Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 36606 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Kilasan chapter yang lalu ...

"Saya mencarimu di kantor ...", Jihoo mendekati Jandi, kemudian menjatuhkan diri di pinggir ranjang, di sebelah gadis itu, " .. saya berniat mengajakmu ski bersama Jandi-a tapi kata orang-orang sekantor, kamu mengalami kecelakaan mobil kemarin .. bagaimana keadaanmu,, gwencana?". Jihoo meletakkan tangannya ke jidat Jandi, tampangnya terlihat sangat khawatir.

Tidak disadarinya, Junpyo memperhatikannya dengan tampang dingin dari seberang tempat tidur.


"Jandi tidak bisa ski ... ," sahut Junpyo datar. "Apa anda tidak tahu itu, Yoon Ji Hoo-ssi?"

Jihoo berpaling pada Junpyo. Matanya melebar. Rupanya dia baru menyadari kehadiran Junpyo di situ. "Junpyo-a,, cepat sekali kamu kemari?"

Junpyo tersenyum masam. "Anda juga!"

"Saya kebetulan mencari Jandi hari ini, dan mendapat kabar mengkhawatirkan ini dari pembantunya ... ," kata Jihoo. "Sepertinya Junpyo sangat mengenal Jandi? Saya saja baru tahu Jandi tidak pandai ski beberapa hari yang lalu ... ," selidik Jihoo dari balik senyumnya.

Junpyo mengeleng grogi. "Aniyo. Saya mengetahui itu karena kami tumbuh bersama."

"O benarkah?" Jihoo melebarkan senyumnya. "Jadi kalian tumbuh bersama? ... Pasti menyenangkan bersahabat dari kecil .. "

"Tidak juga!"

Jawaban Junpyo langsung disambut delikkan mata Jandi.

"Jangan pedulikan dia, sunbae!", kata Jandi pada Jihoo. "Orang aneh itu tidak pernah tahu arti persahabatan .. ," gerutunya. "Lagipula .. sekarang saya menikmati ski kok."

Jihoo melirik kaki Jandi. "Tapi saya tidak yakin kamu baik-baik saja Jandiya .. Sebenarnya bagaimana keadaanmu? "

"Gwencanayo ... ," Jandi menarik diri ke belakang. Menyandar kembali ke tempat tidur. "Miane, saya tidak bisa menemani sunbae ski hari ini ... , " Jandi melirik kakinya yang diperban, kemudian dia tertawa renyah, " .. kata dokter, kaki saya tidak boleh digerakkan sesuka hati selama seminggu ini ... "

"Kamu masih bisa tertawa?" jidat Jihoo berkenyit. Tangannya menyapu rambut Jandi. "Paboya ..," ujarnya. Tangannya bergerak ke bagian belakang kepalanya sendiri, dan dia tertawa mengiringi tawa Jandi.


Sekejap saja ruangan tersebut jadi riuh oleh suara mereka.

Junpyo bergerak sedikit dari tempatnya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman dengan keakraban sepasang muda-mudi di hadapannya ini. Protesnya hampir keluar ketika pintu ruangan tersebut dibuka mendadak dari luar. Seraut wajah nongol dari balik pintu.

"Siapa yang pabo?" tanya Yijeong dengan kepala dimiringkan.

"Yijeong-a!!" teriak Jandi, terkejut melihat kemunculan Yijeong di situ. "Mengapa sampai ke sini?" tanyanya sambil tersenyum cerah begitu tersadar dari kekagetannya.

"Mengapa sampai ke sini?" Yijeong mengulangi pertanyaan itu. Dia mendekati Jandi dengan langkah lebar. "Hy Junpyo-a ..", sapanya sambil lalu begitu melewati Junpyo--membuat wajah pemuda itu melongo bodoh.

"Tentu saja karena kamu!" Wajah Yijeong terlihat cemas. Dia menjatuhkan diri di sebelah Jandi, berlawanan arah dengan Jihoo yang duduk di pinggir ranjang sebelahnya. Kedua pria itu mengapit Jandi di sebelah kiri dan kanan."Saya baru turun dari pesawat satu setengah jam yang lalu, dan lihat kabar apa yang saya dapat darimu?" Yijeong mendorong halus kepala Jandi. Membuat gadis itu langsung memanjangkan bibirnya.

"Kamu mencariku?"

Yijeong tidak menjawab. Dia melirik Jandi dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian berbalik lagi ke wajah polos gadis itu. "Apa kamu baik-baik saja?"

Jandi tertawa. "Tentu saja. Saya sangat baik. Cuma lecet-lecet sedikit di sini .. ," dia menunjuk jidat dan pipi sebelah kanannya. " .. dan juga di sini ..," dia beralih ke kaki kanannya yang diperban.

"Jeongmal? Hanya ini?" Yijeong menekan suaranya.

"Ne!" sahut Jandi.

Yijeong menghembuskan nafas lega. "Syukurlah kalau begitu!" ujarnya. "Sebenarnya saya mencarimu buat sarapan bersama ..," lanjut Yijeong," ... tapi kata rekan kerjamu, si penerima telepon, kamu mengalami kecelakaan mobil kemarin. Saya sangat khawatir, jadi langsung melesat kemari .. "


Jandi tertawa lagi. Tampang Yijeong terlihat tegang. Begitu juga dua pria lain dalam kamar rawatnya ini. Membuatnya sangat geli. Apalagi Junpyo, wajahnya sudah gelap sejak tadi. Jandi meliriknya. Mata yang teramat tajam itu tertuju ke depan, mengarah ke Jihoo dan Yijeong dalam kebisuan.

"Sekarang kamu sudah puas kan melihat keadaanku yang baik-baik saja?" Jandi beralih pada Yijeong. Sebelum pemuda itu menjawab, dia menepuk jidatnya. "Oh ya,, kenalkan .. " tangannya menunjuk Jihoo, " Ini Jihoo sunbae dari Yoon's Power .. "

Yijeong berpaling pada Jihoo. "Yoon Ji Hoo-ssi dari Yoon's Power?" tanyanya tajam.

"Ne .. ," jawab Jandi. "Kelihatannya kamu kenal Jihoo sunbae .. "

"Siapa yang tidak mengenal pewaris tunggal Yoon's Power?!" ujar Yijeong. Tangannya terjulur pada Jihoo. "Senang bertemu denganmu Yoon Ji Hoo-ssi. Saya So Yi Jeong ..."

"Dari So's Capital? " Jihoo berdiri dari posisinya dan membalas uluran tangan Yijeong. "Saya juga senang berkenalan dengan anda ..," suaranya terdengar tenang dan tajam.

Yijeong tersenyum. Kedua pria itu berjabat tangan dengan sangat erat. Jandi mengamati mereka. Entah apa yang ada dalam pikiran keduanya. Suasana terasa tegang.

"Ehemmm ... ," Junpyo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah mereka. "Sudah cukup perkenalan ini!" katanya tegas. "Jandi perlu istirahat, kamu pergilah Yijeong-a!" dia berpaling ke Jihoo, "Anda juga Jihoo-ssi."

Mendengar itu, Jandi langsung mendelik ke Junpyo. "Goo Jun Pyo!" teriaknya. "Kenapa kamu selalu menyebalkan begini? Jika kamu ada urusan lain, sana--pergi sana!!!" Dia mengibaskan tangan seperti mengusir anak anjing.

Tampang Junpyo mengelap. "Geum Jan Di, apa kamu tidak dengar perkataan dokter Park? Kamu harus istirahat yang banyak!"

Kemudian dia menekan tubuh Jandi sehingga terbaring di ranjang. "Istirahat sekarang juga!" katanya tegas. Wajah Jandi mengerut--cemberut, tapi Junpyo tidak peduli. Dia terlihat serius dengan perkataannya. Diselimutinya tubuh Jandi, kemudian dia berpaling pada Yijeong dan Jihoo. "Silahkan tuan-tuan!" tangannya bergerak ke depan, mempersilahkan mereka keluar dari kamar rawat VIP itu. "Saya yang akan merawat Jandi ... "

"Antwe!!!"

Teriakan Jandi membuat para pria tersebut berpaling padanya secara bersamaan.

"Saya tidak perlu dirawat olehmu!! Kamu ikut keluar dari sini!!"

Sebuah bantal melayang dari tangan Jandi dan mendarat di wajah Junpyo.
pukkk ....

"Yaishhhhhh!!! Kamu .... "


Protes Junpyo terputus di pertengahan begitu menangkap sebotol air mineral mengarah padanya.


"Jika kamu tidak keluar, ini yang akan menjadi makananmu selanjutnya!" ancam Jandi.

"Yaishhh!!"

Junpyo keluar dari ruang rawat Jandi dengan terbirit-birit. Yijeong dan Jihoo mengikutinya dari belakang sambil tertawa-tawa geli. Junpyo mendelik kesal pada mereka. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah lebar-lebar meninggalkan kedua pria itu.

***** )()()()( *****


"Jandya .. "

Jandi mengangkat wajah dari majalah fashion di tangannya. Pintu kamar rawat VIP yang ditempatinya terbuka dan seseorang yang hadir di situ langsung membuatnya terngangga.

"Omma ... ," Jandi mengejap-ngejapkan matanya tak percaya. Bahkan tangannya terangkat--mengucek mata untuk menyakinkan penglihatannya sendiri. Tapi sosok yang sangat dirindukannya itu tidak juga menghilang. Bahkan detak-detuk sepatunya terdengar sangat jelas ketika dia mendekatinya.

"Bagaimana keadaanmu sayang?" suara omma terdengar lembut di telinga Jandi. Walaupun di sela-sela kelembutan itu, dia juga bisa menangkap bibit-bibit kecemasan.

"Baik ..," jawab Jandi linglung. "Kenapa omma sampai berada di sini? Bagaimana masalah para pekerja di Jepang?"

"Tidak ada yang lebih penting darimu sayang .."

Omma menjatuhkan tubuhnya ke kursi di pinggir tempat tidur. Wajahnya terlihat lelah. Dia menatap Jandi penuh kasih sayang. Lalu pandangannya beralih ke sekujur tubuh Jandi.

"Apa luka-lukanya tidak parah?" tanyanya khawatir.

Jandi tersenyum dan mengulangi jawabanya tadi dengan tegas. "Tidak. Saya baik-baik saja omma. Hanya lecet-lecet sedikit, jadi tidak masalah ... "

"Chinja?"

Jandi mengangguk. "Ne .. "

"Bagus kalau begitu .., " omma berdiri dari kursinya. "Siapkan dirimu. Kita keluar dari rumah sakit sekarang juga!"

"Mwo?" Jandi mencondongkan badan ke depan. "Mengapa mendadak begini?

"Sebenarnya masalah-masalah di Jepang tidak bisa omma tinggalkan begitu saja." kata omma, "Tapi demi kamu, omma bela-belain pulang ke Seoul dan menunda urusan di sana .. karena kamu tidak apa-apa, omma mengambil keputusan membawamu ke Jepang. Jadi kita keluar sekarang juga dari sini .. ," jelas omma.

Jandi mengangga. Tidak mampu berucap apa-apa terhadap keputusan omma.



"Nona Yeon!!" teriak omma.

Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun datang tergopoh-gopoh dari ruangan luar.

"Ne bu direktur .. ," dia membungkuk hormat pada omma.

"Atur semua keberangkatanku dengan Jandi ke Jepang hari ini juga." perintah omma tegas.

"Ne .., " jawab nona Yeon.

"Tunggu sebentar!"

Langkah nona Yeon berhenti di ambang pintu.

"Berangkat hari ini? Mengapa secepat ini, omma?" tanya Jandi.

Omma mengibaskan tangannya ke arah nona Yeon. Wanita itu mengangguk, kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Omma lalu beralih pada Jandi. "Lebih cepat lebih baik sayang." jawabnya. "Masalah-masalah di sana harus segera omma selesaikan. Lagipula, liburan akan sangat baik buat penyembuhan luka-luka fisik dan mentalmu .. "

"Tapi .. ," Jandi terlihat ragu-ragu, "Bagaimana dengan pekerjaan-pekerjaan di sini?"

"Kamu jangan khawatir, sayang .. ," omma tersenyum lembut. "Korean News tidak akan ambruk dengan kepergianmu .. ," omma mendekatinya dan menyentuh kepalanya. "Orang-orang kita di sini akan menjalankan tugasnya dengan baik, jadi tidak ada alasan bagimu menolak permintaan omma kali ini, araso ..? "

"Omma sudah merencanakannya?" selidik Jandi.

"Apapun perkataanmu itu, anggap saja iya .. ," omma tertawa. "O ya, kamu tunggu omma di sini ..," lanjut wanita itu. " .. Setelah mengurus pengeluaran-mu dari rumah sakit ini, omma akan segera kembali .. "

Sebelum Jandi mampu mengeluarkan protes-protes selanjutnya, omma sudah berlalu dari ruangan tersebut.

***** )()()()( *****


Brakkk ....

Ponsel dalam genggaman Junpyo melayang ke lantai dan hancur berkeping-keping. Nafas pemuda itu memburu. Wajahnya menyeramkan sehingga sekretaris pribadinya, miss Park Gae In, yang baru memasuki ruangan guna menyampaikan dokumen-dokumen yang mesti ditandatanganinya hari itu, langsung menyusut ketakutan.

"Selalu begitu!!", teriak Junpyo. "Apa yang ada di otaknya akhir-akhir ini? Selalu menghilang tanpa kabar!!!"

Kemudian dia mengerling tajam ke arah Gae In. "Ada apa?"  tegurnya keras.

"Do .. kumen .. pak direktur .. ," jawab Gae In sambil menaikkan tumpukan dokumen di kedua tangannya takut-takut.

"Letakkan saja di sana!" perintah Junpyo kesal. Dia menunjuk ke meja kerjanya. "Setelah itu kamu keluar dari sini!!"

Gae In melangkah lebar-lebar ke meja kerja Junpyo, sambil sesekali menghindari pandangan menusuk dari majikannya itu. Diletakkannya tumpukan file tersebut di atas meja, setelah itu dia berjalan ke pintu. Tapi langkahnya terhenti ketika sesuatu teringat olehnya. Dengan tampang mengibakan dia berbalik ke arah Junpyo, yang sekarang sudah berdiri di depan deretan jendela-jendela kaca besar dalam ruang kerjanya itu.

"Pak .. direktur ... ," panggilnya dengan suara gemetar.

Tampang Junpyo mengerut. Apa lagi yang diinginkan wanita ini?, tanyanya dalam hati. Junpyo berbalik, menghadapi Gae In.

"Jaekyung agashi ... ," lanjutan Gae In terputus melihat kerutan yang makin dalam di wajah Junpyo.

"Jangan memberikan laporan setengah-setengah Gae In-ssi. Kamu tahu aku tidak menyukainya!" tegur Junpyo dingin.


Sekretarisnya itu membungkuk dalam-dalam. "Ne pak direktur .. ," katanya dengan hormat. "Jaekyung-ssi minta bertemu dengan anda .. "

"Katakan padanya saya tidak ada waktu!" sahut Junpyo segera. Dia berbalik ke pemandangan di luar jendela lagi.

"Tapi pak direktur .. ," lanjut Gae In. "Jaekyung-ssi berkeras ingin bertemu dengan tuan. Katanya dia akan menunggu tuan sampai kapanpun tuan punya waktu untuknya .. "

"Persetan dengan dia!" teriak Junpyo tiba-tiba.

Gae In langsung tersentak kaget. Kakinya mundur ke belakang sampai punggungnya menyentuh daun pintu.

"Saya keluar sekarang .." Junpyo melangkah ke kursinya dan menyambar jas yang tersampir di sana. "Dokumen-dokumen itu akan saya tandatangani sepulangku dari luar .. ", katanya, tanpa mengharapkan respon dari Gae In yang masih terpaku di tempatnya.

"Kalau ada yang mencariku, katakan saja kamu tidak tahu." perintahnya pada Gae In. "O ya, begitu juga dengan Jaekyung!" sambung Junpyo dari ambang pintu.

***** )()()()( *****


tettttt .......... tettttttttt ......... tettttt ...............

Junpyo menekan bel pintu Geum's mansion untuk ke sekiankalinya. Dia menendang-nendang lantai dari marmer abu-abu berkilat di bawah kakinya tidak sabar.

Lalu seorang pelayan bertampang lusuh tergopoh-gopoh membukakan pintu baginya.

"Mengapa lama sekali?" tegur Junpyo dengan alis berkerut.

"Junpyo doronim .. ," sapa si pelayan terheran-heran.

"Weo?" tanya Junpyo. "Mengapa tampangmu seperti itu?"

"Apa doronim mencari agashi?" si pelayan lusuh balik bertanya.

"Ne, tentu saja! Kamu tidak berharap saya mencarimu kan?" sahut Junpyo kesal.


Pelayan itu membungkukkan badan ketakutan. "Sosoengheyo Junpyo doronim. Hamba ... hamba cuma heran dengan kedatangan doronim. Cuma itu .. "

Kerutan di wajah Junpyo makin mendalam. "Memangnya kenapa?"

"Soalnya agashi tidak berada di sini ... Hamba mengira doronim mengetahuinya, oleh sebab itu hamba merasa heran dengan kedatangan doronim .. ," jawab si pelayan.

"Tidak berada di sini? Memangnya dia ada di mana?"

"Agashi berangkat ke Jepang dengan nyonya besar kemarin .. "

"MWOO?!!" teriak Junpyo kaget. Sepasang matanya terbelalak lebar.

"Apa .. doronim masih ingin masuk ke dalam?" tanya pelayan itu ragu-ragu melihat keterkejutan Junpyo.

Pemuda itu mengibaskan tangannya. Berangkat ke Jepang tanpa memberitahuku. Karena itu dia tidak bisa dihubungi. Mengapa dia melakukan ini? Dia tidak pernah melakukannya. Geum Jan Di tidak pernah pergi tanpa mengabariku. Dan ini untuk pertama kalinya. Dengus Junpyo dalam hati.

Pertanyaan pelayan itu tidak digubrisnya. Junpyo meninggalkan Geum's mansion dengan agak sempoyongan.

***** )()()()( *****


"Ha Jae Kyung ... ," tampang Junpyo jadi dingin.

Jaekyung berdiri di hadapannya. Menyandar di jendela kaca, di belakang meja kerjanya dengan kepala tertunduk.

"GAE IN-SSI!!!" teriak Junpyo dengan tangan masih memegang gagang pintu.

"NE pak direktur .... ," Gae In mendekatinya dengan wajah pucat pasi.

Mendengar teriakan keras Junpyo, Jaekyung mengangkat wajahnya. Sambil tersenyum dia mendekati Junpyo.

"Junpyo-a ... ," sapanya, yang tidak diubris pemuda itu.

"Mengapa dia bisa berada di sini?" tanya Junpyo tajam pada sekretaris pribadinya.

Gae In membungkuk ketakutan. "Soseongheyo pak direktur, .. agashi .. "

"Saya yang memaksa masuk kemari .. ," Jaekyung menyambung perkataan wanita yang ketakutan itu.

"Dan siapa yang mengijinkanmu?" Junpyo beralih padanya. Suaranya sangat dingin dan tak berperasaan.

"Junpyo-a .. ," Jaekyung mengangga. Dia tidak mengira Junpyo akan bersikap sedingin ini padanya.

"Sudahlah!" Junpyo mengibaskan tangannya. Dia melewati Jaekyung begitu saja menuju meja kerjanya. "Keluar dari sini Gae In-ssi. Dan tutup pintunya!"

"Ne .. ," wanita bertampang memelas itu segera mundur ke belakang dan menutup pintu di depannya. Dalam sekejap ruangan yang sangat luas itu menjadi senyap.

"Junpyo-a .. ," panggilan Jaekyung terdengar sangat pelan. Bahkan dalam ruangan yang sunyi itu hampir tak terdengar.

Junpyo yang sudah menghadapi tumpukan dokumen di hadapannya menengadah. Ekspresinya tidak berubah, tetap dingin dan tak bersahabat. "Saya sangat sibuk Ha Jae Kyung. Jadi jika kamu ada urusan penting, katakan sekarang juga padaku .. "

Jaekyung bergerak perlahan-lahan dari posisinya. Seakan takut detak hak sepatunya akan membangkitkan kekesalan Junpyo yang lebih lanjut. "Saya .. saya mencarimu sejak kemarin.", mulainya pelan. " .. Saya ...  menghubungimu berulangkali, tapi ponselmu tidak diangkat ... Kata Mr. Jung, yang berhasil kutemui kemarin siang, kamu ... kamu sangat sibuk .. "

"Seperti yang kamu lihat!" Junpyo melirik tumpukkan dokumen di hadapannya. "Apa kamu berharap aku masih ada waktu untukmu dengan kesibukkan yang mengunung ini?" lanjutnya datar.

Jaekyung membersihkan tenggorokannya yang tersekat. "Tentu saja tidak .. ," jawabnya gugup. "Saya ...... Saya hanya sangat merindukanmu Junpyo-a .. "

Tangan Junpyo yang bersiap menandatangani sebuah dokumen yang baru selesai diperiksanya terhenti. Dia berpikir. Lima menit berlalu dan dia mengeser tumpukkan file di hadapannya ke pinggir meja kemudian berdiri dari kursinya. Dia memutari meja panjang itu dan berhenti di depan Jaekyung. Bagian belakang tubuhnya menyandar ke sisi meja dan tangannya bersidekap di depan dada sambil mengamati wanita itu.

"Begini Ha Jae Kyung .. ," Junpyo menekan huruf demi huruf yang keluar dari mulutnya. "Saya rasa hubungan kita berakhir sampai di sini." jelasnya tegas.

Ekspresi Jaekyung langsung berubah. Mulutnya mengangga dan wajahnya berangsur-angsur pucat. "Mwo .... ?" tanyanya tak percaya. Suaranya bergetar hebat. "Me .. ngapa? .. A .. apa salahku?"

"Tidak ada!" sahut Junpyo datar. "Anggap saja aku yang bersalah. Aku yang bosan padamu....," lanjutnya. "Tapi .. saya rasa kamu tahu aku, Ha Jae Kyung. Bukan. Maksudku hampir semua tahu aku. Dunia tahu aku. Hubungan-hubunganku dengan wanita-wanita lain tidak pernah berlangsung lama. Aku tidak menganggap serius hubungan-hubungan tersebut karena memang belum ada hubungan yang mampu memberiku keyakinan lebih jauh .. "

"Tapi saya bisa ... ," kata Jaekyung. Dia meraih tangan Junpyo. "Beri saya waktu dan kesempatan. Akan kubuktikan padamu, Junpyo-a .. ," dia memohon pada Junpyo.

Pemuda itu segera menarik kembali tangannya. "Miane, tapi saya tidak punya waktu itu .. , " dia berbalik--bermaksud kembali ke kursinya.

"Karena agashi .. "

Perkataan Jaekyung menghentikan langkahnya. Junpyo memutar tubuh kembali ke Jaekyung. "Apa maksudmu?"

"Karena agashi, kamu memutuskanku?"

"Tidak ada hubungannya dengan Jandi!"

Jaekyung tersenyum kecut. "Benarkah? .. Saya tidak berkata orang itu Jandi agashi. Tapi lihat, kamu langsung berkesimpulan itu dia!" lanjutnya sinis. "Kamu masih ingin saya mempercayai wanita itu bukan agashi? Sungguh menyedihkan!"

Junpyo terbatuk kecil. "Terserah apa pendapatmu!"

"Pemuda sialan!".

Tiba-tiba Jaekyung meraih pajangan dari kristal yang terletak di atas meja dan mengarahkannya kepada Junpyo. Reflek pemuda itu menahan lengan wanita yang kalap itu dengan tangannya.

"Tidak. Tidak, Jaekyung-a!" Junpyo mengelengkan kepalanya. "Jangan lupa saya pemegang sabuk hitam taekwondo." katanya sambil mencibirkan bibir ke atas. Dihempaskannya tangan wanita itu dari tangannya sehingga pajangan dalam genggamannya terlempar ke lantai. Pecah berkeping-keping. "Jadi ini sifatmu yang sebenarnya?" tanya Junpyo tajam.

Jaekyung meraba tangannya yang terasa sakit. Memar warna biru tercetak jelas dari hasil tekanan Junpyo di situ. Dia meringis tapi tidak menanggis. Wajahnya berubah keras dan matanya bersinar liar.


"Benar!" teriaknya. "Karena itu jangan menguji kesabaranku Goo Jun Pyo-ssi. Saya mungkin melakukan sesuatu yang tidak kamu bayangkan!" ancamnya dengan sikap menantang.

"O ya?" mata Junpyo memancarkan sinar mata kucing. "Coba kita lihat apa yang bisa kamu lakukan terhadap pewaris Shin Hwa." wajahnya condong ke depan. Hampir menyentuh wajah Jaekyung. "Jangan lupa. Shin Hwa yang kita bicarakan. Perusahaan raksasa yang bisa menjatuhkanmu kapan saja .. ," katanya sinis.

Jaekyung menarik wajahnya. Dia tidak terlihat gentar. Ekspresinya tidak jelas, antara benci dan ... keinginan melakukan lebih, misalnya ... membunuh.

"Jangan menyesal, Goo Jun Pyo."

"Silahkan!" Junpyo mengibaskan tangan ke depan cuek. Habis sudah kesabarannya bermain-main dengan wanita ini. Dia bergerak dari posisinya. Berjalan ke belakang meja dan menjatuhkan diri ke kursi. Dia menarik dokumen yang tadi dihadapinya dan mulai memberi perhatian terhadap dokumen tersebut, tanpa mempedulikan Jaekyung yang menatap tajam padanya.

"Cool Goo Jun Pyo-ssi!!" seru Jaekyung.

Junpyo tidak mengangkat wajahnya. Bibirnya tertarik ke atas. Kemudian dia melanjutkan penandatanganan terhadap dokumen-dokumen di atas meja kerjanya.

Bukkkk ..... dia mendengar pintu ruang kerjanya ditutup dengan keras. Wajah Junpyo kembali menyeringai.

Dia mengalihkan perhatian ke telepon di atas meja. Dipencetnya nomor sekretaris pribadinya.

"Ada yang bisa saya bantu, pak direktur?" Suara Gae In terdengar di telepon.

"Jangan biarkan Ha Jae Kyung-ssi berkeliaran di sini lagi! Saya tidak ingin melihatnya!" perintahnya tegas.

"Ne pak direktur .. "

tuttt ... sebelum wanita itu berkata lebih lanjut, Junpyo mematikan sambungan telepon tersebut.

Tubuhnya dihempaskan ke sandaran kursi dan pen di tangannya dilempar begitu saja ke atas meja. Dia memutar kursi itu ke belakang, menghadap ke pemandangan laut yang terpampang di luar. Pikirannya saat itu sangat pekat. Bukan karena Jaekyung. Tidak. Dia tidak peduli dengan wanita itu. Persetan dengan apa yang akan dilakukannya!

"Wanita berengsek! Pergi tidak bilang-bilang .." teriak Junpyo tiba-tiba.

Kaki kirinya mengarah keras ke tembok pendek di bawah kaca besar yang melintang di sepanjang ruangan itu, bersamaan dengan pikirannya yang melayang kepada Jandi.

***** )()()()( *****


Sementara itu, di lobi depan gedung Shin Hwa ..

Jaekyung keluar dari lift dengan tampang merah padam. Matanya lurus tertuju ke depan, seakan siap menyantap apa saja yang ada dihadapannya.

"Kamu akan menerima pembalasanku Goo Jun Pyo-ssi .. " desisnya. "Tidak. Tidak seperti yang kamu bayangkan!" Dia mengeleng perlahan. Cengiran segera menghiasi wajahnya. "Bukan kamu targetku." lanjutnya.

Kemudian suaranya berubah dingin. "Kamu akan merasakan bagaimana rasanya sakit hati bila wanita yang kamu sayangi dilukai!!"

Jaekyung meneruskan langkah ke pintu depan. Tidak berpaling dan tidak berhenti walaupun beberapa pasang mata meliriknya keheranan.

"Jangan menyalahkanku Junpyo-a!" dia terus berkomat-kamit sendiri. "Kamu yang memaksaku. Jika mau menyalahkan, salahkan dirimu sendiri! Karena keangkuhan dan keegoisanmu, seorang gadis tidak bersalah mungkin akan ... mati dengan mengenaskan!"
 
***** )()()()( *****


Kang Hae Jeang memasuki kantornya dengan diiringi Mr. Jung. Tas tangan bermerek Blueberry dilempar begitu saja ke ujung meja. Dia menjatuhkan diri di kursi dan menghadapi Mr. Jung.

"Bagaimana?" tanyanya datar.

"Sudah diselidiki, Hae Jeang-nim .. ," lapor Mr. Jung sambil menyodorkan map file yang dipegangnya. "Ha Jae Kyung-ssi mempunyai sisi gelap dalam hidupnya .. "

Hae Jeang mengambil map file itu dan membukanya. "Sisi gelap? Maksudmu?"

"Jaekyung-ssi berasal dari keluarga biasa .. ," sambung Mr. Jung. "Ayahnya seorang buruh rendahan di salah satu pabrik rokok yang berada di sudut kota Jeonju. Seorang perokok berat dan peminum. Seorang pecundang yang dimasukkan ke dalam penjara gara-gara pembunuhan beruntun yang dilakukannya terhadap sesama rekan kerjanya .. "


Ha Jeang mengangkat wajah dari map file di tangannya. Alisnya berkerut. "Maksudmu ... dia berasal dari keluarga seperti itu?"

Mr. Jung mengangguk. "Ne, Hae Jeang-nim .. "

Wanita itu terdiam untuk beberapa saat. Dia berpikir sejenak, sebelum berbalik lagi ke Mr. Jung.

"Lalu bagaimana dengan ibunya?"

Mr. Jung terlihat ragu-ragu. Tubuhnya bergerak sedikit dan kelihatan tidak wajar.

"Mr. Jung!" tegur Hae Jeang.

"Sosoengheyo, Kang Hae Jeang-nim .. ," pria itu kelihatan bersalah. Dia membungkuk dalam-dalam, kemudian melanjutkan laporannya. "Ibunda Jaekyung-ssi seorang ibu rumah tangga biasa. Dia terlahir dari tiga bersaudara, dan .. ," Mr. Jung menghentikan perkataannya.

"Dan?" wanita berwibawa itu memandanginya tajam-tajam. "Dan apa?"

"Semuanya mengidap penyakit gila warisan dari ibunya .. ." Mr. Jung menahan nafas setelah memberikan laporan ini.

Tangan Hae Jeang yang bergerak meraih kertas di atas meja terhenti. Dia menengadah ke pria itu. "Penyakit gila?"

"Ne madam Kang .. "  jawab pria itu. "Ibunya Jaekyung-ssi dimasukkan ke rumah sakit jiwa setelah penyakitnya kumat akibat pembunuhan beruntun yang dilakukan suaminya. Mungkin wanita itu terlalu syok. Dan dia tidak keluar lagi setelah itu. Dia meninggal di rumah sakit jiwa itu."

Ekspresi wanita itu berubah. Lebih serius, dan kerutan di wajahnya semakin dalam. "Dari mana Junpyo mengenal gadis dengan latar belakang seruwet dia?"

Mr. Jung kembali membungkukkan badannya. "Saya rasa dari Jandi agashi, Hae Jeang-nim ..," katanya. "Gadis itu bekerja di Korean News dan doronim sering bermain ke sana .. "

Hae Jeang mengangguk. "Ya. Junpyo selalu mencari Jandi di kantornya ..," dia mengumam. "Lalu bagaimana dengan hubungan mereka sekarang?" tanyanya lagi pada pria berpenampilan sempurna di hadapannya.

"Maksud anda, hubungan doronim dengan Jandi-ssi?"

Hae Jeang mengeleng tidak sabar. "Anyi Mr. Jung! Maksudku Junpyo dan gadis tak waras itu!"

"O .. " Mulut Mr. Jung terbuka. "Sosoengheyo Hae Jeang-nim ..," katanya dengan perasaan bersalah. "Menurut penyelidikanku, doronim sudah putus dari nona Ha .. "

"Jeongmal?" alis Hae Jeang bergerak ke atas. "Apa kabar ini bisa dipercaya?"

Mr. Jung mengangguk. "Ne .. "

Hae Jeang menghembuskan nafas perlahan. Badannya menyandar kembali ke sandaran kursi. Tubuhnya terasa remuk. Benar-benar hari yang berat hari ini.

"Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Geum?" tanyanya pelan pada Mr. Jung.

"Mereka masih berada di Jepang madam Kang. Begitu juga dengan Jandi agashi."

Tubuh Hae Jeang menegak. "Jadi Jandi juga berada di Jepang?"


"Ne .. " Jawab Mr. Jung. "Jandi agashi dibawa ke Jepang oleh Nyonya Geum, sehari setelah kecelakaan yang dialaminya."

"Apa Junpyo mengetahuinya?" selidik Hae Jeang.

"Tidak." Pria itu mengelengkan kepalanya. "Doronim tidak tahu. Seperti perintah anda, madam Kang--sedapat mungkin Jandi agashi dipisahkan dari doronim sebelum rencana yang berhubungan dengan perjodohan mereka terlaksana .. "

"Bagus!" Hae Jeang tersenyum samar. "Jadi kapan Tuan dan Nyonya Geum kembali?"

"Besok ..," jawab pria itu hormat. "Rencana makan malam dan segala sesuatunya sudah dipersiapkan."

Hae Jeang mengangguk. Matanya dipejamkan dan kepalanya menengadah ke langit-langit ruangan.

"Anda boleh pergi dari sini, Mr. Jung .. ," perintahnya berupa desahan panjang.

Mr. Jung membungkukkan badannya. Setelah mengamati wanita itu untuk terakhir kalinya, dia keluar dari ruang kantor itu. 

***** )()()()( *****

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun