Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 46728 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Aku celingukan mencari bayanganmu. Satu setengah jam sudah kau belum keluar dari kamar. Karena kelelahan kujatuhkan diri di atas kursi di tengah ruangan.  Aku termangu. Setelah dipikir ulang, aku sadar--apa yang harus kukatakan padamu jika kau nonggol di hadapanku? Huh—tidak ada! Aku pasti akan berubah jadi orang dungu lagi. Memintamu meninggalkan tempat ini selama dua hari? Rasanya mustahil!!

“Hush—apa yang kau cari dari tadi?”

Teguran keras itu mengejutkanku. Gelas di sebelahku tersenggol, bergulingan di atas meja kemudian jatuh ke lantai. Brakkk …, untung gelas itu dari plastik jika tidak--sudah pecah berkeping-keping. Sekarang hanya air yang berada di dalamnya tumpah mengenangi lantai.

“Onnie!!” tegurku kesal.

“Ho—kenapa?” tanya onnie dengan gaya tak bersalah.

Aku mendengus sambil meraih kain lap dari pojok ruangan kemudian berjongkok di lantai.

“Jangan mengejutkanku lagi ..,” cetusku sambil mengeringkan lantai dengan kain lap.

“Oh—salahku?”tanya onnie sambil menunjuk dirinya sendiri. “Bukannya kau yang kerjaannya melamun terus?” lanjutnya dengan nada menyalahkan. “Ada apa?”

Aku tak menjawab. Apa lagi yang bisa kukatakan jika pertanyaan onnie menembak jitu kelemahan-kelemahanku?--pelamun, pemimpi, pengkhayal dan status-status sejenis itu?--atau mungkin juga, termasuk .. pengecut dan penakut? *sad*

“Hey—aku bertanya padamu, Hyesun-a?”

Aku berdiri. Kain lap yang sudah basah itu kulemparkan ke sudut kaki meja.

“Apa onnie tahu omma akan datang hari ini?” aku mengalihkan pembicaraan kearah lain.

Onnie mengangguk. “Ne .. ,” dia menarik sebuah kursi dan duduk di sana. “Bibi mengabariku tadi malam .. ,” katanya sambil mengambil sebutir permen dari toples yang terletak di atas meja. “Memangnya kenapa?” Onnie melemparkan permen tersebut ke dalam mulutnya.

“Onnie merasa itu tak masalah?” tanyaku tak percaya.

Alis onnie terangkat. Sepertinya dia tidak menangkap kearah mana pembicaraanku.

“Itu .. ,” kataku kikuk. Tanganku bergetar ketika mendorong kursi yang tadi kududuki ke belakang dan kembali aku menjatuhkan tubuhku di sana. “ … Minho sunbae .. “

“O .. ,” sela onnie . Bagus--kelihatannya dia sudah mengerti maksudku sekarang. Mulutnya terbuka. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak. “Kau takut ketahuan bibi kalau kita menyembunyikan seorang cowok keren di sini?”

“Onnie!!” teriakku tak senang. “Saya serius .. “

“Ha … ha .. ha .. kau berlebihan .. ,” onnie mengetok kepalaku. “Kamar di apartemen ini ada empat. Bibi tidak akan berpikir kita sekamar dengannya .. “

"Onnie!!" aku berteriak lagi.“Bagaimanapun aku .. aku tidak suka .. “

Onnie menghentikan ketawanya. Dia berpikir sejenak. “Ok, kalau begitu aku akan membicarakannya dengan Minho .. Oh--,” mendadak tubuhnya menegak. “Tidak perlu lagi, dia di sana .. ,” katanya sambil menunjuk ke depan.

Aku sangat terkejut. Secepat kilat aku berbalik. Benar saja, kau sudah berdiri di belakangku. Bahkan sangat dekat. Apakah kau mendengar pembicaraan kami? Mungkin. Aku tidak bisa membaca ekspresi datar dari raut wajahmu.

Aku menjadi gugup--hal yang sering terjadi padaku jika berhadapan denganmu. Dengan cepat aku memutar tubuh kembali ke posisi semula. Mataku berkejap-kejap. Aku segera meloncat bangun dari kursi dan bergerak kilat ke depan. Sial bagiku, lututku menabrak kaki meja.

"Akhhh!!!"

"Gwencana?" kurasakan tanganmu menarik lenganku. "Mengapa tak berhati-hati begitu?"

Antara risih dan malu, aku mengibaskan tanganmu. "Saya .. gwencanayo ... "

Kau mengamatiku. Aku segera menundukkan kepala dalam-dalam. Kemudian aku mendengar kau berdeham pelan.

“Aku akan keluar kota weekend ini .. ,” katamu dengan tenang—seakan memang itu maksudmu tadi berdiri di situ. “Kalian tidak perlu menungguku pulang ataupun mencariku .. Aku akan kembali hari senin nanti ... "

Kemudian, tanpa menunggu respon dari kami, kau berjalan kembali ke kamarmu.

Mulutku mengangga perlahan-lahan. Wajahku terasa panas. Malu sekali rasanya ketahuan telah mengharapkan kepergianmu. Aku ingin berteriak,Bukan begitu! Bukan itu maksudku! Aku tidak menginginkan kepergianmu. Sesungguhnya aku ingin setiap hari melihatmu .. mengamatimu .. dan menghayati seluk-beluk wajah dan segala gerak-gerikmu ... Hu .. hu .. aku ingin menanggis. Kututup wajahku dengan tangan. Saat ini aku ingin sekali merangkak ke kolong meja dan menanggis sepuasnya. Andai saja aku boleh melakukannya. Tapi tentu saja tidak boleh, karna aku bukan tikus dan onnie masih berada di sini—bersamaku. Aku tidak mau dia menyangka adik sepupunya yang memalukan ini ternyata sudah sinting beneran.


******



Eunhye membuka pintu kamar Minho. Diamatinya sekilas kamar tersebut dari ambang pintu. Minho sedang memunggunginya--terlihat sibuk dengan sesuatu di tangannya. Eunhye mendekati pemuda itu.

"Hey .. ," sapanya sambil menyentuh pundak yang bergerak-gerak halus itu.

Minho berpaling. "Hey .. ," balasnya halus.

"Mian .. ," kata Eunhye sambil menjatuhkan diri di atas ranjang--di sebelah Minho.

"Mwoga?"

"Karna ketakutan tak beralasan dari Hyesun, kau harus menyingkir dari sini .. "

Minho tersenyum. Perlahan perhatiannya dialihkan kembali ke barang--yang ternyata sebuah kamera--di tangannya. Eunhye meliriknya sekilas.

"Kembali lagi ke hobbi lama?"

Minho mengangkat wajahnya, "Maksudnya?"

Eunhye memandangi kamera di tangan Minho. "Sudah lama tidak melihatmu berkutat dengan kamera .."

Minho kembali tersenyum. "Saya tidak punya waktu .. ," jawabnya sambil mengatur lensa yang terpasang di kamera tersebut.

"Bukan tidak punya waktu .. ," ujar Eunhye. Disenggolnya lengan Minho. "Karna kau terlalu baik ... Tidak bisa menolak permintaan-permintaan  rekan-rekan kuliah yang lain .. "

Minho mengangkat pundaknya. Perhatiannya dialihkan kembali ke lensa di kamera. "Ini .. ," dia mengangkat kamera tersebut. "Kubeli kemarin. Keluaran terbaru. Dapat memfokus sempurna objek terkecil sekalipun, dan daya tangkapnya sangat jauh dan jelas .. "

Minho berdiri dari ranjang. "Saya bermaksud mengintai gerak-gerik binatang malam malam ini, apa kau ikut denganku?"

Eunhye langsung mengangkat tangannya--ketakutan. "Tidak! Jangan libatkan aku lagi dalam kegilaan-kegilaanmu!"

Minho tertawa renyah. Suaranya yang serak-serak basah mengalun dengan syahdu.

Eunhye mengenyitkan alis, kemudian melanjutkan perkataannya. "Masih ingat peristiwa dua tahun yang lalu? Ketika pertama kalinya kalian membawaku berburu binatang melata? Huekk--" Eunhye membuka mulut dan mengeluarkan suara seperti orang muntah.

"Iya, iya ..," Minho tersenyum. "Kau muntah-muntah waktu itu. Dan selama hampir sebulan kau menyalahkan kami, setelah itu kau tidak berani lagi ikut kami foto-foto di alam terbuka .. "

Minho mengambil tas selempang besar dari atas meja dan mulai memasukkan barang-barang yang diperlukannya ke dalam tas tersebut. "O ya, apa kau sudah mendapat kabar dari Hoon?" tanya Minho tanpa beralih dari kesibukkannya.

Eunhye menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. "Sudah ..," jawabnya datar. "Dia akan pulang beberapa bulan lagi .. "

"Bagus kalau begitu .. "

Minho melintangkan tas yang sudah terisi penuh ke badannya. "Sampaikan salam dan terimakasihku padanya .. "

"Ne. Saya akan menyampaikannya .. ," sahut Eunhye sambil memejamkan mata.

"Gumawo .. "

Minho berjalan ke lemari di sudut kanan dekat pintu. Dikeluarkannya sebuah jas panjang warna biru tua kemudian mengenakannya.

"Saya pergi, Eunhye-a .. See you .."

Dia melambai pada Eunhye yang masih memejamkan matanya.

"Bye .. ," Eunhye mengangkat tangannya--membalas dengan acuh.


********



Omma tiba di apartemen kami sekitar dua jam kemudian. Beliau naik taxi yang mengantarnya sampai ke tujuan sehingga kami tidak perlu menjemputnya. Sesampainya di apartemen kami, seperti biasa--atau seperti dugaanku--, belum juga bangku yang didudukinya hangat, omma sudah menjelajahi tempat tinggal kami. Semua sudut tidak terlepas dari keingintahuannya. Mulai dari kamar yang akan ditempatinya, kamarku, kamar onnie, dapur, kamar mandi, sampai ... pendaratan terakhir--kamarmu. Aku bernafas lega. Untung kau sudah minggat--lebih tepatnya, menyingkir sementara dari apartemen ini *wink*

"Apa ini?"

Omma meraih sebuah biola dari atas meja.

"Itu milik onnie!" sahutku cepat.

"Aku?" onnie menunjuk dirinya--kebingungan.

"Milik Eunhye?" omma juga bertanya.

"Ne!" jawabku sambil menyenggol lengan onnie.

"Sejak kapan kau belajar biola, Hye-a?"

"Sejak .. sejak ... ," onnie terlihat kehabisan kata-kata.

Maklum, onnie orangnya sangat lurus--tidak biasa berbohong. Tidak seperti aku, kalau sudah ketakutan, kebohongan apapun bisa terlontar dari mulutku.

"Sejak masuk kuliah .. ," aku membantu onnie melanjutkan perkataannya. Kualihkan pandangan padanya dengan sikap menyalahkan. "Onnie sendiri yang memberitahuku, mengapa sampai melupakannya?"

"Aku?" bibir onnie bergerak tanpa suara.

"NE!!" sekali lagi aku menyenggol lengannya. Kali ini lebih keras.

"Ne. Benar, bi .. he .. he .. saya lupa .. ," onnie ketawa dengan risih.

"Benarkah?" tanya omma curiga.

"Tentu saja!" jawabku pasti.

"Lalu .. yang ini?" tangan omma menyentuh disk player antik yang berdiri anggun di atas meja. Alisnya berkenyit. Dia mengambil sebuah CD dari tempat CD di sebelah dan mengamatinya. "Musik klasik?" beliau berpaling pada kami.

Onnie tertawa kikuk. Badannya digerakkan dengan serba salah.

"Milikmu juga?" omma menunjuk CD di tangannya.

"Itu ... ," onnie terdiam.

"Hanya pajangan!" Bagus. Aku berbohong lagi.

"Pajangan?" omma mengalihkan perhatiannya padaku.

"Ne."

Aku menyambar CD dari tangan omma dan mengembalikannya ke tempat semula. "Semua ini--disk player itu beserta CDnya, hanya pajangan buat kamar ini .. "

"Lalu siapa yang menempati kamar ini?"

Pertanyaan omma membuatku hampir tersandung. "Hahh?" mataku terbelalak lebar.

"Siapa yang menempati kamar ini?" ulang omma.

"Hmm--" aku kehilangan kata-kata sekarang. Apa yang harus kulakukan?

"Ini kamar tamu, bi ... ," jawab onnie tiba-tiba.

"Kamar tamu?"

"Ne .. ," sahut onnie sambil mengandeng tangan omma. "Sebaiknya kita keluar dari sini, bi. Saya akan mempersiapkan makan siang yang istimewa buat bibi .. "

Onnie menarik tangan omma--memaksanya (yang tidak terlihat seperti paksaan) keluar dari kamarmu. Aku menghela nafas lega. Beruntung onnie bertindak cepat. Kamar tamu--bukan termasuk kebohongan-kan? Semula kamar ini memang kosong, tapi setelah kedatanganmu kamar ini baru terisi. Aku menghela nafas lagi. Semoga omma cepat-cepat pulang ke Jeju supaya aku tidak kelabakan lagi. Dan yang terpenting--aku bisa melihatmu lagi! he .. he ..

"Hyesun-a, kau tidak ikut dengan kami?" onnie berteriak dari luar.

"Ne, datang ... ," sahutku sekeras-kerasnya.

Kuamati untuk terakhir-kalinya ruang kamarmu. Entah mengapa, bukan sekali aku berada di sini, tapi perasaan dan hati yang berdegup kencang ini seperti disk playermu--diputar ulang .. ulang ... dan ulang .... deg .. deg .. deg ...


*********
« Last Edit: November 19, 2010, 07:41:14 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun