Percaya atau tidak kebetulan ini membuatku merasa sangat sangat beruntung , setelah berminggu-minggu pulang bersama dari sekolah , mendapati ternyata rumah Carys dan aku hanya terpaut beberapa blok..Dekat sekali ,bahkan dari atas balkon ,aku bisa melihat jendela kamar Carys yang terletak di lantai 2 ,dan kenyataannya itulah yang kulakukan diam-diam selama berminggu-minggu setiap malamnya,menatap bayang-bayang wajah Carys dibalik jendela tua dan berkhayal apa yang sedang dilakukannya , sampai ia menutup korden dan mematikan lampu kamar tanda ia akan tidur..,tetapi ia tak pernah tahu apa yang kulakukan..
Aku sering memintanya datang ke rumah ,tentu saja untuk belajar ,dan untungnya ia tidak keberatan mengajariku setiap hari selepas jam sekolah ,Carys sangat cemerlang ,sampai-sampai aku bisa merasakan panas merambat di wajah setiap kali aku menatap paras cantiknya dan mendengar pernyataannya yang jenius ,seringkali ibu bilang ,”Ia cantik nak ,jangan lepaskan dia..!”Tetapi aku tak bisa berkata apa-apa selain tersenyum malu..
Banyak kala kami bertengkar untuk hal-hal sepele ,sebenarnya bukan bertengkar ,tetapi sibuk memperdebatkan ini itu ,namun karena otak cemerlang Carys ,ia selalu berhasil membuatku mati kutu..,dan aku yang keras kepala takkan pernah berhenti membela diri walaupun tahu kenyataannya aku benar-benar salah telak..Ketika keadaan sudah lewat batas biasanya Carys akan mengancam kalau ia akan pulang dan tidak mau berteman denganku lagi ,lalu dengan acuh akan kujawab ‘Memang aku peduli?’..Padahal sesungguhnya aku benar-benar peduli akan kehadirannya..Kalau sudah begitu biasanya aku memperingati ibu untuk mencegah Carys pulang dengan mengajaknya ngobrol atau memasak bersama sampai larut ,lalu diam-diam aku akan mengambil kesempatan untuk memata-matainya dari balik tangga ,menatap lekat setiap garis mukanya yang cantik dan kepiawaian ia dalam berbagai hal,..Ibu yang menyadari hal ini hanya tersenyum melihat anak lelakinya sedang dimabok wanita..
***
Kelas menjadi begitu buruk dan membosankan ketika semua mata tertuju padamu..Baik sih ,kalau hal itu dipandang positif ,tetapi kalau aku harus menerima semua tatapan menyakitkan karena lebam di sekujur tubuh dan beberapa luka yang bewarna biru tua menjijikan di wajah mulusku ,aku tak yakin bisa menggangapnya sebagai hal positif..Paling tidak mereka perduli ,untuk sesuatu yang mereka anggap lucu..Yaitu aku!
Tunggu saja sampai Oz datang dan membuat keadaan lebih buruk..,ia akan dengan cermat ‘mengintrogasiku’ dalam logat Korea yang terdengar sangat aneh ditengah-tengah dengungan suara mereka yang berbahasa Inggris dan Jerman..
Semua prediksiku benar ..’Apa yang kau lakukan?’’Apakah kau gila?’’Bagaimana ini bisa terjadi?’
Benar-benar pertanyaan tak berguna karena aku sudah menyediakan jawaban yang sesingkat-singkatnya yaitu,”Aku jatuh!”Sudah begitu saja dan aku terdiam ,tak berniat untuk menanggapi ocehan khawatir Oz..
“Serius ,kau terlihat begitu buruk..,kau pasti tidak baik..,”papar Oz masih belum puas dengan pernyataanku tadi..
“Oz..,aku baik ,untuk kesekian kali dan terakhir ,aku sungguh baik..Okay..Bisakah kita selesai?”tegasku dengan nada melengking tinggi ,Oz hanya berdiri terpaku ,mendengus pelan dan mencoba mengerti bahwa sesungguhnya aku tak senang membahas ini semua walaupun Oz dengan kekhawatirannya yang sungguh berlebih masih merasa tertarik untuk ‘mengintrogasiku’ lebih jauh..
“Pulang sekolah kau ke rumahku?”Tanya Oz berharap jawabanku adalah ya seperti biasa..
Tetapi untuk hari ini ,aku benar-benar tidak berniat pergi kemanapun atau dimanapun itu ,yang ingin kulakukan sekarang adalah membenamkan diri di kasurku yang empuk dan menutup sekujur tubuh ini dengan selimut tua pemberian Ayah dulu..
Aku rindu ayah..dan ketika memikirkannya , air mata mulai tertahan di kedua pelupuk mataku..
Oz menarik tanganku ,menyuruh untuk berdiri , mungkin ia tahu aku akan menangis ,jadi Oz membenamkan kepalaku di dadanya yang lapang dan hangat ,salah satu tangannya merangkul bahuku, lalu ia membawaku pergi keluar kelas..
Ketika kami sampai di taman belakang ,tidak ada siapapun disitu ,yang ada hanyalah Oz dan aku yang terlihat sangat kecil di hadapannya..
Walaupun aku yakin ,Oz tak mengerti apa yang tengah terjadi ,sebab dan akibat aku menangis di pagi hari yang cerah ini .Dengan suara yang lembut ,suara yang tak pernah kudengar selama mengenal seorang Oz ,ia berbisik samar padaku ,”Menangislah..,aku bersedia menjadi tempat ‘penampunganmu’”
Saat itu tepat ketika air mataku merebak dan isak tangis terdengar sangat kejar ,dalam hatiku yang paling kecil ,getaran ketulusan dari Oz bisa kurasakan dengan begitu nyata..Suatu getaran asing yang tak pernah datang seumur hidup..Getaran yang menenangkan ibarat obat manjur yang menyembuhkan suatu penyakit dalam sekejap..
***