Chapter 9
Setelah bel panjang berbunyi, aku langsung melarikan diriku keluar sekolah. Aku sama sekali tidak melihat Minho sejak tadi. Mungkinkah dia juga terpukul dengan jawabanku ? Tapi mau bagaimana lagi. Hhhh...
Aku menepaki koridor menuju ke gerbang sekolah, kebetulan hari ini aku tidak mengendarai sepedaku. Bannya bocor dan harus dibawa kebengkel. Buset, punya sepeda saja sudah begitu repot.
Tiit... tit tiit.....
Aku sudah bisa menebak itu bunyi klakson mobil siapa. Nissan X-Trail milik Bummie menjajali langkahku. Tapi kali ini aku tidak sedang berniat perang mulut dengannya. Aku ingin sekali melihat wajah salah satu penumpangnya yang sejak tadi membuatku khawatir.
Tepat saat aku menoleh ke arah mereka, kudapati Bummie yang menempati jok depan bersama Minho. Entahlah, kenapa ada perasaan lega setelah melihatnya. Aduh, Hye sun....
”Di mana barang rongsokkan kesayanganmu itu ? Mogok, ya ?”
”Bukan urusanmu, kadal jelek” Sahutku ketus.
Tapi Bummie malah tertawa sejadinya. Aku berusaha menarik perhatian Minho dengan mengadu argumen dengan Bummie.
”Sudah miskin, masih sok jual mahal” Lanjut Bummie dengan ejekkannya.
”Kau tenang saja, karena aku tidak akan pernah menaruh harga untuk pria hidung belang sepertimu yang bisanya hanya memamerkan harta milik orang tua” Balasku tak kalah sengit.
Tapi itu..... Wajah itu tetap saja tidak bergeming untuk menatapku. Bahkan Ia tidak lagi menertawakan ejekkan Bummie padaku. Kenapa ?
”Hey, kau pikir aku juga mau kepada gadis sesederhana kau. Ukuran dada saja di bawah standar, apa yang bisa dijual ?”
Aku tidak lagi menangkis serangan kata-kata Bummie. Percuma, Minho tidak akan menoleh padaku dan tepat dugaanku hingga mobil Bummie menghilang dari pandanganku Minho sama sekali tidak menyapaku.
Kenapa aku jadi begini ? Bukankah ini mauku ? Bukankah sejak dulu aku selalu menginginkan dia agar tidak lagi mendekati aku. Kenapa sekarang malah jadi begini ? Kenapa harus tidak rela jika dia berbuat demikian ? Apa karena hal ini terlalu cepat dan aku belum siap menghadapinya ? Tapi kapan memangnya aku bisa siap ?
Hye sun......
Hye sun.....
Hye sun.....
Aku merutuki diriku sendiri. Ayo sadar !!
”Hye sun”
Deg.
Kali ini suara itu datang bukan dari batinku, melainkan dari mulut seseorang yang berada dalam mobil Fortuner berwarna merah, yang tanpa kusadari sudah terparkir di hadapanku.
Il woo ??
”Butuh tumpangan ?” Ujar Il woo sambil tersenyum seperti biasanya.
Sesaat kemudian, aku sudah menempati mobil mewah itu. Untuk kedua kalinya aku menumpangi kereta cantik ini. Aku melirik Il woo yang sedang mengemudi. Kali ini Ia mengenakan stelan jas berwarna hijau daun dengan lapisan kemeja yang agak gelap warnanya.
Hhhhhh.....
”Kenapa ?” Tanya Il woo sambil menatapku pada kaca spionnya.
”Tidak apa-apa” Jawabku sekenanya.
”Mau makan siang bersama ?” Tawar Il woo kalem.
”Aku sudah kenyang, sebaiknya antarkan aku pulang ke rumah saja”
Hey, aku ini kenapa ? Bukankah kesempatan berduaan dengan Il woo adalah impianku dan sekarang aku malah melewatkannya begitu saja.
”Kau sedang punya masalah ?”
Banyak. Sahutku membatin.
”Bagaimana kalau kita ke game center ?”
Ajakkan Il woo tetap saja tidak bisa menyembuhkan sihir yang membuatku lesu seperti ini. Aku malah diam saja.
”Hey... Kau seperti tidak biasanya, tapi percayalah kalau kau tampak semakin manis jika sedang cemberut seperti itu”
Rayuan maut.
”Kau sangat berbeda dengan Minho. Minho tidak pernah mengeluarkan rayuan seperti itu pada wanita. Tapi kenapa malah dia yang mendapat komentar tajam soal pasangan ?” Ujarku ketus tanpa sadar.
”Tentu saja berbeda. Kami berdua bukan dari keturunan yang sama, jelas saja beda”
What’ss ????
Kali ini aku benar-benar terperanjat, bahkan dengan gaya yang berlebihan. Aku langsung menoleh pada Il woo sambil menatapnya dengan wajah yang tidak percaya. Syok mungkin.
”Apa kau serius ?” Lirihku.
”Setelah menyinggung tentang Prince, kau baru bergairah rupanya” Ujar Il woo dengan diiringi tawa jahilnya.
Wajahku langsung bersemu merah. Sial, aku tertangkap basah.
”Kau menyukainya ?”
”Tidak dan tidak akan pernah”
”Aku tidak percaya”
”Terserah”
”Kelihatan sekali kalau kau berbohong, Hye sun”
”Oh ya ?”
”Lihat saja hidungmu mencuat keluar karena kau berbohong”
Memangnya pinokio ?!
”Tapi, tadi itu aku serius. Aku dan Prince memang bukan saudara kandung ?”
Lalu ??
Meski tidak menatap Il woo lagi, tapi telingaku dipertajam mendengar ceritanya. Lumayan, seru.
”Aku oleh diasuh keluarga Lee saat berusia 5 tahun, waktu itu orang tua Prince baru saja menikah dan Carmenytha Lee menolak untuk mempunyai anak”
”Tapi setelah menurunkan nama besar Lee padaku, mereka berdua malah pergi meninggalkan aku dengan sang Nenek. Mereka lebih tertarik mengurus bisnis keluarga di New York, yang kebetulan waktu itu sedang gencar-gencarnya dilanda masalah perekonomian”
”Dan mereka baru kembali menengokku saat Prince sudah berusia 10 tahun. Akupun sadar kalau aku sebenarnya tidak pernah punya tempat di antara mereka. Aku hanya sedang beruntung karena hadir di saat Franz Lee sangat menginginkan anak dari Carmenytha”
Sambil mengemudi Il woo meneruskan kisah hidupnya, yang bahkan mungkin tidak pernah orang lain tahu.
”Apa Minho tahu kalau kau....”
”Semua keluarga Lee tahu dengan jelas tentang statusku. Makanya aku putuskan untuk cukup tahu diri menggunakan nama besar mereka”
”Lebih cepat lebih baik jika aku keluar dari keluarga itu”
”Kau akan pergi begitu saja ?” Lirihku sinis.
”Ada dan tiadanya diriku tidak akan berpengaruh untuk keluarga Lee. Karena putra mahkota keluarga adalah Prince”
”Apa karena itu alasannya, hingga kau selalu berencana untuk menjatuhkan Minho ?”
Il woo menoleh padaku sambil tersenyum.
”Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu ?”
Wuih.... Entahlah dari mana keberanian yang timbul padaku saat ini, hingga berani berkata selugas itu pada Il woo. Tapi sekali lagi Il woo hanya tersenyum dengan penuturan dingin dariku. Ia kembali berkonsentrasi pada jalan yang berada di depan kami.
”Aku tidak pernah bermaksud buruk pada Prince, tapi keadaan yang selalu kebetulan menyudutkan dia dan itu salahnya sendiri tidak mau bangkit dari keterpurukkannya”
”Bisnis keluarga Lee bisa hancur kalau ditangani oleh orang rapuh seperti itu. Dia saja yang membiarkan dirinya dibodohi oleh situasi”
Aku diam.
”Dia harus banyak belajar kalau hidup itu keras dan hanya orang-orang kuat yang bisa bertahan, apa kau setuju denganku ?”
Setelah menghentikan mobil di depan gang rumahku, Il woo menoleh padaku. Tatapan itu agak lain dari biasanya.
”Hanya dia yang bisa membantu dirinya sendiri, Hye sun”
”Kenapa kau ceritakan kisah ini padaku ?”
”Aku suka kau, Hye sun. Kau orang yang peka dengan orang lain”
Upsss.... Ya ampun aku mencair seketika. Dia bilang suka padaku ?? Oh God, rasanya aku ingin segera melompat tinggi ke angkasa.
”Kau juga lucu”
Il woo mendekatkan wajahnya padaku. Semakin dekat !! Oh, jangan katakan kalau dia mau......
Il woo membelai pipiku lembut, lalu menyelipkan helaian-helaian rambutku yang berantakan. Dia tersenyum begitu manis. Aku terpaku.
Ini adalah saat yang paling kutunggu-tunggu. Berduaan dengan Il woo apalagi jika terjadi insiden yang begitu romantis.
”sun’aa” Bisik Il woo lembut.
Aku merasakan desiran darahku memanas. Aku terbakar suasana. Aku menatap bibir manis milik Il woo, begitu sempurna bentuknya juga pasti lembut jika terjamah.
Perlahan aku merasakan bibir itu mendaratkan aksinya di atas bibirku yang kini terkulai kaku. Dalam dan hangat irama yang mengalir saat ini. Ini seperti mimpi. Mimpi yang membuatku harus cepat terjaga.
Sungguhkan aku menyukainya ? Ciuman inikah yang kuharapkan ??
”Maaf, aku tidak bisa”
Kalimat yang spontan keluar dari mulutku itu, jelas saja membuat suasana yang tadinya melankolis malah hancur berantakkan. Kau bodoh, Hye sun !!
Aku menjadi salah tingkah. Dengan lembut Il woo menghapus bekas ciumannya pada bibirku dengan menggunakan sapu tangannya. Ya ampun.... Rasanya aku seperti es yang meleleh begitu saja.
”Harusnya aku yang minta maaf, karena telah berbuat lancang padamu”
Aku tertunduk malu. Yap, tentu saja aku malu pada diriku sendiri, kenapa membiarkan orang lain menciumku seenaknya. Orang yang jelas-jelas hanya kukagumi, yang tidak pernah ingin aku memilikinya.
Sialan. Kenapa rasa ini harus muncul ??
Kenapa aku harus merasa bersalah padanya ? Merasa diriku kotor nantinya. Kenapa tidak biarkan saja dia menciumku tadi, kenapa harus beralasan segala. Padahal aku menikmatinya.
Kilasan kejadian di samping laboratorium saat ini seperti menari-nari di alam pikiranku.
Prince idiot, kau benar-benar membuat hidupku kacau !! Teriak batinku.
Tanpa sadar air mataku pun menetas di kedua pipiku. Batinku benar-benar sesak. Bukan ini yang kuharapkan. Hai sang Penyayang, kenapa begitu memilukan kisah yang kau ukir untukku.
”hye sun”
Air mataku semakin deras mengalir. Hatiku benar-benar sakit dan tidak tahu harus berbuat apa.
”Aku sangat menyukainya”
”Aku menyukai dia”
Tangisku akhirnya pecah juga, air mataku meluap. Aku menutup wajah senduku dengan kedua tanganku. Melihat keadaanku yang menyedihkan Il woo pun langsung mendekapku. Kubenamkan kepalaku di dada bidangnya. Lalu menangis sejadinya. Aku tidak perduli lagi apa yang akan dipikirkan Il woo kelak. Sebodo amat. Aku sangat kritis.
# # #
Wajahku kali ini begitu kusut, hingga kesannya semakin jelek saja. Sebodo amat. Bahkan selera makan siangku menurun drastis, bukan hanya menurun tapi sejenak hilang. Keruh yang kurasa. Perasaanku menjadi sangat tawar. Hhhh....
Aku melemparkan tas sekolahku begitu saja, hingga tas berukuran 4x6 itu mendarat bebas ke atas lantai. Biarkan saja. Selanjutnya, pendaratan kedua adalah sepasang sepatu sekolahku yang landasannya juga tidak jauh berbeda dengan pesawat tempur sebelumnya. Gubrakh... Suaranya agak lebih keras karena mungkin pendaratan kali ini mengalami hambatan. Yeah, keranjang pakaian kotorku menjadi korban tabrak larinya.
Untung saja isinya baru saja diangkut tadi pagi. Hhhhh..... Kali ini pendaratan terakhir adalah tubuhku, yang menjatuhkan target landasannya di atas kasurku. Dengan malas aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang. Kondisiku benar-benar sekarat.
”Apa kau baik-baik saja ?” Ujar Eun hye yang menatapku dengan heran.
Oh, damn. Bahkan aku tidak bisa menyadari kalau Eun hye ternyata sedang berbaring di sana. Aku membenamkan kepalaku di balik bantal tidurku.
”Hye sun”
Eun hye mencolek bahuku agar aku bisa menoleh padanya, mungkin untuk memastikan kalau aku baik-baik saja. Tapi suasana hatiku sedang buruk, hingga maksud baiknya tidak dapat kutangkap.
”Jangan menggangguku. Kepalaku sedang sakit” Sahutku ketus.
”Siapa yang mengganggu. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja”
Terima kasih, tapi aku sedang tidak butuh perhatian. Rutuk hatiku.
”Aku bersedia mendengarkan ceritamu” Ujar Eun hye dengan nada bicara yang dibuatnya sekalem mungkin.
Tentu saja, agar setelah itu kau bisa memuat beritanya di koran besok. Kali ini bukan hanya Ibu saja yang akan tahu, tapi seantro kota ini. Maka dengan mulusnya aku bisa keluar sebagai pemenang nominasi pencetak kabar terheboh dan terkonyol sepanjang sejarah abad 21.
”Hye sun” Panggil Eun hye sekali lagi.
Dengan kesal aku pun menyembulkan kepalaku dari balik bantal yang menindihnya tadi. Aku menatap Eun hye dongkol setengah mati.
”Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun, Eun hye” Ketusku.
”Aku hanya ingin bilang, sebaiknya seragammu dicopot dulu untuk dipakai besok”
”Mulai besok aku mogok sekolah !”
Mata Eun hye spontan terbelalak jadinya. APA ??
”Aku sudah bosan menatap bangunan SMU GC ! Aku muak dengan siswa-siswanya ! Aku benci dengan semua yang ada di sana. Semuanya ! Semua yang membuatku sangat tidak betah dan ingin segera mati saja !!”
Eun hye syok. Mulutnya tertutup rapat tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun seperti biasanya. Sejurus kemudian wajahnya juga terlihat sendu. Aku mengerti apa yang membuatnya demikian.
Percuma aku korbankan beasiswaku untukmu. Percuma aku sampai banting tulang membantu mongongkosi biaya sekolahmu, hingga kesempatanku untuk kuliah harus aku korbankan juga. Lalu kenapa sekarang mendadak bilang tidak ingin sekolah lagi. Kenapa tidak dari awal saja ? Kalau sudah begini yang rugi juga siapa ??
Lebih kurang seperti itulah kalimat yang tertahan dalam dada Eun hye, tapi tentu saja tidak sampai hati dikeluarkannya. Karena Ia pasti tahu saat ini aku sedanag banyak masalah, maka lebih baik diam dan tidak menambah beban pikiranku lagi. Lalu sebenarnya yang egois itu siapa ?
Aduh.... !!! Kenapa kepalaku makin tambah sakit saja. Tatapan Eun hye selalu saja membuatku melihatnya mendadak menjelma menjadi sosok makhluk bersayap, meski sebagian besarnya itu semua hanya terjadi dalam pikiranku saja. Uhggff....
”Aku sedang M, makanya sukar untuk mengontrol emosiku” Sahutku kemudian. Lumayan, raut muka Eun hye pun ikut berubah tidak lagi sesendu tadi.
”Baguslah, aku pikir kau tadi bicara serius”
Meski getir aku mencoba tersenyum untuk Eun hye. Aku sadar mengorbankan pendidikan hanya karena masalah pribadi, sangatlah picik.
”Kau mau mendengarkan kisahku, hari ini ?”
Oh, damn !! Seperti yang kuduga, Eun hye kumat lagi. Harusnya tadi aku tetap dalam diam saja. Rutukku.
”Ini kisah yang agak beda dari yang biasanya, Hye sun”
Alur ceritanya saja yang sering diimprov, tapi klimaksnya tetap saja tidak lepas dari sosok Rain.
Aku menahan gondokku sendiri.
”Baiklah, aku dengar” Putusku.
Aku menatapnya dengan mata semuku. Sementara pikiranku berusaha aku alihkan kemana saja, inilah trikku untuk berpura-pura menghargai Eun hye.
”Aku putuskan untuk melupakan Rain”
Wow ! Sepertinya cerita kali ini benar-benar seru. Mata semuku segera berganti jurus. Aku langsung teranjak dari pembaringanku.
”Kenapa ?” Tanyaku dengan rasa penasaran yang tinggi.
Mudah-mudahan saja kali ini Eun hye berkata dalam keadaan sadar dan tanpa tertekan dari pihak manapun juga, hehehe... Karena itu berarti kabar baik untukku. Aku tidak perlu lagi menemani kebiasaan anehnya, yaitu membaca puisi pada dini hari di hadapan makam Rain.
Ehh.... Ya ampun, aku baru sadar kalau Eun hye sudah sekian lamanya tidak mengajakku untuk berziarah ke makam Rain. Sejak insiden pertemuan dengan si hantu Balsteran itu, dia tidak lagi mengajakku ke sana.
Apa dia benar-benar ketakutan dengan cerita hororku tempo hari ? Mustahil, atau mungkin saja dia pergi tanpa mengajakku lagi. Mungkin juga dia sadar kalau aku tidak pernah ikhlas pergi bersamanya. Hehehe....
”Kurasa kali ini aku sudah yakin dengan keputusanku, Hye sun. Tapi aku ketakutan juga”
Aku mengernyitkan dahiku, mencoba memahami arah pembicaraannya.
”Kira-kira Rain marah tidak ya, jika aku kini berusaha untuk melupakannya ?”
”Tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengkhianatinya sedikit pun. Kau percaya padaku kan, Hye sun ?”
Aku menganggukkan kepalaku, berusaha bersabar untuk menunggu isi cerita Eun hye yang lebih masuk akal.
”Aku menemukan titisan Rain, Hye sun”
Glekh...
Sambil menelan ludahku yang terasa getir, secepat kilat aku menjatuhkan tubuhku kembali ke atas kasur.
Parah !!
Eun hye benar-benar parah. Tentu saja Ia mungkin tidak akan pernah sembuh dari traumanya. Tapi ini sudah kelewatan. Eun hye yang malang. Kepintarannya yang selalu jadi kebanggaan semua orang sepertinya tidak bisa memberikan jalan keluar untuk pelet kebodohan yang satu ini.
”Hye sun ! Dengarkan aku dulu”
”Aku capek mendengar isi ceritamu yang tidak pernah masuk akal”
”Ini serius”
”Serius saja modelnya bisa seperti itu, bagaimana kalau gilanya ?”
”Hye sun”
”Tidak Eun hye. Sana, kau pergi saja kepada Ibu. Dia pasti mau mendengarkan isi ceritamu”
”Ibu pasti akan syok jika mendengarkannya, Hye sun”
”Aku malah lebih parah. Aku sudah gila. Makanya jangan paksa aku untuk mendengarkan ceritamu lagi”
”Kau tega”
Oh tidak, jangan sekarang ! Lagi-lagi rengekkannya itu yang selalu membuatku bertekuk lutut dan mau menjadi badutnya.
”Eun hye, please !! Sadarlah, kalau Rain itu telah lama mati dan orang yang sudah mati tidak bisa lagi berhubungan dengan orang yang masih hidup. Ayolah, jangan biarkan dirimu menjadi bodoh seperti ini, Eun hye. Anak kecil saja tahu, orang mati tidak mungkin hidup lagi. Kau paham ?” Sahutku dengan serius.
”Aku juga tidak bilang kalau Rain hidup lagi, aku hanya bilang kalau aku sudah menemukan titisannya”
Sama saja, tolol !!
”Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu. Saat ini aku sedang banyak masalah. Jadi jangan membuatku tambah pusing”
”Baiklah, aku tidak akan bercerita apa-apa lagi. Tapi boleh aku minta pendapatmu ?”
Pendapat apa ?
”Apa aku tidak bersalah jika aku ingin melupakan Rain ?”
”Tentu saja kau tidak salah. Malah kau berbuat hal yang paling benar, itu artinya kau sudah bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Lagipula kau tidak perlu ikutan mati bersama dia kan ?” Jawabku cepat.
Eun hye mengaggukan kepalanya. Entahlah dia paham atau tidak.
”Ehmmm, apa aku pantas jika menerima cinta seorang pangeran tampan dan baik hati ?”
”Tentu saja, terima saja cintanya. Agar kau bisa menjadi seorang putri yang setiap harinya bisa menaiki kereta impianmu, oke ?”
Aku langsung membenamkan kembali lagi kepalaku di balik bantal. Parah. Eun hye, benar-benar parah.
”Nanti saja kita bicara lagi” Ujarku masa bodoh.
# # #