Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 51134 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Halooo... CM bener" mau di update nih karena semalem error...  hammer2 hammer2

seperti rencanaku dengan mami love...
ff ini dan bengkok akan dijadikan kembaran updatenya...
ya.. walaupun selang hampir 2 harian gini... cincai deh ya...  [biggrin] [biggrin]

Chap 18 ini aku buat untuk 100th Page thread Bengkok...
CHUKAE THREAD BENGKOK!!!
 [smiley-gen013] [smiley-gen013]
CHUKAE MAMI LOVEE!!!
 [hug] [hug]

Akhir kata, selamat membaca..
mian jika membosankan...  [biggrin] [biggrin]

CHAPTER 18

   Min Ho tidak tersenyum. Dia hanya mempelajari raut wajah gadis di hadapannya baik-baik. Hye Sun cemburu padanya? Apa mungkin? Jika rencananya membuat Hye Sun merasa kehilangannya sudah gagal, bukankah itu berarti rencananya untuk membuat Hye Sun merasakan kehadirannya sebagai malaikatnya juga gagal? Dan seharusnya, hal yang tersisa untuk ia lakukan hanya menunggu Hye Sun menggugat cerainya. Benar-benar ia tak punya pilihan lagi. Tapi—Hye Sun malah menunjukkan rasa ingin tahunya terhadap Dara yang amat besar.

   “Goo Hye Sun—“

   “Well, pernikahan kita memang palsu.”Hye Sun menundukkan wajahnya, tak mau mempertemukan matanya dengan mata Min Ho. “Aku juga tak seharusnya mencampuri urusanmu, aku tahu itu. Tapi, anggaplah aku sahabatmu yang penasaran dengan perempuan yang sedang mengisi hatimu sekarang ini.”

Well, tidak usah dijawab.”Hye Sun mencegah Min Ho berbicara ketika mulutnya sudah terbuka. “It’s your own business, you know. Not mine. Tapi, jangan jenguk perempuan yang bernama Dara itu sekarang. Kau baru siuman. Setidaknya, tunggu sampai besok.”
   
Min Ho melihat gadis di depannya itu dengan mata yang sedikit nanar. Ia memang baru sadar tadi. Badannya masih lemas. Ia memang seharusnya tidak menjenguk Dara dan ia sebenarnya tak punya keinginan untuk itu, jika saja Hye Sun tidak membawanya ke topik pembicaraan yang selama ini sama sekali tidak ingin didengarnya.
   
“Please. Taruh botol infusmu ke tempatnya. Istirahat. Bisa, kan?”Hye Sun berkata, nyaris seperti memohon. Tangannya membantu Min Ho untuk mengembalikan botol infus itu ke tempatnya tadi. Min Ho pasrah dengan perlakuan Hye Sun, tak ingin melawan, bukannya tidak bisa, tapi karena tidak mampu. Ia terlalu lemas. Logikanya, seharusnya ia tidak bisa berjalan sampai ke kamar Dara, di mana pun kamar Dara berada.
   
“Tidurlah. Ibumu sedang berbicara dengan dokter.”Hye Sun menghela napas ketika Min Ho sudah terbaring lagi di atas tempat tidur rumah sakit. “Dia kelihatan sangat emosi tadi ketika ia mendengar kau melakukan transfusi darah.”
   
Min Ho baru saja ingin memejamkan matanya, sebelum akhirnya Hye Sun berbicara lagi. “Min Ho—“
   
“Yeah?”
   
“Kalau kau memang punya hubungan dengan Dara, sure—It will be okay for me—”Hye Sun melanjutkan lagi dengan tatapan mata yang lurus ke arah Min Ho. “Tapi, jangan terlalu menunjukkannya di depan ibumu. Bahkan, kau harus bisa mengendalikan dirimu setelah kau sudah tidak terikat lagi dalam pernikahan palsu ini. Kau harus bisa menahan dirimu. Kita berdua sama-sama tidak ingin ibumu jatuh sakit jika ia tahu kau berselingkuh—“
   
Hye Sun segera menghentikan kata-katanya sendiri. Berselingkuh bukan kata-kata yang tepat. Tidak tepat, karena Min Ho tidak berselingkuh karena ia telah memberi kebebasan Min Ho dengan wanita lain. Dia sangat yakin soal hal itu. Selain tidak tepat, kata-kata itu aneh jika ia ucapkan ketika ia masih mengisi posisi istri gadungan.
   
“Sorry—Maksudku—“Hye Sun mulai salah tingkah. “Pokoknya, jangan mengecewakan Ommamu. Itu intinya. Mengecewakanku tidak apa-apa. Tapi jangan Ommamu. Dia baik, menyayangimu.”
   
Oh, God. Ia salah berbicara lagi tadi.
   
“Maksudku, pokoknya begitulah—“Hye Sun akhirnya menyerah karena ia tak bisa lagi merangkai kata-kata. “Dan—Aku tidak kecewa. Maksudnya, kau memang tidak mengecewakanku sama sekali.”Hye Sun mengoreksi kata-katanya barusan.
   
“Tidur saja sana—“Hye Sun berkata sambil merapikan selimut Min Ho. Min Ho memperhatikan Hye Sun sambil tersenyum kecil. “Kejadian hari ini aku harap bisa membuatmu berhati-hati untuk lain kali. Jangan mentransfusikan darahmu ke orang lain lagi, sepenting apa pun dia. Demi alasan mulia—semulia—apa pun.”
   
Min Ho mengangguk. Sekarang giliran Min Ho yang berbicara setelah Min Ho dapat mendengar nada yang menunjukkan final dari perkataan Hye Sun.“ Thanks for caring me . Aku pikir, kau tak akan seperti ini—”
   
“Jangan begitu—“Hye Sun berkata sambil balas tersenyum. “Kau merawatku hampir setiap kali aku masuk rumah sakit, lemah, labil, atau apa pun itu—”

   “Aku merasa tidak sopan dan kurang ajar jika tidak mengatakan ini, Lee Min Ho-ssi—“Hye Sun tersenyum lagi, matanya masih merah, tapi jiwanya sudah tenang sekarang. “Gamsahamnida—“Hye Sun membungkuk dalam-dalam seraya berkata seperti itu kepada Min Ho.
   
Min Ho tersenyum. Setelah gamsahamnida, bolehkah ia berharap lebih? Atau ia terlalu cepat untuk menyimpulkan kalau Hye Sun mulai merasakan sesuatu padanya? Tapi, setidaknya, ia pikir penting untuk memberikan Hye Sun dan dirinya kesempatan. Kesempatan untuk membiarkan mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Setelah kesempatan ini, mungkin saja, kan, jika mereka mendapat kesempatan-kesempatan lainnya?
***
   
“Hey—“Min Ho berkata dengan suara paraunya ketika keesokan harinya ia berada di kamar Dara. Dara sekarang masih mengerjap-ngerjapkan matanya, baru bangun. “Gwenchana?”
   
Hye Sun ada di belakang Min Ho, tadi ia mengantar Min Ho ke kamar Dara yang berada tepat di sebelah kamar perawatan Min Ho. Tangannya memegang gagang kursi roda erat-erat sambil mempelajari perempuan yang sedang berbaring di hadapannya itu.
   
Kelihatannya memang baik.
   
“Emmm???”Perempuan yang berbaring di atas tempat tidur itu mulai membuka matanya. Tangannya yang diinfus memegangi kepalanya sendiri. “Min Ho?”
   
Perempuan itu adalah perempuan yang kira-kira berumur 20 tahunan. Tepat seperti perkiraan Hye Sun. Ia tidak berhenti menerka-nerka wajah perempuan bernama Dara itu dari kemarin malam. Rambutnya berwarna merah dan bergelombang. Matanya lumayan besar. Namun kulitnya putih pucat, mungkin karena ia sekarang sedang lemas-lemasnya.
   
Mata perempuan itu lalu mengarah pada orang yang ada di belakang Min Ho. Hye Sun. Perempuan itu tersenyum, namun masih terlihat lemas.
   
“Hai—“Hye Sun menyapa sambil tersenyum, namun senyumnya agak kaku.
   
“Goo Hye Sun?”Perempuan itu menyebutkan namanya, masih dengan nada yang lemah, meskipun ia mencoba untuk tersenyum lebih lebar sekarang.
   
“Ya. Dara, kan?”Hye Sun balik bertanya. Ia tersenyum juga. Jika perempuan ini adalah benar kekasih Min Ho, ia sendiri sudah yakin perempuan ini jadi pihak keempat setelah ia, Min Ho, dan Hye Jung Onnie yang mengetahui pernikahan palsu ini.
   
“Senang bisa bertemu denganmu—“Dara tersenyum. “Lebih cantik dari yang di majalah.”
   
“Gomawoyo.”jawab Hye Sun dengan agak canggung. “Apa aku perlu keluar sebentar?”
   
“Tentu saja tidak!”Dara menjawab cepat-cepat. “Kami tidak ada pembicaraan penting, kok. Eh, tapi, Min Ho-a! Kok kau bisa di sini?”
   
“Bodyguardmu menelponku—“jawab Min Ho pendek. “Kenapa tidak pernah memberitahuku kalau kau punya penyakit diabetes, sih—“
   
“Yeee… Buat apa beritahu hal yang sudah basi seperti itu—“cibir Dara. “Itu sudah dari dulu kali—“
   
“Diabetes itu penyakit berbahaya untuk masa lanjut usiamu. Untung aku datang dan mendonorkan darah—“Min Ho berkata lagi dengan nada yang lembut, seperti biasa ketika ia bicara dengan Hye Sun dan orang-orang lain.
   
“Kalau hanya mendonorkan darah kenapa bisa naik kursi roda begini? Memangnya kau memang bermaksud menemaniku di rumah sakit?”tanya Dara penasaran, sepertinya jiwanya sudah terkumpul lagi, makanya ia sudah tidak begitu terlihat lemas.

   “Biasa—Lemas sehabis pendonoran darah—“Min Ho menjawab dengan enteng, sedangkan Hye Sun yang dibelakangnya merasa agak tersingkir dari percakapan ini. Ia ingin berusaha sedikit mengakrabkan diri, karena bagaimana pun juga Dara adalah kekasih dari sahabatnya, namun ia tidak punya kesempatan.
   
“Makanya jangan jadi sok pahlawan—“Dara mencibir lagi. “Kalau tahu tidak kuat, jangan memaksakan diri mendonorkan darah. Aku ini hanya pingsan, tak akan mati. Jika cuma pingsan, pusing, atau mual, itu sih penyakit tahunan. Pasti datang setiap tahunnya.“
   
Hye Sun hanya tersenyum-senyum saja di tempatnya. Ia tidak merasa ia harus ikut-ikutan dalam percakapan ini.
   
“Hye Sun-ssi, seharusnya kau tidak membiarkannya mendonorkan darahnya padaku—“Dara berpaling pada Hye Sun, itu membuat Hye Sun agak salah tingkah selama beberapa saat, untungnya tak butuh waktu yang lama untuknya bisa menemukan jawaban dari perkataan itu. “Itu keputusan Min Ho, Dara-ssi. Dia sepertinya memang sangat khawatir padamu dan memutuskan mentransfusikan darahnya tanpa memikirkan kondisinya sendiri—“
   
Ketika Dara hanya tersenyum-senyum, buru-buru Hye Sun menambahkan perkataannya, ia tak mau dinilai tidak ramah dan pelit akan kata-kata. “Lagipula—Aku ini, kan, hanya istri palsunya. Aku tak bisa ikut campur dalam mengambil keputusan yang ada di dalam hidupnya.”
   
Dara sekarang melirik Min Ho sedikit, sebelum kemudian ia melirik kembali ke arah Hye Sun. “Well. Aku pikir kau tidak akan setransparan ini—“
   
“Aku sudah tahu siapa dirimu—Jadi, tenang saja, Dara-ssi—“Hye Sun tersenyum lebar. Ia tidak tahu mengapa. Tapi, caranya menyampaikan perkataannya sepertinya kedengaran agak menyebalkan, menyindir. Padahal ia sendiri yakin, ia bukannya sengaja dengan penyampaiannya itu.
   
Keadaan di kamar itu jadi asing kembali.
   
Tok…Tok…
   
Bunyi pintu yang diketuk membuat perhatian mereka bertiga teralih. Ketika pintu itu setengah terbuka, Dara sudah menyemburkan kata-katanya. “Hong—Please—Tolong jangan ganggu aku dulu—“
   
“Anyeong—“
 
   
Kata-kata Dara segera tertelan lagi ke dalam tenggorokannya—Padahal ia sempat ingin nyerocos lebih banyak lagi, kalau saja ia tidak melihat seorang perempuan setengah baya dengan rambut panjang, keriput halus di sekitar wajahnya dengan gaya yang elegan yang masuk ke dalam kamar perawatan itu—bukan pengawal pribadinya—Hong—
   
“Omma—“Min Ho segera menoleh dan matanya segera bertemu dengan perempuan yang merupakan ibunya itu.
   
“Aku tadi mencari kalian berdua di kamar—Tapi kalian tidak ada—“
   
“Aku pikir kau ada di sini dan ternyata kalian benar-benar berada di kamar Nona Sandara Park—“lanjut Na Young. “Hye Sun-a—Bisakah kau antarkan suamimu ke kamarnya? Sebentar lagi Min Ho harus siap-siap medical check up—“
   
“Medical check up?”ulang seseorang dalam ruangan itu, Dara. “Memangnya keadaanmu separah itu Min Ho-a? Sampai harus medical check up segala?”
   
“Kalau Anda ingin tahu, bukan parah lagi. Sungguh parah.”Na Young menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada Min Ho itu. “Tapi, tenang saja. Ini bukan sepenuhnya karena dirimu, Nona. Ini ada sangkut pautnya dengan—“
   “Omma—Ada hal penting yang harus kita semua bicarakan—Ku harap Omma dan Hye Sun mau mendengarkan—“Min Ho menghentikan perkataan ibunya begitu saja. Na Young segera menghela nafasnya, kedua sudut bibirnya ditarik sedikit ke atas, ia bertanya, “Apa itu, Sayang?”

   “Sebagai kepala keluarga, aku ingin Dara tinggal bersama kita bertiga di rumah—“ucap Min Ho datar dan tenang. “Aku sudah memikirkannya. Dara nampaknya butuh perawatan karena penyakit diabetesnya sedang kambuh akhir-akhir ini—Dara hanya hidup sendirian di Seoul, maka aku sebagai sahabat merasa berkewajiban untuk merawatnya—“

   Hye Sun membatin sendiri dalam hatinya, entah kenapa, mendengar perkataan itu, Hye Sun jadi dongkol sendiri. Tinggal di rumah? Apa-apaan ini? Dara memang boleh menjadi kekasihnya, aku tahu jelas soal itu! Namun, apa baik mengambil kesempatan masa-masa anfalnya penyakit diabetes Dara untuk mengadakan lebih banyak waktu bersama?

   “Hey!”seru Dara nyaring. “Lee Min Ho—Aku kan bilang ini sudah sangat biasa. Sudah setiap tahun seperti ini. Tidak usah sampai seperti itu—“

   Bagussss—Ternyata Dara termasuk perempuan yang tahu diri—Dia mungkin boleh menjadi kekasihnya, tapi secara hukum, aku tetap istri dari Lee Min Ho.

   Apa? Kenapa ini? Mengapa Hye Sun jadi sensi begini pada Dara? Ini tidak sewajarnya—Seharusnya tidak begini—Tapi—Hye Sun pun juga tidak akan betah jika harus melihat orang pacaran di depan matanya—Apalagi jika sudah mem’booking’ salah satu kamar di rumah yang ia tinggali sekarang sebagai tempat untuk mereka tidur bersama padahal Hye Sun-lah istri sahnya. Berarti, setidaknya, ia sekarang punya alasan. Ya! Dia punya alasan untuk bersikap sensi dan tidak menerima kehadiran Dara—

   Tapi, bukannya ia sudah bilang dia oke-oke saja jika Min Ho punya hubungan dengan wanita lain—Arrrgggghhhh!!! Keputusan sialan! Seharusnya ia tak bilang begitu, lelaki ini jadi seenaknya saja memasukkan perempuan ini ke dalam rumah—Membuat Hye Sun bisa muntah kapan saja jika melihat aksi mesra mereka.

   Bayangkan jika mereka berpelukan atau bahkan, bercumbu di hadapannya, baik itu sengaja atau tidak—Mungkin ia tak akan merasakan ‘awkward’ seperti Edward Cullen—Tapi, ia pasti merasa jijik! Dann—Dann—Sulit untuk mengatakannya, namun ia pasti tidak rela melihat sahabatnya mencium gadis lain—Sahabat yang dari dulu—setelah Geun Seuk meninggal—selalu menjadikannya prioritas utama—Sahabat yang dari dulu selalu bersamanya dan Geun Seuk—Sahabat yang dari dulu tidak pernah berdekatan dengan gadis lain (oke, setidaknya ini yang ia lihat) selain dirinya. Perasaan ini—rumit.

“Min Ho, ibu pikir tidak usah sampai seperti itu—Lagipula, kau sudah punya istri, tidak baik membawa wanita lain selain ibumu ke rumahmu—Dara-ssi saja tadi sudah bilang ia bisa menjaga diri—“Na Young memberi penjelasan. “Miane, Min Ho-a, ibu tidak setuju—“

Sekarang ia merasa berterimakasih dengan keberadaan ibu Min Ho di ruangan ini. Aliran udara segar segera menerpa tubuh Hye Sun. Entah kenapa.
   
“Omma—Kami hanya sepasang sahabat dan sepertinya ini baik-baik saja juga bagi Hye Sun—Iya, kan?”Min Ho tiba-tiba saja meminta pendapat pada Hye Sun yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
   
“Mmmm?”
   
“Kau setuju kalau Dara tinggal di rumah kita?”Min Ho mengulang pertanyaannya tadi.
   
“Ehhh—”Hye Sun sekarang tersenyum canggung sambil mencoba mencari jawabannya.
   
“Jawabanmu pasti tidak setuju, kan, Hye Sun?”Ibu mertuanya itu mencoba membantu Hye Sun yang sedang kebingungan mencari jawaban yang tepat.
   
“Bukan begitu…! Aku tahu hubungan kalian berdua-ehm-“Hye Sun berdeham sebentar. “HANYA SEBATAS TEMAN.”Hye Sun menekankan tiga kata terakhir yang diucapkannya. “Pastinya sangat janggal jika Dara tinggal di rumah kita, padahal kita sudah punya rumah tangga sendiri—“
   
“Sudah jelas jawabannya—“Ibu Min Ho memotong perkataan Hye Sun lagi dengan lugas dan cepat. “Ibu tidak setuju, istrimu juga.”
   
“Nona Dara,”Sekarang Na Young beralih pada Dara yang sedang terbaring di ranjang itu. “Maaf sekali. Aku tak bisa ikut setuju dengan keputusan anakku. Bukan karena tidak menyukaimu! Bukan! Tapi, kau harus tahu kalau kau bersahabat dengan suami orang sekarang ini—Aku harap kau bisa menjaga dirimu sendiri—“
      
“Omma—“Sekarang giliran Hye Sun yang menyela. “Bukan seperti itu maksud dari pernyataanku. Aku bermaksud untuk bilang kalau semua ini terserah pada Min Ho selaku kepala keluarga dan suamiku—“
   
Min Ho melirik Hye Sun, sinar matanya seperti berkata, “Trims, Hye Sun”
   
“Lagipula kondisi kesehatan Dara akhir-akhir ini memang buruk, jadi tak ada salahnya kalau kita menjaganya—“Hye Sun meneruskan lagi kata-katanya. Kata-katanya membuat Na Young terlihat sangat dongkol di tempatnya.
   
“Oke.”Na Young menghela napas. “Kalau ini sudah menjadi keputusan kalian berdua sebagai pasangan suami istri—Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk ikut campur tangan—Hanya pertanyaannya—Dia mau tidur di mana?“
   
“Itu hal gampang, Omma—Aku akan tidur di ruang tamu atau tidak di ruang kerjaku, sedangkan Dara tidur di kamar bersama Hye Sun—Omma tidur di kamar Omma sendiri—“jelas Min Ho dengan nada yang ingin menenangkan Ommanya yang dari tadi memang terlihat tidak kalah sensi dengan Hye Sun yang sebenarnya ingin menentang keputusan Min Ho.
   
Artinya, mereka tidak punya kesempatan untuk bermesraan, kan? Karena Omma Min Ho sepertinya akan jadi sangat ketat dalam mengawasi kedekatan Min Ho dan Dara.
   
Tapi! Omma tidak 24 jam di rumah. Ia bisa pergi keluar kapan saja. Bahkan bisa pindah ke Lee’s Mansion ketika Mr. Lee pulang dari perjalanan bisnisnya. Bagaimana juga kalau Min Ho menyuruhku keluar dari kamar pada tengah malam, jadi mereka dapat bermesraan? Arrrgggghhhhh—
   
Na Young berusaha terlihat mulai menerima keputusan itu. Dara hanya menjadi pihak pasif dalam percakapan yang lumayan sengit itu. Min Ho memegang bahu Dara. “Keluar dari rumah sakit, kau akan berada di bawah pengawasan kami—Aku pergi dulu—Harus check up—“
   
Dara tersenyum kecil. “Gomawo atas perhatiannya.”
***
   “Apa sampai separah itu efek pendonoran kemarin pada Min Ho sampai ia harus di check up?”tanya Hye Sun ketika mereka sedang menunggui Min Ho yang sedang melakukan medical check up. “Hanya sekadar lemas saja, kan, sudah biasa. Kenapa Omma sampai bereaksi seluar biasa itu pada dokter yang menanganinya?”
   
“Omma sudah konsultasi dengan dokter.”Na Young mencoba menjawab pertanyaan Hye Sun. “Katanya, pendonoran darah memang tidak begitu berbahaya, malah sebenarnya bagus bagi kesehatan. Namun, Min Ho memang harus menghindarinya sebisa mungkin. Soal check up, itu memang rutin setiap tahun, ketika pergantian tahun—”
   
“Apa yang menyebabkan Min Ho tidak boleh mendonorkan darah dan harus rutin check up setiap tahun?”Hye Sun bertanya dengan hati-hati. Ia penasaran tentang ini dari kemarin. Tapi, ia lupa bertanya pada Min Ho lagi hari ini setelah kemarin pertanyaannya teralihkan soal Dara itu. “Dia belum pernah memberitahuku, Omma—“
   
Ibu mertuanya menghela napas dan tersenyum perlahan. Namun, senyumnya memudar seketika, walaupun akhirnya, ia bisa lagi memunculkan senyumnya. Ia membawa tangan halus Hye Sun di atas pangkuannya. “Kau harus tanya pada dia. Tidak pantas rasanya jika Omma yang memberitahunya—Padahal ini masalahnya—Mian.“
   
Andai saja ia benar-benar istrinya dan Min Ho benar-benar suaminya. Bertanya pada Min Ho pasti akan jadi enak-enak saja karena urusan Min Ho berarti urusan Hye Sun juga. Tapi, ini? Ia bisa dipikir tukang ikut campur. Hal ini juga pasti penting dan sifatnya rahasia dan privasi sekali bagi Min Ho, sampai-sampai ibunya saja tidak berani membocorkannya pada wanita yang sudah menjadi ‘istrinya’ sendiri, sekaligus wanita yang menjadi menantu kesayangannya ini.
   
“Gwenchana.“Hye Sun menjawab dengan suara kecil.
   
“Hye Sun-a, Omma bingung bagaimana kau bisa menerima keputusan Min Ho tadi—“Na Young sekarang terlihat sedang mengalihkan topik pembicaraan. “Apa kamu tidak akan terganggu dengan kehadiran Dara?”
   
Hye Sun berusaha membatin dan mengoceh sendiri dalam hatinya, “Pertama, karena aku bukan istri sahnya. Kedua, karena Dara adalah kekasihnya. Ketiga, Dara sedang sakit. Keempat, karena itu sudah keputusan Min Ho. Kelima, karena aku harus menghormati keputusan Min Ho seperti yang sudah aku sepakati waktu itu. Dia bebas mengatur hidupnya dan hidupku ketika menikah nanti. Keenam—”Namun, toh, semuanya itu tidak bisa keluar dari mulutnya, yang bisa keluar hanya, “Karena aku tahu Min Ho menyayangi Dara, makanya, aku mau menerima kehadirannya. Asalkan Min Ho bisa lega, tenang, dan tidak dipusingkan lagi dengan hal itu. Untuk sekarang ini, tidak masalah—“
   
Na Young hanya tersenyum. Senyumnya perhatian sekali. Juga senyum kagum. Karena pasangan ini benar-benar bisa menyembunyikan hubungan mereka sesungguhnya lewat rangkaian kata-kata. Kang Na Young sangat terkesan.
***
     “Kata Dokter, kau baik-baik saja dan sudah bisa pulang hari ini—“Ibunya berkata sambil menatap putranya ini lekat-lekat. “Bagaimana dengan Dara? Apa dia sudah boleh pulang sekarang?”
   
“Sebenarnya, dia harus menunggu sampai besok. Tapi, dia tidak mau merepotkan kita dan malas berada di rumah sakit lama-lama. Makanya, kepulangannya akan disamakan dengan kepulanganku.”jelas Min Ho panjang lebar dari atas ranjang rumah sakit.
   
Ibunya mengangguk-ngangguk, lalu ia mendekat dan agak berbisik pada Min Ho. “Istrimu adalah wanita sangat baik. Dia mau menerima Dara dengan tulus. Dan tebak karena apa? Karena kau dan kesehatan Dara. Dia adalah wanita yang cocok untuk menjadi ibu dari anak-anakmu kelak.”
   
Min Ho jujur saja agak terkejut dengan pernyataan ini. Karena Min Ho dan Dara—padahal bayangkan saja, tadi sebelum Hye Sun pulang untuk mandi dan segalanya itu, ketika ibunya sedang tidak ada. Hye Sun mencecarnya dengan kata-kata pedasnya. Dan tebak karena apa? Karena Dara.
   
Dia marah-marah karena Dara diangkut ke rumahnya. Alasan Hye Sun tidak mau membawa Dara masuk ke rumahnya adalah karena tidak suka dengan kehadiran orang asing sekalipun orang itu adalah sahabat baginya ataupun lebih.
   
Min Ho tadi sudah berusaha untuk bilang kalau ia hanya khawatir dengna kesehatan Dara dan bagaimana pun juga Dara adalah sahabatnya yang sudah sedikit banyak membantunya ketika Min Ho sedang hancur-hancurnya ketika ditolak Hye Sun ketika itu. Daripada Yoona, memang benar, kan, Dara jauh lebih baik? Dia memberi advice bagi Min Ho, tidak seperti Yoona yang melakukan semua hanya demi balas dendamnya pada Hye Sun, agar tidak ada orang lagi yang menyukai Hye Sun lagi, agar ia bisa bahagia melihat Hye Sun menderita.

Untungnya, cerocosan Hye Sun yang pedas bisa Min Ho hentikan ketika ia bilang, “Kalau Dara di rumah kita, kau tidak perlu sekamar denganku—Ini keadaan yang aman sekali bagi kita.” Sesaat setelah Min Ho berbicara seperti itu, Hye Sun langsung terdiam dan menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah.
   
 “Jangan ragu lagi, Min Ho-a. Omma sudah tambah tua. Dan tak ada lagi yang Omma inginkan selain menimang cucu dari anak satu-satunya ibu ini—“Ibunya membuyarkan lamunan Min Ho. “Ini bukan desakan, tapi permintaan dari seorang ibu. Omma ingin kau cepat-cepat mempunyai keturunan. Hye Young-ssi sendiri juga pasti akan senang jika Hye Sun punya anak darimu, karena anaknya yang pertama, Hye Jung tidak bisa memberikan keturunan baginya.”
   
“Mungkin kami belum saatnya mempunyai anak—“Min Ho menjawab dengan kalem. Padahal, bagaimana mau punya anak, melakukannya saja belum.
   
“Ya. Dan kau tidak akan bisa berusaha untuk mendapatkannya karena kehadiran Dara di rumah—“Ibunya menjawab, dengan agak ketus. Mencoba untuk bilang, ‘Nah! Benar, kan, kalau kedatangan perempuan itu bikin repot!’.
   
“Omma—Jangan begitu pada Dara. Ketika masa-masa tersulitku dulu, dia yang memberiku nasihat. Dia juga membantuku dalam beberapa hal—“Min Ho memberi penjelasan lagi pada ibunya. “Kami hanya sebagai teman. Tidak lebih. Jadi, Omma tidak perlu khawatir—”
   
“Jelas Omma akan khawatir.”jawab Na Young dengan nada yang sangat tenang. “Jaman sekarang tidak seperti dulu. Suami bisa enak-enaknya menceraikan istrinya dan menikah dengan perempuan lain. Walaupun, kalau kau, sampai mati pun ibu tidak akan membiarkanmu bercerai dari Hye Sun. Tapi, Omma tetap minta kau setia padanya—“
   
“Omma—Dari dulu Omma selalu begitu—“Min Ho tersenyum tulus. Ibunya dari dulu memang sangat menyukai Hye Sun. Dari Hye Sun kecil, sampai sekarang. Entahlah apa pikiran ibunya kalau ia sudah tahu sebenarnya Hye Sun-lah penyebab dari segala kekacauan dan kelamnya hidup remaja Min Ho.
   
“Kalau kau tidak menyukainya juga ibu tidak akan begini—“Ibunya tersenyum dalam. Tangannya terangkat menuju wajah anaknya itu. “Ibu menyayanginya karena ibu tahu kamu juga menyayanginya.“
      
Min Ho segera menunduk dalam-dalam. Memalukan sekali baginya karena ibunya tahu bagaimana perasaannya terhadap Hye Sun.
   
“Jangan pernah berhenti menyayanginya—Ibu menyayangimu dan Hye Sun.“Ibunya berbisik sekali lagi dan menyapukan bibirnya di atas pipi Min Ho yang agak dingin.
   
Memang tidak akan pernah. Karena dia… Tidak bisa—
***
     “Tidur di sini?”Dara hanya memberi komentar singkat ketika ia berada di rumah itu. Dari tadi, ia sudah terpesona dengan arsitektur rumah ini. Mempesona seperti yang pernah diberitahu Min Ho. Hye Sun sangat beruntung. Min Ho sangat baik, perhatian, romantis, setia walaupun—well—Dara tidak bisa tidak mengakui kalau Min Ho itu bodoh dan selalu memikirkan orang lain (hal ini membuatnya jadi terkesan seperti sok pahlawan), namun, mungkin itu sudah dari sananya, tidak dapat diganggu gugat.“Aku masih agak sangsi dengan reaksi Hye Sun kemarin—“
   
“Tidak apa-apa. Dia bukan perempuan yang mudah meledak, kok—“Min Ho menjawab kesangsian Dara dengan tenang, dengan nada berbicara yang juga bisa menenangkan Dara. “Pada dasarnya, dia juga tidak punya alasan untuk meledak, sih—Namun—“
   
“Namun?”
   
“Kemarin, dia agak aneh. Dia terlihat penasaran sekali dengan hubungan kita—“Min Ho melanjutkan perkataannya lagi. “Kalau aku tidak salah menafsirkan gelagatnya kemarin, sepertinya ia sedang cemburu—Padahal, aku tidak pernah bilang kalau kau ini kekasihku.“
   
“Itu bagus, kan?”Dara merangkul bahu Min Ho dengan sedikit susah payah. “Dia sedang memberi sinyal-sinyal kalau dia mulai menyukaimu.”Suara Dara mengecil. “Ini berarti penantianmu selama ini padanya tidak sia-sia.”
   
“Ngomong-ngomong, tadi dia bilang kalau dia tak menerima kehadiranmu. Kalau bukan harus mengeluarkan jawaban bagus sebagai seorang istri di hadapan Omma, dia tidak akan mau menyetujuinya dan mau berbesar hati melihat penggarapan film romantis Hollywood secara langsung—”tutur Min Ho dengan agak tersenyum-senyum mengingat betapa jadi cerewet dan pedasnya Hye Sun hari ini. “Entah apa yang dia maksudkan. Tapi, dia tak biasanya seperti ini.”
   
“Tapi—Aku takut juga kalau ini hanya karena ia tidak rela kalau sahabatnya ini terlibat bersama perempuan lain—Padahal sebelumnya belum pernah.“Min Ho meneruskan dengan nada yang agak kecewa. Ia memang akan kecewa jika memang hal itu benar. Dia takut kalau dia selama ini memang terlalu perhatian pada Hye Sun, maka ketika Hye Sun melihatnya secara langsung mencurahkan perhatiannya pada perempuan lain selain dirinya, dia jadi agak sensi. Mungkin saja, kan, kalau ini hanya permulaan dan akhirnya, Hye Sun dapat bersikap seperti biasa lagi?
   
Intinya, mungkin saja Hye Sun hanya sedang tidak terbiasa dengan perlakuan Min Ho pada Dara. Tapi, kalau dipikir-pikir, memang perlakuan apa yang pernah ia dan Dara lakukan? Benar juga! Dia bahkan belum melakukan apa-apa. Tapi, kenapa Hye Sun bisa sensi seperti itu?
   
“Hey—“Dara melepaskan rangkulannya dan memutar badan Min Ho ke arahnya. Ia mendekatkan wajah ke arah Min Ho. “Yang sempat kudengar dari Yoona, kau adalah orang yang tidak percaya diri dengan apa yang telah ada di dirimu sendiri.”
   
“Kau punya sikap yang pasrah dan clumsy. Kau tak sadar akan kemampuanmu selama ini dan selalu melihat dan membandingkan dirimu dengan orang lain.”

“Karena dalam beberapa jam saja dalam hari ini aku sudah bisa menyelami karaktermu yang bodoh itu! Kau karakter yang mudah di tebak!”teriak Yoona saking frustasinya pada kebodohan lelaki di hadapannya ini. “Kau putus asa dan membenci dirimu sendiri. Kau tak tahu kau punya daya tarik, karena ketika kau memandang cermin, ada bayangan orang lain di hadapanmu. Dan kau bodoh bukan main karena hal itu. Bagaimana kau bisa membuat seseorang dapat melihatmu, padahal kau sendiri tak bisa menyadari eksistensi dirimu. ”
   
Mengingat lagi masa-masa kehancurannya ketika ditolak Hye Sun ketika itu. Ia jadi merasa bodoh sendiri. Ia teringat pada Yoona yang mudah sekali menghasutnya untuk melupakan Hye Sun dan mencari perempuan lain. Padahal, Yoona sudah dari dulu mengincarnya sebagai aksi balas dendamnya pada Hye Sun. Ia sudah lama memangsanya, mengorek tentang masa lalunya, dan hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menarik Min Ho secara paksa demi balas dendamnya.
   
“Hey….”Dara berkata lagi, membuyarkan lamunan Min Ho dengan menggerak-gerakkan wajahnya ke samping kanan dan kiri.
   
“Mmm?”
   
“Dasar—Melamun saja—“cibir Dara, namun ia kembali melanjutkan perkataannya lagi. “Lee Min Ho-ssi—Jangan pernah kehilangan kepercayaan dirimu—Karena kau harus yakin dan tahu, kalau Hye Sun pasti akan menjadi milikmu—“Dara mengepalkan tangannya ke atas tinggi-tinggi. “Hwaeting!”
   
“Gomawo, Dara—“Min Ho tersenyum, lalu menghela napas. “Aku juga belum sempat bilang Gomawo ketika kau menemaniku belanja waktu itu di pusat perbelanjaan yang memang belum pernah aku masuki itu—Terima kasih atas saran-saranmu dan dukungan moralmu selama ini. Tentang style-ku, juga tentang diriku sendiri. Terima kasih juga telah menjadi tempat curhatku soal percintaanku yang bodoh. Ralat, bukan percintaanku yang bodoh, aku yang bodoh.“
   
“Hey!”Dara berseru dengan agak keras sampai Min Ho berhenti berkata-kata lagi. “Jangan pernah berterimakasih padaku. Itu semua kulakukan karena aku temanmu—Dan soal menemanimu belanja itu dan mengubah cara berpakaian—Itu sama sekali bukan masalah, kau tahu? Aku saja sudah lupa itu pernah terjadi.”
   
“Thanks—“Min Ho berkata lagi sambil tersenyum.
   
Dara tersenyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Min Ho berulang kali. Tidak dapat berbicara juga. Selain berterimakasih dalam hati, karena ia bisa dan sudah menjadi teman yang baik untuk seorang Lee Min Ho—yang—well—bodoh itu.
***
   Hye Sun melihat pertunjukan antara kedua pasangan itu dengan sorot mata yang dongkol dan sebal. Baru ditinggal beberapa menit dan sudah seperti ini. Sedekat ini!!! Ia mereka-reka apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Mungkin soal mereka yang agak terbatasi sekarang ini, namun itu bukan masalah karena mereka bisa tinggal satu atap.
   
Ahhh—Dua orang ini memang benar-benar.
   
“EHM!”deham Hye Sun keras. “Maaf mengganggu. Tapi, makanan sudah siap—Omma menyuruh kalian berdua turun ke bawah untuk makan malam setelah dari tadi melakukan—”flirting. “pengenalan terhadap kamar yang akan ditempati Dara—“sambung Hye Sun dengan nada yang agak sinis.
   
“Makan?! Ahhh—Padahal tadi aku pikir aku bisa memasak untuk makan malam—“Dara terlihat agak menyesal dengan berita yang dibawa Hye Sun.
   
Untuk Min Ho sendiri? Eh?
   
“Tidak perlu—Omma sudah menyediakan makanan yang lezat dan baik bagi kesehatan kalian berdua yang baru saja pulang dari rumah sakit—“Hye Sun tersenyum manis, namun terlihat agak tidak tulus. “Aku ke bawah dulu—“
   
Hye Sun segera berjalan lagi ke arah tangga dan turun ke bawah. Diperhatikannya kepergian Hye Sun dari pandangan Min Ho dan Dara dengan baik-baik. Dara segera berkomentar.
   
“Percayalah padaku Min Ho. Dilihat dari gelagatnya—Ia sedang cemburu—“
***
END OF CHAPTER
 

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE