Author Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11  (Read 20567 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile





Jung-Min menulis dalam buku hariannya.




=> Pemberhentian pertama : London …

Begitu menginjakkan kaki di sini, kesan pertama yang kudapat adalah udaranya yang lembab. Tembok-tembok tua mengelilingi kota—bertaburan laksana jamur di musim hujan. Aku duduk di sini, di pinggir jalan kecil, menyandar di dinding bata merah—kesepian seorang diri …



dan juga kedinginan karena hampir seminggu hujan lebat menguyur kota ini …



… membawa aroma dan suasana yang mengingatkanku padamu. Jika kau punya kesempatan datang ke sini, akankah kau mencintai tempat ini? Merasakan kota ini cocok buatmu? Tapi, tidak,, .. tunggu dulu, .. udara lembab tidak baik buat kesehatanmu!

Mimpiku .. tahukah kau bahwa dalam dua minggu terakhir aku terus-terusan memikirkanmu? Baru kusadari begitu banyak kesalahan yang telah kuperbuat. Apa yang sebenarnya terbaik buatmu tidak kuketahui. Udara sejuk di waktu hujan yang dapat membuatmu bernafas dengan lebih leluasa, tapi kelembabannya juga membahayakan jantungmu—aku tidak menyadarinya, keterlaluan ya? (senyuman menyayat-)jika waktu bisa dibalik, aku ingin kau mengetok kepalaku biar aku sadar.

Hatiku terasa sesak membayangkan kenyataan ini.



.. pilihan yang sulit-kan, sayang? Tapi aku tahu kau harus memilih. Mungkin karena kau begitu mencintai hujan—merasa dia sama denganmu, terasingkan dari dunia ini—sehingga kau memilih hujan untuk menemani hari-harimu … Aku mulai bisa merasakan sekaligus memahami perasaanmu saat itu …

***

=> Stasiun kedua : Manchester …

Kota lain dari England. Apa kau menyukai sepakbola, mimpiku?

Hari ini aku berdiri di luar lapangan sepakbola group terbesar—Manchester United. Aku memandang ke dalam—para pemainnya sedang berlatih dengan giat buat pertandingan minggu depan. Wajah mereka tampak gembira walaupun sedikit lelah. Mungkin melakukan sesuatu yang kita sukai merupakan hal yang paling membahagiakan—seperti yang tersirat di wajah para pemain besar itu.

Aku jadi berpikir, apa sebenarnya yang kau sukai .. atau kuasai selain melukis? Tidak ada? Atau .. ada, tapi tidak kuketahui?

Mungkinkah kau menyukai olahraga sepakbola? Jika benar .. , peganglah tanganku! Aku akan membawamu ke lapangan hijau itu. Akan kutunjukkan padamu cara bermain sepakbola yang baik .. karena terus-terang, mimpiku, dulu .. waktu masih remaja, aku merupakan pemain terbaik di sekolahku …





***

=> Tujuan ketiga : Paris …

Kota model yang pasti sangat dicintai wanita sedunia. Apakah termasuk dirimu?



… aku tidak tahu …

Dandananmu selalu terlihat sederhana. Mungkinkah kau bukan termasuk golongan wanita seperti itu? Wanita yang gila akan merek-merek terkenal?

Kau merupakan gadis biasa yang paling sederhana yang pernah kukenal seumur hidup.

Tahukah kau, mimpiku? Aku selalu tersenyum begitu mengingat kenyataan ini. Walaupun sederhana, kau selalu terlihat sempurna—si peri hujan dengan telinga lancip dan panjang, yang mengembangkan sayapnya menapaki genangan air dengan kaki telanjangnya. Kesan pertama ini sudah tertanam dalam sanubariku. Sungguh sosok yang kuimpi-impikan.

Karena itu selama sebulan di sini, aku tidak menyerbu toko-toko ternama yang menjual barang-barang termahal dan bermerek seperti para wisatawan lainnya. Aku lebih memilih menghabiskan waktuku mengabadikan tempat-tempat indah di sini dengan kameraku—sebagai kenangan buatmu dalam hatiku …



***


Tuttt .. tuttt …

Jung-Min meletakkan pensil di tangannya kemudian meraih ponsel yang bergetar di lantai bata di sebelahnya. Ada pesan masuk.

Sudah setengah tahun, sayang .. kapan kau akan kembali? Omma sangat merindukanmu ..

Jung-Min menghela nafas. Tangannya bergerak mengetik beberapa kata …

Mian, omma …, belum saatnya …

Send …

Diletakkannya ponsel tersebut begitu saja. Tatapannya mengarah ke langit biru .. cuaca sangat bagus hari ini …




=> Pemberhentian keempat : Madrid …

Aku sangat merindukanmu saat ini! Selama petualanganku yang memasuki bulan ke-6, kota Madrid merupakan tempat pengait ingatan paling kuat terhadapmu.

Hari ini aku merasa tidak enak badan. Sedikit demam dan pilek—mungkin akibat pengaruh perbedaan cuaca dari ke-4 kota yang kusinggahi.

Dan aku bertemu dengannya di sini—di rumah sakit tempatku dirawat. Seorang gadis yang memiliki paras dan gerak-gerik serupa denganmu. Kulitnya sangat putih dan bercahaya, sedikit agak kemerah-merahan. Ya, tentu tidak sepucat kulitmu. Dia sedang menanggis tersedu-sedu di bangku panjang taman kecil rumah sakit Madrid ketika aku mendekatinya. Bukan bermaksud iseng, penasaran atau tertarik padanya. Aku hanya mencari udara segar dari aroma rumah sakit yang membuatku muak.

Saat itu dia meremas-remas tangannya dan berkomat-kamit sendiri. Aku sempat berpaling padanya sampai dia berhenti dan menoleh kearahku.

Tiba-tiba dia bertanya, “Dia akan baik-baik saja, kan? Oh tuhan .. ,” dia segera menutup wajah dengan sepasang tangan dan mulai menanggis lagi. “saya mohon jangan ambil nyawanya .. “

Kalimat itu sempat tertangkap oleh telingaku walaupun tidak jelas. Aku mengamatinya.



Ekspresi itu terlihat tidak asing bagiku. Aku merasa akrab dengannya—begitu saja, entah mengapa--karenanya aku memberanikan diri bertanya apa sebenarnya yang terjadi.

Dia mengatakan adiknya sedang menjalani operasi pencangkokan jantung di rumah sakit ini dan dia sangat takut, takut operasi tersebut akan gagal. Dokter bilang peluangnya hanya sepersekian—di bawah 20%. Peluang yang sangat kecil. Sekarang aku jadi mengerti mengapa merasa akrab dengannya. Karena dia mirip denganku—mengharapkan keajaiban terjadi pada orang-orang yang kami cintai. Bedanya, mereka masih mempunyai hubungan darah sedangkan kita …hanya mengenal dalam waktu yang sangat pendek. September kelabu yang tidak akan kulupakan seumur hidup.

Pada hari ketiga aku diijinkan keluar rumah sakit oleh dokter dan kembali aku bertemu dengannya. Wajahnya berseri-seri—baru kusadari dia sama sekali tidak mirip denganmu--sangat berbeda dari pertemuan pertama kami. Operasi tersebut sangat sukses. Katanya. Kesehatan adiknya berangsur-angsur membaik. Jantungnya juga berfungsi dengan normal. Aku menyemangati dan ikut berbahagia buat kebahagiannya.

Walaupun tetap ada sesuatu yang menganjal. Andai saja kejadian itu juga terjadi padamu … andai saja … tapi mungkin sudah banyak keajaiban yang terjadi padamu sehingga Tuhan tidak mengijinkanmu menerimanya lagi .. Ya, kata-kata itu kugunakan untuk menghibur diri sendiri—berulang kali …

***        


=> Kota kelima : Muenchen …

Sekali lagi—kota tua. Berdiri di sini, hanya atap-atap warna merah yang tertangkap oleh pandanganku.



Tidak ada yang bisa kulakukan atau yang ingin kulakukan di sini. Bahkan makan saja, aku tidak bersemangat.



Sehari-hari aku habiskan dengan berkeliling kota. Tidak ada yang menarik. Bisa dikatakan hampir membosankan.



Aku harus segera pindah dari sini. Aku yakin kau juga tak menyukainya sepertiku …

***

=> Pemberhentian keenam : Braga …

Berdiri di persimpangan, bagaimana aku harus melangkah?



… kehilangan arah—itu yang kurasakan. Aku tidak menginginkan apa-apa, hanya ingin berbalik ke kenangan-kenangan kita. Bolehkah aku melakukannya?



Di sini, membuatku bingung. Terlalu banyak jalan. Miane, permintaanmu tidak bisa kukabulkan. Aku tidak bisa mengingatmu hanya untuk sekali. Aku juga tidak mampu melupakan bayangan-bayanganmu. Hampir setahun … dan tetap saja, aku tidak sanggup …

Aku berusaha menenangkan diri dengan menghabiskan waktu di perpustakaan yang tenang …



… tapi itu malahan semakin mengingatkanku padamu. Tak sengaja aku menemukan sebuah sketsa yang mirip dengan goresan tanganmu .. tanpa terasa airmataku mengalir lagi setelah hampir setahun mongering …

***

=> Kota ketujuh : Roma …

Aku percaya kau menyukainya. Banyak seniman-seniman jalanan di sini. Hasil karya mereka sangat luar biasa. Kau tidak akan percaya kalau mereka punya bakat yang kalau disalurkan akan melebihi para pelukis terkenal sekarang ini. Mereka mempunyai karakter tersendiri dalam mengembangkan ide-idenya. Kebebasan merupakan syarat mutlak sehingga mereka lebih memilih berkarya sebagai seniman jalanan.

Aku juga bergabung dengan para pengamen jalanan. Duduk di jalan sambil mendengarkan lagu-lagu mereka mempunyai kepuasan tersendiri.



Untuk sementara aku bisa melupakanmu. Apa kau bahagia?

Aku juga menghabiskan waktu buat sesuatu yang sudah lama tak kulakukan. Ayo tebak apa itu? Kau pasti tidak menyangkanya. Ya, aku bersepeda. Dan aku berharap bisa memboncengmu bersamaku melihat dunia ini …

 


Kring … kring … kring …

Jung-Min mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Telepon dari nyonya Lee—ommanya.

“Ne, nyonya Lee Shin yang cantik .. ,” sapa Jung-Min hangat.

“Kau harus kembali, Jung-Min a .. ,” jawab nyonya Lee dari seberang.

Jung-Min tertawa. “Mengapa? Sangat merindukanku?”

“Tentu omma merindukanmu .. ,” jawab wanita itu. “Tapi bukan itu masalahnya .. “

“Lalu apa masalahnya?” tanya Jung-Min sambil membereskan peralatan melukisnya.

“Daerah pemukiman di Everlasting akan digusur pemerintah .. “

“Mwo?” Jung-min menghentikan kesibukannya. “Mengapa bisa begitu?”

“Akan diadakan pembaharuan besar-besaran di daerah itu .. “

“Everlasting juga digusur?”

“Ne .. ,” jawab nyonya Lee. “Seseorang atas nama Jie-Ah sudah menandatangani kontrak penjualan tanah berikut pondok Everlasting .. “

“MWO?” Jung-Min terloncat dari posisinya.

“Kami tidak tahu siapa dia .. ,” lanjut nyonya Lee dengan nada menyesal.

“Mana mungkin? Everlasting tidak boleh dijual!” teriak Jung-Min.

“Karena itu, pulanglah segera .. Omma tidak tahu bagaimana menangani masalah ini .. “

Jung-Min menjepit ponsel di antara pundak dan telinganya sedangkan tangannya secara kilat mendesak masuk semua barang yang ada di rumput ke dalam tasnya.

“Aku akan ke bandara sekarang, omma. Usahakan untuk menahan penjualan tersebut!”

Hubungan diputuskan. Jung-Min melempar ponsel tersebut ke dalam tas kemudian berlari keluar dari lapangan rumput ke sebuah taxi yang terparkir di tengah jalan—menuju bandara.


***** oOo *****
« Last Edit: October 30, 2010, 07:07:26 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun