Aku mempertajam pandangan pada Raymond. Dia tetap diam di tempatnya. Aku bergerak, menyambar ponsel tersebut dari tangannya.”Hello Angel .. ,” sapaku cukup keras.Terdengar nada tercekat dari ujung telepon. ”Ada apa?” tanya Angel. ”Mengapa suaramu sekeras ini?”“O nothing.” Sahutku malas. “Hanya Raymond membuatku kesal.”Tidak terdengar suara dari seberang.“Hello! Are you still there?” tanyaku tak sabar. Mengapa orang-orang ini jadi plin plan begini?“Yea … ,” jawab Angel tak jelas. ”Jadi Raymond ada di situ? Bersamamu?”“Iya.” Balasku sambil melirik Raymond. Pemuda itu segera memalingkan wajahnya sehingga alisku berkenyit lagi.“Apa kamu ingin menyapanya?” tawarku pada Angel.”Tidak!” jawab Angel cepat dan tegas.