Author Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11  (Read 21353 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile


Jie-Ah berdiri menghadapi kotak pos di depan gerbang Everlasting dengan sekantong belanjaan di tangannya. Hujan sudah hampir berhenti saat itu. Untuk kesekian kali tangannya terjulur ke kotak kecil tersebut, tapi untuk kesekian kali juga tangannya ditarik kembali. Jantungnya berdebar keras, ini untuk pertama kalinya dia membuka kotak tersebut, biasanya tugas ini dilakukan orangtua dan oppanya ketika mereka masih hidup. Biasanya Jie-Ah tidak tertarik pada kotak kecil ini tapi entah mengapa hari ini, kotak ini menarik perhatiannya.

Setelah mengumpulkan seluruh kekuatannya, Jie-Ah mengulurkan tangannya kembali. Dibukanya pintu kotak pos itu, sebuah bungkusan langsung tertangkap penglihatannya. Kening Jie-Ah berkenyit, tangannya bergetar ketika meraih bungkusan itu. ‘bungkusan apa ini?”, tanyanya dalam hati. Keningnya berkenyit lebih dalam lagi ketika mendapati secarik kertas terlipat rapi tertimpa bungkusan tersebut. Jie-Ah mengambil kertas tersebut, membukanya kemudian mulai menelusuri kalimat demi kalimat yang tertulis dengan tinta warna hitam di atas surat itu. Sampai kalimat terakhir, agak terkejut juga dia mendapati siapa yang menandatangani surat tersebut.


Setelah selesai membaca, Jie-Ah melipat kertas surat tersebut dan memasukannya ke dalam tas. Dia memperhatikan sebentar rintik-rintik air yang mulai mengecil dari atas langit, kemudian dia membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam. Beberapa detik dia sudah sampai di ruang depan pondoknya.

Jie-Ah meraih remote AC yang tergelak di atas ranjang, kemudian menekan tombol ON, setelah itu dia berjalan ke dapur dan mengeluarkan semua belanjaannya. Setelah menata semua barang di tempat masing-masing, dia keluar dari dapur. Bungkusan obat yang diperoleh dari dokter Kim Dae-Won yang tadi diletakkannya begitu saja di atas meja rias dekat ranjang masih tergeletak di sana. Jie-Ah mendekati meja itu, meraih bungkusan tersebut dan mengamatinya sejenak dengan pikiran melayang.


Dia menghembuskan nafas perlahan, tangannya bergerak membuka laci kecil di bawah meja rias, kemudian melemparkan bungkusan tersebut ke dalam laci.

**************


Jung-Min memasuki kantor 'Sketch Your Dream' dengan pakaian setengah basah. Baru setengah perjalanan dari ruang kantornya, dia sudah dicegat Seung-Gi. Pemuda itu melirik berkali-kali ke ruangan belakang dengan gelisah.

“Wegude?”, tanya Jung-Min heran.

Seung-Gi mengangkat tangan ke dada Jung-Min, “Tante Shin,, dia mengunjungimu di sini dan .. Hye-Mi juga bersamanya,, sekarang mereka berada di ruang kantormu .. “, jawabnya dengan nafas memburu.

“MWO?!!”, Mata Jung-Min langsung terbelalak lebar, “ … mengapa hyung tidak mengabariku sebelumnya .. ?”, tanyanya gusar.

“Saya sudah berusaha menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif .. “, Seung-Gi membela diri.

“Apa? .. tidak aktif? ,,, mana mungkin?!”, sahut Jung-Min, tidak percaya. Tergesa dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas kemudian mengamatinya, ternyata ponselnya mati. “Ohh miane hyung-a,, baterainya habis .. he .. he .. “. Jung-Min mengacungkan ponsel ke atas dan tertawa perlahan.    

“Dasar!!”, kesal Seung-Gi. Dia mempelototi Jung-Min sejenak, sebelum mendorongnya ke samping, “Sana,, temui ommamu!!”

“Ne …. He .. he …”


“Saya keluar sebentar, .. Kobayashi-san sedang menunggu penjelasan kita tentang konsep Dream, semoga pihaknya tertarik menerbitkan manga ini.. “, lanjut Seung-Gi sambil melewati Jung-Min. “O ya mana payungku?”, dia berhenti melangkah kemudian menoleh ke belakang.

“Payung?!”, tanya Jung-Min linglung.

“Yaa Lee Jung-Min, tadi kamu meminjam payungku kan?”

Jung-Min langsung menepuk jidatnya, “Ahh ya,, saya ingat sekarang .. “, tapi dia langsung ngakak setelah itu, “.. ha .. ha .. miane hyung, payungnya hilang entah kemana .. “

“Yaa LEE JUNG MIN!!”, teriak Seung-Gi kesal. “Sudah berapa kali kamu menghilangkan payungku?!!”

“Miane, saya tidak sengaja .. “, Jung-Min membungkuk dalam-dalam.

“Ahh sudahlah!!”, Seung-Gi mengibaskan tangannya keras-keras. “Kalau berdebat terus denganmu, bisa-bisa saya terlambat meeting dengan tuan Kobayashi .. Saya akan membeli payung di toko bawah, kelihatannya hujan belum berhenti, .. dan ingat, jangan sekali-kali menyentuh payungku lagi .. “, omelnya berkepanjangan. Setelah itu dia meneruskan langkah kearah pintu.

“ARASO,, Hyung!!”, teriak Jung-Min di tempat sambil mengulum senyum.



**************


Ceklekk .. pintu ruang kantor kecil itu dibuka Jung-Min.


Dua orang wanita di dalam sana langsung berpaling padanya.

“Oppa .. “, seru Hye-Mi manja. Dia berlari kearah Jung-Min dan melingkarkan tangannya ke lengan pemuda itu.

“O .. “, reaksi Jung-Min terhadap keagresifan Hye-Mi.

Dengan halus dilepaskannya gayutan wanita muda itu dari tangannya, kemudian dia mendekati wanita satunya lagi, yang berusia sekitar 50 tahun namun masih terlihat cantik.

Jung-Min merangkul wanita tersebut. “Anyongheseyo nyonya Lee Shin yang cantik .. angin apa yang membawamu kemari?”


Nyonya Lee tertawa perlahan, “He .. he .. mulut putraku semakin manis saja .. bagus kalau dipakai mengejar cewek .. “, pujinya sambil membelai wajah Jung-Min, “ .. untuk apa omma kemari? .. tentu saja karena omma merindukanmu .. Kamu pergi begitu saja dari rumah tanpa alasan yang jelas, sekarang kamu bisa memberi penjelasan pada omma kan? “

Jung-Min mengerakkan bahunya sedikit, kelihatan risih mendapat pertanyaan dari ommanya. Bagaimana dia bisa menjelaskan alasan kepergiannya dari rumah ada di ruangan ini, bersama mereka ,, yaitu si Hye-Mi ...

Jung-Min kemudian mengandeng nyonya Lee ke meja kerja dan mendudukkan wanita setengah baya itu ke kursinya.

“Bagaimana? Bisa menjelaskannya pada omma?”

“Itu hmmm … “, Jung-Min menghentikan perkataannya.

Nyonya Lee melirik pemuda itu sebentar kemudian beralih pada Hye-Mi yang sedang cemberut di tempatnya.
“Hye-Mi a, bisa mencarikan makanan ringan buat omma?”, tanyanya lembut.

Hye-Mi tersentak dari lamunannya, dia segera mengangguk keras-keras. “Ne!!”, dalam sekejap dia menghilang dari ruangan itu.

“Jadi sekarang kamu bisa menceritakannya pada omma kan?”, nyonya Lee mengalihkan perhatian pada Jung-Min.

“De??!”, mata bulat Jung-Min perlahan-lahan melebar.

“Gara-gara Hye-Mi kan? Karena kepulangannya yang mendadak membuatmu keluar dari rumah .. “, wanita itu mengungkapkan pendapatnya. “Benar begitu?”

Jung-Min tidak menjawab, dia hanya mampu mengangukkan kepalanya.

“Kamu tahu sejak dulu omma sangat mencintai Hye-Mi? Omma sudah menganggapnya putri sendiri, .. waktu kepergiannya ke Canada, kamu tahu bagaimana sakitnya hati omma?”

“Ne .. “, Jung-Min mengiyakan lagi.

“Omma sering berpikir, betapa bahagianya jika kalian menikah .. dengan begitu, Hye-Mi tidak perlu kembali ke bibinya .. Dia akan tinggal bersama kita, selamanya, seperti dulu … “

“Omma … “, desah Jung-Min putus asa.

“Tapi sepertinya kamu tidak tertarik padanya .. “, lanjut nyonya Lee kecut. “ … bukannya tidak menyukainya, kamu hanya menganggapnya seorang adik, seorang dongseng yang sangat kamu sayangi, seorang dongseng yang tidak mungkin berubah menjadi seorang istri, begitu kan?”

“Miane, omma … saya .. “

“Cukup … “, potong nyonya Lee, “ .. sekarang, jawab dengan jujur pertanyaan omma .. apa ada wanita lain?”

Jung-Min terkejut, dia tidak menyangka ommanya akan seterus-terang ini. Selama beberapa detik tidak ada reaksi darinya, sedangkan nyonya Lee mengamatinya dengan sinar mata tajam, menunggu jawabannya.
“Lee Jung-Min …. “

“Belum,, .. tapi, mungkin tidak lama lagi .. “, jawab Jung-Min. Bayangan Jie-Ah tiba-tiba melintas dalam pikirannya.

Nyonya Lee mengangguk perlahan, dia tersenyum. “ .. kelihatannya putraku mulai jatuh cinta … “, gumamnya pelan. Dia berdiri dari kursi yang didudukinya, kemudian mulai melangkah kearah pintu. Sampai di ambang pintu yang pintunya sudah dibuka olehnya, dia berhenti. Perlahan, wanita itu menoleh pada Jung-Min, yang pandangannya jatuh ke lantai. “Siapa wanita itu?”, tanyanya halus.

“Mwo?!”, Jung-Min mengangkat wajah dan memandangi nyonya Lee.

“Wanita yang berhasil merebut hatimu itu .. “

“O Goo Jie-Ah .. “, jawab Jung-Min lirih.

Sekali lagi nyonya Lee menganggukan kepalanya, “ .. lain kali kenalkan omma padanya … “

“Ne .. “


“Soal Hye-Mi, …”, nyonya Lee berhenti sejenak, “… kamu tidak perlu khawatir .. “, lanjutnya, “ .. omma akan menjelaskan padanya .. Cinta tidak bisa dipaksakan kan?”, dia mengedipkan sebelah mata pada Jung-Min.

“Gumawo omma … “

Wanita itu berhenti selama sedetik sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, “Jika memang merasa risih dengan keberadaan Hye-Mi di rumah, kamu tidak perlu kembali .. Lakukan saja yang menurutmu nyaman, omma akan selalu mendukungmu … “

“Ne .. “, sahut Jung-Min terharu. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca mendengar dukungan dari ommanya ini.

“Heyy anak laki-laki jangan menanggis … “, ujar nyonya Lee sambil menunjuk kearah Jung-Min, “jangan cengeng begitu he .. he .. sudahlah .. omma pergi dulu,, .. sampai ketemu lagi .. “. Nyonya Lee melambaikan tangan dari ambang pintu, dia berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Jung-Min yang tersenyum lebar di tempatnya.

**************


Keesokan harinya, hujan turun lagi. Jung-Min yang sedang berkutat dengan sketsa-sketsa segera menghentikan pekerjaannya. Dia berpaling ke barisan jendela kaca di belakang meja kerjanya, air deras laksana tertumpah langsung dari langit menyapu jendela-jendela kaca tersebut, seperti badai sunami yang menyemburkan ombak-ombak tinggi kemana-mana.


Jung-Min berdiri dari posisinya. Tergesa-gesa dia menata sketsa-sketsa yang berserakan di meja ke tempat semula. Setelah itu dia melintangkan tas yang tergeletak di lantai ke tubuhnya, kemudian berlari kearah pintu.

“Heyyy Lee Jung-Min,, mau kemana?!!”, teriak Seung-Gi begitu Jung-Min berkelebat dari belakang, melewatinya begitu saja.

Jung-Min menghentikan langkah tepat di ambang pintu. Dia menepuk keras jidatnya, kemudian berbalik ke meja Seung-Gi. Tanpa dikomando terlebih dahulu, dia menyambar payung yang tersandar di kaki meja kerja Seung-Gi.

“Pinjam payungnya, hyung!!!”, teriak Jung-Min sambil melesat keluar dari kantor itu.

Seung-Gi yang kebingungan mendengar perkataan Jung-Min, menoleh ke tempat payungnya tadi diletakkan, .. kosong!!

Seung-Gi segera meloncat dari kursinya, “YAA LEE JUNG-MIN,, BAGAIMANA DENGANKU?!!”, teriaknya, tapi Jung-Min sudah menghilang dari situ. “ HUHHHH dasar!!! selalu saja begitu!! Mengapa dia tidak membeli payung sendiri?!”, gerutunya. “Tapi .. itu juga percuma, dia selalu menghilangkan payung yang dibawanya .. “, lanjutnya pelan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

**************
« Last Edit: July 18, 2010, 09:32:42 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun