. Tapi Appa tidak janji akan menerima perjodohan itu.” Min Ho hanya tersenyum sejak tadi melihat kelakuan putri kecilnya.

“Bertemulah dulu dengannya, jika Appa tidak suka aku tidak akan memaksa Appa.” Ye Eun memegang tangan Appanya lalu kembali memeluknya erat.

“Arasso, sekarang tidurlah.” Min Ho melepas pelukan mereka, lalu menyelimuti Ye Eun di ranjangnya. Min Ho mengelus lembut kening Ye Eun. Lalu diciumnya kening itu saat Ye Eun sudah mulai tertidur. Dimatikannya lampu kamar Ye Eun lalu pergi meninggalkan Ye Eun menuju kamar tidurnya.

                                                                                         ---o0o---

Kamar Hye Sun

“Donghae-a datanglah ke taman bermain dekat kantorku besok, aku akan mentraktirmu kue beras.” Hye Sun berkata pada Donghae sambil merapihkan barang-barang yang harus ia bawa besok.

“Besok? Kenapa hanya kue beras?” Donghae menghentikan aktifitasnya lalu menatap ke arah Hye Sun.

“Yaaaaa masih untung kau ku traktir. Mau atau tidak?”

"Oke.. Oke.." Donghae mengangguk dengan senyum manis di wajahnya

"Oke.. aku menunggumu saat jam makan siang di sana." Hye Sun pun ikut tersenyum.

                                                                                   ---o0o---
[/color]



Yuhuuuuuuuuuu apa yang akan terjadi di taman bermain besok? tunggu di chapter selanjutnya ^^

9
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 1* 26 September 2010
« on: September 27, 2010, 02:03:38 am »
kak echyn.. iyeeee minsun blm tau nama mereka satu sama lain, makanye begono jadinyaaa..  [hmff] [hmff] eunhyuk kenape dibawa2 kak??  [what] wkwkwk..

kelinci_hilang .. LOL aku manggilnya siapa nih? moso` manggilnya kelinci?  [jumpy] [jumpy] tenang aja nanti ada yang membuat si ye eun pengen banget hye sun jadi ibu tirinya..  [biggrin]

mak yeemm.. iya nanti dibalikin lagi.. tapi gak tau deh nantinya kapan..  [what] [hmff]

shanty eonn.. baruuuuuuuu jujaaaaaaa update eonn..  [cry] udah minta lanjuut baee..  hammer2 [hmff]

10
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 1* 26 Oktober 2010
« on: September 26, 2010, 03:25:27 am »
yuhuuuuuuuuuuuuuuu akuuuuuuuuuuu dataaaaaaaaannnngg..  [clap] [clap] [clap] [clap]

mianhae semuanya aku lama update..  [heh] [heh] soalnya dokumen chapter 3 nya hilang, padahal sdh ada 10 halaman MS Word..  [cry] [cry]

di chapter 3 ini aku bikin banyak bagian minsun nya.. kebanyakan cast jadi bingung.. wkwkwk  [jumpy] [jumpy] *author gak bener*  [laughing] [laughing]

terus menurut aku chapter 3 ini kurang gimana gituuuuu.. jadi nanti chap 3 akan aku bikin 2 part..  [biggrin] [biggrin]

okeeee selamat membacaaaa..  [heh] [heh]


Chapter 3 Part 1


“KAAAAUUU SEDANG APA KAU DI SINI” Minho teriak kaget melihat sosok mungil Hye Sun di depannya.

“OMO!” Hye Sun tidak kalah terkejut saat ia melihat dada mino yang polos.

“Ada apa? Mengapa kau menutup wajahmu? Memang kau kira aku hantu?” Mino bertanya dengan polosnya, ia lupa bagaimana keadaan dadanya yg polos sekarang.

“Ke..kee..ke mana kemeja mu? Cepat pakai” Jawab Hye Sun gugup sambil menunjuk-nunjuk kearah Mino.

“OMO! OMO!” Kata Mino baru sadar, dan ia langsung menutup dada bidangnya dengan selimut putih yang menyelimuti kakinya. Lalu ia lanjut lagi bertanya pada Hye Sun.
 
“Heeyy, kau kah yang membuka kemeja ku?” Tanya Mino pada Hye Sun. Ia mengira kalau yang membuka kemejanya adalah Hye Sun.

“Hah? Enak sekali kau menuduhku sembarangan” Jawab Hyesun kaget dengan nada agak kesal.

“Lalu siapa lagi? Di dalam sini hanya ada aku dan kau? Mana mungkin hantu kamar ini yang membukanya.” Jawab Mino tidak percaya.

“Tsssshh” Hye Sun menghempaskan wajahnya kearah jendela. “Mungkin saja kau sendiri yang membukanya, karena semalam kau mabuk dan banyak keringat keluar dari tubuh mu atau mungkin karena semalam kerjaanmu hanya mengigau dan mengigau dan mungkin kau sedang bermimpi sesuatu hal yang “dewasa” makanya kau membuka kemejamu” Jawab Hye Sun dengan nada tidak kalah kesal.


Flashback

Terlihat tubuh jenjang seorang pria tampan yang penuh dengan keringat dingin di atas ranjang yang dilapisi seprai putih bersih. Ia terlihat sangat gelisah, di putarnya tubuh jenjangnya ke kiri dan ke kanan mencari posisi tidur yang nyaman. Wajahnya tampannya di penuhi dengan butiran-butiran bening yang terus mengalir.
 
“Omo.. mengapa panas sekali? Apakah AC nya tidak berfungsi?” Mino terbangun dari tidurnya masih dalam keadaan setengah sadar. Entah apa yang membuatnya kepanasan seperti ini, mungkin efek dari minuman keras tadi, ia terlalu banyak minum semalam.

“Akkkhhhh, kalau seperti ini aku benar-benar tidak bias tidur.” Mino mulai melepas satu per satu kancing kemejanya, ia tidak menyadari sosok mungil Hye Sun yang lelap tertidur di bawah sebelah ranjangnya.

“Aahh.. begini lebih baik.” Setelah melepas kemejanya dan merasa lebih baik Mino kembali tidur dan raut mukanya menunjukkan kalau Mino merasa lebih nyaman sekarang.

End Of Flashback


“Hai…kau masih sadar?” Tanya Hye Sun pada Mino yang sedari tadi diam mengingat apa yang terjadi semalam pada dirinya.

“Ohh, yaa..yaa…yaa.. aku ingat” Kata Mino gugup setelah tersadar dari lamunannya dan mengingat semuanya.

“Ingat? Sudah ingat apa yang kau lakukan semalam?” Tanya Hye Sun dengan wajah sedikit kesal.

“Yaa, aku ingat. Kau bisa pergi sekarang.” Mino menyuruh Hye Sun untuk pergi, dan ia mulai beranjak dari tempat tidur dan memakai kemejanya.

“Baiklah.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Hye Sun, lalu ia langsung beranjak pergi dari kamar Mino. Saat ia sudah sampai dekat pintu ia baru ingat sesuatu “Oh ya, mobilmu akan di antar oleh pelayan bar.”  Tapi sepertinya Mino tidak merespon apa yang dikatakan Hye Sun, ia terlihat sedang sibuk mencari sesuatu di saku jasnya.

“Di mana?” Mino bertanya pada Hye Sun.

“Apanya yang di mana? Mengapa kau bertanya seperti itu padaku?” Hye Sun tampak sangat bingung dengan pertanyaan Mino.

“Sudahlah kau tak perlu pura-pura tidak tau. Cepat kembalikan.” Mino mengulurkan tangannya menagih sesuatu pada Hye Sun.

“Mwo? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bi..” belum juga Hye Sun selesai, Mino langsung memotong “SUDAHLAH KEMBALIKAN CINCIN ITU” Mino berteriak saking kesalnya.

“Cincin?” Hye Sun menatap Mino dengan tatapan penuh dengan kebingungan.

“YA, CEPAT KEMBALIKAN ATAU KAU AKAN MATI” Kali ini wajah Mino benar-benar terlihat sangat marah dan nada suaranya juga terdengar sangat tinggi. Sepertinya cincin itu sangat berharga bagi Mino.

“MATI” Jawab Hye Sun yakin.
 
“Tsssshh” Mino menghempaskan wajahnya kea rah pintu, sambil menggeretakan giginya.

“Kenapa? Ayo bunuh aku ! lagipula apa yang harus ku kembalikan pada mu jika memang cincin itu tidak ada padaku.” Hye Sun benar-benar tampak sangat marah karena Mino seenaknya saja menuduhnya tanpa bukti.

“KAAAAAUUUU..BERANI-BERANINYA KAAUU..” Mino menunjuk ke arah Hye Sun.

“Apalagi?” Hye Sun mengadahkan kepalanya ke arah Mino. “Kau masih yakin kalau aku pencurinya? Hah? Baiklah, kalau begitu temui aku di restoran dekat Seoul Magazine Centre siang ini.” Setelah selesai mengatakan semuanya Hye Sun beranjak pergi dari kamar itu, pagi ini interview nya berlangsung, jadi tidak mungkin jika Hye Sun menyia-nyiakan waktunya hanya untuk berdebat dengan Mino.

“Tsssshh, gadis itu benar-benar akan ku tagih janjinya nanti.” Mino bicara pada dirinya sendiri sambil memakai pakaiannya dan merapikan barang-barangnya. “Tapi tunggu sebentar..” saat Mino sedang serius merapikan sema barang-barangnya tiba-tiba terlintas omongan Hye Sun barusan.
“Temui aku di restoran dekat Seoul Magazine Centre siang ini.”
 


“Seoul Magazine Centre? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di daerah kantor ku. Aahh entahlah kita lihat saja siapa dia sebenarnya nanti siang.” Setelah memikirkan oongan Hye Sun dan ia tidak juga menemukan jawabannya Mino kembali melanjutkan aktivitasnya, lalu setelah 10 menit semua telah rapi ia pergi meninggalkan kamar dan Mino memutuskan untuk langsung pergi menuju kantornya karena waktu menunjukkan pukul 7 lebih, jadi tidak mungkin jika ia pulang dulu.

---o0o---

Pukul 07.30 di Kamar Hye Sun

Setelah kurang dari 30 menit akhirnya Hye Sun sampai di kamarnya. Ternyata Namdong Hotel letaknya tidak begitu jauh dari hotel yang ditempatinya.

“Huh, untung saja hotel itu tidak jauh dari sini, jadi aku tidak banyak membuang waktu. Jam sembilan ya tinggal beberapa saat lagi interview dimulai sedangkan aku masih repot sendiri seperti ini. Aakkkhh ini semua karena pria sial itu.” Hye Sun menggerutu sendiri sambil merapikan semua barang-barang yang harus ia bawa untuk interview. Kalung yang diberikan bibinya tak pernah lepas dari leher jenjangnya sejak kemarin malam. Sekarang yang ia rasakan nervous sekaligus kesal. Ia masih kesal dengan kejadian dirinya dengan Mino tadi di Hotel, dan sekarang ia juga nervous akan menghadapi interview yang selama ini ia tunggu-tunggu.

“Ckleek” tiba-tiba pintu kamar Hye Sun terbuka.

“Omo.. kalian ini mengagetkan saja.” Kata Hye Sun kaget, ternyata yang membuka pintu kamarnya Donghae dan Eun Hye juga ikut bersamanya.

“Sun-a mengapa kau memakai baju itu? Kemana kemeja hitam yang kau beli kemarin?” Eun Hye heran melihat Hye Sun tidak memakai kemeja hitam yang Hye Sun beli kemarin, padahal ia terlihat sangat menyukai kemeja hitam itu kemarin.

“Oh, ini aku tadi buru-buru jadi ya sudahlah aku ambil saja pakaian yang ada di depan mataku, lagipula sudah tidak ada waktu lagi.” Tangannya masih sibuk dengan semua barang-barangnya tetapi mulutnya komat-kamit menjelaskan semua pada Eun Hye.

“Memangnya ke mana saja kau sejak pagi tadi? Ku telepon ponselmu juga tidak aktif.” Donghae bertanya pada Hye Sun.

“Sudahlah jangan bertanya terus, sekarang ayo kita berangkat.” Hye Sun sedikit kesal karena kedua temannya sejak tadi sibuk mengeluarkan pertanyaan untuknya. Dan sekarang semua sudah siap mereka siap berangkat.

“Anni tunggu sebentar.” Cegah Donghae. “Hari ini aku dan Eun Hye sudah mulai belerja di studio, jadi hari ini aku dan Eun Hye tidak bisa mengantarmu.”

“Ya, Sun-a mianhae kami tidak bisa mengantarmu, kau bisa pakai mobilku pagi ini.” Lanjut Eun Hye.

“Oh, baiklah jika begitu. Aku berangkat naik taksi saja, lagipula hari inikan hari pertama kalian bekerja jadi tak perlu mengkhawatirkan ku dan bekerjalah dengan baik. Ayo sekarang kita berangkat.” Hye Sun menolak tawaran Eun Hye, walaupun Eun Hye pernah mengatakan padanya kalau jarak antara SMC (Seoul Magazine Centre) jauh dari penginapannya tetapi Hye Sun tetap tidak ingin merepotkan Eun Hye, ia memutuskan naik taksi sendiri, lagipula dia juga belum terlalu hapal jalan menuju SMC.

Sekarang Hye Sun, Donghae, dan Eun Hye sudah menuju parkiran dan siap mengerjakan aktivitas mereka masing-masing
.

---o0o---

Seoul Magazine Centre pukul 08.30

“Hyung, semua sudah siap.”
 
“Oke, selamat bekerja mian hari ini saya tidak bisa membantu mu.”

“Oo, gwenchana hyung baiklah kalau begitu aku kembali bekerja.”

Saat Hyun Jin sudah membalikan badannya dan siap keluar dari ruangan Mino, Mino baru ingat di mana adiknya yang akan menjadi model pagi ini “Tunggu Hyun Jin-a di mana Hyorim?”

“Hyorim? Ooo dia sedang di make up di bawah, ada apa hyung? Perlu ku panggilkan dia?” Jawab Hyun Jin.

“Oh, tidak perlu ku kira dia belum datang. Ya sudah kembalilah bekerja, jika terjadi sesuatu cepat beritahu saya.” Mino mempersilahkan Hyun Jin kembali bekerja.

“Baik Hyung.” Hyun Jin membungkukan tubuhnya ke arah Mino lalu pergi meninggalkan Mino dan siap memulai interview.


---o0o---

Hye Sun POV

Akkkhh akhirnya aku sampai. Benar kata Eun Hye jarak antara SMC dengan hotel yang aku tempati sangatlah jauh. Sepertinya jika aku diterima di kantor ini aku harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan SMC.

Setelah aku turun dari taksi, langkah ku langsung tertarik untuk masuk dan mencari di mana ruang interview nya. Setelah bertanya pada salah seorang karyawan di dalam akhirnya aku menemukan ruang interview yang aku cari. Ku buka daun pintu yang menutup ruang interview ternyata sudah lumayan banyak orang di dalamnya.

Satu per satu peserta interview mulai memasuki ruangan. Semakin nervous saja aku sekarang. Ku lihat ada beberapa orang yang mengusap-usapkan telapak tangannya karena terlalu nervous, ada yang tiada henti mengipas-ngipas dirinya, dan ada juga yang sibuk mencoba kamera yang dia punya.

Setelah menunggu sekitar setengah jam sekaranglah saatnya giliranku. Keringat dingin semakin deras mengalir dari tubuhku.
 
Satu detik, dua detik, satu menit, dua menit.. hampir sekitar kurang dari satu jam aku berada di dalam ruang interview. Dan sekarang selesai sudah interview nya. Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, waktunya aku untuk makan siang. Kaki ku melangkah mencari sebuah restoran di dekat sini.

Dan tidak lebih dari 100 meter aku menemukan restoran yang aku cari. Setelah memesan semua makanan dan minuman yang aku inginkan pada seorang pelayan aku mengingat peristiwa tadi pagi dengan pria sial itu
. “Temui aku di restoran dekat Seoul Magazine Centre siang ini.” Ya itulah janjiku pada pria sial itu.

Tangan kananku membuka tas yang ada di atas meja. Ku ambil ponselku lalu mencari nomor si pria sial itu.

“Yeoboseyo.” Sapa ku padanya.

“Ne, yeoboseyo.” Balasnya padaku.

“Kau ada waktu sekarang? Jika iya, cepat temui aku di restoran dekat SMC.” Tanpa basa-basi lagi aku langsung menyuruhnya untuk segera ke sini.

“Ne?” Tanya Mino bingung.

“Kau ingat janjiku tadi pagi?” aku memperjelas perkataanku padanya.

“Janji?” Mino mengeriyitkan alisnya sambil berfikir. “Oh ya..ya.. baiklah aku segera menemimu.” Mino langsung memutuskan hubungan teleponnya denganku.


---o0o---

Restoran dekat SMC

“Hey kau.” Hye Sun memanggil Mino yang terlihat bingung mencarinya.

“Oh.” Mino mengangguk lalu menghampiri Hye Sun.

“Sudah kau temukan cincin itu?” Tanya Hye Sun pada Mino. Suara Hye Sun terdengar sangat halus, ia tidak ingin mencari masalah lagi sekarang.

“Sudahlah lupakan.” Jawab Mino pasrah. “Sekarang katakan apa maumu.”

“Ini.” Hye Sun menarik tangan Mino. Lalu diletakannya kalung pemberian bibinya di atas tangan Mino.

“Apa ini?” Tanya Mino bingung.

“Ini kalung pemberian bibi ku.” Kata Hye Sun dengan wajah sendu. “Ini untuk mengganti cincin mu yang hilang. Karena sepertinya aku lihat cincin itu sangat berharga bagimu.” Wajah Hye Sun terlihat makin sendu, sebenarnya ia ragu untuk memberika kalung itu pada Mino, hanya saja ia tidak nyaman dituduh seperti ini oleh Mino.
 
“Baiklah aku permisi.” Hye Sun berpamitan pergi meninggalkan Mino. Hye Sun sudah tidak kuat mengingat semua perkataan bibinya untuk menjaga dan jangan sampai menghilangkan kalung itu yang membuat ia ingin menjerit sekarang. Sedangkan Mino hanya diam dalam posisi duduknya, ia tidak menyangka kalau Hye Sun seorang gadis yang ia kenal bisa bersikap seperti ini. Lalu dilihatnya kalung yang Hye Sun berikan padanya. “M & H ?” Mino kaget melihat inisal nama yang terukir di kalung itu. Mino menaikkan bahunya tanda tak perduli lalu memasukan kalung pemberian Hye Sun ke dalam saku jas nya dan beranjak pergi meninggalkan restoran dan kembali bekerja.


---o0o---

Seoul Magazine Centre

Mino sudah berada di dalam ruangannya.
 
“tok..took..ttookkk.” Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan Mino. “Masuklah.” Mino mempersilahkan orang itu masuk.

“Hyung.” Ternyata itu adalah Hyun Jin. Hyun Jin terlihat membawa semua berkas hasil interview tadi siang. “Hyung, bisa kita mulai rapatnya sekarang?” Hyun Jin bertanya pada Mino.

“Ya baiklah, tunggu sebentar.” Mino membereskan mejanya, lalu pergi beranjak menuju ruang rapat bersama Hyun Jin. Mereka akan menentukan siapa yang akan menjadi photographer di SMC dari hasil interview tadi.

Satu menit..dua menit..satu jam.. hampir dua jam Mino dan Hyun Jin mencari seorang photographer yang akan bekerja di SMC. Dan mereka sangat tertarik oleh hasil gambar yang diambil oleh Hye Sun. dan mereka memutuskan Hye Sun menjadi salah satu photographer yang akan bekerja di SMC. Tetapi sepertinya Mino tidak terlalu memperhatikan identitas seorang Hye Sun yang akan bekerja nanti. Mungkin kalau Mino mengetahui Hye Sun adalah gadis yang selama ini membuatnya kesal Mino tidak ingin menerimanya di SMC. Tetapi sepertinya dewi keberuntungan sedang memihak pada Hye Sun.

“Hyun Jin-a suruh Hye Sun menemui saya besok.” Perintah Mino pada Hyun Jin.

“Besok? Bukankah kau mneyuruhnya lusa?” Tanya Hyun Jin bingung.

“Ya, tapi aku ingin cepat dia bekerja di sini, karena saya lihat dari hasil gambarnya sepertinya ia akan bekerja sangat baik di sini.” Jawab Mino.

“Oh oke, baiklah Hyung.”  Jawab Hyun Jin mantap. Lalu mereka kembali ke ruangan masing-masing dan kembali menyelesaikan pekejaan mereka.


---o0o---

“Ciiiittttt..” Mino menginjak rem mobilnya saat ia sudah sampai di depan rumahnya.

Mino merapihkan semua berkas yang ia letakan di atas kursi mobil di sampingnya. Saat ia sudah ingin membuka pintu mobilnya, kedua matanya melihat suatu benda yang sejak tadi dicarinya
.

“Tuan, semalam anda meninggalkan kotak cincin ini di bar.” Begitulah bunyi notes yang diletakan kotak cincin Mino yang hilang.

“Hah? Omo aku sudah menuduh gadis itu.”

“YA, CEPAT KEMBALIKAN ATAU KAU AKAN MATI” kata itu terngiang di telinganya.

“Kasihan gadis itu, dia sampai memberika kalung dari bibinya karena aku.” Kata Mino menyesal.

Lalu Mino keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.

“Ye Eun-a appa pulang..” Nama putri tercintanyalah yang pertama Mino sebut saat ia memasuki rumahnya.

“Oh, kau sudah pulang.” Omma Mino menyapanya.

“Ne, omma di mana Ye Eun?” Mino tidak melihat sosok peri kecilnya di setiap sudut ruangan.

“Oh, dia ada di kamarnya. Dia kesal karena kau tidak pulang tadi pagi.” Jawab omma Mino dengan nada sedikit khawatir.

“Benarkah? Baiklah omma aku ke atas dulu.” Mino langsung pergi menemui Ye Eun.

“Ckleeeeek” Mino membuka pintu kamar Ye Eun.

“Ye Eun-a” Mino memanggil Ye Eun yang terlihat sedang asik berkutat dengan tugas-tugasnya.

“Ooo appa.” Ye Eun memandang wajah appanya sejenak lalu kembali meneruskan tugasnya.

“Kau marah pada appa Ye Eun-a?” Tanya Mino khawatir, ia mulai mendekati peri kecilnya.

“Anni-a sudahlah appa, aku sudah melupakannya.” Jawab Ye Eun sedikit ketus.

“Mi..” baru saja Mino ingin meminta maaf tetapi kata maafnya sudah dipotong oleh Ye Eun “Sudahlah appa, tak perlu minta maaf, Ye Eun tau kau sangat sibuk. Sampai-sampai tidak bisa melihat anaknya memakai baju pembeliannya.” Kata Ye Eun sedikit menyindir Mino.

“Mianhae Ye Eun-a. Appa tau kau pasti cantik sekali tadi pagi.” Mino sedikit menghibur Ye Eun.

“Aku bilang sudah appa. Lagipula bagaimana kau tau kalau aku cantik tadi pagi, jika kau saja tidak ada di sampingku appa.” Jawab Ye Eun dengan muka sendu. Ia tidak memandang wajah appa nya sedikit pun, matanya serius melihat huruf-huruf yang terdapat di bukunya.

“Apa yang harus appa lakukan agar kau tidak bersedih lagi?” Tanya Mino dengan nada menyesal.

“Tinggalkan Ye Eun sendiri appa.” Jawab Ye Eun singkat.

“Baiklah.” Tanpa berbasa-basi lagi Mino pergi beranjak meninggalkan Ye Eun sendiri.


---o0o---

Kamar Mino

“Akkkhhh, aku lelah hari ini.” Mino mengeluh lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.

“Sepertinya Ye Eun sangat marah padaku.” Kata Mino menyesali perbuatannya.
 
“Lagi, sekarang Min Jung sudah tidak penting untukku mengapa aku harus seperti ini karena dia. Mino-a kau pabo..pabo..” Mino memukul kepalanya, lalu langkahnya tergerak menuju meja kerjanya. Tangannya merogoh saku jasnya dan mengambil kalung yang di berikan Hye Sun. Dilihatnya dengan teliti kalung itu, lalu tangan Mino kembali merogah sesuatu dan ia mengambil kotak cincinnya yang sempat hilang itu. “Kasihan gadis itu..” Mino berkata pelan disela-sela keseriusannya membandingkan kedua benda itu.


“Sekarang saatnya kau untuk melupakan Min Jung, dan memulai hidup yang baru untuk Ye Eun.” Mino berkata dalam hati.

Lalu ia letakan kedua benda tadi ke dalam laci kerjanya. Wajahnya terlihat sangat stress, sepertinya jalan satu-satunya adalah ia harus
MELUPAKAN MIN JUNG si gadis sial itu.

---o0o---

“Donghae-a sepertinya aku harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan SMC jika aku diterima bekerja nanti.” Hye Sun bicara pada Donghae saat mereka sedang asik mengobrol.

“Waeyo? Apakah jarak dari sini ke SMC sangat jauh?” Tanya Donghae.

“Ne, setelah aku pergi ke SMC tadi ternyata jarak dari sini ke sana sangat jauh. Jadi aku piker lebih baik aku mencari tempat tinggal yang dekat dengan SMC.”

“Ooo baiklah aku akan ikut pindah bersamamu.” Kata Donghae ingin tetap menemani Hye Sun.

“Mwo?” Hye Sun kaget. “Tidak perlulahh.. percuma saja aku pindah jika begitu. Sudah kau diam saja di sini dan bantu Eun Hye mengurus studionya.” Hye Sun mencegah Donghae.

“Benar aku tak perlu ikut?” Tanya Donghae memastikan.

“Iya, kau tak perlu khawatir. Aku akan selalu memberi kabar nanti.” Jawab Hye Sun mantap.

“Baiklah. Oo ya bagaimana tadi interviewnya?”

“Ooo, tadi semua berjalan lancar.” Jawab Hye Sun dengan senyum manis di wajahnya.

“Baguslah jika begitu. Lalu apa yang harus kau lakukan selanjutnya?”

“Hmm, mereka bilang jika aku diterima mereka akan menghubungiku besok pagi.”

“Ooo..” Donghae menganggukan kepalanya. “Baiklah sekarang sudah malam, istirahatlah.” Donghae menyuruh Hye Sun untuk istirahat dan ia beranjak pergi menuju kamarnya.

“Ne, jal jayo Donghae-a” Hye Sun mengantar Donghae ke pintu kamar, lalu ia kembali masuk dan siap untuk memasauki alam mimpinya.

Hye Sun menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan siap menyambut hari esok dengan senyuman indah yang tersungging manis di wajah cantiknya
.

---o0o---

END OF CHAPTER

mohon komen semuanyaaaa..  [heh] [heh]

11
Mpiiiiiiiiiirrr !!!!
Headbreak!!!!!!!

Iya nanti aku update lima hari lagiiiiiiiiiiiiiiii :p weeeeeeeeeeekk

ikutan kak mpiiiiirrr aaaahhhh  [guns] [guns] [guns]  [laughing]

oiya aku mau tanya dong, yang tau kasih tau yaaaaa..caranya pake ava yang GIF gimana sih??  [heh]

12
jiaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh ney tega amir dirimu ini cuma spoiler doank [heh] wkwkwk ngebayangin tampang cengo appa hyesun waktu liat  [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] batal de mo ehm ehm ney tp bosen liat dikamar cari tempat laen ye lol [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

hiyaaaaaaaaaa, emang dirimu maunya di mana maakk..  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Kan emang ga niat begonoan sist :p tiba" suasana aja mendukung :p jd makluuum lupa kunci pintu :p hmphhh

wkwkwkwk.. nanti kalo appa nya hyesun wes balik, lanjoooott lagi ya kak ehm ehm nyaaaaa,,  [hmff] [jumpy]

13
hiyaaaaaaaaaaaaaaaaa.. appa mino rasakan ini...  [fighting] [hammer] [head break] hammer2 [hammer3]

hadoooooohh aye udin begini  [bav] [on] [love eyes] [drool] eehh si appa mengganggu..  [angry] [angry] [angry]

kasian kan anaknyee mau cetak gol gak jadi kan..  [rofl] [laughing]

ya weeeesss kak neiy lanjoooooott laaaahhh..  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

14
Regular Fanfic / Re: V-> peaCe?? No V-> is 'VIRGIN'
« on: September 13, 2010, 08:17:39 am »
tssssshh si mami kenape cm " [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] " doang mi komennya??? hahha

15
Regular Fanfic / Re: * he is my mine *last update today >,<
« on: September 13, 2010, 07:27:51 am »
gyaaaaaaaaaa kak neiy aku udh seneng2 td bilangnya ada hwat nya  [on] [on] [on] eeehh ternyata hwat nya sang malaikat sama jin iprit...  [angry] [angry] [angry] [angry] [angry] [angry] [angry] [angry] [angry]


Pages: [1] 2 3 ... 6