Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13757 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)
« Reply #180 on: September 07, 2010, 10:43:56 pm »
Chapter Ten

Plan


"Maaf, aku tersasar di jalan," samar-samar kudengar suara Hye-Sun didalam kamar, aku langsung membuka mata.
Min-Hee tersenyum masam, lalu kembali memelototiku.

"Ia disini, Oppa, bicaralah dengannya, aku akan keluar ke kafeteria," bisik Min-Hee, menepuk bahu Hye-Sun dan pergi.
Sekarang, kami hanya berdua di kamar ini. Yang Demi Tuhan, bau obat-obatan disini semakin membuat kepalaku berdenyut sakit.

"Min-Ho, apa yang terjadi?" tanya Hye-Sun lembut, sekarang ia duduk disampingku, dengan satu tangan di perut, dan tangan lainnya mengelus pelan dahiku yang diperban.

"Tidak apa, tak usah dipikirkan, hanya beberapa lelaki brengsek yang mencoba untuk membangkitkan amarah," paparku, menjelaskannya sesingkat mungkin, agar ia tak khawatir. Aku tak ingin ada beban yang menganjal pikirannya sedikitpun, namun aku tak yakin dengan keadaanku yang seperti ini pikirannya tidak ditimpuk bebatuan berat di kepala.

Hye-Sun mengeriyit dahi, lalu menghembuskan nafas, "Baiklah. Sebaiknya kau istirahat, aku akan menungguimu disini."

"Kau yang harus istirahat, lalu anak kita, aku tak apa, sungguh," dustaku sambil menghiraukan denyut nyeri pada bekas luka.

"Min-Ho, tolong, jelas kau sama sekali 'ada apa-apa' daripada 'tidak apa-apa', istirahatlah" pintanya.

Aku berpikir, ia akan terus terjaga semalaman, jika aku tertidur. Sejenak, aku memutuskan untuk pura-pura tidur saja, tetapi aku tidak akan tenang sampai ada seseorang menelepon kakek itu. Suara jam yang berdetak semakin membuatku gelisah, entah, haruskah aku meminta tolong Hye-Sun sebelum pura-pura tidur? Namun jelas ia akan mengetahui seluruh problema yang aku sembunyikan. Padahal besok akan menjadi hari yang sangat tepat akan permulaan semuanya, tetapi dikacaukan oleh segelintir lelaki cabul brengsek tadi, sial.

Mata Hye-Sun samar-samar menyipit di sebelahku, aku tahu ia pasti sangat lelah, ini sudah jam setengah tiga subuh. Dan suami gila seperti aku berakhir menyusahkannya dengan beban yang tak perlu.

Lagipula ini karena kelabilan Min-Hee juga, ah! Memang aku kelihatannya tak berjodoh dengan Dewi Fortuna.

"Ia tidur," bisik Min-Hee, tangannya menggengam segelas kopi hangat sambil menilik pada wajah Hye-Sun yang rubuh di kasurku, terlelap.

"Ya, biarkan saja. Omong-omong, bolehkah kau menolong sesuatu?"

"Oke,oke, kali ini aku tidak akan meminta imbalan, aku kapok kau berakhir begini," semprot Min-Hee sedikit tersedak oleh kopinya.

Aku tertawa pelan. "Tolong telepon Kakek Park, aku punya kartu namanya di laci mobil."

"Sejak kapan kita punya kakek?" tanya Min-Hee membelalak.

"Maksudku bukan kakek, kakek seperti yang kau pikirkan. Ia sebenarnya teman dekat kakek kita, akupun tak tahu kita punya kakek, tapi begitulah yang diberitahu sekretaris pribadiku," jelasku parau, mengasihani diri sendiri karena tidak tahu asal usul keluarga, bahkan sekretaris pribadiku yang sudah lama bekerja di perusahaan, ia lebih tahu tentang keluarga kami daripada diriku sendiri.

"Untuk apa, penting?" tanya Min-Hee keberatan, jelas ia tidak rela membayar telepon umum atau membuang pulsa ponsel hanya untuk hal-hal aneh. Tapi rencanaku sama sekali tidak aneh.

"Sangat penting, paling tidak untuk aku dan Hye-Sun, tapi kalau kau mau ikut kedalam rencanaku, aku sama sekali tak keberatan," kataku, tersenyum licik, membuatnya penasaran setengah mati.

"Yya, mau mati, cepat beri tahu," ia baru saja ingin menghimpitku dengan berbagai jurus ketika mengingat bahwa keadaanku sedang begini karenanya.

Senyumku memudar, seiring Min-Hee berdiri disamping Hye-Sun yang sedang tertidur.

"Aku serius, ini bukan rencana main-main, jadi kau harus memastikan, tidak ada yang tahu, apalagi Aboji," pintaku, setengah berbisik.

Min-Hee mengangguk, siap mendengarkan, aku menghela nafas, dan membuka mulut untuk bercerita apa yang ksuembunyikan darinya juga semua orang.-END CHAPTER
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...