Author Topic: The Secret Flower  (Read 5485 times)

Offline Heethi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 75
  • annyong...
    • View Profile
Re: The Secret Flower
« Reply #45 on: September 25, 2010, 04:34:26 am »
Cast :

Lee Min-ho as Song Jin-ho

Goo Hye-sun as Jin Sae-ryun

Choi Si-won as Song Jeong-wo

Lee Yoon-hee as Na Hye-na





Chapter 4

   “Ada. Jin-ho bisa bermain piano dengan baik. Bahkan sangat baik…”
   

Kata-kata Sae-ryun kembali terngiang di telinga Jin-ho dengan jelas. Jin-ho memukul setir di depannya dengan keras. Emosinya sudah mulai meluap-luap. Jin-ho semakin memijak pedal gas ke dalam sehingga mobilnya melaju semakin kencang.

“Kau tidak akan mungkin menjadi seperti ayahmu, Song Jin-ho! Impian dan cita-citamu itu hanya akan menjadi impian dan cita-cita pada akhirnya. Tidak akan berubah menjadi apa yang engkau inginkan. Karena apa? Karena kau adalah Song Jin-ho. Karena kau adalah seorang Song Jin-ho! Seorang pemuda manja yang terlalu beruntung untuk mendapatkan apa yang telah didapatnya selama ini dan terlalu rakus hingga sama sekali tidak mau berbagi…”

Jin-ho menghembuskan napas panjang. Ia mendadak menginjak rem mobilnya dan dengan seketika mobil itu berhenti. Untuk beberapa saat, Jin-ho yang ada di dalam  mobil, terdiam dengan tatapan mata kosong. Ia lalu menelungkupkan wajahnya dan menangis, ketika bayangan-bayangan masa lalunya yang kejam kembali hadir di dalam pikirannya…



   “Jangan diambil hati ya, Sae-ryun! Mungkin Jin-ho sedang tidak enak badan sehingga bersikap sensitive seperti itu…” hibur Jeong-wo, ketika ia menghampiri Sae-ryun yang sedang berada di balkon kamarnya sendiri.

   “Ne… araso…” jawab Sae-ryun, dengan lemas. Sae-ryun melihat ke arah kolam ikan dan gazebo yang nampak dari balkon kamarnya.

Sae-ryun sebenarnya senang akan perhatian yang Jeong-wo berikan padanya. Tetapi, bayangan-bayangan kejadian di ruang makan tadi sudah menghilangkan semua rasa senangnya. Seolah-olah menguap begitu saja. Ditambah lagi, Sae-ryun juga sangat khawatir akan keadaan Jin-ho sekarang. Bagaimana bisa Jin-ho marah-marah padanya seperti itu, sementara ia hanya ingin membantu Jin-ho untuk mengeluarkan kemampuannya? Bukankah memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain itu membuatnya bahagia, apalagi jika ia bisa menggunakan kelebihannya itu menghibur orang lain? Ia sungguh sedih. Karena dirinya, Jin-ho kini terluka, meskipun ia juga sangat kesal terhadap sikap Jin-ho yang kekanak-kanakan. Memang benar, ini adalah hak Jin-ho untuk marah pada Sae-ryun. Jin-ho berhak untuk menunjukkan kelebihannya, tetapi juga berhak untuk memendamnya. Meskipun buruk, tetapi tidak ada yang boleh memaksakan Jin-ho untuk mengeluarkan kemampuannya itu jika ia tidak mau. Dan bodohnya, Sae-ryun melakukannya. Dan kini, ia harus menanggung resiko jika Jin-ho marah padanya lagi dan hubungannya dengan Jin-ho menjadi kembali tidak baik. Padahal, baru saja dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk merubah hubungan yang tidak baik itu....

Sae-ryun mendesah panjang. Pikirannya kembali pada saat ketika ia dan Jin-ho sedang melukis bersama. Masih ingat di dalam pikirannya, senyum dan kegembiraan yang terpancar dari wajah tampan Jin-ho. Dan ketika itu, mereka sudah seperti teman baik. Segalanya menjadi baik-baik saja, di detik yang sama. Tetapi kini? Kenapa ia tidak bisa menjaga kepercayaan Jin-ho padanya untuk menjadi salah satu teman baiknya? Bukankah Jin-ho sudah berusaha untuk bersikap baik padanya dan tidak bersikap dingin lagi? Kenapa ia tidak bisa?

Sae-ryun memukul-mukul kepalanya dengan keras. Kau memang bodoh, Sae-ryun…, katanya dalam hati. Kini, selain pikirannya yang masih tertuju pada Jin-ho, hatinya juga berisi akan perasaan tidak enak yang dirasakannya kepada seluruh anggota Keluarga Song dan keluarganya sendiri, terutama sekali kepada Bibi Eun-hye, ibu Jin-ho. Dan kini, dada Sae-ryun semakin sesak ketika mengingat semua hal itu.

   Jeong-wo masih terus menatap Sae-ryun sejak kehadirannya disana. Dari balik mata Sae-ryun, Jeong-wo dapat melihat kegelisahan dan kekhawatiran Sae-ryun. Jeong-wo juga dapat melihat tingkah-tingkah Sae-ryun yang semakin memperjelas keadaan dan perasaan hati Sae-ryun sekarang.

“Apakah kau sangat mengkhawatirkan Jin-ho?” tanya Jeong-wo, tiba-tiba.

   Sae-ryun mengubah pandangannya kepada Jeong-wo. “Hm?”

   “Kau baik-baik saja kan? Kau terlihat sangat tertekan…” tanya Jeong-wo, sambil menatap Sae-ryun dengan senyum.

   Sae-ryun ikut tersenyum, setelah melihat Jeong-wo yang tersenyum padanya. “Aniyo… aku baik-baik saja. Aku hanya takut…”

   “Takut?”

   “Uhm… takut. Aku takut… jika Jin-ho marah padaku…. Dia sangat sabar, dan aku mengecewakannya begitu saja…” jawab Sae-ryun, dengan pelan.

   Jeong-wo melihat Sae-ryun dengan seksama. Dari balik matanya, Jeong-wo dapat melihat kecantikan Sae-ryun. Mungkin bagi seluruh pemuda di dunia ini, Sae-ryun nyaris sempurna. Wajah cantik, kulit putih, pintar, karier bagus, modis, anggun, dan berasal dari keluarga yang terhormat. Oleh karena itu, mereka pasti menganggap Jeong-wo dan Sae-ryun adalah pasangan yang cocok dan serasi. Kenapa? Karena Jeong-wo tidak berbeda jauh dengan Sae-ryun. Selain wajah tampan dan postur tubuh yang tinggi dan bagus, Jeong-wo juga cerdas dan memiliki karier yang cemerlang. Dan itu dapat terbukti ketika engkau bertemu dengannya. Seketika, hatimu akan terpesona dan jatuh hati padanya.

   Jeong-wo mengalihkan pandangannya ke bawah balkon kamar Sae-ryun. Dari atas, Jeong-wo dapat melihat Hye-na, pelayan pribadinya yang selalu mengurus kebutuhannya dan sering menemaninya berkebun itu. Hye-na sekarang sedang duduk di atas ayunan di sebelah gazebo dengan buku di tangannya. 

   “Huh… apakah sekarang dia baik-baik saja?” gumam Sae-ryun, pada dirinya sendiri.

   Jeong-wo masih terus memandang Hye-na dari atas dengan senyuman lebar di wajahnya. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi saat ini kita semua tahu bahwa ia tidak lagi memperhatikan perkataan maupun tingkah laku Sae-ryun yang berdiri di sampingnya. Tiba-tiba saja, pikirannya beralih dari mengkhawatirkan Sae-ryun menjadi memperhatikan Hye-na.

   Sae-ryun masih diam. Jeong-wo pun juga begitu. Beberapa saat kemudian, Sae-ryun kembali mengajak bicara pacarnya itu. “Hm… oppa, aku ingin istirahat. Bisakah oppa keluar sekarang?” kata Sae-ryun, masih dengan nada lemas.

   Jeong-wo tidak mendengarkan kata-kata Sae-ryun. Pikirannya masih tertuju pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Hye-na di bawah, meskipun pada kenyataannya, Hye-na tidak melakukan apa-apa. Hanya membaca. Dan entah kenapa, Jeong-wo tetap ingin melihatnya terus-menerusnya.

   Sae-ryun mengikuti arah mata Jeong-wo. Tetapi, Sae-ryun tetap tidak bisa mengikuti kemana arah mata Jeong-wo berlabuh. Pikirannya sudah benar-benar penat. Dan kelihatannya, kesendirianlah yang dapat membuatnya menjadi lebih tenang.

   “Oppa…” panggil Sae-ryun, berada di ambang pintu kaca yang memisahkannya dengan balkon. “Aku akan menutup pintunya sekarang. Tolong keluar…” pinta Sae-ryun lagi, tanpa memikirkan apa yang sedang diperhatikan dan dilakukan oleh Jeong-wo.

   Jeong-wo langsung tersadar dari lamunannya dan segera menghampiri Sae-ryun yang benar-benar kelihatan tidak sehat. “Kau benar tidak apa-apa?” tanya Jeong-wo, ketika melihat wajah Sae-ryun yang mulai pucat.

   Sae-ryun mengangguk dan berusaha tersenyum, “ne… aku baik-baik saja. Oppa tidak perlu khawatir. Dan aku harap, semuanya akan baik-baik saja besok…”

   Jeong-wo ikut mengangguk. “Beristirahatlah… aku akan keluar sekarang…. Dan besok, semuanya akan baik-baik saja, ok?” kata Jeong-wo, lalu berjalan keluar dari kamar Sae-ryun.

   Sae-ryun lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan dan menguncinya. Ia terduduk di kursi bulat tempatnya bersantai. Diambilnya majalah yang tergeletak di sebelahnya. Diangkatnya majalah itu untuk beberapa saat.

   “Hhhh… seharusnya engkau tidak mempercayai saran konyol seperti ini, Sae-ryun…” gumam Sae-ryun, lalu mencampakkan majalah yang tadi dipegangnya ke lantai.

   Sae-ryun menutup wajahnya. Di dalam pikirannya masih berkecamuk bermacam-macam beban yang sungguh membuatnya pusing.

   Sae-ryun lalu mendesah pelan. “Aku harus meminta maaf kepada Jin-ho nanti. Apapun yang terjadi, aku harus melakukannya. Harus!” kata Sae-ryun, bertekad dengan kuat.

   Sae-ryun kemudian mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dengan santai. Besok, akan menjadi hari yang lebih berat untuknya. Dan mau tak mau, Sae-ryun harus melewatinya dan memperbaiki hari ini dengan baik…

 

   “Ini… pelajari dulu, ya…” pesan Dokter Hyun, sambil memberikan setumpuk buku yang cukup tebal yang membahas tentang ilmu kedokteran kepada Jin-ho.

   Jin-ho melihat buku di tangannya dengan mata mendelik. Ternyata, untuk mempelajari ilmu kedokteran itu tidak mudah, ya…, katanya dalam hati.

   “Jangan dilihat dari seberapa tebal buku yang kuberikan. Tetapi, bacalah. Jika kau membacanya dengan serius dan kau mengerti apa yang dijelaskan disana, buku yang tebal itu akan menjadi tipis untukmu…” jelas Dokter Hyun, ketika melihat ekspresi wajah Jin-ho saat pertama kali melihat buku kedokteran yang sesungguhnya.

   “Ne… aku mengerti. Aku akan berusaha dengan keras untuk membacanya dengan benar…” kata Jin-ho, lalu berjalan menuju mejanya yang kini berada di ruangan yang sama dengan Dokter Hyun. Ya, sebagai dokter junior sekaligus murid pelatihan disini, Jin-ho masih diawasi dengan serius oleh Dokter Hyun selaku pimpinan di “General Clinic”.

   Jin-ho mulai membuka buku yang tadi diberikan padanya. Sesaat, Jin-ho masih memperhatikan halaman pertama dari buku itu yang berisi gambar dari organ-organ penyusun tubuh manusia. Setelah menyimpannya di dalam otak, Jin-ho kemudian membalik buku yang sedang dibacanya itu dan mulai masuk ke halaman selanjutnya. Di halaman kedua ini, Jin-ho mulai melihat tulisan-tulisan yang berupa teori yang menjelaskan tentang otak, mulai dari system kerjanya, sampai pada penyakit-penyakit yang mungkin dan sering terjadi pada otak.

   Setelah habis membaca halaman tentang otak itu, Jin-ho berlanjut ke topik selanjutnya. Ketika Jin-ho baru mau mulai membaca, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Jin-ho lalu mengangkat panggilan dari handphonenya itu.

   “Yoboseyo…”

   “Jin-ho ya…”

   “Eomma…” kata Jin-ho, dengan pelan. Sebenarnya, Jin-ho tidak terlalu kaget akan telepon dari ibunya itu. Tetapi entah mengapa, setelah kejadian di malam itu, Jin-ho jadi merasa bersalah kepada ibunya yang sangat disayanginya itu, karena ia telah membohonginya... benar-benar membohonginya….

   “Kau baik-baik saja kan? Ibu khawatir saat kau keluar dari rumah dan mulai mengemudi dengan kencang di malam itu…” kata Eun-hye, dengan lembut dan pelan, penuh kasih sayang.

   Jin-ho melirik ke sekelilingnya. Tidak ada orang. Mungkin Dokter Hyun pergi keluar ketika Jin-ho sedang membaca tadi.

   “Aku rindu eomma…” ucap Jin-ho tiba-tiba, membuat Eun-hye kaget.

   “Sungguh tidak menyenangkan jika tidak melihat eomma sebelum tidur. Seharusnya, aku tidak mengulanginya lagi seperti aku di Indonesia dulu…” lanjut Jin-ho, dengan nada manja.

   “Jin-ho ya… kau ini sungguh manja! Hal-hal seperti itu seharusnya tidak engkau jadikan kebiasaan…” kata Eun-hye, berpura-pura memarahi Jin-ho.

   “Hm… Ne, eomma… aku akan pulang nanti. Aku sangat ingin bertemu dengan eomma…” kata Jin-ho.

   “Eomma akan menunggumu hingga kau pulang. Berhati-hatilah dan jangan ngebut di jalan, ya…” pesan Eun-hye, lalu memutus hubungan teleponnya.

   Jin-ho menghela napas panjang. Ia kemudian tersenyum. Hatinya terasa lapang. Memang… memang seharusnya masalah kecil seperti itu tidak perlu membangkitkan emosinya, meskipun masalah itu telah mampu membuka luka hatinya. Tetapi tidak apa-apa. Jin-ho akan kembali kuat. Karena… Jin-ho memang harus kuat dan menguatkan ibunya…



   Jin-ho keluar dari mobilnya dengan membawa tas ransel di punggungnya dan setumpuk buku di kedua tangannya. Ia lalu berjalan masuk ke dalam “Song Mansion” dengan langkah tegak.

   “Doryonim…”

   Jin-ho menghentikan langkahnya. Dilihatnya siapa yang memanggilnya tadi. Ternyata, Hye-na.

   “Hye-na ya…” sapa Jin-ho, membalas sapaan Hye-na yang kaget karena kedatangan Jin-ho kembali ke Song Mansion setelah kejadian semalam.

   Hye-na yang sejenak terpaku akan kedatangan Jin-ho akhirnya sadar kembali. Ia tersenyum. “Sungguh senang karena anda kembali ke rumah ini, Doryonim…” sambut Hye-na, setelah membungkukkan badannya kepada Jin-ho.

   “Ne… gomawo…” kata Jin-ho.

   “Biarkan saya membawa buku-buku anda, Doryonim…” pinta Hye-na.

   Jin-ho lalu memberikan tumpukan buku kedokteran yang dibawanya dari “General Clinic” tadi kepada Hye-na dengan hati-hati. Ia takut jika buku itu jatuh dan rusak. Itu bukan buku miliknya, oleh karena itu ia harus menjaga buku itu baik-baik.

   Jin-ho kembali berjalan masuk ke dalam. Sementara itu, Hye-na mengikutinya dari belakang dengan membawa buku-buku Jin-ho di tangannya.

   Jin-ho lalu berhenti di depan tangga menuju lantai dua. “Hye-na, tolong letakkan buku-buku itu di perpustakaan, ya! Jangan sampai jatuh… itu buku-buku penting…” pesan Jin-ho.

   Hye-na mengangguk, mengerti. “Baik, Doryonim…”

   Jin-ho lalu menaiki tangga di depannya diikuti dengan sorotan mata Hye-na yang bahagia. Setibanya di lantai atas, Jin-ho langsung menuju ke kamar ibunya.



   Tok… tok… tok…

   Pintu perpustakaan terbuka. Dari balik pintu coklat besar yang menutupinya, tampaklah seorang gadis cantik yang berdiri dengan gugup sambil terus meremas-remas kedua tangannya dengan cemas.

   Jin-ho melihat ke arah pintu. Ia langsung mendesah ketika tahu siapa gadis yang berada di balik pintu perpustakaan itu.

   Sae-ryun masuk ke dalam ruangan yang besar itu dengan langkah pelan dan hati-hati. Seketika, ia dapat menemukan keberadaan Jin-ho berada.

   Sae-ryun mendekati Jin-ho dengan perlahan. “Jin-ho ya…”

   Jin-ho mengalihkan pandangannya dari buku anatomi yang dibawanya dari “General Clinic” tadi. Ia lalu menatap Sae-ryun. Melihat Sae-ryun yang tidak mengucapkan sepatah katapun, Jin-ho akhirnya kembali menatap buku yang ada di hadapannya.

   “Jin-ho ya… kau… masih marah padaku, ya?” tanya Sae-ryun, dengan hati-hati.

   Jin-ho kembali menatap Sae-ryun yang berdiri di depannya. Ia lalu menghembuskan napas panjang. “Menurutmu?” tanya Jin-ho, dengan dingin, tanpa berniat menjawab pertanyaan Sae-ryun.

   Sae-ryun mengelus-elus lehernya, karena tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi karena ditanya, akhirnya Sae-ryun menjawab juga dengan seadanya, “hm… masih marah…”

   Jin-ho lalu menutup bukunya dan berdiri. “Kau sudah tahu. Lalu untuk apa bertanya lagi?”

   Sae-ryun semakin merasa tidak enak ketika Jin-ho membalas jawabannya tadi. Ia lalu memainkan kaki-kaki putihnya sambil berkata pada Jin-ho, “Jin-ho ya… tolong maafkan aku, ya… jangan marah lagi…”

   Sae-ryun menunggu jawaban Jin-ho dengan sabar sambil menundukkan wajahnya. Karena Jin-ho tidak juga mengatakan sesuatu, Sae-ryun akhirnya berkata lagi, “seharusnya setelah perbincangan kita di perpustakaan umum kemarin… aku tidak lagi mengatakan segala hal yang berkaitan tentang privasimu, karena kau tidak suka itu kan, Jin-ho?”

   Sae-ryun lalu menarik napas dalam-dalam. “Dan ini semua adalah kesalahanku… oleh karena itu, aku sungguh minta maaf… Jin-ho ya…”

   Jin-ho menatap Sae-ryun yang sedang menunduk ke bawah dengan seksama. Ia kemudian kembali mengingat pertemuannya dengan ibunya tadi sore…

   Tok… tok… tok…

   “Masuk…”

   Jin-ho masuk ke dalam kamar ibunya dengan setengah berlari. Ia langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. “Aku sangat merindukan eomma… Apakah eomma juga merindukanku?”

   “Ne… tentu saja…” jawab Eun-hye, seperti biasa dengan lembut.

   Eun-hye lalu melepaskan pelukan Jin-ho darinya. “Apakah kau baik-baik saja?”

   Jin-ho terdiam  untuk beberapa saat, menatap wajah cantik ibunya. Ia kemudian mengangguk. “Ne…”

   “Jin-ho ya…” panggil Eun-hye, pelan. “Eomma rasa… kau tidak perlu menutupi hal itu…”

   Jin-ho menatap Eun-hye dengan seksama. Ia tidak bisa berbohong bila sudah melihat mata lembut ibunya itu. “Tetapi… aku tidak mau seperti appa, eomma…” kata Jin-ho, perlahan tetapi pasti.

   Eun-hye masih melihat Jin-ho. Ia dapat melihat kegelisahan yang amat dalam yang sedang dirasakan oleh Jin-ho sekarang. “Tetapi itu bukan suatu alasan untuk mundur kan?”

   “Mundur?”

   “Bukan berarti jika kau bisa bermain piano berarti engkau seperti ayahmu kan, Jin-ho? Di dunia ini, masih banyak orang lain yang memiliki keahlian untuk bermain piano, bahkan lebih baik daripada ayahmu. Tidakkah hal itu pernah terlintas di dalam pikiranmu?”

   Jin-ho terdiam, mencerna kata-kata ibunya dengan baik.

   “Kau bahkan tega mengatakan bahwa Sae-ryun telah berbohong di depan kami semua. Apakah kau tidak kasihan padanya? Dia bermaksud baik padamu. Dia hanya ingin, engkau dapat menunjukkan kemampuanmu itu di depan kami. Dan dia tidak pernah bermaksud untuk menyamakanmu apalagi melihatmu seperti ayahmu, Jin-ho…”

   Jin-ho menghembuskan napas panjang. “Araso… tetapi, gadis itu… aku tidak tahu kenapa, tetapi aku tidak suka dia. Meskipun pada awalnya perasaan tidak suka ini tidak ada, tetapi semakin aku bertemu dengannya, semakin aku merasa bahwa aku tidak bisa cocok dengannya…. Dan itu nyata, eomma... bukan alasan!”

   Eun-hye terdiam. Ia masih menunggu pengakuan apalagi yang akan Jin-ho ceritakan padanya.

   “Aku tidak tahu mengapa… mungkin aku yang terlalu berlebihan, tetapi… sejak pertama kali bertemu, aku dan dia memang sudah tidak cocok… sikapnya yang cerewet… lalu sifatnya yang kekanak-kanakan… ah… aku tidak tahu lagi!” cerita Jin-ho, dengan menggebu-gebu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.

   Eun-hye tersenyum mendengar kejujuran dari Jin-ho. Ia lalu memegang tangan Jin-ho dengan hangat, mendinginkan hati Jin-ho yang sudah terbakar api emosi. “Berarti kau juga membenci ibu dong?” tanya Eun-hye tiba-tiba.

   Jin-ho melirik ibunya. “Ne… aku juga sangat kesal terhadap ibu… bahkan sekarang aku juga masih kesal terhadap ibu…” jawab Jin-ho, mengiyakan, meskipun niatnya hanya bercanda.

   “Berarti dirimu itu yang tidak tahu bahwa perempuan itu memang cerewet…” kata Eun-hye, menyudutkan Jin-ho.

   Mata Jin-ho mendelik. “Eomma… tentu saja ini berbeda! Jika eomma, sudah pasti dengan senang hati aku akan menerima semua sikap eomma yang cerewet… meskipun terkadang memang membuat kesal…” kata Jin-ho.

Eun-hye kembali tersenyum. “Apakah kau pikir dia juga suka dengan sikapmu?” tanya Eun-hye tiba-tiba, membuat Jin-ho melihatnya dengan serius.

   “Hm… aku tidak tahu…” jawab Jin-ho, dengan polos.

   “Untung saja kau jawab tidak tahu. Jika sampai kau jawab “dia menyukaimu”, berarti kau benar-benar memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, Song Jin-ho…” kata Eun-hye. “Hm… Ibu pikir tidak. Bagaimana bisa dia menyukai seorang pemuda yang sering mengacuhkannya dan selalu bersikap dingin padanya? Jika ibu jadi Sae-ryun, ibu juga tidak mau dekat-dekat denganmu…” lanjut Eun-hye, meskipun melihat anak semata wayangnya itu memanyunkan mulutnya.

   “Ne… dan aku juga tidak menyukainya. Jadi, kami sama kan?”

   Eun-hye menggeleng karena jawaban Jin-ho. “Bukan itu yang eomma maksud, Jin-ho…” kata Eun-hye. “Kau tahu, sekarang Sae-ryun adalah calon tunangan Jeong-wo. Dan itu berarti, tidak lama lagi Sae-ryun akan menjadi anggota dari keluarga Song. Dan ibu tahu jika kau mengerti apa maksud ibu, Jin-ho…”

   Jin-ho terdiam sejenak. Ia lalu menatap ibunya yang masih setia menunggunya dan memberinya nasehat ketika Jin-ho memerlukannya.

   “Mau tidak mau, kau harus bisa berhubungan baik dengan Sae-ryun. Jangan karena engkau, pertunangan Jeong-wo dengan Sae-ryun menjadi batal! Sae-ryun adalah gadis yang baik dan kau tahu itu…” kata Eun-hye lagi, kini lebih lembut. “Tidak sulitkan untuk menyesuaikan diri dengan Sae-ryun walau hanya sedikit?”

   Jin-ho masih diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “Ne, eomma… aku akan berusaha…” jawab Jin-ho, dengan anggukan yang pasti dari wajahnya.

   Eun-hye tersenyum mendengar keputusan Jin-ho. Ia lalu memeluk Jin-ho dengan lembut. “Kau bisa melakukannya, karena kau adalah Song Jin-ho…” kata Eun-hye, menyemangati Jin-ho.

   Jin-ho membalas pelukan ibunya dengan sama hangatnya. Ia merasa, beban di pundaknya semakin berkurang seiring dengan kasih sayang yang diberikan ibunya padanya yang mengalir lewat setiap sentuhan lembutnya…


   Jin-ho kembali menghembuskan napas panjang. “Ne… aku memaafkanmu…” jawab Jin-ho pelan, yang langsung membuat Sae-ryun kaget setengah mati.

   Mwo? Jin-ho memaafkanku? Semudah itu Jin-ho memaafkanku? Aku sedang tidak bermimpi kan? Kenapa semuanya jadi begitu  mudah seperti ini?

   Jin-ho melihat Sae-ryun yang masih berdiri mematung karena kaget di depannya dengan tatapan tajam. “Waeyo? Apakah ada yang salah?”

   Sae-ryun langsung tersadar dari lamunannya. Ia menggeleng kuat ketika Jin-ho bertanya padanya tadi. “Aniyo… tentu saja tidak ada yang salah…” jawab Sae-ryun, dengan senyuman lebar di wajahnya.

   “Baguslah kalau begitu… aku senang jika semuanya baik-baik saja…” kata Jin-ho, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.

   Jin-ho lalu berjalan keluar dari perpustakaan tanpa membawa buku-bukunya. Sae-ryun yang masih berdiri di posisinya, segera mencegah kepergian Jin-ho dari ruangan itu.

   “Tunggu, Jin-ho ya…”

   Jin-ho menghentikan langkahnya. “Ada apa lagi?”

   Sae-ryun berjalan menghampiri Jin-ho. “Tetapi… sebenarnya kau memang bisa bermain piano kan?” tanya Sae-ryun, mencari kebenaran dari Jin-ho bahwa apa yang ia lihat kemarin adalah benar.

   Jin-ho terdiam setelah mendengar pertanyaan Sae-ryun. Ia menatap Sae-ryun dengan tajam. Dan ia mulai menjawab pertanyaan Sae-ryun dengan tatapan mata yang mulai lembut, “ne… aku memang bisa bermain piano. Lalu kau mau apa? Jangan coba-coba menghancurkan mood ku lagi…”

   Sae-ryun menggeleng kuat. “Aniyo… aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun lagi. Aku akan menjaga privasimu dengan baik. Aku berjanji…” jawab Sae-ryun, sambil memicingkan sebelah matanya dan tersenyum.

   Jin-ho mengangguk percaya. Ia benar-benar berusaha untuk mempercayai Sae-ryun dan mencoba untuk berhubungan baik dengannya, sesuai dengan permintaan ibunya.

   “Tetapi… sebenarnya aku ingin sekali engkau bermain di pertunanganku nanti, Jin-ho…” kata Sae-ryun tiba-tiba, membuat Jin-ho melotot padanya.

   “Mwo??? Kau…”

   “Aku memang berjanji untuk tidak mengatakan kemampuanmu dalam bermain piano ini pada orang lain. Tetapi, tidak mungkin selamanya kau akan menyembunyikannya, kan? Lagipula, pertunanganku dengan Jeong-wo oppa juga akan dilaksanakan sekitar 3 minggu lagi. Itu waktu yang cukup lama kan? Aku hanya ingin membantumu saja, Jin-ho…. Hanya itu! Apakah kau juga tidak mau ikut meramaikan kebahagiaan hyung-mu di hari yang cukup penting baginya?” pinta Sae-ryun, dengan setengah memohon.

   “Aku tidak mau. Dan aku masih percaya akan janjimu padaku tadi, Jin Sae-ryun…” jawab Jin-ho, dengan tegas.

   Sae-ryun mendesah panjang setelah mendengar jawaban Jin-ho yang tidak menggembirakan untuknya itu. “Aku memang tidak akan mengatakannya kepada siapapun, Jin-ho! Tetapi, jika kelak ada yang tahu bahwa kau benar-benar bisa bermain piano, jangan salahkan aku karena memang pada akhirnya mereka akan tahu juga, benarkan?”

    “Lagipula, kenapa kau tidak mau sih? Apa alasanmu hingga kau tidak mau orang lain tahu akan kemampuanmu ini? Apakah kau takut jika orang lain tidak percaya jika kau bisa bermain piano bahkan lebih baik daripada ayahmu? Aku melihat…” tanya Sae-ryun, masih belum mengerti apa jalan pikiran Jin-ho.

   Jin-ho kembali mengalihkan pandangannya dan menatap Sae-ryun. “Mungkin… mungkin karena tidak akan ada yang percaya bahwa aku bisa menjadi seperti ayahku…” kata Jin-ho, tanpa sadar. “Bukan… bukan itu maksudku… tetapi…”

   “Ne… aku yakin mereka akan percaya. Kau tidak perlu khawatir. Aku punya rekaman ketika kau bermain piano pada waktu itu…. Dan kau bermain sangat bagus ketika itu…” kata Sae-ryun, lalu mengeluarkan handphone kesayangannya dari dalam celana jins yang dikenakannya.

   “Lihat… kau bermain sangat bagus disini! Mereka akan kagum padamu, Jin-ho…” kata Sae-ryun, sambil memperlihatkan hasil rekaman videonya pada Jin-ho.

   Jin-ho melihat video yang diputar di handphone Sae-ryun dengan seksama. Ya, itu dia. Itu adalah Jin-ho ketika ia sedang bermain piano yang ia kira tidak ada seorangpun yang melihatnya. Namun ternyata ada. Dan Sae-ryun lah orangnya. Ia lah yang membuka rahasia Jin-ho tentang kemampuannya dalam bermain piano. Kemampuan yang tidak pernah ingin Jin-ho perlihatkan kepada anggota keluarga Song. Tidak juga kepada ayahnya… ayah yang dulu dikaguminya…

   “Kau tidak akan memperlihatkan ini kepada orang-orang disini kan?” tanya Jin-ho, dengan nada serius.

   Sae-ryun mengangkat bahunya. “Tidak akan kuperlihatkan jika kau mau bermain besok di pertunanganku…” jawab Sae-ryun, dengan kemenangan mutlak. “Hello… waktumu masih panjang untuk mempersiapkan diri! Dan biarkanlah dirimu yang membuka semuanya, Jin-ho! Bukan orang lain yang mengetahuinya terlebih dulu…”

   Jin-ho menghela napas panjang. “Kau tahu, aku tidak akan mungkin bermain di pesta pertunanganmu. Dan jangan pernah bermimpi untuk hal itu, Sae-ryun…” jawab Jin-ho, tetap pada pendiriannya. “Tetapi… tunggu dulu, sepertinya aku memiliki tawaran yang menarik untukmu…”

   “Tawaran untukku? Maksudnya?”

   “Aku hanya memintamu untuk berjanji agar tidak mengatakan hal itu kepada siapapun dan kau tidak lagi memintaku untuk bermain di pesta pertunanganmu dan aku…”

   Sae-ryun menunggu kelanjutan kata-kata Jin-ho dengan sabar.

   “Dan aku akan mengabulkan satu permintaanmu… apapun itu…” lanjut Jin-ho, sambil menegakkan jari telunjuk kanannya sendiri.

   “Mwo? Apa katamu tadi?”

   “Ne…” jawab Jin-ho, dengan yakin.

   Sae-ryun memikirkan semua tawaran Jin-ho tadi baik-baik. Sementara itu, Jin-ho menunggu Sae-ryun yang sedang berpikir sambil kembali mengambil bukunya dan membacanya.

   “Aku tidak mau…” jawab Sae-ryun, sambil menggelengkan kepalanya.

   Jin-ho menghembuskan napas panjangnya sekali lagi. “Jadi… maumu apa? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mengatakan semua itu kepada orang lain?”

   “Hm… bagaimana kalau tiga?” tawar Sae-ryun, sambil membentuk isyarat “angka tiga” di tangannya.

   Jin-ho kaget mendengar permintaan Sae-ryun, “mwo?”

   “Ne… aku tidak akan mengatakannya dan tidak memberi tahukan rekaman ini kepada semua orang, serta aku juga tidak akan memintamu untuk bermain di pesta pertunanganku lagi jika kau mau melakukan tiga permintaanku…” jelas Sae-ryun, dengan tersenyum cerdas. “Itu adil kan? Aku melakukan tiga… dan kau juga melakukan tiga… kita impas…” kata Sae-ryun lagi, meyakinkan Jin-ho.

   Jin-ho melirik ke arah Sae-ryun sebentar. Ia menatap gadis yang ada di depannya dengan tatapan tidak percaya. “MWO??? Kau?”

   “Ayolah…. Ini terdengar mudahkan?”

   “Jin Sae-ryun…”

   “Hanya tiga permintaan saja… dan aku tidak akan meminta yang aneh-aneh!”

   Jin-ho menghembuskan napasnya panjang. “Ne… aku setuju…” jawabnya, pasrah.

Sae-ryun tersenyum penuh kemenangan ketika Jin-ho menyetujui permintaannya itu. “Baiklah… aku senang karena kini kita sudah berbaikan…” kata Sae-ryun, dengan tersenyum manis.

   Jin-ho kembali melirik Sae-ryun.  Matanya lalu kembali tertuju kepada buku yang sedang berada di pangkuannya.

   “Ya sudah… kalau begitu aku pergi dulu, ya…” kata Sae-ryun, lalu berjalan meninggalkan ruang perpustakaan itu.

   Ketika langkah kakinya sudah hampir keluar dari ruangan yang besar itu, ia kembali menoleh ke arah Jin-ho. “Oh iya… Song Jin-ho!” panggil Sae-ryun lagi.

   Jin-ho melihat ke arah Sae-ryun dan menunggunya berbicara sesuatu.

“Jika pada akhirnya mereka tidak percaya padamu, kau tidak perlu khawatir… karena aku akan selalu percaya padamu…” kata Sae-ryun dengan benar-benar manis, kemudian benar-benar keluar dan meninggalkan Jin-ho sendiri.



   “Jeong-wo ya…”

   Jeong-wo membalikkan badannya. “Ne, eomma…”

Joo-young menghampiri Jeong-wo yang masih berdiri di tempatnya.

“Hm… lusa kau ada acara?”

Jeong-wo menggeleng. “Tidak ada. Tidak ada yang penting. Aku hanya akan pergi ke kantor lusa. Memangnya ada apa, eomma?”

“Lusa, pergilah ke rumah nenek… kau sudah lama tidak mengunjunginya kan?” perintah Joo-young.

“Hm?” tanya Jeong-wo, tidak mengerti. Jeong-wo merasa aneh ketika ibunya menyuruhnya untuk ke rumah neneknya, Nenek Song. Biasanya, jika bukan karena ada alasan tertentu, ibunya jarang memintanya untuk pergi ke rumah neneknya.

“Ne… kau harus meminta restu kepada nenek untuk segera melangsungkan pertunanganmu dengan Sae-ryun. Bukankah itu bagus?”

“Appa ikut?”

“Ne… dan Jin-ho akan ikut juga…”

Jeong-wo lalu mengangguk, mengerti. Kini, sudah jelas jika ayahnya lah yang telah meminta ibunya untuk menyuruh ia agar pergi ke rumah Nenek untuk mengenalkan Sae-ryun pada Nenek. Ide ini bukan usulan dari ibunya, tetapi dari ayahnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberitahu Jin-ho nanti…” kata Jeong-wo, lalu berjalan meninggalkan ibunya sendiri.

“Jeong-wo ya…” panggil Joo-young lagi, dengan pelan. “Jangan sampai kalah, ya…” kata Joo-young tiba-tiba, sehingga Jeong-wo berhenti melangkah.

 Jeong-wo membalikkan tubuhnya. Ia lalu menatap ibunya sebentar. Setelah itu,  kakinya kembali melangkah diikuti dengan tatapan tajam dari mata ibunya…



   “Jangan lupa diminum obatnya ya, Bu...” pesan Jin-ho kepada seorang wanita setengah baya yang duduk di depannya, setelah memberikan sebungkus plastik berisi obat-obatan tablet.

   “Gamsahamnida, Dok…” kata wanita itu, dengan tersenyum.

   Jin-ho lalu mengantarkan wanita itu dan anak perempuannya yang kira-kira masih berumur 5 tahun keluar dari General Clinic.

   “Terima kasih sekali lagi ya, dok… Sungguh senang karena bisa berobat dengan dokter... Semoga dokter selalu baik-baik saja dan mendapatkan gadis yang baik serta cantik…” kata wanita setengah baya itu, setelah mereka sampai di luar General Clinic.

   “Ah… mwo?” tanya Jin-ho, kurang mengerti akan maksud dari perkataan wanita yang hari ini menjadi pasien pertamanya di General Clinic.

   “Ne… Kalau begitu, saya permisi dulu… Yun-a, sampaikan salammu kepada dokter…”

   “Selamat tinggal, oppa… bekerja yang baik, ya!” kata Yun-a, kemudian mengikuti ibunya pergi dari lokasi General Clinic yang baru saja mereka kunjungi.

   Jin-ho melihat kepergian ibu dan anak kecil yang manis tadi dengan tersenyum. Ia lalu berdiri mematung di luar klinik. Ia memperhatikan wanita itu dan anaknya dengan seksama. Setelah bayangan mereka sudah menghilang dari pandangan Jin-ho, Jin-ho pun menggumam, “apa maksudnya tadi itu?”

   Karena tidak jua menemukan jawabannya, Jin-ho akhirnya kembali masuk ke General Clinic untuk melanjutkan tugas-tugasnya yang sudah menggunung.

   “Permisi…”

   Jin-ho segera membalikkan badannya ketika ia mendengar suara seorang perempuan yang sepertinya memanggilnya.

   “Hye-na ya…” gumam Jin-ho, ketika ia melihat gadis yang ada di hadapannya.

   “Doryonim…”

   Jin-ho dan Hye-na lalu masuk ke dalam klinik. Setelah menyerahkan sekaleng jus kepada Hye-na, Jin-ho kemudian duduk di depan Hye-na di lobi General Clinic.

   “Ada keperluan apa kau datang kemari?” tanya Jin-ho.

   “Saya datang kemari untuk mewawancarai Dokter Hyun Seo-joon dalam rangka menyelesaikan tugas kuliah. Doryonim sendiri sedang apa disini?”

   “Hm… aku bekerja disini. Oh iya, jika kau ingin bertemu dengan Dokter Hyun, kelihatannya tidak bisa sekarang. Tadi katanya dia pergi keluar sebentar. Tetapi jika kau mau menunggu juga tidak apa-apa, paling sebentar lagi dia juga sudah kembali…” kata Jin-ho, lalu meminum jus miliknya.

   Hye-na melihat Jin-ho yang sedang minum dengan tersenyum. Sungguh tampan… dan menarik…, kagumnya dalam hati.

   Jin-ho lalu melihat ke arah Hye-na. Melihat Hye-na yang sedang menatapnya dengan seksama, Jin-ho pun kemudian memanggil Hye-na.

   “Hye-na ya… apakah kau tidak apa-apa?”

   Hye-na menggeleng. “Aniyo… aku tidak apa-apa. Hm…” jawab Hye-na, lalu memutus perkataannya. “Doryonim hebat ya, sudah menjadi dokter sekarang…” kata Hye-na kemudian.

   “Mwo? Aniyo… aku juga baru belajar, sama sepertimu. Lagipula, aku hanya praktek saja disini sebagai dokter junior. Aku juga masih mempelajari teori sepertimu…” kata Jin-ho, menanggapi perkataan Hye-na.

   “Begitukah? Berarti… Doryonim benar-benar hebat! Aku saja belum diizinkan praktek meskipun nilaiku sudah mencukupi…” kata Hye-na, masih terus memuji Jin-ho.

   “Ya sudah kalau begitu. Terserah pendapatmu sajalah…”

   “Tetapi… sekali-sekali aku boleh membantu Doryonim disini kan? Mungkin… menjadi suster pribadi Dokter Song?” tanya Hye-na, setengah berharap pada Jin-ho.

   Jin-ho kaget ketika mendengar pertanyaan Hye-na. Namun, ia menjawab pertanyaan Hye-na dengan bijak, “tanyakan saja pada Dokter Hyun dulu. Jika boleh, jangankan menjadi suster, menjadi dokter junior sepertiku pun mungkin kau bisa, Hye-na…”

   Hye-na mendengarkan jawaban Jin-ho dengan baik. Meskipun sebenarnya jawaban itu tidak sesuai dengan harapannya, karena ia ingin menjadi suster yang membantu Jin-ho, bukan menjadi seorang dokter junior seperti Jin-ho, tetapi Hye-na tetap mengangguk mengerti.

   Tiba-tiba saja handphone Hye-na berbunyi. Hye-na lalu mengambil handphonenya itu dari dalam tas tangan yang dibawanya. Setelah membaca pesan yang dikirim untuknya, Hye-na pun kemudian memasukkan handphonenya kembali ke dalam tas.

   “Sepertinya Dokter Hyun ada urusan penting di luar sehingga tidak bisa bertemu denganku sekarang. Mungkin sebaiknya aku pulang saja ya, Doryonim…” kata Hye-na, dengan lembut dan berdiri dari tempat duduknya.

   Jin-ho lalu ikut berdiri seperti Hye-na. “Aku antar sampai ke luar, ya…”

   Jin-ho dan Hye-na  kemudian berjalan bersama, ke luar dari General Clinic. Setelah sampai di luar, Hye-na lalu berhenti untuk mengucapkan salam perpisahan.

   “Aku pulang dulu ya, Doryonim…” katanya, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.

   “Ne… berhati-hatilah di jalan… tetap semangat untuk belajar, ya!” pesan Jin-ho kepada Hye-na yang diikuti dengan senyum lebar yang tetap nampak dari wajah Hye-na.

   Hye-na lalu melambaikan tangannya kepada Jin-ho. Setelah itu, taksi yang membawa Hye-na sudah pergi dari halaman General Clinic dimana tempat Jin-ho berdiri…

   Sementara itu, tanpa Jin-ho dan Hye-na ketahui, seorang pemuda tampan dengan jas hitam rapi sedang mengawasi mereka.

   “Hye-na ya… kenapa kau bisa tersenyum semanis itu ketika melihat Jin-ho? Kenapa matamu begitu berbinar saat engkau bersama dengannya? Apakah engkau menyukainya?” gumam pemuda itu pada dirinya sendiri, yang tak lain adalah Jeong-wo.

   “Apakah engkau tidak tahu bahwa aku sangat menyukaimu?”



the end....


aku minta maaf ya, atas ketidakmunculanku yang saaaaaaaaaaangat lama ini....  [sweat] [sweat] [sweat]
terima kasih kepada kakak-kakak yang sudah mengingatkanku bahwa aku sudah tidak update dan tidak muncul selama hampir satu bulan...  [heh] [heh] [heh]
aku minta partisipasinya lagi ya.....
selamat menikmati dan semoga terhibur.....  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

 [flowers] [flowers] [flowers]