Author Topic: Never Forget You (SPOILER FOR NEXT CHAPTER)  (Read 9349 times)

minsunlover

  • Guest
Never Forget You (Chapter 1)
« on: September 05, 2010, 01:09:21 am »
Never Forget You

Chapter 1


“Kapal ini akan tenggelam” terdengar teriakan seseorang dari kejauhan
“Semuanya, harap segera pindah ke sekoci yang telah kami sediakan” Kali ini sang nahkoda kapal yang berteriak untuk memerintahkan agar semua penumpang kapalnya pindah ke kapal-kapal kecil yang telah ada agar nyawa mereka dapat selamat.
“Hye Sun-aa, ayo kita juga harus segera pindah ke sekoci tersebut” Kata Lee Min Ho kepada tunangannya, Goo Hye Sun. Ia menggenggam erat tangan kekasihnya itu. Di sekeliling mereka terlihat pemandangan yang memilukan dari para penumpang kapal yang berusaha untuk menyelamatkan hidup mereka. Air yang memasuki kapal mengakibatkan lantai dek kapal tersebut menjadi licin sehingga banyak sekali orang-orang yang terjatuh diatasnya.
 “Min Ho…Hye Sun…di sini…” Tiba-tiba mereka mendengar suara Jang Geun Suk. Keduanya menoleh dan melihat Geun Suk yang telah berada di atas sebuah sekoci bersama dengan kedua orang tua Hye Sun melambai-lambaikan tangannya kepada mereka.
“Geun Suk….kami datang” teriak Min Ho kepada sahabatnya itu “Hye Sun, ayo kita kesana” Min Ho memberi perintah kepada Hye Sun. Tetapi saat ia hendak menarik lengan Hye Sun untuk mengajaknya ke sekoci yang telah dinaiki oleh Geun Suk dan kedua calon mertuanya itu, tiba-tiba ia merasakan Hye Sun menahannya. Lee Min Ho pun memutar badannya untuk melihat ke a rah kekasihnya tersebut
“Weo?” Tanya Min Ho dengan nada yang cemas karena memang sebentar lagi kapal yang mereka naiki untuk berlibur bersama ini akan segera tenggelam.
Hye Sun tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan mencondongkan badannya untuk mencium bibir Min Ho dengan lembut dan penuh cinta.
“Apapun yang terjadi nanti, aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Min Ho. Kalaupun seandainya kita tidak bisa selamat dari hal ini, aku sangat bahagia karena bisa mencintai dan dicintai oleh pria sepertimu” Kata Hye Sun kepada Min Ho. Lalu ia pun memeluk erat tubuh Min Ho seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi.
Min Ho tidak mampu berkata-kata. Sebenarnya dalam hatipun ia berpikir bahwa mungkin mereka memang tidak dapat selamat dari tragedy ini. Tapi ia tidak boleh menyerah. Ia harus tetap kuat dan melindungi Hye Sun apapun yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan bahaya sekecil apapun menimpa Hye Sun, karena baginya Hye Sun adalah segalanya.
“Jangan bodoh, kau tahu kan kalau aku tidak akan mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kita akan selamat, Hye Sun-aa…percayalah padaku” Ucap Min Ho untuk menenagkan hati tunangannya.
“Min Ho….Hye Sun…apa yang kalian lakukan disana? Ayo cepat kemari…!!!!” kali ini terdengar teriakan ayah Hye Sun dari dalam sekoci.
“Ne, ahjussi!!!” jawab Min Ho “Ayo kita segera kesana, sayang..” lanjutnya.
Hye Sun mengangkat kepalanya dan tersenyum sekali lagi kepada Min Ho. Sebuah senyuman yang sangat manis sampai-sampai membuat jantung Min Ho nyaris berhenti berdetak saking terpesonanya ia pada senyuman putrid salju-nya ini. “Saranghae, Min Ho-aa”
Tanpa buang-buang waktu lagi, Min Ho segera menarik tangan Hye Sun untuk menuju ke arah sekoci yang telah ditumpangi oleh kedua orang tua Hye Sun dan juga Geun Suk. Hanya beberapa langkah lagi mereka akan mencapai sekoci tersebut ketika tiba-tiba  ada seorang anak kecil yang terjatuh di depan Min Ho. Secara otomatis Min Ho melepaskan tangannya yang tengah menggandeng tangan Hye Sun tersebut untuk membantu anak kecil tersebut berdiri dan memberikannya kepada ibunya yang berada tak jauh dari sisi mereka.
“Tunggulah disini, Hye Sun-aa. Aku akan segera kembali” kata Min Ho kepada Hye Sun yang kini berdiri di pinggiran dek kapal. Di bawah tampak jelas sekali deburan ombak yang sangat menakutkan.
“Ne. Cepatlah kembali untuk ku, Min Ho-aa. Aku akan menunggumu” Jawab Hye Sun
“Min Ho!!! Apa yang sedang kau lakukan??!! Ayo cepat kemari…kau dan Hye Sun!!! Tidak ada waktu lagi!!” teriakan Geun Suk kali ini tidak dihiraukan oleh Min Ho karena ia terlalu sibuk dengan tugasnya untuk menyerahkan kembali anak tersebut kepada ibunya.
Tiba-tiba Min Ho mendengar suara jeritan dari seseorang yang sangat dikenalnya. Itu adalah jeritan Hye Sun! Min Ho menoleh kebelakang untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi ia tidak dapat menemukan Hye Sun disana. Tanpa piker panjang lagi ia langsung meletakan anak kecil yang tadi bopongnya tersebut di lantai. Ia sudah tidak perduli lagi pada anak itu, karena saat ini di dalam pikirannya sedang tertuju untuk menemukan Hye Sun.
“Hye Sun!!!! Dimana kau??!!! “ teriak Min Ho “Hye Sun….Jawab aku!!!!” berulang kali Min Ho memanggil nama tunangannya tersebut, tapi tetap tidak ada jawaban.
“Min Ho!!! Ada apa???” kali ini teriakan Geun Suk dan juga ayah Hye Sun kembali terdengar. Min Ho segera berlari untuk menghampiri mereka. Ia berpikir mungkin saja Hye Sun sudah berada di dalam sekoci bersama dengan mereka.
“Ada apa, Min Ho-aa?? Mana Hye Sun??” Tanya ayah Hye Sun ketika calon menantunya itu berada di depannya.
“Hye Sun tidak ada disini?” Min Ho balik bertanya kepadanya.
“Tentu saja tidak, Kan ia bersama-sama denganmu tadi” kali ini giliran ibu Hye Sun yang menjawab.
Rasa kepanikan yang luar biasa mulai menghantui Min Ho. Ia benar-benar takut bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Hye Sun. Ia memutarkan kepalanya dan mulai mencari sosok Hye Sun di sekelilingnya.
“Min Ho-aa, sebenarnya dimana Hye Sun??” Tanya Geun Suk. Ia melompat turun dari sekoci ketika dilihatnya bahwa adik sepupunya tersebut tidak ada bersama-sama dengan sahabatnya ini.
“A..a..aku tidak tahu” Jawab Min Ho gugup
“Apa??? Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kalian kan dari tadi bersama-sama!” desak Geun Suk. Ia mulai mengoncang-goncangkan tubuh Min Ho meminta penjelasan.
Min Ho hanya terdiam. Ia sanggup menjawab pertanyaan sahabat karibnya tersebut. Pikirannya kali ini dipenuhi dengan rasa penyesalan, kenapa ia tadi lebih memilih untuk menolong anak tersebut dan meninggalkan Hye Sun seorang diri disana? Kalau saja ia tetap berada disisi Hye Sun, hal ini pasti tidak akan terjadi.
“Lihat itu!!!!” teriak Mr. Goo sambil menunjuk ke a rah suatu benda berwarna merah muda yang mengambang di atas derasnya air laut.
Itu adalah jaket yang tadi dikenakan oleh Hye Sun. Min Ho sangat hapal akan jaket tersebut karena itu adalah hadiah pemberiannya di ulang tahun Hye Sun tahun lalu.
“Hye Sun jatuh ke laut!!!!” Mrs. Goo kali ini tidak mampu menyembunyikan tangis histerisnya. Yang lain pun tidak kalah histeris, karena mereka semua tahu dengan baik bahwa Hye Sun tidak dapat berenang. Kemudian tanpa piker panjang lagi Min Ho langsung terjun ke dalam laut untuk mencari kekasihnya tersebut.
“Hye Sun!!” teriak Min Ho dan juga yang lainnya.
“Hye Sun, dimana kau???” teriak Min Ho lagi ketika ia tidak dapat menemukan tubuh kekasihnya tersebut…



“HYE SUN….!!!” Min Ho berteriak kencang sekali bersamaan dengan terjaganya ia dari tidurnya. Ia memandang sekelilingnya dan menyadari bahwa saat ini ia berada di atas ranjangnya yang berada di dalam kamar tidurnya yang nyaman di apartemen mewahnya. Min Ho melirik jam yang berada disamping tidurnya. Jam tersebut menunjukan pukul 9.00 pagi.
Bel pintu depan tiba-tiba saja berbunyi. Min Ho mencoba untuk membiarkannya tapi bunyinya tidak mau berhenti. Akhirnya mau tidak mau ia terpaksa turun untuk membukakan pintu bagi pengunjungnya terebut.
“Syukurlah bro! ku kira tadinya kau telah tewas bunuh diri” kata Kim Joon, salah seorang sahabat Min Ho, ketika pintu terbuka dan menunjukan tampang “bangun tidur” sang pemilik apartemen tersebut kepada para tamunya.
“Berarti aku tidak perlu menghubungi polisi kan?” canda Kim Bum yang saat itu sedang berpura-pura menelepon kantor polisi terdekat.
“Mau apa kalian datang berkunjung sepagi ini?” sapa Min Ho cuek sambil menggaruk-garuk kepalanya dan mengakibatkan rambutnya semakin berantakan.
“Terima kasih banyak telah mempersilahkan kami masuk, bro!” kini giliran Il Woo yang berbicara ketika Min Ho tak kunjung mempersilahkan para sahabatnya itu untuk masuk. Sebagai balasannya, Min Ho hanya bergeser sedikit saja dari pintu untuk memberi ruang kepada ketiganya untuk masuk.
“Whoa…tempat ini semakin berantakan saja” ujar Kim Joon begitu memasuki ruangan. Wajar saja jika ia berkata begitu, karena di sekeliling mereka tampaklah beraneka macam bungkusan cemilan yang sudah kosong, berkaleng-kaleng bir, dan sekotak Pizza yang hanya dimakan setengah saja berserakan di lantai, sofa dan juga meja dari ruang tamu hingga dapur.
“Yaa…sama berantakan seperti pemiliknya” imbuh Il Woo sambil melirik tajam ke arah Min Ho yang saat itu hanya mengenakan boxer saja.
“Gamshahamnida..” jawab Min Ho acuh tak acuh seraya mengambil sebuah Pizza yang terhampar diatas kotak terbuka yang semalam belum sempat dihabiskannya. Yang lain hanya mampu menonton saja dalam diam apa yang dilakukan oleh sahabat mereka tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Hye Sun jikalau melihat kau seperti ini sekarang?” ujar Kim Bum prihatin.
Min Ho tba-tiba tersentak. Setelah sepuluh tahun lamanya, nama itu ternyata memang masih membawa pengaruh yang sangat besar dalam dirinya.
“Apa kau kira ia akan senang di alam sana jikalau mengetahui kau yang seperti ini sekarang?” lanjut Kim Bum. “Kau mungkin memang actor nomor satu Asia saat ini, Min Ho-aa. Tapi melihatmu yang seperti ini sekarang, kau dimataku tidak lebih dari seorang pecundang”
“Kau bukan ayahku, jadi berhentilah mengguruiku” jawab Min Ho enteng.
“Ya memang. Dan untunglah aku bukan ayahmu, karena kalau ya aku pasti akan sangat kecewa karena punya anak seperti mu” Kim Bum berkata dengan dingin.
“Min Ho-aa…ini sudah Sepuluh tahun. Sudah saatnya kau untuk bangkit dan melupakannya” kata Kim Joon yang kini menjatuhkan diri di samping tempat duduk Min Ho.
“Melupakannya???!!” raung Min Ho “Kau minta aku melupakannya???!!!! Apa kau sudah gila, Joon-aa? Selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah melupakannya”
“Jikalau begitu, beginikah caramu mengenangnya? Apa kau pikir ia akan bahagia di alam sana jikalau melihat kau dengan kondisi yang seperti ini??!!”
“Sudah cukup! Kalau kalian bertiga datang kesini hanya untuk menceramahi ku, lebih baik kalian pulang saja” ujar Min Ho. Ia bangkit dari tempat duduknya dan segera berjalan ke pintu depan dan membukanya sebagai tanda untuk mempersilahkan ketiga tamunya tersebut untuk segera pergi.
Kim Joon, Kim Bum dan Il Woo hanya mampu berpandang-pandangan satu dan yang lainnya tanpa mampu berkata apa-apa. Mereka semua sudah sangat mengenal sifat dan watak sahabat mereka ini, jadi pecuma saja berdebat dengannya. Jadi dengan berat hati mereka semua pun satu per satu keluar dari apartemen Min Ho.
“Min Ho” kata Il Woo sesaat sebelum Min Ho menutup pintunya “Cobalah untuk melupakannya dan bangkit kembali”
“Dasar bodoh!” dengus Min Ho kesal “Jikalau seseorang yang kita cintai meninggal, mereka hanya akan dapat hidup dalam hati dan pikiran kita. Jikalau aku benar-benar melupakan Hye Sun, itu berarti aku benar-benar membiarkannya mati…untuk yang kedua kalinya” ujarnya sebelum ia menutup rapat-rapat pintu tersebut.


Ok. Sekian chapter 1. Chapter 2 akan segera menyusul ya [bye]
« Last Edit: September 05, 2010, 08:14:00 pm by minsunlover »