Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 49963 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Untuk kesekian-kalinya aku menghela nafas. Di sekolah sekalipun, aku tetap tidak mampu mengusir bayanganmu dari pikiranku. Sungguh mengelikan. Saat ini aku sedang memikirkan apa yang sedang kau lakukan di gedung yang bersebelahan dengan sekolahku. Mungkinkah kau juga sedang memikirkanku? Sampai di sini pipiku mengembung. Bagaimana mungkin kau memikirkanku? Di rumah saja kau tidak memperlihatkan reaksi itu apalagi di sekolah, huhuhu … nyesak banget waktu mengingat kenyataan ini.

“Yoo—kamu!!”

Sebuah tangan tiba-tiba menyambar pundakku. Aku tersentak—ketakutan seperti pencuri yang tertangkap basah karena telah melakukan sesuatu yang tak pantas.

Aku segera menoleh ke belakang. “Soeun-a!!” teriakku lega.

“Wegude?” Soeun menjatuhkan dirinya di sebelahku. “Masih bermimpi?” dia meletakkan telapak tangannya di keningku. “Atau .. kau sedang sakit?” tambahnya dengan nada mengejek.

Wajahku memerah. “Yaa—singkirkan tanganmu!”

“Hey come on, girl … ,” Soeun tertawa. “Realitislah sedikit! Minho sunbae itu mustahil buatmu. Saingan-sainganmu sudah mengantri dari sini sampai ke sana … “ Soeun menunjuk dari ujung bumi sebelah selatan sampai ke utara. “Mereka hebat-hebat—dari pendidikan, body sampai status keluarga … ,” lanjutnya dengan gaya menghitung. “Kau kalah jauh, Hyesun-a .. “

Aku cemberut. “Aku nggak ngerti maksudmu!”

“O ya?” mata Soeun melebar. “Masih berlagak di hadapanku?”

Aku tak menjawab.

“Aku heran padamu .. ,” Soeun menepuk telapak tanganku keras-keras menyebabkan aku menjerit kesakitan. Aku segera mendeliknya dengan kesal. “Kita masih sangat muda, Hyesun-a. Banyak kesempatan terpampang di hadapan kita.” Soeun melebarkan tangannya. “Kita tinggal memilih dan memetik salah satu di antara mereka, baik itu pendidikan, karir dan cinta. Untuk apa bermimpi buat sesuatu yang tidak teraih … “

Aku tetap membisu. Tatapanku terarah ke depan—hampa.

“Percayalah!” Soeun menepuk pundakku. “Ikuti caraku. Berpacaranlah dengan orang setingkat dan seumuran dengan kita .. dan akan kau rasakan bagaimana indahnya dunia ini .. ,” lanjut Soeun dengan gaya sok menasehati.

Aku tidak mampu menahan untuk tak tertawa. Soeun—si jutek yang centil ini berlagak dewasa?

“Hey—saya serius!!” wajah Soeun berubah cemberut.

“Ne. Ne—aku tahu kau serius .. ,” aku mengelus punggungnya--berusaha untuk menenangkannya, tapi tetap saja ketawaku tak berhenti.

“Huhh—kau ini!!”

Tiba-tiba dia mengetok kepalaku.

“Akhh—apho!!” teriakku minta ampun.

“Huhh!!” Soeun mendengus lagi.

Dia berdiri dari bangku dan memutar tubuh ke samping. Tiba-tiba dia berteriak sambil menunjuk ke depan.

“ITU—IDOLAMU!!”

“MWO?!” aku terlonjak dari tempat dudukku—hampir terpelanting akibat keterkejutan yang teramat sangat. Wajahku memucat seputih kapas. “MANA?” tanyaku sambil celingak-celinguk kesana-kemari.

“BOONG!!” teriak Soeun sambil berkelit. “I get you, Hyesun-ssi!! Ha .. ha ..”

“KIM SO EUN!!” jeritku.

Tanganku bergerak bermaksud mencubit pinggangnya tapi dia sudah melesat ke ambang pintu. Suara ketawanya mengelegar di aula sekolah yang tidak begitu ramai itu.

“Ha .. ha .. aku akan mencarimu lagi nanti .. ,” Soeun melambaikan tangannya dari balik pintu keluar. “Ingat, jangan bermimpi lagi! Tar kejendot pintu!!”

“Yaishh--!!”

Saputangan bermotif bunga-bunga kecil melayang dari tanganku—berputar sedikit di udara kemudian mendarat di atas pintu yang sudah tidak tampak lagi batang hidung Soeun. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. Mengapa begitu sial hari ini?

Aku berlari ke pintu—meloncat-loncat buat mendapatkan kembali saputanganku tersayang. Tapi sial, aku terlalu pendek …


******


Aku berkomat-kamit sendirian. Saputanganku masih bertengger dengan anggun di atas daun pintu dan aku tidak berhasil meraihnya.

Akhirnya aku menyerah dan keluar dari aula sekolah. Kutelusuri lorong terbuka yang menghubungkan ruang kelas dengan kantin. Kepalaku tertunduk dalam keadaan menyedihkan. Sapaan-sapaan dari teman-teman sekelas kubalas sekedarnya. Aku sadar mereka berbisik-bisik sambil tertawa kecikikan. Entah apa yang membuat mereka berlaku begitu, aku tidak mau tahu. Pikiranku dipenuhi nasib saputanganku yang malang. Oh—my handkerchief …

Suara samar-samar yang saling bersahutan di depan membuatku mengangkat wajah perlahan. Mataku langsung terbelalak lebar terhadap apa yang berhasil kutangkap. Mampus aku! Seperti melihat hantu di siang bolong, wajahku memucat. Aku menoleh ke kiri dan kanan. Akhirnya kudapatkan tempat bersembunyi. Secepat kilat aku melesat ke balik pilar bundar di dekat situ.

Suara-suara tersebut semakin mendekat. Suara ketawa cekikikan yang sangat menyebalkan. Ingin sekali aku mengarahkan tembakan jitu ke jidat mereka. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Berharap tidak ada yang melihat keberadaanku. Aku tak sadar kau melirik ke arahku. Tidak tahu apa kau melihatku karena lirikan itu hanya sekilas. Perlahan wajahmu menunduk dan menyunggingkan senyum tipis.

“Apa kau punya acara di malam minggu ini?”

Kudengar salah seorang sunbae yang kecentilan bertanya padamu. Mataku terbuka perlahan-lahan. Kalian melewatiku begitu saja. Kepalaku terjulur ke depan guna menangkap jawaban darimu.

“Anhi .. “

Paling tidak jawaban itu yang kuharapkan! batinku dengan bibir mengerucut.

Aku menghembuskan nafas kemudian membentur-benturkan jidatku ke pilar. Terasa sakit tapi cukup menenangkan perasaanku yang tak terkendali.

“Hancurkan sekalian batok kepalamu!!”

Aku tersentak. Dengan cepat aku menoleh ke belakang.

“Soeun-a … “

“Kamu .. ,” dia berjalan kearahku sambil mengarahkan telunjuknya. Ditusuk-tusuknya jidatku dengan telunjuknya itu. “Dinasehati nggak mau dengar. Diberi pengertian nggak mau tahu …,” katanya kesal.

“Miane .. ,” ujarku lirih.

“Huhh—julukan itu benar-benar cocok buatmu .. ,” dengus Soeun.

“Mwo?” tanyaku tak mengerti.

Bibir Soeun menyunggingkan senyum tipis. “The .. little .. co .. ward .. ,” jawabnya dengan cara mengulur kata-kata tersebut sepanjang dan selama mungkin.

“MWO?” aku sangat terkejut. “Dari mana kau mengetahuinya?” tanyaku gugup.

Soeun mengangkat bahunya. “Hampir seluruh siswa mengetahuinya .. Juga para sunbae dari universitas Seoul … si little cowardnya minho sunbae … “

“Oh—dari siapa?” aku hampir menanggis. Perasaan malu membuatku mundur beberapa langkah dengan gontai. Tanganku menutup wajah erat-erat. Bagaimana caranya aku menghabiskan masa beberapa tahun di sekolah ini jika hal memalukan ini sudah tersebar seantero sekolah, bahkan universitas Seoul di mana kau kuliah?


******



Aku berusaha menyelesaikan rumus-rumus matematika ini, tapi tak berhasil. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Aku meringis. Maagku kumat lagi.

Pintu depan dibuka oleh onnie. Dia memasuki ruangan dengan dua kantong belanjaan terjinjing di tangan.

“Hey—Hyesun-a .. ,” dia menyapaku.

Aku mengangguk sambil berusaha tersenyum.

Onnie meletakkan belanjaannya ke atas meja kemudian dia mendekatiku.

“Kenapa? Wajahmu terlihat pucat?”

Aku mengeleng. “Tidak apa-apa. Hanya rumus-rumus ini membuatku pusing .. ,” kataku beralasan.

Onnie tertawa sambil mengelus rambutku. “Mian, onnie tidak bisa membantumu. Matematika merupakan pelajaran terburukku .. “

Aku tersenyum perlahan. “Tidak apa-apa .. ,” jawabku sambil berusaha mengatur irama suaraku terdengar sewajar mungkin.

“Kalau begitu lanjutkan saja .. “

Onnie menepuk pundakku kemudian berbalik menuju ke kamarku. Aku meliriknya sekilas, lalu meringis lagi. Perlahan kutarik kembali buku lesson dan mulai menghadapinya. Sungguh saat ini aku tidak ingin dipusingkan dengan bayanganmu.


*******  



Eunhye masuk ke dalam kamar Minho. Pemuda yang lagi menghayati buku skripsi tebal di tangannya itu menghentikan kesibukkannya.

“Pulangnya cepat banget?”

Eunhye mendekati meja di mana Minho berada. “Bosku menganti lemburku kemarin malam .. ,” jawabnya cuek sambil mencondongkan tubuh ke depan. “Bagaimana skripsimu, calon psikolog?”

Minho tertawa. Ditutupnya buku skripsi dalam tangannya kemudian menaruhnya di atas meja. “Hampir selesai .. “

“Saya heran denganmu .. ,” Eunhye menjatuhkan diri di atas kursi. “obviously your life was planned … meneruskan Lee’s sudah tak bisa dielakkan lagi, jadi mengapa susah-susah mengambil jurusan psikologi?”

Minho berdiri di depan Eunhye. “Ada kalanya membaca pikiran orang sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis .. ,” telunjuknya digerak-gerakkan dengan senyum misterius.

“Ok .. ,” Eunhye tertawa. “Dan sekarang calon psikolog .. ,” tiba-tiba dia memutar posisi tubuh Minho menghadap ke luar pintu yang terbuka. Telunjuknya mengarah ke depan. “ .. menurutmu apa yang dipikirkan si pengecut kecilmu itu?”

Minho mengulum senyumnya. Tubuhnya ditegakkan kemudian dia menepuk pundak Eunhye. Dengan tenang dia berjalan kearah pintu.

“Hey—mau kemana?”

Teriakkan Eunhye tidak dihiraukannya. Begitu sampai di luar, ditutupnya pintu itu.


*******



Perlahan-lahan aku meletakkan pensil di tanganku ke atas meja. Sakit di lingkaran perutku semakin terasa. Keringat dingin bercucuran dari seluruh tubuhku. Aku mengigit bibir keras-keras. Ingin sekali berteriak tapi tidak kulakukan. Aku tidak mau dianggap gila!

“Buka mulutmu!”

Aku tersentak. Suara yang begitu kukenal. Aku mengangkat wajah dengan cepat.

“Mwo?”

“Buka kataku!” perintahmu tegas.

Dengan patuh aku membuka mulutku. Sesuatu kau letakkan di lidahku, lalu tanganmu yang memegang gelas berisi air putih terjulur kearahku.

“Minum airnya dan telan .. “

Sekali lagi aku melakukannya dengan patuh.

“Apa itu?”

Bagus, tanpa mengetahui apa yang kau berikan padaku, aku langsung memakannya. Bagaimana jika itu racun?

“Obat maag .. ,” jawabmu pendek.

“Obat maag?” aku mengulang kata-kata itu—tak percaya. Bagaimana kau bisa mengetahui kalau aku sakit maag?

“Terlambat makan siang lagi?” tanyamu.

Aku mengangguk pelan.

“Apa ini?” tanganmu menunjuk buku-buku di atas meja.

“Tugas dari sekolah .. ,” jawabku.

“mathematics?”

Aku mengangguk. Kau kemudian menjatuhkan diri di sebelahku—membuatku gugup. Tanganmu meraih buku lesson terdekat dan menyelaminya. Aku berusaha mencegah tapi begitu kau menoleh kearahku, aku langsung membungkam di tempat.

“Apa ini?” alismu berkerut perlahan.

“Mwo?” aku balas bertanya.

“Salah semua .. ,” sahutmu sambil melirikku.

Aku mengangga. “Ne? Masa?”

Tiba-tiba kau menarikku kearahmu.

“Seharusnya begini .. “

Tanganmu mulai mengores-gores kertas kosong yang berserakan di atas meja. Mulutmu komat-komat—begitu istilah dariku, karena aku tidak berhasil menangkap sedikitpun penjelasan-penjelasan darimu—menerangkan rumus-rumus matematika yang tidak kumengerti. Mataku berpusat pada bibirmu yang bergerak-gerak halus—begitu seksi dan memikat. Andai saja aku dapat menjamah dan merasakannya. Pandanganku meredup. Suaramu mendayu-dayu lembut, membuaiku ke alam mimpi bak musik klasik yang sering kau putar. Sakit mag yang kurasakan hilang begitu saja. Entah pengaruh obat yang kau berikan atau kehadiranmu di sini? Aku tidak ingin memikirkannya sekarang.

“Understand?”

Aku tersentak.

“Ne?”

Wajahmu condong ke depan hingga hampir menyentuh wajahku. Aku menyusut ketakutan.

“Kau mendengarku tidak?” tanyamu dengan kening berkerut.

“Saya .. ,” aku melirik ke segala arah. “Miane .. ,” jawabku sambil memejamkan mata. Ketahuan lagi aku sedang melamun!

“Dasar .. “

Getokan halus mendarat di kepalaku. Aku membuka mata dan ternyata kau sudah berdiri dari kursi.

“Beristirahatlah, kita lanjutkan lagi nanti malam .. ,” katamu halus.

Aku mengangguk patuh—seperti biasanya, si pengecut kecilmu.

“O ya .. ,” kau berbalik. “Tentang panggilan itu ..,” tanganmu bergerak ke depan kemudian dijentikkan. “Jangan dimasukkan dalam hati .. “ lanjutmu sambil tersenyum. Lesung pipi yang sangat dalam menghiasi wajahmu. Kau memutar tubuh kemudian masuk ke dalam kamar.

Meninggalkanku .. yang hanya bisa melongo di tempat seperti orang bego.


******
« Last Edit: October 20, 2010, 09:42:08 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun