Author Topic: Pangeran MimPi chapter terakhir "TODAY"  (Read 14744 times)

Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Part 10

Day after day.....
Seminggu berlalu.....

Kini aku ketambahan lagi satu orang yang mendiamkan aku begitu saja. Semuanya berawal dari insiden di samping laboratorium. Minho tidak lagi bersikap sehangat biasanya. Tidak lagi menyapaku dengan kekonyolannya, tidak lagi mengambil gambar wajahku secara diam-diam seperti yang biasa dilakukannya. Bahkan itu.... Wajahnya yang selalu tertawa sumringah mengejekku tidak pernah kulihat lagi.
Perang dingin itu perlahan tapi pasti sudah berkobar. Kenapa, harus demikian ? Kekanak-kanakkan sekali !! Dasar pria brengsek. Tidak tahu perasaan wanita !!
Hhhh....

Tapi kenapa perasaanku malah menjadi semakin buruk saja, aku semakin tidak bisa mengendalikan gejolak hatiku. Rasanya ada segudang rasa ketidaknyamanan di sana jika harus menerima kenyataan sekarang. Kenyataan yang semula selalu kuharapkan. Dijauhi Minho, menghilang dari pandangannya, bahkan kalau perlu terhapus dari memori otaknya saja. Hal itu kini malah membuatku menjadi seorang pengecut. Pengecut yang bisanya diam dan bersembunyi.
Hhhh....
Ingin sekali aku berontak. Aku seperti tidak lagi mengenal diriku sendiri. Gilakah aku ?? Pelet apa ini ? Oh God....

Aku hanya bisa menatap sayu bayangan Minho yang baru saja menghilang dari hadapanku, saat bel istirahat berbunyi. Biasanya, aku hanya perlu menangkis rasa ketidaknyamananku terhadap sikap dingin dari Dara saat mengikuti diskusi kelompok kimia, tapi sekarang aku juga ketambahan satu orang lagi. Prince lee minho.

Ia bersikap begitu cuek dengan keadaanku. Bahkan saat aku dijahili Shin hye dan dicaci oleh Bummie sama sekali tidak membuat dia tertarik untuk menggodaku dengan kata-kata konyol yang sebenarnya sering membuatku tersipu malu.
Hhhhh.....
Aku menelungkupkan wajahku dengan kedua tanganku. Aku menutup mataku dengan penuh rasa haru. Apa yang sebenarnya terjadi padaku ? Inikah yang dinamakan jatuh cinta ? Tapi kenapa sakit sekali seperti ini ?
Praakhh !!

Aku terperanjat setengah mati dengan bunyi tepukkan tangan Shin hye di atas mejaku. Jantungku nyaris saja berhenti bekerja dan memilih keluar dari tempat kediamannya.
”Sialan kau, Hye sun !!” Maki Shin hye dengan suara melengking tinggi.

Otomatis seluruh perhatian kelas saat ini tertuju padaku. Untungnya sebagian besar penghuninya sedang menyerbu cafe sekolah, sehingga hanya ada beberapa pasang mata saja yang menyaksikan pertengkaran yang baru saja akan dimulai itu.

”Apa yang kau katakan pada Yi jin tentang diriku ?”
Masih dengan nada yang tinggi Shin hye berkacak pinggang di depanku.
”Kau ini bicara apa ?” Lirihku dengan berusaha tenang.
”Dasar wanita munafik, beraninya main di belakangku. Kenapa, kau takut bersaing denganku secara sportif, hah ??”

Aku mencoba mengumpulkan segenap kesadaranku yang baru saja berantakkan tadi. Aku menatap Shin hye dengan saksama, mencari kebenaran dari tuduhannya padaku.

”Kau tahu, gara-gara mulut embermu itu Yi jin mendiskualifikasikan aku dari audisi model. Kau kan yang mempengaruhi Yi jin dengan membongkar segala kelakuan busukku ?” Cecar Shin hye tanpa ampun.

”Terus terang aku masih tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan saat ini dan asal kau tahu saja sudah hampir seminggu aku tidak pernah bertegur sapa dengan Yi jin, apalagi berbicara panjang lebar”

”Lagipula kalau pun aku berniat untuk menjatuhkanmu, aku tidak membutuhkan orang lain untuk melakukan hal itu. Aku juga bisa melakukannya sendiri. Kurasa kau tahu itu dengan jelas. Bukankah Sudah hampir 3 tahun kita bermusuhan, apa pernah aku mengadukanmu pada orang lain ?” Jelasku sambil menunjuk wajahnya juga.
Sejenak Shin hye terdiam, mungkin mencerna ucapanku.
”Kau saja yang terlalu ceroboh untuk menjaga kebusukkanmu sendiri atau mungkin wanita busuk sepertimu memang tidak pantas terpilih untuk membawa nama bangsa ke dunia internasional” Tandasku sambil beranjak dari tempat dudukku.

Yeah, suasana hatiku sedang buruk Shin hye. Maka sebaiknya jangan mencari gara-gara denganku kalau kau masih sayang pada wajah cantikmu itu.

”Lalu kalau bukan kau, siapa lagi yang berani menjelek-jelekkan diriku padanya ? Sampai bicara soal standar nilaiku yang selalu kuperoleh dari hasil contekkan orang dan gayaku yang tidak segan-segan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku mau termasuk menyogok kalau perlu”

”Entahlah, aku tidak tahu. Kau cari tahu saja sendiri” Sahutku sekenanya. Lalu dengan cuek aku melenggang pergi dari hadapannya.
”Tunggu, gadis miskin !!” Hardik Shin hye sekali lagi.
”Bagaimana aku bisa mempercayaimu. Bukankah kita memang tidak saling senang, tidak menutup kemungkinan kalau kau....”

”Terserah kau saja, nenek sihir” Selaku cepat dari ucapannya.
Malas berdebat denganmu, Shin hye. Menguras energiku saja.
” Goo hye sun !!”
”Aku akan meminta wewenang dari Ayahku untuk mendepakmu keluar dari sekolah ini karena pencemaran nama baikku. Bukankah sekarang pahlawanmu sudah tidak lagi berada di sisimu” Ujar Shin hye sinis.
Langkahku terhenti, kemudian aku menoleh padanya. Shin hye tertawa sinis dengan penuh kemenangan. Benar saja apa yang dikatakannya. Sekarang posisiku rawan, tidak ada lagi Minho yang selalu melindungiku.
”Sebenarnya apa maumu ?” Tukasku kesal.
”Aku mau kau membujuk Yi jin untuk menerimaku kembali. Dia harus mencabut diskualifikasi terhadap diriku”
”Kau gila !” Pekikku.
”Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu”
”Tentu saja kau bisa. Bukankah dia begitu dekat dengamu” Sahut Shin hye enteng dengan diiringi senyuman menjengkelkan.
”Bagaimana kalau aku tidak berhasil ?”
”Berarti kita seri. Aku didiskualifikasi dari audisi dan kau di DO dari sekolah. Bagaimana ?”
Licik !!! Wanita keparat !! sialan !!
”Coba saja kalau kau berani, Shin hye”
Suara yang tiba-tiba saja menyela suasana panas itu adalah milik Dara.
Impossible !!!
Aku tertegun melihat Dara yang berdiri di ujung pintu kelas. Tidak hanya aku tapi semua yang menyaksikan adegan seru siang itu.
”Aku juga bisa mendepakmu keluar dari sekolah ini jika kau nekat mendepak Hye sun. Aku akan membuat pernyataan tertulis tentang hasil nilai-nilai indah milikmu yang sebenarnya kau peras dariku”
Aku dan Shin hye sama-sama syok di tempat kami berdiri. Shin hye syok karena Dara yang terkenal pendiam kini malah berani menentangnya hanya karena orang yang sudah jelas dimusuhinya. Sementara aku malah lebih syok atas pembelaan Dara, padahal tadinya aku sudah berpikir kalau persahabatan kami benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi. Apa dugaanku meleset ?
”Kau pikir hanya kau saja yang bisa berbuat seenaknya. Kau mendepakku begitu saja saat kau merasa aku tidak bisa lagi mendongkrak popularitasmu di hadapan Minho dan mimlih Yi jin yang notabenenya orang yang bisa membuatmu dekat dengan dunia ketenaran”
”Aku juga bisa berbuat hal kotor seperti itu, bahkan lebih sadis darimu. Aku yang membocorkan semua kelakuan busukmu pada Yi jin hingga kau didiskualifikasikan !”
Aku rasanya tidak mempercayai pendengaranku. Sejak kapan Dara bisa selancar itu mencecar orang ? Apalagi terhadap Shin hye si ratu ember.
”Keparat kau” Maki Shin hye.
”Menghadapi orang sepertimu memang harus menggunakan cara yang keparat juga” Sahut Dara enteng.
”Kalau kau berbuat macam-macam, maka bersiap-siaplah untuk menanggalkan seragam SMU GC. Aku pikir kau juga cukup sadar, kalau pernyataanku kelak pasti akan sangat berpengaruh pada dewan sekolah. Tidak ada yang bisa menyangkal kalau prestasimu yang terlalu mendadak adalah hasil dari pemerasanmu terhadap siswa pintar seperti diriku”
Nada bicara Dara mendadak berubah 180 derajat. Sungguhkah dia Dara ?? Tapi perduli setan. Toh, dia sekarang membantuku meskipun aku tahu itu hanya untuk membalas sakit hatinya atas pengkhianatan Shin hye yang lebih memilih untuk membantu Yi jin mendapatkan pria impiannya. Tapi lumayan, aku cukup puas bisa melihat Shin hye mati kutu. Biar kapok sekalian.
”Kau lihat saja gadis tolol. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu nanti !” Ujar Shin hye geram, lalu dengan hentakkan kakinya Shin hye pun melangkah keluar kelas.
Tidak lupa pula Ia menatapku dingin, bahkan tatapan itu rasanya nyaris mencongkel mataku. Namun dengan senyuman penuh ledekkan aku membalas tatapan itu. Rasakan !!

Padahal baru saja seminggu aku kehilangan dia, tapi rasanya sudah seperti berabad lamanya. Aku benar-benar merindukan sepedaku ini.... Seminggu yang lalu Ia cedera akibat kecerobohanku yang membuatnya mengalami kejadian nahas. Sungguh di luar kuasaku, aku menabrak pagar kebun Ibu. Walhasil, pagarnya remuk dan aku terdampar ke arah kanan, tapi untungnya aku tidak mengalami luka parah karena ini hanya insiden kecelakaan sepeda, hehehe..... Sementara sepedaku harus diopname di bengkel Pak Budiman selama hampir seminggu.

Aku mengayuh sepedaku melewati beberapa blok. Aku memilih jalan memutar yang jaraknya jauh lebih panjang ketimbang jalan yang sering kulalui. Entahlah mungkin ini pengaruh tekanan rinduku akan kehilangan sesuatu yang paling berarti buatku. Belakangan ini, aku sering melamunkan hal-hal yang aku sendiri tidak mengerti. Sepertinya otakku juga perlu diservis. Tapi untunglah, dengan berakhirnya perang dingin antara aku dan Dara tadi siang sudah cukup mengobati sebagian luka hatiku.

Tanpa sadar aku sudah menempuh jarak yang cukup jauh, tapi kenapa belum sampai-sampai juga ?? Entahlah, bisikkan dari selat mana yang menyihir otakku untuk mengeluarkan titahnya. Tubuhku digerakkan begitu saja untuk mengayuh sepedaku menuju ke arah jalan Perumahan Queenizz seoul.
Damn !! Apa aku benar-benar sudah gila ?? Untuk apa aku ke sini ? Aku hanya mempermalukan diriku saja.

Tapi bantahan itu tidak mampan lagi. Sekali ini saja. Sekilas saja. Aku sangat dan teramat ingin melihat wajah jahil itu. Mendengar Godaan konyol darinya. Aku ingin merasakan perasaan dongkol lalu tersipu malu..... Oh God !
”Hey, anak ceroboh”
Sapaan dengan nada yang cukup peka itu membuyarkan lamunanku sesaat. Aku tidak menyadari kalau di depanku kini ada Nyonya besar Lee yang sedang berdiri sambil mengenakan seragam jogging-nya. Rupanya dia sedang berolah raga sore.
Ehmmm....

Aku mendengung sambil menggaruk kepalaku meski tidak terasa gatal.
”Apa yang kau lakukan di sini ?”
Pertanyaan yang paling aku takuti.
”Ehmmm..... Aku... Itu.... ehmm... uh.... ohh.....”
Kacau. Kenapa jadi melantur begini !!
”Mau bertemu, Prince ?”

Akhirnya dia bisa menebak juga. Aku tertunduk sambil mengusap-usap kemudi sepedaku. Meski aku tahu itu tidak ada hubungannya.
”Masuklah ke dalam, jangan hanya berdiri di sini atau kau perlu diantar oleh pelayan ke dalam ?”
”Oh tidak perlu, Nek !” Jawabku cepat.

Nenek Lee tersenyum tipis padaku. Tentu saja senyum ledekkan karena mungkin sekarang dia tahu kalau aku tengah grogi.
”Aku berubah pikiran. Lain kali saja aku akan datang ke sini”
Nenek Lee mengernyitkan dahinya. Kenapa ?
”Aku baru ingat kalau aku harus buru-buru pulang, ada yang harus segera aku selesaikan di rumah” Karangku tentunya.

”Wah, rugi sekali. Sudah hampir 30 menit berdiri di sini, sekarang malah memutuskan untuk pulang”
Heh, sejak kapan Ia memperhatikan aku di sini ? Jangan-jangan sudah sejak tadi Ia memergokiku. Damn !!
”Belakangan ini, Prince juga jarang  di rumah. Ia lebih suka keluyuran dengan tidak jelas. Mungkin dia sedang ada masalah dan butuh teman bicara”
Aku diam.

”Nenek tidak pernah sepaham dengannya, entahlah gaya berpikirnya seperti apa. Mungkin karena hal itulah, dia memilih untuk tidak membicarakannya dengan Nenek”

”Bagaimana, kau maukan menemuinya ?”
”Ehmmm..... Aku.... Aku....”
”Hah, sudahlah. Tidak mau juga tidak mengapa” Sela Nenek Lee.
Aku menatap punggung Nenek Lee yang mulai menjauhiku. Dia berlari-lari kecil ke arah yang berlawanan denganku.

Aku ini kenapa ?? Kenapa jadi pengecut seperti ini ? Kenapa harus berbohong segala ??
”Nenek !!”
Seruanku masih bisa terjangkau oleh telinga wanita 70 tahun itu. Ia pun menoleh ke arahku dengan raut muka yang tidak ingin berbasa-basi.

”Apa Minho ada di kamarnya ?”
Nenek Lee tersenyum lebar sambil mengerling padaku.

Sesaat kemudian, aku sudah digiring oleh seorang gadis berdasi kupu-kupu. Rambutnya dikuncir satu. Penampilannya juga rapih. Sialan, pelayan rumah ini gayanya malah jauh lebih keren dariku.

Aku menjelajati kondisi tubuhku saat ini, dimana aku hanya mengenakan kaos oblong berlengan pendek yang aku padukan dengan jeans belelku yang panjangnya hanya sampai selutut. Sementara alas kakiku hanya sepasang sendal jepit biasa, belum lagi tatanan rambut dan riasan wajahku yang super irit modelnya. Hhhh.....

Baru saja kakiku menginjak pada anak tangga ke tiga, mendadak bayangan Il woo muncul dari balik tikungan.
Deg.

Kami sama-sama terkejut.
”Hye sun”
Akupun membalas keterjutannya dengan senyuman kikuk. Sore itu Il woo berpenampilan yang agak berbeda. Tidak mengenakan stelan jas formal seperti biasanya, melainkan pakaian trendy yang terkesan santai.

”Ehmm..... Aku...”
Kalimatku terhenti di ujung lidah saat pandanganku jatuh pada buket mawar merah yang ada di tangan kanan Il woo. Untuk siapa ??
Penampilan seperti ini, pasti sedang janjian dengan orang yang spesial. Kencankah ? Tapi dengan siapa ? Secepat itukah dia melupakan aku ? Aduh, Hye sun kenapa kacau begini ? Memangnya kapan Il woo bilang dia mencintaimu. Suka belum tentu cinta.
”Nona ini ingin bertemu dengan tuan muda kedua”
Akhirnya si pelayan cantik itu yang meneruskan kalimatku.

”Oh begitu, ya” Sahut Il woo sekenanya.
Sejurus kemudian tanpa ba bi bu lagi, Il woo langsung pamit padaku dan meleset pergi. Mungkin Ia tidak ingin terlambat dengan janjinya, yang entah dengan siapa. Hhhhh.....

Pintu kamar Minho terbuka. Dengan sopan pelayan itu mempersilahkan aku untuk masuk. Ehk, memangnya bisa aku masuk ke dalam ruang pribadi anak laki-laki. Sebodo amat !

Aku pun masuk ke dalam lalu menutup pintunya kembali hingga bayangan pelayan itu hilang. Selamat, akhirnya aku bisa sedikit leluasa tanpa harus merasa tertekan atas perbandingan penampilan kami.

Aku menerawangkan pandanganku pada kamar artistik milik Minho. Ruangannya lumayan besar. Bahkan mungkin 3 kali lipat dari pada ruang utama rumahku. Cat temboknya berwarna putih gading yang lembut dipadukan dengan gorden berwarna violet. Tata ruangnya juga bagus, ada sepasang sofa dan seperangkat home theater di sana. Juga itu.... Pajangan bunga tulip yang diawetkan. Ruangan ini kelihatan begitu nyaman dan menarik. Hhmmm.... Lumayan juga seleranya.

Aku berjalan perlahan menghampiri singgasana tempat tubuh Minho terbaring. Ia terlelap dalam balutan selimut tebal dengan pola bunga blossom berwarna violet yang lembut.

Aku duduk tepat di sampingnya. Tadinya aku ingin mengguncang tubuhnya untuk membuat dia terjaga. Tapi mendadak niat itu aku urungkan. Rasanya aku tidak tega. Wajahnya yang terlelap seperti bayi. Begitu polos dan manis. Hidungnya yang menjulang tinggi sepadan dengan bentuk bibirnya yang tebal tapi SEXI. Matanya yang agak menyipit sebenarnya membuat dia terlihat berwajah oriental, tapi karena kornea matanya berwarna coklat kesan itu pun tersamarkan.

Aku tertegun menikmati anugerah Sang Pencipta yang ada di hadapanku saat ini. Dia begitu indah.... Dia seperti malaikat putih yang selalu menolongku. Ingin sekali kurengkuh tubuh itu dengan kuat. Aku sangat merindukannya.
Tes... tes... tes tes

Air mataku mulai menetes. Belakangan ini aku kok jadi cengeng, ya ?
Aku tidak bisa mengendalikannya lagi. Perasaanku saat ini sedang kacau. Di hadapan Minho aku bilang menyukai Il woo, sebaliknya di hadapan Il woo aku malah histeris bilang kalau aku sangat menyukai adiknya. Sebenarnya aku ini kenapa ? Kenapa aku selalu ketakutan seperti ini ? Kenapa aku tidak bisa berkata sesuai dengan isi hatiku ? Apakah mencintai seseorang itu harus dengan rasa sakit seperti ini.
”Kau kenapa, Hye sun ?”

Aku terkejut dengan sapaan itu. Minho ternyata sudah terjaga dari tidurnya, bahkan Ia mengusap pipiku yang basah dengan genangan air mata. Dia menatapku dengan dalam. Oh, aku benar-benar tidak kuasa dengan tatapan itu. Aku semakin tidak bisa memendam rasa rindu ini.
”Kepalaku sakit, aku tidak bisa mengerjakan PR matematika”
Aku semakin terisak.
”Apa aku bisa mencontek darimu ?”

Minho bangun dari pembaringannya. Meski rambutnya agak berantakkan tapi dasar tampan sejak dalam kandungan, tetap saja tampan meski dalam kondisi apapun.

”Kita bolos saja, besok” Bujuk Minho sambil terseyum jahil.
Oh God. Aku mencair seketika. Aku langsung menghamburkan tubuhku ke dalam pelukan Minho. Aku tidak perduli lagi apa yang akan dipikirkannya.
”Kenapa kau begitu tega padaku ?”
”Kenapa kau buat aku dalam kesusahan ?” Isakku semakin menjadi.

Aku merasakan tangan kekar milik Minho merangkulku dengan erat. Aroma tubuhnya yang khas dan kehangatan miliknya selalu membuatku merasa terjaga dari apapun.
Hiks.... hiks hiks.....
Tangisku pun pecah...
15 menit berlalu.....
Kami berdua duduk bersisian sambil bersila di lantai yang beralaskan karpet tebal dan hangat. Punggung kami bersandar pada ranjang Minho.

”Wajahku jadi jelek, ya ?” Ujarku pelan.
”Iya, bahkan lebih jelek dari NEIYA, kucing peliharaanku”
”Memangnya kau punya peliharaan ?”
”Dulu”
”Berarti sekarang tidak ?”
”Dia minggat dari rumah karena tidak tahan denganku ?”
Aku tertawa kecil. Tuh kan, dia selalu bisa membuatku tertawa.
”Jadi sekarang peliharaannya apa ?”
”Kalau aku bilang kau, keberatan tidak ?”
”I’m an Human. Not a pet !”
”Tapi kalian berdua mirip”
”Mirip apanya ?”
”Bisa mencakar kalau diganggu”
Ngaco !!

”Memangnya kau pernah melihat aku mencakar ?”
Akhirnya Minho tertawa sendiri.
”Aku kalah. Habis stok kalimatku”
Aku pun menyengirnya.
”Aku sudah baikkan dengan Dara tadi siang”
”Oh ya ?”

Aku pun menceritakan tentang insiden perang mulut antara aku dan Shin hye yang kemudian melibatkan Dara, hingga akhirnya kami berdua pun berbaikkan dan saling meminta maaf. ”Baguslah kalau begitu”  Sahut Minho sekenanya. Raut wajahnya terlihat biasa saja

Baiklah “Kau harus kuhukum !” sahutnya
Minho langsung menerjang ke arahku hingga aku pun jatuh tepat di bawahnya. Minho menindih kedua tanganku hingga aku tidak bisa melawan. Ia mencengkramnya dengan kuat agar tanganku tidak bisa lepas. Yah, tidak lepas……
“Satu kecupan saja sudah bisa mengobati sakit yang sudah lama kutahan”
Minho menatapku dengan dalam.

“Sakitnya lebih dari rasa tangan yang terkilir. Lebih parah dari tulang punggung yang retak. Bahkan lebih lebam dari bekas pukulan kepalan tangan”

Aku membalas tatapan Minho dengan dalam. Wajah manis yang selalu kurindukan itu, kini makin merayap mendekati wajahku. Tubuhku terasa sesak ditindih oleh pria blasteran ini.

“Rasanya aku hampir gila kehilangan sosok itu. Sosok yang biasanya menyapaku di kala mataku terbuka dan menemaniku di kala aku akan terlelap”
Desiran nafas Minho menyambar wajahku. Aroma tubuh Minho begitu khas, seolah menghipnotisku untuk kembali ke masa itu. Masa saat aku……

Aku tak kuasa membendung rasa rinduku. Aku juga sakit oleh perasaan ini.Dengan lembut aku merasakan bibir itu kembali menyapaku. Menyapaku dengan luapan kerinduan yang mendalam.

Ciuman kami semakin membara karena luapan emosi. Perasaan yang mahadahsyat menghampiriku melalui setiap gerakan indah yang Minho berikan untukku saat ini, hingga rasanya aku terbang ke langit ke tujuh dan tak ingin kembali lagi. Kembali ke dunia yang sangat menjenuhkan, membosankan dan nyaris membuatku hampir gila. Kurangkul tubuh Minho dengan erat. Aku tidak ingin lagi melepaskan kehangatan ini. Aku benar-benar ingin bersamanya. Tetap setiap saat menikmati kehangatan darinya.
Oh, sudah gilakah diriku ????

Minho menjamah setiap lekukan garis wajahku dengan bibir mungilnya, setiap kecupannya begitu membuatku melayang tinggi, aku merasakan ada aliran panas yang membakar emosiku untuk terus mengikuti irama yang dimainkan Minho. Hingga akhirnya kecupan itu terus bermain dan turun ke bagian leherku, hingga aku pun makin menggeliat dengan ganasnya. Aku semakin menjadi sensitif.

Dalam keadaan mabuk kepayang karena terbakar emosi nakal, aku mulai berani membuka satu persatu kancing kemejaku. Aku ingin merasakan permainan yang jauh lebih dahsyat dan bergelora lagi. Kesadaranku benar-benar telah melampaui ambang batas.

Minho hanya ternganga melihat bra hitamku yg mulai kelihatan. Satu tangannya mulai membantuku membuka kemejaku.Yeah akhirnya hye sun yg berada dengannya sekarang, adalah hye sun dengan BRA. Oh god... tapi aku tak tahu lagi, inilah yg ku inginkan. Bercinta dengan yang kucinta..

Pelan tapi pasti, minho mulai kembali lagi melumat bibirku. Kali ini lebih ganas dari semula. Mungkin keadaan yang membuat kita semakin panas saja, percayalah walau di luar sedang gerimis tapi keadaan di kamar ini begitu panas seiing dengan permaian panas kami.

Minho mulai menurunkan ciumannya ke bawah, tepat ke daun telingaku. Menjilatnya juga mengigitnya. Aku terangsang perlahan di perlakukan seperti ini.
”okh... sssssttt’ aku tak dapat berkata apa2 lagi. Hanya kata itu yg keluar dari mulutku.
”sun’aa. Aku menginginkan ’itu’ sekarang. Apa tak masalah kita lakukan sekarang??
”tapi bagaimana jika aku hamil??
”tenang saja, aku akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu.” ucapnya sungguh2..
”aku percaya padamau. Lakukanlah, aku juga menginginkannya sekarang” jawaban tak waras itu, mengalir begitu saja dari mulutku.

Tanpa ba, bi, bu lagi minho kembali melumat bibirku. Kemudian ciumannya turun keleherku. Berhenti sejenak dan menghisapnya perlahan. Bahkan di menjularkan lidah panjangnya di leherku.

Dihisap seperti permen lolipop seperti itu, membuatku tak bisa hanya berdiam diri saja. Aku mulai menyapu dada bidangnya, dengan kedua tanganku. Aku mulai meremas putingnya.
”bisa kau membuka bajumu” sahutku di sela2 ciuman kami
Minho hanya tersenyum ”dan bisakah kau melepas penggait BRAmu?? Dia malah bertanya balik padaku
Aku membalsnya dengan senyuman.

”begini saja. Kau buka bajuku, dan aku akan membuka penggait bramu. Bukankah itu akan terlihat lebih romantis?? Tawar minho dengan sikap genitnya...
”terserah kau saja. Yang penting happy” sahutku genit juga, tak mw kalah darinya

Minho mulai merentangkan tangannya ke atas. Aku agak mengangkat tubuhku agar bisa mencapai kaos oblongnya. Langsung ku buka bajuu tersebut. Tanpa menoleh ke kanan dan kiri lagi aku langsung membuang baju itu sembarangan. Tak peduli lagi, aku benar terpanah dengan pemandagan sekarang. Dada itu benar bidang, perlahan aku mulai menaruh tanganku di atas dada bidang tersebut.

Minho hanya tersenyum melihat wajahku yg benar2 terpikat dengan dada bidangnya. Aku yakin jika terlelap di atas itu saja, ku rasa aku tidak akan pernah terbangun lagi. aku meraba dada itu naik turun, dari atas ke bawah. Dan dari bawah ke atas. Setelah puas dengan tanganku, perlahan aku mulai menaru lidahku di atas dada bidang itu. Menghisapnya perlahan, kali ini giliran lidahku yang naik turun di atas dada bidang itu.

”aissh’sun’aa jangan main2 denganku. Kau benar2 telah membangunkan seekor harimau yg ganas” sahutnya seperti desahan. Minho menggunakan kesempatan ini untuk membuka penggait braku. Kebetulan kepalaku sedang berada diatas dada bidangnya, jadi dengan mudah dia meraih punggungku.

__ bukan untuk umum__ yg mw PM aku........   [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl]

semua gaya bercinta telah kami lalui.. kami terkuai lemas di atas tempat tidur
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]