Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 98737 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth
« Reply #15 on: July 10, 2010, 03:53:45 am »


"Benar harus pergi?"

"Iya!!", sahut dua suara secara bersamaan.

"Jadi .. saya tidak punya pilihan lain?"

"Miane sayang, tapi ini atas permintaan halmonie .. "

"Lalu .. bagaimana dengan Han Da' ZeVe? Keadaannya tidak begitu baik kan?

"Kamu jangan terlalu memikirkan keadaan perusahaan, Dazya,,, Appa dan omma mampu menanganinya .. "

Mendengar itu, Daze menjatuhkan dirinya ke ranjang. Keputusan sudah diambil dan dia tahu keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa dirubah lagi. Sudah lama halmonie menginginkan kehadirannya di Perth. Hampir dua tahun dia tidak bertemu halmonie dan neneknya itu sangat merindukannya. Sejujurnya, Daze juga sangat merindukan halmonie tapi .. walaupun begitu, dia tidak tertarik tinggal di Perth. Sejak dulu tempat yang dicintainya hanya Seoul.

Tapi sekarang keadaannya berubah. Halmonie sakit keras dan diperkirakan hidupnya tidak akan lama lagi, hanya tinggal beberapa bulan bahkan ... mungkin .. beberapa minggu.

Mengingat ini, Daze mengigit bibirnya. Besok pagi dia harus berangkat ke Perth, seperti permintaan halmonie, sesuatu yang sudah dikhawatirkannya akan terjadi sejak dulu. Dia tidak rela meninggalkan Seoul, tidak rela meninggalkan Han Da' ZeVe -perusahaan keluarga yang dirintis appanya, Mr. Han, duapuluh tahun yang lalu, yang keadaannya tidak stabil akhir-akhir ini, bahkan .. sudah mencapai tahap kebangkrutan, dan yang terutama .. dia tidak rela meninggalkan CARLSON, kekasihnya.

"Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan halmonie Dazya,, beliau sangat menyayangimu, sejak dari dulu ... ", Mrs. Han ikut duduk di atas ranjang dan membelai lembut rambut putrinya. "Lagipula Dave akan menjagamu setelah tiba di sana, jadi kamu tidak perlu takut .. "

"Benar kata omma!", sambung Mr. Han. "Kesehatan halmonie sangat tidak memungkinkan melakukan perjalanan jauh sedangkan beliau sangat ingin bertemu denganmu,, jadi kamu harus menyerah, sayang .. dan kamu juga tidak perlu mengkhawatirkan Han Da' ZeVe, appa dan omma mampu menangani semua masalah yang terjadi di sana .. kami akan menyusulmu setelah urusan di sini beres semua .. "

"Lalu .. bagaimana dengan Carlson?", tanya Daze ragu-ragu.

"Kamu berilah penjelasan padanya, omma yakin nak Carls akan memahaminya ... "

Daze menganggukkan kepala perlahan. Keputusan sudah diambil, jadi dia hanya bisa menjalaninya saja.

~~~ *** ~~~


Dua hari kemudian, .. Han's mansion, Perth ...

"Bangun sekarang juga pemalas!!!"

Bakkk .. sebuah bantal sukses mendarat di wajah Rathyan.

"Heiii what's wrong man??!!", tanyanya, megap-megap tak karuan.

"Menyingkir sekarang juga dari kamarku! o bukan,,, yang benar, dari rumahku!!", perintah keras itu terdengar lagi.

"Whyyy??!!". Rathyan bangun dari pembaringannya. Dia sudah benar-benar sadar dari tidurnya sekarang.

"My sister arrive today and i dont want her to see you here, in Han's mansion,, understand?!!", sahut sahabatnya, sekaligus pemilik rumah, Dave Han, bersungguh-sungguh.

"Why? Saya tidak pernah terlihat oleh keluargamu kan?", tanya Rathyan lagi.

"Ini lain man!! Halmonie bisa kamu kelabui tapi noona tidak ... Noona tidak tuli dan rabun seperti halmonie jadi kamu harus pergi sekarang juga .."

"No,, tidak mau!!", sahut Rathyan. Dengan cuek dia menjatuhkan diri ke ranjang lagi dan segera membalikkan tubuh menghadap ke dinding di sebelahnya.

"You must Rath!!!". Dave bergerak, menyeret Rathyan bangkit dari posisinya. "Saya tidak mau mendengar pertanyaan-pertanyaan menyebalkan dari noona dan halmonie tentang keberadaanmu di sini ..."

"Heiii i paid you!!", teriak Rathyan kesal. Dikibasnya tangan Dave dari pergelangan tangannya keras-keras.

Dave mendesah perlahan. "Sebenarnya ... mengapa kamu memilihku dan tempat ini sebagai tempat persingahanmu .. Saya tidak mengerti sejak dulu, dengan uang sewa sebesar itu kamu bisa mendapatkan ruang VIP di hotel berbintang lima sekalipun ... "

"Dan jika kamu tidak menginginkan uang sewa itu lagi, saya akan lenyap sekarang juga ... ", balas Rathyan dengan sikap menentang.

"Saya jadi ingin tahu darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu .."

"Itu bukan urusanmu!!", sahut Rathyan sengit.

Dave langsung mengangkat tangannya. "Ok ok,,, saya menyerah. Tapi dengan syarat ... "

"Tidak terlihat dan diketahui oleh keluargamu?", potong Rathyan. Dave mengangguk. "Ok deal!!", sambungnya sambil menjatuhkan diri ke ranjang dan mengeluarkan dengkurannya.

"Yaa yaa ,,, dasar!!!! Saya akan menjemput noona di bandara hari ini jadi saya harap kamu tidak keluar setapakpun dari kamarku .. "

Tangan Rathyan terangkat, jempolnya mengarah keatas.

"Sialan kamu Rath!!!"

Bakkk .. bantal yang tadi mendarat di wajah Rathyan kembali melayang ke tubuhnya.

~~~ *** ~~~


Perth Airport ....

"Noona!!!"

Dave menghambur ke dalam pelukan Daze.

"Ha .. ha .. dongseng-a, bagaimana kabarmu?". Daze tertawa perlahan, diperhatikannya dongsengnya itu dengan seksama. "Sudah dua bulan tidak bertemu dan lihatlah, kamu semakin tinggi saja .. "

"He .. he .. kalau noona semakin cantik saja ... ", balas Dave sambil meletakkan sepasang tangannya di pipi Daze. "Saya baik-baik saja, bagaimana dengan noona?"

"O noona juga baik-baik saja. Lalu bagaimana keadaan halmonie?"

Dave menghembuskan nafasnya sebelum menjawab, "Tidak baik .. seperti kata dokter, kesehatan halmonie sangat buruk, bukan hanya karena usianya yang sudah senja tapi juga berbagai penyakit yang mengerogoti tubuhnya ..."

"Ohh ... ". Wajah Daze berubah sendu. "Saya sangat merindukan halmonie .. saya harap beliau segera sembuh, walaupun ... ", Daze menunduk perlahan.

"Noona jangan khawatir .. ", Dave tersenyum, kemudian melingkarkan lengannya ke leher Daze, " ... keadaan halmonie pasti lebih baik setelah kedatangan noona ... "

Daze ikut tersenyum, "Mudah-mudahan saja ... "

"Ayo pergi sekarang .. ". Dave memutuskan kegelisahan Dave dengan meraih koper kecil dari tangannya. "Ini bawaan noona?"

"Iya .. ", jawab Dave. Perasaannya agak baikan melihat keceriaan Dave. Sejak dulu dongsengnya ini memang selalu punya cara menghiburnya di kala sendu.

"Sedikit sekali .. ", sahut Dave.

"Apa?"

"Bawaan noona .. "

"O .. kalau tidak salah pakaian-pakaianku masih disimpan halmonie di lemari dalam kamar tidur ... ", jawab Daze. "Appa dan omma akan kemari setelah menyelesaikan urusan Han Da' ZeVe ...", jelasnya pada Dave.

"O .. ", reaksi Dave, tanpa menaruh perhatian sedikitpun terhadap perkataan
Daze yang terakhir.

"Noona sudah makan?", sambungnya.

"Ne, saya sudah makan di pesawat tadi .. ", jawab Daze. "Apa kamu membawa mobil? Saya dengar dari halmonie, kamu membeli mobil bulan lalu .. "

"Tidak. Kita naik taxi ..", tekan Dave, pandangannya terarah ke depan.

"Sebenarnya ... darimana kamu mendapatkan uang membeli mobil itu?", selidik Daze. "Appa dan omma tidak mengirimimu uang jajan akhir-akhir ini kan?"

"Dari tabungan saya .. ", jawab Dave pendek.

"Jeongmal? .. Kamu baik-baik saja kan dongseng-a? Wajahmu terlihat pucat .. ", tanya Daze khawatir. Segera dia mengangkat tangan dan meletakkannya ke jidat Dave.

"Tidak!!", pemuda itu langsung mengibaskan tangannya. "Saya sehat-sehat saja ... Jangan bicara lagi, halmonie sudah menunggu kita di rumah .. "

"O ne ... "

Daze kemudian mengikuti langkah Dave dengan pandangan bertanya.

~~~ *** ~~~


Han's Mansion ...

"Halmoniee!!". Daze memeluk wanita renta itu erat-erat. "Bogoshipoyo .. bagaimana keadaan halmonie?"

"Halmonie merasa sangat sehat begitu bertemu denganmu sayang .. ". Halmonie tersenyum, melepaskan pelukan Daze kemudian memperhatikan cucu perempuan satu-satunya ini dengan sepasang mata yang kabur. "Coba halmonie lihat kamu baik-baik ... ", perlahan nenek tua itu mengangkat tangannya dan mengelus pipi Daze, "Kamu semakin cantik sayang .. halmonie sangat bangga padamu .. "

"He .. he .. mulut halmonie semakin manis .. "

"Kamu akan menemani halmonie di sini kan?", tanya halmonie dengan suaranya yang serak dan pelan.

"Ne .. ", Daze mengangguk keras-keras, dipeluknya halmonie dengan sepenuh hati. "Saya sangat merindukan halmonie .. "

"Bagus .. halmonie bisa pergi dengan tenang setelah ini .. ", sahut halmonie, senyuman hangat tersirat di wajahnya.

"HALMONIE!!", teriak Daze, "Halmonie dilarang berkata seperti itu .. ", dua butir air bening mulai mengalir dari sudut matanya, " ...hu .. hu .. halmonie akan baik-baik saja, .. sehat sampai usia keseratus bahkan lebih, araso?!"

"Ne .. ne .. ', halmonie membalas pelukan cucunya ini. "Halmonie berjanji akan bertahan, sampai ... sampai halmonie melihatmu menikah, .. melihatmu bahagia dengan pria yang akan menjadi suamimu kelak .. "

"Bagus .. itu baru halmonieku yang manis .. ". Daze tersenyum perlahan, dia mempererat pelukan di tubuh halmonie. " .. halmonie harus memegang kata-kata itu .. "

Mereka berpelukan selama lima menit, kemudian halmonie melepaskan rangkulan Daze di tubuh keriputnya secara halus.
"Lalu .. bagaimana hubunganmu dengan pacarmu itu?"

"Carlson?"

"Iya iya, .. halmonie selalu lupa namanya .. "

Daze kembali melingkarkan tangannya ke pinggang halmonie.
"Baik. Dia sangat menyayangiku, jadi halmonie jangan khawatir .. "

"Dia tidak melarang kedatanganmu ke sini kan?"

"Aniyo, ... dia selalu mendukung kegiatanku .. ", sahut Daze, berusaha menenangkan kegelisahan halmonie.

"Bagus kalau begitu .. ", angguk halmonie puas. "Apa kamu ingin makan sekarang? .. Atau nanti saja? .. Halmonie bisa menyuruh Ye-Jin menyiapkannya sekarang juga jika kamu lapar ... "

"Aniyo halmonie, nanti saja. Saya masih kenyang setelah makan terlalu banyak di pesawat tadi .. Saya hanya merasa lelah setelah perjalanan jauh itu .. ". Daze mengerak-gerakkan pundaknya berkali-kali sebagai isyarat dia benar-benar lelah.

"Baiklah kalau begitu .. kamu istirahat saja dulu .. halmonie juga harus istirahat, tubuh tua ini tidak mampu menyangga terlalu lama .. "

"Apa perlu saya temani .. ". Daze bergerak dari tempatnya.

Tapi halmonie menolak halus dengan segera mengangkat tangannya. "Aniyo .. kamu masuklah ke kamarmu .. ".

Daze mengangguk perlahan. Diperhatikannya halmonie yang memutar tubuh lambat-lambat dengan tongkat di tangannya. Halmonie sudah semakin tua. Dua tahun dia tidak bertemu dengannya dan kesan tua serta rapuh itu semakin terasa.

Daze menghembuskan nafas perlahan, kemudian dia membalikan badan kearah tangga panjang yang menuju ke lantai atas. Kamarnya memang terletak di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Dave. "DAVE", nama itu membuatnya berpaling mendadak kearah halmonie. Punggung nenek tua itu masih terlihat jelas olehnya, jalannya memang lamban sekali.

"HALMONIE!!"

Halmonie menoleh padanya. "Ada apa sayang?"

"Kemana si Dave? .. Tadi katanya membantuku memindahkan koper ke kamar, tapi setelah itu tidak kelihatan orangnya .. "

"O anak itu .. ", halmonie menghembuskan nafasnya yang tersendat-sendat. " .. mungkin sudah keluar lagi .. "

Alis Daze berkenyit, "Keluar lagi? Apakah dia selalu begitu?"

"Terkadang .. ", jawab halmonie cuek. " .. halmonie tidak ingin memusingkan kegiatannya .. "

"Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?", tanya Daze.

"Entahlah! .. Sudah sayang, jangan terlalu memusingkan adikmu itu, .. segera beristirahatlah biar badanmu segar lagi .. "

Akhirnya Daze tersenyum mendengar perhatian halmonie padanya. "Ne. Apa halmonie benar-benar tidak perlu ditemani?"

"Tidak. Halmonie sangat memahami keadaan sendiri."

"Kalau begitu permisi halmonie .. "

"Mimpi yang indah sayang .. "

"Ne .. ", kembali senyum lebar terkembang di wajah Daze. Dengan melompat-lompat kecil, dia menaiki tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas itu.

~~~ *** ~~~


"Huhhh anak-anak sialan!!! .. Kerjanya hanya ngerokok dan mabuk-mabukan terus!!!", umpat Rathyan kesal.

Diendusnya pakaiannya, huekk .. bau asap rokok dan alkohol menempel ketat di seluruh tubuhnya, juga rambutnya yang lebat dan hitam pekat. Rasanya ingin muntah saja.

Masih dalam keadaan kesal, dia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul 11 lewat 45 malam. "Hmmm cukup malam juga .. ", gumamnya pelan.

Rathyan sampai di pintu depan Han's Mansion. Diperhatikannya keadaan sekeliling, -gelap dan suram. Lampu-lampu di sepanjang halaman depan sudah dipadamkan, yang tersisa hanya sebuah lentera kecil di pojok kiri dekat pigura yang berada di tengah taman.

Rathyan menengadah ke atas. Lampu-lampu di ruangan atas juga sudah dipadamkan, kecuali .. lampu di kamar yang bersebelahan dengan kamar Dave.

"Hmm apa ada yang tidur di situ?", sekali lagi Rathyan bergumam sendiri. Seingatnya kamar di sebelah itu merupakan kamar kosong. Selama tinggal di rumah ini, hampir setahun lamanya, dia tidak melihat seorangpun menempati kamar itu.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya menghantui pikiran Rathyan selama beberapa menit. Detik berikutnya dia mengangkat bahu, cuek. Kembali diendusnya kemeja yang melekat di tubuhnya. Huekkk ,, bau asap rokok dan alkohol itu tidak hilang-hilang juga.

Sesaat kemudian dia mulai mendekati Han's mansion. Bukan membuka pintu depan, dia malah memanjat tanaman rambat yang tumbuh di sekitar situ. Dia melakukannya dengan sangat mahir dan gesit. Setiap duri yang tumbuh di tanaman-tanaman tersebut tidak terlepas dari perhatiannya, dapat dihindari dengan mudah. Semua ini tidak mengherankan, mengingat -memanjat dinding memang sudah pekerjaan Rathyan sehari-hari. Supaya tidak terlihat oleh penghuni rumah, dia harus menghindari masuk ke dalam rumah dengan menyolok.

Rathyan hampir mencapai kamar Dave. Dia bergantung erat di tanaman rambat antara kamar Dave dan kamar sebelahnya. Kemudian rasa penasaran tiba-tiba menghinggapinya. Kepalanya terjulur perlahan ke kamar sebelah kiri. Lampu dalam ruangan itu bersinar terang. Kamar tersebut memiliki dekorasi yang lembut, berwarna putih hangat dengan kombinasi warna pink yang cerah, kamar khas cewek.

Alis Rathyan berkenyit perlahan. "Benar!! Bukankah Dave bilang kakak perempuannya akan tiba hari ini? .. Ohhh dia pasti belum sadar benar ketika Dave mengatakan itu ... Kamar ini pasti kamar kakaknya .. "

klekk ... deritan halus terdengar oleh telinga Rathyan, lewat jendela kaca yang tidak tertutup rapat. Pintu lain yang berada dalam kamar itu terbuka dengan pelan, kemudian .... seorang gadis berkulit putih bersih, sangat mulus dan indah, dengan hanya terbalutkan handuk besar di tubuh mungilnya keluar dari dalam ruangan yang ternyata kamar kecil itu. Rambutnya yang basah dan panjang terjuntai sampai ke pinggang. Gadis itu melangkah ke lemari dalam ruangan itu, mengambil beberapa helai pakaian yang tidak terlihat jelas oleh Rathyan. Dalam hitungan detik, gadis itu melepaskan handuknya sehingga punggung polos yang hanya terlindungi rambut panjang tersebut terlihat jelas oleh pemuda itu.

Rathyan menelan ludah perlahan. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya. "Ini salah!!", teriaknya dalam hati.

Tergesa-gesa dia membuka jendela kamar Dave, kemudian memanjat ke dalam. Nafasnya terengah-engah dan pemandangan tersebut membuatnya tidak dapat memejamkan mata semalaman -hatinya berdetak keras dan memburu,sampai Dave memasuki kamar dengan sempoyongan sekitar pukul 3 dini hari.

~~~ *** ~~~
« Last Edit: September 06, 2010, 09:11:47 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun