Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 101244 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: *When a Gay met a Young Mom (in love again)*
« Reply #105 on: January 27, 2010, 08:43:24 am »
wahhh parah nih semuanya  [hammer] [hammer3] [head break] sadar bo sadar  [hmpfh] [hmpfh] .. biar semuanya ga pd stress gw post sekrg deh, mianhe ya buat segala kekurangannya  [smiley-dance013] [smiley-dance013]


CHAPTER 2


SONG OF THE DAY

SCENE ONE
Hari pertama kehidupan Minho, Hyesun dan Kang San .....
Minho sudah memejamkan matanya lagi setelah memberi perkataan ketus ke Hyesun. Karena hanya tidur selama  empat jam dari kemarin pagi, membuat seluruh badannya terasa remuk. Ditambah pikiran yang penat, dia dapat tidur dengan pulas.

Hyesun memperhatikan Minho selama beberapa menit. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang dilakukan pemuda ini sehingga kelihatan begitu lelah. Dari kemarin wajah yang terpoles sempurna itu kelihatan tidak bertenaga. Yang dilakukannya hanya tidur dan tidur saja. "Apakah dia tidak perlu melakukan pekerjaan lain selain malas-malasan seperti ini ? ..", umpat Hyesun dalam hati.


Lamunan Hyesun buyar ketika sebuah tangan mungil yang hangat menyentuh tangannya. Hyesun berpaling ke samping. Kang San sedang menatapnya dengan sepasang mata polosnya yang bening.
"Omma ... hyung itu siapa?"

Hyesun langsung tertegun mendengar pertanyaan Kang San.
"Hyung ???", katanya, mengulang pertanyaan Kang San. Perlahan pandangannya kembali dialihkan ke Minho yang tertidur di kursi bundar dekat pintu.
"Dia hanya orang asing yang tinggal bersama kita, San-aaa .... jadi kita tidak perlu memperdulikannya .... ", jawab Hyesun kemudian.

Kang San mengedipkan matanya berulangkali. Dia kelihatan berusaha mencerna perkataan ommanya. Dan tentu saja untuk anak seusianya, perkataan itu terlalu rumit. Dia hanya mengerti perkataan Hyesun yang pertama, bahwa hyung ini akan tinggal bersama mereka. Perlahan anak itu mendekati Minho. Hyesun mengerutkan alisnya. Apa sebenarnya yang akan dilakukan Kang San?

Kang San sampai di samping Minho. Diperhatikannya wajah Minho dengan seksama. Kemudian tangan mungilnya terulur, menyentuh tangan Minho. Hyesun sangat terkejut. Dengan cepat dia berlari ke Kang San dan menariknya ke belakang.

"Apa yang kamu lakukan?", tanya Hyesun dengan suara mendesis. Dia berusaha menekan suaranya supaya tidak membangunkan pemuda yang sedang tertidur pulas itu.

Sepasang mata Kang San terbelalak lebar. Dia sangat terkejut dengan reaksi ommanya yang besar.
"Omma ..... ", suara Kang San sangat pelan. Dia terguncang sekali dengan sikap Hyesun.

"Ahh sudahlah ... lain kali jangan begitu lagi ... ", akhirnya Hyesun menyerah dengan pertanyaannya setelah melihat ketakutan Kang San. Diliriknya jam tangan mungil yang melingkar di tangan kirinya.
"Sekarang kita sarapan di luar ..... omma sudah membuat janji dengan kepala sekolah 'Happy Heart Kindergarden',  ... San akan sekolah di sana .. sehari penuh, dengan begitu omma bisa bekerja dengan tenang tanpa perlu khawatir San tidak ada yang rawat ... ", Hyesun menarik tangan Kang San, bermaksud mengajaknya keluar dari rumah. Tapi anak kecil itu tidak bergeming di tempatnya.

Hyesun memperhatikan putranya dengan seksama. Sepasang mata bundar itu memerah. Hyesun menghembuskan nafasnya. Anak ini terlalu sensitif. Gampang sekali terpengaruh dengan perkataan keras seseorang. Karena itu pula dia pindah ke sini. Kang San sedikit berubah begitu memasuki lingkungan sini. Dia lebih ceria dan enerjik.
"Miane, San-ahhh ... omma tidak bermaksud bersikap kasar padamu ... jeongmalmiane ... ", kata Hyesun pelan.

"San hanya ... hanya ingin berkenalan dengan hyung ... omma .. bilang .. hyung akan tinggal di sini .. dengan kita ... ", Kang San berkata tersendat-sendat. Penjelasan yang tadi diminta Hyesun dikeluarkannya juga.

Hyesun tertegun. Ternyata alasan itu yang membuat Kang San melakukan perbuatan yang dilarangnya. Dan Kang San tidak bersalah. Apa yang dikatakannya itu masuk akal. Dia tidak mengetahui apa-apa. Pikirannya sangat sederhana. Karena tinggal bersama, maka mereka harus saling mengenal. Jadi apa yang salah dari tindakannya itu? Mengapa belum apa-apa, dia sudah semurka itu? Hyesun kemudian berlutut menghadapi Kang San.
"San-ahh ... sekali lagi omma minta maaf padamu ............. Sanku tidak bersalah .. omma yang salah .. omma tidak seharusnya marah ke San .... benar kata San ..., kita tinggal bersama jadi kita harus saling mengenal ...... tapi, ... orang ,, ehhhh maksud omma, hyung ini mungkin tidak ingin mengenal kita ...... mungkin dia akan merasa terganggu dengan kehadiran kita .......... jadi lain kali San jangan berbuat begitu lagi .. araso?"

Kang San mendengarkan penjelasan Hyesun dengan seksama. Kemudian dia mengangguk. Hyesun tersenyum lembut. Sekilas dia melirik pemuda di sampingnya. Orang itu masih tidur dengan sangat lelap. Sekali lagi Hyesun menghembuskan nafasnya. Setelah berdiri dari tempatnya, dia dan Kang San keluar dari ruangan itu dengan bergandengan tangan.

**********


SCENE TWO
Keesokan harinya, pukul 06:12 sore ............
Hyesun berada dalam mobil Kim Joon, majikan sekaligus dokter pemilik klinik 'Kim's Health', di mana Hyesun bekerja sebagai perawat. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Hyesun.

Perkenalan antara Hyesun dan Joon terjadi dua tahun yang lalu. Ketika itu Kang San baru berusia satu tahun. Setelah setahun melepas semua kehidupannya demi Kang San, Hyesun akhirnya mengambil keputusan untuk memulai pekerjaan yang belum pernah dilakukannya.

Tapi setelah berpuluh surat lamaran kerja dikirim, tidak ada satupun yang mendapat balasan. Hyesun sudah putus asa waktu itu. Dia sangat tertekan ketika memikirkan nasibnya dan Kang San, jika sampai dia tidak berhasil mendapatkan pekerjaan juga. Pada saat itulah dia bertemu dengan Joon. Dia hampir saja mengalami kecelakaan ketika menyebrangi jalan raya dengan pikiran menerawang. Joon yang menariknya ke belakang. Joon yang menyelamatkannya. Dan Joon pula yang memberi kesempatan kepadanya untuk belajar di klinik miliknya tanpa memperdulikan pengalaman yang tidak dimilikinya.

Dalam waktu dua tahun ini banyak yang dipelajari Hyesun. Tidak hanya pengalaman di bidang pengobatan, tapi juga bagaimana caranya menjalani hidup. Joon adalah sosok seorang oppa yang sangat penting baginya. Hyesun tidak dapat membayangkan bagaimana hidupnya tanpa kemunculan Joon. Mungkin dia masih terdampar, terombang-ambing di tengah jalan bersama Kang San. Membayangkan ini sudah membuat Hyesun ngeri.

Sepuluh menit kemudian, setelah meninggalkan daerah perkotaan, Mercedes hitam yang dikendarai mereka memasuki jalan lebar yang diapit lapangan berumput di kedua belah sisi. Joon mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Keningnya berkerut.
"Kamu .. pindah ke sini?", tanyanya dengan nada tidak percaya.


Hyesun mengangguk. Senyum manis tersungging di bibir mungilnya.
"Iya ... di sini sangat tenang .. cocok buat perkembangan San .... "

"Di sini sangat sepi,  ... apa tidak berbahaya buat seorang wanita muda sepertimu?", Joon mengajukan pertanyaannya lagi. Pandangannya masih terarah keluar jendela mobil.

"Ha .. haa.. oppa jangan khawatir, di sini sangat aman kok ... lagipula San sangat menyukai tempat ini .... oh ya, oppa bisa menghentikan mobilnya di sini .. saya harus menjemput San dulu, dia sekarang masih berada di sekolah .... ", kata Hyesun sambil menunjuk ke depan, yang letaknya tidak terlalu jauh dari 'Happy Heart Kindergarden'.

Joon menghentikan mobilnya seperti permintaan Hyesun. Kemudian mereka keluar dari mobil.
"Oppa tidak perlu mengantarku .. saya bisa pulang sendiri dengan San .... ", kata Hyesun sambil memberi komando supaya Joon kembali ke mobilnya.

"Kamu bermaksud mengusirku ya, Hyesun-a?", Joon mengeluarkan pertanyaannya.

Hyesun sangat terkejut mendengar perkataan Joon. Bibirnya tergagap. Tidak mampu bersuara. Joon langsung terbahak melihatnya.
"Ha ... ha .. ha.. oppa cuma bercanda kok .. sudah .. sana jemput San ... , oppa akan menunggumu di sini .. hari sudah gelap .. biarkan oppa mengantar kalian sampai ke rumah ... "

Hyesun tersenyum perlahan. Joon bercanda? Setelah dua tahun mengenalnya, Hyesun tetap tidak bisa membedakan mana perkataannya yang bercanda dan mana yang serius.

***********


SCENE THREE
Hyesun berlari ke sekolah Kang San, diikuti Joon dari belakang. Tujuh menit kemudian, mereka bertiga sudah dalam perjalanan ke rumah yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari situ. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka. Kang San diapit di tengah. Sepasang tangannya yang mungil berpegangan di tangan Joon dan Hyesun. Kang San memang sudah sangat akrab dengan Joon. Mereka sering berpergian bersama di hari libur. Joon sangat menyayangi Kang San dan Kang San juga sudah menganggap Joon seperti keluarga sendiri.

Mereka bertiga melangkah dengan lamban sambil menikmati pemandangan indah di sekitar tempat itu. Angin bertiup lembut, menerbangkan benih-benih rumput ke udara. Mata Hyesun terpejam perlahan. Tercium olehnya bau rumput segar. Sayup-sayup telinganya menangkap kicauan burung di kejauhan. Hyesun menghembuskan nafas perlahan. Hatinya sangat tenang sore ini. Sudah lama dia tidak sesantai seperti sekarang.

Tapi ketenangannya langsung terganggu ketika seorang pemuda berpostur tinggi melintas di sampingnya. Orang itu berpaling kearah mereka, tanpa menghentikan langkahnya yang lebar. Senyuman mengejek terlukis di wajahnya yang dipoles kosmetik, sedangkan tangan kanannya menjinjing sebuah kantong kertas besar. Kening Hyesun berkerut. Anak muda itu lagi? Dua hari sudah mereka tinggal bersama tapi Hyesun masih belum mengetahui nama dan apa yang dikerjakannya dengan dandanan seronok seperti itu.


Ketika berangkat dari rumah pagi ini, Hyesun tidak melihatnya di ruang tamu. Dia tidak tahu pemuda itu belum pulang atau sudah pulas di kamarnya sendiri. Hyesun tidak perduli. Dan dia hampir saja melupakan keberadaan pemuda itu, jika dia tidak muncul lagi di hadapannya sekarang.

Minho melewati ketiga orang yang seperti keluarga kecil bahagia itu dengan senyum yang masih tersungging di bibir. Dia baru saja pulang dari membeli makanan di sebuah restoran kecil di pusat kota. Hari ini dia tidak punya semangat memasak. Dan bagi yang mengenal Lee Min Ho, mereka tentu akan keheranan mengetahui ini. Minho dikenal sebagai orang yang sangat pemilih dalam soal makanan. Dia tidak pernah mau makan makanan luar. Dia selalu memasak makanannya sendiri. Tapi hari ini lain. Minho juga tidak tahu mengapa. Setelah tinggal bersama wanita dengan satu anak ini, semua semangatnya hilang.

"Siapa orang itu? ... dandanannya ..... hmmmm ... dia sangat aneh ...., tidak berbahayakah?", Joon bergumam lirih. Dahinya berkerut dan pandangannya terarah lurus ke punggung Minho yang hampir menghilang tertutup kabut malam.

"Tidak!! .. oppa jangan khawatir, dia tidak berbahaya kok ........ dia ... hmm ... dia tetangga kami .... dandanannya memang aneh .. tapi .. saya yakin dia tidak berbahaya ......... ", jawab Hyesun perlahan. Dia berusaha menekankan perkataannya supaya Joon mempercayai semua itu, walaupun dia sendiri tidak yakin apa yang dikatakannya itu benar atau tidak.
"Sampai di sini saja oppa mengantar kami .............. rumah kami hanya tinggal beberapa meter di depan sana .... ", lanjut Hyesun lagi.

Joon menatap lurus ke mata Hyesun.
"Kamu tidak bermaksud mengundangku ke rumah barumu?", tanyanya.

Hyesun menjadi serba salah. Dia ingin melakukannya. Tapi dengan pemuda itu di sana, dia tidak yakin dapat melakukannya.
"Miane oppa .. tidak hari ini ... saya sangat capek dan saya yakin San juga .. jadi lain kali saja ya? .. saya berjanji akan menyiapkan makanan istimewa buat menyambut kunjungan oppa ... "

Untuk beberapa saat Joon memperhatikan sikap Hyesun. Akhirnya dia menyerah ketika melihat keteguhan hati Hyesun. Tidak ada gunanya dia memaksakan kehendaknya karena dia mengenal betul siapa Hyesun. Sekali dia mengambil keputusan, tidak ada yang dapat merubahnya.
"Baiklah .. jaga dirimu baik-baik .. jika ada masalah jangan lupa beritahu oppa ... oppa akan selalu berada di sisimu ... ", Joon menepuk pelan bahu Hyesun.

Hyesun menganggukkan kepalanya. Bibirnya tersenyum manis. Kemudian dia mengangkat tangannya, memberikan lambaian perpisahan ke Joon. Hal yang sama dilakukan oleh Kang San. Joon juga tersenyum. Walaupun perasaannya tidak enak, tapi dia melangkahkan kakinya juga, meninggalkan mereka.

*************


SCENE FOUR
Hyesun memasukkan kunci ke lubang kunci pintu depan, kemudian memutarnya. Pintu terbuka dalam satu dorongan. Hyesun memasuki ruangan diikuti oleh Kang San. Minho yang sedang asyik dengan makanan di meja makan segera berpaling ke arah mereka. Sesaat pandangan dia dan Hyesun bertemu. Bibir Minho langsung tertarik keatas membentuk senyum ejekan. Setelah itu perhatiannya kembali lagi ke makanan di depannya.

Hyesun mendengus perlahan. Digandengnya tangan Kang San, bermaksud mengajaknya kembali ke kamar. Tapi perhatian Kang San sejak tadi terpusat ke Minho. Dia mengibaskan tangan Hyesun yang mengandengnya, kemudian berjalan kearah Minho.

"Hyung makan apa?", tanyanya dengan suara bening yang sangat khas.

Minho langsung tertegun di tempat. Sepasang mata bulatnya yang terhias eyeliner berkedip berulang kali. Diperhatikannya anak kecil yang berada dihadapannya itu dengan tampang polos dan bodoh. Dia tidak pernah menyangka Kang San akan menyapanya seperti ini.


"Na ... si .... da.. ging .. sa .. sa .. pi ...", jawabnya terbata-bata.

Hyesun juga tidak kalah terkejutnya dengan Minho. Sepasang matanya yang besar terbelalak lebar. Kekagetan  membuatnya tidak berkutik di tempat.

"San juga ingin makan nasi daging sapi ..... ", kata San. Perhatiannya terpusat ke makanan di hadapan Minho.

Minho semakin kehilangan kata-katanya. Bibirnya bergerak berulangkali tanpa ada suara yang terucap.

"San-aaa .... kembali kesini ..... omma ... omma akan masak raeman untukmu .... ", perintah Hyesun dengan suara serak. Dia masih terguncang dengan apa yang dilakukan Kang San.

Kang San berbalik ke Hyesun. Dia tidak bergeming dari tempatnya.
"Tapi San ingin makan nasi daging sapi ...."

Hyesun sangat terpukul melihat kekerasan Kang San. Mulutnya terbuka dan suaranya terdengar keras di telinga ketika mengeluarkan perkataan selanjutnya.
"Bagaimana omma bisa membuat nasi daging sapi untukmu sekarang ... jika kamu ingin makan makanan itu, omma akan membuatkannya besok .. malam ini .. malam ini kita makan raeman ... !! "  

"San ingin nasi daging sapi .... ", Kang San masih berkeras dengan keinginannya. Airmatanya mulai menitik melihat kemarahan Hyesun.

"Mengapa kamu berteriak seperti itu? .. omma macam apa kamu ini???  ..... kalau dia ingin makan nasi daging sapi, biarkan saja!! .... kemarilah anak kecil ... kamu boleh makan ini bersamaku ... ", Minho yang sudah pulih dari keterkejutannya melambai ke Kang San.

Anak itu memperhatikan Hyesun sesaat, seperti meminta persetujuan dari ommanya itu. Hyesun tidak bereaksi. Kemarahannya yang hampir meluap tertahan di dada. Tampang Kang San sangat memelas.
"Terserah kamu saja ... omma tidak perduli lagi ... ", Hyesun berbalik ke kamar tidurnya dengan sepasang tangan terkepal erat.

Kang San tersenyum gembira. Sekarang perhatiannya utuh terpusat ke Minho. Sesaat Minho tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Diperhatikannya anak kecil itu dengan seksama.
"Ehemmm .. siapa namamu?", tanyanya sungkan.

"Kang San ... ", jawab Kang San.

"Kang San  hmmmm .... oh ya, saya dengar ommamu memanggilmu San ... jadi mulai sekarang saya  memanggilmu San saja .... kenalkan namaku Lee Min Ho .. kamu boleh memanggilku Minho .. atau .. apapun itu .. terserah kamu ... ", kata Minho dengan suara khasnya yang serak dan dalam.

"Hyung ... ", kata Kang San cepat.

"Hyung??", dahi Minho agak berkerut mendengar panggilan ini. Tapi begitu melihat senyum Kang San, dia langsung tertawa terbahak.
"HA .. HA.. HA .. ya, hyung ... terserah kamu saja ... kemarilah .. duduk di pangkuan hyung ... "


Minho mengangkat Kang San ke pangkuannya. Senyumannya yang mampu meluluhkan hati semua insan di dunia, baik pria maupun wanita, tersunging di wajahnya yang tampan. Beberapa saat kemudian, dua orang dengan perbedaan mencolok itu mulai menikmati makanan yang terhidang di hadapan mereka.

**************


SCENE FIVE
Keesokan harinya, Hyesun tersentak dari tidurnya. Diliriknya jam weker yang terletak di meja samping ranjang. Jam 05:30. Masih sangat pagi. Hyesun memejamkan matanya kembali. Tapi setelah sepuluh menit, dia menyerah. Pikirannya sangat jernih. Dia sudah benar-benar tersadar dari tidur.

Hyesun menyibakkan selimut yang menutupi badannya. Kang San masih tertidur pulas di sampingnya. Perlahan Hyesun turun dari ranjang kemudian keluar dari kamar. Samar-samar dia mendengar bunyi air yang disiramkan dari kamar mandi yang berada di sebelah kamar tidurnya. Hyesun mendengus. Pasti pemuda itu!!!

Hyesun berjalan ke ruang tamu depan. Tubuhnya dihempaskan ke sofa. Kemudian dia menghidupkan tivi. Dia masih bisa bersantai selama sejam karena waktu kerjanya mulai pukul 08:00 pagi. Sedangkan Kang San akan diantar ke sekolah lima belas menit sebelum jam kerjanya itu.

Sepuluh menit lamanya Hyesun menatap semu monitor tivi. Sepagi ini memang tidak ada acara menarik. Akhirnya Hyesun mematikan tivi setelah pikirannya makin ruwet dengan program tivi itu. Bunyi air yang disiramkan di kamar mandi sudah tidak terdengar lagi. Suara 'KLIK' yang cukup keras membuat Hyesun berpaling.

Minho keluar dari kamar mandi. Mata Hyesun langsung terbelalak lebar. Dadanya berdegup kencang. Sepasang pipinya yang putih mulus perlahan memerah laksana buah cherry yang memasak. Minho sekarang berdiri di depannya dengan dada polos yang tidak tertutup selembar benangpun. Dia hanya memakai handuk yang dililitkan di bagian pinggang. Dada itu sangat bidang, dengan otot-otot berlapis yang begitu sempurna. Sedangkan rambutnya basah dan menempel lekat di wajahnya yang tidak terpoles bedak, eyeliner atau apapun. Wajah itu begitu alami. Sangat berbeda dengan penampilan seronok yang biasa dilihatnya.



Minho juga kelihatan sangat terkejut dengan keberadaan Hyesun di situ. Tapi lain dengan Hyesun yang langsung berpaling kearah lain, Minho memandangi Hyesun dengan tampang berkerut.
"Apa yang kamu lakukan sepagi ini?", tanyanya dengan suaranya yang sangat khas.

"Sa ... sa ... ya ... sa .. ya .. tidak .. bisa .. .. terlelap .. kem .. bali ....", jawab Hyesun terbata-bata.

Minho menghembuskan nafasnya, kemudian berkata lagi ...
"Bisakah kamu memandangiku? .... tidak sopan kalau berbicara sambil membelakangi orang seperti itu ... "

Mata Hyesun semakin melebar mendengar perkataan Minho. 'ORANG INI!!! apakah dia tidak sadar ada sesuatu yang salah dengan penampilannya? ..bagaimana mungkin dia menyuruhnya berpaling kearahnya dengan kain minim begitu!!!' Hyesun tetap berdiri dalam posisi semula. Sepasang matanya tertutup rapat.

"HEIIIII!!! KAMU TULI .. YAAAA??", teriak Minho keras.

Dia berjalan dengan langkah lebar kearah Hyesun. Sekarang dia sudah berdiri tepat dihadapan Hyesun. Dahinya berkerut ketika melihat sepasang mata Hyesun tertutup rapat.
"Ada apa denganmu? ...... sekarang saya sudah berdiri dihadapanmu dan sedang berbicara denganmu .. jadi  buka matamu!!", perintah Minho.

Hyesun mengeleng keras. Sepasang tangannya bergerak cepat, menutupi sepasang matanya yang terpejam rapat.


"HEIIIIIII!!!! ..... buka matamu, KATAKU!!!! ", teriak Minho lebih keras lagi. Tangannya bergerak keatas, berusaha menarik tangan Hyesun yang menutupi wajah.

Hyesun berteriak keras. Ketakutan dan guncangan hebat melandanya saat itu juga.
"TIDAKKKKKKKKK!!!! MENYINGKIRLAH DARI HADAPANKU!!!!!"

"Apa yang terjadi denganmu? mengapa kamu kelihatan sangat ketakutan seperti ini!!!  SAYA TIDAK AKAN MEMPERKOSAMU .....!!!", kekesalan Minho langsung memuncak sampai ke ubun-ubun.

Mendengar perkataan Minho ini, Hyesun semakin terpukul. Tanpa sadar sepasang tangannya yang menutupi wajah diturunkan. Sepasang matanya terbelalak sangat lebar kearah Minho. Dan pemandangan di depan membuat perasaan takutnya semakin melangit. Dadanya berdegup kencang.

"AKHHHHHHHHHHHHHH .......!!!!!!!"

Dengan cepat dia mendorong Minho ke belakang, kemudian berlari ke kamarnya. Setelah itu dia menutup pintu kamar rapat-rapat dan memasang kunci dengan tangan bergetar hebat. Dia masih dalam posisi itu ketika suara Kang San terdengar dari belakang.
**************


SCENE SIX
Minho memainkan tabung di tangannya dengan keahlian yang luar biasa. Dilemparkannya tabung itu ke kanan, kiri, belakang dan udara berulangkali. Dikocok dengan kedua tangan. Setelah selesai dituangkannya minuman dengan warna mencolok itu ke beberapa gelas kaca kecil yang tertata di atas meja. Berpuluh pelangan bar '2X' bertepuk tangan riuh dengan pertunjukkannya.


Minho tersenyum kecil. Kelihatan terpaksa. Tapi tidak seorangpun dari pelangan tersebut yang dapat melihatnya, karena mereka sudah terpikat dengan semua pertunjukkan dan senyum Minho yang menawan. Beberapa dari mereka, pria maupun wanita, mengeluarkan keinginannya berkencan dengan Minho.
"Saya sangat sibuk .... ", tolak Minho dengan nada halus.

Mereka sangat kecewa dengan penolakan Minho. Tapi Minho tidak perduli sama sekali. Dia kembali ke pekerjaannya sehingga menyebabkan kumpulan orang-orang itu bubar  dengan tampang kesal.
Melihat kepergian mereka, Minho tersenyum tipis.

"Minho!! .. ada apa denganmu? .... akhir-akhir ini kamu sudah membunuh banyak hati para pengemarmu ...."

Minho berpaling kearah suara itu. Si Won sudah menghempaskan diri di kursi sebelah kanan ujung meja. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama musik yang diputar di bar itu. Minho tidak menjawab. Perhatiannya hanya sebentar tertuju ke Si Won. Waktu selanjutnya, dia kembali memainkan tabung yang sudah terisi beberapa jenis minuman beralkohol.

"Bagaimana taruhan kita, Minho-aa? ... sudah hari ketiga.... apakah kamu sudah memikirkan cara untuk menyingkirkan  ibu muda itu? ....... ingat,,, jika kamu kalah ..  kamu harus berkencan dengan saudaraku .... "

Dahi Minho berkerut. Dia merasa terganggu dengan kehadiran Si Won.
"Taruhan apa? ... apakah saya pernah menyetujui pertaruhan yang kalian sebut itu?"

"Yaaa Hottie .... apa salahnya dengan taruhan itu?", Jess tiba-tiba sudah berada di samping Si Won.

"NOONAAAA!!!", teriak Minho. Untuk kesekian kali dia tidak mengerti mengapa Jess yang biasanya berpikiran dewasa, sampai ikut-ikutan bermain dalam taruhan yang sangat kekanak-kanakan ini.

"Saya ingin melihat bagaimana Lee Min Ho mengatasi wanita yang lain dari dunianya ini  ..... apakah si hottie akan menang atau justru kewalahan !!!!! ....", lanjut Jess. Senyum lebar tersungging di bibirnya.

Minho memandangi dua orang dihadapannya  secara silih berganti. Pikirannya menerawang kembali ke kejadian yang menjengkelkannya tadi subuh. Ibu muda yang aneh. "Bagaimana mungkin dia bersikap seperti benda langka yang tidak pernah terjamah sekali pun?" Mengingat ini Minho mengigit pelan bibir bawahnya.

Si Won dan Jess masih tersenyum simpul melihat kegelisahan Minho. Perlahan Minho mengangkat bahu, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya yang telah berjalan setengah itu.


**************


SCENE SEVEN
Minho sampai ke rumah pada pukul 07:00 pagi. Hari ini dia agak terlambat dari biasanya karena menemani beberapa pelangan tetap '2X' yang berpesta di bar itu. Minho membuka pintu dengan agak tergesa. Badannya sangat lengket dengan bau alkohol dan asap rokok. Dia ingin segera membersihkan diri dari semua kotoran yang menempel di tubuhnya itu.

Pintu terbuka dan ... isak tanggis yang mendirikan bulu roma langsung tertangkap oleh telinga Minho. Untuk beberapa saat Minho terpaku di tempatnya. Beberapa menit kemudian pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan. Dan akhirnya dia mendapatkan asal suara itu.



Ibu muda yang tinggal bersamanya sedang menanggis keras dengan Kang San terpeluk erat dalam dekapannya. Kening Minho berkerut. Dengan langkah lebar dia mendekati Hyesun, dan berusaha mendapatkan jawaban dari penyebab kehisterisan Hyesun.

*************

bersambung ke chapter 3 ~~~~~
« Last Edit: January 27, 2010, 08:48:50 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun