Modify Profile

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - MINLUSUN

Pages: [1] 2 3
1



          Di mana dirinya sekarang? Setan apa yang sedang merasukinya? Dia bukan Min Ho-ku. Min Ho-ku selalu mengerti dan membiarkanku melakukan apa yang aku inginkan!  Hye Sun bertanya-tanya dalam hati. Mungkin ini efek karena ia terlalu lelah. Pikirnya. “Terserah apa yang kau katakan. Yang jelas aku tidak mengatakan kalau aku tidak ingin ikut pergi bersamamu. Hanya saja waktunya yang tidak tepat!” jelas Hye Sun masih tetap sabar. Kalau keadaan diantara mereka sedang kacau seperti ini, satu diantara mereka harus tetap meladeni “lawan” dengan kepala dingin. Kalau tidak, bisa-bisa emosi yang membakar segala akal sehat mereka akan menghancurkan semuanya.
          “Persetan!” gerutu Min Ho tanpa menatap Hye Sun. Ia hanya berdiri kaku membelakangi kekasihnya dan menatap jalanan melalui jendela dengan tatapan bercampur antara marah dan kecewa.
Hye Sun mendengus saat mendengar gerutuan Min Ho. “Sekarang lebih baik kau istirahat dan tenangkan dirimu.” Kata Hye Sun, memberi saran. Ia berjalan mendekati Min Ho bermaksud untuk menarik pria itu ke atas tempat tidur dan menyuruhnya tidur. Kekasihnya tampak sangat kacau saat ini.
         Min Ho membalikkan tubuhnya saat merasakan tubuh Hye Sun yang mungil mendekatinya. Mata mereka bertemu. Mereka saling menatap dalam-dalam seolah berusaha mencari tau apa yang sedang pasangan mereka rasakan sekarang.  “Aku pergi,” ucapnya setelah hanya keheningan yang menyelimuti mereka.
         Mata Hye Sun terbelalak saat mendengar apa yang dikatakan Min Ho barusan.
Pergi? Dia bilang dia pergi? Hah! Dia benar-benar sudah gila! Hye Sun membalikkan tubuhnya saat sosok Min Ho sudah benar-benar hilang dari pandangannya. Sudah lama mereka tidak bertengkar. Ia menghusap wajahnya lalu terduduk murung di atas tempat tidur. Apa yang harus ia lakukan sekarang?



Ga janji kapan update. As soon as possible deh ya  [biggrin] [bye]

2
My Oxygen, My Life, My Everything








--- C H A P T E R  3  PART 2 ---





05 April 2012

          Min Ho membuka kedua matanya. Matahari pagi mulai melakukan tugasnya. Sinarnya yang berwarna jingga dengan seenaknya menusuk mata Min Ho, membuat pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan cahaya jingga itu di matanya. Setelah merasa nyaman dengan hangatnya sinar matahari yang menyorot matanya, ia menengokan kepalanya—melihat peri cantik di sampingnya. Tatapannya terlihat masih bersalah, tapi juga terlihat tatapan syukur di matanya. Bersyukur untuk keberadaan Hye Sun yang masih terlelap dalam pelukannya.
          Peristiwa semalam bisa saja membuat Hye Sun pergi begitu saja dan menghancurkan liburan mereka. Entah apa yang    diinginkan orang-orang sialan itu. Hatinya teriris saat melihat Hye Sun menangis dalam pelukannya. Ia tahu—sangat tahu—kalau Hye Sun adalah tipe wanita yang sangat menghargai airmatanya. Sebisa mungkin gadisnya tidak akan menangis di depan orang lain, ia benar-benar tidak ingin orang lain melihat kelemahannya. Sebisa mungkin Hye Sun akan menyimpan dan mengubur semua pengalaman buruk dalam hidupnya dalam-dalam. Tetapi semalam, setelah membaca dan membahas artikel itu dan Min Ho memeluknya erat, airmata Hye Sun yang merembas melalui kaus putihnya begitu saja mengiris hatinya. Menghancurkan segalanya.
          Rasa bersalah dan airmata yang sama sekali tidak mereka inginkan, kini menghancurkan liburan mereka.



---o0o---


04 April 2012

          Hye Sun tersentak saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Mereka baru saja selesai mengitari pulau Jeju untuk menghabiskan liburan mereka hari ini. Sekarang, Min Ho baru saja keluar dari kamar mandi dan percayalah, wajahnya terlihat begitu segar dan semakin tampan setelah ia membersihkan tubuhnya.
          “Ada apa? Mengapa kau terkejut seperti itu?” tanya Min Ho, ia mendekati Hye Sun lalu duduk di sampingnya. Tadi, saat ia keluar dari kamar mandi, sekelebat ia melihat Hye Sun menyembunyikan sesuatu di bawah bantal.
          “Tidak ada apa-apa. Kau yang membuatku terkejut,” jawab Hye Sun sambil mengerucutkan bibirnya.
          Min Ho hanya tersenyum gemas. “Maaf kalau begitu,” ucap Min Ho, tangannya terulur mengelus rambut Hye Sun. “Masih ingin mandi? Sebaiknya kau tidak usah mandi. Kau bisa masuk angin,”
          “Sejak kapan kau melarangku mandi malam-malam? Sudahlah aku mandi dulu,” Hye Sun beranjak dari duduknya lalu pergi menuju kamar mandi.
          Saat melihat Hye Sun sudah hilang dari pandangannya, Min Ho segera saja mengangkat bantal putih di sampingnya.  Terlihat sebuah IPad yang tersembunyi di bawah bantal itu. Merasa penasaran, tanpa suruhannya jari telunjuknya begitu saja menekan tombol lingkaran kecil di tengah-tengah IPad itu. Saat IPad yang digenggamnya sudah menyala, seketika ia merasa darahnya mendidih saat melihat judul artikel yang dibacanya.

          “"City Hunter’s" Lee Min Ho and Park Min Young Back Together Again?! Dating Rumors Resurface”
          Tangannya gemetar dan wajahnya terlihat pucat seketika. Sialan. Lagi-lagi orang-orang sialan itu! Jadi ini yang membuat Hye Sun terkejut tadi. Hatinya berucap kesal dan bersalah.
          Ia tahu kalau Hye Sun tidak akan mempermasalahkan artikel itu, karena dalam artikel itu tertera kalau kedua agensi membantah rumor itu. Tapi tetap saja ia yakin kalau perasaan Hye Sun sekarang—setelah membaca artikel itu—tidak dalam kondisi baik. Diletakannya IPad itu di atas kasur. Lalu ia beranjak keluar kamar dan mengeluarkan ponselnya bermaksud untuk menelepon managernya.
          “Apa lagi yang mereka inginkan dariku?” tanpa basa-basi saat terdengar tanda seseorang di sana mengangkat teleponnya, langsung saja Min Ho menyerbu orang itu dengan pertanyaannya.
          “Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Kau tenang saja dan sebaiknya kau tidak perlu ikut campur dan tidak perlu menanggapi artikel-artikel sialan itu dengan serius.”
          “Begitu menurutmu?”
          “Ya. Tenang dan jelaskan semua yang sebenarnya pada kekasihmu,”
          “Oke. Tapi kuharap ini yang terakhir.”
          Min Ho menutup ponselnya lalu kembali menjejalkannya ke dalam saku celananya. Ia masih berdiri di balkon kamarnya. Tangannya menggenggam pagar di depannya dan ia menundukkan kepalanya tampak begitu frustrasi.



---o0o---


          Hye Sun keluar dari kamar mandi saat Min Ho sudah tidak ada di kamar. Saat ia berjalan ingin mencari pakaiannya ia bisa melihat IPad yang tadi ia sembunyikan di bawah bantal kini sudah berada di atas kasur. Dia sudah melihatnya. Tebaknya yakin. Ia mengurungkan niatnya untuk mencari pakaiannya. Saat itu juga kakinya melangkah keluar kamar menuju balkon dengan tetap menggunakan baju handuknya.
          Ia melihat Min Ho menundukan kepalanya. Baru saja selangkah ia ingin menghampiri Min Ho, tiba-tiba saja pria itu membalikan tubuhnya dan ia menghentikan langkahnya. Ia bisa melihat tatapan bersalah dari pria dihadapannya itu.
          “Kau marah?” terdengar suara Min Ho begitu serak dan berat.
          “Tidak,” Hye Sun menggeleng mantap, ia kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Min Ho dan memeluknya.
          Min Ho terkejut dengan perlakuan yang ia dapat dari Hye Sun. Hye Sun yang seharusnya mencacimakinya, sekarang malah memeluknya erat. Tanpa berpikir panjang ia melingkarkan lengannya di pinggang Hye Sun. Memeluknya lebih erat lagi seakan tidak ada esok hari.
          Keduanya terdiam, tenggelam dalam pelukan mereka. Sampai akhirnya Hye Sun menjauh, melepaskan pelukan mereka. “Menurutmu untuk apa aku marah?” tanya Hye Sun, ia menatap kekasihnya dalam-dalam tanpa melepaskan lengannya di pinggang Min Ho.
          Min Ho hanya menggeleng. Sebenarnya ia juga tidak tahu untuk apa gadisnya marah. Sekarang ia hanya mengkhawatirkan Hye Sun, kekasihnya, gadis mungil dihadapannya.
Hye Sun tersenyum, lalu ia kembali memeluk Min Ho erat. Dalam pelukan mereka Hye Sun berkata, “Aku lelah. Kau juga lelah. Jadi untuk apa aku melakukan hal yang hanya membuat kondisi semakin runyam? Agensimu dan agensinya, keduanya membantah rumor itu. Jadi tidak ada yang harus dipermasalahkan.”
          “’Aku lelah. Kau juga lelah.’ Bisakah kau berjanji kalau malam ini adalah yang terakhir kau mengatakan itu? Demi Tuhan aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Ternyata sedari tadi pendengaran Min Ho hanya terfokuskan pada kalimat pertama Hye Sun, yang membuatnya tersentak. Tersentak akan kenyataan bahwa gadisnya lelah.
          Mendengar permintaan Min Ho yang menyuruhnya berjanji seperti itu, airmata Hye Sun pun jatuh. Faktanya memang seperti itu—keduanya lelah. Lelahnya mereka semakin terasa disaat-saat seperti ini. Kalau bukan cinta mereka yang kuat dan pengertian mereka untuk mengerti satu sama lain, mungkin rasa lelah itu sudah menghancurkan mereka dan mereka tidak ada di sini—memeluk satu sama lain, berbagi rasa satu sama lain—melainkan berpisah menjalani hidup mereka masing-masing. Kemudian Hye Sun mengangguk, mengiyakan permintaan Min Ho. Entah apa yang mendorongnya menganggukan kepalanya. Min Ho membutuhkannya, dan ia pun sama—ia membutuhkan Min Ho. Rasa lelah itu memang sering kali datang mengangganggu mereka, tetapi tidak ada dasar yang kuat untuk membesar-besarkan rasa lelah itu dan membuat kondisi semakin runyam.
          Hati Min Ho terasa nyeri saat merasakan sesuatu yang basah membasahi bahunya. Hye Sun menangis. Menangis dalam pelukannya. Ia bermaksud untuk menjauhkan dirinya tetapi Hye Sun menolak. Ia tahu, Hye Sun tidak ingin ia  melihatnya menangis. Ia mengerti itu. Diciumnya puncak kepala Hye Sun yang begitu harum dengan penuh cinta, lalu mengusapnya dengan sayang. “Jangan menangis,” katanya. “Kau percaya padaku, kan?” tanya Min Ho lebih lanjut.
          “Aku percaya padamu,” jawab Hye Sun, saat ia merasa airmatanya sudah mengering, dijauhkannya tubuhnya dari tubuh Min Ho dan menatapnya. “Kau yang tidak percaya padaku,” ucap Hye Sun sebal.
          “Aku percaya padamu,” jawab Min Ho mantap.
          “Percaya apa? Kau selalu marah kalau aku sedang dekat dengan pria lain. Itu yang kau bilang percaya?”
          “Itu aku lakukan semata-mata karena aku takut kehilanganmu.”
          “Berarti kau tidak seratus persen percaya padaku.”
          “Tapi aku seratus persen mencintaimu.”
          “Begitu?”
          “Ya.”
          “Bagaimana kau bisa membuktikannya?”
          “Dengan ini,” tangan Min Ho memegang kedua pipi Hye Sun. Lalu perlahan kepalanya mendekat pada kepala Hye Sun, membunuh jarak diantara mereka. Bibirnya yang pada mengecup bibir Hye Sun yang mungil. Ia memutar kepalanya mencari sensasi lain saat mencium mulut Hye Sun. Tangan kanannya memegang tengkuk Hye Sun seakan menopang kepala mungil dihadapannya. Ia merasakan Hye Sun membalas lumatannya seperti biasa. Pelan, halus, tidak terburu-buru namun cukup membuat darahnya mendidih.
          Min Ho melepaskan ciuman mereka lalu berkata, “Apakah ciuman-ciuman selama kita bersama kurang membuktikan kalau aku mencintaimu seratus persen?”
          “Apakah cinta seratus persenmu terhadapku hanya sebatas kau menginginkan tubuhku?”
          “Aku menginginkanmu. Aku menginginkan nafasmu. Aku menginginkan hidupmu. Aku menginginkan segalanya yang ada padamu.”
          Hye Sun tersenyum. “Kalau begitu menua bersamamu sepertinya menjadi pilihan terakhirku.”
          Min Ho ikut tersenyum. “Tentu saja.”
          Mereka melanjukan ciuman mereka yang sempat tertunda tadi. Luapan emosi terlihat dari bagaimana mereka melakukan ciuman mereka yang sensual. Tangan Min Ho mulai melakukan aksinya. Menyelip diantara baju handuk Hye Sun dari bawah. Merasa terganggu dengan tali yang masih mengingkat di tubuh Hye Sun segera saja dilepaskannya dengan kasar. Tangannya mulai naik mengelus perut Hye Sun pelan. Hye Sun meringis nikmat.
          Hye Sun membalas lumatan-lumatan yang Min Ho berikan dengan segenap hati. Lidahnya pun menyambut lidah Min Ho yang mulai menerobos masuk ke rongga mulutnya. Saat bibir Min Ho mulai turun menghisap lehernya, ia pun mendongak memberi akses lebih untuk Min Ho. Darahnya berdesir dua kali lebih cepat merasakan perlakuan yang diberikan oleh Min Ho.
          Min Ho menangkat tubuh Hye Sun dalam gendongannya. Ia terus menhisap dan menjilati leher Hye Sun. Tangannya yang menopang tubuh Hye Sun tidak bisa diam begitu saja. Ia membuka pintu yang memisahkan kamarnya dengan balkon menggunakan kakinya. Lalu ditidurkannya Hye Sun di atas ranjang berseprai putih, dan sebelum ia melanjutkan aksinya, ia melepaskan kaus putihnya lebih dulu. Hye Sun tersenyum melihat tubuh indahnya, lalu gadis itu menarik lehernya dan melanjutkan ciuman mereka.    “Tepati janjimu, baby.” Ucap Min Ho yang seperti bisikan di telinga kiri Hye Sun lalu menjilatnya. Hye Sun tersenyum lalu mengangguk mantap.
          Hye Sun merinding saat Min Ho mengucapkan sesuatu di samping telinganya. Oh, ia masih ingat rupanya. Umpat Hye Sun dalam hati. Setelah mengangguk mengiyakan, ia langsung merubah posisi mereka. Kini ia yang berada di atas Min Ho. Dielusnya dada Min Ho membuat laki-laki di bawahnya mendesah nikmat. Ia menundukan kepalanya, mengecup perut Min Ho dari bawah sampai atas. Min Ho menggigit bibirnya menahan desahannya. Tangan Hye Sun mulai nakal. Tangannya perlahan membuka kancing celana Min Ho, lalu melepasnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Lalu ia kembali melumat bibir Min Ho ganas. Min Ho membalas lumatannya tidak kalah ganasnya. Desahan mereka seakan menjadi nyanyian paling indah malam itu. Mereka seakan meminta maaf satu sama lain lewat semua ciuman atau apapun yang mereka lakukan untuk membuat pasangan mereka dan diri mereka sendiri merasa nikmat. Sampai akhirnya tubuh mereka menyatu, merasakan kenikmatan paling puncak, yang membuat mereka lelah namun nikmat luar biasa.



---o0o---


22 Juni 2012

          “Kekasihku mulai sibuk lagi akhir-akhir ini. Kau pasti ingat hari ini ulang tahunmu, kan? Selamat ulang tahun, sayang. Maaf aku mengucapkannya lewat sms begini. Bagaimana bisa aku mengucapkannya secara langsung kalau kau pulang saat aku sudah tertidur dan kau kembali bekerja saat aku belum bangun? Ya sudah sana kembali bekerja! I will give you a kiss as your birthday present when we meet later. Fighting!”

          Bibir Min Ho mengembang, membuat senyuman yang sangat manis saat membaca pesan dari Hye Sun. Jarinya menekan tombol hijau saat ponselnya telah menunjukan nomor telepon Hye Sun. Didekatkannya ponselnya ke telinga.
          “Ada apa meneleponku?” terdengar suara Hye Sun di seberang sana.
          “A kiss for my birthday present. Are you sure?”
          “Jadi hanya untuk itu kau meneleponku?”
          “Sudah jawab saja.”
          “Aku tidak ingin menjawabnya. Bagaimana?”
          “Kalau begitu kau harus memberiku two kisses or three kisses or as much as I want.”
          “Terserah kau saja,”
          “Oke, berarti kau setuju!”
          “Ya!!! Siap.......”
          “Siapa yang bilang kalau kau setuju? Aku yang bilang. Sekarang siapkan saja dirimu. Aku harus kembali bekerja. Bye, baby.” Min Ho menutup ponselnya begitu saja, tanpa memberi Hye Sun kesempatan untuk bicara. Sekarang rasanya ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, kembali ke apartemen mereka, lalu menagih janji Hye Sun.
Dua bulan lebih sudah terlewati setelah peristiwa artikel itu. Mereka berdua sudah benar-benar melupakannya. Cinta mereka terlalu kuat untuk dikalahkan dengan artikel-artikel sepele seperti itu. Biarkan waktu yang menjawabnya.



---o0o---


         Hye Sun melempar ponselnya ke atas kasur. Bibirnya dimajukan ke depan saat Min Ho memutuskan hubungan telepon mereka begitu saja. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain mempersiapkan diri sebelum Min Ho menghabisinya. Sambil tetap mengumpat dalam hati, ia terpaksa menggerakkan kakinya menuju dapur. Tadi pagi ia sudah menyuruh managernya untuk membeli bahan-bahan kue untuk membuat kue ulang tahun Min Ho.
          Saat ia baru saja ingin menuangkan terigu ke dalam mangkuk besar, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


         “Dimana aku bisa menagih janjimu? Di apartemen? Atau dimana?”

          Hye Sun meringis kesal membaca pesan itu. Ini salahnya juga, seharusnya tadi ia jawab saja pertanyaan Min Ho. Katakan ‘sure’ dan selesailah semuanya. Walaupun ia tahu kalau nantinya pun akan menjadi more than one kiss, tetapi kalau tadi ia menjawab pertanyaan Min Ho, pasti pria itu tidak akan menerornya dan tidak akan merasa super senang seperti sekarang. Kalau saja hari ini bukan hari ulang tahunnya, ia pasti sudah mencacimakinya sekarang.
Oke, Min Ho menang hari ini.
.
.
.
Akhirnya setelah hampir tiga jam kue yang dibuat Hye Sun selesai. Saat semuanya sudah terbungkus rapi, ia langsung pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menelepon manager Min Ho.
          “Oppa,” sapa Hye Sun.
          “Oh, ya, Hye Sun-ssi.”
          “Kapan kau menjemputku,”
          “Hmm, nanti malam, sekitar jam setengah sepuluh. Apakah tidak apa?”
          Hye Sun melirik jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul 12 siang. Ia menghembuskan nafasnya lalu berkata, “Oke, baiklah.” Tidak ada pilihan lain. Pikir Hye Sun.
          Setelah memutuskan hubungan telepon dengan manager Min Ho, sekarang Hye Sun tampak bingung memikirkan apa yang harus ia lakukan sampai pukul setengah sepuluh malam nanti? Hari ini Min Ho membuatnya benar-benar repot.



---o0o---


          Akhirnya setelah menyibukan dirinya, sambil menunggu pukul setengah sepuluh, Hye Sun sampai di apartemennya pukul sembilan malam. Ia langsung membereskan dirinya, lalu pergi ke dapur, mengambil kue yang ia buat tadi siang dan kembali membungkusnya. Saat semuanya sudah siap, dan ia sedang memakai sepatunya, seseorang menekan bel apartemennya. Setelah melihat siapa yang datang melalui monitor, ia membuka pintunya. Ternyata manager Min Ho datang lebih awal.
          “Masih lima belas menit lagi,” ucap Hye Sun setelah mempersilahkan manager Min Ho masuk.
          “Sengaja aku datang lebih awal, mungkin saja kau membutuhkan bantuanku,”
          “Tidak perlu, semuanya sudah siap.” Hye Sun menyelesaikan ikatan terakhir pada tali sepatunya. Lalu beranjak dari duduknya. “Aku siap.” Kata Hye Sun, wajahnya terlihat berseri-seri.
          “Oke, ayo pergi.” Hye Sun dan manager Min Ho keluar dari apartemennya sambil membawa satu box kue. Sejak kemarin mereka memang sudah bersekongkol untuk memberi kejutan untuk Min Ho.
          Sekarang yang dipikirkan Hye Sun hanyalah kalimat Min Ho tadi pagi “or as much as I want?” kepalanya menggeleng saat lagi-lagi kalimat itu berseliweran di otaknya. Min Ho pasti merasa sangat menang akan dirinya saat ini. Mau tidak mau ia harus mempersiapkan dirinya.
          Setengah jam lebih Hye Sun dan manager Min Ho akhirnya sampai di lokasi syuting drama Faith. Hye Sun meminta manager Min Ho untuk memarkirkan mobilnya yang jauh dari keramaian. Manager Min Ho yang berada di balik kemudi terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
          “Ada yang ingin aku bicarakan padamu.... Sekarang, di dalam mobil.... Sudah jangan banyak bertanya.... Aku tunggu kau di sini.” Perintah Manager Min Ho, ia masukkan ponselnya ke dalam saku celananya, lalu pamit pada Hye Sun untuk pergi dan meninggalkan gadis itu sendiri di dalam mobil.



---o0o---


         Min Ho yang baru saja selesai merayakan ulang tahunnya bersama para staf sedang mengistirahatkan tubuhnya di atas kursi. Belum juga otot-ototnya renggang seutuhnya, ia harus pergi menuju mobilnya setelah mendapat telepon dari managernya. Ia beranjak dari duduknya dengan terpaksa dan mendesah kesal.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tempat syuting, tetapi tidak juga ia menangkap keberadaan mobilnya. Sampai akhirnya managernya mengirim pesan.


          “Mobilnya aku di tempat yang berbeda. Kau tinggal lurus saja, lalu belok kiri pada belokan pertama.”

          Min Ho mendesah jengkel. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan olehnya? Ia menggerutu dalam hati.
          Setelah sepuluh menit lebih akhirnya ia menemukan dimana mobilnya diparkirkan. Segera saja ia melangkah besar-besar menuju mobilnya itu. Ia membuka pintu mobil urutan kedua sebelah kanan, dan ia terkejut saat tidak melihat keberadaan siapapun di dalamnya. Makin saja ia merasa kesal. Berputar-putar selama sepuluh menit lebih mencari, tetapi sekarang managernya menghilang. Baru saja ia mengeluarkan ponselnya bermaksud untuk menelepon managernya, tetapi niat itu terurung sampai suara seseorang dari kursi belakang membuatnya terkejut, “Happy birthday, darling.” Kedua matanya membesar, mulutnya terbuka, tidak percaya melihat keberadaan gadisnya dihadapannya, keluar dari kursi urutan ketiga paling belakang, membawa sebuah kue lengkap dengan lilin yang menyala dengan sempurna di atasnya.
          “Kau? Haha,” Min Ho tersenyum tidak percaya sekaligus senang.
          “Ya. Apakah aku sukses?” tanya Hye Sun sambil berpindah tempat duduk ke samping Min Ho
          “Sangat sukses.” Ucap Min Ho, tangannya mengelus rambut Hye Sun.
          “Tiup dulu lilinnya dan jangan lupa make a wish,” Hye Sun menyodorkan kuenya pada Min Ho.
          Min Ho pun menutup matanya dan mengucapkan harapannya dalam hati sebelum meniup semua lilin-lilin yang menyala. Ia tidak bisa menghilangkan senyum bahagianya saat menatap Hye Sun. “Kau membuatnya sendiri?”
          “Ya. Kali ini aku mohon jangan memarahiku.”
          “Oke,” Min Ho hanya mengangguk sambil memotong kue di depannya, lalu memberikannya pada Hye Sun.
          “Terima kasih,” ucap Hye Sun, ia memotong kue itu lalu menyuapi Min Ho. Min Ho lagi-lagi tersenyum lebih dulu, baru membuka mulutnya, menerima kue yang disuapi Hye Sun. “Maaf, aku hanya membuatkanmu kue, tidak ada hadiah yang special.” Kata Hye Sun sambil memakan kue yang dipegangnya.
          “Siapa bilang kau tidak punya hadiah?” tanya Min Ho, ia memakan kue buatan Hye Sun sambil menatap gadis itu penuh cinta. “’I will give you a kiss as your birthday present’ aku rasa itu lebih dari hadiah special.” Lanjut Min Ho, ia bisa melihat wajah Hye Sun yang malu sekaligus terkejut. “Tetapi tidak hanya satu, bukan? As much as I want.”
          “Ternyata kau ingat,” Hye Sun memajukan bibirnya. Selanjutnya ia memindahkan kue yang berada diantara dirinya dan Min Ho sekaligus kue yang dipegangnya ke kursi belakang. Lalu ia mengambil kue yang Min Ho pegang dan memindahkannya ke tempat yang sama. Setelah sudah tidak ada barang apapun yang memisahkan dan mereka pegang, ia memajukan tubuhnya mendekati Min Ho, lalu berkata, “Seberapa banyak yang kau inginkan?” ucapnya nakal.
          “Sebanyak-banyaknya,” ucap Min Ho begitu yakin dan semangat.
          “Oke,” tanpa basa-basi lagi Hye Sun melingkarkan tangannya di leher Min Ho, lalu menariknya, dan akhirnya mengecup bibir Min Ho berkali-kali. Min Ho yang sudah tahu harus bagaimana, ia membalas kecupan-kecupan yang diberikan Hye Sun.
          Min Ho yang mulai terpancing kini mengubah posisinya, menarik Hye Sun untuk duduk di atas pangkuannya. Ciumannya kini turun merambati tulang rahang Hye Sun. Lalu kembali mencium sudut bibir Hye Sun sebelum akhirnya melumat bibir gadis itu. Melumatnya dengan lembut, dan sesekali menghisapnya sampai suara decakan diantara ciuman mereka tercipta.
          “Mmhh..” Hye Sun mendesah. Min Ho merasakan nafas Hye Sun yang selalu saja menggodanya. Sekarang, lidahnya mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Hye Sun. Hye Sun membuka mulutnya membiarkan lidahnya masuk dan bermain-main di dalamnya. Ia merasakan lidah Hye Sun yang panas menyambut lidahnya.
          Ciuman mereka semakin panas dan basah. Min Ho semakin menekan bibirnya pada bibir Hye Sun. Tangan Hye Sun yang menyelip diantara helaian rambutnya kini mulai menarik-nariknya perlahan. “Nnggh..” ia bisa mendengar Hye Sun melenguh saat tangannya mulai menyusup ke dalam kaus yang dipakai Hye Sun. Hye Sun menggeliat saat tangannya mengelus perutnya. Ia tetap melanjutkan ciumannya tanpa memberi kesempatan sedikitpun untuk mereka berdua menarik nafas.
          “Min Ho..hh..” Hye Sun tersengal saat tangan Min Ho mulai mengelus dadanya. Kini ciuman Min Ho turun ke lehernya. Ia mendongakkan kepalanya membiarkan Min Ho mengecupi lehernya sekaligus menghirup oksigen sepuas mungkin sebelum Min Ho kembali melumat bibirnya tanpa ampun. Nafas Min Ho yang panas di lehernya membuatnya semakin bergairah. Ia bisa merasakan daerah sensitifnya sudah berdenyut-denyut di bawah sana.
          Min Ho meremas kedua gundukan milik Hye Sun yang masih tertutup. “Ahh.. Hye Sun-ah.. Aku menginginkannya sekarang,.. hhhh.. di sini..shh” ia berkata sambil tetap mengecupi leher Hye Sun. Ia tahu “Ciuman sebanyak-banyaknya” yang ia inginkan pasti akan berakibat seperti ini. Hasratnya selalu menginginkan lebih saat ia sudah mencium Hye Sun.
          “Terserah kau saja hhh..” jawab Hye Sun, suaranya terdengar sangat seksi, itu membuat Min Ho semakin bergairah dan darahnya mengalir berkali-kali lebih cepat. Ia menggeliat saat jari-jari Min Ho mulai masuk, menyentuh dadanya di balik branya dengan sempurna, lalu melepaskan pengait branya.”Mmmhh..” nafas Min Ho terdengar memburu saat memberikan bercak-bercak merah di leher dan bahunya.
          Kini giliran Min Ho yang menggeliat saat ia merasakan tangan mungil Hye Sun membuka kancing dan reseleting celananya, lalu mengusap tonjolan yang masih tertutup underwearnya. Ia meremas dada Hye Sun lebih keras saat gadis itu juga meremas bagian tubuhnya yang sensitif di bawah sana. Merasa tidak mau kalah ia juga menyusupkan tangannya ke dalam celana Hye Sun, mengusap daerah sensitif gadis itu.  Keduanya berlomba untuk memuaskan satu sama lain. Kini ia tahu mengapa managernya memarkirkan mobilnya di tempat ini. Merasakan miliknya sudah menegang, ia melepaskan celana Hye Sun, dan menurunkan underwearnya. Lalu ia mengangkat tubuh Hye Sun sedikit dan kembali menurunkannya, menekannya sampai miliknya masuk ke dalam milik Hye Sun dengan sempurna.
          “Akkhhhh..” Hye Sun mendesah keras saat sesuatu yang keras memasuki miliknya disela-sela ciuman mereka. Ia meringis ngilu namun ia tahu kalau ini lagi-lagi akan menjadi nikmat. Perlahan, ia mulai menggerakan tubuhnya naik turun.  “Ohhh.. mmhh.. ahh” desah Min Ho sambil tetap menghisap lehernya. “Lebih cepat, sayang.” Pinta Min Ho padanya. Ia menuruti permintaan Min Ho, sedangkan Min Ho memegangi pinggangnya, membantunya bergerak. Ia melanjutkan gerakkannya sambil mengecupi leher dan bahu    Min Ho. Lalu meremas kuat rambut Min Ho.
          Mereka berdua bergerak semakin cepat hingga mereka merasa mobil tempat mereka bercinta akan roboh. Sampai akhirnya keduanya menggenjang menikmati sensasi milik mereka di dalam sana. Min Ho mengecup puncak kepala Hye Sun, saat gadis itu ambruk di atas dadanya. Lelah namun luar biasa nikmat. Itulah yang mereka rasakan ketika mereka selesai bercinta. Dan cinta mereka bertambah beribu-ribu kali lipat saat tubuh mereka menyatu seutuhnya.
          “Terima kasih.”
          “Inikah yang kau bilang sebanyak-banyaknya?” tanya Hye Sun dalam pelukan Min Ho.
          “Ini bahkan belum cukup,” goda Min Ho.
          “Kau gila!” Hye Sun memukul dada Min Ho kesal.
          “Hahaha,” Min Ho mempererat pelukannya.
          “Selamat ulang tahun,” ucap Hye Sun sangat lembut.
          Min Ho tidak menjawab. Ia memjamkan kedua matanya, menghirup harum rambut Hye Sun yang selalu membuatnya tenang.
          “Semoga tahun depan, bahkan berpuluh-puluh tahun selanjutnya kau masih di sini, dalam pelukanku.”
          “Tetapi tidak bercinta di mobil seperti ini.”
          “Tentu saja. Tetapi bercinta di bathup, dapur, taman, dan dimana lagi?”
          “Dimanapun saat kita mulai berciuman.” Keduanya tersenyum.
          Min Ho mengangkat kepala Hye Sun lalu mengecup dan akhirnya melumat bibir gadis mungilnya. Ia menginginkan Hye Sun saat gadis itu mulai menggodanya. Ia menginginkan nafas Hye Sun saat gadis itu mulai membuatnya merindukannya. Ia menginginkan hidup Hye Sun saat gadis itu membuat harinya berwarna. Dan ia menginginkan semua yang ada pada Hye Sun agar ia bisa mengerjakan semua hal dengan benar. Karena fokusnya hanya pada gadis itu, hidupnya berporos pada gadis itu. Goo Hye Sum—wanita yang sudah ditemukannya dan tidak akan ia biarkan lepas darinya.



T B C  [bye]

3
I K L A N



“Kekasihku mulai sibuk lagi akhir-akhir ini. Kau pasti ingat hari ini ulang tahunmu, kan? Selamat ulang tahun, sayang. Maaf aku mengucapkannya lewat sms begini. Bagaimana bisa aku mengucapkannya secara langsung kalau kau pulang saat aku sudah tertidur dan kau kembali bekerja saat aku belum bangun? Ya sudah sana kembali bekerja! I will give you a kiss as your birthday present when we meet later. Fighting!” -Hye Sun's message.


Update Soon  [bye]
 

4
Regular Fanfic / Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 2* 25 Juni 2011
« on: June 12, 2012, 08:48:43 am »
CHAPTER 4 --SPOILER--





          Lee Min Jung kembali menginjakan kakinya di kota Seoul. Saat mendengar kabar bahwa Min Ho masih bekerja di Seoul Magazine Center tanpa berpikir panjang setibanya di bandara, Min Jung langsung pergi menuju SMC. Sebenarnya ia juga mempunyai keperluan lain di SWC selain menemui Min Ho.



          Hanya teman yang terbaik. Donghae menekankan kata-kata itu dalam hati. Dan percayalah, kata-kata itu membuat hati Donghae cukup teriris.
          “Sudah tidak bingung lagi, kan? Sekarang istirahatlah.” Donghae mengacak-acak rambut Hye Sun lalu bangkit dari duduknya. Langkahnya terhenti saat ia merasa pergelangannya dicekal.
          “Tunggu dulu,” Cegat Hye Sun. “Besok setelah aku menemui wanita itu, mau tidak kau menemaniku mencari apartemen baru?” Pinta Hye Sun pada Donghae.

          “Tentu saja. Sekarang tidurlah,” Setelah melepas cekalan tangan Hye Sun dilengannya Donghae keluar dari kamar Hye Sun.
          Setidaknya kali ini  ia tidak membicarakan Tuan Lee itu di depanku. Donghae bersyukur dalam hati.



          “Ingin kuantar pulang?”
          “Tidak perlu, temanku sudah menjemput.” Hye Sun menunjuk kearah mobil Donghae, dan tidak lama mobil itu sudah berada dihadapan mereka.
          Donghae membuka kaca mobilnya. “Ayo, masuklah!” Donghae menyuruh Hye Sun memasuki mobil dan saat itu pula ia menyadari ada seorang laki-laki—yang sudah tidak asing lagi—di samping Hye Sun.
          “Oh, kau. Senang bertemu denganmu lagi.” Donghae menyapa Min Ho lalu menundukan tubuhnya sedikit.
           Min Ho pun membalas sapaan Donghae, “Ya, senang juga bertemu denganmu lagi.”
           Setelah Min Ho dan Donghae bertegur sapa dan Hye Sun berpamitan pada Min Ho untuk pergi lebih dulu akhirnya mobil Donghae melesat pergi dari hadapan Min Ho. Hatinya seakan terbakar api saat melihat siapa yang menjemput Hye Sun.

          Ada apa dengan ku? Oh... Entahlah...


5
So sorry I'm not sure to make the part 2, because I'm gonna vacuum or hmm.......... leave from this korean world  [heh]
Thank you so much for read this FF, gonna miss you guys [bye] [bye]

6
My Oxygen, My Life, My Everything








--- C H A P T E R  3 ---





31 Maret 2012


Terlihat tubuh jenjang nan mempesona sedang serius berkutat dengan IPadnya di atas ranjang berlapis sprai putih bersih. Sedangkan di sisi lain terdengar suara gemericik air, tanda seseorang sedang membersihkan tubuhnya di dalam ruangan itu.

“Tempat ini cukup keren .. “ Gumam Min Ho saat dia telah menemukan tempat yang cocok untuk menghabiskan waktunya bersama Hye Sun setelah menyelesaikan tugasnya di China nanti.

Setelah Min Ho selesai booking semua tempat yang dia inginkan, tidak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Hye Sun dengan baju handuk putih yang tidak sukses menutupi bagian lutut hingga kakinya. Melihat itu, Min Ho hanya terdiam dalam rasa terpesonanya. Hye Sun tidak pernah gagal membuatnya terpesona setiap detik.

“Sial! ..” Umpat Min Ho. Dia langsung kembali mengalihkan pandangannya dari Hye Sun. Kembali mengatur detak jantungnya. Kembali membenarkan akal sehatnya agar tubuhnya tidak melakukan sesuatu yang lebih tanpa kontrol akal sehatnya.

“Hahaha.. Kenapa kau?” Tanya Hye Sun diselingi tawa lucunya. Perlahan dia berjalan mendekati Min Ho sambil tetap mengeringkan rambut pendeknya.

“Masih bertanya?” Min Ho balik bertanya pada Hye Sun. Tetap menujukan pandangannya pada IPadnya, tidak ingin menatap Hye Sun sedikitpun, atau pembuluh darahnya akan berhenti seketika.

“Hahaha. Ada apa denganmu? Kau bahkan sudah hampir setiap hari melihat semuanya.” Hye Sun mulai menaiki tempat tidur, dan duduk di samping Min Ho.

“Sulit untuk menjelaskannya.” Ujar Min Ho sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Hye Sun dan mengecup bibir gadisnya singkat.

Tidak sampai lima detik Min Ho melepas ciuman mereka. Masih tetap menatap wajah gadisnya dalam jarak yang sangat dekat. Tangan Min Ho terjulur untuk mengusap pipi gadis dihadapannya dengan penuh perasaan. Menelusuri setiap jengkal wajah gadis dihadapannya dengan begitu teliti. Merekam pesona gadis dihadapannya lebih lama lagi.

“Kau begitu sempurna, sayang .. “ Min Ho kembali mencium bibir Hye Sun. Sekarang Min Ho tidak membiarkan lidahnya untuk diam saja. Hye Sun menyambut lidah Min Ho yang menari-nari dalam mulutnya. Membalas, dan menikmati segala perlakuan yang diberikan Min Ho terhadapnya.

“Hmphhh .. “ Lenguh keduanya saat ciuman mereka perlahan menjadi ganas dan melenyapkan akal sehat mereka.

Min Ho mulai mengubah posisinya. Memposisikan tubuhnya tepat di depan Hye Sun sekarang. Tangannya memegang tengkuk Hye Suh, mengatur gerakan kepala gadis itu agar dapat melahap bibirnya lebih dalam. Puas dengan bibir Hye Sun, ciuman Min Ho terus turun ke leher Hye Sun. Seakan mengerti apa yang Min Ho inginkan, Hye Sun mendongakkan kepalanya, memberi akses lebih luas untuk Min Ho pada lehernya.

“Shh .. “ Hye Sun mendesah nikmat. Jarinya menelusup dalam helaian rambut Min Ho.

Tangan Min Ho mulai dalam aksinya. Mulai menarik tali baju handuk yang Hye Sun kenakan. Saat tali itu sudah terpelas dalam ikatannya, tangan Min Ho mulai menelusup masuk, mengelus kulit perut Hye Sun yang halus. Tubuh Hye Sung mengenjang, merasakan tangan hangat Min Ho bermain-main di atas perutnya.

“Ngghhh tunggu .. “ Pinta Hye Sun. Tangannya menangkap tangan Min Ho, memintanya untuk berhenti.

“Ada apa hmphh? Tanya Min Ho tanpa menghentikan aktivitasnya.

“Hentikan dulu.” Akhirnya Mn Ho menghentikan aktivitasnya, terlihat dengan jelas tatapan kecewa di sudut mata Min Ho.

“Wae?” Tanya Min Ho dengan nada cukup kecewa.

“Saat liburan nanti, kau akan mendapatkan sedikit jika melakukannya sekarang.”

“Sial. Kau mengancamku?”

“Haha bukan begitu. Entahlah belakangan ini aku sedang tidak ingin melakukannya.. “

“Oke. Sekarang tidurlah. Dan jangan coba-coba menghindari janjimu, aku akan menagihnya!” Min Ho kembali mengikat tali baju handuk Hye Sun. Lalu merapihkan helaian rambut Hye Sun yang berantakan akibat ulah tangannya.

“Kau membiarkanku tertidur mengenakan ini?” Tanya Hye Sun saat Min Ho sudah siap untuk tidur dan memeluknya.

“Astaga, maaf .. “ Min Ho menepuk jidatnya. “Tunggu sebentar .. “ Min Ho beranjak menuju lemari dan mengambilkan piyama untuk gadis mungilnya itu.

“Ini. Cepat ganti sebelum kau masuk angin.”

“Iya ,..” Hye Sun melepaskan baju handuknya, lalu meletakan benda itu di sampingnya. Tidak tahan melihat tubuh mulus Hye Sun, Min Ho berinisiatif mengambil baju handuk yang Hye Sun lepas tadi, lalu dia menuju kamar mandi dan meletakannya di sana.

“Sudah?” Min Ho keluar dari kamar mandi setelah dengan susah payah memperbaiki nafas dan kerja otaknya.

Hye Sun memberikan jawabannya dengan sebuah anggukan dan senyum manis pada Min Ho. Keduanya mengatur posisi, mencari posisi nyaman untuk tidur.



**********


02 April 2012


Pesan singkat Min Ho sukses membuat Hye Sun repot dua kali sekaligus. Pesan singkat pertama Hye Sun baca saat dia sedang sibuk mengurusi film 3D-nya dan isi pesan itu adalah “Tinggalkan semua pekerjaanmu. Aku menunggumu disana! Lebih baik cepat kau rapihkan tubuhmu dan jangan tanya kenapa.” Maksudnya? Tanya Hye Sun dalam hati. Liburan mereka dipercepat? Bagaimana bisa?

Hye Sun enggan bertanya pada Min Ho apa alasannya, selain sudah diperingatkan oleh Min Ho untuk tidak bertanya, dia juga enggan bertanya karena kalau dia tetap bertanya itu hanya akan menghabiskan waktu saja, dan dia tau kalau Min Ho akan mengoceh mengalahkan kicauan burung di pagi hari kalau dia lama berdandan dan membuat lelaki itu lama menunggu.

Sesuai dengan yang dikatakan Min Ho kalau mereka lagi-lagi akan pergi ke pantai, jadi Hye Sun memutuskan untuk mengenakan hot pants. Berfikir bahwa saat ini hanya akan ada mereka berdua, jadi Hye Sun tetap nekat untuk memakai hot pants. Tapi kekasih super protektifnya tidak berfikiran sama dengannya kali ini. Pesan singkat kedua yang membuatnya repot untuk kedua kalinya: “No hot pants, baby..,” Sial! Umpat Hye Sun dalam hati. Sedikit ada niat untuk protes, tapi sepersekian detik niat itu terurung! Sudah dipastikan tenaganya untuk protes tidak akan menghasilkan apa-apa. Min Ho terlalu seram untuk dibantah.


Gadis mungil itu terlihat semakin cantik bahkan hanya dengan sedikit polesan bedak di wajahnya. Akhirnya dia mengenakan celana jeans panjang berwarna abu-abu setelah mendapat peringatan dari kekasihnya. Tubuh mungilnya ditutupi dengan kaus putih ditambah dengan cardigan hitam di atasnya. Tidak terlihat seperti gadis yang ingin berkencan. Tapi inilah keinginan kekasihnya. Tubuhnya hanya milik Min Ho seutuhnya.

Ponselnya berdering saat dia sudah berada di dalam mobil, siap pergi menuju bandara. Siapa lagi kalau bukan Min Ho yang meneleponnya?

“Cepatlah sedikit! Kau tidak tau kalau oksigenku hampir habis karena menunggmu!” Sembur Hye Sun saat dia menangkat telepon Min Ho. Sedangkan kekasihnya di seberang sana hanya menahan tawanya.

“Apa-apaan kau? Aku baru saja sampai, jadi kali ini aku tidak akan marah-marah hahahaha” Akhirnya Min Ho tidak bisa menahan tawanya. Gadisnya terlalu lucu. Gadisnya begitu hapal apa yang akan dikatakannya kalau dia sudah terlalu lama menunggu si mungil itu.

“Oh, aku kira..” Ucap Hye Sun malu. “Lalu apa tujuannya meneleponku?” Lanjut Hye Sun.

“Sejak kapan ada peraturan kalau seorang kekasih harus mempunyai alasan saat ingin menelepon kekasihnya?” Min Ho balik bertanya. Benar saja, Min Ho memang tidak pernah mempunyai alasan khusus mengapa dia menelepon gadisnya. Bahkan hanya untuk mendengar deruan nafas gadisnya, memeriksa apakah deruan nafas itu masih seperti dengan yang seharusnya. Itulah alasan yang paling sering membuat Min Ho menelepon Hye Sun.

“Oke, deruan nafasku baik-baik saja, kan?” Ucap Hye Sun, seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan dan didengarkan oleh Min Ho. “Lalu, sebentar lagi aku baru sampai bandara. Jadi, lebih baik kau tidur saja dulu dan tidak perlu menungguku. Aku akan meneleponmu saat aku sudah sampai. Cukup?” Hye Sun melaporkan semua keadaan yang dia rasa perlu dilaporkan kepada “Ibu” keduanya. Sementara sang “Ibu” kedua hanya mendekap kedua tangannya di depan dada sambil mendengarkan semua laporan Hye Sun dengan menyunggingkan bibirnya membuat senyuman tipis.

“Oke cukup,..” Senyuman itu makin mengembang lebar. “Ya sudah hati-hati di jalan. Perhatikan langkahmu, hindari segala sesuatu yang bisa menimbulkan goresan-goresan di kulitmu. Dan....”

“Cukup, baby. Semua laranganmu sudah terekam di otakku. Sekarang tidurlah.” Hye Sun memotong perkataan Min Ho. Setelah menyuruh kekasihnya untuk tidur, dia langsung memutus telepon diantara mereka. Kesal sih tidak, hanya saja dia yang sebagai pendengar saja merasa capek, bagaimana si pengoceh yang sepanjang hari tidak ada berhentinya melarangnya melakukan ini-itu, dan menyuruhnya melakukan segala hal dengan super hati-hati agar tidak ada goresan-goresan yang menghiasi kulit indahnya?



**********


Berjam-jam Min Ho terlelap dalam tidurnya sambil menunggu telepon dari gadis mungilnya sebagai tanda kalau gadis itu sudah sampai. Merasa sudah cukup lama dia tertidur, Min Ho mengerjapkan matanya. Dan benar saja, tidak lama saat dia sudah mulai terbiasa dengan cahaya yang menusuk matanya, ponselnya berdering.

“Sudah sampai?” Tanya Min Ho pada Hye Sun. Min Ho mulai beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju meja rias, bercermin membenarkan penampilannya, dan jari-jari indahnya mulai terampil merapihkan helaian-helaian rambutnya yang berantakan layaknya orang bangun tidur.

“Sudah. Menjemputku di bawah atau masih ingin melanjutkan tidurmu?” Hye Sun mengapit ponselnya menggunakan bahunya, sedangkan kedua tangannya sedang sibuk menurunkan barang-barangnya dari mobil.

“Jelas saja menjemputmu di bawah. Tunggu aku, oke?” Ucap Min Ho di depan pintu lift.

Tidak lama setelah semua barang telah diturunkan, tubuh jenjang Min Ho sudah berada tepat di hadapan Hye Sun. “Oh, hai..,” Hye Sun menyapa Min Ho dengan wajah sedikit kaget.

“Hai. Ayo!~” Tanpa babibu lagi, tangan Min Ho langsung menarik tangan Hye Sun, tidak sabar untuk memeluk gadis mungilnya.

Mereka berdua masuk ke dalam hotel. Saling menatap satu sama lain dengan senyuman indah di bibir mereka. Hotel yang sepi dan tenang, sangat cocok untuk liburan mereka kali ini. Langkah keduanya kini mulai memasuki lift, hanya mereka berdua di dalamnya.

“Bagi..” Ucap Min Ho saat Hye Sun terlihat sedang membuka permen yang diambilnya dari saku di jaketnya.

“Tinggal satu.” Jawab Hye Sun polos sambil menunjukan permennya. Tangan Min Ho langsung menyambar permen yang dipegang Hye Sun, tapi sayang, seakan mengerti apa yang akan Min Ho lakukan, tangan Hye Sun lansung saja memasukan permennya ke dalam mulut dengan gesit.

“Maaf Tuan tampan, tanganmu masih kurang cepat..,” Hye Sun mencibir Min Ho.

“Tsshh” Min Ho berdesis kesal. Matanya melirik Hye Sun dengan senyuman jahil seperti menemukan suatu ide. Bukan Min Ho namanya kalau ia kehabisan akal begitu saja.

“Tapi kalau masalah ini kau yang kalah cepat, baby..” Ucap Min Ho sambil menyurukan kepalanya mendekat ke kepala Hye Sun.

Tubuh jenjang itu langsung saja menyerbu tubuh mungil gadis di sebelahnya. Melumat bibir gadisnya dengan kasar. Menjulurkan lidah panjangnya ke dalam rongga mulut gadisnya, mencari-cari benda kecil yang sedari tadi mereka perebutkan. Sang gadis hanya bisa pasrah, membalas dan menikmati permainan yang diberikan kekasihnya. Balik menjahili kekasihnya dengan tidak memberi izin pada lidah kekasihnya untuk merebut benda kecil itu. Tapi sayang, lidah itu begitu gesit, cepat, dan tidak memberi ampun. Akhirnya Min Ho mendapatkan apa yang dia cari dalam mulut gadisnya, diambilnya benda itu dengan cepat menggunakan lidahnya. Bunyi lift yang nyaring menyadarkan mereka akan permainannya. Min Ho mengerlingkan matanya pada Hye Sun, lalu menggandeng gadis itu menuju kamar mereka.

“Maaf Nyonya Lee, kau harus kalah..” Ucap Min Ho setelah mereka keluar dari lift. Lengannya merangkul Hye Sun gemas.

“Sial kau!” Hye Sun menyikut pinggang Min Ho diiringi dengan bibirnya yang dikerucutkan. Lucu sekali sampai-sampai Min Ho harus menahan dirinya untuk tidak menyerang gadis itu untuk yang kedua kalinya.






PART 2.., TBC--



Sebenernya chapter ini belum selesai, dan bener-bener belum dapet ilham buat lanjutin. Karna sudah mengingkari janji terlalu lama jadi aku post aja deh. Maaf menunggu, dan maaf juga kalo mengecewakan. Part 2 secepatnya  [bye]

7
[smiley-gen013] HAIIIIIIIIII [smiley-gen013]



Numpang iklan sebentar yaaaaa  Hface Hface



“Kau begitu sempurna, sayang .. “ Min Ho kembali mencium bibir Hye Sun. Sekarang Min Ho tidak membiarkan lidahnya untuk diam saja. Hye Sun menyambut lidah Min Ho yang menari-nari dalam mulutnya. Membalas, dan menikmati segala perlakuan yang diberikan Min Ho terhadapnya.




Update soon. Around tuesday or wednesday  [biggrin]

8
makasih updatenya [hug] , baca ff ini serasa nyata soalnya engga perlu" berfansy bangeet  karna ceritanya engga jauh dari kehidupan MINSUN sehari"  [biggrin] , Hye senang bangeeet buat Minho GALAU   [hmpfh] , sifat posisif nya MH emang oper dosis bangeet  [dry] tapi.. ada yang ganjal  [goodgrief], kenapa Nyonya GO  [dry] seharusnya Nyonya Lee kan lebih enak toh kedengarannya  [hmff] , liburannya MINSUN kebusan di bikin sweet lagi donk, kaya moment  [kiss] atau lebih juga boleh  [drool] , di tunggu nextnya ya  [lovestruck]

iya tadi juga mau Nyonya Lee, tp ga jadi, ga tau kenapa *loh?  [what]
berhubung aku masih polos, sepolos bayi yg baru lahir  /ditimpuk/ [jumpy] sengaja ga bikin banyak adegan yang  [bav] [bav] hihihi


anyway, thank you semuanya yang udah baca & comment  [arms]

9
makasih ya udah update,manager Hyesun kan cowok kim yoon sung oppa [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] kok gak ada panggilan sayang selain nama,,baby misalnya [what] [what] [what] [what] biar lebih romantissssssss [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
udah rahasia umum Minho possesif ma Hyesun,,tapi kalo Hyesun manja [what] [what] [what] [what] rasanya aneh coz aslinya Hyesun mandiri juga pinter masak [chin] [chin] [chin] [chin] [chin] [chin]
 [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]coz udah update

chap 3 jangan lama,,tunggu donghae beraksi [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]

 [jumpy] [jumpy] Demi apapun malu  [heh] [heh]
thank you buat kritikannya  [biggrin] sebenernya aku emang rubah semua karakter Hye Sun di sini, lebih mikirnya "Kali aja Hye Sun bener-bener berubah 180 derajat kalo udh deket Min Ho"  [biggrin]

10
My Oxygen, My Life, My Everything





--- C H A P T E R  2 ---



27 Februari 2012, Hongkong

Min Ho’s POV


GOO HYE SUN!!!!!!!!!!! Entah apa tujuannya dia meng-upload foto itu. Bahkan dia memanggil pria itu dengan sebutan yang berbeda. Dani? Ok. Kau sukses membuatku mati terbakar api cemburu Goo Hye Sun-ssi!!

Bahkan belum ada sehari aku meninggalkannya, tapi dia sudah berbuat seperti ini. Hhhh bagaimana mungkin aku bisa betah berlama-lama di Hongkong kalau belum apa-apa dia sudah memancingku untuk pulang dan –menghukumnya?


**********

Dua hari sudah sebagian paru-paruku seakan berhenti bekerja. Oksigenku, lagi-lagi aku harus meninggalkannya.

Dua hari sudah dia tidak menjawab teleponku. Apakah dia masih marah? Bagaimana bisa aku bernafas dengan bebas, kalau sekarang aku pun tidak bisa mendengar deruan nafasnya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja di sana. Wanita itu memang selalu membuatku tersiksa. Bahkan kecantikannya sekalipun, itu membuatku tersiksa. Tersiksa untuk mengendalikan nafsuku, untuk tidak menyentuhnya dengan lebih.


**********

Hye Sun’s POV

Hahahaha sengaja aku meng-upload fotoku dengan Dani dua hari yang lalu. Ingin sekali melihat wajah cemburu dan wajah marahnya saat dia pulang nanti. Sedikit ingin mengerjainya, tidak mengangkat teleponnya selama dua hari, dan tidak mengacuhkannya saat dia tiba nanti, sepertinya seru.

“Dia meneleponmu?” Tanyaku penasaran pada managerku.

“Iya. Suaranya terdengar sangat khawatir..” Jelasnya padaku.

“Hahaha benarkah? Ini lah resikonya kalau kau sering meninggalkanku Min Ho-ssi” Aku tertawa puas. Tidak sabar rasanya menunggu dia kembali.

“Tssshh kau ini. Jelas-jelas dia meninggalkanmu karena tuntutan pekerjaan. Sempat-sempatnya kau mengerjai dia..”

“Biarlah oppa. Sudah lama aku tidak melihatnya cemburu..”

“Sudah lama katamu? Lalu yang sebelum-sebelumnya Min Ho marah dan aku membayangkan dia terbakar api seperti setan tercebur ke neraka paling dalam, karena kedekatanmu dengan Donghae dan Dani kau kira itu apa kalau bukan cemburu?”

“Hhhhhhh laki-laki itu selalu saja posesif! Dia menyuruhku memaksimalkan rasa percayaku padanya, tapi dia sendiri? Benar-benar curang!”

“Itu karena dia terlalu mencintaimu Hye Sun-ssi. Dia tidak ingin kehilanganmu..”

“Terserahlah apa alasannya. Terkadang aku muak dengan sifat posesifnya.”

“Muak? Tapi kau bertahan sampai hampir 3 tahun bersamanya.”

“Rasa cintaku mengalahkan muak itu. Saat dia meminta maaf, hati luluh begitu saja. Dia selalu tau apa yang harus dia lakukan saat dia merasa salah.”

“Kau beruntung memilikinya,...”

Aku mengangguk. Sangat beruntung memiliki pria seperti dia. Selalu memperhatikanku walau jarak memisahkan kita. Dia begitu sempurna.


*********

Author’s POV

Hari ketiga Min Ho dan Hye Sun harus terpisahkan dengan jarak beribu-ribu kilometer jauhnya. Min Ho terlihat sangat gelisah dan tidak tenang. Entah untuk yang keberapa kalinya dia menelepon kekasihnya, tapi lagi-lagi kekasihnya itu tidak mengangkat teleponnya. Dan untuk kedua kalinya Min Ho menelepon manager Hye Sun untuk menanyakan kabar kekasihnya.

“Dia masih marah?”


“Sepertinya begitu..”

“Apakah dia makan dengan baik? Dia tidak memasak kan?”

“Dia makan dengan baik. Seperti yang kau perintahkan, aku selalu melarangnya memasak.”

“Bagus! Pastikan dia tidak menyentuh benda tajam itu sedikitpun. Kalau aku melihat goresan luka ditubuhnya sedikit saja kau yang aku salahkan!”

“Astaga............ Iya iya aku akan menjaga peri cantikmu dengan baik. Kau juga harus makan dengan baik, jangan terlalu memikirkannya. Percaya padaku, dia pasti akan kembali baik padamu saat kau kembali nanti..”

“Baiklah. Terimakasih dan tolong jaga dia.”

Min Ho terlihat sedikit lega setelah mendengar kabar dari manager Hye Sun. Min Ho sadar kalau dia terlalu posesif pada Hye Sun. Dan lagi-lagi alasannya sama! Dia hanya tidak ingin kehilangan Hye Sun!


**********

01 Maret 2012, Apartement Hye Sun

Terlihat tubuh tinggi menjulang memasuki lorong apartement dengan wajahnya yang berseri memancarkan rasa ketidaksabarannya untuk melihat kekasih mungilnya. Beberapa jam yang lalu Min Ho sudah sampai di Korea, sebentar mengunjungi kantor managementnya dan tanpa menunggu waktu lagi ia langsung menuju ke apartement Hye Sun atau bisa dibilang apartement mereka lebih tepatnya.

Dibukanya kenop pintu dengan hati-hati, takut mengganggu seseorang yang berada di dalam. Gamja menyambutnya dengan gongongannya yang khas. Mendengar itu Hye Sun yang sedang asyik menonton TV sontak menengokan kepalanya menuju sumber suara itu datang.

“Sudah pulang?” Tanya Hye Sun dingin. Ingat rencananya, tidak mengacuhkan Min Ho.
Wajah berseri Min Ho seketika berubah menjadi sendu. “Ada apa dengannya?” Katanya dalam hati. Min Ho berjalan mendekati Hye Sun sambil menuntun Gamja di sebelahnya.

“Kau tidak senang?” Min Ho bertanya pada Hye Sun seraya duduk di samping gadis mungilnya itu. Gamja yang sedari mengikutinya berlari-lari kecil mengitari sofa yang diduduki kedua majikannya itu.

“Menurutmu aku harus senang atau bagaimana?” Alih-alih menjawab pertanyaan Min Ho, Hye Sun malah –lagi-lagi melontarkan pertanyaan.

“Kau ini kenapa?” Pertanyaan lagi. Sebenarnya mereka ini artis atau wartawan?

“Tidak apa. Hanya sedikit lelah. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi makanlah dulu..” Akhirnya kali ini bukan pertanyaan. Sepertinya rencana Hye Sun berhasil. Lihatlah wajah Min Ho sekarang –semakin gelap, sendu, dan serasa tidak berguna.

“Dia bahkan tidak merindukanku..” Batin Min Ho. Dada kirinya terasa sakit. Kekasih yang hampir membuatnya mati karena tidak memberi kabar sama sekali selama empat hari, kini dia tidak mengacuhkannya.

Min Ho menyandarkan tubuh lemasnya ke sofa saat Hye Sun sudah meninggalkannya sendiri. Setelah menyuruh Min Ho untuk makan Hye Sun tanpa basa-basi langsung pergi menuju kamarnya. Min Ho terdiam mematung. Menatap langit-langit apartement mereka dengan tatapan kosong. Berusaha mengoreksi diri, apa yang salah atas dirinya saat ini. Dia tau kalau Hye Sun bukanlah tipe wanita yang mudah marah hanya karena dia meninggalkannya untuk beberapa hari. “Belakangan ini di terlalu sensitif..” Min Ho menggerutu pelan. Begitu pelan tanpa semangat.

“Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi makanlah dulu..” Sontak Min Ho bangun dari duduknya saat ia mengingat perkataan itu. “Menyiapkan makan untukku? Dia memasak?” Min Ho langsung menuju meja makan dan melihat semua makanan yang telah Hye Sun sajikan untuknya. Lagi-lagi Min Ho terpaku dalam diam.

“Setidaknya dia masih mengkhawatirkanku.” Sedikit kelegaan Min Ho rasakan. Lega karena Hye Sun telah menyiapkan makanan untuknya. Secara tidak langsung ini membuat Min Ho merasakan kalau Hye Sun masih mengkhawatirkannya, masih memperhatikannya.

“Apakah tangannya tidak terluka saat menyiapkan semua ini?” Min Ho bertanya pada dirinya sendiri.


**********

Setelah menghabiskan semua makanan yang Hye Sun siapkan Min Ho langsung menuju kamar Hye Sun. Dilihatnya gadis mungil itu telah tertidur pulas. Ingin sekali sedikit menyentuh pipi halus gadis itu, tapi Min Ho mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin mengganggu tidur peri cantiknya, tidak, sebenarnya dia tidak ingin mendengar kata-kata dingin dari mulut gadis itu lagi. Itu terlalu menyiksa untuknya.

Min Ho memutuskan untuk tidur di kamar yang berbeda. Sungguh ingin dia tidur bersama Hye Sun malam ini, tapi melihat sikap Hye Sun yang seakan-akan tidak suka atas kedatangannya dia memilih untuk tidak melakukan itu.

Gamja yang masih terjaga mengikuti Min Ho memasuki kamar. Min Ho menghela nafasnya berat. Semua harapan indah yang ingin ia lakukan bersama Hye Sun malam ini kandas begitu saja. Dia bahkan sudah melupakan peristiwa peng-upload-an foto menyebalkan itu. Kini kegalauan merasuki tubuhnya. Semuanya terasa gelap, paru-parunya seakan berhenti bekerja. Ini bahkan lebih menyiksa dibandingkan saat merindukan gadis itu dengan sangat.

“Kau tidak tau apa-apa? Dia masih marah padaku?” Min Ho memeluk Gamja di sebelahnya dan berbicara dengan anjing itu. Lihatlah, dia bahkan hampir gila! Akal sehatnya benar-benar sudah lenyap begitu saja. Hye Sun benar-benar berhasil akan rencananya. Gamja hanya menjawabnya dengan sebuah gongongan.

Min Ho mengambil ponsel di atas meja kecil di sampingnya. Setelah tidak hampir dua menit Min Ho mengetik sesuatu di ponselnya, dia menekan tombol “Send”

.
.
.

Di kamar yang berbeda Hye Sun terlihat pulas dalam tidurnya. Tapi instingnya masih kuat untuk menangkap getaran yang berasal dari ponselnya. Merasakan itu, Hye Sun segera membuka matanya dan memeriksa benda yang bergetar tadi.

“Kau benar-benar ingin membuatku mati, hah?” Seketika bibir manis Hye Sun melebar membentuk sebuah senyuman saat membaca pesan dari kekasihnya.

“Kena kau!” Katanya puas diselingi tawa yang tidak keras, takut Min Ho mendengarnya. Pesan Min Ho sukses membuat kantuknya hilang seketika.

“Masuklah..” Hye Sun membalas pesan Min Ho singkat. Ia menyuruh Min Ho masuk ke kamarnya. Entah apa yang ia rencanakan kali ini.

Di sisi lain Min Ho terlihat sedikit bingung setelah membaca pesan balasan dari Hye Sun. “Masuk?” Kata Min Ho bingung. Lalu ia menatap Gamja di sebelahnya seakan bertanya pada anjing itu –lagi.

Langsung saja Min Ho beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar Hye Sun. Sedangkan Hye Sun bersiap-siap untuk kembali berakting. Hye Sun kembali berpura-pura tertidur dengan posisi membelakangi pintu masuk kamarnya.

Terdengar suara pintu terbuka. Yah, tidak lain dan tidak bukan itu adalah Min Ho. Kali ini dia tidak membiarkan Gamja mengikutinya lagi. Hye Sun merasakan seseorang mendekati tubuhnya. Kasur tempatnya tertidur bergerak tanda seseorang telah menaikinya. Lalu tidak ada lagi tanda-tanda pergerakan dari seseorang yang menaiki kasur itu. Ya, Min Ho hanya diam, duduk di samping Hye Sun tanpa berniat bicara sedikit pun.

Semenit ,... Dua menit ,... sampai hampir lima menit lamanya mereka hanya terdiam. Sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Min Ho memecahkan keheningan diantara mereka.

“Sampai kapan kita akan terdiam seperti ini?” Suara Min Ho begitu berat. Terdengar begitu putus asa. Mendengar itu, Hye Sun membalikan tubuhnya menghadap Min Ho. Ditatapnya kekasihnya dalam-dalam. Begitu dalam sampai Min Ho salah tingkah.

“Ada apa? Mengapa melihatku seperti itu?” Min Ho bertanya pada Hye Sun sedikit gugup. Tatapan itu begitu mengerikan. Deguman jantungnya begerak begitu cepat sekarang.

“Peluk aku ...” Suara Hye Sun terdengar sangat menuntut. Untuk sepersekian detik Min Ho menatap wajah Hye Sun bingung, tapi tidak berapa lama kemudian ia langsung mengiyakan perintah Hye Sun. Menggerakan tubuhnya lebih dekat dengan Hye Sun, mengulurkan tangannya memeluk pinggang Hye Sun pelan, halus, dan begitu hangat.

“Mengapa kau lakukan ini padaku?” Tanya Min Ho pada Hye Sun. Masih terdengar sedih.

“Belakangan ini kau terlalu sibuk. Aku benci itu!” Hye Sun menjelaskan alasannya pada Min Ho. Selesai sudah misinya. Dia berhasil membuat Min Ho kelimpungan akan ulahnya malam ini.

“Sebenci itukah? Sampai-sampai kau harus melakukan ini padaku?” Lagi-lagi pertanyaan yang terlontar dari mulut Min Ho.

“Ya!! Sejak kapan kau berubah profesi menjadi wartawan? Bertanya dan bertanya terus..” Hye Sun menyadarinya, sejak tadi kerjaan Min Ho hanya memberikannya bertubi-tubi pertanyaan.

“Ini semua karenamu. Kau benar-benar membuatku gila malam ini..” Ucap Min Ho sangat jelas. Min Ho mempererat pelukannya dengan Hye Sun. Kembali merekam detak jantung gadis mungilnya. Kembali mereka harum tubuh gadis mungilnya. Kembali merekam semua hal yang ada dalam gadis mungilnya untuk kembali bernafas dengan bebas. Untuk kembali memperbaiki kinerja paru-paru dan jantungnya seperti yang seharusnya. Oksigennya sudah kembali, masih tetap disisinya.

“Maaf ...” Hye Sun meminta maaf pada Min Ho dengan lirih. Hening seketika.

Min Ho memejamkan matanya sambil mengelus rambut halus Hye Sun. Sedangkan Hye Sun memainkan jarinya di atas punggung Min Ho. Terdiam dalam kesunyian yang menenangkan. Hembusan angin malam menyentuh tubuh mereka halus.

“Tanganmu tidak apa-apa?” Tanya Min Ho dalam keheningan. Masih tetap memejamkan matanya.

“Kau kira aku akan seceroboh itu? Aku pemilik cafe yang cukup terkenal di Seoul. Jadi mana mungkin memasak untukmu saja aku terluka?” Hye Sun sudah tau kalau Min Ho akan menanyakan ini. Sifat posesif Min Ho terhadap Hye Sun bisa dijamin tidak akan bisa hilang!

“Jagalah dirimu baik-baik disaat aku tidak bisa menjagamu. Karena jika aku melihat luka ditubuhmu sedikitpun, dapat dipastikan kau tidak akan pergi kemana-mana tanpa pengawasanku.” Kata Min Ho sangat serius. Suaranya menunjukan kalau dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Hye Sun. Hye Sun adalah pusat pikirannya, segalanya berporos pada Hye Sun.

“Kau ..” Hye Sun terdiam sejenak. “Kau .. satu-satunya orang yang kuizinkan untuk mengatur hidupku, Tuan Lee..” Begitulah lanjutnya. Hye Sun mempercayakan semua hidupnya pada Min Ho. Terlalu nyaman saat berada di dekatnya. Terlalu aman saat Min Ho menjaganya.


*********

Mentari pagi sudah memamerkan sinar hangatnya. Sepasang kekasih terlihat masih terlelap dalam tidur mereka. Memeluk satu sama lain dengan eratnya. Dunia ini serasa hanya milik mereka berdua.

Hye Sun mengerjapkan matanya saat merasakan sinar matahari menyentuh wajahnya hangat. Sedikit menjauhkan tubuhnya dari Min Ho namun tetap dalam pelukan kekasihnya, lalu menatap wajah Min Ho dalam-dalam. Tangan mungil Hye Sun perlahan terjulur mengelus wajah Min Ho pelan. Mengelus hidung macung Min Ho seraya tersenyum tipis.

Merasakan sesuatu menyentuh wajahnya, Min Ho hanya diam. Tetap memejamkan matanya, menikmati sentuhan halus yang diberikan kekasihnya. Begitu halus sampai membuat darahnya mengalir cepat.

“Apa ada yang berubah?” Min Ho bertanya pada Hye Sun sambil tetap memejamkan matanya. Sedikit mengagetkan gadis mungilnya.

“Tidak ada .. Masih tetap sama seperti pertama kali jatuh cinta padamu ,.. “ Jawab Hye Sun. Jari-jarinya masih menelusuri wajah halus kekasihnya. Begitu sempurna.

Cups .... Dengan tiba-tiba Hye Sun mengecup bibir Min Ho singkat. “Ciuman selamat pagi ..” Jelasnya. Min Ho hanya tersenyum lalu membuka matanya.

“Kau memancingku sayang~” Dengan cepat Min Ho mengubah posisinya, menindih Hye Sun. Perlahan namun pasti kepalanya mendekat pada kepala Hye Sun menghancurkan jarak diantara mereka. Hye Sun hanya tersenyum. Hanya dalam hitungan detik suara decakan antara bibir mereka terdengar memenuhi kamar.

“Mmphhh .. Aku harus mandi..” Hye Sun berkata disela-sela ciuman mereka.

“Haruskah? Hmphh ..” Tanya Min Ho sambil tetap melanjutkan ciuman mereka.

Hye Sun mendorong dada Min Ho pelan. Menyuruh Min Ho untuk berhenti.

“Lanjutkan nanti malam saja. Aku harus bekerja sekarang .. “ Kedua tangan Hye Sun memegang pipi Min Ho, lalu mengecup bibir Min Ho sekali lagi dalam-dalam sebelum akhirnya dia beranjak menuju kamar mandi dan meninggalkan Min Ho sendiri.

.
.
.

Hye Sun terlihat sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan. Sedangkan Min Ho hanya diam terpaku di atsa kursi meja makan menikmati keindahan tubuh Hye Sun yang sejak tadi mondar-mandir menuju kulkas mencari sesuatu yang ia butuhkan.

“Ingin makan apa?” Tanya Hye Sun pada Min Ho yang akhirnya menghentikan aktivitasnya.

“Kau .. “ Jawab Min Ho singkat namun terdengar serius.

“Ck, aku sedang tidak bercanda .. “

“Aku pun tidak! ..” Min Ho menggeleng lalu beranjak, berjalan mendekati Hye Sun.

“Mau apa?” Tanya Hye Sun hati-hati..

“Memakanmu ..” Min Ho langsung menarik pinggang Hye Sun, membawanya dalam pelukannya, lalu melumat bibir mungil Hye Sun. Lumatan itu terus turun menuju leher Hye Sun. Hye Sun dapat merasakan nafas Min Ho yang hangat di sekitar lehernya. Nafsu Min Ho yang memburu melenyapkan akal sehatnya begitu saja. Hye Sun yang masih –lumayan sadar kalau ada pekerjaan yang menuntutnya harus datang pagi ini, perlahan menghentikan aktivitas pria di hadapannya yang sedang meluapkan nafsunya pada dirinya.

Min Ho menatap Hye Sun menuntut seolah berkata “Aku ingin lebih .. “ Tapi apa boleh buat, Hye Sun tidak bisa menuruti maunya karena dia harus bekerja.

“Apa aku menghancurkannya lagi? ..” Tanya Hye Sun mengingat perkataan Min Ho beberapa hari yang lalu.

Min Ho tidak menjawab. Hanya menatap gadis dihadapannya lekat-lekat. Merasa sudah tidak kuat untuk menatap gadis itu, ditariknya gadis itu dalam pelukannya.

“Kau adalah satu-satunya alasan mengapa aku bisa dengan cepat merasa lemas saat memandang mu. Perlu tenaga lebih untuk melakukan itu .. “ Ucap Min Ho dalam pelukan mereka. Hye Sun tersenyum haru mendengarkan itu.

“Kau tau? Siang adalah waktu yang sangat menyiksa. Karena siang memisahkan kita, menyuruh rasa rindu itu datang lagi. Membuatku benar-benar tersiksa..” Lanjut Min Ho sambil mempererat pelukannya pada Hye Sun.

“Sudah puas? Aku harus bekerja sekarang..” Ucap Hye Sun terpaksa. Sebenarnya dia sendiri pun belum puas, belum sepenuhnya menghapus rasa rindunya, tapi dia bisa apa? pekerjaannya menuntutnya untuk sebisa mungkin dia harus puas.

“Pergilah .. Tidak perlu menyiapkan sarapan untukku. Aku tidak ingin melihat luka di jarimu.” Akhirnya Min Ho merelakan Hye Sun untuk pergi bekerja. Sulit memang, tapi ini resiko yang harus diterima keduanya saat siang datang –menyambut rasa rindu yang akan menjalari tubuh mereka sebentar lagi.


**********

04 Maret 2012, Pesawat

00:30 AM


Terlihat pria bertubuh jenjang dan menawan sedang terduduk disalah satu kursi di dalam pesawat. Dia menunggu kekasihnya. Jari-jarinya dengan terampil mengotak-atik ponsel yang ada di tangannya sejak tadi. Membaca kalimat-kalimat yang ada di sana dengan serius. Sampai akhirnya sebuah kalimat membuatnya tersontak. Hye Sun memberi tau kalau dia akan ke Busan di twitter. Min Ho kaget, tidak biasanya gadis itu seberani ini.

Ya,.. Setelah Hye Sun mengatakan kalau dia akan ke Busan pada Min Ho, Min Ho langsung mengatakan “Aku ikut denganmu .. “ saat itu juga. Dan sekaranglah hasilnya. Berhasil masuk ke dalam pesawat dengan bermacam-macam penyamaran yang mereka lakukan. Sosok mungil Hye Sun sudah mulai terlihat memasuki lorong pesawat dan mencari sosok jangkung yang familiar di matanya.

“Nyonya Goo, tolong jelaskan apa maksudmu menulis tweet seperti itu?” Tanya Min Ho ketika sosok Hye Sun sudah terlihat jelas dihadapannya.

“Hanya iseng. Ingin membuat mereka senang dan penasaran. Apa tidak boleh? ..” Hye Sun balik bertanya pada Min Ho setelah menjelaskan alasannya. Min Ho sedikit bergeser, memberi luang untuk Hye Sun masuk ke sisi di sampaingnya –dekat jendela.

“Hhhhh.. Kau .... “ Baru saja Min Ho ingin sedikit memarahi Hye Sun, tapi gadis itu dengan cepat memotong kata-kata selanjutnya.

“Jangan dilanjukan lagi. Aku sedang tidak ingin mendengar ocehanmu. Biarkan aku tidur sebentar, hari ini sangat melelahkan .. “ Ucap Hye Sun menerobos tanpa menatap wajah Min Ho. Min Ho langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Lalu gadis mungil di sampingnya mulai memejamkan matanya seperti apa yang dia katakan, ingin tertidur sebentar.

“Pakai ini .. “ Min Ho memberikan selimut pada Hye Sun, lalu membantu gadis mungil itu menyelimuti tubuhnya.

“Istirahatlah. Jangan coba-coba membuka mata, sebelum aku membangunkanmu ..” Perintah Min Ho saat Hye Sun mulai meliuk-liuk mencari posisi yang tepat untuknya.

“Mmm terserah kau saja .. “ Jawab Hye Sun asal, diikuti dehaman seksinya –bagi Min Ho. Tanpa disadarinya darah Min Ho mengalir cepat mendengar dehaman gadis itu. Terlalu seksi. Terlalu menggemaskan.

Saat Hye Sun sudah terlelap dalam tidurnya, Min Ho seperti biasa melakukan aktivitas favoritnya. Menatap wajah gadis itu saat tertidur. “Oksigenku .. “ Gumam Min Ho pelan. Jari-jarinya merapihkan poni Hye Sun yang menutup keindahan dahi gadis itu. Tatapannya begitu dalam, menulusuri setiap bagian wajah gadis itu dengan begitu teliti. Mencari-cari apakah ada goresan luka di sana –yang jelas-jelas tidak mungkin ada. Mencari-cari apakah ada yang berubah sejak pertama kali dia melihatnya di pagi hari. Dan sayangnya itu ada. Kantong mata gadis itu terlihat begitu jelas.

“Kau terlalu banyak bekerja .. “ Ucap Min Ho lirih. Jarinya kini bergerak menuju kantong mata itu, mengelusnya penuh hati-hati. Cukup sedih melihatnya.

“Apa kau selalu melakukan ini saat aku tertidur..” Insting Hye Sun cukup kuat untuk menangkap pergerakan-pergerakan jari Min Ho di wajahnya. Tanpa membuka matanya –karena ingat perintah Min Ho sebelum dia tidur tadi, Hye Sun terbangun dari tidurnya.

“Jangan coba-coba membuka matamu .. “ Perintah Min Ho .. “Untung dia masih tetap memejamkan matanya, jadi aku tidak perlu capek-capek menyembunyikan wajah maluku..” Umpat Min Ho dalam hati.

“Tidurlah ,.. Apa kau tidak lelah?” Sekarang giliran Hye Sun yang memerintah, sambil menepuk bahunya. Menyuruh Min Ho tertidur di sana. Melihat itu tanpa berpikir panjang lagi Min Ho langsung menyurukan kepalanya di atas bahu Hye Sun. Sedikit menggelengkan kepalanya mencari posisi nyaman.

“Melihat wajahmu yang tertidur, membuatku melupakan segalanya .. “ Ucap Min Ho seraya mulai memejamkan matanya.

“Segitu bahayanya kah wajahku untukmu? ..” Tanya Hye Sun. Tangannya mengelus pipi Min Ho sayang.

“Sudah tidurlah.. Tidak perlu menanyakan sesuatu yang kau sudah tau apa jawabannya.” Tanpa memberikan jawaban yang jelas pada Hye Sun sudah dipastikan Hye Sun pun tau jawabannya. Gadis itu hanya menggoda Min Ho kkkk ,..


*********

“Hye Sun-ah~ sudah sampai. Bangunlah .. “ Min Ho membangunkan Hye Sun dengan mengelus kepala gadis itu pelan.

“Oo? .. “ Hye Sun sedikit terkejut dan tampak linglung. Sepertinya ada yang tidak beres dengannya.

“Kenapa? Kau tidak apa-apa? .. “ Seketika rasa khawatir Min Ho naik ke level yang paling maksimum.

“Bisa peluk aku?” Pinta Hye Sun dengan wajah ketakutan.

“Ada apa? Katakan padaku .. “ Tanya Min Ho lagi dan dengan cepat memeluk gadisnya itu.

“Tidak apa ,.. hanya mimpi buruk..” Ucap Hye Sun, mulai tenang.

“Benar hanya itu? .. “ Tanya Min Ho memastikan. Sungguh, detak jantungnya bergerak begitu cepat sekarang.

“Iya .. “ Ucap Hye Sun. Dia mempererat pelukannya dengan Min Ho. Sangat erat, ingin lebih memastikan kalau Min Ho masih di sana, benar-benar di sisinya.

.
.
.

“Kita langsung ke pantai saja. Aku ingin melihat matahari terbit .. “

“Siap Nyonya Goo ,.. “ Jawab Min Ho mantap, Hye Sun hanya terkekeh melihat kelakuan kekasihnya itu.

Tidak ada setengah jam akhirnya keduanya sampai di pantai. Beruntung tidak banyak orang mengunjungi pantai saat ini. Lagipula pantai yang mereka datangi ini memang termasuk tempat yang lumayan terpencil.

Min Ho dan Hye Sun keluar dari mobil. Min Ho berlari-lari kecil menghampiri Hye Sun, menarik gadis itu dalam rangkulannya. Wajah mereka tampak begitu bahagia, seolah mengatakan “Kami rindu waktu seperti ini. Di luar apartement, tanpa orang lain, hanya berdua, hanya kita!” Mereka berjalan sambil menendang-nendang pasir pantai yang halus di bawah kaki mereka. Sesekali satu diantara mereka dengan sengaja menendang pasir itu ke arah kaki kekasihnya. Kalau sudah seperti ini mereka terlihat seperti anak kecil. Cinta memang bisa mengubah segalanya. “Hehe ,.. “ Hye Sun terkekeh disela-sela aktivitas mereka. Sangat menggemaskan.

Merasa sesuatu yang mereka tunggu sejak tadi sudah akan datang, mereka memutuskan berhenti ditengah-tengah pantai. Perlahan matahari di hadapan mereka mulai memancarkan keindahan dan sinar hangatnya. Hye Sun memilih untuk duduk di atas pasir putih nan halus. Min Ho masih tetap berdiri di sampingnya. Mata Hye Sun secara otomatis mengerjap, merasakan silaunya sinar yang dipancarkan benda oranye itu. Melihat kekasihnya yang kesilauan, tanpa basa-basi Min Ho langsung berjalan, dan berhenti tepat di depan Hye Sun. Melindungi gadis mungilnya itu dari silaunya sinar matahari.

“Apa yang kau lakukan? Kau menghalangiku, tau!” Sontak Hye Sun memarahi Min Ho. Dia kaget melihat kekasihnya berdiri di hadapannya, membuatnya tidak bisa melihat indahnya sang surya saat baru muncul ke permukaan bumi –yang jelas-jelas itulah tujuannya mengapa dia datang ke pantai ini.

“Matamu. Sinarnya melukai mata indahmu..” Jawab Min Ho sambil tetap membelakangi Hye Sun. Sekarang dia lah yang kerepotan mengedip-ngedipkan matanya, berusaha membiasakan kedua matanya terhadap sinar matahari yang secara langsung menusuk matanya.

“Tsshh .. Kau berlebihan!” Dengus Hye Sun kesal. Sifat posesif pria itu lagi-lagi terlalu berlebih, walaupun cukup membuatnya terharu.

“Jangan coba-coba bergeser sedikit pun!” Perintah Min Ho keras. Tidak lama kemudian dia melanjutkan kata-katanya “Saat berada di dekatmu, semuanya memang menjadi berlebihan untukku. Bahkan rasa cintaku padamu. Rasa itu selalu menjadi berlebih saat menemukan objeknya. Objek yang membuatku jatuh cinta lagi dan lagi. Dunia pun tau siapa objek itu. Jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi..”

Min Ho membalikan tubuhnya menghadap Hye Sun. Menarik gadis itu untuk beranjak dari duduknya. Menatapnya lekat-lekat, lalu memeluknya.

“Terima kasih untuk tetap di sisiku ,.. “ Ucap Min Ho. Nada suaranya begitu rendah namun terdengar serius. Lagi-lagi Hye Sun terharu dibuatnya. Seketika air matanya mengalir begitu saja. Pria yang memeluknya sekarang ini memang sempurna. Bahkan lebih dari sempurna. Entah bagaimana mendeskripsikannya.

“Terima kasih juga untuk selalu menjagaku..” Hye Sun pun berterima kasih pada Min Ho dalam suaranya yang bergetar. Akhirnya walau menyilaukan, sinar matahari itu juga menghangatkan mereka, menyambut cinta mereka yang abadi.


**********

Malamnya ,...

“Ternyata kau di sini .. “ Akhirnya Hye Sun dapat menemukan sosok jangkung favoritnya.

“Berenang malam-malam begini, otakmu kau simpan di mana, hah?” Min Ho tampak begitu khawatir. Gadis mungilnya pergi tanpa seizinnya saat dia tertidur tadi. Dan ternyata seperti yang diberitahu manager gadis itu, dia pergi berenang disaat seperti ini. Gadis itu benar-benar gila!

“Karena aku yakin kau selalu ada untuk merawatku disaat aku sakit, jadi aku nekat untuk berenang malam ini .. “ Jelas Hye Sun percaya diri. Tapi benar juga apa yang dikatakannya kkkk..

“Pemikiran yang bodoh!” Balas Min Ho kesal. Hye Sun mulai berjalan, lalu berdiri di sampingnya. Dilihatnya gadis itu mengusap-usap lengan dan juga kedua telapak tangannya. Sontak Min Ho langsung menarik gadis itu dan memeluknya dari belakang.

“Kalau tidak ada aku siapa yang akan menghangatkamu?” Tanya Min Ho seraya mempererat pelukannya.

“Jadi, tetaplah di sisiku, dan teruslah menghangatkanku .. “ Pinta Hye Sun sungguh-sungguh.

“Kau ini ,.. “ Min Ho menjitak kepala Hye Sun karena gemas.

“Hehe maaf .... “ Hye Sun meminta maaf sambil menikmati hangatnya pelukan Min Ho ditubuhnya.
“Lain kali jangan seperti ini lagi. Kau selalu membuatku khawatir .. “

“Mmm,.. Aku janji tidak akan melakukannya lagi .. “

Hye Sun berdeham. Hahaha tampaknya Min Ho dalam masalah.

“Berdehamlah sekali lagi, baru aku akan memaafkanmu.”

“Hah?”

“Sudah tidak usah membantah. Lakukanlah. Atau aku tidak akan memaafkanmu..”

“Mmm...... Min Ho ..” Entah dapat ide darimana Hye Sun berdeham seraya menyebut nama Min Ho. Dan itu sukses membuat Min Ho lemas seketika.

“Hye Sun-ah~ Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?” Setelah berusaha keras mengendalikan dirinya akibat mendengar dehaman Hye Sun, tiba-tiba Min Ho menayakan hal itu. Cukup mengagetkan.

“Mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu?”

“Aku memintamu untuk menjawabnya, bukan balik bertanya padaku!”

“.............” Hening. Sepertinya Hye Sun sedang mencari kata-kata yang bagus untuk mengutarakan jawabannya pada Min Ho.


“Aku mencintaimu karena kau lah orangnya. Orang yang berhasil membuatku lupa akan segalanya jika sudah menatap wajahnya. Orang yang berhasil membuatku merasa sangat aman jika sudah berada di sampingnya. Orang yang selalu ku nanti-nantikan kedatangannya saat aku merindukannya dan dia berhasil membuatku kembali bernafas dengan benar saat dia kembali menghapus rasa rindu itu. Kalau kau?”

“Aku? Apa yang mebuatku mencintaimu?”

“Iya. Tidak adil jika hanya aku yang mengatakannya .. “


“Aku mencintaimu karena kau berhasil membuatku terobsesi untuk menua bersamamu. Karena aku sudah menemukamu, maka tidak ada alasan lagi untuk melepasmu.”

Jawaban Min Ho lebih singkat, tetapi sangat membuat Hye Sun tersentuh dan sampai akhirnya dia tidak kuat lagi untuk menahan air matanya. Min Ho menyeka air mata Hye Sun. Menundukan kepalanya, lalu meletakan dagunya di bahu Hye Sun. Lalu berkata ,..

“Untuk terlahir di dunia ini. Untuk tetap bernafas bersamaku. Terima kasih ,.. “

Keduanya tersenyum, terlihat sangat bahagia. Seakan sedang memamerkan cinta abadi mereka pada dunia. Begitu indah dan sempurna.

*********



--- T B C ---


MIANNNNNNN baru update  [heh] Maaf kalo kurang panjang, maaf kalo agak ngebosenin, maaf kalo mengecewakan..
Mohon komen semuanyaaaaaa  [clap] [clap]

11
Malam ini diusahain update  [biggrin] Beautiful Life juga lg masa pelanjutan. Ditunggu ya  Hface

12
wahhhhhhhhhh...sistaaaaaaa kapan update fullnya???????????  Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427 Emoticons0427

ditunggu yakkkk...nanti dong hae muncul disini jg gak?????  [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233] [AddEmoticons04233]

biar MH kepanasan kayak banteng ketaton.........  [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256] [AddEmoticons04256]

Di chap 2 Donghae belom bisa dikeluarin  [hmpfh] Mungkin nanti pas chapter Special White Day   [chin] [biggrin]

13
haeee mana #plak

hae ada nih di kamar. Kenapa kak?  [hmpfh] [hmpfh]

14
My Oxygen, My Life, My Everything






-- T E A S E R --




01 Maret 2012, Apartement Hye Sun

Terlihat tubuh tinggi menjulang memasuki lorong apartement dengan wajahnya yang berseri memancarkan rasa ketidaksabarannya untuk melihat kekasih mungilnya. Beberapa jam yang lalu Min Ho sudah sampai di Korea, sebentar mengunjungi kantor managementnya dan tanpa menunggu waktu lagi ia langsung menuju ke apartement Hye Sun atau bisa dibilang apartement mereka lebih tepatnya.

Dibukanya kenop pintu dengan hati-hati, takut mengganggu seseorang yang berada di dalam. Gamja menyambutnya dengan gongongannya yang khas. Mendengar itu Hye Sun yang sedang asyik menonton TV sontak menengokan kepalanya menuju sumber suara itu datang.

“Sudah pulang?” Tanya Hye Sun dingin. Ingat rencananya, tidak mengacuhkan Min Ho.
Wajah berseri Min Ho seketika berubah menjadi sendu. “Ada apa dengannya?” Katanya dalam hati. Min Ho berjalan mendekati Hye Sun sambil menuntun Gamja di sebelahnya.

“Kau tidak senang?” Min Ho bertanya pada Hye Sun seraya duduk di samping gadis mungilnya itu. Gamja yang sedari mengikutinya berlari-lari kecil mengitari sofa yang diduduki kedua majikannya itu.

“Menurutmu aku harus senang atau bagaimana?” Alih-alih menjawab pertanyaan Min Ho, Hye Sun malah –lagi-lagi melontarkan pertanyaan.

“Kau ini kenapa?” Pertanyaan lagi. Sebenarnya mereka ini artis atau wartawan?

“Tidak apa. Hanya sedikit lelah. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi makanlah dulu..” Akhirnya kali ini bukan pertanyaan. Sepertinya rencana Hye Sun berhasil. Lihatlah wajah Min Ho sekarang –semakin gelap, sendu, dan serasa tidak berguna.

“Dia bahkan tidak merindukanku..” Batin Min Ho. Dada kirinya terasa sakit. Kekasih yang hampir membuatnya mati karena tidak memberi kabar sama sekali selama empat hari, kini dia tidak mengacuhkannya.

Min Ho menyandarkan tubuh lemasnya ke sofa saat Hye Sun sudah meninggalkannya sendiri. Setelah menyuruh Min Ho untuk makan Hye Sun tanpa basa-basi langsung pergi menuju kamarnya. Min Ho terdiam mematung. Menatap langit-langit apartement mereka dengan tatapan kosong. Berusaha mengoreksi diri, apa yang salah atas dirinya saat ini. Dia tau kalau Hye Sun bukanlah tipe wanita yang mudah marah hanya karena dia meninggalkannya untuk beberapa hari. “Belakangan ini di terlalu sensitif..” Min Ho menggerutu pelan. Begitu pelan tanpa semangat.


“Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi makanlah dulu..” Sontak Min Ho bangun dari duduknya saat ia mengingat perkataan itu. “Menyiapkan makan untukku? Dia memasak?” Min Ho langsung menuju meja makan dan melihat semua makanan yang telah Hye Sun sajikan untuknya. Lagi-lagi Min Ho terpaku dalam diam.

“Setidaknya dia masih mengkhawatirkanku.” Sedikit kelegaan Min Ho rasakan. Lega karena Hye Sun telah menyiapkan makanan untuknya. Secara tidak langsung ini membuat Min Ho merasakan kalau Hye Sun masih mengkhawatirkannya, masih memperhatikannya.

“Apakah tangannya tidak terluka saat menyiapkan semua ini?” Min Ho bertanya pada dirinya sendiri.


**********


 [bye] [bye] [bye]

15
UPDATEEEEEEEEEEEEE SISTAAAAAAAAAAAAAAA [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]
[AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234]


TUNGGUUUUUUUUUUUU BANG ILHAMNYA BELUM PULANGGGGGGGGG  [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Pages: [1] 2 3