Author Topic: MinSun always  (Read 5279 times)

dara

  • Guest
Re: MinSun always
« on: January 28, 2010, 10:22:59 pm »
CHAPTER 3

“Hye Sun. Kau tak mendengarku,” gerutu Jun Ki ketika makan siang.
Jun Ki memutar bola matanya. “Tak ada yang perlu kudengar, Jun Ki. Aku tahu apa yang akan kau katakan. Jadi, jangan buang napasmu sia-sia.” Dia menyeruput jus alpukat dari gelasnya.
“Ya ya ya,” Jun Ki mencibir. Dia mengambil paha ayam yang besar dan menggigitnya penuh emosi. “Au takprelu mbuang napasu utukEe mino siaanitu.”
“Telan dulu, bodoh. Jangan buka mulutmu jika sedang mengunyah. Menjijikan!”
“Kacrewet kali hriini.”
“Jun Ki!” Hye Sun melempar sebutir anggur padanya lalu mengerutkan kening. “Dan aku juga membuang napasku sia-sia untuk menutup mulutmu jika saja kau terus menggerutu,” kata Hye Sun jengkel.
Jun Ki minum dari gelasnya. “Itu salahnya karena lahir di dunia ini,” balas Jun Ki sambil menghentakkan kepalanya ke arah Lee Min Ho di meja paling sudut di café Shinhwa. Hye Sun tak mau mengikuti arahnya.
Lee Min Ho sedang menjadi pusat perhatian teman-temannya. Bukan sedang. Tapi selalu. Bukan hanya oleh teman-temannya, tetapi juga setiap dia melewati segerombolan anak perempuan di koridor atau bahkan di café Shinhwa. Kelihatannya dia tampak benar-benar menikmati perhatian itu. Entah apa yang dia katakan sehingga membuat teman-temannya terbahak-bahak.
Jun Ki mendengus. “Dasar banyak tingkah—”
“Hei,“ Hye Sun menegurnya.
“—si brengsek itu—”
“Diamlah.”
“Dia selalu—”
“JUN KI!”
Jun Ki melempar pandangan ada-apa-denganmu padanya.
“Well, adakah satu hari saja tak ada orang yang menyebut namanya?” tanya Hye Sun. Ia berganti menatap Hyun Joong. “Hyun Joong, lakukan sesuatu terhadap teman bodohmu ini. Dia membuatku gila dengan ocehannya itu.”
Hyun Joong mengangkat bahu seraya nyengir lebar. “Bagaimanapun juga dia benar, Hye Sun. Kau tahu sendiri, kan?” gumamnya datar. Kemudian dia menatap Jun Ki. “Apabila kau berencana menguliti Lee Min Ho hidup-hidup, membuat konspirasi memenggal kepala besarnya—“
“Mencincang tubuhnya,” Jun Ki menimpali sambil terkekeh.
“—atau apapun segala bentuk tindakan hari-pembebasan-dari-segala-kejahatan-yang-merajalela, aku mendukungmu, teman,” kata Hyun Joong, mengangguk seakan dia serius dengan segala perkataannya. “Kau tahu dimana kau dapat menghubungiku jika suatu saat memerlukan bantuan.”
Jun Ki nyengir lebar pada sahabatnya itu. Mereka melakukan high-five. “Paling tidak harus ada seseorang yang harus membebaskan dunia ini dari segala bentuk kejahatan, Hye Sun.” Senyuman lebar muncul di wajahnya.
Hye Sun memutar bola matanya. “Oh, tutup mulut kalian berdua.” Hye Sun menyeruput minuman dari gelasnya. “Kasihan sekali para manusia di Korea ini. Menggantungkan hidupnya pada teman si idiot bodoh ini.“
“Semua yang terjadi selalu dengan jalan yang tak terduga,“ sahut Hyun Joong singkat sambil tersenyum lebar.
“Berkatilah kami,” tambah Jun Ki.
“Amin,” sahut Hyun Joong, mengepalkan kedua tangannya di depan dada seakan berdoa.
Hye Sun menyerah dengan kedua sahabatnya itu. Dia menghela napas panjang tanda putus asa. “Mungkin memang lebih baik jika Lee Min Ho berhasil mengerjaimumu juga, Hyun Joong,mungkin dengan cara menyembunyikan buku PRmu sama seperti Jun Ki, sehingga aku bisa mengerjakan PR ini dengan tenang,” gumamnya.
Gadis itu mengambil bolpoinnya didalam tas dan meneruskan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru Sejarah mereka setelah beberapa minggu mereka mulai sekolah di tahun ke tujuh: Jelaskan penyebab mengenai Hancurnya Hubungan Persaudaraan antara Korea Utara dan Korea Selatan sepanjang tiga lembar . Dia sudah menyelesaikan empat lembar bolak balik. Tiga saja tidak cukup, tentu saja. Hancurnya Kedua Negara ini tidak terjadi hanya dalam waktu semalam, bukan?
“Lee Min Ho brengsek.” Suara Jun Ki.
Gawat. Dia mulai lagi. “Yeah, aku tahu itu.”
“Dia menyembunyikan laptopku tadi!” kata Jun Ki nyaris berseru.
Hye Sun menghiraukannya.
Jun Ki menghela napas kesal. “Kau,” sahutnya. Jun Ki menunjuk Hye Sun dengan paha ayam ke lima yang sudah setengah dia makan. Jun Ki adalah bukti nyata bahwa kekesalan dapat meningkatkan nafsu makan.
“Apa?”
“Kau jangan pernah bicara padanya. Dengan Lee Min Ho,” geram Jun Ki.
“Maaf?”
“Jangan pernah bicara dengannya.”
Hye Sun memutar bola matanya. “Kau mengatakannya seakan aku sering menghampirinya mengajak dia keluar.”
“Aku tahu kau tahu maksudku,” Jun Ki menggeram (“Aku ambil sosis ayam ini. Kau tak mau, kan?”kata Hyun Joong. Dia langsung mengambil sosis itu dari atas piring Jun Ki tanpa menunggu jawabannya). “Si wajah banci itu—Si cowok cantik itu sering mempermainkan cewek-cewek. Dan reputasinya itu—”
“Aku tak bodoh,” sahut Hye Sun, merasa tersinggung.
“Oh, jelas.”
“Jadi hentikan perkataanmu yang membuatku seakan-akan orang yang bodoh.”
Jun Ki memandang Hye Sun seraya mengerutkan kening. “Tidak. Aku tidak membuatmu—”
“Ya, Jun Ki. Nada suaramu mengatakan hal itu.”
“Tidak.”
“Ya.”
“Tidak.”
“Ya—Arg, hentikan dengan ya-tidak yang bodoh ini,” geram Hye Sun. Dia terdiam sesaat untuk menarik napas seakan pembicaraan ini memakan banyak energi. “Lagipula mana sudi aku berbicara padanya. Dan tentu saja dia takkan berminat bicara padaku.”
“Jika kau berasal dari keluarga bangsawan seperti Joongie, mungkin dia akan mengejarmu. Yya, Joongie, kau berdarah biru kan? Mungkin si keparat Lee Min Ho itu akan menyukaimu.”
Hye Sun memutar bola matanya mendengar candaan Jun Ki yang menurutnya sangat garing. “Untungnya bukan,” gumam Hye Sun. Lalu dia menghela napas dengan keras, menatap Jun Ki dengan malas. “Dan sekarang benar-benar kau membuang-buang napasku sekarang.”
“Kalian sudah selesai bertengkarnya?”
Hye sun dan Jun Ki memandang Hyun Joong dengan kesal.
“Kuanggap itu sebagai ya.”
Hye Sun kembali menekuni tugasnya. Dalam hati, dia juga ingin sekali menonjok Lee Min Ho. Jun Ki juga ingin pastinya. Hyun Joong juga. Mungkin banyak juga yang lain. Padahal seharusnya ada seseorang di antara mereka yang bertindak waras. Jika ada, orang itu adalah Hye Sun. Dan ia bangga karena dia bisa menjadi penjaga-perdamaian di antara mereka berdua.
“Well, daripada membicarakan dia,” Hyun Joong menghentakkan dagunya ke arah Lee Min Ho di sisi lain. “Lebih baik membicarakan strategi apa lagi yang harus aku lakukan agar ibuku tidak membawaku dengan paksa dari sekolah ini dan menjadikanku raja cilik.”
Hye Sun senang topik kini berganti sehingga dia tak akan mendengar lagi umpatan-umpatan Jun Ki. Bicara tentang Lee Min Ho membuat udara seakan menyusut begitu saja. Tapi sayangnya topiknya tidak bertambah cerah. Mungkin hanya sedikit sepanjang tak ada nama ratu Korea yang bertindak kejam terhadap Hyun Joong di sana.
**
Gambaran langit di luar café Shinhwa sedikit berawan. Namun tetap saja matahari belum muncul. Tapi paling tidak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya yang diselimuti awan mendung berwarna kelabu. Para murid berangsur-angsur meninggalkan bangku mereka setelah menyelesaikan makan siangnya. Sekelompok anak perempuan segera bergegas keluar menuju laboratorium Kimia sambil mengerling singkat ke arah meja tempat trio emas Shinhwa itu duduk.
“Sudah waktunya, Hyun Joong. Sebaiknya kau buru-buru ke lab,” gumam Hye Sun. Ia merogoh ke dalam tasnya mengambil kertas kosong untuk melanjutkan PRnya ke halaman lima.
“Apa?”
“Sekarang waktumu latihan, kan?” tanya Hye Sun. “Penggemarmu menunggumu beraksi.” Dia menghentakkan dagunya ke arah sekelompok anak perempuan tahun ke empat yang baru saja hilang dari pandangan di pintu café Shinhwa.
“Astaga. Bisakah aku latihan dengan nyaman?” tanyanya pada diri sendiri hampir frustasi. Dia kembali memandang kedua sahabatnya. “Kalau begitu sampai di sini saja, teman-teman.” katanya. Dia berdiri dari bangku, meminum habis jus di gelasnya. Dia mengambil sebuah apel dari keranjang buah lalu menggigitnya. “Sampai jumpa pada makan malam.” Dia melambai singkat, lalu berbalik ke arah pintu keluar. Tak lama kemudian, Hyun Joong menghilang dari pandangan mereka.
“Sayang sekali kau gagal masuk tim, Jun Ki,” kata Hye Sun.
“Yeah, aku tak menyangka aku kalah seleksi dengan anak kelas dua itu, nilai kami hanya beda 0.5 saja,” kata Jun Ki. “Kau tidak berusaha menghiburku, Hye Sun?”
“Sudah. Aku tadi bilang ‘Sayang sekali kau gagal masuk tim’.”
Jun Ki menatap Hye Sun malas. “Penghiburan yang hebat,” ejeknya. “Carilah sesuatu yang lebih ehm—bersahabat.”
“Dan apakah ide brilianmu itu, Joonie?”
“Well, Hye Sun,” Jun Ki berdeham seakan-akan ada tulang ayam tersangkut di tenggorokannya—mendadak salah tingkah. “Well—“ Jun Ki mengalihkan pandangannya dari Hye Sun. “Kamu bisa…mengajakku ke Namsan Tower atau pantai.”
“Apa?”
“.”
Kata-kata—kalimat itu mengalir sangat cepat. Hye Sun berkedip satu kali, berusaha mencernanya. Dia berkedip kedua kali, berharap menangkap inti sari kalimatnya. Tapi kemudian dia bisa menangkapnya.
Tidak. Ini tidak boleh, pikir Hye Sun.
Sejak mereka berada di tingkat lima, Hye Sun mulai berpikir mungkin ada sesuatu di antara mereka. Mungkin ada. Dulu memang pernah ada. Tapi Hye Sun sudah menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh. Namun sejak akhir tahun kelima, Jun Ki mulai mengajaknya pergi keluar. Well, bukannya dia tak pernah mengajak Hye Sun keluar sebelumnya. Hanya saja, ajakannya menjadi agak berbeda. Dia mencari-cari alasan untuk mengajaknya keluar. Dan Hye Sun tidak bodoh untuk tidak menyadari hal-hal seperti itu. Hyun Joong kadang juga menyadarinya. Dan Hye Sun juga merasa tak nyaman. Maksudnya, bukankah mereka teman baik? Hye Sun takut segalanya akan berubah jika dia membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya terjadi.
Hye Sun kadang membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya itu terjadi. Mereka kadang sering pergi minum ke café yang ada didepan sekolah mereka jika Hyun Joong sedang sibuk dengan latihan olimpiadenya. Tapi, dia tak melihat adanya keharusan atau kecenderungan hubungan itu harus lebih dari seharusnya. Mungkin memang tidak seharusnya?
Jun Ki lebih sering bersamanya sekarang ini. Tapi hingga saat ini Hye Sun tak melihat adanya hubungan yang mungkin akan terjadi dengan Jun Ki. Maupun Hyun Joong. Maksudnya, Jun Ki adalah sahabatnya, begitu juga Hyun Joong. Apalagi karena Hyun Joong memang milik setiap orang. Dia merupakan pahlawan-penyelamat-bokong-setiap-orang.
“Hye Sun?”
“Ya,” Hye Sun berdeham. “Er—maksudku tidak. Maksudku Namsan Tower ataupun pantai itu sangat jauh Jun Ki, kita tidak akan di izinkan keluar sejauh itu.” Hye Sun menggelengkan kepalanya. Dia memutar otak. “Aku juga tidak bisa membiarkan para tukang gosip ngomong yang tidak-tidak. Terakhir kita pergi, mereka bilang kita terlihat berciuman di cafe. Dasar orang kurang kerjaan.”
“Mengapa harus peduli—”
“Aku Ketua Murid, Jun Ki. Harus jaga wibawa.”
Jun Ki terdiam sejenak. “Kau mencari-cari alasan ya?”
Hye Sun pura-pura terlalu berkonsentrasi pada perkamennya. “Apa—Jun Ki?” tanyanya seolah baru sadar bahwa Jun Ki bicara padanya.
“Ehm—tidak. Tidak ada apa-apa.”

***

Lima puluh dua. Lima puluh tiga. Lima puluh empat…
Sebutir keringat mulai menetes dari dagunya pada hitungan push-upnya kelima puluh lima di dalam salah satu ruang berdebu di rumah bobrok milik mantan penjaga sekolah. Dia menghiraukan keluhan otot tangannya yang meminta belas kasihan untuk beristirahat. Dia tak ingin berhenti walaupun seluruh tubuhnya sudah tegang dan memprotes.
Berbagai ingatan merasuki benaknya. Perlahan-lahan melayang lagi dan terhembus ke dalam memori. Ingatan yang terhembus seperti angin yang menyelinap memasuki gubuk ini pada siang hari itu. Dingin. Memilukan.
Min Ho tahu, dia marah. Dan dia kesal karena rasa marah itu. Karena dia berada di pihak yang tepat—mengapa dia harus marah. Tak lama jika waktunya tiba, Dia-yang-namanya-terlalu-agung-untuk-disebut akan memulainya. Mengambil apa yang menjadi seharusnya. Mendirikan apa yang menjadi sepatutnya.
Darah Biru.
Keluarga bangsawan Lee yang termasyur di seluruh bagian dunia. Betapa dia bangga menjadi salah satunya. Satu-satunya pewaris. Lee bukan hanya sekadar nama. Keluarga Lee adalah kebesaran.
Ketika ulang tahunnya yang ketiga belas datang, semua perencanaan itu mulai dilakukan. Kakeknya telah mengatur semuanya. Ia akan menjadi Presiden Direktur perusahaan yang bergerak di segala bidang, Lee Corporation, tepat ketika ia berumur 17 tahun. Ia ingin membantah, melawan, dan memberontak, tapi semuanya telah diatur. Lee Min Ho tidak punya pilihan. Dia ingin seperti si bangau jelek miskin itu. Menjadi seseorang yang ingin masa depannya di atur oleh dirinya sendiri.
Marah. Mungkin itu kata yang tepat.
Biasanya Min Ho kembali ke asramanya setelah latihan ceramah gratis yang ayahnya berikan lewat telepon setiap minggu. Kemudian dia akan mencari seorang anak, mencari-cari kesalahan, lalu memberi bogem mentah kepadanya. Amarah tersalurkan. Namun jika ke sekolah tampak begitu membosankan—kadang malah membawa amarah baru, hutan inilah yang menenangkannya. Selalu. Ketenangannya. Kenyamanannya. Hutannya. Dunianya yang sunyi.
Dunia nyata Min Ho tetaplah keluarganya dan perjuangannya bersama Lee Corporation. Walaupun kegundahan dan amarah selalu menyertainya tiap dia selesai membaca laporan-laporan perusahaan yang dikirim ayahnya, dia tahu dia tidak memiliki pilihan lain. Karena dia tahu apa yang dilakukan ayahnya dan almarhun kakeknya adalah benar. Semua itu demi masa depan keluarga bangsawan seperti mereka. Jadi—
Lakukan. Hancurkan. Menang.
Ayahnya benar. Lakukan. Hancurkan. Menang. Ya, ayah. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukanhancurkanmenang. Lakukanhancurkanmenang―
Bagai doa.
Tujuh puluh enam. Tujuh puluh tujuh…
Jangan ragukan, acuhkan moral, pikirkan tentang Dia. Layani Dia. Lee Corporation yang akan membawa menuju kejayaan. Keagungan para darah biru.Jangan ragukan, acuhkan moral, pikirkan tentang Dia. Layani Dia. Terus bergema. Berulang-ulang. Tak ada cinta. Jangan rasakan cinta.
Cinta?
Min Ho tak pernah memikirkan keberadaan perasaan itu. Keberadaan sesuatu yang abstrak dan tak pernah jelas. Tak ada yang perlu dipercayai darinya. Dia bahkan meragukan perasaan itu memang ada. Tidak eksis. Sama seperti meragukan cinta di antara kedua orang tuanya.
Suatu kali, suatu malam pada malam musim panas bertahun-tahun yang lalu—ketika dia pernah berpikir akan cinta di antara ayah-ibunya, dia mulai sadar akan kenyataan bahwa cinta memang absurd. Kadang Min Ho bahkan meragukan dia mendengarnya—suara ayahnya di balik kamar tidurnya dengan orang lain. Wanita lain. Bukan ibunya—istri ayahnya. Kini dia tahu, tak ada perasaan yang harus dipikirkannya. Apalagi perasaan bodoh yang tidak nyata itu. Cinta? Persetan. Layani Dia, cintai Dia.
Ya, ayah. Ya.
Delapan puluh dua. Delapan puluh tiga. Delapan puluh empat…
Ruangan itu tidak terlalu terang. Sumber cahaya berasal dari jendela yang sudah pecah. Kaca itu sudah entah dimana sehingga hawa dingin memasuki ruangan yang cukup besar untuk sebuah ruang tengah.
Hari ini setelah latihan olimpiade Kimia dia pergi ke sini untuk menyibukkan dan mengalihkan amarahnya. Dan, dia memutuskan untuk melakukan latihannya sendiri. Tetapi alasan utamanya adalah dia ingin mengosongkan pikiran. Dia berharap otaknya akan dipenuhi rasa lelah sehingga dapat melupakan semua yang berkecamuk di benaknya saat ini. Mungkin sedikit dosis rasa sakit di ototnya yang lelah akan efektif. Dan di sinilah dia di atas lantai berdebu dalam rumah ini.
Segalanya berjalan lancar sampai dia mendengar sebuah suara samar dari luar jendela. Min Ho menajamkan indra pendengaran. Terdengar suara gonggongan anjingnya lagi di kejauhan. Awalnya dia ingin menghiraukan dan melanjutkan push-upnya. Tapi ruangan itu sangat sunyi sehingga membuat gonggongan Kofu seakan semakin membesar. Hitungannya menjadi kacau.
Min Ho frustasi. “Brengseeek,” dia mengumpat pelan.
Dengan kesal karena latihannya terganggu, dia bangkit dari lantai. Debunya berterbangan ketika dia membuat gerakan tiba-tiba. Min Ho bersin sekali. “****,” sahutnya. Dia merenggangkan tubuhnya sejenak untuk merelakskan otot, lalu mengelap keringat dengan kemejanya sekadarnya.
Suara Kofu terdengar lagi. Dia melihat ke arah luar jendela. Masih terang. Pepohonan masih terselimuti oleh cahaya kekuningan. Berarti dia latihan belum cukup lama.
Min Ho berjalan menyusur koridor rumah itu. Lantai kayunya berderit ketika dia menapak di atasnya. Dia membuka pintu depan bobrok yang hampir lepas dari engselnya. Dan mengutuk pelan ketika pintu terjatuh beberapa langkah setelah dia melewatinya. Udara di luar tidak lebih dingin daripada di dalam, hanya saja udara musim gugurnya menjadi lebih terasa.
Min Ho memasuki hutan dan melewati pepohonan yang dedaunannya mulai menguning. Semakin dia berjalan memasukinya, semakin terdengar sumber suara itu. Kemudian, Min Ho melihatnya. Dia menyumpah-nyumpah karena hal itu.
Lagi.
“Kau? Lagi?” kata Min Ho jengkel. Kofu langsung terdiam mendengar suara tuannya.
Wajah Goo Hye Sun tampak mengeras, melihat Min Ho. Tak ada rasa senang dalam pertemuan tak terduga mereka untuk yang kedua kalinya. “Diamlah,” sahut Hye Sun, merah padam.
Goo Hye Sun tersentak saat melihatnya lagi. Sama seperti sebelumnya, ia ketakutan oleh Kofu. Di pohon yang sama. Dan Min Ho dapat melihat dengan posisi yang sama.
Astaga, bagaimana—bagaimana bisa—Goo Hye Sun bisa sebodoh itu.
Kemudian Min Ho tak dapat menahan diri untuk tertawa. Bukan karena situasinya, tapi karena dia ingat bahwa ini adalah kedua kalinya Goo Hye Sun melakukan kecerobohan bodoh dan memalukan. Bagaimana bisa Goo Hye Sun membiarkan dirinya terlihat begitu bodoh?
Min Ho tertawa semakin keras. Dia menghampiri pohon itu dan menatapnya dari bawah. “Kau tak bisa tinggal bilang ‘diamlah’ begitu saja, Goo Hye Sun, karena kau tidak melihat dari perspektifku. Dan aku menganggap situasi ini benar-benar lucu.”
Sepertinya Hye Sun tidak dapat memikirkan cemoohan balasan yang tepat untuk Min Ho, dia hanya diam saja. Pipinya lebih merah padam lagi.
“Lee Min Ho, enyahlah saja, oke?” kata Hye Sun frustasi.
“Kau tak punya hak mengatur apa yang kulakukan.”
“Terserahlah apapun yang kau katakan. Just—pergilah dari sini! Ya ampun, kenapa sih kau sebegitu menyebalkan?”
“Kau pikir dirimu tidak menyebalkan, otak udang?”
“TIDAK SEBESAR KKAAAAUUUU, KECOAK BUSUUUKKK!” seru Ketua Murid itu putus asa.
Min Ho tersenyum sinis, memutar bola matanya. Saling mencemooh. Mereka tampak seperti orang bodoh sekarang. Murid tahun terakhir sekolah internasional Shinhwa yang tersohor mahir dalam ejekan dan cemoohan? Para pengajar harus menyadari melihat bakat ini. Dengan begitu mata pelajaran seperti Matematika atau sejenisnya bisa di hilangkan sehingga sangat bermanfaat untuk menghindari jatuhnya korban akibat ketidakmampuan melihat angka-angka dewa yang bertaburan bagai bintang-bintang di langit. Bagus. Masukkan pelajaran ini dalam kurikulum sistem pengajaran tahun depan.
Ya ampun. Tidakkah ada yang bertindak dewasa di sini?
“Bangau miskin jelek,” balas Min Ho, mengeluarkan pamungkasnya. Dia telah melontarkan kata kuncinya. Bangau miskin jelek. Oke, dia memang tak bertindak dewasa saat ini. Tapi seorang Lee Min Ho tak boleh kalah.
Hye Sun terdiam sejenak. “Kau tahu aku tak suka menyebutku itu.”
“Aku tahu,” sahut Min Ho singkat. “Biasakanlah. Kau tahu kan, aku termasuk orang sering menyebutkannya. Dan aku akan mengatakannya lebih sering lagi.”
Goo Hye Sun menyipitkan matanya sambil mendengus. “Sulitkah agar tidak meggunakan kata-kata biadab itu? ”
“Ooooohhh, lebih sulit dari yang bisa kau bayangkan, Goo Hye Sun.”
Hye Sun menggeram habis kesabaran. “Lee Min Ho, PLEASE, pergi dari sini?”
Min Ho mengangkat alis. “Aku yang seharusnya mengatakannya.” Kofu menghampiri Min Ho dengan mengibas-ibaskan ekornya. Min Ho membungkuk untuk menggaruk belakang kuping anjing itu. “Jadi, Goo Hye Sun—” dia terhenti sejenak untuk tersenyum mengejek. “Tak bisa turun lagi, bukan begitu?”
“Setelah kau dan anjing bodohmu pergi.”
“Well, dia jauh lebih cerdas dari kepala besarmu, Goo,” ujar Min Ho.
Hye Sun mencemooh, “Dia cukup bodoh untuk memilihmu sebagai tuannya.”
“Dia cukup pintar untuk menerkam mulut besarmu jika kau turun nanti,” tukasnya. Min Ho tersinggung dan sedikit terprovokasi. Tapi kemudian dia berusaha untuk tenang dan sedikit menyebalkan—untuk membuatnya kesal.
Hye Sun terdiam. Paling tidak untuk beberapa saat. Min Ho tahu seperti apa dia. Enam tahun satu sekolah dengannya. Cukup untuk mengetahui seberapa cerewetnya Goo Hye Sun.
Gadis itu masih berjongkok, berusaha menyeimbangkan diri. Tangannya berusaha merapikan roknya menjaga agar tidak tersingkap.
Oh, Tuhan. Bagaimana Kutu buku Goo bisa memakai rok pendek seperti itu. Mungkin dialah yang sengaja ingin digoda oleh para lelaki di Shinhwa. Mungkin dia juga seorang jalang. Dan Lee Min Ho adalah satu-satunya laki-laki yang bisa berpikir logis. Goo Hye Sun adalah bangau miskin jelek, demi Tuhan!
“Jadi—” Min Ho menghela napas. “Kau berniat bertengger di sana sepanjang waktu? Sayang tak ada sang pahlawan, Goo Hye Sun? Joongie si penyelamat bokong setiap orang di Korea. Well, aku tahu dia sedang sibuk, akhir-akhir ini. Tapi bukankah ada si Joonie? Pengawal setia yang tersohor.”
Hye Sun menggigit bibirnya.
Min Ho menelan ludah.
“Bilang saja kau iri betapa mereka dicintai semua orang,” Hye Sun berkata dengan tenang. “Yang kau lakukan hanya mencari gadis yang bisa menemanimu di ranjang.”
“Yeah, yang benar saja,” Min Ho memutar bola matanya. “Apa kau tak pernah dengar gadis-gadis itu, bagaimana mereka memuja―well, apa aku bisa menyebutnya bakatku?”
Kurasa itu akan membuat Goo Hye Sun jalang itu muntah. Min Ho bisa melihat rasa jijik terpancar dari wajahnya bagai buku yang terbuka. Goo Hye Sun terlalu mudah dimanipulasi. Dia terlalu polos.
“Oh, ya ampun. Kau menjijikan,” geramnya. Kemudian dia terlihat berpikir-pikir sejenak. “Well, aku akan turun, Lee Min ho. Tapi jaga anjingmu.” katanya tegas. “Dan aku ingin kau berbalik.”
Min Ho mengerutkan keningnya, “Maaf?”
“Aku memakai rok, idiot! Kau harus berbalik dulu.”
Aku tahu itu, bodoh. Maksudku, apa bedanya? Atau apa gunanya? “Kau menuduhku mengintipmu?”
Hye Sun menatapnya tak sabar, “Berbalik saja, oke?!”
Min Ho tersenyum mengejek. Tapi perlahan dia berbalik sambil mengumpat dalam hati. Dia membuat spekulasi dalam benaknya untuk Goo Hye Sun ke tempat ini. Ini adalah Hutan yang terlarang untuk di masuki oleh para siswa. Umumnya orang takut masuk ke dalam sini. Apa dia mencari tempat sembunyi untuk saat-saat intim dengan cowok-cowok Shinhwa? (Goo Hye Sun? Yang benar saja). Atau mencari tempat untuk belajar? Pikiran yang terakhir dia buang karena Goo Hye Sun takkan mungkin datang lagi ke sini hanya untuk belajar. Belajar apa? Belajar bahwa ada binatang liar yang siap mengoyak isi perutnya setiap saat? Well, Min Ho tahu Goo Hye Sun itu cukup bodoh, tapi tak sebodoh itu untuk tak menyadari hal itu. Pastinya motivasinya lebih dari itu. Pastinya. Maka dari itu, dia kembali lagi ke sini, menyuruh Min Ho untuk pergi, dan menyuruh Min Ho berbalik memunggungi—
Tunggu.
Kenapa aku harus berbalik? Aku ingin kau berbalik, katanya. Sejak kapan seorang Lee Min Ho diperintah seorang bangau jelek? Maksudku, kenapa aku harus mengikuti perintahnya? Apa haknya memerintahku? Hoooo, dia kira aku siapa? Dia kira dia siapa?
Min Ho berbalik lagi untuk menghadapi si rambut-hitam-bergelombang itu. Namun, Goo Hye Sun tidak sedang menatapnya. Jelas dia kesulitan untuk turun dari pohon itu. Terlebih dia bukan pemanjat yang handal. Jika Min Ho melihatnya dalam situasi lain, mungkin dia akan tertawa mencemoohnya.
Namun, dia terpaku.
Kini Min Ho mengerti kenapa Hye Sun memintanya berbalik memunggunginya. Tapi Min Ho tak sudi—dan tak ingin—melakukannya sekarang. Karena sedang dia menatapnya.
Goo Hye Sun mencoba turun dengan kaki lebih dulu. Tangannya meraba-raba batang pohon. Kakinya mencoba mencari pijakan. Tapi tak dia menemukan apapun selain kulit kayu yang kasar. Roknya yang pendek menggesek batang pohon yang besar sehingga kain itu tertahan—yang benar saja—di sekitar panggulnya, memperlihatkan—mengekspos kakinya secara keseluruhan. Kaki itu. Kaki seorang Goo Hye Sun—
Min Ho membasahi bibirnya.
Jadi itulah yang dimaksudkan Ji Hoo dan penghuni laki-laki Shinhwa lainnya.
Kofu menggonggong singkat. Suara itu membuat Goo Hye Sun tersentak kaget. Juga membuat Min Ho tersadar. Konsentrasinya buyar dalam sekejap. Karena kehilangan konsentrasinya, Goo Hye Sun kehilangan pegangan dan serta merta dia terjatuh ke atas rerumputan dengan cukup keras. Dia mengaduh pelan, mengelus pinggangnya.
Min Ho menenangkan Kofu. Anjing itu menurut sambil mengibaskan ekornya.
Goo Hye Sun langsung berdiri lagi. Sejumput rambut menutupi wajahnya. Dia menyingkirkan rambutnya dari wajah lalu mengibaskan rerumputan yang menempel pada baju dan roknya. Wajahnya bersemu merah.
Min Ho tersenyum senang. Goo Hye Sun jelas merasa tak nyaman. Gadis itu merapikan bajunya dengan canggung kemudian memasang tampang marah di wajahnya.
“Pendaratan hebat. Sama seperti yang lalu,” gumam Min Ho. Dia menyilangkan kedua tangannya. “Bravo. Bravo, Jelek.”
Hye Sun berdeham gugup. “Kau tak boleh menginjakkan kaki di sekitar sini lagi.”
Min Ho mengangkat alis. “Apa?” tanyanya—mengira dirinya salah mendengar.
“Kau tak boleh minginjakkan ka—“
“Diam. Aku sudah dengar bagian itu,” sahut Min Ho tak sabar. “Apa yang membuat otak udangmu berpikir aku yang harus pergi dari sini?”
“Aku sudah bolak-balik ke sini sejak seminggu yang lalu. Aku yang lebih berhak ke tempat ini karena datang lebih dulu.”
“Oh,” respon Min Ho datar. “Benar begitu?” Kemudian dia sedikit berlagak menimbang-nimbang. “Well…gigit dia, Kofu.”
Anjing itu menggonggong nyaring. Namun dia tidak bergerak dari tempatnya. Kofu tahu tuannya hanya mengancam.
Tapi gonggongan itu sanggup membuat Goo Hye Sun ngeri. Dia tersentak kaget. “Astaga!”, serunya. Secara instingsif, dia berlindung di belakang Min Ho, mencengkram lengan kemejanya.
“Jangan sentuh aku, bangau jelek,” kata Min Ho kasar, menghentakkan tangannya agar cengkraman tangan Hye Sun lepas.
Perlindungannya hilang. Serta merta Hye Sun meraih tongkat panjang yang tergeletak tak jauh dari dirinya. Dia berdiri tegap dengan tangan terjulur dengan tongkat itu teracung ke arah Kofu-Min Ho secara bergantian. “Kau tahu aku tak sudi menyentuhmu, Lee Min Ho. Tidak untuk satu helai rambut pun.”
Kemudian sifat Kofu menjadi berubah melihat Goo Hye Sun mengacungkan tongkat padanya. Dia menggeram mengancam ke arahnya. Waspada. Namun dia cukup cerdas untuk tidak langsung menyerang dan menjadikannya bulan-bulanan tongkat Hye Sun. Diam. Memikirkan kapan untuk bergerak.
“Singkirkan hewan sialan itu dan pergi dari sini!” kata Hye Sun nyaris berseru.
“Pergi dari sini, Goo Hye Sun?” tanya Min Ho, kini mulai marah. “Katakan pada anjingku bahwa kau lebih dulu menemukan tempat ini” Min Ho menghentakkan dagunya ke arah Kofu. “Dan aku bersumpah aku akan membuat dirimu tidak akan nyaman seumur hidup. Akan kupastikan Kofu mengurusmu dengan baik. Dia tuan rumahnya, Goo Hye Sun. Dan kau harus tahu, dia sudah ada di sini bahkan sebelum kita diperbolehkan keluar sekolah untuk mengunjungi café yang ada di depan sekolah.”
“Aku tak melihatmu beberapa terakhir ini, jika ini memang kau duluan yang menempati.”
Oh,itu. Pastikan Goo Hye Sun mendengarnya dengan jelas. “Aku juga mempunyai kesibukan, Goo Hye Sun. Olimpiade, gadis-gadis, dan semua yang sulit kau bayangkan,” jawab Min Ho datar. “Right, boy?”
Anjing itu menyalak keras.
Hye Sun tersentak lagi. Min Ho terkekeh. Kofu berhenti menyalak ketika tuannya itu mengangkat salah satu tangan untuk menyuruhnya diam.
Goo Hye Sun mundur selangkah. “Jangan-lakukan-itu-lagi,” ia menggeram.
“Hadapilah. Kau yang menyebabkannya.”
Goo Hye Sun memejamkan matanya sejenak untuk menarik napas. “Jangan suruh anjingmu melakukan hal bodoh itu lagi.”
“Bukan aku yang menyebabkannya. Dan sudah kukatakan bahwa dia tidak bodoh. Dia cerdas dari yang kau bayangkan,” kata Min Ho. “Dan kini kau harus pergi, Goo Hye Sun. Aku muak melihatmu.” Dia mulai merasa tak sabar. “Kaulah yang menyusup ke tempatku. Dan aku sangat tidak menyukainya.”
Hye Sun mundur perlahan-lahan. “Biasakanlah. Karena kau akan melihatku lebih sering lagi,” Hye Sun mendesis. Dia berbalik, meninggalkan tempat itu.
Sebelum Min Ho membalas Hye Sun sudah lari memasuki semak-semak. Sosoknya hilang di balik pepohonan. Min Ho teriak dengan sekuat tenaga, berharap itik buruk rupa itu mendengarnya. Dia pasti masih bisa mendengarnya.
“Dan biasakanlah. Karena kau akan merasa hidup di neraka lebih lama lagi!”

Tunggu update selanjutnya yaa.. tapi mungkin agak lama. Soalnya lg sibuk sama ujian.
« Last Edit: January 28, 2010, 10:44:54 pm by dara »