Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17609 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: LOVE chap 1 2 & 3 update 22 juli
« Reply #15 on: September 26, 2010, 07:34:23 am »
Chapter 4

Klinting

Terdengar suara pintu disebuah cafe dibuka oleh seseorang. Dengan cepat seorang pelayan wanita menyambut tamu itu dengan sebuah senyum yang ramah.

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”, tanya pelayan itu dengan sopan. Ia sedikit membungkukkan badannya ketika berbicara.

Tamu itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru cafe. “Apa ada seorang wanita berambut panjang dan berkulit putih yang datang kemari?”, tanya tamu itu.

Pelayan wanita itu sesaat masih berpikir hingga akhirnya ia kembali tersenyum dan berbicara pada tamu itu. “Apakah maksud tuan, nona Goo Hye Sun?”

Tamu barusan mengalihkan pandangannya ke pelayan itu sembari mengangkat alisnya, “Kau mengetahuinya?”

“Ne. Siapa yang tidak kenal nona Goo Hye Sun. Beliau adalah pelanggan tetap kami”, ujar pelayan itu sambil tersenyum

“Dan anda pasti tuan Lee Min Ho. Mari saya antar ke tempat nona Goo”, lanjut pelayan tadi. Ia lalu berjalan memimpin menuju tempat seorang gadis cantik yang sedang memandang keluar jendela besar.

Sekitar dua puluh langkah, kedua orang itu sampai disuatu meja. Lee Min Ho langsung mendudukkan dirinya dihadapan Hye Sun. Ia segera memesan satu cangkir kopi ke pelayan yang tadi. Setelah pelayan tadi melenggang pergi, suasana di meja nomor 28 itu sunyi seketika. Hye Sun masih memandang ke luar jendela, sama sekali tidak memedulikan Min Ho yang memandangnya sedari tadi.

Dua puluh menit berlalu dengan suasana diam. Tidak ada seorangpun yang mau membuka percakapan terlebih dahulu. Kopi yang dipesan Min Ho pun isinya sudah kosong sejak lima menit yang lalu, sedangkan Hye Sun masih setia dengan pandangannya keluar jendela.

“Ya... kenapa hanya diam saja daritadi?”, Min Ho memulai percakapan. Ia tidak tahan menghadapi kebungkaman kekasihnya.

Hye Sun langsung menoleh ke arah Min Ho dengan wajah kesalnya.

“Kau terlambat Lee Min Ho-ssi”, kata Hye Sun pelan sambil terus menatap wajah Min Ho kesal.

“Hn. Aku tahu”, jawab Min Ho tanpa merasa bersalah sama sekali.

“Apa kau tahu aku sudah menunggumu selama 3 jam nonstop?”

“Hn.. aku tahu"

“Dan..?", tanya Hye Sun sambil menatap penuh harap kearah Min Ho. Dia berharap Min Ho menyadari kesalahannya dan mengatakan sebuah kata yang sama sekali belum pernah terucap dari mulut Min Ho selama dia berpacaran dengannya. Sebuah kata yang terdiri dari 4 huruf namun bisa membuat masalah tuntas. Maaf.

"Dan apa?", Min Ho tidak mengerti dengan maksud Hye Sun, dia hanya menatap Hye Sun dengan tatapan bingung.
'Mungkin memang tidak bisa..' batin Hye Sun sambil menghela nafas panjang. Terkadang Hye Sun bingung dengan sikap Min Ho. Apa susahnya mengucapkan kata maaf ketika dia melakukan sebuah kesalahan? Apa Min Ho menganggap bahwa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan sehingga dia tidak perlu mengucapkan kata maaf?Min Ho juga seorang manusia layaknya Hye Sun. Dan semua orang di dunia ini tahu bahwa manusia adalah mahkluk yang dipenuhi oleh kesalahan. Lalu.. apa Min Ho tidak menyadarinya?Apa hanya karena dia berasal dari keluarga Lee yang mempunyai harga diri tinggi hingga kata maaf menjadi hal tabu baginya?

"Ngomong-ngomong.. kau terlihat tampan malam ini", kata Hye Sun tersenyum sangat manis melihat penampilan Min Ho yang berada di depannya.

"Gumawo", jawab Min Ho singkat. 'Yah.. setidaknya dia masih dapat berkata terima kasih bukan?'

"Jadi apa yang membuatmu terlambat?", tanya Hye Sun penasaran sambil mengaduk-ngaduk jus stawberrynya yang ketiga.

"Ada urusan."

"Apa sangat penting?"

"Hn.."

"Oh.. apa kau akan pergi lagi setelah ini?"

"Kau tahu aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku teralu lama..", jawab Min Ho sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 21.07.

"Meski ini malam minggu?", tanya Hye Sun lagi. Dia tidak memasang wajah sedih mengetahui bahwa kekasihnya lebih mementingkan pekerjaan dibanding dirinya. Bukan karena Hye Sun tidak mencintai Min Ho hingga dia tidak bersedih. Hanya saja dia sudah terbiasa dengan perlakuan Min Ho yang seperti itu. Min Ho selalu melakukannya setiap mereka berkencan.

"Ya..", Min Ho mengangguk pelan.

"Sepertinya.. kau selalu sibuk", Min Ho hanya memandang Hye Sun tanpa mengucapkan sepatah katapun."Kau baru 8 menit duduk di depanku..", kata Hye Sun tersenyum sedih, entah kenapa kali ini dia merasakan kesedihan yang tidak dirasakannya saat Min Ho melakukannya seperti biasa. Mungkin karena hari ini dia berulang tahun dan.. dia mendapatkan Min Ho melakukan hal yang seperti biasanya. Hye Sun mengira untuk hari saja Min Ho akan berubah, tapi harapannya sia-sia.

"Aku tahu..", kata Min Ho singkat. Hye Sun terdiam, dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Suasana kota begitu ramai, terlihat lampu-lampu menghiasi sepanjang jalan Seoul yang dipenuhi oleh pasangan-pasangan mesra atau bahkan keluarga yang berjalan-jalan menikmati pusat kota Seoul saat malam minggu. Hye Sun melihat pemandangan itu dengan tatapan nanar. Tak bisakah dia dan Min Ho seperti pasangan-pasangan yang larut dalam tawa canda tanpa memikirkan waktu? Dan sepertinya pasangan itu bisa mengucapkan kata maaf.

"Aku ke toilet dulu ya Min Ho?", kata Hye Sun bangkit dari duduknya.

"...", jawab Min Ho yang memandang jendela di sampingnya.

Hye Sun dengan cepat berjalan menuju toilet kemudian membasuh wajahnya yang hampir dibasahi oleh air mata yang sudah tidak sanggup ditahannya. Hatinya sakit dan dia merasa sangat kecewa dengan sikap Min Ho malam ini. Namun.. apa yang bisa dia lakukan? Apa lebih baik dia mengakhiri hubungan ini? Tapi.. dia masih sangat mencintai Min Ho. Hye Sun ingin berteriak sekencangnya agar dia bisa menghilangkan rasa sedih yang menjalar di seluruh tubuhnya. Namun suaranya seperti hilang dalam sekejap, hanya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya. Dia tidak peduli dengan tatapan wanita-wanita di toilet itu, yang penting dia bisa melupakan rasa sakit ini. Dengan langkah gontai Hye Sun berjalan menuju meja yang tadi ditinggalkannya bersama Min Ho. Namun ketika dia melihat kearah meja itu, dia tidak melihat kehadiran sesosok pria tampan  yang sedang duduk di situ. Kosong. Dia sudah pergi, batin Hye Sun sambil menatap sedih kearah meja itu. Tunggu.."Apa ini?", tanya Hye Sun ketika dia menemukan sebuah kertas putih yang dilipat dua berada di atas meja. Dia mengambil kertas itu kemudian membukanya. Seketika senyum bahagia terukir di wajah Hye Sun. Rasa sakit di hatinya telah hilang entah kemana akibat kertas itu. Ternyata memang benar.. hal sepele dari seseorang yang berharga bisa menyaingi hal-hal besar di dunia ini. Seperti hal nya sebuah kertas pemberian dari seorang Lee Min Ho dapat membuatnya melupakan semua sakit dan perasaan sedihnya dalam sekejap.

Sorry, aku terlambat dan pergi begitu saja.
Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu dan membawamu ke suatu tempat.

Saranghae, Lee Hye Sun


+++++++++++++

CHAPTER 5

"Hey, Hye Sun, menurutmu cinta itu apa?"

"Apa? Pentingkah aku untuk menjawabnya?"

"Aku hanya butuh jawaban itu saja..”

"Hmm..”

"Jadi?"

“Menurutku, Love never exist. Menurutmu?"

"Pertama, Love do exist," satu helaan nafas, "Kedua, cinta yang agung adalah ketika menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya. Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan masih menunggunya dengan setia. Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan masih bisa tersenyum sambil berkata; 'Aku turut berbahagia untukmu'. Apabila cinta tidak berhasil.. bebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya, dan terbang ke alam bebas. Ingatlah bahwa kita mungkin menemukan cinta dan kehilanganya. Tapi ketika cinta itu mati kamu tidak perlu mati bersamanya..”

Sang gadis menyunggingkan seulas senyuman,

"Bagus. Dari mana kau dapatkan kata-kata itu? Google?"

Sedetik kemudian mereka pun tertawa.“Aku hanya berharap kau bisa terus tertawa seperti ini.. terus tersenyum. Meskipun aku telah tiada, bukan berarti cinta di antara kita hilang, 'kan?

+++++++++++++

CHAPTER 6

"Hei, Hye Sun. Coba lihat!", Hye Sun menoleh ke arah pemuda tampan di sebelahnya.

"Hm?", dilihatnya Min Ho menunjuk ke atas, di mana bintang-bintang bertebaran.

"Ada berapa bintang di atas?"

Hye Sun mendongakkan kepalanya. Konyol memang, tetapi ia menghitung jumlah bintangnya. Ada empat bintang.

"Empat?", kepalanya masih fokus memandang bintang di atas.Begitu juga Min Ho.

"Seharusnya ada lima"

"Joungmal?"

"Hu-uh"

"Mana yang satu lagi", Hye Sun mengalihkan pandangannya ke pemuda di sebelahnya. Begitu juga Min Ho.

Min Ho mengulum senyum, "Yang satu lagi ada tepat di sebelahku"

Hye Sun sedikit geli mendengarnya. Sungguh gombal, tetapi perasaan tidak bisa berbohong; Hye Sun sangat bahagia mendengarnya. "Kamu bisa saja", Hye Sun
terkekeh. Tiba-tiba saja ia merapatkan duduknya menyandarkan kepalanya di pundak Min Ho. Sebuah perasaan hangat menyelimuti Hye Sun sekarang. Berada di dekapan Min Ho memang sangatlah nyaman.Hye Sun selalu merasa bahagia kala ditemani Min Ho. Seperti saat itu, Min Ho mengajak Hye Sun ke sebuah bukit. Mereka tidak tahu apa nama bukit itu, tetapi mereka sering berkunjung ke sana. Rasanya dunia hanya milik mereka berdua saja ketika dirinya dan Min Ho berkunjung ke bukit tersebut.

Hanya sekedar duduk dan melihat bintang.

==========+++++++++++++==========



Voldi’s note :

3 chapter saia apdet sekaligus. Memang pendek (banget, malahan), tapi perlu diketahui, dari awal saia memang sudah merencanakan bahwa setiap chapter yang saia apdet storylinenya tidak saling berhubungan dengan chapter yang lain. Fic ini hanya fokus ke sweet momentnya MinSun, gak ada konflik, dan yang paling penting, ya itu : gak saling berhubungan.

3 chapter ini anggaplah sebagai hadiah HIATUS dari saia yang sudah merencanakan dengan matang, sadar sesadar-sadarnya, dan tidak dalam pengaruh apapun (udah kek mo buat perjanjian). Saia hiatus selama 6 bulan kedepan terhitung mulai malam ini. Sampai jumpa bulan maret, my beloved sissie and bro. You are the best.

Jangan lupakan saia dan fic-fic saia....

HUUAAAA.... SEDIH MAU HIATUS *apaan sih!*

Dengan segala kerendahan hati saia, saia ingin meminta doa my beloved sissie and bro sekalian agar saia diberi kekuatan untuk menghadapi UAN. Semoga saia diterima di universitas yang sama dengan kakak saia. Semoga saia lulus dengan nilai yang terbaik. Dan yang paling penting, saia masih akan terus mengingat forum ini *biasa, otak saia paling tidak bisa mengingat sesuatu hal yang tidak begitu penting*

Bye all.... *ngibarin sapu tangan warna putih* *CROOTT* *nyeka ingus pake saputangan*

Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME