Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 60157 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's Short FanFiction ♥
« Reply #45 on: January 31, 2010, 06:25:32 am »
sesuai perjanjian akhirnya ff jundi chp 1 selesai jg  [smiley-dance013] [smiley-dance013] gw post di sini aja soalnya ff ini akan gw coba selesaikan ampe chp 5  [biggrin]

noona b, tittle tret ini diubah aja jd minsun's/jundi's short fanfiction  [biggrin] [biggrin]

ok mulaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii ...............................



CAST :


SONG OF THE DAY


CHAPTER 1

Hampir semua masyarakat Korea mengenal nama itu. Goo Jun pyo, CEO muda dari Shin Hwa Group, perusahaan terbesar Korea yang bergerak di bidang perbankan (Bank Of Shin Hwa), penerbangan (Shin Hwa Airlines), perhotelan (Shin Hwa Hotel) dan mendominasi beberapa bidang penting lainnya. Muda, kaya dan pintar dalam menangani segala sesuatu dari Shin Hwa Group. Sangat menarik dan selalu dielu-elukan hampir semua wanita Korea, bahkan di luar Korea sekalipun.

Tapi semua itu tidak menarik bagi Geum Jan Di, yang menghabiskan hampir seumur hidupnya di Roma, Italia. Dia hanya pernah mendengar nama itu dan mengetahui kebesaran namanya ketika pulang liburan sekolah setahun sekali di rumah kakeknya yang ada di Korea. Dan dia juga tidak pernah peduli dengan semua itu, karena hidupnya tidak akan pernah dikaitkan dengan orang itu.

Kemudian peristiwa itu terjadi pada saat kepulangan terakhirnya ke Korea. Jandi tidak sengaja mendengar pembicaraan antara kakeknya, tuan Geum tua, dengan sekretaris pribadinya, Mr. Jung. 'Geum's Group' mengalami masalah dan perusahaan itu akan diambilalih kepemilikannya oleh Shin Hwa Group dengan perwakilan Bank of Shin Hwa.

Tuan Geum tua sangat sedih. Geum's adalah hasil kerja keras seumur hidupnya. Dan juga merupakan perusahaan tua peninggalan ayahnya. Beliau tidak rela melepaskannya begitu saja. Tapi walaupun semua usaha sudah dilakukan untuk menyelamatkan Geum's Group tetap saja tidak berguna. Nasib Geum's sudah di ujung tanduk.

Satu-satunya cara untuk menolong Geum's adalah lewat uluran tangan Shin Hwa Group. Kalau Bank Of Shin Hwa bersedia mengalirkan dana ke Geum's, semuanya akan beres. Tapi tentu saja jika hal itu dilakukan tanpa syarat. Dan kakeknya itu sadar kalau hal itu tidak mungkin. Dunia bisnis tetap dunia bisnis. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Semuanya perlu hubungan timbal balik. Jika kamu mengharapkan pemberian dari seseorang maka kamu juga harus mengorbankan sesuatu untuk itu.




Mendengar ini, Jandi yang sudah mendaftarkan diri buat pemberangkatan besok ke Roma, membatalkan rencana itu. Dengan bantuan Mr. Jung, dia membuat perjanjian tersembunyi dengan Mr. Goo Jun Hyun, pemilik Shin Hwa Group, ayah dari Goo Jun Pyo.

Perjanjian itu dibuat dengan susah payah dan memakan waktu cukup lama. Mr. Jung harus pontang panting kesana kemari dan menelepon berulangkali, barulah Mr. Goo Jun Hyun bersedia bertemu dengan Jandi. Pertemuan mereka berlangsung pada siang hari di cafe' Deffa yang terletak di lantai dasar gedung Shin Hwa.

Jandi yang mempunyai bakat alam dalam menilai watak seseorang tidak segera mengutarakan maksudnya. Acara makan siang mereka berjalan dengan tenang. Setelah menghabiskan hidangan di atas meja, dan Goo Jun Hyun menyeruput kopi hitam pekat dihadapannya dengan tampang puas, Jandi baru mengutarakan maksudnya.

Jandi meminta Mr. Goo Jun Hyun menolong Geum's Group. Mengulurkan dana ke Geum's, tanpa merubah nama tua perusahaan itu, dengan syarat apapun akan dilaksanakan olehnya. Geum's adalah semangat hidup kakeknya, jadi Jandi ingin sekali melihat haraboji tetap melihat Geum's tetap berdiri sampai akhir hayatnya.

Goo Jun Hyun berpikir untuk waktu yang cukup lama sebelum mengajukan sebuah tawaran yang sangat mengejutkan Jandi.

*************



"Apaaaaa ...... ??"

"Pikirkan itu, Jandi-shi!!! ... saya yakin nona Geum adalah gadis yang cerdas .. tidak ada yang gratis di dunia ini ... lagipula tawaran ini tidak akan merugikan agashi .... "

"Tapi ... mengapa saya? ... maksudku ... mengapa memilih saya? ... Banyak putri konglomerat yang mempunyai wajah, nama dan kedudukan melebihi yang saya miliki ....  Saya hanyalah cucu dari orang yang sudah dikalahkan oleh tuan, jadi .. mengapa harus saya?", tanya Jandi keheranan.

Dia sangat terguncang dengan tawaran yang diajukan pria setengah baya dihadapannya. Bagaimana mungkin pemilik utama dari Shin Hwa Group sendiri memintanya untuk dijadikan menantu? Jandi mencubit keras lengan kirinya. Dia langsung meringis. Tidak!! Dia tidak bermimpi. Lengannya terasa sakit dan bekas cubitan itu memerah di sana.

"Jangan mencubit lenganmu lagi!! Kamu tidak bermimpi, ini kenyataan ... ", Goo Jun Hyun menjatuhkan perhatian ke lengan Jandi. Gadis itu langsung tersipu malu begitu kelakuannya tadi tertangkap basah oleh pria di depannya.

"Mungkin benar apa yang kamu katakan ... Banyak gadis yang melebihimu ... Tapi saya cukup menyukaimu karena ada sesuatu di kamu yang tidak dimiliki oleh gadis-gadis itu ... Mereka hanya bisa memanfaatkan kekayaan keluarganya, bersenang-senang dan menghamburkan waktu dan uang dengan percuma ..... dan jika semuanya sudah habis, mereka tinggal menelepon keluarganya dan meminta uang lagi, .... saya tidak memerlukan menantu seperti itu, .. dan saya juga yakin Junpyo tidak akan menyukai wanita begituan .... Mungkin dia akan menolak keras rencana pernikahan ini, tapi saya berani menjamin dia tidak mampu melakukannya ... saya mempunyai cara untuk menaklukkannya .... sudah cukup waktu yang kuberikan untuknya buat mencari gadis impiannya, jadi sudah waktunya dia menyerah dan mendengarkan perkataanku .... ", lanjut Jun Hyun.

Jandi menunduk perlahan ...
"Bagaimana ... bagaimana .. jika saya yang menolak?"



Jun Hyun memperhatikan gadis dihadapannya dengan seksama ...
"Saya yakin agashi tidak akan menolaknya .... ", katanya sambil tersenyum licik.

***************



"APAAAAAAAAAAA?? .........Kamu sudah gila ya .... jaman apa sekarang, sampai masih ada perjodohan seperti ini!!!!!", teriakan Junpyo mengetarkan seisi ruangan. Dia langsung berdiri tegak dari kursi yang tadi didudukinya.

Semua pelayan di ruangan itu langsung mundur ke belakang. Mereka sangat takut dengan majikan mudanya ini. Jika sudah marah Junpyo memang terlihat mengerikan. Sepasang matanya yang tajam terbelalak lebar dengan alis yang mengarah ke atas, giginya bergemelatuk hebat, hidung mancungnya kembang kempis sehingga hembusan nafasnya terdengar jelas. Bahkan rambut keritingnya terlihat berdiri semua.



Tapi Jun Hyun tidak terlihat gentar dengan kemarahan putranya ini. Moon Yong Hee, ommanya Junpyo, mengerutkan dahinya.
"Junpyo!! kendalikan emosimu!!! ... biarkan appa berkata lebih lanjut .... "

Junpyo masih tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak bermaksud mendengar perkataan appanya itu. Perlahan dia bergerak, bermaksud meninggalkan ruang makan itu tanpa menyentuh sedikitpun hidangan yang tersaji di atas meja.

"JUNPYO!!!! .... senang atau tidak senang, mau atau tidak mau, kamu harus menikah dengan cucu dari tuan Geum!!!! ", teriakan Jun Hyun membuat Junpyo berbalik cepat kearahnya.

"Bagaimana jika saya menolak?", tanya Junpyo dingin. Emosinya sudah tidak dapat dikendalikan dengan baik.

"Saya senang mendengar persamaan dari pertanyaan kalian!! ...... dan saya beritahukan kepadamu Junpyo-ya, .. kamu tidak bisa menolaknya, .. karena kamu sudah berjanji kepada appa bahwa setelah waktu lima tahun kamu belum juga menemukan wanita yang ingin kamu nikahi maka appa dan omma yang akan memilihkannya untukmu, .... Kamu tidak bermaksud ingkar janji kan Junpyo-ya?"

Junpyo mendesis perlahan. Dia ingat sekarang! Janji berengsek yang dibuatnya lima tahun yang lalu. Dan dia sadar appanya pandai membaca pikirannya. Dia paling benci kalau sudah ditantang seperti ini. Ingkar janji tidak pernah ada dalam kamusnya. Selama hidup, apa yang sudah keluar dari mulutnya tidak pernah gagal dilakukannya. Jika saat ini dia melanggar janji itu, maka ini akan merupakan tinta hitam yang bakal menodai semboyan hidup yang sudah dipengangnya sejak kecil.

Jun Hyun tersenyum kecil ke putra tunggalnya itu. Junpyo tidak berusaha menjawab pertanyaan Jun Hyun. Dia tidak mengiyakan juga tidak bisa menolak. Akhinya dia menjalankan niatnya semula, yaitu berlalu dari ruangan itu.

*************



Bar itu masih sepi. Beberapa wanita berpakaian minim memusatkan perhatian ke sudut ruangan. Empat pemuda berpostur tinggi dan tampan dengan penampilan menarik sedang berbincang di situ. Junpyo melempar gelas kosong di tangannya ke atas meja. Terdengar suara 'BRAKKKKK' keras ketika gelas itu mendarat di pinggir meja dari kaca itu.



Song Woo Bin, anggota tertua dari kelompok mereka (F4), menoleh kearahnya. Dahinya berkenyit begitu melihat tampang kesal Junpyo.
"Heiii mannn!! What's wrong with you?"

"JANGAN BERBICARA BAHASA INGGRIS DENGANKU ...!!!!!!", Junpyo langsung menepis tangan Woobin yang mendarat di bahunya.

"Heii .. heiii .. ada apa denganmu?", Woobin semakin mengerutkan wajahnya. Begitu juga dengan Yoon Ji Hoo dan So Yi Jeong, yang duduk di sebelah mereka.

"Ada apa?", tanya Jihoo dengan suaranya yang khas. Lembut dan menenangkan.

Junpyo berpaling kearahnya. Matanya terpejam perlahan. Dia berusaha menahan gejolak perasaannya yang sudah hampir meledak.
"Ada apa lagi selain ide gila dari si tua bangka itu?", jawabnya dingin.

"Appamu? .. hmmm ada ide apa lagi kali ini?", Yijeong mengeluarkan suaranya.

"Dia menyuruhku menikahi cucu dari si tua Geum ... bisa dibayangkan tidak?? cucu dari orang yang kukalahkan .... COBA!!! .. Apa maksudnya ini??", kata Junpyo dengan tampang jijik.

F3 langsung membelalakan matanya begitu mendengar jawaban Junpyo.

"APAAAA???  .... mana mungkin??", tanya Yijeong.

"Dan .. apakah kamu mengabulkannya Junpyo-ya?", Jihoo juga mengutarakan pertanyaannya.

"Apa yang bisa saya lakukan? .. si tua bangka itu mengungkit lagi janji yang pernah saya ucapkan lima tahun yang lalu ... ", jawab Junpyo putusasa. Dihempaskannya tubuh jangkungnya ke sofa di belakang.

"Heii .. tunggu sebentar!!!! .. maksudmu cucu dari Geum Jae Hon, pemilik Geum's Group?", Woobin tiba-tiba mengeluarkan sebuah pertanyaan yang membuat semua berpaling kearahnya.

"Kamu mengenalnya?", tanya Junpyo penuh tanda tanya.

"Tidakk!!", jawab Woobin cepat, "Kalian masih ingat kan dengan sepupu blasteranku si Pierre yang tinggal di Italia?", tanya Woobin.

Ketiga temannya itu menganggukan kepala dalam waktu bersamaan.

"Dia pernah bercerita padaku tentang cewek itu ... katanya dia sangat pandai dan menarik .. tapi Junpyo-ya, tahukah kamu kalau gadis itu baru 18 tahun?", lanjut Woobin lagi.

Ketiga pemuda itu langsung tersentak di tempat. Bagaimana tidak? Umur mereka berempat rata-rata sudah diatas 25 tahun.
"Delapan belas?? ... berarti dia masih sekolah?", tanya Junpyo perlahan.

"Iya, ... kalau tidak salah semester dua jurusan akutansi ...", jawab Woobin. Diamatinya Junpyo dengan pandangan menyelidik. Apa yang akan dilakukan sahabatnya ini sekarang?

"Ohhhh .. TUA BANGKA ITU!!! .... apakah dia sadar apa yang akan terjadi dengan pernikahan di bawah umur??", gigi Junpyo bergemelatuk hebat ketika mengucapkan perkataan ini.

"Junpyo-ya ... dia sudah 18 tahun, jadi bukan di bawah umur .... ", Yijeong membenarkan perkataan Junpyo dengan tersenyum kecil di wajah, "Lagi pula apa salahnya dengan rencana pernikahan yang dibuat oleh keluarga kita ... sejujurnya dua bulan lagi saya juga akan menikah dengan gadis pilihan dari keluargaku .. saya tidak mengenalnya dan saya juga tidak perduli dengan itu ...", lanjut Yijeong tanpa memperlihatkan perasaannya.

Dan berita mendadak ini kembali mengemparkan mereka. Junpyo mengepalkan tinjunya. Wajahnya mengeras.
"Apa sebenarnya yang ada di pikiran orang tua kita? ... menikah tanpa saling mengenal? ... saya tidak bisa membayangkan semua itu .... "

Woobin dan Jihoo menatap kedua sahabatnya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Hal ini sudah terjadi pada Junpyo dan Yijeong. Dan mereka yakin tidak lama lagi mereka juga akan mengikuti jejak teman mereka itu. Beginilah nasibnya jadi penerus dari keluarga tua ternama di Korea, bahkan di seluruh dunia.

Pernikahan adalah milik keluarga, bukan milik mereka sendiri. Mereka tidak punya hak untuk memilih. Junpyo menjatuhkan pandangan ke gelas yang membisu di depannya. Sebenarnya dia mempunyai kesempatan untuk memilih. Lima tahun! Ya, dia punya waktu lima tahun. Tapi sayang selama lima tahun itu dia tidak berhasil mendapatkan seorang wanita yang mampu membuatnya bertekuklutut.

***********


Geum Jae Hon, si Geum tua, kakek Jandi, tidak kalah terkejutnya mendengar rencana pernikahan cucu satu-satunya itu. Jandi dengan bantuan Mr. Jung berhasil menjelaskan semua rencana itu ke tuan Geum tua. Dan kakek itu menolak keras.

"Tidak bisa Jandi-ya .. kamu tidak perlu melakukan itu ... Walaupun Geum's sangat berarti bagi haraboji, kamu melebihi segalanya ... mungkin selama ini haraboji tidak terlalu perhatian terhadapmu, tapi sesungguhnya haraboji sangat mencintaimu ... ", air bening mulai menetes dari mata tuan Geum tua.

Jandi mendekati kakeknya, kemudian berjongkok dihadapannya. Sepasang tangannya ditaruh diatas tangan haraboji yang sudah keriput.
"Haraboji .. saya tahu kalau haraboji mencintai saya .... Jandi dapat melihatnya ...", Jandi mulai menghapus air mata yang menetes keluar dari sudut matanya. Dia sudah berusaha sekuat tenaga menahan gejolak perasaan yang dialaminya saat ini, tapi tetap saja tidak berhasil.

"Saya sudah menyetujui pernikahan ini haraboji .. jadi saya tidak bisa mengingkarinya ... Bukankah haraboji yang mengajariku sejak kecil untuk selalu menepati semua yang telah dikeluarkan dari mulutku?", Jandi semakin tertekan ketika melihat tuan Geum tua terisak tertahan, "Haraboji jangan menanggis, Jandi janji akan selalu bahagia .... tapi haraboji juga harus berjanji padaku untuk selalu bahagia, dengan begitu pengorbananku tidak akan sia-sia ...", Jandi memanjangkan bibirnya.

Haraboji tertawa tertahan melihat tampang lucu cucu kesayangannya itu. Jandi juga tersenyum kecil. Dihapusnya airmata yang tersisa di pipi keriput tuan Geum tua. 'Mungkin hari esok tidak akan seburuk perkiraannya', Jandi berdoa dalam hati.

************



Pernikahan antara Junpyo dan Jandi akhirnya diselenggarakan sebulan kemudian. Tidak banyak yang diundang dalam acara itu. Hanya beberapa keluarga dekat dan sebagian kecil rekan bisnis Shin Hwa Group yang hadir di gereja, tempat diselenggarakannya acara suci itu.

Selain Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee juga para undangan, semua yang berada dalam gereja berwajah mendung. Apalagi Junpyo dan Jandi. Mereka berjalan dengan langkah lamban ke altar gereja. Tidak ada senyuman sedikitpun di wajah mereka. Kalau mau mengibaratkan tampang mereka, dunia seakan mendekati kiamat.

Kata-kata dari bapak pendeta mengambang di udara. Tidak jelas dan seperti mengiang di telinga Junpyo dan Jandi.

"Goo Jun Pyo-shi .. apakah anda bersedia menerima Geum Jan Di-shi sebagai istri anda, mencintai dan menjaganya sampai akhir hayat dalam suka maupun duka, walaupun ada penyakit yang dideritanya, anda tidak akan meninggalkannya sedetikpun ...."

Junpyo tidak menjawab karena pikirannya masih menerawang. Semua yang berada di geraja itu mulai mengeluarkan suara. Jun Hyun dan Yong Hee saling melempar pandangan dengan gelisah. Tuan Geum tua memejamkan matanya.

"Goo Jun Pyo-shiii .... ??", suara pak pendeta terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih keras.

Junpyo terhentak di tempatnya. Sepasang matanya yang bening berkedip-kedip gelisah. Dia memandang pak pendeta tanpa tahu harus berkata apa.

"Goo Jun Pyo-shi ...?? ", tegur pak pendeta sekali lagi.

Junpyo membuka mulutnya, bermaksud menjawab pertanyaan tadi. Tapi kemudian dia menutupnya kembali rapat-rapat. Dia mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Semua mata mengarah padanya. Kedua orangtuanya juga melebarkan mata kearahnya. Junpyo menghembuskan nafas perlahan. Dia tahu tidak bisa melarikan diri lagi. Diliriknya sekilas gadis mungil bergaun putih panjang lengkap dengan kerudung di sampingnya.

"Saya bersedia .... ", jawabnya. Kedengaran sangat terpaksa. Mendengar jawaban itu Jandi segera mengangkat wajahnya ke Junpyo. Matanya menyipit di balik kerudung yang menutupi wajahnya.

"Geum Jan Di-shi .... apakah anda bersedia menerima Goo Jun Pyo-shi sebagai suami anda, mencintai dan menjaganya sampai akhir hayat dalam suka maupun duka, walaupun ada penyakit yang dideritanya, anda tidak akan meninggalkannya sedetikpun ....", pak pendeta mengulang pertanyaan yang sama ke Jandi.

Dan tanpa membuang waktu Jandi menjawab pertanyaan itu ...
"Saya bersedia .."

Junpyo sangat terkejut dengan jawaban Jandi. Suara itu terdengar sangat mantap dan tanpa keraguan. Semua orang langsung bertepuktangan meriah.

"Sekarang anda bisa membuka kerudung istri anda, Goo Jun Pyo-shii ... dan kalian juga bisa menukar cincin dan memberi kecupan ke pasangan anda ... ", lanjut pak pendeta.

Jandi memutar badan kearah Junpyo. Dia merasa tidak ada gunanya berbasa basi. Lebih cepat acara ini diselesaikan itu lebih baik. Tapi Junpyo tidak memikirkan hal ini. Dia merasa sangat terganggu dengan keagresifan Jandi.

"Kata-kataku bisa dilakukan sekarang juga Goo Jun Pyo-shi !!", tegur pak pendeta.

Sekali lagi Junpyo dibuat tersentak. Dengan agak ragu dia berbalik menghadapi Jandi. Perlahan tangannya terulur, membuka kerudung yang menutupi wajah Jandi. Gadis itu menunduk dalam-dalam sehingga wajahnya tidak terlihat jelas oleh Junpyo. Hanya kulit putih mulus agak kemerah-merahan itu yang tertangkap pandangannya.

Junpyo kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku dibalik jas putih panjang yang dikenakannya. Dia membuka kotak itu. Meraih sebuah cincin bertahtah berlian yang lebih kecil dan memakaikannya ke jari manis di tangan kiri Jandi. Dan tindakan itu diikuti oleh Jandi.

Sebentar kemudian teriakan mulai terdengar dari para undangan ....
"CIUM DIAAA!!!! ..... CIUM DIAAAA!!!!! ...... CIUM DIAAAA!!!!"

Junpyo menjadi sangat gugup. Terus terang .. dia bukannya tidak pernah mencium seorang wanita. Tapi dalam keadaan seperti ini, ditambah dengan pasangan yang tidak dikenalnya, dia tidak bisa melakukannya. Apalagi gadis dihadapannya ini masih menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Teriakan masih terus terdengar. Junpyo menghembuskan nafas perlahan. Dia tahu tidak ada jalan lain  untuk menghentikan teriakan mereka selain melakukan permintaan mereka itu. Perlahan Junpyo mendekat kearah Jandi. Wajahnya menunduk dan mengarah ke wajah Jandi. Semakin mendekat dan mendekat, sehingga Jandi bisa mendengar dengan jelas desahan nafasnya.

Jandi langsung mengangkat wajahnya ke Junpyo. Pipi yang memerah dan mata bulat hitam kecoklatan yang terbelalak lebar itu mengangetkan Junpyo. Dia tidak menyangka gadis ini akan mengangkat wajahnya semendadak itu. Mata Junpyo langsung berkedip berulangkali di tempatnya. Dia sangat terguncang dengan tindakan Jandi tadi.


*************



Malam harinya .......

Jandi sudah membersihkan diri sejak sepuluh menit yang lalu. Sekarang dia duduk termenung di sofa empuk yang terletak di sudut kanan kamar tidur Junpyo yang besar dan nyaman. Hampir seisi ruangan ini  terbuat dari kayu berkilat. Ranjang, lemari pakaian, meja teh, kursi yang mengelilinginya dan juga dinding ruangan juga terbuat dari kayu. Hanya sofa yang terlapis kulit lembut, lemari hias dari kaca yang  walaupun begitu pinggirannya juga terbuat dari kayu, lantai yang terpasang karpet berbulu tebal, yang terlepas dari bahan baku kayu.

Jandi menghembuskan nafas perlahan. Dia cukup menyukai dekorasi dari kamar ini. Lembut dan alami. Memberikan kesan alam yang menyejukkan. Samar-samar dia bisa mencium harum mawar yang merembet masuk dari celah jendela tinggi yang menghadap kebun bunga.

Bunyi air disiramkan yang terdengar sejak tadi dari kamar mandi sudah berhenti. Jandi langsung tersentak. Lima menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Junpyo keluar dari sana dengan terbalut piyama berwarna putih. Rambutnya yang basah melekat di wajahnya. Dia berpaling kearah Jandi.
"Kamu belum tidur juga?", tanyanya tajam.



Jandi tersentak. Dengan agak tergesa dia berlari ke ranjang. Meraih bantal dan selimut kemudian berbalik ke sofa. Kembali terbayang di kepalanya peristiwa di gereja. Bibirnya bergetar ketika mengingat bagaimana dia terpaksa harus merelakan pipinya dicium oleh pria ini. Sesuatu yang belum pernah diterimanya dari pria manapun.

"Kamu mau tidur di situ?", tanya Junpyo dengan kening berkerut.

"Saya ... saya tidur di sini saja ... ", jawab Jandi gugup. Sepasang pipinya sudah mulai memerah.

Dia segera berbaring di sofa, menyelimutkan selimut itu ke tubuhnya, kemudian menutup matanya rapat-rapat. Junpyo memperhatikan semua perbuatan Jandi dengan wajah semakin berkerut.
"Terserah kamu saja .... ", katanya kemudian.

************

ps: cre all pics as labeled, baidu
bersambung ke chapter 2 ~~~~
« Last Edit: January 31, 2010, 06:33:27 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun