Chapter 1
Anyonghaseyo. Geum Jan Di-imnida. Bersepeda tiap pagi seperti ini sudah menjadi rutinitasku sehari-hari. Bukannya aku rajin olah raga. Juga bukan karena aku hobi mengendarai sepeda. Apalagi jika kalian beranggapan kegiatanku bersepeda ditujukan untuk mengurangi polusi udara di Seoul, ya ampun itu sama sekali salah.
Pagi buta aku sudah berkeliling dengan sepeda untuk membagikan koran dan susu. Apakah aku seorang dermawan yang kaya raya? Tentu saja bukan. Redaksional kalimat di awal sepertinya kurang tepat. Biar aku revisi. Setiap hari, termasuk hari minggu, aku bertugas mengantarkan (bukan membagikan) koran dan susu ke setiap rumah pelanggan. Itulah profesiku, menjadi pengantar koran dan susu.

Apa hanya itu? Tentu saja tidak. Jika hanya mengandalkan upahku sebagai pengantar koran dan susu, keluargaku bisa-bisa cuma makan seminggu 3 kali (bukan sehari 3 kali) dan adikku, Geum Gang San, akan terancam putus sekolah. Jadi setelah mengantar koran dan susu, aku langsung meluncur ke sebuah toko bubur. Aku bekerja sebagai pelayan di sana.
Jangan dikira hanya aku seorang yang membanting tulang demi keberlangsungan keluarga Geum. Appa ku seorang bisnisman di bidang fashion dan omma ku terlibat dalam usaha sauna. Ha ... Ha ... Ha ... sepertinya aku terlalu berlebihan. Sebenarnya keluarga kami hanya punya toko laundry kecil. Appa yang mengurus laundry tersebut. Sedangkan omma bekerja sebagai penjaga karcis di pemandian umum.
Seluruh anggota keluarga Geum bekerja, kecuali adikku. Masih terlalu dini bagi Gang San untuk ikut memeras keringat. Adik laki-laki ku ini baru duduk di bangku kelas 5 SD. Aku ingin dia bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik dariku. Setelah lulus SMA, sekitar 5 tahun lalu, aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Alasannya mudah ditebak. Tidak ada dana untuk membiayai kuliahku. Oleh karena itu, mulai dari sekarang aku sudah menyisihkan uang untuk kuliah Gang San. Belum terkumpul banyak. Karena uang itu sering terpakai untuk kebutuhan mendadak keluarga kami.
Hei, tak perlu mengasihani diriku. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku sangat bahagia dengan hidupku. Limpahan kasih sayang appa, omma dan Gang San menjadi sumber kekuatanku. Merekalah permata berharga yang ku punya hingga aku mampu bertahan sampai detik ini.
Ciiiit ... aku mengerem sepeda di depan rumah keluarga Kim. Ini rumah terakhir yang harus ku kunjungi. Setelah meletakkan koran dan beberapa kotak susu, aku kembali mengayun sepeda menuju toko bubur. Jarak dari rumah keluarga Kim dengan toko bubur hanya 2 Km. Cukup dengan 15 menit untuk sampai di sana. Tapi kurasa sekarang masih terlalu pagi. Aku tidak mau cepat sampai di toko bubur karena bos ku pasti belum datang dan toko masih dikunci. Berarti tidak ada alasan untukku mengayuh sepeda dengan tergesa.
Sepeda reot ku melaju pelan di jalan yang tidak begitu ramai. Udara segar kumasukan sepuasnya dalam paru-paru demi memenuhi asupan oksigen. Andai tiap waktu suasana kota Seoul seperti pagi ini pasti menyenangkan. Tidak macet, tidak banyak kepulan asap knalpot dan tidak ada kendaraan yang berebut melewati lintasan lampu merah. Aku benar-benar menikmati pagi ini.
Sebentar lagi aku sampai. Toko bubur akan segera terlihat begitu aku melewati tikungan di depan. Aku membelokkan stang sepeda ke kiri. Sebuah mobil sport bercat merah terlihat olehku sedang memutar balik hingga arah mobil itu lain sendiri dengan kendaraan yang melalui jalur yang sedang kulewati.
Aku rasa pengemudi mobil itu membayar uang sogokan untuk mendapatkan SIM. Masa dia tidak paham aturan dasar berlalu-lintas. Gang San saja pasti tahu bahwa semua kendaraan dilarang melawan arus seperti itu. Dasar tidak waras. Kenikmatanku bersepeda jadi hilang.
Aku berusaha tidak peduli dengan keberadaan mobil tersebut. Namun sepertinya, aku harus menghiraukan mobil sinting itu karena semakin lama arah lajunya tertuju kepada sepedaku. Aku terus merapatkan sepedaku ke tepi jalan. Tapi ... Lho ... Lho ... Lho ... ada apa dengan mobil itu. TIDAKKKK.
BRAK ...
Aku membuka mata pelan-pelan. Tubuhku tersungkur dekat pohon besar yang berdiri di bahu jalan. Sepedaku penyok terhimpit di antara batang pohon dan mobil edan itu. Untung saja tubuhku terhempas dari sepeda sehingga tidak ikut terjebak di antara mobil dan batang pohon. Untung kata ku? Ya, aku ini masih tergolong beruntung jika menggunakan sepeda sebagai pembanding. Sepeda ku itu sungguh malang. Orang yang melihat pasti tidak tahu kalau dia adalah sebuah sepeda karena wujudnya telah berubah di sisi kanan-kiri maupun depan-belakang. Sementara aku HANYA berlumuran darah di kening, tangan dan kaki.

Akh, rasa ngilu timbul begitu aku mulai bergerak. Cairan kental berwarna merah keluar dari tubuh ku dan berceceran di jalanan saat aku berusaha bangkit dari keterpurukan. Sepertinya aku tidak sanggup berdiri. Tubuhku melemah akibat luka di sekujur badan. Apa ada orang yang bisa menopang tubuh lemahku?
Sepasang kaki berdiri di depanku. Aku menengadahkan kepala sekedarnya. Hanya stelan jas hitam saja yang baru kutangkap. Orang ini sepertinya sangat tinggi. Sampai-sampai aku harus mendonggakkan kepala semaksimal mungkin supaya bisa melihat wajahnya. Seorang pria berambut keriting dengan tampang dingin tak bersahabat berdiri angkuh di depan tubuhku yang masih tergolek di jalan.

“Ayo bangun” pria itu membantuku berdiri.
Dengan cepat aku menghempaskan tangannya yang memegang bahuku. Keseimbanganku terganggu saat pria tadi tidak lagi menopang tubuhku. Aku rasa hal ini wajar mengingat aku baru saja menjadi korban tabrakan. Yang tidak wajar adalah, pria tadi juga ikut-ikutan sempoyongan sepertiku. Kedua alisku beradu melihat tubuh jangkung pria berambut aneh itu semakin lama semakin oleng. Aku malah sampai turun tangan membantu menegakkan tubuhnya, padahal aku sendiri juga perlu dibantu.
“Kau bisa naik sepeda tidak?” ucapan pria itu terdengar datar tanpa intonasi sama sekali. Bau alcohol segera menyeruak begitu dia melepaskan kalimat keduanya.
‘Hei pria aneh dengan rambut aneh! Harusnya aku yang berkata demikian! Kau mengendarai mobil dengan melawan arus sementara kesadaranmu dikendalikan alcohol. Perbuatanmu itu hampir merenggut nyawaku!’
“Sosonghaseyo” aku ingin sekali membalasnya dengan umpatan yang sudah terangkai rapih di otakku, tapi malah permintaan maaf yang kuucapkan. Parahnya lagi aku membungkukan badan pada pria brengsek itu, tidak hanya sekali. Aku paksakan tubuh lemahku membungkuk berulang-ulang seperti seorang budak memohon ampun pada majikannya.
“Cukup ... Cukup ... Ambil ini” pria keriting itu menyerahkan beberapa lembar uang padaku. Dia sepertinya tidak enak dengan sikap pasrahku. Dia juga tampaknya tidak tahan dengan tampang memelasku.
“Anhiyo” aku menggeleng tanpa henti.
Dia membebeskan lembaran uang tersebut ke dalam tanganku yang mengepal keras.
“Terima saja. Pergi ke dokter dan obati lukamu” nada suaranya masih datar, tidak menarik untuk didengar.
“Yya ...” aku berusaha menahannya untuk mengembalikan uang yang dia berikan. Tapi orang itu sudah keburu tancap gas. Mobil sport merah yang nyaris mencabut nyawaku kembali melaju seenaknya. Klason mobil-mobil lain terdengar saling bersahutan untuk memperingati kelakuan pria setengah sadar itu.
*******
Toko Bubur
“Jan Di-a, waegude?” suara Ga Eul, rekan kerja ku di toko bubur, menyambut kedatanganku. Ia segera menopang tubuhku dan membimbingku duduk.
“Gwenchana” aku berusaha mengusir kecemasan Ga Eul.
Ga Eul adalah sahabatku sejak kecil. Aku dan Ga Eul sudah seperti saudara sekandung. Kami lahir di bulan dan tahun yang sama. Selisih ulang tahun Ga Eul dan aku hanya 5 hari. Kemarin lusa kami baru saja merayakan ulang tahun yang ke 23. Meski hanya berupa pesta ala kadarnya, hari jadi kami selalu dirayakan setiap tahun secara bersamaan.
“Yya, Geum Jan Di. Apa kau tahu ini sudah jam berapa? Kau telat 15 menit. Gajimu bulan ini akan kupotong 15%” kalau yang ini suara Mr. Choi, pemilik toko bubur.
“Bos, tolong jangan terlalu keras. Jan Di baru saja kena musibah” pinta Ga Eul yang sedang membersihkan lukaku.
“Aigoo. Jan Di-a, waegude? Miane, aku tidak lihat kau terluka” kali ini Mr. Choi berubah sedih.
“Ga Eul-a, cepat bawa Jan Di ke dokter” sambung Mr. Choi.
“Gwenchana ... Gwenchana ... Gwenchana ... Aku tidak perlu ke dokter. Kalian berdua jangan cemas seperti itu” hiburku pada Ga Eul dan Mr. Choi.
“Aku tahu kau pasti menolak dibawa ke dokter, makanya aku langsung membersihkan luka mu ini” Ga Eul selalu menebak dengan tepat.
“Jan Di-a, apa kau habis ditabrak?” tebakan Ga Eul yang ini juga tidak meleset.
“Ne” jawabku sambil menahan ringis akibat perih di tubuhku.
“Mwo! Siapa yang berani menabrak karyawan andalanku! Akan kulabrak dia!” Mr. Choi berkata penuh semangat.
“Kau tidak diam sajakan? Kau sudah melawan orang itu sesuai dengan apa yang aku ajarkan padamu kan?” Ga Eul memberondongku dengan pertanyaan.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum kecut.
“Jadi kau tidak membela diri?!” botol obat merah yang dipegang Ga Eul dihentakkan ke atas meja dengan kencang.
Aku cuma menjawab dengan 3 buah anggukan.
“Huh ... aku sudah bosan dengan sikapmu. Sampai kapan kau akan diam saat ditindas orang” Ga Eul adalah orang yang paling benci akan sifat ketidakberdayaanku.
“Aku yang tidak hati-hati naik sepeda” bahkan sekarang aku membela orang itu.
“Sudahlah. Kau duduk saja. Biar aku yang melayani pelanggan hari ini” perintah Ga Eul.
“Anhiyo. Aku masih bisa bekerja” Ga Eul langsung memelototiku saat aku coba berdiri.
“Baiklah. Aku turuti nasehatmu” aku tidak jadi berdiri begitu Ga Eul siap membuka mulutnya untuk memarahiku.
“Bos, biarkan Jan Di istirahat dulu” sekarang Mr Choi yang diperintah Ga Eul.
“Ne” Mr. Choi tidak berani membantah Ga Eul. Sahabatku ini memang terkenal galak. Mr. Choi saja yang sebagai bos kami, tidak berani melawannya.
*******
Rumah Keluarga Goo
Mobil sport merah yang somplak di bagian depan karena hampir saja menelan korban, masuk ke dalam sebuah halaman rumah besar yang sangat megah. Beberapa orang pelayan menyambut kedatangan pengemudi mobil itu dengan sikap hormat. Karena kondisi badannya yang labil, para pelayan harus saling bahu membahu menjaga stabilitas tubuh tuan muda mereka.
Plakk. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria berambut keriting itu.
“Goo Jun Pyo! Haelmoni tidak mendidikmu menjadi pemabuk seperti ini!” wanita paruh baya dengan rambut yang didominasi warna putih tampak murka melihat cucunya pulang dalam keadaan mabuk.
“Jun Pyo-a, waegude?” kali ini terdengar suara seorang wanita yang usianya sudah di ujung 40an.
“Omma, anyong. Haelmoni, anyong” pria yang dipanggil Jun Pyo tetap bersikap sopan pada ibu dan neneknya di tengah kesadaran yang tinggal setengah.
“Kau habis dari mana? Kenapa semalam tidak pulang?” tanya Goo haelmoni.
“Aku menghadiri pesta temanku. Dia baru kembali dari Amerika jadi kami berbincang-bincang sambil minum beberapa gelas sampai lupa waktu” jawab Jun Pyo.
“MWO?! Sejak kapan gaya hidup seperti itu melekat padamu? Anggota keluarga Goo tidak ada yang demikian!” cecar Goo haelmoni.
“Omma, Jun Pyo baru pulang jangan langsung dimarahi. Lagi pula jarang-jarang kelakuan Jun Pyo seperti ini. Ku rasa dia punya alasan tertentu” lerai Mrs. Goo
“Apapun alasannya, perbuatan Jun Pyo tidak bisa kubenarkan” jawab Goo haelmoni.
“Pelayan Jang, bawa Jun Pyo ke kamar” Mrs. Goo mencoba menyudahi ceramah ibu mertuanya.
“Tunggu dulu! Aku belum selasai dengan Jun Pyo” Goo haelmoni menahan perintah Mrs. Goo.
“Omma, Jun Pyo sudah tampak lelah. Izinkan dia istirahat dulu” bujuk Mrs. Goo.
“Pelayan Jang, cepat bawa Jun Pyo ke kamar” Mrs. Goo kembali memerintah pelayan Jang. Karena tidak ada bantahan dari Goo haelmoni, pelayan keluarga Goo ini segera membawa tuan muda tunggalnya ke dalam kamar.
********
Aku tidak betah hanya duduk diam di toko bubur. Saat siang sudah sepenuhnya datang, aku memutuskan untuk mengantar pesanan ke tempat yang tidak begitu jauh dari toko. Tentunya setelah adu mulut dulu dengan Ga Eul.
Dua bocah laki-laki bertubuh tambun yang kira-kira setahun lebih muda dari Gang San, terlihat olehku di tengah perjalanan kembali ke toko bubur. Pakaian mereka sungguh kumel, seperti tidak dicuci berhari-hari. Wajah mereka juga sangat kucel. Kedua anak itu memegangi perut sambil merintih kesakitan. Telingaku langsung iba mendengar rintihan 2 anak malang ini.
“Kalian berdua kenapa?” aku akan merasa sebagai orang paling bejat sedunia jika tidak mengajukan pertanyaan tersebut pada mereka.
“Kami ...” kedua anak itu tidak segera menjawab pertanyaanku. Mereka hanya memandangi wajahku yang dihiasi perban putih dengan noda merah.
“Jangan takut. Cerita saja pada noona” aku mulai membujuk mereka.
“Kami berdua ... belum makan apapun ... sejak 2 hari yang lalu ...” jawab salah satu dari mereka.
“Mwo?” hatiku miris sekali mendengar pengakuan anak ini. Bayangan Gang San yang kelaparan karena tidak makan 2 hari, bermain-main di benakku. Andwe, Gang San tidak boleh mengalaminya. Segera ku usir jauh-jauh bayangan mengerikan itu.
“Orang tua kalian dimana?” tanyaku lagi.
“Di penjara” kali ini mereka menjawab serempak hingga membuat rasa iba ku semakin menjadi.
“Ini untuk kalian” aku merogoh kantong lalu mengeluarkan semua lembaran won yang kudapat dari pria keriting tadi pagi.
“Anhi, omma bilang tidak boleh menerima pemberian dari orang tak dikenal” jawab salah satu dari mereka.
“Kenalkan, namaku Geum Jan Di. Karena kalian sudah mengenalku berarti tidak ada alasan lagi untuk menolak uang dari ku” setelah aku mengucapkan kalimat ini, tangan mereka mulai bergerak mengambil uang yang kusodorkan.
“Gamsahamnida” mereka membungkuk kepadaku lalu berjalan meninggalkanku.
Kedua punggung anak tidak beruntung itu terus kuamati. Kelegaan menyeruak dalam hatiku. Sambil mengulum sedikit senyum, aku pun mulai melangkah ke arah yang berlawanan dengan mereka. Meski ayunan kakiku belum normal tapi langkah ini terasa begitu ringan. Bahagia rasanya bisa menolong sesama.
*******
“Ha ... Ha ... Ha ... noona tadi sangat bodoh” ucap salah satu bocah yang baru saja ditolong Jan Di.
“Ne. Dia noona terbodoh yang pernah aku lihat ... ha ... ha ... ha ...” jawab bocah satunya lagi.
“Badan gendut seperti kita, mana bisa tidak makan 2 hari. Jangankan 2 hari, 2 jam saja aku tak sanggup” sambung bocah pertama.
“Kau benar, hyung. Uang ini lumayan juga buat modal taruhan nanti malam” jawab bocah ke dua.
“Ha ... Ha ... Ha ... “ tawa mereka menggema dengan kuat.
Tanpa disadari oleh Jan Di dan 2 anak nakal ini, sesosok pria berambut keriting berhasil menangkap tindakan pengelabuan tersebut dari dalam mobil yang tertahan lampu merah. Setelah beristirahat dan menghapus pengaruh alcohol dari dirinya, Jun Pyo memutuskan pergi ke Shinhwa. Siang bolong begini Jun Pyo baru berangkat ke kantor? Dia pikir Shinhwa punya nenek moyangnya? Memang iya! Goo Jun Pyo adalah putra pemilik perusahaan raksasa itu. Seluruh asset Shinhwa Group akan jatuh seutuhnya ke tangan pria 27 tahun ini.
Jalan raya di depan toko bubur tempat Jan Di bekerja merupakan satu-satunya rute munuju gedung Shinhwa. Saat menunggu lampu hijau menyala, seluruh interaksi Jan Di dengan 2 bocah nakal itu terlihat jelas oleh mata Jun Pyo. Mobil Jun Pyo harusnya sudah bisa berjalan karena tidak lagi dihadang lampu merah. Tapi tak tahu kenapa pria ini malah mengabaikan kesempatan tersebut dan lebih memilih merapatkan mobilnya ke bahu jalan untuk mengamati adegan penyelamatan Jan Di sampai tuntas. Jun Pyo seakan menyaksikan pertunjukkan pantomime karena ia hanya melihat gerak tubuh tanpa suara. Walau demikian, Jun Pyo mencermati tiap adegan dengan seksama. Jun Pyo bahkan tersulut emosi saat kedok 2 anak gembul itu tersingkap.

“Ternyata masih ada gadis selugu dia” ucap Jun Pyo sambil menginjak pedal gas ketika lampu merah berganti hijau untuk yang ke 4 kali. Kepenatan rutinitas kantor yang sudah terbayang di benak Jun Pyo digantikan oleh semilir kesejukan yang entah berasal dari mana.
*******
Malam Harinya
Aku membantu Ga Eul membereskan toko bubur yang akan segera ditutup. Tangan Ga Eul terus saja menghalangi ku untuk ambil bagian dalam merapikan toko. Di tengah pekerjaannya mengelap meja, ponsel dalam saku celemek Ga Eul berdering.
“Yeoboseyo ... Ne, dia ada bersama ku” Ga Eul menerima telepon sambil terus mengelap meja.
“MWO!? Ka...ka...kau...se...sedang bercanda kan?” kain lap di tangan Ga Eul terjatuh begitu saja. Aku melihat mata Ga Eul terbelalak hebat.
“Ne...akan...segera...ku beri tahu ...” Keningku berkerut menyaksikan omongan Ga Eul yang terbata-bata.
“Waegude?” tanyaku setelah Ga Eul selesai dengan ponselnya.
*******
Jantung ku berdegup tak karuan. Sirkulasi darah ku acak-acakan karena alat pemompanya berdetak terlalu cepat. Napas ku juga menjadi pendek-pendek. Perban putih di wajah ku sudah bercampur peluh yang terus bertambah sejalan dengan meningkatnya adrenalin dalam tubuhku. Berita yang baru saja masuk lewat ponsel Ga Eul membuat ku tidak bisa mengendalikan diri hingga menjadi kacau seperti ini.
Kedua kaki ku berdiri di halte depan toko bubur. Kalau saja tadi pagi sepeda ku tidak bertemu mobil edan itu, aku pasti tidak perlu mampir ke tempat ini. Selama menunggu kedatangan bis, tubuhku tidak bisa berhenti bergerak seperti cacing kepanasan. Rumah. Aku harus segera tiba di rumah. Tapi sialnya bis yang bisa membawaku pulang belum juga lewat. Sabar, pasti sebentar lagi bis itu datang. Ya Tuhan, aku tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Biasanya aku paling jago di bidang kesabaran. Namun malam ini, aku tidak memproduksi rasa sabar dalam kadar besar.
Cukup. Aku tidak sanggup lagi menunggu. Baiklah, aku pilih naik taksi saja. Aisshh, itu tidak mungkin. Uang ku tidak cukup untuk membayar ongkos taksi. Aduh bagaimana ini? Tanpa pikir panjang, ku putuskan untuk memperagakan salah satu adegan di drama Korea yang pernah ku tonton. Kaki ku melangkah menuju jalan raya lalu berdiri tepat di tengah sambil merentangkan kedua tangan. Tidak lama kemudian mata ku terpejam karena tak tahan dengan terpaan kilau lampu mobil yang meluncur cepat ke arah ku. Napas ku tertahan dan ...
Ciiittt ... Suara gesekan ban mobil dengan aspal terdengar mencericit. Kelopak mata ku masih tertutup rapat. Aku berusaha menemukan rasa sakit di tubuh yang kian lemah ini. Tapi aku tidak merasakan apapun. Saat mata ku terbuka, kalimat omelan menggelegar seketika.
“Yya, kau ini sudah bosan hidup! Kalau ingin mati, jangan minta ditemani!” kepala si pengemudi menyembul keluar jendela mobil diiringi luapan kejengkelan. Ocehan yang mengalir deras dari mulut orang ini tidak begitu kuperhatikan. Hanya rambut keritingnya yang terkibas-kibas oleh tiupan angin malam saja, yang berhasil kutangkap.
“Beri aku tumpangan” tanpa mengubris omelan pria yang sepertinya pernah kulihat, aku langsung membuka pintu mobilnya dan duduk di samping bangku kemudi. Kalau saja aku sedang normal, tindakan abnormal ini sungguh mustahil kujalani. Pokoknya aku tidak mau tahu, secepat mungkin aku harus tiba di rumah. Omma, Appa, Gang San bertahanlah ...
« Last Edit: July 31, 2010, 05:00:10 pm by Liko »

Logged