Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 46670 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
lanjutannya

Hye na diam, namun mengikuti langkah dokter Shin ke arah ruangannya. Pintu dibuka, Dokter Shin masuk dan duduk di belakang sebuah meja. Hye na menatap diam ruangan itu. Ruangan dengan tata interior yang standar layaknya ruang kerja yang lain.

Terdapat gantungan jas di ujung ruangan dekat dengan pintu, rak buku, meja dan 2 kursi yang berhadapan, mengapit sebua meja kayu. Hye na duduk di salah satu kursi, dihadapan Dokter Shin. Tak lama dokter Shin mulai mencari sesuatu di rak buku kecil yang ada dibelakangnya, tetapi sepertinya yang dicari, tidak ia temukan disana, karena kemudian Dokter Shin terlihat mulai mencarinya lagi di rak yang lain, meninggalkan Hye na yang duduk dtempatnya, dihadapan kursinya.

Hye na diam, mengalihkan wajahnya dari kesibukan mencari Dokter Shin dan menatap meja dihadapannya, dan yang dilihatnya pun sama saja, tidak ada yang mewah atau berlebihan disana. Hanya ada tumpukan buku, dan kertas, tempat alat tulis dan beberapa alat tulis disana dan sebuah foto…. Figura foto yang berdiri membelakangi Hye na. Hye na mengamatinya sesaat. Rasa penasarannya muncul. Diambilnya foto itu, dan ditatapnya foto itu, keterkejutan muncul disana saat ia menatap laki-laki dan perempuan yang tersenyum, terlihat keduanya sangat bahagia. Keduanya mengenakan pakaian yang hampir serupa dengan warna yang sama, hitam. Hye na diam, terkejut dengan wanita yang berada di foto itu.



“ini…”kata Hye na lirih, menunjukkan bingkai foto ditangannya.

“ahhh… itu…”kata dokter Shin tiba-tiba, yang saat itu tengah mencari sesuatu ditumpukan buku di kertas di meja “…itu…aku dan istriku… “

“mwo….? Istri…?”tanya Hye na tidak percaya

“…ne… hanya foto lama… kami jarang bisa bertemu… kami sama-sama sibuk… jadi tidak sempat membuat foto baru…ahh… kini ia tidak berada di Seoul… sekarang ia berada di London…untuk pekerjaannya…”kata Dokter Shin menatap Hye na tersenyum. Sebuah senyuman aneh “…mengenalnya…Hye na-ssi…?”tanya Dokter Shin, tersenyum, seakan telah memenangkan sesuatu.

Hye na menatap dokter Shn terkejut, bingung dengan semua yang dialaminya. Hye na mengalihkan tatapannya kearah Dokter Shin dan foto yang ditangannya bergantian, mencari kebenaran, dan dokter Shin terlihat hanya tersenyum, menatap Hye na yang masih terdiam, bingung dengan yang dilihat dan didengarnya.

“…tap…tapi…Jung min…”kata Hye na lirih, tetapi masih berada di jangkauan dokter Shin untuk ditangkap indera pendengarannya. “dia…benar-benar…istrimu…?!?!? Song Yoo na….?!?!”tanya Hye na lagi, masih belum percaya dengan pendengarannya. Dokter Shin tersenyum, menganggukkan kepalanya, meyakinkan Hye na.

Hye na terdiam lagi, hanya sesaat “…tap…tapi… bagaimana bisa…?”tanya Hye na “Jung…Jung min…”

“ne… Jung min-ssi…ia masa lalu Yoo na…hari itu…di London…dia mengatakan padaku…bahwa ia merasa sangat sedih… ia benar-benar sedih… ia sama sekali tidak bermaksud memisahkan kalian… saat itu ia hanya merasa senang karena Jung min… seseorang yang mana ia sangat merasa bersalah padanya, akhirnya menikah…dan akan mempunyai anak…”

“anda tahu…?!?”tanya Hye na, semakin tidak percaya dan bingung dengan apa yang dialaminya. Dokter Shin tersenyum menjawab pertanyaan Hye na. “ne…aku tahu… bahkan semuanya…semua yang tidak diketahui oleh siapapun… bahkan Jung min sekalipun…”
Hye na diam, menatap Dokter Shin, menunggu, kemudian sebuah cerita kembali terangkai di benak Dokter Shin.

“semuanya bermula dari sebuah hasil pemeriksaan…”

“pemeriksaan…???”

“ne…pemeriksaan yang aku lakukan sendiri….”

“hari itu Yoo na memeriksakan, rasa sakit yang selalu muncul di perutnya dan darah yang sering keluar dari vaginanya padaku…saat itu 3 hari sebelum pernikahannya dengan Jung min…dan besoknya, hasil itu datang… saat itu…aku ragu untuk memberikannya…tapi…”

“memang…hasil pemeriksaan itu… apa hasilnya…?”

Flashback

Song Yoo na duduk dihadapan dokter Shin dengan wajah yang gelisah, menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Shin. Dokter Shin terlihat diam, menggenggam erat amplop yang ada ditangannya, bingung akankah harus diberikannya atau tidak. Keheningan tercipta di antaranya.

“…dok… bagaimana hasilnya…?”tanya Yoo na, memecah keheningan yang tercipta. Dokter Shin terlihat menarik napas panjang, kemudian terdiam lagi.

“ayolah dok…. Katakan padaku…apa hasilnya… kenapa kau seragu ini… jangan membuatku takut…”kata Yoo na dengan suara gemetar. Dokter Shin berjalan mendekat dan mengambil sebuah kursi dan meletakkanya di hadapan Yoo na. dokter Shin duduk disana dan menatap Yoo na dalam. Perlahan Dokter Shin memberikan amplop yang ada ditangannya pada Yoo na.

Yoo na menatap Dokter Shin sesaat, berusaha membaca pikirannya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya… apa yang terjadi….

“buka dan bacalah…”kata dokter Shin kemudian, mengetahui pemikiran Yoo na. Yoo na menatap dokter Shin sesaat sebelum membuka amplop itu dan mengeluarkan surat yang ada didalamnya, yang merupakan hasil dari pemeriksaannya. Mata Yoo na terlihat mulai bergerak, membaca setiap kalimat yang tertulis, dan tiba-tiba terhenti di sebuuah tulisan yang kemudian membuatnya menjatuhkan kertas ditangannya. Yoo na diam, wajahnya terlihat sangat terkejut dan perlahan air mata terlihat di pelupuk matanya untuk kemudian mulai jatuh menetes. Dokter Shin, semakin mendekatkan kursinya dan memeluk Yoo na, mendekapnya, menenangkannya.

Lama, hampir 30 menit, isakan masih terdengar dari Yoo na, namun kemudian, isakan itu mulai memelan, dan terdengar samar. Yoo na melepaskan pelukan dokter Shin, menundukkan kepalanya.

“terima kasih banyak dokter shin… saya harus pergi…”kata Yoo na kemudian

“…tapi…”

Pintu tertutup keras dihadapan dokter Shin sebelum akhirnya dokter Shin bisa melanjutkan perkataannya. Dokter Shin, menghela napas berat.

##########

Hye na terlihat diam, ditempatnya. Sebagai dokter ia mulai mengetahui dan menebak sesuatu. Ia mengetahui apa yang tertulis di dalam surat itu.

“apa surat itu… hasil…”kata Hye na tidak mampu mengatakannya.
Dokter Shin diam, menatap Hye na “…mungkin…”

“lalu…apa yang dilakukan Yoo na kemudian....?”tanya Hye na lirih

Dokter Shin tersenyum, dan menarik napas panjang “…entahlah apa yang terjadi… aku tidak mengetahuinya dengan pasti… yang aku tahu… apa yang Yoo na ceritakan padaku…”
Hye na diam, menunggu, dan mendengarkan

#######

Song Yoo na, terlihat diam, melamun, menatap danau yang tenang dengan beberapa ikan yang muncul di permukaan untuk mengambil makanan yang dilemparkan oleh beberapa pengunjung. Ditangannya terdapat sebuah surat putih dengan banyak tulisan dan berlogo sebuah rumah sakit terkenal di Seoul. Lamunannya buyar oleh kedatangan seseorang.

“Song Yoo na…seorang… calon desaigner professional… kenapa melamun sendiri…? Mencari inspirasikah…?”tanyanya, yang kemudian mengangkat kameranya dan mengambil sebuah foto Yoo na saat itu.

Yoo na mengalihkan tatapannya, dan tersenyum, “kau…datang Jung moon…”kata Yoo na lirih, kemudian tersenyum, senyuman yang sangat aneh, terlihat hambar dan sangat dipaksakan.

######

“Lee Jung moon… apa Lee Jung moon…”

“ne… seperti perkiraan anda…”

“jadi selama ini Jung min salah…”

“…ne…”

#########

Jung moon, menatap senyum itu dari lensa kameranya, namun perlahan menurunkannya ketika ia melihat senyuman itu. Perlahan Jung moon berjalan memdekatinya. “ada apa…”tanya Jung moon mulai khawatir. Tidak biasanya, sahabatnya itu, yang akan menjadi calon adik iparnya terlihat begitu sedih, apalagi pernikahannya tinggal 2 hari lagi.

“ada apa… apa ada yang salah dengan Jung min…?”

Yoo na tersenyum hambar lagi. “tidak… tidak ada yang salah dengan Jung min… aku yang salah…”

“mwo…? Ada apa…”

Yoo na diam, ditundukkannya kepalanya pelan, dan tiba-tiba tangisnya meledak. Yoo na tidak dapat lagi membendungnya.

Jung moon diam, merangkul bahunya, menenangkannya. “tenangkan dulu…ceritakan apapun itu dan kapanpun itu jika kau sudah merasa baik… aku akan menunggu…”kata Jung moon. Yoo na masih terisak perlahan dengan airmatanya yang semakin mengalir deras.

Lama, akhirnya keadaan Yoo na membaik, Yoo na menundukkan kepalanya, menahapus air matanya perlahan. Jung moon terlihat masih diam menunggu. Ditatapnya Yoo na yang berusaha menenagkan dirinya dengan menarik napas panjang.

“Jung moon… bantu aku….lakukan sesuatu untukku….”

“apa… apa yang kau inginkan dariku…”
Yoo na diam, menatap Jung min “bantu aku… membatalkan pernikahanku dengan Jung min…”

“MWO!!!?????” seru Jung moon, menatap Yoo na mencari sesuatu di kedua matanya. Mencari sebuah kebohongan disana, berharap Yoo na akan tersenyum dan tertawa meledak, karena berhasil mengerjai dirinya, tetapi tatapan Yoo na padanya adalah tatapan kesedihan dan sebuah keyakinan. Keyakinan dan kesedihan pada keputusannya.

“Yoo na… katakan kalau semua yang kau bilang bohong… ini tidak benar bukan…”tanya Jung moon akhirnya. Yoo na diam, menundukkan kepalanya “yya!!! Aku tidak akan tertipu… kau pasti berbohong padaku… teman-teman yang lain pasti juga berada di sekitar sini… hei!!! Keluarlah… kalian gagal… aku sudah tahu semuanya kalau kalian berbohong…Hei!!!”

“Jung moon…”panggil Yoo na lirih

“APA!!!”seru Jung moon, kemarahan muncul dihatinya. Ia merasa sangat dipermainkan. Bukan hanya tentang perasaanya tapi juga perasaan adik tersayangnya. Adik yang sangat dicintainya. Dan ia sama sekali tidak terima itu. Jung moon tidak terima jika adiknya dipermainkan seperti itu.

“aku mohon…”

“apa…?!?!? Kau mau bilang apa lagi…tidak akan pernah… tidak akan pernah aku membantumu untuk mengahancurkan hati adikku… tidak akan…!!!”

“…bagaimana jika ini semua demi kebaikan Jung min dan keluarga kalian…?”

“kau!!! Kaulah kebaikan bagi Jung min!! kau…!!! Kau!!! Song Yoo na!!!”seru Jung moon marah. Kemarahan yang sangat sudah memuncak didalam dirinya dan Yoo na tahu itu. Isakan kembali terdengar. Yoo na menundukkan kepalanya, dna menghapus air mata yang jatuh. Jung moon menatap semua itu dan wajahnya mengeras, kemarahannya tidak hilang hanya karena isakan Yoo na.

Dengan cepat Jung moon bangkit dari tempatnya duduk, menatap Yoo na marah, kemudian membalikkan tubuhnya akan pergi dari tempat itu “cukup yoo na aku tidak ingin memdengar apapun lagi…. 2 hari lai pernikahanmu…”kata Jung moon, memejamkan kedua matanya “.. jadi jangan melakukan apapun yang akan menyakiti Jung min… atau aku akan membunuhmu…”ancam Jung moon.

“tunggu!!!”seru Yoo na tepat saat Jung moon akan melangkah pergi. Yoo na bangkit dari tempatnya, dan mendekati Jung moon “…baca ini… dna jika kau belum percaya padaku… ikut aku…”kata Yoo na yang kemudian menarik tangan Jung moon kuat dan membawanya kearah mobil BMW merahnya yang ia parkirkan tak jauh dari tempatnya berada.

########

“dia…membawanya pada anda…”tanya Hye na

“ne… dia membawanya padaku…kemudian…dari situlah semuanya dimulai…”

######

“duduk!!! Dan dengarkan semuanya… tidak ada rekayasa apapun disini…”kata Yoo na, mendudukkan Jung moon dikursi dihadapan Dokter Shin yang terlihat diam, terkejut dengan kedatangan Yoo na yang tiba-tiba

“maafkan saya dok… nona ini memaksa untuk masuk…”kata seorang suster yang kemudian masuk, menyusul Yoo na

“tak apa… terima kasih banyak suster…”kata dokter Shin, tersenyum menatap suster itu yang kemudian segera keluar dan menutup pintu ruangan dokter Shin.

Dokter Shin menatap Yoo na dan Jung moon bergantian, “ada yang bisa saya bantu…”tanya dokter Shin kemudian. Tak ada jawaban dari keduanya, hingga…

“dengarkan dengan tenang…dan temui aku di luar jika kau sudah selesai mendengar semuanya…”kata Yoo na, menatap Jung moon marah. “saya mohon dokter… tolong jelaskan pada teman saya ini…semuanya… tak apa…seritakan semuanya… dia yang bisa menolong saya…”kata Yoo na “saya permisi…”kata Yoo na kemudian, membungkukkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu.

#######

“Aku mulai menjelaskan semuanya, Jung moon terlihat sangat terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang kukatakan saat itu…aku sangat tahu… dia tidak ingin mempercayainya, tapi akan lebih menyakitkan bagi Yoo na jika ia tidak mempercayainya dan berusaha membantu Yoo na…”

########

Dokter Shin menatap Jung moon diam, ia berusaha memberikan waktu pad Jung moon untuk berpikir dna menjawab semua pertanyaan yang ada dikepalanya, yang ia tahu, tidak akan mampu ia utarakan.

“…apa anda bisa keluar dan memanggil nona Yoo na untukku…? Ada sesuatu yang harus kukatakan padanya…”kata Dokter Shin kemudian

Jung moon diam, menundukkan kepalanya “apa…tidak ada jalan lain dok…?”tanya Jung moon
Dokter Shin tersenyum, “bisakah kau memanggil Yoo na untukku…?”
Jung moon diam, kemudian perlahan diangkatnya kepalanya, menatap Dokter Shin. Kesedihan mulai terpancar di wajahnya. Perlahan Jung moon bangkit dari tempatnya dan melangkah keluar, membuka pintunya perlahan, dan berdiri diam di sana, menatap Yoo na yang terlihat duduk diam di salah satu tempat duduk tunggu.

“dokter Shin ingin bicara denganmu…”kata Jung moon, yang kemudian menjatuhkan dirinya di tempat duduk disisi Yoo na, yang membelakanginya. Yoo na mengalihkan wajahnya menatap Jung moon, senyum terlihat diwajahnya. Kini senyum itu terlihat sangat tulus.

“…kau percaya padaku…”tanya Yoo na, bngkit dari tempatnya, menatap punggung Jung moon. Jung moon menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Yoo na. Sekali lagi, senyum tulus Yoo na terlukis indah diwajah. “terima kasih banyak…”kata Yoo na lirih yang kemudian masuk ke dalam ruangan dokter Shin.

Dokter Shin menatap Yoo na sesaat, lalu senyum terlihat diwajahnya. “semuanya baik Yoo na agashi…?”tanya dokter Shin

“ne… terima kasih banyak dokter Shin… saya sangat membutuhkan pertolongan Jung moon…jadi, dia harus percaya semuanya…jadi apa yang ingin kau katakan…”tanya Yoo na

“…tau konsekuensinya…?”tanya dokter Shin tanpa basa-basi

“ne…”

“tak bisakah dilakukan cara yang lain…?!?!?!?!”seru Jung moon tiba-tiba, membuka pintu kasar, menjeblak terbuka, membuat kedua orang didalamnya, tersentak sesaat.

“…duduklah Jung moon-ssi…sepertinya anda masih berharap sesuatu yang lain… duduklah… saya jelaskan segalanya.

########

“aku kembali menjelaskan segalanya…. Jung moon sama sekali tidak percaya dan tidak mau mempercayai apa yang aku katakan…”

#####

“…jadi harus diangkat…”

“ne… harus… karena kanker dirahim anda sudah sangat parah… dan harus segera dioperasi… karena kalau tidak akan menjalar keseruh tubuh anda…”

“tapi…”kata Yoo na pelan

“tidak adakah cara yang lain… cara agar kanker itu hilang tapi Yoo na masih dapat memberikan keturunan…?”

Dokter Shin tersenyum lemah, lalu menggelengkan kepalanya perlahan “maafkan saya… belum ada obat atau cara apapun yang seperti anda harapkan Jung moon-ssi…”


End Of Flashback

“dan…disinilah anda Hye na-ssi… menjadi istri seorang Jung min.. Seorang Jung min yang sangat membenci hyungnya dan Yoo na… tapi aku mengerti alasannya…dan aku, Yoo na serta Jung moon memakluminya… semuanya sudah direncanakan…dan mereka tahu cara satu-satunya untuk membuat Jung min sangat tersakiti adalah mengkhianatinya… cara untuk membuat seorang Jung min untuk melepaskan seorang Yoo na adalah dengan mengkhianatinya… dan cara untuk membuat dia melupakan Yoo na adalah mengenalkannya dengan dirimu…”terang dokter Shin, membuat Hye na diam ditempatnya, dengan mulut menganga, tidak percaya dengan perkataannya.

“mengenalkanku…?”

“ne…semuanya adalah rencana Jung moon sendiri…dia tahu kalau anda yang dapat menyembuhkan luka batin dihati Jung min… dan lagi-lagi Jung moon harus berkorban untuk adik tercintanya itu….”

“lagi-lagi…?”

“ne…lagi-lagi…setelah ia berkorban untuk membuat Jung min merasa dikhianati…ia juga mengorbankan cintanya…”

“…mwo…? Apa maksud anda…”

“dia mencintai anda Hye na… dia selalu berada di manapun anda berada… bahkan selama anda dipenampungan…. Ia selalu ada disana… mengamati anda dari jauh dan mengabadikan setiap kelakuan dan apapun yang anda lakukan… ahhh… dia juga mengagumi senyum anda…”
Hye na terhenyak mendengar cerita dokter Shin, ia sama sekali tidak mengetahui itu dan menyadari itu.

“…dia mengirimkan satu foto anda pada Jung min…”

“foto…?”

“ne…foto anda saat di penampungan bencana alam…”

Hye na terdiam sesaat, berusaha mengingat. Ia memang mengetahui sebuah foto yang selalu disimpan Jung min. “…sepertinya…saya tahu foto itu…”

“ne… foto itulah yang dikirimkan Jung moon… selain pada anda dia juga mengirimkannya pada orang tua Jung min… saat itu orang tua Jung min sudah mengathui segalanya. Segala yang disimpan oleh Yoo na dan Jung moon rapat-rapat….tapi… tetap saja Jung moon belum dapat kembali ketengah-tengah mereka… karena Jung moon bukanlah seseorang yang dapat diikat… ia seperti angin..dan aku sangat mengagumi itu… melakukan semua yang menjadi keinginannya agar tidak pernah menyesal dikemudian hari.”

Hye na menghela napas panjang, terdiam. “… tapi… kenapa Jung min tidak boleh tahu tentang Yoo na dan cerita sebenarnya…”tanya Hye na lirih

Dokter Shin menghela napas panjang, kemudian senyum kembali terlihat diwajahnya “Yoo na tahu Jung min akan mencarinya… dan ia tidak menginginkan itu… masa depat Jung min masih panjang… dan Yoo na tidak mau mngorbankan itu…”terang dokter Shin
Hye na diam, berusaha meresapi segalanya.

“boleh kulanjutkan…?”tanya dokter Shin, menghentikan pemikiran Hye na

“ne…”

“…kini Jung moon berhasil… ia tahu Jung min mulai mengagumi senyum anda…tapi…ada satu masalah saat itu yang membuatnya ragu dan bingung…”

“apa…?”

“dendam Jung min…”

“dendam…”

“ne…dendam untuk menghancurkan Jung moon…”

Hye na diam, teringat kembali cerita Jung min yang didengarnya tadi. “aku mengerti…”

“…dia takut kalau Jung min akan membalaskan pengkhianatan hyungnya lewat malaikat yang dikasihinya…dan saat itulah ia muncul…keluar dari persembunyiannya, dan menolong anda dari para preman yang disewa adiknya….kemudian sesegera mungkin ia menghubungi appanya… tuan Lee untuk membatalkan proyek apartemen di yayasanmu… sebelumnya Tuan Lee tidak mau membantunya tanpa imbalan… tetapi setelah nama anda disebut, akhirnya Tuan Lee menyetujuinya…”

“kemudian, Jung moon merasa beruntung lagi… walaupun aku tahu ia merasa sangat sakit saat itu, tapi ia merelakannya untuk anda dan Jung min… anda menyetujui perjodohan itu…dengan syarat, Tuan Han membantu memberikan anda uang untuk menebus surat tanah itu…”

“Jung moon kembali mengamati kalian berdua… ia tahu…banyak orang yang ia bayar untuk mengatahu semuanya… termasuk pelayan Uhm…”

“mwo!!! Pelayan Uhm…??!?”

“ne… pelayan Uhm, membantu Jung moon, ia membantu Jung moon untuk selalu mengamati anda dan Jung min…hingga suatu hari… ketakutan Jung moon kembali hadir… Jung moon merasa aneh saat pelayan Uhm mengatakan kalau kalin berdua, terlihat seakan tengah berada dalam perang…perang dingin… dan saat itulah Jung moon kembali menemui Jung min…" (chapter 10)

“saat itu… ia baru merasa yakin kalau Jung min memang mencintai dirimu..sangat mencintai…”

Hye na masih terdiam, ditempatnya, terhenyak mendengar setiap kalimat dari dokter Shin. Dokter Shin terlihat tersenyum menatap Hye na

“…Dokter Hye na… ingat sesuatu tentang gaun pengantinmu yang jadi hanya dalam waktu beberapa hari…?”

“ne… appa menyebutkan desaigner…”kata-kata Hye na terhenti, matanya terbelalak.
“…benarkah…?!?”tanya Hye na terkejut, tidak percaya dengan apa yang ada dipikirannya.

“ne… gaun itu… desaigner Song… istriku… Song Yoo na yang membuatnya khusus untuk anda… dalam waktu yang sangat singkat…”

Hye na terdiam, terhenyak menyandarkan punggungnya keras kekursi yang ditempatinya.

“dia sangat antusias dengan pernikahan kalian… jadi dia menawarkan diri untuk membuat gaunmu…sebagai hadiah…”

“dan… tentang kejadian Yoo na memeluk suamimu di restoran hotel… Yoo na mengatakan padaku itu hanya sebuah bentuk rasa senang dan selamat… karena Jung min akan mendapatkan anak…”

Hye na diam sesaat, terlintas sebuah pertanyaan di pikirannya “… bagaimana Yoo na bisa tahu…? Bahkan Jung min saja…”

“ingat… pelayan Uhm dan dokter Edward yang memeriksa dirimu… dia sahabatku dan kemudian menjadi sahabat Jung moon dan Yoo na… dia yang membantuku melakukan operasi pengangkatan rahim Yoo na…”

“ahhh… aku mengerti… ternyata banyak sekali mata-mata disekelilingku….”

Dokter Shin tersenyum mendengar perkataan Hye na “ahh… satu lagi… Jung min tidak menginginkan dirimu tahu kalau dia berada di rumah sakit… tapi… salah satu sumberku bilang kalau dia menanyakan ruangan Tuan Han…”

“…ne..aku tahu itu… satu pertanyaan lagi dokter Shin… tapi sebelumnya maaf kalau ini terlalu pribadi… dna jika anda tidka ingin menjawabnya… maka tidak usah menjawabnya… cukup tersenyum saja…”kata Hye na

“apa itu…”tanya dokter Shin, tersenyum menatap Hye na

“errmmm” Hye na terdiam sesaat “…errrmmm… apa yang membuat anda memutuskan untuk menikahi Song Yoo na-ssi…apa..karena dia cantik…?”

Dokter Shin terdiam sesaat mendengar pertanyaan Hye na kemudian tersenyum lebar dan tertawa “…mungkin… dia begitu mempesonaku… cantik, manis, pintar… tetapi yang membuatku tidak ingin melepaskannya adalah… tekadnya yang pantang menyerah… ia sama sekali tidak putus asa setelah mendapat vonis itu… bahkan ia melakukan banyak pengorbanan disana… walaupun aku tahu…dia tidak akan bisa memberikan anak untukku…dan dia menyesali itu… tapi aku tahu… dia akan selalu ada untukku… menjadi apapun yang aku inginkan… istri…sahabat… ibu… bahkan anak untuk…” jelas dokter Shin, tersenyum, menerawang.

Hye na tersenyum menatap dokter Shin, perasaannya kembali menghangat setelah mengetahui semuanya. Semua hal yang bahkan Jung min belum mengetahuinya. Hye na terdiam.

“oh ya…ini… dan tolong… jaga Jung min, dan anak kalian dengan baik…”kata dokter Shin, tersenyum, sambil memberikan sebuah map berisi catatan kesehatan Jung min beserta seluruh hasil laboratorium dan pemeriksaan yang lain.

“terima kasih banyak dokter Shin… utnuk semuanya… terima kasih…”kata Hye na, yang kemudian menundukkan kepalanya dan bergegas keluar mencari seseorang. Seseorang yang sangat dirindukannya. Seseorang yang akan dia peluk dan tidak akan pernah melepaskannya.

“sampaikan salam maaf dan terimakasih ku dan Yoo na untuk Jung min…”

********

Seung Gi terlihat berlari cepat di lorong rumah sakit yang panjang sambil melihat nomor-nomor kamar yang tertempel di setiap pintu. Matanya terus mencari dan mencari. Ia benar-benar tidak habis pikir, selalu saja mencelakakan diri sendiri. “sebenarnya apa yang kau lakukan…”gumam Seung gi yang kini terlihat mulai terengah-engah.
Seung gi memperlambat langkahnya, kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding lorong, disisi sebuah kamar. Seung gi mengangkat wajahnya menatap nomor kamar yang berada disisinya. “hah…ini dia…”kata Seung gi yang kemudian segera melangkah kekamar itu dan membuka pintunya.

“JUNG MIN!!!”seru Seung gi tiba-tiba keras, saat ia membuka pintu kamar tersebut, namun seseorang yang dicarinya tidak ada ditempatnya. Seung gi menyapu pandangannya ke seluruh bagian kamar itu, dan mulai mencari sosok yang dicarinya, namun tetap saja tidak ditemukannya. Seung gi keluar dari kamar itu. “yaisshhhh!!!! Seung gi diam, mengacak rambutnya frustasi. “kemana lagi dia… sudah tahu sakit… tapi masih saja…”

“Seung gi-ssi…”sapa seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya pelan, di belakangnya. Seung gi membalikkan tubuhnya, menatap orang itu. “Park Joon-ssi…”jawab Seung gi.
Park Joon terlihat diam, bingung dengan keadaan Seung gi “kenapa… kau terlihat… berantakan…”tanya Park Joon, menatap Seung gi aneh. Seung gi terdiam sesaat, menatap Park Joon.

“Jung min….dia masuk rumah sakit…segerombol orang memukulinya semalam…dan… ada mereka juga menusuknya”

“MWO!!??? Bagaimana bisa…?”

“dia mabuk…”

“lalu bagaimana keadaannya…?”tanya Park Joon khawatir

“entahlah… aku baru saja mengetahuinya… seseorang menelepon kantor dan mengatakan pada sekretaris Jung min….dan baru saja sekretarisnya mengatakan itu padaku…”

“lalu… sekarang dimana dia…?”tanya park Joon

“entahlah…aku baru saja mencarinya… tapi dia tidak ada dikamarnya…?”
Park Joon dan Seung gi terlihat bingung mencari keberadaan Jung min. Hingga tidak menyadari kedatangan Hye na disana.

“ada apa..”

“Hye na-ssi!!!”seru Seung gi terkejut dengan sapaan Hye na

Hye na tersenyum “apa Jung min didalam… aku ingin menemuinya…”kata Hye na yang kemudian melangkahkan kakinya kea rah kamar Jung min dirawat. “tunggu!!”seru Seung gi lagi, menghalangi langkah Hye na

“ada apa Seung gi-ssi… aku hanya ingin bertemu Jung min… tidak ada maksud untuk mencelakainya…”

“…errrmmm… bukan itu…”

“lalu… apa maksudnya…? Kenapa kalian begitu gelisah…dan …aneh…”

“karena itu…”

“kenapa…?”

“dia…”kata Park Joon, maju kehadapan Hye na dan menatapnya sayu.

“kenapa kalian ada didepan kamarku…dan berisik sekali…”kata seseorang tiba-tiba, menghentikan perkataan Park Joon

“JUNG MIN!!!”seru Park Joon dan Seung gi, begitu membalikkan tubuh mereka dan menatap sesosok yang dicarinya akhirnya berada dihadapannya.

“kemana saja kau!!!??”tanya Seung gi melangkah maju dan menepuk perutnya

“AKKHHHH… lukaku!!!”seru Jung min

“ahhh… mianhe… benar-benar tertusuk….? Bagaimana ceritanya… dan siapa yang melakukan… biar aku balas…”kata Seung gi, namun Jung min tidak menggubrisnya. Ia melangkah ke depan, menatap lurus kearah Hye na yang tersenyum diam ditempatnya. Keduanya saling menatap diam. Jung min melangkah maju perlahan, mendekati Hye na. Ingin sekali ia berlari memeluknya, dan mengikatnya agar tidak pergi lagi. Ingin sekali ia melakukan itu.

Jung min melangkahkan kakinya mendekat, tinggal 3 langkah lagi, dan aku dapat memeluknya lagi, kata Jung min dalam hati. Jung min terus melangkah, hingga tiba-tiba ia begitu terkejut, menatap kaki Hye na yang di balut gaun selutut. Segaris darah segar, mengalir diantara kedua kakinya.

“Hye na!!!”seru Jung min, menatap ke arah kaki Hye na. Hye na mengalihkan pandangannya, lalu beberapa detik kemudian, Hye na ambruk, jatuh pingsan.

********

End Of Chapter


makasih banyak buat waktunya... ditunggu selalu koment dari semuanya  [biggrin] [biggrin] [cheekkiss] [cheekkiss]