Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 14526 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID !
« on: September 21, 2010, 05:45:06 am »
CHAPTER 1

Pagi menjelang. Burung-burung berkicau menyambut datangnya mentari. Seorang perempuan cantik berumur sekitar 19 tahun masuk ke dalam sebuah kamar luas sambil membawa nampan berisikan secangkir kopi hangat. Ia menggunakan pakaian yang khusus di sediakan tuannya untuknya. Kemeja putih di lapisi blazer warna biru tua dan rok hitam sepuluh senti yang dikenakannya melambai-lambai setiap kali ia berjalan.

TEEETT....
Nama : Geum Jan Di
Umur : 19 tahun
Pekerjaan : maid khusus tuan muda Goo Jun Pyo
Status : berpacaran


SREEK

Bunyi gorden dibuka bahkan tidak membuat seorang pemuda bangun dari tidur lelapnya. Segera Jan Di duduk ditepi tempat tidur mewah tersebut. Ia menggerak-gerakkkan lengan kekar tuannya dengan lembut.

“Jun Pyo-a. Sudah waktunya bangun. Jun Pyo-a”, Jan Di membangunkan Jun Pyo dengan suara lembutnya.

“Nghh”, Jun Pyo menggeliat pelan di tidurnya. Ia mengambil bantal yang kemudian digunakannya untuk menutup kedua telinganya.

Jan Di mengeluh pelan. Selalu saja begini. Dasar manja!, batin Jan Di kesal. Jan Di kembali membangunkan Jun Pyo, tapi kali ini guncangan yang diberikannya lebih keras.

“Jun Pyo-a. Yaa... waktunya bangun. Aku sudah menyiapkan minuman kesukaanmu”

Jun Pyo membuka matanya sedikit. Hanya sedikit. Ia memandang Jan Di yang sudah tersenyum ke arahnya. Dengan gerakan cepat ia membaringkan kepalanya di paha Jan Di dan memeluk pinggang Jan Di erat, ia lalu menyembunyikan wajahnya di pinggang ramping maidnya.

“Berisik”, suara Jun Pyo teredam di pinggang Jan Di.

Wajah Jan Di blusshing tak karuan. Walaupun tuannya ini sudah sering memunculkan sifat manja padanya, ia tetap tidak bisa menahan rona merah yang muncul di kedua pipinya. Sebagai seorang maid khusus, Jan Di memang harus menuruti apapun permintaan sang majikan. Kupikir aku harus menceritakan perjalanan hidupnya. Jan Di sudah menjadi maid Jun Pyo selama tiga tahun. Sebenarnya dulu Jan Di hanyalah seorang pembantu yang dibawa langsung oleh kakak Jun Pyo, Goo Jun Bi. Hidupnya pada saat itu sangatlah tenang. Ia punya pacar yang juga seorang bodyguard milik Bi oppa, dan ia juga mempunyai banyak teman di tempat tinggalnya yang baru. Tapi semuanya berubah pada saat adik Bi oppa, Goo Jun Pyo kembali dari Amerika setelah menyelesaikan studynya. Baru beberapa saat bertemu dengan Jan Di, Jun Pyo langsung meminta (baca : memerintahkan) agar Jan Di menjadi maid miliknya sendiri. Segala urusan Jun Pyo dirumah, dimulai dari membangunkannya sampai menyiapkan segala keperluan Jun Pyo harus diurus SENDIRIAN oleh Jan Di. Tentu saja waktu itu Jan Di menolak dengan keras, tapi setelah dibujuk oleh Bi oppa dengan menjamin keselamatan dan kehormatannya (?), Jan Di akhirnya menyerah.

Pada waktu itu Jan Di berharap agar ia dan Jun Pyo bisa bekerja sama, tapi harapannya pupus ketika melihat dan merasakan sendiri bahwa manja dan rewel Jun Pyo bahkan mengalahkan anak berumur tiga tahun!. Sifat Jun Pyo tuh gak tentu, angin-anginanlah, kalau ditempat yang ramai ia dikenal dengan sosoknya yang cool, dingin, tidak banyak bicara, angkuh, dan susah ditebak. Tapi bila berhadapan dengan Jan Di, ia bisa menjelma menjadi IBLIS BALITA!. Manja, rewel, cerewet, pervert (yeah, Goo Jun Pyo is a PERVERT), tidak bisa dibantah dan posesif adalah sifat yang paling tidak disukai Jan Di dari Jun Pyo. Mereka tidak memiliki komitmen apapun tapi Jun Pyo merasa seperti sudah memiliki Jan Di SEUTUHNYA dan SENDIRIAN.

Well, back to the story.

Dengan lembut Jan Di memegang tangan Jun Pyo yang melingkari pinggangnya dan melepaskannya secara perlahan. Usahanya sia-sia saja karena pelukan Jun Pyo malah semakin erat.

“Jun Pyo, lepaskan. Kau harus segera mandi dan berangkat ke kantor”, ujar Jan Di masih tetap berusaha melepaskan pelukan Jun Pyo.

“Aku bolos saja hari ini”, kata Jun Pyo. Ia semakin memperat pelukannya.

“Babo-a! Hari ini bukankah kau ada pertemuan dengan orang Jepang itu? Ayo cepat bangun!!”, dengan sekali hentakan pelukan Jun Pyo terlepas. Jan Di segera melompat dan menjauh sekitar lima langkah sebelum Jun Pyo kembali menariknya.

“Mandi sekarang juga, tuan muda Goo Jun Pyo. Aku akan menyiapkan sarapanmu segera, jadi cepatlah”, setelah itu Jan Di segera keluar kamar dan menuju ke bawah untuk menyiapkan sarapan.

Sedangkan didalam kamar yang ditinggalkannya, Jun Pyo menyeringai. Perlahan ia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi.

++++++++++++

Jan Di masuk lagi ke dalam kamar Jun Pyo setelah menyiapkan sarapan tuannya itu. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Jun Pyo belum memakai kemejanya. Bahkan rambutnya belum dikeringkan dan disisir sama sekali. Jun Pyo hanya baru memakai celana panjangnya.

“Kenapa belum siap?”, tanya Jan Di. Ia berjalan mendekati Jun Pyo yang sedang duduk ditepi tempat tidurnya sambil menikmati secangkir kopi.

Jun Pyo hanya memamerkan seringaiannya. Ia meletakkan kopinya, menyerahkan kemeja putihnya ke Jan Di dan langsung berdiri dengan mengangkat kedua tangannya ke samping.

“Pakaikan”, perintahnya.

Jan Di menghela napas panjang, dengan agak terpaksa Jan Di memakaikan baju itu ditubuh atletis Jun Pyo. Sedikit rona merah muncul dipipinya ketika melihat dada bidang Jun Pyo. Sedangkan Jun Pyo hanya tersenyum tipis.

Selesai dengan tugasnya mendadani Jun Pyo, ia segera menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa Jun Pyo ke kantor. Ia terlonjak kaget (bahkan hampir menjatuhkan beberapa lembar kertas) ketika sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang.

“Goo—Goo Jun Pyo”, Jan Di menggeliat pelan didalam pelukan Jun Pyo ketika dengan sengaja Jun Pyo mengecup belakang lehernya.

“Aku lembur malam ini”, bisik Jun Pyo pelan tepat ditelinga Jan Di. Perilakunya itu sukses membuat Jan Di mendesah.

“Jangan tunggu aku untuk makan malam. Understand?”, Jun Pyo kemudian menggigit pelan daun telinga Jan Di.

Dengan lemas Jan Di mengangguk dan segera melepaskan pelukan Jun Pyo sebelum majikannya itu semakin menjadi-jadi.

Selesai mendadani tuan mudanya yang super manja, keduanya turun ke bawah dan menuju ruang makan. Para pelayan yang kebetulan berada di ruang makan langsung keluar ketika Jun Pyo dan Jan Di memasuki ruang makan.

Hell, diruang makan Jun Pyo bahkan menerapkan peraturan.

Peraturan 1 : Jika sudah jam makan untuk Jun Pyo, ruang makan harus DIKOSONGKAN! Hanya boleh Jan Di yang ada di dalam.

Segera Jan Di menutup dan mengunci pintu dan berjalan ke arah Jun Pyo yang sudah duduk manis sambil membaca koran paginya.

“Sarapan hari ini adalah nasi goreng rendah karbohidrat” [hmpfh]

Jan Di meletakkan senampan piring di depan Jun Pyo. Ia mengambil koran yang tadi dibaca Jun Pyo dan kemudian melipatnya. Ia lalu memperhatikan Jun Pyo yang memakan sarapan paginya dengan tenang.

Belum sampai lima suap yang dimakannya, Jun Pyo meletakkan garpu dan sendoknya. Ia tidak melihat ke arah Jan Di yang sedang menatapnya heran.

“Ada apa? Makanannya tidak enak? Biar aku ganti”, kata Jan Di. Ia sudah bersiap mengambil piring yang dihadapannya Jun Pyo, tapi tiba-tiba pergelangan tangannya di cengkeram kuat oleh Jun Pyo.

“Suapi”, perintah Jun Pyo sambil memandang langsung ke dalam mata Jan Di.

Jan Di menghela napasnya lagi. Benar-benar deh anak ini!, batinnya.

Jan Di mengambil piring itu dan dengan perlahan ia duduk dipangkuan Jun Pyo.

Peraturan 2 : Jan Di wajib menyuapi Jun Pyo jika diminta. Dan ketika Jan Di melaksanakan perintah itu, ia HARUS DUDUK DIPANGKUAN JUN PYO!

Jan Di duduk manis dipangkuan Jun Pyo. Kali ini ia membiarkan majikannya itu memeluk pinggangnya seperti anak kecil. Sesekali ia juga mengelap sudut bibir Jun Pyo yang kotor terkena makanan.

“Done”, ujar Jan Di sambil berdiri kembali.

Jun Pyo meneguk segelas air putih yang disodorkan Jan Di padanya. Setelah itu ia berdiri dan menggenggam tangan mungil Jan Di yang kemudian berjalan ke ruang tamu. Sejumlah bodyguard segera mengatur barisan ketika Jun Pyo melintasi ruang tamu yang megah itu. Supir pribadinya, Song Woo Bin segera membukakan pintu mobil limousin. Woo Bin kemudian melayangkan senyum pada kekasihnya, Jan Di, ketika pandangan mereka bertemu.

Jan Di yang sedang membalas senyum Woo Bin sama sekali tidak memperhatikan bahwa Jun Pyo telah berhenti berjalan sehingga ia menubruk keras punggung Jun Pyo.

“Ugh”

Jun Pyo berbalik dan memandang lembut Jan Di yang sedang mengelus-elus hidungnya yang mungkin saja patah. Hell, bagaiamana tidak jika tubrukan yang baru saja di alaminya benar-benar keras. Semoga hidungku tidak bertambah pesek, batinnya.

Sesaat Jun Pyo tersenyum tipis melihat wajah Jan Di yang ditekuk, tidak berapa lama kemudian ia menarik Jan Di ke dalam pelukannya dan sukses membuat Jan Di panik. Jelaslah ia panik, PACARNYA berada tepat didepan hidungnya, dan menyaksikan adegan memalukan itu dengan mata kepalanya sendiri.

“Kau masih ingat apa yang ku beritahu padamu tadi?”, bisik Jun Pyo mesra ditelinga kanan Jan Di. Ia membelai-belai pinggang Jan Di yang sementara dipeluknya dengan lembut.

Jan Di mengangguk singkat, ia memandang takut-takut ke arah Woo Bin.
“Err—kau akan lembur malam ini dan menyuruhku untuk tidak menunggumu makan malam?”

Jun Pyo mengecup lembut jidat Jan Di dan kembali berbisik, “Anak pintar”. Jun Pyo segera masuk ke dalam limousinnya yang kemudian meluncur mulus menuju kantor.

Setelah kepergian Jun Pyo, Jan Di menghela napas berat. Ia cukup khawatir apa yang akan dipikirkan Woo Bin setelah melihat kejadian barusan. Selama ini Woo Bin hanya mendengar desas-desus yang mengatakan bahwa Jan Di mendapatkan perlakuan istimewa dari heiress keluarga Lee itu, tapi ia tidak pernah melihat secara langsung.

“All is well, Jan Di-a. All is well”, ujarnya sambil menepuk-nepuk dadanya pelan (tau kan yang di 3 idiots)

End of This Chapter (or part?)

+++++++++++++++

Voldi’s note :

KYAAAAAAA........... MY NEW FIC ! ! (tereak gaje pake toa pinjeman dari mushola). I know, i know. Pasti pada mau bilang, “Fic yang laen belum selesai malah nambah sampah lagi”. Tapi sumpah, ide ini mengalir begitu saja tanpa bisa saia cegah. Dan tiba-tiba, saia tersadar bahwa sudah duduk manis didepan komputer dan mengetik apapun yang ada didalam pikiran saia.
About rated, yeah M (again). I’m so proud about this one, guys. Trust me.

Oh no, what should I do, my beloved sissie and bro?

Keep or delete??

Komen please

Don’t forget to say : ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL ALL IS WELL

Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME