CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #11092
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
5
6
[
7
]
8
9
...
35
Go Down
Author
Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11 (Read 21563 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: September's blue : My Rainy Days ~chapter one, part (iii) update @16 Juni
«
Reply #90
on:
July 10, 2010, 12:15:03 am »
"Huhhhh hujan lagi, hujan lagi!!!". Petugas DHL express itu mengibaskan butir-butir air hujan dari seragamnya. Bukan butir-butir hujan, tepatnya .. seragamnya sudah benar-benar basah tersiram air hujan yang turun dengan derasnya sejak sepuluh menit yang lalu.
Masih kesal, dia berbalik ke pintu gerbang dari kayu tua di belakangnya. Ini alamat menurut yang tertera di list mesin pendeteksi yang mesti ditujunya, "Huhhhh .. pondok tua ini lagi ...", gerutu petugas tersebut untuk kedua kalinya.
Perlahan dia meraih gagang dari gelang besi yang terpasang di dinding dan membenturkannya.
tok .. tok ... tok ..., diulang berkali-kali ...
Pada menit yang kelima, pintu kokoh dari kayu tua tersebut dibuka.
drekkk .... seraut wajah yang agak pucat, dipadu sepasang mata besar yang sayu dengan sepasang tangan memegang payung warna putih yang menaungi kepala, menyembul keluar dari balik pintu.
"Pesanannya di mana?", tanya petugas itu dingin.
Jie-Ah sedikit menundukkan kepalanya -dari dulu dia memang senggan bertatap-muka dengan orang asing-, lambat-lambat dia mundur ke belakang dan memberi jalan pada pria dihadapannya untuk masuk ke dalam.
Begitu berada di ruang depan, Jie-Ah menunjuk sebuah lukisan yang sudah dibungkusnya dengan kertas karton dan plastik berlapis-lapis.
Petugas tersebut melangkah ke depan.
"Yang itu?", tanyanya sambil perpaling ke belakang. "Ohhh tuhan!!!!", dia berteriak keras ketika tiba-tiba Jie-Ah sudah berada beberapa inci di belakangnya. "Bisakah anda jalannya jangan mengendap-endap seperti itu??", serunya kesal.
Hati petugas itu berdebar keras dengan tindakan Jie-Ah yang mendadak. Ini wajar saja, berada di pondok suram dan cuaca luar yang buruk, -hujan keras, angin bertiup kencang dan petir yang menyambar sesekali, ditambah kebisuan gadis pucat ini, tentu saja membuatnya gelisah. Kalau perlu, ingin sekali dia lenyap dari pondok ini sekarang juga.
Jie-Ah tidak menjawab pertanyaan tersebut, karena memang pertanyaan itu tidak perlu dan tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan tersebut lebih merupakan pelampiasan kekesalan si petugas padanya daripada pertanyaan yang sesungguhnya.
"Ckk ... ", petugas itu berdecak keras. Dia menulis dan menandatangani sesuatu di secarik kertas kemudian memberikannya pada Jie-Ah. "Ini tanda terimanya .. Lain kali jangan memasukkan pesanan di hari hujan lagi! Kamu juga tahu kan kalau pesananmu tidak boleh basah ...? ". Dengan susah payah petugas express tersebut mengeluarkan lukisan yang cukup besar itu dari dalam pondok.
Jie-Ah memandanginya dalam kebisuan. "Jika saja .. saya dapat melakukannya ... ", ujarnya lirih.
***************
Jie-Ah menghentikan langkah tepat di depan serumpun mawar yang tertanam di taman depan pondok, yang tergeletak di tanah yang terendam air hujan, mati.
"Kenapa? .. kenapa bisa begini?", serunya tak percaya.
Jie-Ah segera berjongkok dan meraih sekuntum mawar yang mekar di antara kuntum-kuntum lain yang sudah mati.
Tangannya bergetar, 'bagaimana mungkin rumpun bunga yang jelas-jelas sudah mati bisa bersemi lagi?'. Jie-Ah tertegun untuk beberapa saat. Hujan makin deras menguyur payung yang menaungi kepalanya. Rok panjang yang dia kenakan sudah basah semua, begitu juga kaos lengan pendek yang dikenakannya, sudah basah sebagian, tapi Jie-Ah tidak memperdulikannya.
Masih dalam keadaan jongkok, dia bergeser ke pagar rendah dalam taman, kemudian meraih sekop kecil yang bersandar di situ. Perlahan Jie-Ah mengorek tanah yang tergenang air di sekeliling kuntum mawar yang mekar mendadak di tengah hujan. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati seakan takut sekop tersebut akan merusak akar-akar tanaman itu.
Setelah selesai, Jie-Ah mengangkat batang mawar itu, beserta tanah yang menempel di akar-akarnya, dan membawa tanaman tersebut ke rumah kaca di belakang pondok.
***************
Jung-Min menghentikan cadillac peraknya di depan jalan masuk tanah pemukiman yang terlihat sepi dan hanya terbentuk dari beberapa rumah kayu sederhana dan pondok-pondok tua. Sengaja dia tidak memasukkan mobil tersebut ke dalam gang guna menghindari jalanan lembab yang bisa menyedot roda-roda mobilnya kapan saja.
Jung-Min melepas sabuk pengaman dari badannya, setelah itu dia meraih kunci mobil yang tergantung di sebelah gagang kemudi. Dengan susah payah dia memanjangkan tangan ke jok belakang guna mengambil payung yang dipinjam dengan paksa dari Seung-Gi. Berhasil!! Jung-Min tersenyum perlahan.
Setelah itu dia membuka pintu mobil dan membuka payung dalam genggamannya, kemudian bergabung dengan hujan deras di luar sana.
Jung-Min mempercepat langkahnya. Tidak berapa lama sepatu converse merah yang dikenakannya basah semua. Beruntung tas selempang yang dibawanya ditinggal dalam mobil, jika tidak. .. tak bisa dibayangkan bagaimana nasib sketsa-sketsa kesayangannya.
Hujan semakin deras menguyur bumi. Keadaan di pemukiman tersebut juga semakin suram. Grrrr .. sesekali petir menyambar di angkasa diikuti guntur saling sahut-menyahut. Jung-Min berlari cepat menuju pondok Everlasting. Keadaan pondok itu terlihat tidak berbeda dari kedatangannya dulu, -suram, sunyi dan mati. Titik-titik air hujan yang besar-besar mengalir turun dari atap gerbang utama, seakan berlomba siapa yang terlebih dahulu sampai ke bumi.
Jung-Min menutup payungnya, kemudian menyandarkannya ke pintu gerbang tua tersebut. Dia menengadah ke langit, hujan kelihatan tidak bakal berhenti dalam waktu terdekat.
"Ggrrr .. ". Jung-Min mengigil kedinginan. Pakaiannya basah semua, dari pakaian dalam, kemeja, celana sampai mantel panjang yang dipakainya.
Berulangkali Jung-Min mengibaskan mantel tersebut, berusaha membuatnya lebih kering. Tapi usahanya untuk merasa lebih nyaman dengan percobaan tersebut gagal total karena mantel yang dikenakannya benar-benar sudah menyerap terlalu banyak air hujan.
"Ggrrrrrr ... ", sekali lagi Jung-Min mengigil di tempatnya.
kemudian dia memperhatikan keadaan di sekitar pemukiman itu. Dia mengeleng perlahan, 'cuaca di bulan September ini sungguh tidak bisa diramalkan!'.
Drekkkkk ....., suara halus terdengar dari belakang ..
Jung-Min segera menoleh, pintu gerbang tersebut terbuka dan ... gadis yang selama ini memenuhi pikirannya melangkah keluar dari balik pintu. Jung-Min langsung menyusut dari posisinya.
Jie-Ah berdiri untuk beberapa lama di sana. Pandangannya sayu dan tertuju ke depan, Jung-Min bisa melihat dengan jelas ekpresi wajah gadis itu dari tempatnya berdiri. Jung-Min mundur dua langkah ke belakang, semakin menyusut ke pojok pintu begitu melihat Jie-Ah mulai bergerak perlahan. Tapi ketakutannya terlihat oleh Jie-Ah tidak beralasan karena gadis itu sama sekali tidak meliriknya.
Jie-Ah membuka payung, kemudian menapakkan kakinya ke jalan kecil yang tergenang air. Dia berjalan kearah berlawanan dengan posisi Jung-Min sehingga ia tidak melihat keberadaan pemuda itu. Langkahnya lamban dan berirama. Gaun panjang yang dikenakannya menyapu tanah sehingga gaun yang sudah basah itu menjadi semakin basah.
Jung-Min bergerak dari posisinya. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan mengejar gadis itu. Jung-Min mengangkat tangan keatas kemudian menerjang keluar. Maksudnya untuk melindungi kepala dari siraman air hujan tapi tentu saja sia-sia. Air deras yang ditumpahkan dari langit langsung menyiram kepala dan tubuhnya, menjadikannya basah kuyup dalam sekejap. Jung-Min menoleh ke belakang, payung yang tadi dibawanya masih menyandar di tempat yang sama ketika tadi ditinggalkan. "Huhhh sudah kepalang basah .. ", gumamnya sambil terus berlari ke depan.
Yang ditujunya hampir sampai dan ...
"Hi ..", sapa Jung-Min, "Tidak keberatan memberiku tempat berteduh kan?". Sekarang dia sudah menjejajari langkah Jie-Ah.
Gadis itu menoleh, tidak menjawab. Sesaat kemudian dia menatap lurus ke depan lagi.
"Anyong!!!". Jung-Min mengibaskan tangannya di hadapan Jie-Ah.
Gadis itu tetap tidak bereaksi. Langkahnya tidak berhenti dan pandangannya tetap terpusat ke depan.
"Agashi mau kemana? Mian, saya agak asing dengan daerah sini, tadi tidak sengaja masuk ke sini dan sialnya hujan turun mendadak .. saya tidak membawa payung jadi basah semua deh ... ", Jung-Min mencerocos terus, yang sama sekali tidak digubris Jie-Ah.
"O ya saya Lee Jung-Min! Kalau boleh tahu siapa nama agashi?"
Jie-Ah bergerak terus ke depan, berpalingpu tidak apalagi menanggapi perkataan-perkataan Jung-Min.
"Bagaimana kalau kita bersahabat?"
Langkah Jie-Ah berhenti mendadak. "Sahabat?", alisnya berkenyit perlahan.
SAHABAT, kata yang sangat asing baginya. Selama hidup delapan belas tahun di dunia ini, dia tidak mengenal kata itu. Dia lahir, tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan tertutup, bahkan sekolah saja harus menyewa guru pribadi, jika tidak .. dia hanya belajar dari internet dengan pemahaman dari oppa dan kedua orangtuanya. Dia sama sekali tidak punya kesempatan bergaul dengan dunia luar. Jadi, .. sebenarnya apa arti seorang sahabat baginya?
"Ne, chingu.", sahut Jung-Min kebingungan melihat reaksi Jie-Ah.
'Apa ada yang aneh dengan kata itu?'
Perlahan Jie-Ah menoleh padanya, "Denganku?"
"Ne .. "
"Tapi ... weo?"
"Karena ... ", Jung-Min berpikir sebentar, kemudian .. " .. insting .. "
"Insting?!"
"Ne insting, .. itu kata yang tepat. Kita bertemu di sini karena takdir, sedangkan .. mengambil inisiatif mendekatimu dan bersahabat denganmu, itu instingku .. Aku juga tidak tahu mengapa ... "
"O .. ", Jie-Ah memutar tubuh ke samping kemudian meneruskan langkahnya yang tertunda.
"Heii ... ". Jung-Min tiba-tiba menyambar payung dalam genggaman Jie-Ah, "Biar saya yang memayungimu! Saya kesusahan, harus menunduk terus kalau kamu yang memegang payung ini,,, badanku kepanjangan he .. he ... "
Jie-Ah melirik Jung-Min sekilas. Leluconnya tidak membuatnya tertawa, juga tersenyum. Sesaat kemudian dia berpaling ke depan lagi.
"Lalu ... siapa namamu?"
"Goo Jie-Ah .. ", jawab Jie-Ah pelan dan agak gugup. Mengenalkan namanya ke orang lain merupakan sesuatu yang pertama kali dilakukannya seumur hidup .
"Nama yang indah .. ", puji Jung-Min, yang membuat Jie-Ah segera berpaling padanya. "Ingat namaku?", sambungnya.
"Lee ... Jung-Min .. ", jawab gadis itu lagi.
Jung-Min mengangguk puas. "Bagus! Saya kira kamu tidak mendengarkan tadi .. "
Jie-Ah menundukkan kepala perlahan. Pandangan lekat dan senyuman Jung-Min membuat hatinya berdebar keras, ingin sekali dia lenyap sekarang juga dari sisi pemuda ini. Dia merasakan sesuatu yang asing, yang tidak pernah dirasakannya, perlahan-lahan merayap masuk ke dalam hatinya,, entah perasaan apa itu,,, dia tidak menyukainya.
"Kamu mau kemana Jie-Ah ssi?"
"Belanja .. ", jawaban pendek, khas Jie-Ah terdengar lagi.
"Bagaimana kalau saya mengantarmu? Mobilku terparkir di depan gang .. "
Jie-Ah segera berpaling padanya. "Tidak .. tidak perlu .. saya .. saya naik bis kota saja .. "
"Mengapa? Bukankah kita sudah bersahabat? ... Tidak ada salahnya saya mengantarmu, .. lagipula naik mobilku lebih praktis .. "
"TIDAK!!", potong Jie-Ah tegas.
Lalu .. tanpa pemberitahuan lebih dahulu, dia merampas payung dalam genggaman Jung-Min, meninggalkannya sendirian bermandikan air hujan ke terminal bis yang berada beberapa meter di depan, bertepatan dengan merapatnya bis yang dituju di terminal tersebut.
"Aishhh .. ", teriak Jung-Min. Tubuhnya yang tadi lumayan kering menjadi basah kuyup seketika.
***************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
...
5
6
[
7
]
8
9
...
35
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #11092