Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 43487 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^
« on: January 24, 2010, 02:19:05 am »



Hari kedua, pukul 10:30 pagi ....
Lee Min Ho ....

Rapat yang dipimpin oleh Mr. Jung, presiden direktur dari Seoul Spirit co., yang dihadiri oleh beberapa direktur dari departemen yang berbeda dari perusahaan yang bersangkutan, dan utusan dari Great Building co., yang diwakili oleh kami, aku dan Raymond cs, sudah berjalan selama 1,5 jam dengan tidak membuahkan hasil yang memuaskan.  

Orang-orang dari Seoul Spirit berkeras semua kesalahan yang terjadi dengan gedung yang baru didirikan sebulan yang lalu itu tidak terletak dipihak mereka. Biaya yang sudah dikeluarkan Seoul Spirit sudah distandarkan. Mereka tidak mengurangi biaya yang diperlukan untuk mendirikan gedung itu sepeserpun. Dan menurut anggaran pengeluaran yang mereka ajukan, memang tidak ada masalah dengan biaya.

Sedangkan pihak kami juga tidak mau disalahkan begitu saja. Kami tidak menerima tuduhan bahwa ambruknya gedung yang baru didirikan itu terletak pada desain yang kami buat.

Karena pemecahan masalah ini tidak didapat, dan malahan perbedaan pendapat  membuat suasana rapat menjadi semakin panas, maka rapat yang belum selesai ini terpaksa ditunda.

**********


"Apa yang ada dalam pikiran orang-orang Korea itu? alasan yang paling tidak masuk akal mereka keluarkan, .... bagaimana .. bagaimana mungkin masalah ini terletak pada desain kita?", Raymond berteriak keras dengan emosi yang hampir meledak. Kaki kanannya dihentakkan ke lantai sehingga menimbulkan suara dentaman keras.  

Aku berjalan di samping Raymond, tanpa memperhatikan kemarahannya yang besar. Saat ini pikiranku sedang berputar di antara masalah yang kami hadapi. Bukti yang dikeluarkan Seoul Spirit sangat kuat dan mendasar. Jika benar masalah ini tidak terletak pada biaya yang dikeluarkan, berarti ... berarti ... pasti bahan yang dipakai untuk mendirikan gedung itu yang bermasalah.

Kalau memang begitu, pasti ada orang yang melakukan permainan gelap dalam proyek ini, dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu bisa saja dari pihak Seoul Spirit maupun Great Building. Atau mungkin juga dari pihak yang mensponsori pendirian gedung ini. Yang kuketahui ada dua perusahaan besar lain yang mensponsori proyek ini yaitu Globe Bank dan East Paradise ltd.

"Leader!!!! ... apa yang harus kita lakukan sekarang?", Raymond berpaling kearahku. Dia menghentikan langkahnya.

Aku tidak berhenti di situ. Kakiku terus melangkah begitu juga dengan pikiranku. Dahiku berkerut dengan pikiran yang masih berputar di antara masalah yang ruwet itu.

"Leaderrrrrrrrr !!!!!!!!!!"

Teriakan Raymond yang keras menghentikan langkahku. Aku berpaling kearahnya. Raymond cs memandangiku dengan sinar mata yang memancarkan kekhawatiran.

"Leader baik-baik saja, kan?", tanya Ryan, anggota termuda dari kelompok kami.

Aku tersenyum kearah mereka. Berusaha menenangkan dan menyemangati jiwa bertarung mereka yang sudah agak mengendor, walaupun diriku sendiri tidak begitu yakin bisa menangani semuanya.

"Saya baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir .. tadi saya hanya sedang memikirkan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi sehingga tidak mendengar panggilan kalian .. sorry ..".

Raymond cs saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak begitu percaya dengan perkataanku.

"Tapi masalah ini begitu parah ... bagaimanapun tegarnya leader, kami yakin masalah ini sangat mempengaruhi jiwa dan raga leader ...", kata Raymond, yang diiyakan yang lain dengan anggukan kepala.

"Heiii .. kalian jangan begitu, saya janji saya akan baik-baik saja ... sekarang kalian sebaiknya pulang ke kantor dulu, call taxi saja, saya memerlukan mr. Kim untuk mengantarkanku ke suatu tempat ... "

Kugerakkan tangan ke depan, mempersilahkan mereka berjalan terlebih dahulu.

"Leader mau kemana?", tanya Raymond tanpa beranjak dari tempatnya.

"Ada yang mau saya selidiki ..", jawabku halus.

Raymond mempertajam pandangannya, sedangkan yang lain juga memandangiku dengan pandangan bertanya-tanya.
"Tidak perlu bantuan dari kami kah?"

"Tidak!!!!!", jawabku cepat. "Jika kalian masih saja berdiri di situ, saya yang akan pergi terlebih dahulu ... ", lanjutku. Tanpa memperdulikan lagi reaksi dari mereka, aku bergegas berlalu dari situ.

"Leaderrr!!!! ..", teriakan Raymond bergema di belakangku.

Aku tidak berpaling. Aku terus melangkah dengan langkah lebar menuju pintu utama, dimana Mr. Kim sudah menungguku di sana dengan mobil yang dikendarainya.

************


Kantor koran 'Daily News' ...
Goo Hye Sun ...

Waktu sudah menunjukkan pukul 01:15 siang. Waktu makan siang sudah lewat. Para karyawan sudah berbondong memasuki kantor. Kugigit bibirku keras-keras. Pandanganku jatuh ke mie gelas dan sebatang coklat yang terletak di atas meja. Sekali lagi aku harus puas dengan makanan yang menjemukan ini.

"Hyesun-ah, bagaimana artikel yang kuminta diketikkan olehmu?"

"Hyesun-ah, yang kutitipkan tadi pagi sudah selesaikah?"

"Hyesun-ah, saya membutuhkan foto itu segera, sudah kamu scan kan?"
dan lain-lain ... dan lain-lain ....

Para rekan kerja menghampiriku dan meminta semua pekerjaan yang mereka titipkan padaku. Aku memberikan semua pekerjaan yang sudah kuselesaikan kepada mereka. Dan untuk yang belum kuselesaikan, aku langsung mendapat omelan dari mereka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membungkukkan badan berkali-kali dan meminta maaf dengan tampang memelas. Setelah puas dengan omelan dan pelampiasan amarah, mereka kembali ke meja masing-masing.

Aku menghembuskan nafas panjang. Bayangan dari samping membuatku berpaling. Ji Hoon oppa memperhatikanku dengan dahi berkerut. Aku menunduk perlahan. Tidak berani aku membalas tatapannya yang tajam. Aku merasa tidak berguna. Selalu begitu .. aku selalu begitu, tidak bisa memberontak walaupun hati ini terluka.

Tanpa kusadari seseorang telah berdiri di tengah ruangan, terpisah dua meja dari mejaku. Dia melirik kearahku sekilas.

"Mulai sekarang saya tidak mau lagi melihat ada pekerjaan yang tidak pada tempatnya .... jika memang pekerjaan sendiri tidak dapat diselesaikan pada waktunya, sebaiknya kalian lembur untuk menyelesaikannya dan bukan meminta rekan kerja yang lain menyelesaikannya ... jika hal ini masih terlihat oleh saya maka jangan menyalahkanku jika mengambil tindakan lebih lanjut ... "

Suara itu mengejutkanku. Aku segera berpaling ke belakang. Sammul berdiri di sana sambil mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Hening semua. Setelah menyelesaikan perkataannya, Sammul kembali ke ruang kantornya tanpa berpaling sedikitpun kearahku.

Sepeninggal Sammul, seisi ruangan langsung heboh. Semua berpaling kearahku. Pandangan mereka sangat menusuk.

"Hyesun-ah .. kamu mengadu ke Mr. Chan ya?", Hyo Joo melirik sinis dan suaranya membuatku tertekan.

"Bagaimana ... bagaimana mungkin kamu melakukan ini, Hyesun-ah? .. tidak kusangka kamu selicik itu ... ", kata yang lain.

Aku langsung berdiri dari tempat dudukku. Mataku terbelalak lebar. Aku tidak percaya mereka bisa mempunyai pikiran seperti itu terhadapku.

"Saya ... saya .. tidak pernah mengatakan apa-apa kepada Mr. Chan ... Beliau .. mengetahui semua itu karena .. kecerobohanku tadi malam .. saya tidak mengetahui kalau beliau masih berada di kantor tadi malam .. joesonghaeyo .. maafkan saya ... jeongmalmiane ... ", aku menunduk berkali-kali tapi tetap perkataan tidak mengenakkan masih terdengar dari mulut mereka.

"Kembalikan artikel itu padaku .. dan jangan berbicara padaku lagi ... huhhh .... "

Mereka mulai mengerumuniku dan mengeledah mejaku dengan paksa guna mendapatkan kembali pekerjaan yang mereka titipkan kepadaku. Aku hanya bisa berdiri di tempat dengan sepasang mata yang mulai memerah. Dengan usaha keras aku menahan airmata yang sudah bergantung di pelupuk mata supaya tidak jatuh. Permintaan maaf terus keluar dari mulutku.

"Heiiii ... apa yang kalian lakukan? mengapa kalian menyalahkan Hyesun? kalian sudah mendengarnya sendiri kan? itu semua perintah dari Mr. Chan ... Hyesun tidak tahu menahu dengan semua ini  ..... ", Ji Hoon oppa berjalan kearahku. Tangannya terbentang lebar seakan melindungiku. Aku sangat terharu. Tanganku bergerak memegang lengannya dan mengeleng perlahan.

"Hyesun-ahhh ... kamu masih ingin ditindas ya?", tanya Ji Hoon dengan suara keras. Dia sangat kecewa kepadaku. Aku tahu itu. Semuanya terpancar jelas dari sinar mata dan sikapnya. Tapi aku tidak dapat menolongnya. Beginilah diriku. Aku tidak dapat merubah sikapku.

"Gwencana ..... ", jawabku halus.

"Huhhhh ... saya sungguh tidak punya ide untuk merubahmu ..... ", kata Ji Hoon dengan menghembus nafas panjang.

Aku tersenyum. Walaupun semuanya memusuhiku, masih ada Ji Hoon oppa di sampingku dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.

"Kamu belum makan kan? tadi oppa membelikan nasi kimchie buatmu ... sebentar, oppa ambilkan untukmu ... dan .. cepat singkirkan mie instant itu, oppa tidak mau lagi melihat kamu makan yang begituan ... araso? ", Ji Hoon berkata dengan suara keras tapi mulutnya menyunggingkan senyum lembut yang menghangatkan.

"Khamsamida .. oppa ... ", kataku pelan.

***********


Pukul 07:30 malam ....

Seperti biasa, tinggal aku seorang diri di sini. Tanganku bergerak menekan perutku, lapar sekali. Suara pintu berderik dari belakang menarik perhatianku. Aku berpaling ke belakang. Sammul keluar dari ruang kantornya. Keningnya berkerut begitu melihatku. Aku segera berbalik ke posisiku semula. Bibirku kugigit keras dan mataku terpejam rapat. "Gawat!! kecolongan lagi ... ", batinku dalam hati.

Sammul mendekatiku. Dan walaupun aku tidak melihat kearahnya, aku tahu dia menatapku dengan pandangan tajam.
"Kamu masih di sini?", tanyanya dengan suara yang tenang dan dalam.

"Saya ... saya belum menyelesaikan semua pekerjaan ini ...", jawabku pelan.

"Masih membantu sunbaemu menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan? bagaimana mungkin kamu .... saya sudah mengumumkannya dengan sangat jelas, kan? kamu ini .... ", Sammul berusaha menahan emosinya.

Aku segera mendongak ke atas.
"Tidak!! Bukan begitu ... karena tadi pagi saya menyelesaikan pekerjaan mereka jadi pekerjaanku sendiri terbengkalai ... saya hampir menyelesaikannya .. "

Sammul mengangguk perlahan.
"Kamu sudah makan?"

Aku mengeleng. Sammul melirik sekilas jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Saya ingin mengajakmu makan bersama tapi .. malam ini saya ada janji dengan papaku .. jadi "

"Tuan jangan pedulikan saya ... saya bisa menjaga diri sendiri ... ", aku memotong perkataannya dengan cepat.

"Kamu yakin bisa pulang sendiri?", tanya Sammul sambil menatap lekat kearahku.

Aku mengangguk dengan mantap. Sammul menghembuskan nafas perlahan.
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu ... ingat pakai jaketmu, udara di luar sangat dingin, dan .. bawa ini, sebentar lagi akan turun hujan .. ", Sammul menyandarkan payung yang dibawanya di pojok meja. Tersenyum tipis kepadaku kemudian berjalan ke luar ruangan.

Aku mengikuti langkah Sammul dengan pandanganku sampai dia menghilang dari hadapanku. Kulirik sekilas payung yang tersampir di dekat kakiku dan tersenyum perlahan. Kemudian aku meneruskan lagi pekerjaan yang tinggal sedikit.

*********


Pukul 08:00 malam .....
Lee Min Ho ....

Tidak kusangka aku bisa menghabiskan waktu hampir sehari penuh cuma untuk menyelidiki gedung yang bermasalah itu. Semuanya mencurigakan walaupun aku masih tidak begitu mengerti apa sebenarnya yang mencurigakanku itu. Pasir dan abu dari bekas runtuhan gedung yang didirikan tersebut menarik perhatianku. Pilar penyangga itu bermasalah. Aku yakin itu.

Sekitar pukul 07:35 malam, aku meninggalkan reruntuhan gedung hasil desain dari tanganku sendiri itu. Kepalaku tertunduk sepanjang perjalanan. Hatiku sangat tertekan, otakku sangat penat. Ingin sekali aku menumpahkan semua yang kurasakan. Tapi aku tidak tahu harus membicarakannya dengan siapa. Aku teringat kepada Angel. Aku merindukannya. Tapi tetap saja aku tidak dapat mendiskusikan semua ini dengannya. Entah mengapa, walaupun kami sudah bersama selama dua tahun, tetap saja aku tidak dapat terus terang kepadanya.

Di antara kami masih ada jurang pemisah yang belum bisa kuhapuskan. Mungkin semua itu berhubungan dengan bayanganku terhadap ibu. Angel bukan seorang gadis yang mendekati sosok ibu yang kurindukan. Walaupun aku menyayanginya, aku tidak bisa membicarakan semua dengan perasaan yang nyaman dengannya.

Langkahku sangat lambat, menyusuri jalan setapak yang sepi. Aku tidak sadar telah sampai di mana. Aku menghabiskan waktu sekitar 25 menit dengan pikiran melayang. Kuperhatikan keadaan sekelilingku. Sangat asing. Tidak banyak gedung bertingkat di sini. Beberapa titik air mengenai wajahku. Aku mendongak keatas. Perlahan tapi pasti rintik-rintik hujan mulai jatuh ke bumi. Angin bertiup kencang. Aku merapatkan mantel panjang yang kukenakan ke depan dada. Udara sangat dingin. Air hujan mulai menderas. Dengan sedikit mendesah aku mengarahkan pandanganku ke sekeliling. Dan kudapatkan tempat berteduh berupa lorong gelap yang menjorok ke bawah lewat bahu di belakangku.

Lorong itu sepertinya lorong bawah tanah yang digunakan para pejalan kaki dan pengendara sepeda untuk menyeberang ke jalan sebelah. Kuangkat tanganku ke atas guna melindungi kepala dari siraman air hujan yang menderas. Aku berlari ke sana dengan langkah lebar.

*********


Goo Hye Sun ...

Setengah jam kemudian, aku sudah berlari di jalan sepi menuju rumahku yang terletak agak di pelosok selatan kota Seoul. Udara sangat dingin. Hujan sudah mulai turun. Aku mengigil dalam balutan pakaian yang tipis dan terpaan air hujan. Karena tergesa meninggalkan kantor, aku lupa memakai jaketku. Begitu juga dengan payung yang diberikan Sammul.

Aku berusaha mencari perlindungan dari derasnya air hujan dalam kegelapan. Kuarahkan pandanganku ke depan. Aku tersenyum. Tempat ini sangat kukenal. Dengan cepat aku berlari ke lorong bawah tanah yang ada di depanku. Aku tidak melihat seseorang berlari dari arah berlawanan, sehingga tidak pelak lagi aku bertabrakan dengannya.

Aku mendongak cepat. Orang itu sangat tinggi dan sepertinya dia tidak asing bagiku. Tapi aku tidak bisa mengingatnya.Kepalaku masih agak pening akibat tabrakan tadi.

"Kamuuuuuu!!!!!!"

Teriakan itu menyadarkanku. Orang itu ternyata orang yang kujumpai beberapa kali dalam suasana yang tidak menyenangkan.
"Joesonghaeyo ... maafkan saya ... ", aku membungkuk berkali-kali kearahnya.

"Kamu lagi,.. kamu lagi, .. bagaimana mungkin sampai di sini juga bertemu denganmu ... ", katanya dengan nada kasar.

"Joesonghaeyo ...."

Aku melirik orang itu. Dia kelihatan sangat terganggu dengan kehadiranku.

"Saya akan pergi sekarang juga .. sekali lagi, maafkan saya .. ", aku membungkuk lagi kearahnya. Kemudian aku bergerak ke depan, bersiap keluar dari lorong itu.

Hujan deras langsung menerpa wajahku ketika kakiku sudah melangkah keluar. Sebuah tangan yang besar dan keras tiba-tiba terjulur dan menarikku kembali ke belakang.

"Kamu sudah gila ya? .. tidak lihatkah hujan di luar sangat deras .. kamu ini .. huhhh ... ", orang itu berteriak keras kearahku.

Aku memandanginya dengan kebinggungan. Tidak mengerti dengan perbuatan yang baru dilakukannya. Aku mengigil kedinginan dengan sekujur tubuh basah kuyub akibat guyuran air hujan tadi. Gigiku bergemelatuk hebat.
"Saya .. saya .. tahu kehadiranku menganggumu jadi ... "

"Jadi kamu ingin segera lenyap dari hadapanku tanpa memperdulikan hujan lebat di luar sana .. ", kata orang itu dengan suara yang lebih keras lagi. "Kamu kira saya ini orang yang tidak berperasaan ya? yang karena kenyamanan sendiri akan membiarkan orang lain menderita?", lanjutnya lagi dengan tampang kesal.

"Joesonghaeyo ... ", kataku pelan.

"Kamu boleh berlindung di sini, tapi berdiri saja di sini .. ingat jangan mendekatiku .. ", setelah berkata begitu, pemuda itu berjalan ke sudut sebelah.

Aku mengangguk perlahan. Sangat pelan dan tidak berani bergerak dari tempatku. Pemuda itu menyandar ke pojok lorong dengan sepasang mata yang mulai terpejam rapat.

*********


Lee Min Ho ....

Sekali lagi aku bertemu dengan gadis itu. Dan lagi dalam keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Setelah pikiranku penuh dengan semua masalah yang terjadi selama seminggu terakhir, yang melelahkanku, Aku bertemu dengan dia lagi. Mataku tertutup rapat, berusaha untuk menenangkan emosiku yang hampir meledak.

Detik demi detik dan menit demi menit berlalu dalam keheningan. Perasaanku sudah mulai tenang kembali setelah usaha keras tadi. Aku tidak tahu sudah berapa lama berada dalam posisi seperti tadi. Mungkin sudah sekitar 15 menit atau mungkin lebih. Waktu terasa berjalan sangat lambat.

Kemudian senandung pelan dan lembut itu menyadarkanku dari keheningan. Mataku terbuka perlahan. Gadis di depanku bersenandung kecil dengan pandangan lurus terarah ke depan. Bibir mungilnya tersenyum tipis. Tangan kanannya terjulur keluar lorong, menadah air hujan yang sudah mulai mereda.

"tik .. tik .. tik ... tik ... "

Senandungnya tidak begitu jelas tapi menenangkan. Lembut dan menghanyutkan. Aku berdeham perlahan.
"Ehemmmm .. hentikan senandungmu yang jelek dan berisik itu ... "

Dia tersentak. Kelihatan sangat terkejut dengan perkataanku yang mendadak. Dia berpaling kepadaku dengan sepasang mata terbelalak lebar di balik kacamata tebalnya.
"Joesonghaeyo ... ", dia kembali membungkuk kearahku.

"Berhentilah menyembahku ..  ", kataku kesal.

"Hahhhh??", dia menatapku dengan pandangan penuh tanya.

"Sudahlah ... kamu tidak akan mengerti arti dari perkataanku .. sekarang yang saya harapkan darimu adalah jangan mengeluarkan suara, saya butuh ketenangan ... ", aku kembali menutup mataku tanpa mau mengetahui reaksi dia selanjutnya.

*********


Setengah jam kemudian, hujan sudah berhenti. Aku menjulurkan kepala keluar dan mendongak ke atas, tidak ada lagi air yang ditumpahkan dari atas. Kusilangkan mantel rapat-rapat di depan dada kemudian melangkah keluar. Terdengar olehku suara dari belakang. Aku menoleh, gadis di belakangku juga berjalan keluar dari lorong. Dia menatapku dengan gugup. Aku berpikir sejenak sebelum berpaling kembali kedepan dan meneruskan langkahku tanpa memperdulikannya lagi.

Setelah beberapa langkah ke depan, aku berbalik kembali ke belakang. Suara langkah kaki itu masih mengikutiku dari belakang. Gadis itu langsung berhenti di tempatnya. Wajahnya sangat pucat, entah karena ketakutan atau kedinginan.
"Saya .. saya bukan mengikutimu .... jalan yang harus kutempuh .. ada  ... ada di depan ...", jawabnya gugup.

Melihat kepucatan dan kegugupannya, ada sedikit perasaan tidak tega merasuk ke dalam hatiku.
"Jika bukan mengikutiku, berjalanlah di sampingku ... aku paling tidak suka diikuti dari belakang .. ", kataku dengan nada tajam, kemudian kuteruskan langkahku.

Sebentar saja gadis itu sudah berjalan di sebelahku. Kami berjalan tanpa mengeluarkan suara. Lima menit berlalu sudah. Aku meliriknya lewat sudut mataku. Dia mengigil kedinginan. Bibirnya pucat pasi. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. Gadis ini sungguh tidak dapat kupercaya. Bagaimana mungkin dia berkeliaran di udara dingin dengan pakaian terbatas seperti itu.

Aku berhenti melangkah dan menoleh kearahnya. Kulepaskan mantel yang kukenakan kemudian berjalan kearahnya. Melihat aku berhenti di tengah jalan, dia juga menghentikan langkahnya. Kusampirkan mantel panjangku ke pundaknya. Dia langsung terpaku melihat perbuatanku.

"Jangan berpikiran yang tidak-tidak .. saya memberikan mantel ini kepadamu karena saya tidak ingin menjadi seorang pembunuh dengan membiarkanmu mati kedinginan ... lagipula .. kamu ini..  bagaimana kamu bisa berkeliaran dengan pakaian setipis itu?", kataku keras. Rasanya aku sudah akan meledak dengan kebodohan gadis ini.

"Saya punya jaket..  hanya saja .. jaket itu ketinggalan di kantor ... dan saya sudah terburu waktu jadi saya rasa akan baik-baik saja dengan pakaian ini, saya tidak menyangka akan turun hujan sederas itu .. ", jawabnya polos.

Sekali lagi aku menghembuskan nafas panjang. Kemudian aku berbalik dan meneruskan langkahku lagi.

"Saya akan mengembalikan mantel ini kepadamu besok .. jadi bisakah kamu memberikan alamatmu kepadaku? .. oh ya, kenalkan namaku Goo Hye Sun ... dan kamu sendiri siapa?", gadis itu mengajukan pertanyaan bertubi-tubi kearahku sehingga menyebabkanku berhenti melangkah dan berpaling kearahnya.

"Heii dengarkan saya nona .. saya tidak memerlukan mantel itu lagi, kamu tidak perlu mengembalikannya kepadaku .. dan namamu tidak penting bagiku jadi kamu juga tidak perlu mengetahui namaku .. seperti perkataanku kemarin malam, saya tidak ingin bertemu lagi denganmu .. setiap bertemu denganmu, tidak ada sesuatu yang baik yang terjadi padaku ... "

Setelah perkataan itu aku meninggalkannya dengan langkah lebar. Aku sudah tidak mau bertemu dengannya lagi. Tidak ingin wajah itu kembali hadir di hadapanku. Aku tidak berbalik ke belakang sehingga tidak melihat wajah memelas itu mengumamkan kata "Khamsamida .." padaku.

*********



Pukul 09:00 malam, aku mendapat sambungan telepon dari Angel.

MH :"Hello Angel ... "
AY :"Minho, bagaimana keadaan di sana?"
MH :"Baik .. hmm besok kamu akan tiba jam berapa? saya sudah mempersiapkan segala sesuatu buat menyambut kedatanganmu .... "
AY :"Ohhh sorry my dear .. saya tidak bisa menepati janjiku, Presiden Lau memintaku ikut dengannya selama seminggu ke Jepang ... " (suaranya terdengar menyesal)
MH :"Apa?? bagaimana mungkin? kamu sudah berjanji padaku Angel ... "
AY :"Saya tahu itu, tapi saya juga tidak bisa berbuat lain ... apakah keadaan di sana sangat gawat?"
MH :"Tidak!! saya bisa menanganinya ... "
AY :"Kalau begitu tunggu saya seminggu lagi .. saya berjanji akan langsung terbang dari Jepang ke Korea begitu masalah di sana terselesaikan ... "

Hening ... untuk beberapa lama, aku tidak menyahutnya ...
AY :"Minho?? Are you still there?"
MH :"Ya, saya masih di sini ... sudahlah Angel, pembicaraan kita sampai di sini saja .. saya sangat capek, saya ingin istirahat sekarang juga .... "


Aku langsung memutuskan hubungan telepon dengan Angel, tanpa mau mendengar perkataannya lagi. Kubuang telepon selular itu ke ranjang. Huhhhh membatalkan janji lagi .. selalu begitu. Aku menutup wajahku rapat-rapat dengan kedua tangan. Aku memaki diriku sendiri mengapa tidak bisa berterus terang tentang keadaan yang sebenarnya ke Angel. Ingin sekali aku berteriak. Semua masalah selalu kusimpan dalam hati. Sulit sekali bagiku untuk mengeluarkan isi hatiku ke Angel. Kuhempaskan tubuh ke ranjang. Sebentar saja aku sudah terlelap. Jiwa dan raga yang lelah membuat tubuhku menerawang dan berputar di sekeliling awan putih yang menghayutkan.

*************


bersambung ke chapter 3 ...
  
« Last Edit: April 02, 2010, 02:11:27 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun