Author Topic: Why? [Update 21 September 2010]  (Read 3603 times)

minsunlover

  • Guest
Re: Why?
« Reply #30 on: September 21, 2010, 02:04:48 am »
Ini dia ceritanya. Maaf ya kalau mengecewakan dan tidak sesuai harapan kalian  [sweat] [sweat] [sweat]



Goo Jun Pyo merasa sangat lelah sekali hari ini. Banyak sekali pekerjaan yang harus diurusnya tadi siang di kantor. Selain itu ia juga harus menghadiri beberapa rapat penting dengan para pemegang saham dan juga pihak investor serta harus bertemu dengan beberap klien. Semuanya itu memang sangat wajar mengingat posisinya sebagai President Direktur dari ShinHwa Group, sebuah perusahaan multinasional yang sangat terkenal dan berpengaruh besar dalam dunia bisnis, tidak hanya di Korea, tetapi juga di Asia.

Saat ini tidak ada hal yang paling ingin dilakukannya selain beristirahat dengan tenang di rumah ditemani oleh istri tercintanya, Geum Jan Di. Tetapi ternyata keadaan tidak memungkinkan, karena begitu sampai di rumah ia harus kembali memeriksa beberapa buah dokumen penting untuk pertemuan dengan investor asing besok.

Yaaa, walaupun tidak dapat langsung beristirahat, tapi setidaknya Jun Pyo berharap agar jangan ada yang mengganggunya selama ia bekerja malam ini sehingga ia dapat dengan segera menyelesaikannya lalu setelah itu ia dapat bermesraan dengan Jan Di sebelum tidur.

“Dimana nyonya?” Tanya Jun Pyo kepada salah seorang pelayannya ketika ia tidak mendapati Jan Di datang menyambut kepulangannya ke rumah malam itu.

“Nyonya tadi pergi terburu-buru, tuan. Katanya ada urusan yang penting di rumah sakit” jawab sang pelayan.

Jun Pyo menghembuskan nafas dengan kecewa. Pekerjaan sang istri sebagai seorang dokter memang kadang-kadang mengharuskannya untuk datang ke rumah sakit dengan tiba-tiba setiap waktu. Jun Pyo berusaha untuk menerima keadaan ini karena ia tahu betapa Jan Di sangat mencintai pekerjaannya ini. Jan Di pun telah bersusah payah agar bisa menjadi seorang dokter yang handal.

“Oh ya tuan, sebelum nyonya pergi, ia menitipkan surat ini untuk diserahkan kepada anda ketika anda pulang” sang pelayan tadi kemudian menyerahkan sepucuk surat yang telah ditulis oleh Jan Di beberapa waktu sebelumnya ke tangan Jun Pyo.

Goo Jun Pyo,

Maaf, tiba-tiba ada tugas penting yang mengharuskan aku segera datang ke rumah sakit. Ku harap kau tidak keberatan untuk menemani Jun Di bermain malam ini. Aku akan mengusahakan agar bisa kembali ke rumah secepat mungkin sebelum Jun Di tidur.

-Jan Di-


Begitulah isi surat Jan Di. Akhirnya setelah Jun Pyo selesai membersihkan dirinya dan makan malam, ia segera beranjak ke kamar putri tunggalnya, Goo Jun Di, yang berada tepat di sebelah kamarnya dan Jan Di. Karena ia sendiri pun masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya mala mini, Jun Pyo akhirnya membawa Jun Di ke ruang kerjanya sehingga ia dapat mengawasinya bermain di sana.

Untuk beberapa saat keadaan sangat tenang. Jun Pyo berkonsentrasi memeriksa dokumen-dokumen untuk rapat besok sambil sesekali melayangkan pandangannya kepada Jun Di yang sedang asyik bermain bersama dengan boneka-bonekanya di lantai. Tetapi keadaan tenang ini tidak berlangsung lama…

“Appa” suara kecil Jun Di yang tiba-tiba berkumandang di dalam ruangan tersebut membuat Jun Pyo tersentak. Ia kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat kearah Jun Di.

“Ya, sayang?” jawab Jun Pyo.

“Eomma mana?” tanya Jun Di.

“Eomma pergi ke rumah sakit, sayang” jelas Jun Pyo.

“Kenapa?” Jun Di kembali bertanya. Matanya yang seperti mata Jun Pyo memancarkan rasa ingin tahu yang besar.
“Karena ada orang yang sedang sakit” jawab Jun Pyo.

“Kenapa?”

“Entahlah sayang, mungkin orang itu mengalami kecelakaan atau salah minum obat” kata Jun Pyo sambil mengangkat bahunya.

“Kenapa orang sakit memerlukan bantuan Eomma?” tanya Jun Di lagi.

 “Karena Eomma adalah seorang dokter yang bertugas untuk menolong orang yang sedang sakit” jawab Jun Pyo sambil tersenyum sebelum akhirnya ia kembali menundukkan kepalanya untuk kembali terbenam diantara tumpukan dokumen yang ada di mejanya. Ia selalu merasa takjub akan rasa ingin tahu Jun Di yang begitu besar akan segala sesuatu. Putri kecilnya ini menang sangat hebat dan cerdas, begitulah yang selalu Jun Pyo pikirkan.

Jun Di kemudian berdiri untuk menghampiri meja tempat appanya sedang bekerja. “Appa sedang apa?” tanyanya kembali dengan kepala yang terjulur ke atas.

“Appa sedang bekerja, sayang” jawab Jun Pyo singkat.

“Kenapa?”

Jun Pyo mengangkat kepalanya dan menarik napas. Saat ini ia mulai merasa bahwa Jun Di sudah mulai mengganggunya dengan segala macam pertanyaan-pertanyaannya itu. “Karena kalau appa tidak bekerja maka kita tidak akan punya uang untuk makan dan juga membeli mainanmu”

Jun Di kemudian menunjuk kearah tumpukan kertas yang berserakan di atas meja Jun Pyo “Appa sedang membaca apa?”

“Appa tidak sedang membaca, Jun Di. Appa sedang memeriksa dokumen-dokumen ini” jawab Jun Pyo.

“Kenapa?”

Jun Pyo berhenti sebentar dari kegiatannya untuk memandang putri kecilnya yang kini berdiri tepat disampingnya “Karena kalau tidak diperiksa, appa bisa berada dalam kesulitan besok”

Tidak mengherankan bagi Jun Pyo ketika Jun Di kemudian membuka mulutnya lagi dan mengeluarkan pertanyaan yang sama kepadanya untuk yang kesekian kalinya pada malam itu “Kenapa?” dan bersamaan dengan itu lenyap pula rasa kagum yang semula dimiliki Jun Pyo akan rasa ingin tahu Jun Di. Saat ini ia hanya berharap seandainya Jun Di tidak begitu ingin mengetahui apa-apa.

Sungguh, bila Jun Di bukan anak kandungnya sendiri, ia pasti sudah berteriak sekencang-kencangnya kepadanya saat ini untuk menyuruhnya agar diam. Atau mungkin saja ia sudah menempelkan selotip yang sangat besar untuk menyumbat mulut kecil Jun Di agar ia tidak bersuara lagi. Tapi ia tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan Jun Di dengan tenang.
“Karena bisa saja ada kesalahan yang terdapat dalam dokumen ini yang bisa berakibat fatal”

Kali ini entah jawaban yang diberikan oleh Jun Pyo dapat diterima dengan baik oleh Jun Di atau karena memang ia sudah lelah bertanya, JunDi akhirnya diam dan tidak bersuara lagi. Tetapi ketenangan Jun Di ini hanya berlangsung selama dua puluh detik saja, ketika akhirnya ia kembali membuka mulutnya dan bersuara.

“Appa…” panggilnya.

Jun Pyo memejamkan  matanya sesaat untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia harus kembali menjawab pertanyaan-pertanyaan putrinya tersebut. “Ya?” kali ini tidak ada lagi kata sayang untuk JunDi.

“Rambutku, Eomma, halmonie, haraboshi, bibi Jun Hee, paman Ji Hoo, paman Yi Jeong, paman Woo Bin dan bibi Ga Eul semuanya lurus. Kenapa hanya rambut Appa yang keriting?”

Jun Pyo menatap Jun Di dengan pandangan yang tidak percaya dan mulut yang terbuka lebar. “Oh bagus! Bagus sekali….sekarang ia mulai mempertanyakan asal muasal kenapa rambutku seperti cangkang keong ini” gerutu Jun Pyo dalam hati.

“Rambut Appa memang sudah seperti ini sejak Appa lahir” ujar Jun Pyo dengan suara bergetar menahan emosi.

“Kenapa?”

Jun Pyo terpaksa harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar kemarahan dan kekesalannya pada Jun Di tidak keluar dari mulutnya “Karena ini adalah kehendak Tuhan” jawab Jun Pyo asal-asalan. Ia langsung memperhatikan mulut kecil Jun Di yang sudah mulai terbuka dan sepertinya akan mengeluarkan pertanyaan yang sama lagi. Jun Pyo merasa bila kali ini ia masih harus mendengar Jun Di menanyakan “Kenapa” padanya, Ia pasti akan pingsan.

“Kena…” Jun Di tidak dapat menyelesaikan pertanyaannya karena tepat pada saat itu Jan Di datang dan membuka pintu ruang kerja Jun Pyo. Jun Di yang melihat kedatangan Eomma-nya langsung berlari dengan senang kearah Jan Di. Jun Pyo pun tidak kalah senangnya, ia bahkan seolah-olah ingin berbuat hal yang sama dengan yang dilakukan putri kecil cerewetnya itu yaitu berlari kearah Jan Di dan memeluknya dengan sangat kuat. Bagi Jun Pyo saat ini Jan Di tak ubahnya dengan seorang malaikat yang datang dari surga untuk membantunya melepaskan diri dari siksaan-siksaan pertanyaan Jun Di.

“Halo Jun Pyo” kata Jan Di ramah dan penuh dengan senyuman kepada suaminya.

Jun Pyo bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan kearah istrinya untuk memberikan ciuman hangat kepadanya “Aku senang kau sudah pulang” katanya.

“Kau tampak lelah sekali” kata Jan Di sambil memperhatikan wajah Jun Pyo.

“Ya, memang. Aku sangat lelah” jawab Jun Pyo lemah.

“Kenapa?”

Jan Di tidak akan pernah tahu apa yang menyebabkan suaminya tersebut tampak lelah karena hanya sedetik setelah ia menanyakan “kenapa” kepada Jun Pyo, Jun Pyo sudah langsung berteriak-teriak marah kepadanya “Jan Di, jangan pernah….aku ulangi….jangan pernah menyebut kata itu didepanku” raung Jun Pyo kesal.

“Kenapa?”

“AAARRRGGGGGHHHHHH!!!!!!” hanya itu yang diteriakan oleh Jun Pyo sebelum akhirnya ia membanting pintu ruang kerjanya dan meninggalkan Jan Did an Jun Di di luar dengan satu pertanyaan yang sama, yaitu : Kenapa?



Sekali lagi maaf kalo ceritanya jelek ya  [sweat] [sweat]