Modify Profile

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Freesia

Pages: [1] 2 3 ... 93
1
annyeong ......  [heh] [heh]
maaph sekian lama menelantarkan thread ini  [sweat] [heh]
i'm feeling blue with mh such a long time, now feel better !! Emoticons0425
i'l try continue this story...  [heh] [heh]
smogaa msiy ada yg inget  [jumpy]

gw coba replay post temen2 yang sudah comment di chapter 2
tapi belum gw re-reply :)
tengkiuuu! ^.*

2


mommm pindahh ke Minsun Dreamland pann ?? ---> http://www.callminsun.smfnew.com/index.php?topic=3151.0

Themee nya balik ke maroon ajaa lagi mommm, dikira imitated LI  [jumpy]
padahal nurut gw siyy gaa' lol, pan beda misi  [jumpy]

3
Minsun Dreamland / Re: Minsun is Back
« on: December 29, 2012, 12:42:10 pm »
sista.....smua tlong bntu qw cra ng'post fto n video gmna caranya..???
mhin bantuannya.....

Inoey
- untuk post photo : di-upload dulu ke tiny pic, photobucket atow image shack, no hotlink :)
di antara link insert img --> (di tags klik icon bawah Italic)
- untuk post Vid's : insert url di link Vid's yang akan di posting :)

smoga membantu, happy posting :)



4


SECRET RAINBOW
A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn & Itaraya
Green : Part 4


Sesaat Eros Kim terdiam menatap tubuh mungil Eryn yang mulai bergetar kencang di sudut tempat tidurnya. Pupil mata Eros Kim mengecil kala tampak sejuntai sobek gaun putih Eryn yang di tarik secara paksa, sontak lirik mata Eros Kim langsung mengarah tajam ke Ashly yang tertunduk lemah di sudut ruangan itu.

PLAK...

“Apa yang telah kau lakukan pada putriku?” ucap Eros Kim geram ke dua tangannya mencengkram kuat kerah baju Ashly, hingga membuat pemuda itu terdorong ke dinding.

“Sa.. saya tidak melakukan apa-apa om” ucapnya Ashly berkelit, tidak terima jawaban Ashly yang seadanya, hinga membuat Eros Kim makin naik pitam.
Dengan sangat kuat Eros Kim hempaskannya tubuh Ashly hingga pemuda itu tersungkur di lantai.

“Appa.. apa yang kau lakukan” sergah Joe mencengkram ke dua lengan Eros Kim yang akan mendekati ashly.

“Lepaskan” sentak Eros Kim keras, hinggga membuat Joe mundur selangkah. Dengan tampang emosinya Eros Kim menghampiri Ashly yang berusaha bangun dari keterpurukannya. Belum juga Ashly dapat berdiri sempurna, secara tiba-tiba dengan sangat kasarnya Eros Kim mendorong tubuh jangkung Ashly keluar dari kamar Eryn, hingga membuat tubuh Ashly terbentur ke dinding.

“Jika ku lihat lagi kau mendekati putriku... ku pastikan besok kau sudah tidak bernyawa lagi, arreso “ ancam Eros Kim, tangan kanannya memberikan perintah kepada dua bodyguard yang berdiri di ambang pintu kamar Eryn untuk mengusir Ashly dari kediaman Kim.


Dengan langkah lunglai Eros kembali memasuki kamar Eryn, dengan nafas terengah-engah di pandangnya nanar tubuh mungil Eryn yang masih bergetar akibat isakan tangisnya yang belum terhenti.

“Apa yang terjadi dengan nuna appa?” tanya Joe dengan tanpang bodohnya, namun tidak sedikitpun kalimat keluar dari mulut Eros, hanya lirikkan tajam dari sudut matanya hingga membuat Joe nyelonong begitu saja keluar dari kamar Eryn.

“Ern-ssi, putriku apa kau baik-baik saja?” tanya Eros Kim menghampiri Eryn, Gavin menggeser posisinya saat Eros Kim, bertelut di samping tempat tidur Eryn.

Eryn tidak mejawab pertanyaan Eros Kim, namun isak tangisnya kian mengencang kala diingatnya kejadian beberapa menit yang lalu. Pemuda yang di anggap paling baik, penyayang dan pendamping hidupnya kelak, tega melakukan pelecehan terhadap dirinya.

Perlahan Eros Kim meraih tangan Eryn, namun dengan cepat gadis bertubuh mungil itu menghempaskan tangan Eros Kim secara paksa. “Tinggalkan aku sendiri” bentak Eryn di sela-sela isak tangisnya, mendengar perkataan Eryn sontak membuat Eros Kim mengernyitkan dahinya

Gavin yang melihat hal itu hanya menarik nafas pelan, pemuda berwajah dingin ini tahu betapa hancurnya hati Eryn saat ini mengingat akan perlakuan Ashly.Tanpa di sadari kedua tangannya terkepal keras.

Ke dua tangan Eros Kim bersitumpuh di atas pembaringan Eryn, perlahan berdiri dengan kepala tertunduk dalam. Mata tajam Gavin sekilas melirik Eros Kim, jelas tampak raut kekecewaan di wajah Eros Kim, akan penolakan yang di terimanya dari Eryn.
“Baiklah, appa akan keluar jika itu bisa membuatmu tenang” ucap Eros Kim dengan hembusan nafas beratnya.

“Appa akan memerintahkan pelayan membantumu merapikan diri” ucap Eros Kim tanpa sedikitpun melihat ke Eryn. Langkah Eros Kim sedikit goyah, berat baginya jika harus membiarkan Eryn sendiri dalam kondisi terguncang. Dan Eros Kim tahu betul, ini semua akibat kesalahannya memaksa putrinya untuk bertunangan dengan Ashly.

“Gav” ujar Eros kim pelan, bahasa tubuh Eros Kim mengisyaratkan agar pemuda itu ikut keluar bersamanya.

Gavin mengamini maksud Eros Kim, tubuh jangkungnya berbalik menghadap Eryn, di tatapnya pilu Eryn yang masih setia mendekap tubuhnya dengan kedua kakinya, rasa ingin menjaga dan melindungi Eryn pupus kala hati nuraninya mengingatkan posisinya saat ini.
Hanya anggukkan kepala pelan dengan cepat Gavin membalikan tubuhnya, baru satu tapak kakinya melangkah, Gavin merasakan lilitan tangan mendekap pinggangnya hingga membuat langkahnya terhenti.

“Tidak... Gav, jangan tinggalkan aku sendiri” pekik Eryn, dekapan tangannya makin di perkencang di pinggang Gavin.
Eros Kim yang melihat adegan itu hanya mampu menggeleng lemah, langkah lebarnya menghampiri Eryn yang masih mendekap pinggang Gavin.

“Ern, appa akan suruh seseorang menemanimu” ucap Eros Kim sambil membelai lembut puncak kepala Eryn.

“Andwe... Gav, ku mohon temani aku” keluh Eryn sambil mendangakkan kepalanyanya berharap pemuda ini menuruti keinginannya, mata sembab Eryn menatap lekat wajah Gavin, namun pemuda bertampang dingin ini hanya diam mematung.

Dari sudut matanya Gavin sekilas melirik kearah Eros yang juga sedang menatapnya tajam, “sampai kapan kau akan membiarkan putrimu tersiksa seperti ini, Eros Kim” guman Gavin lirih. Sesaat kemudian Gavin menglihkan pandangannya ke Eryn, untuk sesaat mereka saling menatap.“Main” ucap Gavin pelan perlahan tangannya melepasakan dekapan tangan Eryn dari pinggangnya, dan berlalu begitu saja dari pandangan Eryn tanpa isakan tangis Eryn.

"Gavin..." pakik Eryn dengan isak tangisnya yang makin kencang.

Langkah Gavin terhenti tepat di bibir pintu kala pekikan Eryn menusuk kalbunya, rahangnya terkatup kencang dan kedua tangannya terkepal semakin kuat di saku celananya. Ingin rasanya dia memberontak terhadap Eros Kim, namun niat itu di urungkannya.

Untuk kesekian kalinya Eros Kim hanya mampu menggeleng lemah, tidak di sangka begitu besarnyakah pengaruh Gavin dalam diri Eryn. Demi membut Eryn tenang, dengan berat hati Eros Kim menghampiri Gavin yang masih terdiam di bibir pintu.

“Untuk saat ini kau boleh menemaninya, hingga Eryn merasa tenang. Hanya untuk saat ini saja Gav, tidak lebih” ujar Eros Kim dengan penuh wibawa di sertai seringai liciknya menatap Gavin hinggga berlalu dari ruangan tersebut.

“Agashi” ucapnya sangat teramat pelan, entah apa Eryn mendengar ucapannya atau tidak namun pandangan matanya tidak lepas dari seonggok tubuh Eryn yang masih bergetar pelan.

“Gav” seru Eryn dengan cepat tubuh mungilnya berada dalam mendekap tubuh atletis Gavin, hampir 20 menit lamanya Eryn mendekap tubuh Gavin hingga dirinya tertidur di dalam dekapan pemuda itu.

Dengan pelan Gavin membaringkan tubuh Eryn di pembaringan, sangat lembut Gavin menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi putih Eryn. Ada seulas senyum tipis terpampang di wajah Gavin, entah apa maksud dari pemuda yang jarang mengumbar senyum ini. Nmun hatinya bahagia, gadis di hadapannya saat ini adalah gadis yang bebas tanpa ikatan apapun dan dengan siapapun.

Entah karna rasa bahagianya reflek Gavin mengecup dahi Eryn, dengan susah payah Gavin menelan air liurnya kala mata elangnya berpapasan dengan bibir mungil Eryn.
Sebuah cekupan lembut mendarat tepat di bibir Eryn, perlahan Gavin memejamkan matanya saat pautan bibirnya melumat pelan bibir bawah Eryn, hanya sesaat saja karna apa yang di lakukannya saat ini adalah sebuah tindakan yang di luar kendalinya.

____@@____

Pagi nan cerah kala sang surya perlahan mulai nenunjukan kekuasaannya terhadap mahkluk bumi, Kicauan burung silih berganti mengawali Pagi hari yang indah di awal musim panas di kota Seoul.

Seminggu sejak kejadian yang memalukan yang menimpa dirinya, Eryn lebih banyak menghabis waktunya mengurung diri di kamar . Selagi lampu hijau dari Eros Kim masih menyala dengan senang tiasa Gavin menemani Eryn, dan Gavin selalu menjadi orang yang pertama di lihat Eryn saat dirinya terbangun dari tidur.

Namun tidak untuk pagi ini, saat panca indranya dengan susah payah di bukannya untuk mencari sosok jangkung itu. Reflek tubuh Eryn terduduk di pembaringan, di pertajam penglihatannya untuk mencari sosok itu tapi tidak di jumpainya.

Dengan sigap Eryn berlari ke arah pintu kamar berharap secret rainbownya ada di luar sana, pupus sudah harapan saat mata bulatnya bersitubruk dengan dua sosok pria berbadan besar yang berdiri tegak menghadap ke pintu kamarnya.

“Annyeong agashi” sapa dari salah satu bodyguard itu.
Eryn hanya mengaguk pelan menjawab sapaan itu, matanya sibuk mencari sosok gavin di lorong yang menghubungkan setiap ruangan di lantai dua tersebut.

“Apa yang agashi cari?” tanya bodyguard berkepala plontos tersebut.

“Gavin, kau melihatnya? Tanya Eryn penuh selidik.

“Oh, pagi ini Tuan Joen ijin untuk menyelesaikan sesuatu!. Kami di tugaskan menjaga agashi selama tuan Joen pergi” jawab pengawal itu dengan lantang, mendengar penjelasan sang bodyguard Eryn hanya mampu tertunduk lemah.

Langkahnya di seret pelan menuruni tiap anak tangga, “Kenapa dia tidak memberi tahuku akan kepergiannya hari ini” ucap Eryn pelan.

“Tuan Kim dan tuan muda Jo sudah berangkat kerja, agashi” seru pria bertubuh gembul itu, kala di lihatnya Eryn melirik ke dalam ruang kerja Eros Kim.

“Siapa yang bertanya tentang mereka” ucap Eryn berkilah, seakan-akan pengawal itu tahu apa yang ada di pikiran Erny saat ini. Sambil memeletkan lidahnya Eryn melangkah ke arah pintu utama kim mainson, belum juga sempat tangannya meraih grendel pintu secara tiba-tiba pintu yang terbuat dari kayu mahoni tersebut di dombrak secara paksa, hingga membuat gadis tertubuh mungil tersebut terpelanting beberapa langkah.

Dengan gerakan yang sangat cepat sepeluh orang berpakaian hitam-hitam yang mengenakan penutup di wajah mereka memasuki kediaman Kim.

Dengan sangat mudah meringkus ke dua bodyguard yang tidak siap dengan serangan yang secara tiba-tiba itu, Eryn yang melihat kejadian yang menimpa ke dua bodyguard tersebut hanya mampu merepatkan dirinya ke dinding.
Tubuh mungilnya mulai gemetar, berharap para penyerang itu tidak mengincar dirinya, namun sial dua di antara penyerang tersebut berlahan mendekati dirinya.

Tanpa berpikir lama Eryn berlari ke arah tangga, namun naas bagi Eryn tubuh mungilnya sudah ada di dalam dekapan pria tersebut. Dengan sekuat tega Eryn meronta di dalam dekapan pria bercadar itu, takut aksi mereka tertangkap basah. Salah satu di antara penyerangan tersebut membekap mulut Eryn dengan sapu tangan yang sudah di bubuhi obat bius, dan dalam hitungan detik tubuh Eryn terkulai lemah di dalam dekapan penyerang itu.

Lain halnya dengan nasib ke dua bodyguard tersebut. Ke dua tangan, kaki dan tubuh mereka di ikat menjadi satu. Mulut mereka di sekap sehingga tidak dapat melakukan perlawanan lagi.
Salah satu penyerang tersebut memberikan aba-aba dengan menjentikan jarinya bahwa target sudah masuk dalam perangkap, secara cepat mereka keluar dari Kim mainson dengan membawa serta Eryn yang sudah terkulai pingsan.

Salah satu di antar penyerang itu menghampiri ke dua bodyguard Eros Kim, menyelipkan secari kertas di antara tubuh ke dua bodyguard yang terikat tersebut.

“Sampaikan ini pada tuan Joen, jika ingin melihat gadis itu hidup” perintahnya sambil memukul pelan pipi bodyguard berkepala plontos itu.

____@@____

Sang surya perlahan mulai menutup dirinya di balik awan-awan yang tebal, kala senja mulai beranjak naik di cakrawala.

Gavin melaju kendaraan dengan kecepatan penuh, perasaan hatinya gelisa untuk suatu hal yang dia juga tidak tahu apa penyebabnya. Hanya satu harapannya agar secepat mungkin tiba di kim mainson.

Dengan langkah lebar Gavin memasuki beranda Kim mainson, alisnya terkernyit saat di lihatnya pintu utama itu terbuka lebar. Gavin merasakan suatu hal yang janggal telah terjadi, dengan mengendap-endap dan penuh waspada Gavin memasuki ruang utama Kim mainson.
Matanya terbelalak kala di lihatnya tubuh ke dua bodyguard itu tersimpul oleh tali dan mulut mereka terpelester, dengan cepat Gavin menghampiri ke duanya, dan melepaskan lilitan tali yang melingkari tubuh ke duanya.

“Apa yang terjadi” tanyanya panik, namun belum juga kedua bodyguard itu sempat berkata-kata, “Eryn” Gavin berlalu begitu saja dari hadapan keduanya  hingga membuat ke dua bodyguard itu saling menatap.

Rona wajah panik terpampang jelas di wajah Gavin, langkah lebarnya melalui setiap dua tapak anak tangga hampir membuat tubuh jangkungnya goyah, takala di dengarnya seruan dari salah satu bodyguard itu.

“Mereka meninggalkan sebuah pesan untukmu” ucap bodyguard itu menghampiri Gavin yang terdiam di ujung anak tangga terakhir.
Mata tajamnya mengamati secari kertas yang masih terlipat rapih itu membolak balikkannya sesat, sepintas pikiran negatif bernari indah di benak Gavin, membayangkan  hal buruk yang akan menimpa Eryn hingga membuat kedua rahangnya  bergemerutuk keras. Dengan sangat telitinya Gavin membca setiap kata-kata di dalam surat itu.

TUAN JOEN, JIKA INGIN MELIHAT GADIS INI DALAM KEADAAN HIDUP SEGERA TEMUI SAYA DI ALAMAT INI

Uiwang street no.18 gyeonggido (asbak lol)
   
                              Anonymous

____@@____
Tanpa berpikir lama Gavin berlari keluar dari Kim mainson, melaju kendaraan roda empatnya dengan kecepatan penuh membelah hiruk pikuk jalan di kota seoul.
Bola matanya bergerak kiri ke kanan mengamati setiap nama jalan yang di berpapasan dengan indra penglihatannya.

Ternyata bukan hal yang mudah baginya untuk menemukan alamat orang tersebut, beberapa saat kemudian Gavin melaju pelan mobilnya kala alamat yang di tujunya ada di depan mata sebuah rumah tua yang sangat besar dengan di kelilingi tembok sebagai pembatasnya, dari dalam mobil Gavin mengamati situasi bangunan rumah itu.
Dia harus waspada akan tindakan yang akan di ambilnya, jika ingin Eryn selamat dari orang tersebut.

Dengan sangat tenangnya Gavin berjalan memasuki pelataran rumah tua, tanpa di sadari oleh Gavin sepasang mata mengawasi setiap gerakannya, ada senyum puas terpasang di wajah pria itu kala Gavin tiba di pintu utama rumah tersebut.

Tok...tok..

Pintu rumah itu perlahan terbuka lebar, dengan tertatih-tatih seorang pria separuh baya datang menghampiri Gavin, sepertinya pria ini sudah tahu akan kedatangan dirinya.
pria tua bertubuh bungkuk itu sedikit menurunkan posisi tubuhnya, sambil merentangkan tangan kanannya laksana mempersilahkan sang tamu untuk masuk kedalam. Gavin yang masih terdiam di posisinya tersentak saatdeheman kecil dari pria bungkuk itu menyadarkan akan niatannya sebelumnya.

“Di mana Eryn, di mana kau sembunyikan dia?”cerca Gavin dengan paniknya seraya mendorong pria tua itu.

“Tenang doronim, gadis itu dalam keadaan baik, anda tidak perlu kuatir !”

Gavin memiringkan kepalanya mencari asal suara tersebut, sosok pria itu turun menapaki setiap anak tangga dengan penuh wibawa. Gavin sedikit memicingkan matanya, sepertinya pria ini pernah di jumpai olehnya.

“Kau... kau adalah orang yang waktu itu menolongku?” tanyanya sedikit ragu.

“Ne, doronim. Anda benar” jawab pria itu dengan tenangnya, perlahan pria itu mendekati Gavin sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Gavin merasa canggung akan sikap yang di pertunjukan pria ini, tapi dia tahu pria inilah yang telah menculik Eryn.

“Apa maksud perkataanmu, di mana kau sembunyikan Eryn?” sergah Gavin cepat, namun pria itu hanya menyeringai tipis merespon pertanyaan Gavin. merasa dirinya di acuhkan dengan cepat Gavin mendorong tubuh pria itu ke dinding “Sekali lagi ku tanya, di mana Eryn” pekik Gavin lantang, hampir saja sebuah pukulan keras dari Gavin melayang di wajah pria itu, jika saja pengawal pria misterius itu tidak melerai Gavin.


"Seperti yang saya bilang doronim, gadis itu baik-baik saja" jawabnya masih dengan seringai tipisnya.

“Kenapa kau memanggilku dengan sebutan doronim?” ucap Gavin ketus, sambil menghardik lengannya yang masih dalam cengkraman ke dua pengawal itu.

“Saya akan ceritakan semuanya kepada doronim, mari ikuti saya !” serunya sambil berjalan meninggalkan Gavin yang memandangnya sinis.

____@@____

“Silahkan Doronim” ujarnya pelan.

Gavin mendengus pelan, tatapan sinisnya masih mengarah telak ke wajah pria misterius itu saat mereka saling berpapasan di bibir pintu.
langkah pertama Gavin saat memasuki ruang kerja pria ini, kala mata elangnya terkesima akan sebuah lukisan besar yang menggantung di sudut ruangan. Bak magnet yang menariknya untuk lebih mengamati lukisan itu, sebuah lukisan di mana seorang pria dengan jas hitamnya duduk dengan penuh kharisma dan seorang wanita dengan paras ayu yang sedang memangku seorang anak laki-laki kecil.

“Lukisan keluarga bahagia” gumam Gavin pelan, tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannyanya.

“Ya, akan jadi keluarga yang bahagia, jika saja maut tidak merenggut mereka” ucap pria itu dengan nada suara bergetar.

“Mwo, wegude?” tanya Gavin sambil mengalihkan pandangannya ke pria misterius itu yang sedang tertunduk dalam.

“Karna ketamakan dan keserakahan seseorang akan harta, dia rela menghancurkan dan merenggut nyawa keluarga ini” jawabnya dengan penuh emosi.

“Jadi ketiga orang itu sudah meninggal?” tanya Gavin antusias

“Anhio” sahutnya dengan gelengan kepala lemah, tatapan matanya pilu menatap Gavin.

“Lalu, siapa di antara mereka yang masih hidup?”

“Laki-laki kecil yang ada di dalam pangkuan wanita itu” sahutnya, dengan senyum kecut menatap lukisan itu.

“Oh.., di mana bocah kecil itu sekarang?” tanya Gavin penasaran menatap lekat lukisan bocah itu. Keheningan sesaat terasa di ruangan itu, hanya tarikan dan hembusan nafas dari pria misterius ini yang terdengar, dari sudut matanya sekilas Gavin melirik pria itu.
Wajah pria itu di selimuti duka, emosi dan dendam akan suatu hal atau tepatnya seseorang.

“Bocah kecil itu... Dia berdiri tepat di samping saya saat ini” sahutnya pelan, yang sontak membuat Gavin membelalakan matanya ke arah pria itu.

“Pria dan wanita yang ada di lukisan itu adalah majikan saya, orang tua kandung doronim” ucapnya menyakinkan, Gavin mengeleng keras perkataan pria itu bak petir di siang hari yang menyambar gendang telinganya.

“Tidak mungkin” pikik Gavin, Tubuh jangkungnya goyah dan hampir jatuh lunglai, karena lututnya mendadak lemas  tidak percaya akan perkataan pria itu.

“Doronim, apa yang saya katakan adalah kebenar, bukan hanya isapan jempol semata” serunya mencengkram kuat lengan Gavin berusaha meyakinkan pemuda ini tentang jati dirinya yang sebenarnya.



TBC



Author Note :
mian tuk keterlambatan part ini, bukan mksd memperlama krn krjan yg lagi banyak gw minta free post-in di grup.
mian klo part ini agak bertele2 dan gak sesuai dari part sebelumnya...maaf klo ada kekurangan dalam pengetikan dan pengejakan kalimatnya..belum sempat di edit!
Mami thanks tuk idenya, but mian klo gak sesuai dengan harapan mami.^.^



5


   



"Nyawa itu berharga karena ada batasnya. Batas itulah yang membuat kita berjuang." .
“ Heiji Hattori “




Additional Cast



Dewi Takdir / Zevaa Eomma

 

Quote
“ Tahukan kau siapa gadis takdir Zeva itu?” Tanya Dewi Ghaia.
“ Rhea Feodhora, dia  sebatang kara, orang tuanya meninggal dalam perang laut 5 tahun silam, tapi dia berhasil diselamatkan si Eleanor, sekarang dia tinggal bersamanya  di Di White Lotus.”
“ Sekarang yang menjadi pertanyaanku, bagaimana caranya kau akan mengantar Zeva pada takdirnya itu?”
Seperti tersiram sebongkah salju, Theron sedikit menggigil mendengarnya, bagaimana tidak?
Membawa Zeva menuju takdir cintanya?
Bagaimana caranya?
Ottoke?



White Lotus

Malam beranjak dengan tenangnya, kabut tebal berarak tersendat dilereng Pegunungan Gyeongju, menyelimuti kesenyapan di padepokan White Lotus.

Suasana lengang di dalam padepokan memberikan kesan ketenangan di setiap penghuninya, beberapa tempat tampak beberapa murid sedang bertugas melakukan penjagaan.

Tugas penjagaan ini di jadwal secara bergilir, setiap murid akan mendapat giliran tanpa pengecualian.
Hal inilah yang menjadikan mereka semakin memiliki tanggung jawab, dan menjadi sangat loyal pada padepokan White Lotus tempat mereka bernaung.

Tampak tiga pemuda sedang berjalan tergesa-gesa menuju pendopo utama, dimana Sang Guru Besar Eleanor tinggal.
Mengingat keberangkatan mereka berempat ( Isaura, Kaylee, Shilla, dan Rhea ) untuk turut serta dalam perang  yang konon ada kudeta dari dalam Istana Kerajaan Silla, malam ini mereka bermaksud menemui Sang Guru Besar untuk memohon restu.

Menurut isu terakhir yang berkembang di masyarakat disinyalir bahwa pejabat istana yang membelot bekerjasama dengan Kerajaan Elea untuk menumbangkan pemerintahan saat ini. Desas desus tersebut  membuat masyarakat semakin resah , kekhawatiran , ketakutan , semakin melanda.

Trauma perang 5 tahun silam, masih terbayang dengan jelas di benak mereka, pertumpahan darah, rasa kehilangan , hidup tanpa rasa aman setelah-nya, mengapa musti terjadi lagi?

“  Dimanakah Rhea, apa belum kembali? “ tanya Isaura kepada kedua adiknya, sambil terus berjalan.

“ Belum Hyung, mungkin sebentar lagi, tadi sore pamit sebentar untuk jalan-jalan ke tepi bukit” Jawab   Kaylee.

“ Mungkin menemui Angel untuk berpamitan, “ sambung Shilla menimpali.

“  Sebetulnya Hyung mempunyai rencana , biarkan saja dia tidak ikut perang kali ini, agar dapat segera berangkat ke Lembah Acacia untuk mencari Pedang Air.”

“ Jeongmal?” potong Shilla antusias.

“ Tapi mana mungkin Rhea mau membiarkan kita bertiga berperang sendirian.“ jawab Kaylee, “ Lagi pula aku tidak mau dia berangkat sendirian ke lembah itu, akan sangat berbahaya.” Sambung Kaylee penuh kekhawatiran.

“ Tidak berangkat sendiri, kalian pikir Angel akan membiarkannya berkelana sendirian,” Isaura menjelaskan.

 “ Hyung, apa tidak menunggu perang ini selesai saja, agar kita bertiga bisa menemani ,” tanya Kaylee, wajahnya semakin menyiratkan kekhawatiran yang dalam.

“ Benar kata Kay, lebih baik kita berangkat berempat ke Lembah itu, Pedang Air dijaga Hyena raksasa selama ribuan tahun, aku tidak yakin meski berdua dengan Angel , Rhea akan dapat menaklukan Hyena itu.” Sambung Shilla tak kalah khawatirnya.

“ Tentu saja aku telah memikirkannya secara masak-masak, kalian tahu .. Hyung tidak mungkin memutuskan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan segala sesuatunya terlebih dulu bukan?.”

“ Perang kali ini, aku tidak tahu hasil mana yang akan dicapai, begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi. Jika dulu , 5 tahun silam perang laut yang hanya dlakukan orang-orang dalam Istana saja menyisakan puing-puing kehancuran dan penderitaan yang sedemikian, apalagi sekarang kudeta dari dalam istana ditambah dengan campur tangan Kerajaan Elea, dua kubu yang aku rasa telah mempersiapkan secara matang, bisa dibayangkan kemungkinan yang akan terjadi lebih parah. “Itulah alasanku agar Rhea tidak ikut berperang kali ini, “ Isaura mengemukakan alasannya.

“  Shilla bukankah kamu pernah berpikiran seperti itu?” Lanjut Isaura menoleh pada Shilla.

“ Hyung benar, tapi tidak ikut berperang bukan berarti membiarkannya pergi sendirian ke Lembah Acacia,” lanjut Shilla.

“ Coba nanti kita bicarakan lagi,’’ ucap Isaura.   

Serempak mereka berhenti tepat di depan pendopo , sedikit terkejut karena, di teras pendopo  telah duduk Sang Guru Besar Eleanor Palossa, duduk bersila di lantai pendopo yang terbuat dari kayu mahogany.

Di sebelah nya agak ke depan, seorang  gadis manis berambut sepunggung ,dengan dua kuncir berpita salem di kiri kanannya, sementara rambut belakangnya dibiarkan terurai, juga sedang duduk bersila mendegarkan dengan seksama apa yang diwejangkan Sang Guru.

“ Sonsaengnim, Dongsaeng-a.” Sapa mereka bertiga secara bersamaan.

“ ooogh Isaura, Kaylee, Shilla, kalian sudah datang, ayoo duduklah.’’ Ujar Sang Guru Besar.

Isaura, Kaylee, Shilla, duduk mengambil tempat masing-masing di hadapan Sang Guru.

“ Oppa mianhae, aku langsung ke sini, tanpa menunggu kalian,” ucap Rhea meminta maaf.

“ gwenchanayo,” jawab ketiganya serempak.

“ Jadi bagaimana keputusan kalian? ,” tanya Eleanor Sonsaengnim langsung pada pokok pembicaraan , karena memang sudah tahu maksud dari kedatangan keempat muridnya itu.

“ Nee, Sonsaengnim, lusa kami akan berangkat ke ibukota, belom tahu kapan penyerangan  terjadi, tapi alangkah baiknya jika kami ada di dekat ibukota.” Isaura menjelaskan.

“ Sebenarnya ada yang perlu kami sampaikan,” sambil menoleh ke arah Rhea dengan sedikit ragu. Akhirnya  Isaura melanjutkan. “ Bagaimana kalau perang kali ini Rhea tidak turut serta,”

“ Mwoo?, andhweyo,” sedikit terkejut Rhea manyahut.

“ Dongsaeng-a, dengarkan dulu penjelasan Oppa,” sambung Shilla menepuk pelan pundak Rhea.

‘’ Weayo ?,” Tanya Eleanor Sonsaengnim menimpali.

“ Maksud saya agar Rhea dapat berangkat ke Lembah Acacia untuk mencari Pedang Air, Sonsaengnim.” Lanjut Isaura menjelaskan.

“ Mengapa tidak menunggu sampai perang  selesai, sehingga kalian bisa pergi bersama?”

“Aaaa Sonsaengnim tahu, karena kalian tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perang kali ini, sehingga kalian memutuskan hal itu? Benar begitu Isaura?

“ Nee Sonsaengnim, benar begitu . “ Jawab Isaura

“ Sonsaengnim, boleh saya ikut bicara?,” Rhea menimpali

“ Nee silakan Rhea anak-ku,”

“ Saya tahu maksud baik dari Oppa Isaura, Oppa Shilla, dan Kayy, tapi izinkan saya menemani mereka dalam perang kali ini, apapun yang akan terjadi kita lihat setelah ini.”

“ Jika memang takdir masih membawa saya untuk menemukan Pedang Air, pasti akan ada jalan menuju kesana,” Ucap Rhea dengan senyum penuh harapan.

“ Jadi tidak ada alasan untuk melarang saya ikut dalam perang kali ini,arasseo?,” Lanjut Rhea sambil menoleh pada ketiga kakak-nya.

“ Eheem.. jadi anak anakku sekalian, keputusannya kalian berempat akan berangkat kapan? “ Tanya Eleanor Sonsaengnim.

“ Menurut perhitungan Shilla , kami harus berangkat lusa, Sonsaengnim.” Jawab Isaura.

“ Apakah Sonsaengnim, akan ikut serta juga,” Tanya Kaylee

“ Aku akan melihat situasi dulu Kayy, jika memang diperlukan Sonsaengnim akan  turun gunung,” Jawab Sonsaengnim bijak.

“ Kachaaa, sudah jelas semuanya kalian bisa beristirahat, dan bersiap siap untuk keberangkatan kalian.

“ Dhee Sonsaaengnim, “ Jawab mereka berbarengan.

                     



Adena Palace
Istana kediaman Dewi Takdir Moirae (Zeva Eomma)


Isatana Adena adalah tempat kediaman Dewi Takdir Moirae ( Zevaa Eomma) letaknya besebelahan dengan  batas suci Kuil Parthenon , tempat Dewi Kebijaksanaan Pallas Athena tinggal.

Istana Dewi Takdir tidak semegah Parthenon, sangat sederhana seperti Istana Ghaia, pintu masuk menuju dalam Istana sejauh mata memandang pohon pine terjajar dengan rapi di jalan utama, dibawahnya bunga laurel merambat dengan indahnya di sisi kanan dan kiri  jalan, wangi bunga laurel melebihi wangi bunga kasturi, harumnya abadi dan tak kenal musim.

Sepeninggal dari Istana Ghaia, Theron berkunjung ke Istana Adena untuk menemui beberapa Dewa.

Dewa yang kebetulan hadir sekitar 6 Dewa, yang mana 6 diantaranya tidak bisa hadir, karena suatu halangan.

Diantara Dewa yang hadir selain Theron dan Moirae adalah, Nike Sang Dewa Kemenangan, Eris Sang Dewi Perselisihan, Dewa Pengobatan Asklepios, Dewa Angin Nerehis, Dewi Cinta dan Keanggunan Charis.

Ke-enam Dewa ini bagian dari 12 Dewa yang ikut andil dalam kelahiran sosok Sang Dewa Kehancuran Vega Zevaares.

“ Apa gerangan yang terjadi Theron? Sehingga kau mengumpulkan kami,” Tanya Dewi Charis memulai percakapan.

“ Beberapa hari yang lalu aku sudah membicarakannya dengan Dewi Ghaia, tak lain dan bukan masalah ini berhubungan dengan  Zevaa.

“ Seperti yang kita ketahui bersama  pertumbuhan Zevaa, berpengaruh pada kelanggengan kita berada di mayapada ini.

“ Aku telah membicarakan dengan Dewi Ghaia sebelum ini dan sepakat untuk mempertemukan Zevaa dengan takdir cintanya yang seorang anak manusia, ucap Theron.

“ Dan aku rasa sebagai eommanya, kau telah mengetahuinya dengan jelas Moirae, “ Lanjut Theron menoleh pada Dewi takdir Moirae yang berada di depannya duduk dengan anggun di kursi singgasananya.

Dewi Moirae tersenyum penuh wibawa, perlahan berdiri , diambilnya dari samping kursi singgasananya di atas sebuah Meja nilam, sebuah wadah warna Kristal tembaga sewarna tanah liat, diangkat nya wadah tersebut dan di bawa ke tengah ruangan.

Wadah tersebut adalah Wadah Air Suci Argya, tempat untuk melihat kejadian yang sedang ,akan, dan sudah terjadi.

“ Theron, Nike, Eris, Asklepios, Nerehis, dan Charis, kemarilah,” Panggil Dewi Moirae kepada ke-enam Dewa tersebut agar mendekat.



*
~
*
~
*
~
*
~
*
~
*
~

*
~
*
~
*
~
*
~
*
~
*





Lereng Himalaya
Medan Laga


Di awal tahun 506 SM pada pertengahan bulan pertama pada saat itu, di perbatasan Gyeongju di pinggiran Himalaya Armada Perang Kerajaan Shilla berhadapan dengan Armada Perang Kerajaan Ellea.

Pasukan Kerajaan sedikit tertekan melihat jumlah pasukan Kerajaan Ellea yang besar dan berlimpah.

Serangan belum dilakukan begitu berarti, mereka bergerak maju sedikit demi sedikit.

Dari kedua belah pihak tentu saja berharap bahwasannya Nike Sang Dewa Kemenangan akan berpihak pada mereka.

Kobaran semangat yang gegap gempita akhirnya mendorong tentara Shilla untuk menyerang Ellea.

Perbatasan yang kering dan tak berujung itupun menjadi medan perang yang ramai dengan dentingan pedang dan tameng yang bertubrukan.

Sayatan pedang yang mengoyak baju perang hingga menembus jantung terdengar teramat memilukan.

Jerit tangis yang memilukan, terasa memekakkan telinga dan menggalaukan jiwa.

Isaura, Shilla , Kaylee , dan Rhea, berpencar dan berbagi di 4 titik.

Shilla bergerak di dalam Isatana Shilla bergabung dengan tentara Kerajaan Shilla,bahu membahu mecoba melawan serangan yang dilakukan para pejabat Istana yang melakukan Kudeta.

Isaura di titik tenggara, bersama beberapa tentara Shilla dan pemuda-pemuda kota mencoba menghadang pasukan Ellea yang datang bagai air bah dari sudut kota.

Kaylee, berada di tengah medan peperangan yang ada di tengah Kota, bersama masa di ibukota berusaha menghalau pasukan yang mencoba menerobos ke dalam Istana.

Raut wajah Kaylee tegang tak bercahaya, trauma perang 5 tahun silam,yang masih terpatri kuat di ingatannya kini seperti dejavu, kembali harus dirasakannya.

Beberapa kali dan nyaris sabetan pedang dan golok dari tentara Ellea hampir mengenainya.

Rasa kehilangan yg begitu sangat kembali menderanya, “Aku harus berjuang kali ini, tidak kalau harus kehilangan untuk yang kedua kali.” Ucap Kaylee membabi buta menyerang tentara di sekelilingnya.

Sementara jauh dari pusat kota di tanah lapang yang berdekatan dengan perbatasan istana Shilla dan Ellea , tepatnya di tepian bukit Gyeongju dan lereng Himalaya, Rhea si gadis kecil yang tangguh itu sedang bergerak dengan lincah dan lihainya menghalau tentara tentara yang menyerangnya.

Sedapat mungkin bersama beberapa tentara Shilla dan beberapa masa ibukota, meminimalkan agar pasukan musuh tidak merangsek ke dalam Istana dan Ibu Kota.

Sesaat dalam selang waktu hitungan detik, pandangan Rhea kosong menatap ke depan, Jiwa dan pikiran-nya seolah tresedot untuk mengarah ke satu titik.
 

" Kurasa seseorang menuju ke sini ……………….." gumam Rhea

nasib telah datang ……...nasib ..masa depan yang belum diketahui.....................................   
   
" dari arah gurun pasir sebelah sana , derap kuda yang smakin membahana…………………."






" berjalan perlahan lahan, melawan arus angin ……………………….."

" anhii …. berjalan bukan kata yang cocok, dia datang seperti terhembus oleh angin ……………………….."

" berdiri dengan gagahnya  di depan kami, sosoknya mengingatkanku pada patung perunggu raksasa,  berdiri di hadapanku .. ibarat gunung yang merintangi jalan"






" keberadaanya menutup langit malam dan menyilaukan pandanganku"

" Rambutnya hitam panjang memikat …. berkibar kibar tertiup angin, sehelai bandana warna tembaga melilit dengan indah di keningnya, berhias kepala hyena di tengahnya"

" Bola matanya berwarna kelam dan dalam seperti langit malam,"

" wajah tampannya melekat sempurna bagai gorem yang di ukir oleh pemahat tersohor di daratan Himalaya.

" warna kulitnya pirang seperti warna besi, baju perang yang dikenakan melekat sempurna di tubuh jangkungnya.' setiap yang melihat akan bisa menduga bahwa ia adalah seorang pejuang."

" Pemburu!, neee saat itu aku berpikir bahwa aku sedang berhadapan dengan seorang pemburu yang siap memangsa"   

" Tak disangka kita berjumpa di tempat seperti ini Angel, setauku sudah sekian lama kau tidak pulang ke istana gaia, tidak kah kau rindu dengan eomma-mu?." Intonasi suaranya sangat khas, seperti hendak memancing kemarahan.      

" Zeva-aa, " ucap Angel dengan terkejut. "Sedang apa kau ditempat ini, aku rasa kau tidak ada urusan dengan tempat ini bukan?"      

" Tidak  ada tempat yang tidak ada hubungannya denganku Angel,"kadang kadang aku juga perlu istirahat dari rutinitasku, atau melakukan penelitian awal mungkin?"

Bukan hal yang mengherankan bukan? " Hal duniawi bukankah selalu seperti itu, penuh dengan ketidak pastian?, tapi senantiasa mengasyikkan."

Suara tawanya menggema di langit, seperti guntur yang menggetarkan dunia.

Tawa yang hambar, kenapa tiba tiba aku merasakan kekosongan , ada apa denganku ini..? Mengapa …?  Mengapa aku merasakan ini?
            
Angel sepertinya sudah mengenalnya, apakah dia teman Angel?,pikir Rhea.

"Perlahan dia menoleh, menatap-ku sedemikian rupa, segala sesuatu dalam diriku seakan terlepas , manakala menatap wajah keras nan menawannya, kurasakan dejavu? apakah aku pernah bertemu dengannya? dimana? kapan?,'' Rheaa semakin bimbang di tengah keterpanaanya. Mata bulatnya menatap lekat  sosok di depannya.

“ Whoaaa, ckckckkckckc....... seleramu begitu aneh blakangan ini Angel? Apakah karena kau kelamaan tinggal di bumi?,” Gumam Zeva sembari melihat Rhea, tajam dan menusuk.

Rhea  seakan terpaku ditempatnya, mencoba mencerna apa yang terjadi, tapi pikirannya seolah buntu, terhalang sebuah kabut yang sangat kasat.

Bulir bulir pikirannya seolah tersumbat, hanya tertuju pada satu obyek di hadapannya.

“ Pasangan yang aneh namun serasi, Angel pemuda yang cantik, dan anak kecil ini,” Zeva bersedekap  ‘’ pemuda yang cantik namun gagah dalam waktu bersamaan,” Zeva melanjutkan.

Pandangan matanya seolah menguliti sosok Rhea yang kini semakin pucat pias wajahnya.

“ Seorang pemuda yang cantik, siapakah anak kecil ini? “ aaa tentu saja teman Angel lebih tepat …pasangan-nya?” Jika saja dia seorang gadis, pastilah akan menjadi seroang  gadis yang sangat manis, “ gumam Zeva.

Satu perasaan yang sedikit aneh timbul dibenak Zeva, hanya sedikit …… ibarat seutas benang yang sangat tipis, yang segera lenyap tersisih,

Sementara Angel dan Rhea sama sama tersentak kaget, namun perlahan menyadari mengapa Zeva menilai Rhea seperti itu.

Karena Rhea memang dalam balutan pakaian seorang prajurit pria.

Ketiga kakaknya tidak pernah menginjinkan mengenakan pakaian perempuan pada saat di medan laga dan peperangan.

“ Siapa namamu anak kecil, “ Sapa Zeva, senyumnya lebih tepat terlihat seperti seringai.

“ Dia sahabatku, namanya Rhee, “ Sahut Angel sambil melingkarkan lengannya di bahu Rheaa, dan sedikit  mengerlingkan matanya, berharap Rhea mengerti isyarat yang diberikannya.

“ Haii Rhee,senang bertemu denganmu, Aku Vega Zevaares kau bisa memanggilku Zeva seperti Angel mamanggilku,” Zeva mengulurkan tangannya.

Rhea mengulurkan tangannya , mencoba menggapai tangan yang terulur itu. Dua tangan bertaut, satu jalan takdir dipertemukan.

“ Aku Rhee, “ Jawab Rhea terbata bata , wajahnya yang pucat menatap sosok di depannya dengan perasan yang berkecamuk, yang tidak mampu dilukiskannya.

Mata lugunya menelusuri paras tampan di hadapannya dengan kagum, ditatapnya kedua bola mata yang kelam itu , bagai pusaran arus membawanya pada sebuah perasaan dejavu yang menghanyutkannya.
 





End of Chapter 2 - TBC to d next Chap



 


6

i'm coming  [sweat]
i know it's very late, mianhaeee  [heh]
thanks to all my beloved sista yang setia nemenin, nungguin, dan nguprek-uprek u/ update  [heh]
u know who you are :) , I appreciate that a lot  [huglove]
dagh pasti banyak kekurangan di sana sini, mohon comment dan bimbingannya [heh]
gumawoooo :)

7
Regular Fanfic / Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~sop iler sop iler lol
« on: July 03, 2011, 10:16:12 pm »

mommmyy [huglove]
dimana-mana koq minta jeboll ya'''  [jumpy]
jangan jebol dulu momm [nono], byar seruuu (o_O)  <---- digampar ama pasukan jebol  [laughing] [laughing]
Minoo - Hyee Sun - TDC - We are the real soulmate  [lovestruck]

8

dalb sistaa, miannn ^.^
terakhir baca chapter 2, jadi ada 2 Chap yg blom dibaca  [sweat]
i'll back with comment *promise*  [heh]

9

tengah malemm di sms iuu  [hmpfh],
baca sambil tidur, miann baru comment momm  [sweat]
ituww anoooo gw baru taw d, ngidam seperti itu ada yaaa  [ohmy], oh mayyy ngeri bener yaa'''  [jumpy]
ksiyan banget si dazeee pan ga bisa ngontrol lagi keinginannnya untuk itu-an   [jumpy]
palagi rathhhh ... ya Ollohh my rathhhh lebi ksiyann jugaa harus siaga tiyap saat untuk ituw-ann  [jumpy]
dede creef bakalan jadi copycad nyaa rathh bangett pleekk tanpa celaa, lha ngidamnyaaja ratthhh [hmpfh]
*ikotan bahagia menanti keponakan yang akan lahirr* :)  [AddEmoticons04267]

Quote
“Tidak ada yang bisa kulakukan, .. hanya ini. Aku tidak akan menjanjikan kehidupan mapan karna dengan ekonomiku sekarang, aku tidak yakin .. namun, aku akan berusaha .. Sungguh, aku tidak akan membiarkanmu menderita .. “
That's how he is,our lovely rathhh a men with deeply caring heart. [lovestruck] [lovestruck] Emoticons0425
seorang suami, dan calon ayah yang kami kagumii  [hmpfh] [biggrin] [lovestruck] [lovestruck]
chukae-o rathh-dazee-and dede creef, semoga menjadi keluarga yang sakinah,mawaddah,dan warohmah  [huglove]
for our minsun? someday and one fine day :) best wishses :) [lovestruck]


thanksss mommm for update in this special day's  [hug]
may u've something special in this day, GBU :) 




10
nih -->
Quote
tengkiuuu mommmm, muaccchhhh
ntar atas gw edit lagiiii hahahha
mommyyy barengann pann ultahhnyaaaa
i have something for u mommm belon jadiiii hehhee nyusul   
bukan ya?
nooooo!:)
mommyyy barengann pann ultahhnyaaaa <---- meaning mommy barengan pan ultahnyaa? :)
artinyaa mommy ultahnya barengan kan ama minong!  [laughing] [laughing]

11

lha bukannya elu yg blg duluan klu ultah barengan minho [what] [what] gantian gw yg binun nih [wacko] [wacko]
booo? koq gw siyy mommm [what] [what]
kapann gw bilan nyaaaa yaaaa  [what] [ohmy] [jumpy]

12
HB [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
mami juga ultah [what] [what] [what] barengan sama "suami"  [what] [what] wow,HB mom [bye] [bye] [bye] [bye] [bye]
Sapa yg blg gw ultah bareng mino??!! Si free yg ultah bareng ya? Bener ga, free? Klu gitu,, saeengil chukae [hmpfh]

aiisshhh mommyy, nyang bener nyang manaa iniii  [jumpy] [jumpy]
gw laer bulan iniyh tapi bukann tgl 22 jiayhahaha sama bulan-nyaa duank [laughing]
truss koq ada yg bilang gw yaaa mommy laernya sama kek minonng  [what]
 [wacko] [wacko] [wacko] <------ free puyengg muter muter  [laughing]



13
tengkiuuu mommmm, muaccchhhh [cheekkiss]
ntar atas gw edit lagiiii hahahha
mommyyy barengann pann ultahhnyaaaa [lovestruck]
i have something for u mommm belon jadiiii hehhee nyusul  [hmpfh] [biggrin]
Sapa ultah barengan [what]
Hadiah buat gw? Opo? Updatean zeva chp 2 ya ? Hmpfh

tengkiuuu mommmm, muaccchhhh [cheekkiss]
ntar atas gw edit lagiiii hahahha
mommyyy barengann pann ultahhnyaaaa [lovestruck]
i have something for u mommm belon jadiiii hehhee nyusul  [hmpfh] [biggrin]
Sapa ultah barengan [what]
Hadiah buat gw? Opo? Updatean zeva chp 2 ya ? Hmpfh
loghh mommy pannn? barengan ma minong [what]
anhiii  [nono] not zevaaa [nono] <--- but zevaa (iyahh gw taw itu utang gw ke smuanya momm  [laughing]
don't be worry  [sweat] [laughing]

oyahhhh ucapan ultahnya ga harus pake piku bolehh koq ^__^
(piku nya juga piku sembarang pokoqnya piku Minoo, atow Minsun [lovestruck] )
yg penting wish bwat our minoooo :)



14

tengkiuuu mommmm, muaccchhhh [cheekkiss]
ntar atas gw edit lagiiii hahahha
mommyyy barengann pann ultahhnyaaaa [lovestruck]
i have something for u mommm belon jadiiii hehhee nyusul  [hmpfh] [biggrin]

15




Dear Minoo - I wish you all the best for your birthday and all the ones that will follow.
I hope you will be able to spend it the way you want, without anybody bothering you.
(accept someone [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck])
(take care of him dearly hyee sweetie [lovestruck], .love u both so much.. [huglove])




May your life be filled with love and joy!
And believe us, you think people just like you because of the character you're playing in BOF,
NO!, your real fans love you for yourself!
Catching glimpses of you as you talk, walk, and smile, or whatever else you do, shows that you are truly special!
You are a well educated, intelligent, loving and passionate person and through your behaviour we have all learned to love YOU, not Goo Jun Pyo (although of course, we love him too, as well as  Cha Gong Chan, Jeon Jin Ho , Park Doo Hyun or Lee Yoon Sung) :)   
      
Good luck in all your future projects (can't wait to see you in"IT") and of course all the best for your life outside from the movies – may all your dreams come true.      
      
Stay the way you are – we all hope to enjoy you for many many years to come. [lovestruck]
   
      
      





_______________________
EDIT!!
Note :
bwat momod, mommy, or K' Endree, please di Sticky ( till end of month) :)
gw ga' bikin di thread Minoo, cozz board FF ini yang paling rame dikunjungin
untuk birthday wishes bwat our minho please dipost di sini :)
tiap member bole lebih dari satu, klo bisa di sertai 1 gambar, biar rameeeee hehhhe
lets so our love to Minoooooo  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]




Pages: [1] 2 3 ... 93