Kali ini aku cuman bisa kasih
spoiler . Laptopku rusak. Komputer dibajak sama kakak secara sepihak. Dan mendadak aku juga kena WB syndrom. Jadi untuk sementara aku menyatakan diri HIATUS selama........ err- beberapa bulan. Mungkin.
Ara cilik menatap tangan mungil itu dengan tajam. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyambut uluran tangan itu. Anak berirish cokelat itu mendesah. Ia mengambil alih kerja tangan kanan Ara cilik dan kemudian disatukan dengan tangan kanan mungilnya yang sedari tadi terjulur.
"Kata omma, kita tidak boleh membiarkan orang lain menunggu terlalu lama. Namaku David. David Zavi. Siapa namamu?", tanya David sambil menggoyang-goyangkan tangannya (dan tangan Ara)
Ara terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya ia mau menjawab pertanyaan David. "Ara", jawabnya singkat.
David mengerutkan keningnya. "Hanya Ara? Namamu hanya Ara? Tidak ada tambahan lagi?", tanya David dengan suara polosnya.
Ara cilik tidak menjawab. Tidak pula mengangguk dan menggeleng. David memonyongkan bibirnya mendapati perilaku dingin Ara.
"Kau benar-benar tidak suka bicara ya? Kata omma..."
"Stop it. Aku tidak punya omma. Tidak ada omma yang sering menasehatiku tiap hari. Tidak ada omma yang selalu mengajarkanku hal-hal yang baik", kata Ara memotong perkataan David.
David terkesiap. Ia melepaskan pegangan tangannya dan mundur satu langkah. Tatapan Ara begitu mengintimidasinya. Ara yang merasa sudah tidak punya keperluan apa-apa lagi, langsung berbalik. Ia menuju pintu. Belum sempat tangan mungilnya menyentuh handle pintu, ia berbalik lagi.
"Kau beruntung.... Zavi", ujarnya pelan. Nyaris pelan hingga David yang berada diseberang ruangan tidak mendengar perkataannya sama sekali.
Dengan sekali hentakan pintu, tubuh mungil Ara cilik menghilang dibalik pintu. Meninggalkan David yang melongo.
"Apa yang dikatakannya tadi?"@shanti : ya gak mungkin lah david ma ara bunuh2an. Ehmehman yang ada
buat semua, gue mau minta pendapat. Masa sih chap satu sadis banget? Aku malah ngerasa gak puas sama chap satu. Gak berasa sadisnya.