Author Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11  (Read 21181 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile



Jung-Min menapakkan kakinya di jalan, membuka pintu dan menghempaskannya. Dia berjalan memutari mobilnya kemudian membukakan pintu sebelah buat Jie-Ah.

“Aku tidak mengerti kau!” omelnya. “Mengapa selalu berkeras keluar dari rumah sakit? Lihat, keadaanmu belum sehat benar!”

Jie-Ah menerima uluran tangan Jung-Min dan keluar dari mobil. “Aku benci aroma rumah sakit.” Jawabnya halus. Dia berhenti sesaat. Raut wajahnya berubah sendu. “Jika sepanjang hidupmu harus keluar masuk rumah sakit .. kau akan memahami bagaimana perasaanku .. ,” lanjutnya pelan.

Jung-Min tertegun. Perkataan yang seperti didesahkan tersebut menancap di hatinya—bak anak panah yang diarahkan langsung, jitu mengenai relung hatinya yang paling dalam.

“Miane .. ,” katanya dengan nada menyesal. “Saya .. saya selalu .. mengatakan sesuatu … yang tidak pada tempatnya. Dan juga berbuat sesuatu yang tidak seharusnya kuperbuat .. “

Jie-Ah tersenyum. “Itu gunanya seorang sahabat, kan?”

“Dhe?”

Jie-Ah mulai melangkahkan kakinya sehingga Jung-Min yang menuntunnya ikut bergerak juga. Mereka sampai di depan pintu gerbang Everlasting dan Jie-Ah membuka pintu itu.

“Setelah mengenalmu, aku mengerti apa artinya seorang sahabat.” Jie-Ah melirik Jung-Min. “Tempat mencurahkan perasaan—terkadang juga tempat menampung saran-saran dan ide-ide, baik bermanfaat maupun tidak.” Sekali lagi dia tersenyum.

Jung-Min tidak mampu berkata-kata. Ditatapnya Jie-Ah secara seksama. Gadis ini tampak berbeda dengan Jie-Ah yang dia kenal beberapa hari yang lalu. Dia lebih terbuka, dan kelihatannya pemikirannya sudah jauh ke depan.

“Lain kali saya akan lebih memperhatikan perkataanku.” Ujar Jung-Min. “Saya berjanji akan memahami seutuhnya—baik perasaan maupun penyakitmu .. “

“Gumawo .. ,” jawab Jie-Ah perlahan.

Dia membuka pintu dengan kunci di tangannya. Kemudian mereka masuk ke dalam. Jung-Min membawa Jie-Ah ke ranjang. Setelah mendudukkan dirinya di sana, dia berjalan ke meja dan menuang segelas air buat Jie-Ah. Dia mengeledah tas di atas ranjang dan mengeluarkan sebuah bungkusan.

“Waktunya minum obat .. ,” katanya sambil tersenyum menenangkan.

Jie-Ah mengangguk. Tangannya terjulur menerima pil-pil yang diserahkan Jung-Min. Setelah menelan pil-pil tersebut, pemuda disebelahnya menyodorkan gelas di tangannya. Jie-Ah minum sampai tandas air yang terisi dalam gelas dengan bantuan Jung-Min.

“Gumawo … “

Jung-Min menaruh gelas di atas meja kecil dekat ranjang. “Sama-sama .. ,” katanya sambil melirik sekilas jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

Tanpa diketahui Jung-Min, Jie-Ah menangkap lirikan halus itu. “Ada keperluan lain?”

Jung-min tersentak. “Dhe?!”

Jie-Ah tersenyum. “Kalau ada keperluan lain, pergilah! Saya bisa menjaga diri sendiri.”

“Ah tidak. Tidak penting!” Jung-Min mengibaskan tangannya. “Hanya rapat dengan salah seorang partner kerja.” Katanya sambil tertawa kikuk. “Tidak penting kok. Saya bisa menundanya.”

“Jangan!” sela Jie-Ah. “Kamu pergilah! Saya merasa capek dan ingin istirahat.” Alasannya.

“Sungguh tidak apa-apa saya tinggal sendiri?” tanya Jung-Min ragu-ragu.

“Tidak.” Jawab Jie-Ah pasti. “Saya tidak akan kemana-mana jadi tidak mungkin terjadi sesuatu padaku.”

Jung-Min terlihat berpikir sebentar. “Kalau begitu .. ,” dia meraba-raba dagunya—mempertimbangkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Baiklah.” Akhirnya dia berkata. “Saya akan datang lagi besok pagi. Membawakan keperluan-keperluan rumah yang kau butuhkan. Ingat jangan kemana-mana tanpa seijinku, dan obatnya juga jangan lupa dimakan … , araso?”

“Ne.”

Jung-Min tidak bergerak selama beberapa menit. Diamatinya Jie-Ah yang mulai merebahkan diri di atas ranjang. Wajah itu masih terlihat pucat. Dia berpikir, betapa menderitanya gadis itu. Bukan hanya jasmani, tapi juga rohani. Dia menderita lahir batin. Tapi penderitaan seperti apa? Jung-Min mengeleng. Apakah dia bisa merasakannya? Tidak. Dia hanya bisa melihat, tapi tidak memahami. Apa yang telah dibuatnya untuk Jie-Ah? Tidak ada.

Jung-Min meraih selimut dari sudut ranjang kemudian menyelimuti Jie-Ah. “Saya pergi sekarang .. “

“Ne.” jawab Jie-Ah sambil memejamkan matanya.


----- oooOooo -----



”Ini ditaruh di mana?” tanya Jung-Min sambil mengangkat belanjaan di tangannya. Saat itu pukul setengah sembilan pagi.

“Di lemari gantung di atas saja .. ,” jawab Jie-Ah sambil menunjuk barisan lemari gantung di dapur.

“Di sini?” Jung-Min mengarahkan telunjuknya ke salah satu lemari.

“Ne.”

Jung-Min mulai bekerja. Dikeluarkannya seluruh isi belanjaan kemudian diatur dengan rapi dalam lemari gantung paling ujung sebelah kanan. Lalu dia berjongkok. Yang perlu ditaruh di temperatur dingin dimasukkannya semua ke dalam kulkas.

“Ok, selesai .. ,” dia berdiri dan tersenyum pada Jie-Ah.

“Gumawo .. ,” jawab Jie-Ah. “Minum?” tawarnya.

Jung-Min mengangguk. “Boleh .. “

Jie-Ah berjalan ke meja di tengah ruangan kemudian menuang segelas air yang disodorkannya pada Jung-Min yang sudah berada di sampingnya.

“Thanks .. “

“Seharusnya saya yang berterimakasih padamu .. ,” ujar Jie-Ah.

Jung-Min segera mengerakkan tangannya. “Tidak penting siapa yang berterimakasih pada siapa.” Katanya. “Bagaimana keadaanmu? Agak baikkan?”

“Lumayan .. ,” jawab Jie-Ah.

Jung-Min tersenyum. “Bagus.” Kemudian dia berpaling ke jendela. “O ya, sebaiknya kau tidak keluar hari ini. Sewaktu datang tadi hujan mulai turun .. “

“Chinja?” Jie-Ah mengangkat alisnya. “Tapi apa kau tak tahu, aku peri hujan?” tanyanya dengan senyum mengoda.

“Yaa--,” seru Jung-Min—keras. “Peri hujan atau bukan, aku tidak ingin kau keluyuran di cuaca seperti itu! Araso?”

Tawa Jie-Ah meledak. Sampai-sampai dia menekan dadanya yang terasa agak sesak. “Saya hanya bercanda, mengapa reaksimu sebesar itu?”

“Ini tidak main-main!” ujar Jung-Min tidak senang. “Jangan bercanda dengan penyakitmu! Aku tidak suka itu!”

Jie-Ah langsung terdiam. Selama beberapa menit dia tidak bersuara. “Sosoengheyo .. ,” katanya perlahan-lahan. “Tidak pernah lagi. Saya berjanji .. ,” lanjutnya pelan.

Jung-Min menghela nafas, lalu memejamkan matanya lambat-lambat. “Apa kau tahu hatiku terasa sakit setiap kali kau berkata begitu?”  


----- oooOooo -----


 
Incheon airport ….

Hye-Mi melirik kesana-kemari tapi belum menemukan kemunculan Seung-Gi. Tampangnya terlihat kesal ketika untuk kesekiankalinya dia melirik jam tangan mungil yang melingkar di lengan kirinya. Sudah pukul 12 siang dan Seung-Gi belum menampakkan batang hidungnya. Padahal menurut berita yang diperoleh dari salah seorang rekan kerjanya, dia akan tiba di Seoul sekitar pukul setengah duabelas pagi.

“Sudah terlambat setengah jam!” umpat Hye-Mi. Cangkir plastik berlabel lingkaran hijau Starbuck di tangannya yang sedari tadi telah kosong dilemparkannya ke tong sampah.

Lima menit berlalu dan segerombolan orang mendekatinya. Hye-Mi memperpanjang leher ke depan—nah, itu dia. Dia mendapati Seung-Gi sedang memeriksa sesuatu dalam saku jasnya di antara orang-orang itu.

“Gi oppa!” teriak Hye-Mi. Tangannya dilambai-lambaikan.

Terlihat Seung-Gi berhenti dan memandang kearahnya. “Hey, Hye-Mi .. ,” balas pria itu agak kaget. Dengan langkah lebar dia mendekati Hye-Mi. “Mengapa bisa berada di sini?”

Hye-Mi cemberut. Ditepuknya pundak Seung-Gi keras-keras. “Mengapa oppa terlambat sekali?” dia balas bertanya.

“O itu .. ,” Seung-Gi mengangkat tangan ke atas. “Penerbangannya delay sepuluh menit.” Katanya. “Memangnya ada apa menungguku di sini?”

“Tentang permintaanku itu .. ,” kata Hye-Mi. “Bagaimana? Apa yang oppa dapat?”

Alis Seung-Gi terangkat. Rupanya itu alasannya mengapa Hye-Mi sampai bersusah-payah menantinya di bandara. “Kau sungguh ingin mengetahuinya?”

“Ne.”

“Apa ada gunanya?” tanya Seung-Gi untuk memastikan.

“Jangan bertele-tele. Katakan sekarang juga!” pinta Hye-Mi serius.

Seung-Gi tidak menjawab.

“Oppa!” tegur Hye-Mi kesal.

Seung-Gi tersentak. “Sebaiknya kita mencari tempat untuk bicara … ,” katanya setelah menarik nafas. Dia melewati Hye-Mi—menuju ke sebuah café kecil yang terletak tidak jauh dari situ. Hye-Mi memanjangkan bibirnya. Dengan terpaksa dia mengikuti langkah Seung-Gi.    


----- oooOooo -----


 
”Bagaimana, oppa?” tanya Hye-Mi tak sabar.

Seung-Gi meletakkan cangkir kopi di tangannya. “Sungguh kau ingin mengetahuinya?”

“Ne!” sahut Hye-Mi cepat. “Tentu saja! Jika tidak, saya tidak akan meminta Gi oppa mengikuti Min oppa. Ayo cepat, ceritakan sekarang juga!” desak Hye-Mi.

“Untuk apa?” Seung-Gi tidak menjawab, malah bertanya lebih lanjut pada Hye-Mi.

“Untuk apa? .. Saya yakin oppa tahu untuk apa .. ,” dengus Hye-Mi. “Min oppa tidak boleh tertarik pada wanita lain. Tidak boleh!” giginya bergemelatuk keras. “Hanya saya, menantu yang diinginkan omma. Omma mencintaiku .. ,” lanjutnya dengan nada bangga. “Dan saya yakin oppa akan menyadari ini setelah saya mendatangi wanita itu .. “

“Kau tidak boleh menganggunya .. ,” sela Seung-Gi keras.

Alis Hye-Mi berkerut. “Mengapa?” tanyanya menyelidik. “Oppa berubah haluan membelanya?” tiba-tiba dia tertawa hambar. “Hebat! Sebegitu mudahnya dia membuat para pria tertarik padanya? Menarik sekali! Saya bahkan semakin tertarik menemuinya sekarang .. “

“Bukan begitu, Hye-Mi a .. ,” bantah Seung-Gi sambil mencondongkan badan ke depan. “Hanya saja .. dia, .. kondisinya tidak begitu baik .. “

“Tidak begitu baik?” Hye-Mi mengangkat alisnya. “Maksud oppa?”

Seung-Gi terdiam selama beberapa menit.

“Oppa!” tegur Hye-Mi.

Seung-Gi menghela nafas perlahan. “Gadis itu .. mengidap penyakit mematikan .. “

“Mwo?!” Hye-Mi tersentak dari tempatnya. “Penyakit mematikan?”

“Ne .. ,” jawab Seung-Gi. “Menurut para suster yang merawatnya, kelainan jantung sejak lahir .. “

“Hah?!!” mata Hye-Mi terbelalak lebar.

“Ne .. ,” Seung-Gi mengangguk. “Karena itu .. jangan menganggunya, Hye-Mi a .. Akan sangat berbahaya .. dan Jung-Min pasti akan murka jika mengetahuinya .. “

“Apa oppa sudah gila?” seru Hye-Mi tiba-tiba. Suaranya menjadi keras. “Membiarkan Min oppa berhubungan dengannya sama saja dengan mendorongnya ke kuburan!”

“Mwo?”

“Bukahkah begitu?”

Seung-Gi tidak menjawab.

“Apa oppa kira kelainan jantung sejak lahir bisa disembuhkan?”

Lagi-lagi, Seung-Gi membisu. Hye-Mi menatapnya sesaat, kemudian mengulurkan tangannya.

“Mwo?”

“Berikan nama dan alamat orang itu!”

“Kau sungguh akan mendatanginya?”

“Ne .. ,” jawab Hye-Mi sambil berdiri dari kursi yang didudukinya. “Saya tidak akan melakukan sesuatu yang berlebihan, jadi oppa tidak perlu khawatir .. “

“Tapi .. “

“Nama dan alamatnya … ,” pinta Hye-Mi lagi. Kali ini lebih tegas dari tadi.

Seung-Gi menghela nafas. Dengan agak sungkan dia menuliskan sesuatu di secarik kertas yang diambil dari dalam tasnya, kemudian menyobek dan memberikannya pada Hye-Mi.

“Janji pada oppa?”

“Ne .. ,” Hye-Mi menerima kertas tersebut. Ditelusurinya sekilas, lalu dia beranjak dari situ. “Saya akan menghubungi oppa lagi nanti .. “  


----- oooOooo -----


 
Hye-Mi mengumpat. Begitu pintu taxi yang ditumpanginya dibuka, air hujan langsung menerjang masuk membasahi pakaiannya. Air hujan tersebut terbawa angin yang bertiup kencang saat itu. Sambutan alam yang membuatnya mengerutu lagi.

Hye-Mi kelihatan ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan keluar dari dalam taxi. Dia harus menemui wanita itu. Harus! Tidak boleh tidak! Hye-Mi melawan hujan—berlari ke arah pintu gerbang Everlasting di depan. Gaun yang dikenakannya basah kuyup begitu dia sampai di sana. Hye-Mi mengibas-ngibaskan butiran-butiran air dari pakaiannya. Sekali lagi dia mencaci-maki. Jika bukan karena Jung-Min, dia tidak akan melakukan kebodohan ini. Dia selalu benci pada hujan.

Hye-Mi mengetuk pintu dengan gerakan tak sabar. Dia menunggu sebentar. Beberapa menit kemudian, pintu tersebut dibuka. Seorang wanita berkulit putih mulus—seputih salju dan semulus kapas—berdiri di hadapannya dengan payung tergenggam di tangan. Mata bulat itu melebar perlahan.

“Dhe?!” tanya wanita muda itu.

“Anda—Goo Jie-Ah ssi?” tanya Hye-Mi dingin.

“Ne.” jawab Jie-Ah dengan ekspresi heran. “Dan agashi—siapa?”

“Saya Jung Hye-Mi .. ,” jawab Hye-Mi. “Adik angkat Min oppa. Maksudku, Lee Jung-Min oppa .. “, dia membenarkan.

“O .. ,” Jie-Ah mengangguk—masih dengan ekspresi heran. “Tapi … apa maksud kunjungan nona?”

“Boleh saya masuk dulu?” tanya Hye-Mi tanpa basa-basi.

Jie-Ah mengamatinya. Hye-Mi agak mengigil ketika hujan deras kembali menerpa badannya. Akhirnya Jie-Ah mengangguk, mengerti. Sambil meminggir dari pintu, dia mempersilahkan Hye-Mi masuk ke dalam.


 
----- oooOooo -----


 
”Tinggalkan oppa!”

Brakkk .. , gelas berisi air hangat di tangan Jie-Ah jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai.

“Mwo?!”

“Perkataanku sangat jelas!” kata Hye-Mi tegas. “Tinggalkan oppa .. ,” ulangnya. “Jangan mengikatnya dengan hubungan yang mustahil. Saya tahu oppa tertarik pada anda, tapi saya juga yakin anda menyadari seberapa panjang umur anda .. “

“Mwo?” pertanyaan Jie-Ah memelan. Tangannya memegang bagian dadanya yang terasa sedikit sesak.

“Anda tak ingin melihatnya menderita melihat kepergian anda, kan?”

“Maksud nona?” tanya Jie-Ah dengan suara bergetar. Jantungnya berdetak semakin keras dan pernafasannya semakin berat.

“Jangan berlagak tidak mengerti, Jie-Ah ssi!”

“Saya .. ,” Jie-Ah menekan dadanya.

“Dan jangan berlagak semenderita itu!” sahut Hye-Mi kesal. “Oppa akan lebih menderita jika anda memaksa bersamanya!”

“Saya .. “

Pandangan Jie-Ah melemah. Tangannya menekan dada semakin keras. Nafasnya sangat sesak. Dia berusaha mengambil nafas dalam-dalam, tapi tak berhasil. Apa yang dihirupnya terasa hampa. Udara terasa nihil. Brukkk,, tubuh Jie-Ah ambruk ke lantai.

“Yaa—“

Hye-Mi yang masih menyerocos sangat terkejut.

“Jangan main-main!” ujarnya. “Saya tidak mudah dikelabui .. “

Dia mendekati tubuh Jie-Ah dan mengoyangkannya. “Hey—Jie-Ah ssi .. ,” tapi tangannya yang terjulur langsung ditarik kembali. Tubuh itu terasa dingin sekali. Dengan tangan gemetar, Hye-Mi mendekatkan telunjuk ke hidung Jie-Ah. Dia sangat terkejut. Nafas gadis itu sangat lemah—bahkan hampir tidak terasa.

Hye-Mi bergeser ke belakang dengan ketakutan. Matanya terbelalak lebar dan nafasnya memburu. Deringan telepon dari dalam tas membuatnya terlonjak kaget.

Dengan tangan bergetar hebat dia mengambil ponselnya. Beberapa kali ponsel tersebut jatuh ke lantai sebelum berhasil di dekatkan ke telinganya.

“Ye .. yeoboseyo .. “

“Hye-mi a, kau ada di mana?” terdengar suara Seung-Gi dari seberang.

“Oppa .. ,” teriak Hye-Mi. Dia menanggis. Ya, ketakutan yang teramat sangat membuatnya menanggis tersedu-sedu.

“Ada apa?”

“Saya .. saya membunuhnya .. ,” kata Hye-Mi tidak jelas.

“Mwo?”

“Apa .. apa yang harus kulakukan, .. oppa? .. Saya rasa dia .. dia sudah mati … Dia akan mati .. “

“Apa yang kau katakan, Hye-Mi a?” tanya Seung-Gi tak mengerti.

“Saya membunuhnya .. ,” teriak Hye-Mi. “Saya membunuh Goo Jie-Ah .. “

“MWO?!!”

“Bagaimana ini, oppa? Saya .. saya tidak bermaksud begitu .. Dia .. dia .. mendadak tersungkur ke lantai .. dan .. dia .. dia tidak bernafas .. ,” Hye-Mi menanggis makin keras.

“Tenang dulu .. ,” ujar Seung-Gi dari seberang. “Dengarkan oppa, semua akan baik-baik saja. Sekarang kau ada di mana?”

“E .. Everlasting .. “

“Oppa akan ke sana!” kata Seung-Gi. “Ingat tunggu oppa. Jangan menyentuh apapun. Oppa akan tiba di sana sekitar lima menit kemudian.”

“Ne .. ,” tangan Hye-Mi yang memegang telepon terkulai lemas di lantai.

Dia menatap Jie-Ah. Wajah yang menengadah itu sangat pucat. Hye-Mi segera menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya yang dirangkul dengan sangat erat.

“  
----- oooOooo -----


 
”Bagaimana ini oppa?”

Hye-Mi menanggis tersedu-sedu dalam pelukan Seung-Gi. Sekarang mereka berada dalam ambulance yang membawa Jie-Ah ke rumah sakit. Gadis malang itu sedang mendapatkan pertolongan darurat dari tim medis rumah sakit Seoul.
    
“Tidak apa-apa. Tenanglah!” Seung-Gi berusaha memenangkan Hye-Mi walaupun dia tidak yakin itu berhasil.

Kondisi Jie-Ah benar-benar kritis. Para regu penolong berusaha memberinya pernafasan buatan lewat selang dari tabung yang berisi udara tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Jantungnya terus dipompa. Berulangkali pihak tim medis mengelengkan kepalanya.

“Susah .. ,” kata seseorang dari mereka. “Percepat laju mobil ke rumah sakit!” perintahnya pada sopir. Pria setengah baya di bangku kemudi mengangguk. Laju mobil dipercepat. Sekejap saja ambulance tersebut seperti terbang—melesat ke depan.  

  
----- oooOooo -----


 
Semua tampak tegang. Terutama Jung-Min. Dia mundar mandir di depan ruang UGD, tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya. Berulangkali dia mengelengkan kepala, masih tidak mempercayai apa yang didengarnya dari Seung-Gi dua jam yang lalu. Jie-Ah dimasukkan ke rumah sakit? Bagaimana mungkin? Dia baik-baik saja tadi pagi. Tapi ternyata benar. Penyakit Jie-Ah kambuh lagi, dan kali ini sangat parah. Jung-Min menghempaskan tubuhnya ke bangku. Satu setengah jam sudah Jie-Ah berada di dalam dan sampai sekarang tidak diketahui kondisinya.

Jung-Min menoleh ke samping. Hye-Mi masih menanggis sejak tadi. Nyonya Lee memeluknya erat-erat. Berusaha menghibur dan menyakinkannya bahwa apa yang terjadi pada Jie-Ah bukan kesalahannya. Tapi tidak berhasil. Hye-Mi terus menyalahkan dirinya sendiri. Jung-Min menghela nafas perlahan. Perasaannya sangat sesak. Entah mengapa dia merasa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi. Dua detik berlalu dan dua tetes airmata menitik turun dari pelupuk matanya.

Pintu UGD terbuka. Tim medis dan paramedis rumah sakit keluar dengan tampang lesu.

“Bagaimana, dok?” tanya Jung-Min sambil menerjang ke arah Dae-Won. Tidak diberinya kesempatan dokter itu melepas maskernya. “Bagaimana keadaannya?”

Dae-Won menatapnya sesaat, kemudian .. perlahan-lahan, dia mengelengkan kepalanya. “Sosoengheyo .. “

Jung-Min mundur ke belakang. “Tidak mungkin … ,” dia mengeleng keras-keras. “Anda berbohong … ,” teriaknya. “Dia tidak mungkin pergi begitu saja .. “
Pada saat itu tanggisan Hye-Mi yang sudah memelan, meledak lagi. “Oh tuhan!! Miane oppa .. jeongmal miane .. “

“Jung-Min a .. ,” panggil Nyonya Lee, berusaha menenangkan Jung-Min.

Tapi pemuda itu sudah tidak terkendali. Dia mendorong Dae-Won sampai terhempas ke dinding sambil berusaha menerobos benteng para dokter dan suster di depan.

“Kalian bohong! Menyingkirlah dari situ! Saya ingin menemuinya .. “

Dae-Won menariknya ke belakang. “Dia tidak ingin dilihat olehmu!”

“Mwo?”

“Ini amanatnya yang terakhir .. ,” sahut Dae-Won dengan sangat menyesal. “Dia tidak ingin dilihat olehmu .. dalam .. dalam keadaan seperti itu .. ,” ditepuknya pundak Jung-Min. “Kau mengerti, kan? Wajahnya .. ,” dia mendesah. Air bening meluncur dari sudut matanya. Begitu juga Eun-Hye yang berdiri di sebelahnya. “seorang gadis ingin diingat sebagai bidadari tercantik dalam hati pria yang dicintainya … karena itu .. “

“Anda bohong .. ,” tanggis Jung-Min. “Dia tidak mungkin pergi—meninggalkanku … “

“Sosoengheyo .. “

Dae-Won merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan secarik kertas. Dia menyodorkan kertas tersebut pada Jung-Min. “Terimalah! Ini permintaannya padaku .. “

Jung-Min mengangkat wajahnya dan menatap kertas bunga-bunga kecil warna pink itu. Dia tidak bergerak, dan juga tidak menerimanya.

“Dari Jie-Ah .. ,” kata Dae-Won sambil menghapus airmatanya. “Dia ingin kau membacanya .. “

Dengan tangan gemetar Jung-Min menerima kertas tersebut. Digenggamnya erat-erat. Kemudian .. brukk, tubuhnya ambruk ke lantai.


----- oooOooo -----


 
Jung-Min duduk di bangku panjang di tengah taman kecil rumah sakit Seoul. Kertas dari Jie-Ah diremasnya—dikucek berulangkali. Dia ingin membuka dan membacanya tapi tidak berani.

Jung-Min menengadah. Matahari sore mulai membiaskan cahaya lembut, mengantikan sinar menyengat yang dipancarkannya di siang hari. Daun-daun kering berjatuhan dari pohon-pohon, mengelus wajahnya kemudian mendarat dalam kertas genggamannya. Musim gugur telah tiba! Bulan September yang kelabu beranjak pergi, meninggalkan kenangan-kenangan manis selama sebulan ini. Hari terakhir di bulan yang seharusnya tidak dinominasi air hujan.

Jung-Min menunduk perlahan. Kertas yang sudah kucel karena sering diremas dibukanya pelan-pelan. Walaupun hatinya memberontak, dia tahu—dia harus melakukannya. Apa yang ingin dikatakan Jie-Ah, apa yang diharapkannya dan apa yang dipikirkannya selama ini, mungkin tertulis dalam kertas kecil dalam tangannya. Jadi, dia harus membacanya!

Anyong mimpiku ..

Kata pembuka itu membuatnya tersenyum.

Ketika aku percaya di dunia ini sudah tidak ada pengharapan lagi, kau datang dalam hidupku. Seperti mimpi, kau menarikku keluar dari dunia gelap yang selama ini mengurung langkahku.

Terasa hangat ketika kau mengiringi setiap langkahku menapaki hujan. Aku tersentuh ketika kau menaungiku dengan payung di tanganmu. Apalagi ketika senyuman terkembang di bibirmu. Aku sangat tersanjung, mimpiku …


Jung-Min menghapus airmatanya yang mulai mengalir keluar. Setelah itu dia meneruskan membaca.


Mungkin ini anugerah yang diberikan Tuhan kepadaku. Anugerah terindah seumur hidupku. Aku tidak menyesal pemberian-Nya sependek ini. Mungkin akan terdengar memaksa jika aku memintamu mengingatku. Tapi kumohon .. hanya sekali saja. Aku tidak serakah. Setelah mengingatku dengan sungguh-sungguh, lupakanlah namaku—diriku. Mulailah hidupmu yang baru, karena kau yang terbaik.

Jung-Min memejamkan matanya. “Apa maksudmu, paboya? Segitu mudahnya-kah melupakan dirimu?”

Aku yakin kau sedang memarahiku sekarang. Dalam kuburpun, aku akan tertawa membayangkannya. Jangan marah, dan jangan bersedih, karena kenangan indah yang mesti diingat.

Aku bersyukur telah mengenalmu. Bersyukur pernah memiliki seorang sahabat seperti dirimu. Apa kau tahu sesuatu? Sesungguhnya .. aku mencintaimu …

Ha .. ha .. ha …


“Kau masih bisa tertawa?” Jung-Min memukul surat di tangannya. “Apa meninggalkan dunia jahat ini membuatmu lega? Lalu bagaimana dengan diriku? Apa yang bisa kulakukan tanpamu? Apa? Pabo-a .. “


Kamu tahu sekarang! Mungkin sangat terlambat, tapi aku ingin kau mengetahuinya. Sampai di sini, mimpiku. Bertemu lagi di dunia lain. Tak tahu akan menunggu berapa lama. Tapi aku setia menunggumu di sini …

Salam sayang dan cinta dari mimpimu,
Goo Jie-Ah


Pegangan Jung-Min mengendor. Kertas yang sudah pudar akibat airmata di tangannya melayang ke atas. Tertiup angin ke udara, berputar-putar kemudian jatuh ke tanah yang ditumbuhi rumput-rumput halus. Jung-Min mengikuti perjalanan kertas tersebut dengan pandangan sendu. Kembali, airmatanya menitik keluar.


----- oooOooo -----


 
Pemakaman Jie-Ah dilakukan seminggu kemudian. Yang hadir hanya segelintir orang. Sahabat-sahabatnya beserta beberapa suster dan dokter yang sudah mengenalnya sejak kecil. Jung-Min menghapus airmatanya. Untuk kesekiankalinya selama seminggu ini dia menanggis. Didengarnya juga tanggisan Hye-Mi. Jung-Min mendekatinya dan merangkul pundaknya.

“Miane oppa .. ,” kata Hye-Mi entah keberapakalinya. “Saya yang .. “

“Sudahlah .. ,” potong Jung-Min. “Setelah membaca surat darinya, saya mengerti yang diinginkannya hanya satu hal .. “

“Apa?”

“Dia ingin saya bahagia.” Jung-Min tersenyum hambar. “Membencimu hanya menjadi beban dan itu tidak akan membuatku bahagia. Semua sudah terjadi .. “

“Miane .. ,” Hye-Mi menundukkan kepalanya.

Jung-Min mengelus pundaknya, lalu berpaling ke depan. Gundukan merah itu sekarang bergabung dengan orangtua dan oppanya.

“Beristirahatlah, Jie-Ah a .. ,” bisik Jung-Min halus. “Aku akan berusaha mengikuti permintaanmu .. Satu yang kusesalkan, aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kali. Tapi seperti permintaanmu, kenangan terindah yang patut kuingat—parasmu yang tercantik .. “


----- oooOooo -----


 
”Sungguh kau akan pergi?” tanya Nyonya Lee.

“Ne.” jawab Jung-Min sambil memasukkan pakaian ke dalam kopor.

“Lalu bagaimana dengan perusahaanmu?”

“Seung-Gi yang akan mengurusnya .. “

“Kau melarikan diri, anakku?”

Jung-Min menghentikan kesibukkannya. Dia berjalan kearah Nyonya Lee dan mendudukkannya di atas ranjang.

“Aku tidak melarikan diri, omma.” Katanya sambil bersujud di depan wanita itu. “Aku hanya ingin mencari sesuatu yang tidak kupahami selama ini .. “

“Haruskah dengan berkeliling Eropa seperti itu?” tanya Nyonya Lee pelan.

Jung-Min mengangkat bahunya. “Entahlah .. Mungkin aku akan mendapatkan jawabannya di sana. Siapa tahu? .. “

Dia berdiri dari lantai, lalu menjatuhkan diri di sebelah Nyonya Lee. “Everlasting sudah saya tutup.” Lanjutnya. “Tidak akan ada lagi kesedihan-kesedihan di sana. Katakan pada Hye-Mi, omma .. Seung-Gi pasangan yang terbaik buatnya .. “

Nyonya Lee tersenyum sambil mengucek rambut Jung-Min. “Sudah bisa memperhatikan orang lain, jadi benar kau sudah sembuh .. “

“Ne .. ,” Jung-Min tertawa. Perhatiannya kemudian tertuju ke depan. “Ini yang diinginkan Jie-Ah .. ,” desisnya halus.  


----- oooOooo -----
« Last Edit: October 16, 2010, 11:53:06 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun