Author Topic: OFF AIR ~ updated 2 April 2011  (Read 55782 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
krn keabisan ide, jdnya di chp ini bnyk nyomotin scene BOF. moga2 tdk ngebosenin dan tdk mengecewakan krn ga sesuai harapan kalian tentang ehem2nya minsun ...

Chapter 5 Part 2


Minho mengamati keadaan di sekelilingnya. Ia sedang berada dalam kamar dengan nuansa pink yang sangat kental. Dekorasi seperti ini tentu saja hanya ada pada kamar seorang gadis. Kamar itu tidak asing bagi Minho. Entah sudah berapa kali ia berada dalam kamar tersebut.

Minho tampak terkejut setelah bola matanya selesai mengitari seluruh penjuru kamar. Harusnya Minho tidak perlu demikian mengingat ia sudah sering keluar masuk kamar ini. Namun, tidak untuk pagi itu. Mulut Minho menganga menyaksikan kondisi kamar yang seperti habis dijatuhi molotov. Kamar yang biasanya tertata rapi kini sudah menjelma menjadi begitu berantakan. Kemeja, celana panjang, jaket, tas, sepatu, berserakan di mana-mana. Bahkan pakaian dalam juga ikut meramaikan situasi kamar.

“Omo, apa yang terjadi semalam?!” Minho berkata pada dirinya.

Selesai mengamati kamar, Minho beralih pada sesosok gadis yang tergolek di ranjang. Tangan Minho mengoyang-goyangkan tubuh gadis itu tapi si gadis masih asyik menekuni alam bawah sadarnya.

“Bangunlah, sudah pagi” ujar Minho.

“Ehm ... tidak mau ... aku masih ngantuk” Kalimat ini yang diterima Minho.

Minho mengambil jam beker kemudian membunyikan tepat di lubang telinga pemilik kamar.

“Yyaaa! Apa yang kau lakukan!” Suara melengking terdengar memecah keheningan pagi.

“Min Jung-a, kau harus bangun dan segera bergegas” Minho yang baru saja tiba di kamar Min Jung, tak berhenti mengoyangkan tubuh sepupunya itu.

loh kok min jung [what] ketipu nih ye [jumpy] piiisss, jgn dihammer [biggrin]

“Untuk apa sih kau datang pagi buta begini dan mengganggu tidurku. Aku tidak ada jadwal pagi, jadi aku mau tidur sampai siang” Min Jung membenamkan dirinya ke dalam selimut.

“Yya, anak gadis tidak baik bangun siang-siang” Minho terus berusaha menarik Min Jung ke alam nyata.

“Apa peduli mu” bentak Min Jung.

“Min Jung-a, cepat buka matamu. Temani aku ke tempat syuting Magic” rengek Minho.

“Pergi sendiri, aku masih ngantuk” balas Min Jung.

“Kalau bisa, aku juga akan pergi sendiri. Memangnya kau mau bertanggung jawab kalau timbul gossip lagi” ucap Minho.

“Untuk apa ke tempat syuting Magic?” tanya Min Jung.

“Ada yang ingin aku sampaikan pada Hyesun” jawab Minho.

“Bukannya kalian sedang marahan?” tanya Min Jung lagi.

“Siapa yang marahan? kami selalu kompak” bantah Minho.

“Tidak mengaku lagi. Kalau ada yang mau dibicarakan lewat telepon saja. Jangan menyusahkanku” tolak Min Jung.

“Tidak bisa melalui telepon, aku harus memeriksa lokasi syuting Magic secara langsung” jawab Minho.

“Memeriksa? Apa yang mau kau periksa?” Min Jung kembali bertanya.

“Ayolah jangan banyak pertanyaan. Sebaiknya kau bangun dan lekas mandi. Aku tunggu di bawah. Sepuluh menit tidak turun, kupecat kau sebagai sepupu” ancam Minho sambil berlalu meninggalkan kamar Min Jung.

Min Jung mengacak-acak rambutnya. Rencana bangun siang gagal total setelah diganggu Minho. Dengan malas Min Jung bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi.

“Ah, satu lagi” Ayunan kaki Minho terhenti tepat di depan pintu.

Masih dilengkapi dengan perasaan kesal, Min Jung menatap Minho yang tidak melanjutkan langkahnya.

“Kamar mu ini lebih mirip kapal pecah. Berantakan sekali. Sepertinya semalam terjadi perang dunia ke 3 di sini” ejek Minho.

“YYA! LEE MIN HOOO!” Min Jung melempar bantal ke arah Minho tapi yang jadi sasaran malah daun pintu. Minho telah lenyap dari kamar Min Jung.

“Dasar Minho! Pagi-pagi sudah bikin orang kesal” Min Jung mengomel seorang diri.

“Aigoo, kalung kesayanganku nyelip di mana ya? Sudah semalaman aku mengobrak-abrik kamar ini tapi tidak ketemu juga” Min Jung kembali teringat barang yang dicarinya semalam.

Min Jung mengurungkan niat menggeledah ulang kamarnya begitu tersadar ada Minho yang menunggu di bawah. Ia beralih ke kamar mandi walau tanpa sepenuh hati.
 
*******

Lokasi syuting Magic
Mobil Minho sudah terparkir di lokasi syuting Magic. Tiap kru di tempat tersebut sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kehadiran Minho dan Min Jung sempat membuat konsentrasi para kru berpindah pada dua orang tamu tak diundang ini. Minho dan Min Jung hanya membalas tatapan kru Magic dengan senyuman dibarengi bungkukan badan sambil tetap mengayunkan kaki.

Setelah berkeliling ke beberapa tempat, target yang diincar Minho belum kunjung ditemukan. Min Jung yang sedari tadi mengikuti pergerakan Minho mulai terlihat kesal. Tampang Min Jung yang sejak dari rumah sudah kusut, kini bertambah semerawut. Minho dapat merasakan kekesalan Min Jung, oleh karenanya ia segera mengeluarkan ponsel untuk mencari informasi.

“Anyonghaseyo, Lee Min Ho-ssi” suara ramah seorang pria terdengar oleh Minho saat konsentrasinya terfokus pada ponsel.

“Oh. Anyonghaseyo, Bi-ssi” Minho agak terkejut melihat Bi yang tiba-tiba sudah berada di depannya.

“Wah, tidak menyangka bisa bertemu kau di sini” ucap Bi.

“Ne. Aku ke sini menemani Min Jung yang ingin bertemu Hyesun” Minho sudah menyiapkan alibi ini sejak dari rumah.

“Oh, Lee Min Jung-ssi juga datang. Anyonghaseyo” Bi menyapa ramah Min Jung.

“Anyonghaseyo, Bi-ssi” balas Min Jung tak kalah ramah.

“Beruntung sekali aku hari ini. Bisa menyaksikan keakraban 2 orang artis yang masih saudara sepupu. Pemandangan yang sungguh langkah” puji Bi pada Minho dan Min Jung.

“Lee Min Ho-ssi sepupu yang baik hati ya, bersedia mengantar Lee Min Jung-ssi kemana-mana” Kali ini Bi hanya memuji Minho seorang.

“Tidak juga, sebenarnya aku tidak sebaik itu. Kalau saja Min Jung tidak terus membujukku pasti aku masih tidur di rumah. Bayangkan saja pagi-pagi sekali dia sudah di kamarku dan membangunkanku padahal aku sedang bermimpi indah” Dengan mahirnya Minho menjungkirbalikkan fakta.

Mendengar ucapan Minho, Min Jung menjadi geram. Namun apa daya, Min Jung tidak mampu melampiaskan kegeraman pada Minho di depan Bi. Min Jung hanya bisa mengutarakannya lewat kerutan di kening.



“Jeongmal” Bi percaya saja dengan kebohongan Minho.

“Nasibku memang kurang beruntung, punya sepupu masih jomblo. Jadinya beginilah, mau pergi kemana-mana selalu minta aku temani” Minho kembali berkata seenaknya hingga membuat Min Jung semakin meradang.



“Miane, Bi-ssi. Aku harus segera menemui Hyesun. Kau tahu di mana dia?” Min Jung ingin segera berlalu dari hadapan Bi supaya ia tidak lagi menjadi bulan-bulanan Minho.

“Tadi aku melihat Hyesun-ssi bersama managernya memasuki ruangan itu” Telunjuk Bi mengarah ke suatu ruangan bertuliskan ‘Staff Only’.

“Gomawoyo. Kami segera ke sana. Anyong” Min Jung segera menarik tangan Minho.

“Ne. Anyonghaseyo” balas Bi.

Minho dan Min Jung berjalan menuju ruangan yang ditunjuk Bi. Kesempatan ini dimanfaatkan Min Jung untuk mengerahkan seluruh kejengkelannya. Tangan Minho habis dicubiti Min Jung. Minho cuma bisa terkekeh menerima luapan emosi Min Jung.

“Omo, Minho-ssi, Min Jung-ssi, ada angin apa kalian datang ke sini?” Na Hee yang baru saja membuka pintu terkejut melihat kehadiran Minho dan Min Jung.

“Ada angin topan” jawab Min Jung asal.

“Mwo?” Na Hee malah jadi heran dengan jawaban Min Jung.

“Hyesun ada di dalam?” setelah puas tertawa, Minho melontarkan pertanyaan tersebut pada Na Hee.

“Ne” jawab Na Hee.

“Yya, waktumu hanya 10 menit. Cepat sana” ucap Min Jung.

“Kau di luar saja” Minho melarang Min Jung masuk bersamanya.

“Arasso! Aku juga tidak mau melihat orang pacaran” bentak Min Jung.

“Betul itu, aku khawatir air liurmu akan menetas” goda Minho.

“KAU!” Min Jung mengangkat tangan yang terkepal.

Minho segera berlalu dari hadapan Min Jung sebelum kepalan tangan sepupunya itu benar-benar mendarat di wajahnya.

“Mau apa Minho-ssi datang ke sini?” tanya Na Hee.

“Dia mau sidak!” jawab Min Jung.

“Sidak? Maksudmu inspeksi mendadak? Waeyo?” tanya Na Hee lagi.

“Tidak tahu!” ucap Min Jung.

“Wajah Minho-ssi ceria sekali, beda dengan Hyesun-ssi. Min Jung-ssi, apa kau tahu kenapa Hyesun-ssi tampak murung hari ini?” Na Hee kembali bertanya.

“YYA! ONNIE! AKU BENAR-BENAR TIDAK TAHU APA-APA. TOLONG JANGAN BERTANYA LAGI PADAKU” Min Jung meluapkan kekesalan pada orang yang tidak tepat.

“A .. A ... Arasso” Na Hee menjadi gentar berkat bentakan Min Jung.

*******

Tok ... Tok ... Tok ...
Hyesun mengalihkan pandangan dari scenario Magic ke arah sumber ketukan.

“Masuk” ucap Hyesun.

Perlahan pintu mulai terbuka tapi tak ada seorang pun yang tampak di pelupuk mata Hyesun.

“Siapa di luar?” Hyesun jadi penasaran karena sudah lebih dari 10 detik ia menunggu penampakan sang pengetuk pintu.

“TADAAAA” Tiba-tiba Minho muncul di depan pintu sambil merentangkan kedua tangan.

“Minho?” Hyesun belum bisa percaya akan penglihatannya. Beberapa kali ia mengucek-ngucek mata guna memastikan tidak ada yang salah dengan bayangan yang terbentuk di retinanya.

“Ha ... Ha ... Ha ... Yya, kau ini kenapa, seperti melihat hantu saja” ledek Minho.

“Minho-a, benarkah ini kau?” tanya Hyesun.

“Tentu saja ini aku. Di muka bumi hanya ada satu Lee Min Ho yang seperti ini” jawab Minho sambil menutup pintu dan berjalan mendekati Hyesun.

“Kenapa diam saja? Kau tidak suka ya aku datang. Padahal aku sudah susah payah menyisihkan waktu khusus untuk mengunjungimu” ucap Minho.

“Anhiyo. Aku hanya tidak menyangka kau akan datang. Semalam kau tidak banyak bicara jadi kupikir kau masih marah” jawab Hyesun.

“Marah? Siapa yang marah? Aku tidak pernah marah” sanggah Minho.

“Hei, kau kenapa?” Minho terkejut ketika tiba-tiba Hyesun berlari dan langsung menuju pelukan Minho.

“Miane, aku tahu sebenarnya kau marah ...” Hyesun berkata dari balik dekapan Minho.

“Sudahlah, jangan bahas itu lagi” Minho membalas pelukan Hyesun.



Lima menit sudah berlalu tapi Minho masih betah memeluk Hyesun. Mereka hanya saling mendekap tanpa ada sepatah kata pun terucap. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Pertengkaran mereka mengantarkan Hyesun pada sebuah janji. Hyesun berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih terbuka kepada Minho tentang segala hal. Hyesun tidak mau Minho marah lagi hanya karena merasa dikesampingkan. Ia tak ingin terlibat permusuhan dengan Minho karena Minho sulit diajak baikan.

Bukan Hyesun seorang yang diam-diam menyimpan janji. Berkat pertengkaran itu Minho juga membuat suatu tekad. Minho bertekad untuk lebih bijaksana menghadapi pertentangan antara dirinya dan Hyesun. Minho tidak mau cepat marah pada Hyesun karena takut kejadian seperti semalam terulang lagi. Minho bukannya tidak suka dengan pertunjukkan Hyesun semalam. Hanya saja ia khawatir tidak bisa mengendalikan diri.

Minho tidak mau menodai hubungan mereka dengan permainan di luar garis. Minho ingin mempertahankan virginitas Hyesun sampai gadis itu resmi menyandang status sebagai Nyonya Lee Min Ho. Terlalu konservatif? Memang! Begitulah Minho. Perkembangan zaman tidak mampu merubah paradigma Minho, khususnya yang terkait dengan prinsip hidup.

“Bisa lepaskan pelukanmu. Aku mulai sulit bernapas” Hyesun melonggarkan lingkaran tanggannya di pinggang Minho.

“Lima menit lagi, anhi 15 menit lagi” Minho malah mempererat pelukannya.

“Yya, nanti ada orang yang datang” sambung Hyesun.

Akhirnya Minho mengendurkan pelukannya. Setelah itu mereka saling beradu pandang. Lama-lama sorot mata Minho meredup. Perlahan Minho membawa wajahnya mendekati Hyesun. Hyesun bersiap memejamkan mata. Namun ternyata kelopak mata Hyesun batal merapat ketika tiba-tiba Minho menarik kembali wajahnya menjauhi Hyesun.

“Buka mulutmu” ucap Minho.

“Waeyo?” alis Hyesun berkerut mendengar perintah Minho.

“Kau ... apa ... di mulutmu ... ada ... anggur ...?” kata demi kata diucapkan Minho secara bertahap.

“Yya!” Hyesun langsung mendorong tubuh Minho. Untungnya keseimbangan tubuh Minho stabil hingga ia tidak terjatuh seperti semalam.

“Aku tidak mau kau menyelundupkan anggur ke dalam mulutku lagi. Tenggorokanku ini benar-benar sakit” ucap Minho.

“Masih untung aku masukan anggur. Tadinya mau aku masukan biji kedondong” jawab Hyesun.

“MWO!” kalau saja tidak ada otot penjaga, bola mata Minho pasti sudah melesat dari tempatnya.

“Hari ini tidak ada jadwal syuting PT?” Hyesun duduk di sofa dan kembali fokus pada script Magic.

“Jatahku agak siang” Minho mengambil tempat di samping Hyesun.

“Oh iya, tadi aku bertemu Bi-ssi. Baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Ternyata wajah Bi-ssi kalah jauh dibanding wajah tampanku ini” sifat narsis Minho kambuh.

“Aigoo ...” Hyesun menoleh ke arah Minho sambil menekuk bibirnya.



“Waeyo?” Minho pura-pura tidak tanggap dengan mimik Hyesun.

“Aku alergi dengan orang narsis” dengan gemas Hyesun mencubiti pinggang Minho.

“Yya, hentikan ... aku sudah kenyang dicubiti Min Jung, jangan kau tambah lagi” Minho berusaha mengelak dari cubitan Hyesun tapi Hyesun terus saja melancarkan serangannya.



“Hyesun-a ... cukup ...” ucap Minho.

“Aigoo, ternyata ini yang kalian lakukan. Aku pikir ada ribut-ribut apa” Min Jung masuk ke ruangan Hyesun saat mendengar teriakan Minho.

“Yya! Siapa yang mengizikanmu masuk?” tanya Minho jengkel.

“Waktumu habis. Sudah 10 menit kau di dalam. Ayo pergi” dengan sadisnya Min Jung mengacaukan kemesraan sepasang kekasih yang baru saja baikan ini.

“Min Jung-a, aku belum selesai” Minho berontak dari tarikan Min Jung. Hyesun yang menyaksikan ‘keakraban’ saudara sepupu ini hanya bisa terkekeh.

Sebelum pergi, beraneka wejangan diberikan Minho untuk Hyesun. Mulai dari jangan telat makan, tidak boleh syuting sampai larut malam sampai ke hal-hal sepele yang pastinya sudah diketahui Hyesun dengan baik. Dari sekian banyak petuah Minho, yang paling ditekankan adalah tidak boleh dekat-dekat dengan Bi. Hyesun hanya manggut-manggut saja menanggapi pesan Minho.

*******

16 Juni 2010
Magic sudah dirampungkan Hyesun, acara premier pun digelar. Hyesun mengundang banyak teman sesama artis untuk turut meramaikan perhelatannya. Pemain BOF juga ikut hadir ke acara tersebut. Sayangnya Kim Hyun Jung tidak bisa memenuhi undangan Hyesun hingga membuat F4 tampil dengan formasi tak lengkap.

Penonton memberikan tepuk tangan meriah saat Hyesun selesai mengucapkan kata sambutan. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah putih nan mulus milik Hyesun. Kebahagian itu kian bersinar ketika bola mata Hyesun menemukan tamu istimewanya duduk di salah satu kursi penonton. Minho terlihat bangga dengan kekasih tercintanya ini.



Walau berada di gedung yang sama, Minho dan Hyesun belum sempat bertegur sapa. Minho datang menjelang acara dimulai. Akibatnya ia langsung menuju bangku penonton tanpa sempat menemui Hyesun. Penyebab hadirnya Minho di saat-saat genting adalah PT. Ia baru saja menghadiri syukuran PT.

(ceritanya Magic & PT kelarnya barengan)

Saat primier Magic selesai, Hyesun masih disibukkan dengan urusan lain. Minho jadi tidak bisa beratatap muka dengan Hyesun di acara tersebut. Minho memutuskan meninggalkan lokasi premier setelah mengirimi Hyesun sebuah sms yang berisi meminta Hyesun datang ke Manolin setelah memberesi semua urusan.

*******

Manolin Café
Hyesun membuka pintu mobil lalu segera melesat keluar. Dengan setengah berlari Hyesun memasuki Manolin. Ia tidak ingin Minho menunggu terlalu lama.

“Mianhe, sudah membuatmu lama menunggu. Urusanku banyak sekali” Dengan kepala tertunduk, Hyesun langsung membuat pengakuan dosa di depan Minho. Mata Hyesun terpejam sementara kedua tangannya menyatu di depan wajah sambil berulang kali digesek-gesekan.



Mata Hyesun masih tertutup rapat. Ia tidak berani menatap Minho. Namun setelah 10 detik berlalu, Hyesun tidak mendengar apapun dari mulut Minho. Hyesun malah merasakan keharuman bunga bermain dalam rongga hidungnya. Karena penasaran, akhirnya mata Hyesun mulai dibuka. Ia jadi tahu sumber aroma tersebut.

“Minho-a ...” ucap Hyesun.



“Untukmu. Chukae” Minho mengucapkan selamat atas selesainya Magic sambil menyodorkan sebuket bunga mawar kepada Hyesun.

Hyesun menerima mawar tersebut lalu berkata: “Kau ... tidak ... protes ... aku ... datang ... telat ...” 

Minho tersenyum melihat ketakutan Hyesun. Tangan Minho segera bergerak dan menarik Hyesun ke dalam pelukannya.

“Gwenchana” Minho berusaha menepis rasa bersalah Hyesun.

“Gomawo atas pengertianmu” Hyesun membalas pelukan Minho.

“Kau sudah setahun lebih jadi pacarku. Jadi hal seperti ini tidak terlalu kupermasalahkan” ucap Minho.

(Anggep aja udah setahun ya. Minho-Hyesun kan jadiannya ga lama setelah syuting BOF selesai, kira2 thn 2009. Primier Magic kan 2010, jd klo diitung2 emang udh setahun).

“Setahun? Sudah selama itukah? Tidak terasa ya” Hyesun mendongakkan kepalanya untuk menatap Minho.

“Sudah kuduga kau tidak ingat” Minho menyentil pelan batang hidung Hyesun.

“He ... He ... He ... “ Hyesun membenarkan dugaan Minho dengan tawa kecil.

“Harusnya kita membuat 1st anniversary. Bagaimana kalau kita adakan malam ini saja sambil digabung dengan perayaan Magic?” usul Minho.

“Boleh, tapi aku belum menyiapkan apa-apa” jawab Hyesun.

“Tenang, semua sudah kuatur. Ikut aku” Mihno menarik tangan Hyesun menuju ruangan khusus mereka.

“Wahhhh” Demikian reaksi Hyesun sesampainya di ruangan tersebut. Hyesun tampak terkesima dengan hasil karya Minho.

Minho menghias ruangan yang sering mereka gunakan di Manolin hingga menyerupai Camp Elysees. Minho juga menyiapkan beberapa makanan kegemaran Hyesun. Ada nasi putih, ayam rica-rica, bandeng presto, telur pindang, perkedel jagung, tempe mendoan dan sambal balado. (kalo ini daftar makanan paporit aku [hmff] )

“Yya, kenapa diam saja. Ayo duduk” Minho menarik kursi untuk Hyesun.

“Ini semua bukan kau yang masak kan?” tanya Hyesun.

“Tentu saja bukan. Aku tidak selihai itu” jawab Minho yang telah duduk berhadapan dengan Hyesun.

Mereka mulai menyantap hidangan yang disiapkan Minho. Setelah 20 menit, makanan yang tadinya tersaji di atas meja kini berpindah ke lambung Minho dan Hyesun.

“Hah, kenyangnya” ucap Hyesun.

“Kau suka?” tanya Minho.

“Ne. Gomawo” balas Hyesun.

Setelah makan, Hyesun duduk di depan piano. Ia sedang asyik menekan tuts piano tanpa not yang jelas namun tetap enak dimasukan dalam telinga.

“Ehem ... ehem ...” Minho duduk di samping Hyesun. Ia berusaha mengalihkan perhatian Hyesun dari piano. Hasilnya? Nihil.

“Sutradara Goo, setelah Magic apa rencana anda?” Minho menyodorkan tangan yang terkepal ke dekat mulut Hyesun layaknya wartawan yang sedang melakukan interview sambil memegang microphone. Cara ini mujarab. Perhatian Hyesun beralih kepada Minho.

“Sutradara Goo, mohon jawab pertanyaan wartawan Lee” desak Minho ketika melihat Hyesun hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaannya.

“Mendirikan sekolah seni” jawab Hyesun.

“Mwo? Jadi idemu waktu itu sungguhan. Aku pikir planning tersebut muncul karena kau demam” ucap Minho yang masih ingat dengan perkataan Hyesun di penghujung tahun 2009.

“Tentu saja aku serius. Walau hari itu aku sakit tapi pikiranku tetap sehat. Hanya saja, tampaknya sulit terwujud ...” Hyesun mulai ragu dengan rencana itu.

“Yya, jangan menyerah dulu. Aku akan selalu mendukungmu. Hwaiting!” Minho berseru demi membangkitkan semangat Hyesun.

“Untuk membuatmu lebih bersemangat, aku hadiahkan sebuah lagu untukmu” Minho bersiap memainkan piano. Hyesun menanti sabar lagu apa yang akan diberikan Minho untuknya.

Teng ... Teng ... Teng-Teng ... Teng ... Teng ... Teng-Teng. Minho memainkan theme song pernikahan.

“Yya, kenapa memainkan lagu itu? Memangnya siapa yang mau menikah” Hyesun menghentikan permainan piano Minho.

“Kita” jawab Minho mantap.

“Yya, yya, kau mau apa?” Hyesun berusaha mengelak ketika Minho menyelipkan setangkai mawar ke sela daun telinga Hyesun.

“Selesai. Sekarang kau sudah cocok menjadi mempelaiku” jawab Minho setelah setangkai mawar terselip di telinga Hyesun.

“Aish, kau ini ...” Hyesun meraba mawar yang dipakaikan Minho. Ia merelakan mawar itu bertengger di telinganya.

Hyesun terdiam sesaat. Ia kehabisan kata. Perhatian-perhatian Minho membuat Hyesun tidak enak hati. Selama mereka berpacaran, Hyesun tidak pernah kehabisan stok kasih sayang dari Minho.

“Waeyo?” tanya Minho.

“Ehmm ... kau ... selalu ada untukku, aku ... tidak tahu ... harus membalas dengan apa” jawab Hyesun.

“Balas pakai ini saja ...” Minho menegakkan wajah dan memejamkan mata. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk dicium Hyesun.



Hyesun yang tanggap dengan maksud Minho, langsung menyapu bibir Minho dengan cepat, hanya 1 detik.

“Yya, masa cuma begitu doang. Dasar pelit” gerutu Minho.

Ketidakpuasan Minho dibalas dengan tawa renyah Hyesun. Karena tidak terima dijadikan bahan lelucon, rambut Hyesun menjadi sasaran pembalasan Minho. Minho mengacak-acak rambut Hyesun tapi si pemilik rambut masih tertawa riang.

“Astaga, aku kan masih punya sesuatu untukmu” Minho menghentikan pekerjaan tangannya di rambut Hyesun ketika teringat satu hal.

Minho menarik tangan Hyesun dan membawanya duduk di sofa. Kemudian Minho berjalan menuju lemari kaca untuk mengambil sesuatu dari sana.

“Ini” Minho menyerahkan sebuah kotak berpita kuning.

“Apa lagi ini?” tanya Hyesun.

“Buka, dengan begitu kau akan tahu” jawab Minho.

“Minho-a, lucu sekali” Hyesun menemukan kue kering berbentuk wajahnya dalam kotak pemberian Minho.



“Kalau ini aku sendiri yang membuatnya” ucap Minho.

“Jeongmal? Kalau begitu aku cicipi dulu kue buatanmu ini” Hyesun mengambil satu kue dan memasukan ke dalam mulut.

“Yya! Andwe!” Minho memukul tangan Hyesun yang memegang kue dan merampas kue tersebut lalu mengembalikan kue ke dalam kotak.

“Kau tidak boleh memakannya. Arasso!” cegah Minho.

“Waeyo?” tanya Hyesun.

“Jun Pyo saja tidak rela memakan kue pemberian Jan Di, jadi kau juga tidak boleh memakan kue buatan ku. Simpan saja untuk kenang-kenangan kita” jawab Minho.

“Kau ini ada-ada saja. Baiklah akan aku simpan” ucap Hyesun.

“Ngomong-ngomong BOF banyak menyimpan kenangan kita ya” Minho membawa Hyesun bernostalgia bersama BOF.

*******

“Kalian harus ingat ini adalah momen penting bagi Jun Pyo dan Jan Di karena di sini ciuman pertama mereka sebagai sepasang kekasih” Sutradara Jung membriefing Minho dan Hyesun sebelum pengambilan gambar BOF episode 9.

“Ne. Ageshimida” jawab Minho dan Hyesun serempak.

Setelah itu, sutradara Jung memeriksa ulang penataan lokasi syuting. Semua sudah beres. Tim pendekor berhasil menyulap taman bermain menjadi Camp Elysees.

“Oke. Kita mulai. Semua harap stand by di posisi masing-masing” Sutradara Jung berjalan menuju monitor pemantau syuting. Sementara Hyesun dan Minho melangkah mendekati ayunan. Hyesun duduk di ayunan sedangkan Minho bersimpuh di depan Hyesun. Hyesun tidak bisa menutupi kegugupannya. Ia merasa tidak professional saat melihat Minho yang tampak tenang-tenang saja.

“Camera?” tanya sutaradara Jung pada kameraman.

“Oke” jawab kameraman.

Jantung Hyesun berpacu tambah cepat saat lampu kamera menyinari wajahnya. Ia tidak berani menatap Minho sebelum aba-aba ‘Action’ keluar dari mulut sutradara Jung. Minho yang sedari tadi menatap Hyesun, dapat merasakan kegugupan yang melanda Hyesun. Minho berusaha mempertahankan sikap tenangnya dan tidak terbawa ke dalam arus Hyesun.

“Gwenchanayo” Minho mencoba menenangkan Hyesun dengan memancarkan sorot mata penuh keteduhan.



“Ne ...” Hyesun menjadi semakin canggung dengan tatapan Minho.

“Hana ... Dul ... Action!” teriak sutradara Jung.

Perlahan Minho mendekati wajah Hyesun. Pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya mata mereka terpejam. Jantung Hyesun terpompa semakin kencang begitu hembusan napas Minho menerpa pipinya. Hyesun bisa merasakan sesuatu yang lembut mulai bermain di bibirnya.

“CUT!” potong sutradara Jung.

Minho langsung menjauhi wajah Hyesun. Napas Minho sedikit memburu setelah apa yang dirasakannya barusan. Bibir ranum Hyesun meruntuhkan ketenangan yang susah payah dibangun Minho.

“Minho-ssi, kau jangan terlalu kaku. Usahakan serileks mungkin” sutradara Jung menginstruksi Minho.

“Ne” jawab Minho sambil melepas napas panjang.

“Oke, kita ulang. Action!” perintah sutradara Jung.

Wajah Minho kembali mendekati Hyesun. Bibir Minho bermain lagi di bibir Hyesun. Minho membuka sedikit bibirnya dan melanjutkan dengan melumat bibir Hyesun. Ketika tidak ada ‘CUT’ dari sutradra Jung, lumatan Minho diperdalam lagi. Ia tidak yakin apakah sutradara Jung mengintruksi demikian. Semua ucapan sang sutradara hilang bersama kenikmatan bibir Hyesun. Minho bukannya ingin memanfaatkan situasi. Ia hanya mau menunjukkan totalitas dalam berakting.

Minho kian berani melumat bibir Hyesun dengan tambah dalam hingga akhirnya ... “CUT!” teriak sutradara Jung. Minho segera melepas ciumannya.

Sutradara Jung menggeleng-gelengkan kepala. Minho tersenyum kecil sambil melempar pandangan agar tidak ada yang melihat kegembiraannya. Minho sedang gembira? Benar! Entah mengapa Minho menyukai tampang tidak puas sutradara Jung. Ia juga jadi ketagihan mendengar kata ‘cut’nya sutarada Jung.

“Hyesun-ssi, kau jangan diam saja. Dalam adegan ini Jan Di juga harus membalas ciuman Jun Pyo” kali ini Hyesun yang ditegur sutradara Jung.

“Ne. Ageshimida” jawab Hyesun.

“Semua harap bersiap lagi ... and ... action!” komando sutradara Jung.

Lagi-lagi Minho harus mengulang dari awal. Sekarang Minho sudah lebih lihai. Lalu Hyesun? Walau ini sudah pengulangan yang ke tiga, ia masih gugup saja. Apalagi sutaradara Jung meminta untuk membalas ciuman Minho.

Bibir Minho sudah sepenuhnya melumat habis bibir Hyesun. Tapi Minho belum merasakan balasan apapun dari Hyesun. Minho mencoba memancing Hyesun dengan mempererat lingkaran tangannya di pinggang Hyesun. Berhasil! Bibir mungil Hyesun kini ikut melumat bibir Minho. Meski baru berupa lumatan kecil, Minho sudah terserang hentakan dahsyat. Permainan malu-malu dari Hyesun sudah cukup menguncang sanubari Minho.

“CUT! no, no, no, no [nono] [nono] [nono] [nono] bukan seperti itu” sela sutradara Jung.

‘Yes!’ hati kecil Minho bersorak-sorai [clap] [clap] [clap]

“Hyesun-ssi, aku harap kau bisa mengimbangi permainan Minho-ssi. Maksudku, Jan Di harus membalas ciuman Jun Pyo dengan sepenuh hati” sutradara Jung kembali memberi arahan pada Hyesun.

“Ne” Hyesun menganguk.

Pengambilan gambar kembali diulang. Minho tidak menyangkal kalau ia menyukai pengulangan ini. Apakah benar Minho memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Tidak seratus persen benar. Karena apa mau dikata, kesalahan ada di Hyesun, bukan pada Minho.

“Kita ulangi. Camera ... Action!” sutradara Jung kembali memulai syuting.

Pengulangan ke empat. Hyesun berusaha lebih berani menanggapi ciuman Minho. Ia sudah bisa membalas lumatan Minho sesuai anjuran sutradara Jung. Dua actor dan actress ini hanyut dalam ciuman pura-pura itu. Walaupun ciuman mereka hanya rekayasa, Minho dan Hyesun larut di dalamnya.

Sutradara Jung belum meneriakan ‘cut’. Bibir Minho dan Hyesun masih saling melumat. Permainan Hyesun yang sudah berkembang mendorong Minho lebih memperdalam ciuman mereka. Sutradara Jung membiarkan lumatan yang cukup dalam antara bibir Minho dan Hyesun selama 10 detik. Kepuasan mulai terpancar di wajah sutradara Jung.

Kring ... Kring ... Kring ...

“AISSSHHH! ... CUT! ... CUT! ... CUT!” teriak sutradara Jung dengan kesal.

“YYA! Dering ponsel siapa itu?!” sutradara Jung tampak murka dengan kecerobahan krunya.

“Sosonghamnida” seorang asisten kameraman menghadap sutradara Jung dengan penuh ketakutan. Pria bertubuh kerempeng ini membungkukkan badannya hingga membentuk sudut siku-siku.

Omelan sutradara Jung segera menggelegar. Tidak ada yang berani membela asisten kameraman itu. Semua terdiam di tempat masing-masing, sama seperti Minho dan Hyesun. Keduanya masih stand by sesuai posisi pengambilan gambar. Namun tampaknya ocehan sutradara Jung tidak menggema ke dalam gendang telinga Minho dan Hyesun. Mereka mengabaikan suara sutradara Jung karena masih shock dengan ciuman tadi.

“Oke. Kita ulang lagi. Minho-sii, Hyesun-ssi, aku suka adegan tadi, tolong lakukan seperti yang barusan” Setelah selesai menceramahi asisten kameraman, sutradara Jung memulai aktivitas syuting.

“3 ... 2 ... 1 ... action!” sutradara Jung memberi aba-aba.

Wajah Minho kian mendekati wajah Hyesun. Bola mata mereka beradu 3 detik. Sorot mata Minho meredup perlahan sampai akhirnya menutup sempurna. Saat terpaan napas Minho semakin jelas terasa di pipi Hyesun, mata Hyesun pun ikut terpejam. Minho membuka mulut kemudian melumat bibir Hyesun. Hyesun membalas ciuman Minho saat lumatan Minho bergerak semakin dalam. Bibir Hyesun sudah sepenuhnya tertelan dalam bibir Minho. Mereka berkutat dengan posisi ini selama 10 detik.



“CUT!” teriakan sutradara Jung memaksa Minho melepas ciuman pada bibir Hyesun.

“Wow! Luar biasa. Kalian berdua tidak mengecewakanku” sutradara Jung memuji acting Minho dan Hyesun.

Minho sudah berdiri dan Hyesun telah bangkit dari ayunan. Mereka tampak canggung dan tidak berani memandang. Meskipun Minho-Hyesun berdiri sejajar tapi pandangan mereka dilemparkan ke arah yang berlawanan.

“Syuting hari ini selesai. Semua boleh pulang. Terima kasih atas kerja keras kalian” sutradara Jung menutup syuting hari itu.

Hyesun langsung melesat meninggalkan Minho tanpa ada kata yang terucap dari mulutnya. Minho yang menyadari kepergian Hyesun hanya sanggup mengamati punggung gadis itu. Setelah sosok Hyesun tidak terlihat lagi, Minho meraba bibirnya. Ada senyum manis tersungging di wajah Minho. Senyum itu hadir ketika Minho membayangkan kembali ciuman bersama Hyesun.

Kecanggungan Minho dan Hyesun tidak berhenti sampai di sini. Keesokan harinya mereka masih terlihat kaku satu sama lain. Hyesun bahkan seperti menghindari Minho. Ia tidak berani dekat-dekat dengan Minho dan Minho pun ternyata enggan menghampiri Hyesun.


*******

“Ha ... ha ... ha ... kita lucu sekali ya. Tidak bertegur sapa sampai 3 hari seperti anak TK sedang musuhan” tawa Minho menutup lembar terakhir buku memori BOF.

“Minho-a, ciumanmu waktu itu terlalu dalam. Seingatku sutradara Jung tidak memerintah seperti itu” protes Hyesun.

“Memang tidak, tapi sutradara Jung menyukainya” jawab Minho.

“Selama syuting di beberapa drama, baru denganmu aku merasakan ciuman seperti itu” ujar Hyesun.

“MWO? Jadi aku pria pertama. Beruntung sekali aku ini” ucap Minho.

“Ne. Kau pria pertama yang BERANI menciumku terlalu dalam” balas Hyesun dengan penekanan di satu kata.

“Terlalu dalam kah? Padahal sudah aku kurangi 40 persen” sahut Minho.

“Jeongmal?” Hyesun tidak yakin dengan ucapan Minho.

“Ne. Kau mau merasakan yang 100 persen?” tawar Minho.

“Aish ...” Hyesun tidak merespon positif tawaran Minho.

“Hyesun-a, bagaimana kalau kita reka ulang adegan BOF tadi?” Minho mengganti tawarannya.

“Aku tidak tertarik” tolak Hyesun.

“Wae? Padahal suasana saat ini sama persis dengan settingan syuting BOF. Sayang kalau dilewatkan” bujuk Minho.

“Aku tidak ...” kalimat Hyesun tidak tuntas karena Minho tiba-tiba berdiri lalu bersimpuh di hadapannya.

“Oke, bersiaplah. Syuting BOF episode 9 akan segera dimulai” Minho nekat merekonstruksi adegan BOF tanpa Acc Hyesun.

“Minho-a ...” kali ini pun Hyesun tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Hana ... dul ... action!” Minho meniru ucapan sutradara Jung.

Minho mendekati wajah Hyesun. Ia melakukannya dengan serius seperti memang sedang syuting sungguhan. Sementara Hyesun terus saja senyam-senyum melihat acting Minho. Bahu Hyesun bergetar menahan tawa yang hampir meledak. Saat bibir Minho sudah hampir tiba di bibir Hyesun, tawa Hyesun akhirnya pecah juga.

“Ha ... ha ... ha ...” Hyesun tertawa terpingkal.

“Yya, kau harus serius” Minho terlihat kesal.

“Ahniyo, aku tidak sanggup melanjutkan” tangan Hyesun terkibas-kibas.

“Wae?” tanya Minho.

“Ehm ... mungkin karena aku tidak bisa merasakan atmosfer keromantisan di ruangan ini” jawab Hyesun.

Minho tidak menyerah dengan sikap non-kooperatif Hyesun. Ia berdiri lalu berjalan menjauhi Hyesun. Minho menyalakan belasan batang lilin kemudian mematikan lampu. Minho mencoba menghadirkan nuansa romantisme sesuai keinginan Hyesun.

Setelah selesai mengganti sumber penerangan, Minho berjalan mendekati piano yang berjarak sekitar 5 langkah dari tempat duduk Hyesun. Minho menggerak-gerakkan kesepuluh jarinya untuk melemaskan otot sebagai bentuk pemanasan sebelum bermain piano. Sesudah warming up singkat, Minho mulai menekan tuts piano sementara Hyesun tetap duduk manis di tempatnya.

“Na ... jeongmal ggumin jul arajjyo ... Geudae nae nuneul bwayo sarangseureo un geunyang ... Gaseumi ttuieo seo ... sumi maghyeoseo ... Geunyang utjyo ...” syair lagu Saranghae milik Kim Woo Joo yang dibawakan Minho saat acara Special Day With Minoz, meluncur kembali dari mulut Minho. Namun kali ini lagu tersebut dinyanyikan special untuk Hyesun.



“Namane ... byeori dwoi julsu ittnayo ... Sesang kkeutkkaji geudaereul ... jikhijyo ... Geudae ... nareul bwayo geudae ... Na ije ... gobaekhajyo ...” Minho terlihat serius melantunkan Saranghae, pandangannya terpusat pada deretan tuts hitam dan putih. Hyesun tampak menikmati suara lembut Minho sambil menatap wajah Minho di bawah temaram cahaya lilin.

“Saranghae ... Saranghae ... Saranghae ... Saranghae ... Saranghae” tiba di bagian ini, Minho tidak lagi memfokuskan pandangan ke arah piano. Ia beralih ke Hyesun. Minho menatap dalam bola mata Hyesun sambil terus mengucapkan sarangahae dengan berirama.

“Saranghae ... Saranghae ... Saranghae ... Saranghae ... Sarang ... hae” Selesai menyanyikan Sarangahe, Minho menuju tempat duduk Hyesun lalu bersimpuh di depan gadis itu.

“Hyesun-a, berjanjilah padaku” pinta Minho.

“Janji apa?” tanya Hyesun.

“Kau tidak akan meninggalkanku jika suatu hari timbul reaksi negatif dari fans atau masyarakat umum saat hubungan kita terbongkar” ucap Minho.

“Ehmm ... Ne, yaksokae” jawab Hyesun.

“Aku ... tidak bisa bertahan tanpamu ... aku ini ... sudah sejantung denganmu” ujar Minho dengan penuh kesungguhan.

“Hyesun-a ...” Minho tidak melanjutkan perkataannya.

“Wae?” Hyesun menanti kelanjutan ucapan Minho.

“Saranghamnida, Hyesun-a” Minho mengucapkan kalimat sederhana ini sambil menancapkan tatapan penuh kasih sayang ke bola mata Hyesun.

Hyesun membalas tatapan Minho dengan senyuman haru. Minho benar-benar mahir menciptakan nuansa kebahagiaan di hati Hyesun. Saat pandangan mereka sudah bertemu selama 7 detik, Minho mulai beraksi. Minho membawa wajahnya mendekati Hyesun. Mata mereka tidak lagi saling menatap karena sudah tertutup rapat. Untuk kesekian kalinya bibir Minho bertemu kembali dengan bibir Hyesun. Dan untuk kesekian kalinya pula lumatan ganas Minho merajalela di bibir Hyesun.



Wahai sang waktu, bisakah kau beristirahat sejenak. Sebentaaaaar saja, hanya untuk malam ini. Jangan biarkan pagi hadir menggeser malam. Malam ini terlalu indah untuk diakhiri. Malam yang penuh gelak tawa. Malam yang penuh cinta dan kebahagiaan. Malam yang penuh kenangan manis. Malam yang penuh rajutan benang-benang asmara Lee Min Ho dan Goo Hye Sun. What a wonderful night ...