Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 48849 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
maaf semua... miane.... terlalu lama...  [heh] [heh] semoga penantiannya gak mengecewakan...  [biggrin] [biggrin]

 [heh] [heh] [heh]

Chapter 18
Part 1




Lee Dong Gun as Choi Sae Won



Han Hyo Jo as Goo Eun jo


Matahari terlihat bersinar terik, bersemangat memancarkan sinar dan memberikan panasnya, tetapi tampaknya sama sekali tidak memupuskan usaha seseorang dalam melakukan sesuatu yang sangat mengusiknya. Di lorong, tepat di samping sebuah bar kecil yang tampak kumuh, seseorang tengah berusaha melakukan apapun untuk membersihkan sesuatu yang membuatnya sangat tidak nyaman. Tapi memang sangat mengusik, ada beberapa bercak darah disana dan bau darah yang menyengat bercampur bir dan sampah, memang hanya beberapa bercak, namun hal itu sangat mengganggu, baginya…

“cih… terlambat…!!!”omelnya pada diri sendiri, karena memang tidak ada siapapun disana kecuali dirinya dan beberapa sampah dan botol bir kosong.

“pak Choi… ini dia alcohol yang kau minta…”seseorang yiba-tiba, berlari mendekat dan memberika sebuah botol tertutup padanya. “terima kasih banyak Min Jae…” pada seorang laki-laki belia.

“pak…”

“panggil namaku saja…”

“mwo….!!”

“tak apa…lakukan…”

“Choi Sae won…”

Laki-laki itu tersenyum “itu lebih baik…”

“ahni… aku tak bisa…hyung….hyung saja…”tawarnya

“baiklah terserah dirimu saja… asal jangan pak… aku masih muda begini…”jawabnya, tersenyum lebar, menggoda.

Min Jae tersenyum sesaat, sebelum akhirnya ia mencoba mengluarkan semua pertanyaan yang mengusik hatinya. “laki-laki yang semalam… apa dia…tak apa…”
Sae won tersenyum, “ya… kita menolong tepat pada waktunya… tenang saja… lagipula dia sudah berada ditangan yang ahli sekarang…”

“tapi… sepertinya anda mengenalnya…?”
Sae won terdiam sesaat, pikirannya menerawang. “hyung…” dan pikirannya kembali lagi.

“de…?”

“anda mengenalnya…?”

“mungkin…banyak sekali pengunjung bar kita bukan…?”

“tapi… saya sudah terlalu lama bersama anda hyung… dan saya hampir memahami semua tingkah dan tatapan matamu hyung…”

Sae won tersenyum mendengar perkataan itu “ ya… kau memang sangat mengenalku Min Jae… sudah hampir 2 tahun kalau tidak salah…” tebak Sae won.
Sae won teringat kembali saat pertama kali ia bertemu dengan Min Jae. Saat dimana segalanya bermula bagi dirinya dan tanpa disadarinya bagi beberapa orang yang ia kenal. Ia tahu itu. Dan ia yakin semua itu karena dirinya. Segala hal yang ia lakukan berdampak mengecewakan bagi orang lain. Salah satunya… keluarganya… appanya...

Flash Back

Sae won, berjalan linglung dan tak tau arah setelah ia berhasil pergi dengan membawa 2 koper di kedua tangannya. Sae won menghentikan langkahnya di sebuah hotel, ia menatapnya sesaat. Tubuhnya benar-benar merasa lelah, dan ia harus segera mengistirahatkannya. Alhasil, sekarang ia tengah menrebahkan tubuhnya di ranjang reyot namun masih kuat dengan kamar yang terlihat kumuh dengan bau aneh yang menyengat hidungnya.

Sae won mengedarkan pandangannya sesaat, menelusuri setiap bagian kamar yang disewanya. Seharusnya ia dapat menyewa kamar yang lebih baik dengan uang yang dibawanya. Dan perlahan dibukanya satu koper besar yang dibawanya. “seratus juta won…”gumam Sae won. Dialihkannya kembali tatapannya pada kamar yang ditempatinya. Terlihat banyak lumut yang tumbuh di bagian yang tidak terkena cahaya. Lantainya terlihat mulai rusak dan atapnya bocor di salah satu sudut kamarnya.

Sae won menghela napas pelan. “hanya sementara…”hiburnya “dan… aku harus melakukan sesuatu dengan uang ini… uang ini tidak akan mencukupi kebutuhanku seumur hidup… selain itu, aku juga harus segera mengembalikannya...”gumam Sae won. Ia terdiam sesaat, dan kembali menghela napas berat “maafkan aku semuanya…”tambahnya, lesu.

Hari berikutnya, kini Sae won sudah berada di jalan, dengan tangan berada di saku dan pandangan yang menelusuri kota pingggiran itu. Langkahnya membawanya pergi entah kemana tanpa tujuan. Ia tidak dapat memikirkan apapun hari itu. Hanya rasa bersalah yang menghantui dirinya. Ditaiknya napas panjang dan dibuangnya perlahan.

Sae won terus melangkahkan kakinya, pelan, tanpa arah, hingga akhirnya ia melihat seorang laki-laki belia dengan umur yang ditafsirnya antara 16-20 tahun. Terlihat terdiam, duduk di salah satu bangku taman. Sae won mendekatinya, dan ditatapnya, sedikit menilai. Dan , saat ia menatap anak laki-laki itu, merasuk ke dalam bola matanya, mencoba membaca segalanya, ia merasa anak itu mirip dengannya, sendirian dan ketakutan, namun masih mencoba untuk menantang dunia, tanpa memperdulikan akibatnya.

Sae won memang merasa sendirian, yah… karena ia memang hidup sendiri, walaupun sesungguhnya ia memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya, tapi ia merasa seakan hidup seorang diri tanpa siapapun di dunia ini, karena banyak hal yang membuatnya berpkir ia sendiri dan ketakutan… karena banyak hal yang membuatnya ketakutan. Ia menatap anak laki-laki itu dalam, menunggu abak itu untuk mengeluarkan sepatah kata atau sederet kalimat, namun ia tidak mendengarnya selama hampir 30 menit. Anak itu hanya menatapnya, mula-mula dengan tatapan menantang, namun kelamaan tatapannya berubah menjadi sendu.

Keterdiaman itu terganggu oleh suara yang keluar dari perut keduanya, menandakan sudah waktunya untuk diisi.

Sae Won tersenyum, “kau lapar…?”

Anak itu hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Sae won, sampai akhirnya Sae won bangkit dari tempatnya dan berjalan pergi, namun hanya beberapa langkah ia membawa kakinya pergi, kemudian ia berbalik kembali “ikut aku jika kau ingin makan…”kata Sae won, keras, tersenyum menatap anak itu, yang kemudian dengan sigap dan cepat anak itu mengikuti langkahnya. Keduanya masuk ke sebuah restoran kecil di sudut jalan dekat dengan taman dimana sebelumnya ia berada. Banyak orang yang memeperhatikan dirinya dengan anak itu, terutama menatap anak laki-laki yang dibawanya dengan tatapan jijik dan ingin muntah.

Sae won memakluminya. Anak itu terlihat sangat kotor , kumal dan sangat bau. Ada beberapa lalat yang terus menghinggapinya, menunjukkan seberapa kotor dan baunya dirinya. Tetapi senyum terkembang di wajah Sae won, setelah ia menatap ekspresi tidak peduli anak itu. Dan itu membuatnya lebih baik. Perlahan Sae won melepaskan mantelnya dan memebrikannya pada anak itu. “pakai ini sebelum kau duduk dan makan… “

Sae won berjalan mendahului, dan duduk di sebuah bangku di ujung ruangan, jauh dari orang-orang yang makan di tempat itu. Sae won menatap anak laki-laki itu yang maish berdiri dihadapannya, tengah berkutat dengan mantel yang diberikannya tadi. Naluri kedokteran Sae won muncul “cuci tanganmu….”. Anak itu menatapnya sesaat, menilai mencari jawaban antara meburut atau tidak, sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju ke toilet.

Sae won menatap anak itu dengan keadaan yang lebih bagi, mungkin ia tidak hanya mencuci tangannya, tapi juga seluruh tubuhnya… batin Sae won “itu lebih baik…”kata Sae won pelan, menatap anak laki-laki itu

“ayo duduk…” Sae won menunjukkan sebuah bangku di hadapannya, mengapit sebuah meja yang sudah banyak makanan disana.

Tanpa menunggu perintah Sae won, anak itu langsung menyantap semua makanan di hadapannya, menunjukkan sudah berapa lama ia tidak makan. Sae won menatapnya, tersenyum.

“sudah berapa lama kau tidak makan…”tanya Sae won di sela-sela aktivitas memakan yang dilakukan anak itu. “

“….entahlah… mungkin seminggu…”akhirnya anak itu mengeluarkan kalimatnya. Sae won tersenyum, menatapnya yang masih terus melahap makanan di hadapannya. “siapa namamu…”tanya Sae won lagi

Anak itu diam, mengunyah makanannya dan berusaha untuk menelan makanan yang dimakannya dengan cepat dan lahap itu “Min Jae… Ha min Jae…”jawabnya, sedikit tersedak oleh makanannya. Sae won tersenyum “…Min jae…kalau begitu makanlah yang banyak…”

End of Flashback

“2 tahun… waktu yang cukup bagiku untuk mengenal anda tuan…” Min Jae menatap Sae won serius, dan Sae won hanya tersenyum membalas tatapannya.

“aku tahu… kau benar-benar berbakat dalam menilai dan memperhatikan orang…”

“… dan…”

“kamu merasa aku mengenal laki-laki itu…?”

“ne…”

“errrmmm… jika kau mengatakan seperti itu…” Sae won berhenti, dan menatap Min Jae dalam “maka… mungkin sekali…” Sae won mengacak rambut Min Jae, kemudian melagkahkan kainya pergi, meninggalkan Min Jae “tak apa jika tidak bersih… sebenarnya tidak akan ada yang memperhatikan… hanya saja aku risih jika melihatnya…jadi… tolong lanjutkan Min Jae-aa… aku harus mempersiapkan barku sebelum banyak orang yang berkunjung…”

Min jae diam di tempatnya, menatap kepergian sang bos.

***********

Jung min diam menatap Hye na yang tengah tertidur lemah tanpa ekspresi dihadapannya. Seluruh tubuhnya terasa sakit saat itu. Hye na pingsan dengan darah segar yang mengalir di kedua kakinya, membuatnya terkejut. Jung min bangkit dan berjalan ke arahnya, duduk di kursi dengan menghadap kearah sang bidadari yang sangat di cintai dan dirindukannya.

“Hye na…” gumam Jung min lembut

Baru beberapa saat yang lalu dokter keluar dari ruangan itu bersamaan dengan Seung gi dan Park Joon setelah keduanya menyadari segalanya baik-baik saja. Ya… semuanya baik, tidak terjadi sesuatu yang membahayakan untuk Hye na atau janin di rahimnya. Hye na hanya terlalu lelah dengan semua aktivitasnya dan banyaknya tekanan di hatinya dan pikirannya. Memang banyak hal yang menyita hati dan pikirannya. Membuat kedua bagian itu bekerja terlalu keras.

Perlahan Jung min meraih jemari Hye na dan menggenggamnya, menarik tangannya mendekat, menciumnya dan menempelkan telapak tangan Hye na ke pipinya. Diusapkannya lembut “bangunlah sayang…”kata Jung min lirih. Ditatapnya sang malaikat di hadapannya. Sesaat ia terdiam menatap Hye na dan dengan tangannya yang lain, ia sentuh perut Hye na lembut “anakku…”gumam Jung min, tersenyum lembut “tumbuhlah dengan baik disana… dan jangan tinggalkan kami…jangan buat omma bersedih karena kehilangan dirimu…jangan pernah…” tambah Jung min.

Jung min diam, mengusap perut Hye na lembut, penuh kasih. Banyak hal yang kemudian terpikir di kepalanya. Sebuah slide bagai film berputar di kepalanya. Hari-hari indah yang dilaluinya bersama sang bidadari disisinya.
Han hye na… Hye na merupakan harta terindah dan termahal untuknya. Baginya, Hye na mendekati sempurna. Dia adalah seorang teman, ibu dan istri bagi Jung min.

Dia adalah teman yang selalu ada disisi Jung min saat suka maupun duka. Disaat ia membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Hye na selalu ada untuk menjadi sandaran Jung min layaknya seorang sahabat. Hye na juga akan selalu ada jika Jung min membicarakan tentang pekerjaannya. Walaupun Jung min yakin seyakin yakinnya kalau Hye an tidak memahami apa yang Jung min katakan, namun Hye na selalu membuatnya merasa lebih baik setelah mengatakan segalanya pada dirinya. Segalanya, keluh kesahnya.

Dia adalah ibu, melayani dan memberikan semua yang dibutuhkan Jung min. Semua keperluan domestiknya. Hye na yang melakukannya. Ia jarang memerintahkan pelayan yang telah Jung min sediakan. Memasak, menyiapkan bajunya, memakaikan dasinya, walaupun tidak rapi, bahkan memakaikan sepatunya. Terkadang jika ia terlalu lelah dan belum mengganti pakaian serta melepas sepatunya. Hye na yang melakukannya. Melepaskan sepatu Jung min dan mengganti bajunya.

Pernah suatu ketika, Jung min menolak Hye na untuk menyiapkan segala keperluan domestiknya, karena Jung min merasa Hye na terlihat lelah mengurus semua keperluannya. Saat itu Jung min memerintahkan pelayan-pelayannya untuk melakukan semuanya, tetapi apa yang didapat Jung min.

Sebuah kalimat, yang sungguh tidak ingin dan ia berjanji tidak akan pernah ia dengar lagi. “…ya sudah… kalau begitu aku pergi saja… dan menikahlah dengan pelayan-pelayanmu itu… lupakan aku…” katanya sambil melipat tangannya di dada dengan wajah yang cemberut membuat Jung min segera meminta ampun dan merayu dengan sepenuh tenaga untuk mendapatkan senyum bidadarinya lagi.

Hye na adalah seorang istri. Tidak pernah menolak jika Jung min memanggilnya dan selalu ada menunggu kepulangannya walaupun setelahnya Jung min harus mengangkat tubuhnya ke ranjang. Hye na selalu memiliki banyak kejutan dengan tingkahnya.
Terkadang Hye na menantang Jung min untuk selalu menggunakan “teknik” baru jika Jung min menginginkannya, yang mana terkadang membuatnya kewalahan dan semakin gemas dengannya.

Jung min memejamkan matanya sesaat, tersenyum “aku merindukanmu… sangat merindukanmu…” gumam Jung min pelan. Jung min diam, kemudian secara tiba-tiba dibukanya kedua penglihatannya saat ia merasakan gerakan dari jemari Hye na, dan begitu menyadarinya, Jung min bangkit, mendekatkan wajahnya, menatap Hye na. “Hye na…”panggilnya lagi, menatap Hye na khawatir.

“uuhhh…. Aku…”

“kau tak apa…? Semuanya baik…? Istirahatlah lagi… jangan terlalu banyak bergerak dulu…”kata Jung min berturut-turut.

Hye na menatapnya sesaat, kemudian senyum lemah yang manis tampak terlukis diwajahnya. “aku tak apa… seperti yang kau lihat… dan seperti yang aku katakan… semuanya baik…”kata Hye na, menenangkan “lebih baik… kau kembali kekamarmu… kau terluka…”tambah Hye na

“ahniya… aku ingin disini… bersamamu…”

“yya…lukamu masih parah dan jahitannya masih basah…bagaimana kalau terbuka lagi…”

“…ada kau… kau yang akan menutup lukanya….”jawab Jung min ringan

Hye na diam ditempatnya, menatap Jung min tajam “aku bilang… kembali kekamarmu dan beristirahatlah… “kata Hye na dingin, dengan nada memerintah pada Jung min.

Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na terkejut. Hye na membalas tatapannya sesaat sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya, membelakangi Jung min “tolong… tinggalkan aku dan kau…istirahatlah…”

“tapi…Hye na…”

“baiklah...aku yang pergi…” Hye na mengancam, bangkit dari ranjangnya

“ada apa denganmu… semuanya baik bukan…?”

Hye na diam sesaat, menarik napasnya dalam “seperti yang kau tahu dan kau dengar… aku baik…”

“tapi…”

“ke kamarmu sekarang dan beristirahatlah… tidak baik dengan lukamu…aku tidak ingin segalanya bertambah buruk nanti…” ucap Hye na lirih, dingin dan terdengar ketus, masih membelakangi Jung min. Jung min diam menatap Hye na, kesedihan merasuk dirinya. Ini sama sekali tidak seperti Hye na. “Hye na…”panggil Jung min lagi lirih. Hye na hanya diam, tidak memperdulikan Jung min yang kemudian segera beranjak dari ruangan Hye na.

“ada apa denganmu…”ucap Jung min dalam hati, yang perlahan menutup pintu di belakangnya pelan, meninggalkan Hye na

********

Park Joon terlihat duduk diam, menunggu, kegelisahan di hatinya sama sekali tidak dapat ia tutupi. Sudah hampir 1 jam ia menunggu dan orang yang ditunggu tidak kunjung datang. Park Joon menghela napas dan meminum habis sisa tehnya. Sudah 5 cangkir teh ia habiskan dan perutnya sudah sangat penuh dengan air. Park joon diam, ia menggeram kesal. “cukup..!! aku harus kembali kekantor sekarang… terserah orang itu datang atau tidak..aku tidak peduli…lagipula dia yang membutuhkan…”gumam Park Joon pelan, sambil mengeluarkan beberapa lembar won di dompetnya, meletakkannya di meja, kemudian bangkit dari tempatnya.

Park joon melangkah keluar dari pintu, membuka pintu dorong di hadapannya dan hanya sesaat tiba-tiba tubuhnya oleng, seseorang berlari dan menabrak dirinya, keduanya oleng, namun keseimbangan Park Joon lebih kuat di bandingkan orang itu. Dengan cepat dan cekatan Park Joon menangkap tubuh itu, sebelum ia terjatuh keras. Dan kini orang itu berada di lingkaran lengan Park Joon dengan tubuh yang berbaring di lengannya. Keduanya saling menatap.

“gwenchana…?”tanya Park Joon. Orang itu menatapnya terkejut, diam, masih belum menyadari keadaannya dan ternganga menatap Park Joon.

“ahhh… mianhe…”katanya tiba-tiba, bangkit dari lingkaran lengan kekar Park Joon dan kemudian membungkukkan tubuhnya. Park Joon tersenyum menatap orang itu, walaupun hatinya bertambah kesal namun sopan santun membuatnya tidak menunjukkannya. Orang itu tersenyum membalas senyum Park Joon sebelum akhirnya pergi ke seorang waitress yang berdiri tak jauh dari tempat Park Joon berdiri “maaf… saya ada janji dengan Tuan Park Joon…”katanya keras yang tentu saja terdengar oleh Park Joon.

Park Joon memutar tubuhnya menatap orang itu. ohhh.. ternyata wanita ini yang membuat dirinya menunggu selama 1 jam…batin Park Joon kesal, yang karena rasa kesalnya, Park Joon segera beranjak pergi dari tempat itu. Tetapi ternyata wanita itu sudah mengetahui siapa dirinya. Wanita itu memanggilnya tepat saat Park Joon sudah berada dalam mobilnya.

“pak…wanita itu…”kata supirnya

“ahniya… tak apa… kita langsung kembali saja…”

“tapi pak..dia menghalangi mobil…”kata sang supir. Park Joon menatap ke kaca depan dan ditatapnya wanita itu lekat-lekat tak kalah sangarnya dengan tatapan sang wanita yang terlihat berani mati bila ia tidak dianggap.

“Park Joon turun dan menghadap wanita itu secara langsung “ada apa… tuan Park sudah kembali ke kantornya… dan beliau sudah terlalu lama menunggu anda… ia tidak ingin menemui anda…waktunya sudah habis…”kata Park Joon ketus

“jadi… anda bukan tuan Park… ah…maafkan saya pak… tapi saya mohon, beri saya waktu 5 menit.. ah tidak… 10 menit untuk berbicara dengan tuan Park…bagaimana cara menghubunginya…?”

“maaf…Tuan Park tidak ingin lagi

“saya mohon…”

“maafkan saya… janji ini sudah saya usahakan… tapi anda…”

“maafkan saya…”

“ lagipula…”Park Joon terdiam sesaat “… ia sudah pergi beberapa menit yang lalu…”

“tolonglah…”pinta wanita itu, memohon, menatap Park Joon memelas.

“maafkan saya…”

“saya mohon…ayolah pak… tolong saya…bos saya akan membunuh saya…”

“itu urusan anda” potong Park Joon yang kemudian masuk kedalam mobil, menutup pintunya keras.

“tolonglah pak…katakan saja bagaimana saya harus menghubunginya… paling tidak untuk menggucapkan maaf…”pinta wanita itu, namun Park Joon tetap diam dan memerintahkan supirnya untuk berjalan. Tetapi ketika ditatapnya wanita itu lagi, rasa iba muncul dihatinya.



“..saya akan mencoba untuk mengatakan pada Pak Park lagi… dan…semoga saja Tuan Park mau menemui anda…”katanya melalui kaca jendela, dingin tanpa menatap wanita yang brdiri di sisinya. Mobil melaju perlahan, meninggalkan wanita itu.

Sang wanita terlihat diam, menatap kepergian Park Joon namun kemudian senyum terkembang di wajahnya. Sesaat dan sekilas Park Joon melihat senyum itu. Park Joon tersenyum melihatnya.

“kenapa anda…”

“tak apa…aku ingin melihat dulu…”jawab Park Joon, memotong perkataan sang supir.

“…cantik tuan…”cetus supirnya

“mwo…?”tanya park Joon terkejut

“wanita itu… cantik…dan punya senyum yang manis…”tambah sang supir

“aissshhh… bukan itu…”kata Park Joon yang disisi lain tidak dapat dipungkiri, ia membenarkan perkataan sang supir. Dan tanpa sepengatahuan supirnya, Park Joon tersenyum tipis.

*********

Hye na menatap pintu dihadapannya setelah terdengar pintu itu tertutup perlahan. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya bangkit dan berdiri, perlahan, sambil memegang perutnya. Diambilnya ponsel yang berada di meja tak jauh di tempatnya berdiri. Di tekannya beberapa angka di sana sebelum terdengar nada sambung.

“yoboseyo…”sapanya, setelah terdengar sapaan dari seberang.

“ah… agashi…”

“bagaimana pak Jeong… apakah semuanya bisa dilakukan sekarang… saya benar-benar harus membicarakan banyak hal dengannya…”

“apakah harus agashi…? lagipula tanah itu akan kembali pada anda… surat tanah itu sudah berada di tangan Tuan Lee bukan… dan…”Pak Jeong menghentikan perkataannya, tanpa Hye na menyelanya.

“bukan karena itu pak Jeong…bukan karena itu… ada satu hal yang harus aku minta padanya…” kata Hye na mengerti

Pak Jeong terdiam sesaat, Hye na dapat mendengar helaan napas pak Jeong yang lirih melalui ponselnya. “tak apa pak Jeong… semuanya akan baik… dan aku dapat menangani semuanya…”

“tapi anda…”

“tak apa… semuanya akan baik….”

“tapi keadaan anda… tidak memungkinkan…”

“tenang saja pak Jeong… terima kasih untuk perhatian anda… tapi saya harus segera menyelesaikannya…”terang Hye na. Pak Jeong terdiam, sebelum akhirnya ia menyetujui permintaan Hye na. “baik agashi… saya akan mempersiapkan segalanya… dan semuanya akan siap hari ini…”

“bagus pak Jeong… terima kasih banyak…”

Percakapan berakhir, Hye na mematikan ponselnya dan menatap pintu di hadapannya, menghela napas berat sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya, pergi dari ruangan itu.

Hye na melangkahkan kakinya masuk kesebuah ruangan, saat ia akan membuka pintunya, langkahnya terhenti, ia mendengar 2 orang tengah bercakap-cakap disana. Seorang anak kecil dengan keluguan dan kepolosannya dan… “Jung min…” gumam Hye na lirih

“appa…sedih…”

“ne…omma…”

“ada apa dengan omma…?”

“omma marah dengan appa…”

“mwo… En kyu enggak pernah tahu omma marah… omma enggak pernah marah appa…”jawab En kyu menghibur sekaligus meyakinkan Jung min yang duduk di hadapannya.

“chinja…?”

“tapi…”

Hye na tersenyum, mendengar percapakan itu.

“appa… tenang saja… omma tidak mungkin marah…”kata En kyu lagi, meyakinkan

“benarkah… tapi omma… benci appa…”

Hye na terdiam, membuka pintu di hadapannya sedikit, mengintip segala aktivitas yang terjadi di dalam ruangan itu.

“tenang saja appa… kyu akan bantu appa…”kata En kyu, menghibur, menepuk bahu Jung min pelan

“oh ya… bagaimana kau membantu appa…?”

En kyu tertawa lebar “he he he… En kyu punya banyak cara appa…” En kyu tersenyum, bangga.

“oh… benarkah… apa yang akan En kyu lakukan…?”

En kyu tersenyum sesaat sebelum kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Jung min untuk membisikkan sesuatu disana.
Hye na tersenyum tipis, lemah kemudian menutup pintunya dan melangkah pergi dari sana. Sebuah janji pada dirinya sendiri dan rencana yang disusunnya telah menunggu untuk segera di selesaikan

************

“semuanya baik…?” Sae won tersenyum, memberikan segelas bir ke hadapan seorang wanita yang duduk diam, dengan wajah tidak bersemangat.

“gomawo…”jawab wanita itu pelan, mengambil gelas di hadapannya, namun tidka langsung di minumnya. Ia terlihat mempermainkannya.

Sae won tersenyum “baru kali ini seorang wanita datang dengan wajah tak bersemangat di siang bolong. “Sae won… Choi Sae won…” Sae won memperkenalkan dirinya. Wanita di hadapannya tersenyum, kemudian ditundukkan kepalanya perlahan menatap segelas bir yang di berikan oleh Sae won.



“Eun Jo… Goo Eun Jo…”

“Eun Jo…apa yang membuat wanita secantik dirimu tidak bersemangat seperti ini…”
Eun Jo tersenyum, “banyak hal tuan Sae won…”

“…eeiiitttss… jangan panggil aku tuan… panggil namaku saja… itu terdengar lebih akrab…”

Lagi-lagi Eun Jo tersenyum, kini lebih lebar, dan diangkatnya wajahnya, menatap Sae won di hadapannya tengah tersenyum menatapnya “anda benar-benar baik…”kata Eun Jo sebelum akhirnya ia menghabiskan bir di tangannya cepat. Sae won tersenyum, kemudian memberikan segelas lemon dingin padanya.



“tidak baik seorang wanita terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol…”kata Sae won, tanpa melenyapkan senyum di bibinya. Eun jo terdiam sesaat, menatap segelas lemon dingin yang disodorkan oleh Sae won. Eun Jo menerimanya, dan seperti sebelumnya, ia mempermainkan gelasnya sebelum ia meminumnya. Kali ini ia memutarkan jarinya di bibir gelasnya, menatap Sae won dihadapannya.

“kau benar-benar bisa menghiburku…”

“sudah menjadi tugasku untuk menghilangkan seluruh penat dari tamu-tamuku…”

Eun jo tersenyum, Sae won menyusulnya, tersenyum menatap senyum Eun jo, namun senyum itu hanya sesaat, 2 orang berjas lengkap berdiri tegap di hadapan mereka. “apa anda Tuan Choi Sae won…?”tanya salah satu diantara oang berjas itu. Sae won dan Eun Jo diam menatap keduanya, namun tatapan bingung lebih terlihat dari Sae won.

“ya… saya sendiri…”jawab Sae won

“bisakah anda ikut dengan kami sebentar… seseorang ingin bicara dengan anda..”

“siapa…”

“seseorang…”

“siapa…” Sae won mengulang pertanyaannya.

“ikut kami… maka anda akan mengetahuinya…”

Sae won diam, menilai kedua orang berjas lengkap dihadapannya, yang terlihat masih menunggu. “baik…”jawab Sae won kemudian, menatap Eun jo di hadapannya, tersenyum “aku pergi dulu nona…”katanya

Eun jo tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Sae won berjalan keluar dari meja bar dan mengikuti langkah 2 orang berjas itu ke sebuah meja di ujung ruangan bar tersebut. Sae won terdiam, menatap orang di hadapannya. Seorang wanita yang sudah lama tidak ia temui.

“Hye na…”katanya lirih.



Hye na tersenyum menatap Sae won “anyong oppa…”sapanya
Sae won diam di tempatnya, bingung sekaligus terkejut hingga tidak dapat mengatakan apapun, dan hanya menatap Hye na.”lama sekali kita tidak bertemu…”sapa Hye na lagi
Sae won masih diam di tempatnya, menatap Hye na “duduklah oppa… ada sesuatu yang harus aku bicarakan…”kata Hye na kemudian, menatap Sae won dengan senyum masih terkembang di wajahnya. Sae won diam di tempatnya dan kemudian akhirnya ia duduk di hadapan Hye na, dengan banyak orang berjas disisinya. “Pak Jeong… bisakah kau meninggalkan kami… berdua saja…”kata Hye na tanpa melepaskan tatapannya dari Sae won.

“ne agashi… jika kau membutuhkan apapun…. Kami ada diluar…”kata pak Jeong sebelum kahirnya dia pergi meninggalkan Hye na.

“ne… terima kasih banyak Pak Jeong…”
Pak Jeong pergi bersama semua orang berjas di tempat itu, meninggalkan Hye na bersama Sae won yang terlihat diam saling menatap, tetapi dengan raut wajah yang berbeda. Sae won terlihat ketakutan menatap Hye na. Sae won diam, menundukkan kepalanya. Hye na mengangkat tangannya dan mendekatkannya, menggenggam tangan Sae won, berusaha menenangkan.

“semuanya baik…oppa…”tanya Hye na, menggenggam jemari Sae won. Sae won diam, mengangkat kepalanya. “sudah banyak hal yang oppa lakukan untukku selama kita kuliah dulu… dan… terakhir… untuk Jung min…”

“MWO!!!” Sae won menatap Hye na terkejut begitu nama Jung min di sebut olehnya. “apa maksudmu…?”

“terima kasih karena sudah menyelamatkan Jung min…”

“MWO!!! Tap…tapi… bagaimana…”

Hye na tersenyum menatap Sae won, mengerti “Jung min…suamiku… dan aku tahu kau yang sudah menyelematkannya kemarin dengan memberi pertolongan untuknya… gomapta…”

“su…suami… kau sudah…”

“ya… sudah… dan semua itu karena oppa… karena yayasan yang oppa jual pada Jung min…”

Sae won diam, ditempatnya menatap Hye na tidak percaya sekaligus takut dan malu. Hye na tersenyum “… dan aku sudah melupakannya…tapi aku punya satu syarat untuk itu… oppa tidak perlu mengembalikan apapun yang sudah oppa ambil… tapi oppa harus menyetujui penawaran yang aku ajukan…”

Sae won menatap Hye na, diam, berpikir, kemudian tawa keras keluar dari mulutnya “sepertinya kau benar-benar seorang istri Lee Jung min…hanya ada penawaran…”kata Sae won di sela tawa lebarnya. Hye na diam, menatap Sae won, kemudian senyum terlihat terkembang lebar di wajahnya “…ya…sepertinya separuh dari Jung min sudah bertransplantasi denganku… jiwa Jung min sudah menggantikan separuh jiwaku…”gumam Hye na pelan, namun masih dapat didengar Sae won “…dan… bagaimana oppa… kau menyetujuinya…”

“apa yang kau tawarkan…”kata Sae won yang kemudian diam, menatap Hye na menunggu, dan Hye na hanya membalasnya dengan sebuah senyum. Senyum yang menyimpan banyak makna dan pengharapan yang lebih.

**************

Park Joon meletakkan map yang telah ia bubuhi tanda tangannya diatas tumpukan map yang lain, memutar tubuhnya menatap jendela kaca yang terbentang di belakang kursinya, menatap pemandangan sore hari yang hampir beranjak menuju senja. Burung-burung terlihat terbang, melintasi awan, kembali ke sarangnya. Park Joon tersenyum menatap itu. “aku rindu…”gumamnya pelan, menatap pemandangan yang terlukis indah dihdapannya, dan terdiam.

“ehemm…”dehaman seseorang membuyarkan segalanya. Park joon memutar kursinya, menghadap keasal suara “ya Pak Jeong…”katanya, menatap Pak Jeong serius

“maaf… karena sudah mengganggu anda… tapi apa besok saat makan siang anda bisa menemui ahli waris perusahaan Goo… asistennya meminta kepastian anda lagi…”

Park Joon diam, menatap pak Jeong, menangkupkan kedua tangannya dan ditopangkan kedagunya. “apa ada seorang wanita yang menghubungiku…”

“..errrmmm… tidak ada tuan…tidak ada yang mencari atau menghubungi anda…”

“ohhh… begitu…”jawab Park Joon lemah. Pak Jeong menatap park Joon diam, penuh tanda tanya di kepala

“anda tak apa…?”

Park Joon tersadar dari keterdiamannya “aahhh…ne… “
Pak Jeong diam, menatap bosnya itu, menatap sesuatu yang aneh dari wajahnya, tidak seperti biasanya. Park Joon tidak pernah menunggu siapapun untuk menghubunginya.
“apa anda menunggu seseorang..?”tanya pak Jeong akhirnya

Park Joon diam, “Joon-nim…”panggil pak Jeong, menatap semakin khawatir pada Park Joon. Park Joon mengangkat wajahnya menatap Pak Jeong bingung yang berdiri menatapnya khawatir “…ne…”sahutnya

“jadi anda menunggu seseorang…?” tebak pak Jeong

“ne…ahh… ahniya… “ sahut park Joon cepat. Pak Jeong tersenyum, baru kali ini ia melihat tuan mudanya begitu gelisah dan bingung, diurungkannya semua kalimat yang bermunculan dikepalanya.

“bagaimana…. Apa anda ada waktu besok…”

Park Joon diam lagi, sesaat, tapi kali ini untuk berpikir “…baiklah… makan siang… tapi jangan sampai terlambat… karena aku tidak akan pernah mentolerir keterlambatan…”kata Park Joon tajam, teringat apa yang telah dialaminya hari itu.

Pak Jeong diam, terkejut dengan perkataan Park Joon “…ne… tentu saja Joon-nim… saya akan mengatakannya dan mengingatkannya…”kata pak Jeong, meyakinkan perkataannya.

“baiklah… sekarang aku ingin ke rumah sakit… apa ada sesuatu yang lain…”tanya Park Joon bangkit dari tempatnya, emnatap Pak Jeong menunggu sambil mengambil jas yang ia sampirkan di punggung kursinya.

“tidak ada doronim…”

“baiklah…siapkan mobil…”pinta Park Joon

Pak Jeong tersenyum mengiyakan, dan membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya ia berbalik. “ahh… pak Jeong…”Park Joon menghentikan langkah Pak Jeong yang segera membalikkan tubuhnya menatap Park Joon “…apa…. Urusan yang kau urus bersama Hye na… sudah… selesai…?”tanya park Joon ragu, tanpa menatap pak Jeong dan menyibukkan dirinya dengan jas yang sedang ia kenakan. Pak Jeong tersenyum, tanpa diketahui oleh Park Joon “… ne …semuanya sudah selesai… dan… ahhh… hampir saja lupa… agashi meminta anda untuk membawakan Jajangmyeon, kalguksu dan bebek panggang…”kata pak Jeong
Park Joon diam, keningnya berkerut, aneh “sepertinya akan ada pesta di rumah sakit nanti…?”kata park Joon senang, kemudian ia terdiam sesaat, terpikir sesuatu “..Tapi dia sedang hamil…kenapa…”

“agashi sendiri yang meminta tadi… ia ingin makan itu sekarang…”

Park Joon diam, menatap Pak Jeong, kemudian dihembuskan napasnya cepat “baiklah… “ Park Joon tersenyum “sepertinya dia sudah mulai ngidam sekarang…” senyum park Joon semakin lebar “…kita mampir ke restoran…” kata Park Joon, melangkahkan kakinya mendahului pak Jeong yang tersenyum menatap laki-laki yang berjalan mendahului langkahnya di depannya.

**********

Ji hoon membuka pintu perlahan di hadapannya. Ditatapnya seseorang. Hanya satu-satunya orang yang berada di ruangan itu. Ji hoon menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan, menenangkan dirinya. Perlahan ia mengetuk pintunya.

“masuk…”terdengar suara dari dalam ruangan itu.

Ji hoon membuka pintunya dan masuk perlahan. Ditatapnya orang itu dalam. Senyum terlihat terkembang diwajahnya saat ia menatap orang itu “Hye na…”sapa Ji hoon lembut, tersenyum.

“anyong oppa…”sapa Hye na

Ji hoon duduk disisi Hye na “…bagaimana keadaanmu…”tanya Ji hoon.
“semuanya baik… tidak ada yang membahayakan… bagaimana kabar oppa…?”

Ji hoon tersenyum, menjawab pertanyaan Hye na “seperti yang kau lihat…”

“baguslah kalau begitu…”

“…dan… bagaimana kabar tuan Han…?”tanya Ji hoon

“sudah lebih baik…dank au harap akan lebih baik lagi…” Hye na tersenyum, bangkit dari ranjang dan mengambil jas putihnya dari lemar untuk di pakainya. Ji hoon menatapnya dalam diam “…Hye na…”panggilnya

“…de…?”sahut Hye na, menatap Ji hoon kemudian, menunggu. Ji hoon diam menatap Hye na. Keduanya saling menatap, namun hanya sesaat, Ji hoon menundukkan kepalanya, ragu untuk mengatakan apa yang sudah mendesak dikepalanya dan minta untuk segera di katakana “ada apa…”tanya Hye na penasaran.

“ahni… tak apa…” Ji hoon tersenyum “apa kau mau berkeliling…”tanya Ji hoon, menatap Hye na.

“ne…”

“mau aku temani…?”

Hye na tersenyum “ayo…”

Keduanya melangkah keluar, kesebuah taman yang masih berada dalam kawasan rumah sakit tersebut. Hye na menatap sebuah bangku dan duduk di sana. Ji hoon mengikutinya, duduk disisi Hye na, dan menundukkan kepalanya.
Hye na mengalihkan pandangannya menatap Ji hoon. “ada apa oppa… apa ada sesuatu yang mengganggu dirimu…?”

Ji hoon menghela napas perlahan “…Hye na…?”

“de…?”

“errrmmm… bolehkah aku bertanya padamu…?”
Hye na diam, menatap Ji hoon bingung “ne… tentu saja…”jawab Hye na kemudian
“katakan saja oppa... apa yang ingin kau katakan…”

“…kau…”tanya Ji hoon akhirnya, menghentikan perkataannya sedikit ragu.
Hye na diam di tempatnya. Dimiringkannya wajahnya, menatap Ji hoon, aneh. “kau baik-baik saja oppa…?” tanya Hye na bingung.

“apa…kau…mencintainya…”tanya Ji hoon lagi. Hye na semakin bingung menatap Ji hoon.
Keduanya terdiam sesaat saling menatap. Ji hoon menunggu dan Hye na masih bingung dengan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki yang duduk dihadapannya. Hanya beberapa saat, dna kemudian Hye na tersenyum mnatap Ji hoon, mulai mengerti
“…aku… entahlah oppa… aku belum bisa menjawab pertanyaanmu tapi… aku belum tahu perasaan itu… sudah lama aku tidak mengenalnya… kau tahu bukan… hampir seumur hidup aku belum pernah berhubungan dengan seorang pria… dan aku hampir tidak mengerti arti cinta antara pria dan wanita…”jawab Hye na, mengalihkan pandangannya, menatap langit senja.

“…apa rasa cinta belum muncul di hatimu…”

“entahlah oppa…aku belum bisa menjawabnya… tapi yang aku yakini sekarang… aku sangat menyayanginya… ia yang memberikan segalanya untuk ku… bahkan sekarang separuh diriku dan separuh dirinya sedang tumbuh dan berkembang dalam rahimku… tapi…apa aku mencintainya…? Aku belum bisa menjawabnya… setelah segala yang dilakukannya dulu…”
Ji hoon diam sesaat “…ikut denganku…”kata Ji hoon, menundukkan kepalanya

“mwo…?”

“ikut denganku… dan aku akan membuatmu bahagia… tidak ada kesedihan lagi… tidak ada air mata…hanya kebahagiaan”

Hye na diam, menatap Ji hoon terkejut. Ji hoon menundukkan kepalanya, semakin dalam, takut, menunggu jawaban dari Hye na.

“…oppa…”panggil Hye na, membuat ji hoon mengangkat kepalanya, menatap Hye na “kau baik…? Kau aneh sekali hari ini…”kata Hye na menatap Ji hoon bingung dan khawatir. Ji hoon mendengus, kemudian bangkit dari tempatnya, berjalan maju, berdiri membelakangi Hye na. Hye na diam, masih menatapnya.

“… tidak perlu kau pikirkan… anggap saja aku baru saja membual…”kata Ji hoon, yang kemudian melangkah pergi, meninggalkan Hye na “aku…”

“oppa…”panggil Hye na, menghentikan langkah dan perkataan Ji hoon. Ji hoon memutar tubuhnya, menatap Hye na lebih serius dari sebelumnya.

Hye na bangkit dari tempatnya, dan berjalan mendekati Ji hoon, tersenyum “gomawo oppa… terima kasih karena semua kebaikanmu…”kata Hye na, Ji hoon diam, menatap Hye na “…. Tapi…”

Ji hoon masih menatap Hye na, menunggu “…maaf… aku tidak bisa… aku sangat menyayangi keluargaku… dan aku tidak pernah berniat untuk meninggalkan mereka… jadi… maafkan aku oppa..”kata Hye na tersenyum, menepuk pelan bahu Ji hoon dan memeluknya erat.
“maafkan aku oppa… dan terima kasih banyak…”tambah Hye na sebelum akhirnya ia melangkah pergi, meninggalkan Ji hoon, tetapi… “ kau mencintainya Hye na-ssi…”gumam
Ji hoon pelan namun masih dalam jangkauan pendengaran Hye na, hingga membuat Hye na menghentikan langkahnya dan terdiam menundukkan kepalanya sesaat.
Hye na tersenyum dan membalikkan tubuhnya, menatap Ji hoon “mungkin oppa… mungkin benar aku mencintainya…”

Ji hoon menatap Hye na, diam dan perlahan kemarahannya muncul. Ia harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang besar. Dan harus ia lakukan secepatnya.

**********

Malam menjelma, bulan terlihat malu memancarkan sinarnya. Awan hitam menutupinya. Beberapa makhluk manusia terlihat tengah terdiam, melamun dintara keremangan cahaya bulan yang memancar hampir ke seluruh pelosok dunia yang berbeda.
Jung min diam, memikirkan banyak hal di kepalanya. Beberapa hal mengganggu pikirannya dan yang lain membuatnya ragu. Sesekali di tundukkannya kepalanya, memikirkan banyak hal itu, tanpa menyadari seseorang tengah menatapnya serius, sekaligus mencari sebuah jawaban, namun ketidak yakinan kembali merasuk di hati keduanya. Jung min menghela napas panjang, menundukkan kepalanya “…apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkanmu kembali…untuk mendapatkan maafmu…”katanya pelan
Hye na tersenyum, menatap Jung min yang terlihat diam di ranjang rumah sakit tempat ia dirawat.

Sudah seminggu lebih ia tidur di ranjang itu dan di rawat disana, walaupun tanpa perawatan langsung dari Hye na, Hye na selalu tahu keadaan Jung min. Apapun itu, dari makanannya sampai waktu ia harus meminum obatnya. Memang bukan Hye na yang memberikannya, tapi ia cukup tahu tentang semua itu. Hingga akhirnya malam itu, ia mengtahui segalanya…

Hye na menatap Jung min yang tidur membelakanginya, senyum kembali terkembang di wajahnya.

Jung min menghela napas kembali “sudah seminggu lebih kau bersikap begitu dingin padaku… sebenarnya ada apa denganmu…”gumam Jung min lagi.

Lagi-lagi Hye na tersenyum “ehemmm!!!”Hye na berdeham keras dan berjalan masuk, duduk di kursi tepat di belakang Jung min. Jung min terdiam sesaat di tempatnya, dan perlahan mmbalikkan tubuhnya, menatap Hye na yang sudah duduk di belakangnya

“Hye na…”seru Jung min terkejut, dan dengan cepat bangkit dari pembaringannya. “akkhhh!!!”seru Jung min kemudian. Hye na berjalan cepat mendekat “pabo!!!”kata Hye na, membantu Jung min duduk, dan bersandar di ranjangnya.
Hye na diam, menghela napas dalam, mengambil bungkusan yang tergeletak rapi di meja tepat disisi Jung min, kemudian terlihat mulai memilahnya, mengamati obat yang harus di minum Jung min malam itu, tetapi tiba-tiba ia terdiam, terkejut menatap sebuah bungkusan obat, yang sama sekali tidak tertulis di dalam catatan kesehatan Jung min. Rasa marah merasuki dirinya.

Hye na mengambil bungkusan itu dna memasukkan ke dalam sakunya. Ia harus menanyakannya dan meyakinkannya. Hye na diam, menatap obat itu. Jung min diam sesaat menatapnya, bingung menatap kebingungan Hye na “gwenchana…?”tanya Jung min

“ne…”

Jung min diam, masih menatap Hye na bingung. Hye na menyadari tatapan Jung min, dan berdeham pelan.

“…besok kau boleh pulang… tetapi tetap harus memperhatikan lukamu dan harus banyak istirahat…”kata Hye na dingin

Jung min tersenyum “baguslah…dan kau…?”

Hye na mengangkat kepalanya dari bungkusan yang digenggamnya “…aku tidak akan pulang… appa membutuhkan perawatan…

“tapi… disini ada banyak dokter yang baik untuknya… dan aku juga butuh perawatanmu…”

“aku juga… ada seseorang yang aku tunggu… aku harus bertemu dengannya”

“mwo!!! Seseorang!!! Siapa…?”tanya Jung min pedas, tajam. Tatapannya memancarkan kemarahan pada Hye na.

Hye na menatap Jung min tajam, dan berhasil membuat Jung min terdiam, khawatir dengan tatapan itu kemudian menundukkan kepalanya, diam.

“minum obatmu dan beristirahatlah…”kata Hye na kemudian, menyerahkan beberapa tablet obat pada Jung min bersamaan dengan segelas air putih.

Jung min menerimanya, dan meminumnya “mau kemana…”tanya Jung min kemudian ketika di tatapnya Hye na bangkit dari tempatnya dan melangkah keluar menuju pintu.

“En kyu sendiri di kamar appa… dan aku akan menemaninya…”

“aku ikut…”

“shiro!!! Tetap disini!!!” cegah Hye na

“tapi…”

“aku bilang tetap disini…jangan kemana-mana…”tambah Hye na tajam, membuat Jung min akhirnya terdiam di tempatnya, menatap kepergian Hye na, tanpa Jung min tahu, Hye na tersenyum puas meninggalkannya. Ia berhasil.



***********

“kau datang…”

“emmm…” dianggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan orang di depannya, dan tersenyum “bagaimana keadaanmu…?”tanyannya

“lebih baik… hanya terkadang terasa sakit…dan… bagaimana keadaannya…?”

“baik… besok dia sudah diperbolehkan pulang… tapi… aku belum mengatakan apapun tentang itu…”

“lebih baik jangan…” katanya “..lalu Hye na..?”tanyanya kemudian

“ia juga tidak tahu… aku memalsukan keadaannya… aku tidak mengatakan tentang operasi itu…”

“…bagus… kau memang sahabat terbaikku… “

“tapi…”

“lebih baik begini… jangan sampai siapapun tahu…sampai saatnya nanti…akhhhh!!!” orang itu meringis menahan sakit di perutnya, dan menekan bagian sisi perut bawah kiri bagian bawah erat.

“gwenchana…?”tanya orang dihadapannya khawatir.

“ne… gwenchana…”

“aiiisshhh… kenapa kau seperti ini… bahkan orang itu membencimu… tapi kau…aku tidak habis pikir… sebenarnya apa yang ada dikepalamu…kau membuatku bingung…”kata orang dihadapannya kesal.

“dokter Shin Hyun Bin… sahabat terbaikku… sudah berapa tahun kau mengenalku…”

“cihh…” dokter Shin membuang wajahnya kesal.

Orang itu tertawa mendapat perlakuan dokter Shin “kau memahamiku… bahkan kau yang menghubungi ku waktu dia dibawa ke rumah sakit dalam keadaanya yang menyedihkan… jadi jangan salahkan aku… aku hanya ingin bersikap sebagai hyung yang baik…”

“YYYA!!! tapi tidak perlu seperti itu bukan… sudah banyak hal yang kau lakukan untuk membantunya… dan sekarang… kau tidak perlu mengorbankan…” dokter Shin menghentikan kata-katanya, menatap orang dihadapannya kesal “…aiisshhh… percuma!!!”

Orang itu diam, menatap dokter Shin tanpa eskpresi.
“kau sudah mengorbankan cintamu…dan… lalu apalagi… hidupmu…?!?!?” seru dokter Shin, kesal, menatap orang dihadapannya marah

“jika memang harus… aku senang” hanya kalimat itu yang keluat dari mulut orang itu, dengan ringan , polos, ia duduk di hadapan dokter Shin, tersenyum. Membuat dokter Shin bertambah gemas.

“aiiissshhh… terserah kau saja… ini… minum ini untuk memberikanmu kekuatan… dan jangan lakukan sesuatu yang akan membebani dirimu… berhentilah melakukan perjalanan jauh… dan pindahlah kerumahku… jangan tinggal di apartemen bobrok seperti ini… atau pulanglah kerumah… Hye na pasti akan membantumu…”

Orang itu tersenyum “… ya aku tahu Hye na pasti akan menerima… tapi bagaimana dengan dia… ia akan marah.. dan bagaimana kalau Hye na tahu…” orang itu menatap Dokter Shin dalam, memberikan waktu untuknya berpikir “... itu juga akan membahayakanmu… bisa-bisa kau kehilangan pekerjaanmu…”tambahnya

Dokter Shin diam, orang dihadapannya terlihat tersenyum, menahan tawanya.

“yaaiiissshhh!!! Kau anggap aku bodoh…!!! Hye na tidak akan melakukan itu…!!”kata dokter Shin marah, karena merasa di bodohi oleh sahabatnya, bersamaan dengan meledaknya tawa laki-laki dihadapannya

“aisshhh…!!! Hentikan tawamu!!!”

“akhhh!!!” seru laki-laki itu tiba-tiba, mencengkeram perut kiri bagian bawahnya.

“rasakan!!!”

Orang itu terlihat diam, memejamkan matanya merasakan rasa sakitnya yang berangsur mulai menghilang “…ah… Hyun bin-aa… sampaikan salam terima kasihku untuk dokter Choi Sae won… karena dia sudah menyelamatkan dia…”

Dokter Shin diam menatap Jung moon “… lebih baik kau katakan saja sendiri…”
“… tidak bisa… kau harus pergi… aku harus menemui seseorang… aku masih memiliki sebuah urusan dengannya…”

“kemana… dan siapa… apa dia…”

“ahni… dia jangan sampai tahu keberadaanku…biarkan saja dia melupakan aku…”

“mwo!!!”

“yya!!! Sekarang kau gampang terkejut… apa kau sudah melupakan semua sifatku…”

“ahni.. tapi kenapa…”

“biarkan saja seperti ini…”

“tapi…”

“cukup… pergilah… bukankah kau harus kerumah sakit… terima kasih banyak sudah memberikan waktumu unruk datang…”kata orang itu yang kemudian berjalan, melangkah perlahan ke pintu reot di hadapannya dan membukakannya untuk dokter Shin.

“araseo… araseo… untuk yang ini kau memang tidak berubah… terserah kau saja… yang penting jaga dirimu baik-baik… dan jangan terlalu lelah…”

“ne… jaga mereka untukku… dan jangan lupa sampaikan pesanku pada dokter Choi Sae won…”

“araseo.. arasseo…”kata dokter Shin mengerti dan kemudian, keluar dari apartemen kumuh dimana sahabatnya itu tinggal.

***********

Sae won diam, menatap Han hospital yang berdiri kokoh di hadapannya. Ia sudah mengambil keputusan, dan semua itu demi keluarganya, appanya dan ommanya. Sudah terlalu banyak ia mengecewakan keduanya. Ia akan menerima penawaran Hye na dan melakukannya.

Flashback

“ aku memiliki sebuah penawaran untukmu…”kata Hye na kedua kalinya, saat ia berkunjung ke bar milik Sae won, kemarin. Kini Sae won diam, tidak mengeluarkan perkataan apapun dan hanya menatap Hye na yang duduk dihadapannya dalam.

“penawaran apa…?”tanya Sae won akhirnya, menatap Hye na semakin serius

“…penawaran yang tidak akan merugikanmu…”

Sae won diam “aku tahu bir yang kau jual disini… walaupun memabukkan… tapi kau membuatnya sendiri… dengan resepmu… memabukkan tapi tetap alami…”kata Hye na
Sae won diam, mendengarkan setiap perkataan Hye na. Hye na membalas keterdiaman Sae won dengan sebuah senyum darinya “… kembalilah kerumah sakit… dan lakukan tugasmu lagi… sebagai dokter…”kata Hye na kemudian

Sae won terdiam, terkejut di tempatnya, tidak percaya dengan perkataan Hye na
“ayahmu… sangat merindukanmu…”

“mwo!!! Appa…?!?”

“ne…”

“kau… tidak mengatakan apapun tentang…” Sae won menghentikan perkatannya, menatap Hye na tajam, bangkit dari tempatnya duduk.

“apa yang aku harapkan jika aku mengatakannya… tidak ada untungnya bukan…”jawab Hye na enteng, tersenyum.

Sae won menatap Hye na mencari kebenaran. Lalu kemudian duduk kembali di tempatnya.

“bagaimana dokter Sae won…”

Sae won diam, menatap Hye na “lakukan demi ayahmu… walaupun beliau tidak mengatakan apapun… tapi aku tahu… beliau sangat merindukanmu… jadi kembalilah bekerja…”Hye na diam, menatap Sae won berharap. “….dan… malamnya kau bisa kembali ke barmu, melepaskan jas putihmu… tapi… aku berharap kau bisa bekerja lagi di Hans hospital…”
Sae won diam, berpikir sesaat “berikan aku waktu…”kata Sae won kemudian, membuat senyum Hye na kembali terkembang di wajahnya.

“baiklah…aku akan menunggumu di rumah sakit… aku akan selalu ada disana…”kata Hye na, mengakhirinya dengan sebuah senyum manis sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat itu

“tunggu…”panggil Sae won, menghentikan langkah Hye na

“errmmm…”

“mwo…?” Hye na menatap Sae won, bingung

“errmmm… bagaimana…” Sae won terlihat ragu dan gelisah dan Hye na hanya diam menunggu

“bagaimana…”

“apa…?” Hye na sudah mulai tak sabar lagi

“bagaimana keadaan yayasan dan… omma…?”

“mwo…? Nyonya Yoon…?” Hye na menatap Sae won yang kini menundukkan kepalanya kemudian senyum terkembang diwajahnya “nyonya Yoon… semuanya baik… kapan-kapan kau bisa dadtang ke yayasan… semuanya pasti akan senang…?”terang Hye na

Sae won tersenyum mendengar penjelasan Hye na

End Of Flashback

Senyum itu terlihat lagi saat itu. Sae won menatap semua orang yang terlihat berlalu lalang di hadapannya, kemudian perlahan ia melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu. Menemui semua orang yang sudah sangat ia rindukan.

*******

Malam mulai menjelma. Bulan dan bintang terlihat memancarkan sinarnya bersamaan dengan bertiupnya angin dingin. Seung gi menggerakkan lengannya perlahan, berysaha untuk merilekskan otot-otot lengannya. Ia begitu sibuk membaca beberapa berkas di tangannya dan yang lainnya ia letakkan di meja tepat di sisi sofa dimana Jung min merebahkan tubuhnya

Seung gi menghentikan pekerjaannya, menatap Jung min tak jauh di hadapannya. Jung min terlihat memejamkan matanya.



Seung gi dapat menyadari kesedihan dan rasa bingung di sana. Entah apa yang terjadi padanya… lagi. Seung gi menarik napas dalam sesaat “Yya!! Lee Jung min…?” panggil Seung gi yang duduk di hadapan Jung min. Jung min hanya diam.

“Lee Jung min…” panggil Seung gi lagi

Jung min masih diam di tempatnya, mengacuhkan panggilan Seung gi padanya. Seung gi diam, ditatapnya Jung min tajam.

“ahhh… Hye na… kau pulang… bagaimana keadaan tuan Han di rumah sakit… ahhh…Jung min…”

Jung min bangkit dari pembaringannya cepat, “Hye na… !!!”serunya mengedarkan pandangannya garang ke sekelilingnya, mencari sebuah sosok
Seung gi tersenyum menatap Jung min. Tipuannya berhasil. Jung min menatap Seung gi marah “yya..!!! kau!!!” Jung min menatap tajam Seung gi marah “..auuussshhh…lakukan saja pekerjaanmu…!!!”

Seung gi tertawa renyah “ ha ha ha ha…mianhe… “

Jung min diam, membuang wajahnya marah. Seung gi menatap Jung min tersenyum “ada apa denganmu… kenapa kau begitu lesu…kau sudah tidak berada di rumah sakit lagi… ada apa lagi sekarang…”

Jung min masih diam, dan kini terlihat berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Seung gi “yya!!! Ada apa denganmu…? Apa ada masalah lagi antara kau dan Hye na…” berhasil, Jung min menghentikan langkahnya begitu nama Hye na di sebut. Dengan cepat Jung min membalikkan tubuhnya, teringat sesuatu menatap Seung gi tajam “…kapan kau pergi berlibur…?”

“segera, setelah kesehatanmu pulih untuk melakukan pekerjaanmu lagi…”

“…bagaimana kalau aku memberikan sebuah penawaran lagi…”kata Jung min, sambil berjalan perlahan mendekat ke arah Seung gi.

Seung gi tersenyum, meletakkan tangannya di kepala, “ahhh… selalu saja…”gumam Seung gi pelan. “baiklah…apa yang kau tawarkan…”tanya Seung gi lemas.
Jung min tersenyum. Sebuah senyum kemenangan terlukis di wajahnya. Seung gi memejamkan matanya, meletakkan tangannya di dahi dan menggelengkan wajahnya, mulai mengerti segalanya. “terserah kau Jung min-ssi..”

Jung min tersenyum, semakin lebar begitu melihat reaksi Seung gi atas pernyataannya. “bagus… dengarkan aku…”

Jung min menghentikan perkataannya, menatap Seung gi menunggu keputusannya tepat saat pintu kamarnya menjeblak terbuka. Keduanya menatap Hye na dan En kyu yang terlihat berdiri di ambang pintu menatap Jung min dan Seung gi.

“Seung gi ahjussi…!!!”panggil En kyu senang, berlari menghampiri Seung gi yang berdiri di sisi Jung min.

“En kyu-aa… jangan panggil aku ahjussi…aku belum setua itu…”protes Seung gi yang hanya di balas sebuah tawa lebar dari En kyu. Seung gi diam, mengacak rambut En kyu “ahhh… ahjussi… Kyu sudah bilang…!! Jangan lakukan itu…!!!”protes En kyu, menatap Seung gi kesal, “arasso… mianata En kyu-aa…” kata Seung gi lagi, menatap En kyu tersenyum, kemudian pandangannya beralih kearah Jung min.

“anyong Hye na-ssi…” sapa Seung gi, mengalihkan pandangannya kea rah Hye na yang terlihat berdiri di sebuah meja di ujung ruangan, dekat pintu keluar.

“anyong…”

Jung min menatap Hye na tidak percaya “kau…”

“pulang…” sambung Seung gi. Jung min mengalihkan pandangannya kearah Seung gi.

“ne… ada yang harus aku lakukan…”

Jung min terlihat diam di tempatnya, menatap Hye na yang kini terlihat sibuk berkutat dengan bungkusan obat Jung min dan beberapa pakaian Jung min yang satu persatu ia masukkan ke dalam koper. Seung gi diam, menatap Jung min, kemudian senyum terlihat terkembang di wajahnya. Perlahan diliriknya En kyu yang berdiri diantara dirinya dan Jung min.

“En kyu mau es krim…”tanya Seung gi tiba-tiba

“mauuuuu!!!!...ayo ahjussi… kita makan es krim… ayo…”ajak En kyu senang dan sangat antusias

“arassso… kita pergi sekarang..”

**********

Jung min diam menatap Hye na. Keduanya saling diam, hanya tatapan mata yang berbeda dari masing-masing yang berbicara dan mengisyaratkan sesuatu yang berbeda. Hye na kembali menyibukkan dirinya dengan bungkusan di tangannya.

Jung min masih menatap Hye na. Kesedihan terlihat jelas di pancaran mata Jung min. Menatap Hye na yang terlihat masih berkutat dengan berbagai bungkusan obat ditangannya.
Tak lama Jung min menjatuhkan dirinya keras di sofa tepat di belakangnya, dan dengan hitungan detik, teriakan terdengar dari arahnya “AKHHHH!!!” Jung min menekan keras bekas jahitan di perutnya. Hye na membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap Jung min, dan dengan cepat pula ia berlari kearahnya. Menatapnya khawatir.

“gwenchana…? Kau tak apa…” Hye na menatap tangan Jung min yang menutupi lukanya, menyingkirkannya untuk melihat lukanya. Jung min hanya diam, menatap reaksi Hye na sedangkan Hye na, dia benar-benar terkejut saat warna merah mulai terlihat merembes pada kemeja Jung min. Dengan cepat Hye na membuka kasar kemeja Jung min, membuat kancingnya terlepas dan rusak bertebaran. Terlihat jelas di penglihatan Hye na, perban yang membelit perut Jung min, sudah memerah, dan semakin kental di bagian luka Jung min. Hye na menekannya dengan kemeja Jung min yang sudah ia lepas dengan paksa dan menutupinya.

“berbaring…”perintah Hye na cepat, mendorong tubuh Jung min agar rebahan di sofa ruangan tersebut.

Jung min menuruti perintah Hye na. kesadarannya belum kembali sepenuhnya. Ia benar-benar terkejut dengan reaksi Hye na. Ia sama sekali tidak menyangka dengan reaksinya. Jung min hanya diam saat Hye na mulai membuka belitannya perlahan. “sakit…”tanya Hye na khawatir.

“ahniya…”jawab Jung min datar, menatap Hye na dengan ketidak percayaannya. “kenapa bisa begini…”kata Hye na lagi yang mulai panik. Hye na bangkit dari sisi Jung min, menatap sekelilingnya cepat mencari sesuatu di ruangan itu. Namun, ia tidak menemukan apa yang dicarinya. Bergegas Hye na keluar dari ruangan itu menekan sebuah nomer di telepon yang tergantung di dinding ruangan tersebut. Telepon mulai tersambung. “bawakan aku kotak p3k dan air hangat… segera…”perintah Hye na kemudian.
Hye na menutup telepon, dan berjalan cepat kembali ke tempat Jung min. Tak lama, beberapa menit kemudian terdengar ketukan di pintu. Hye na berlari menghampiri pintu dan mengambil semua yang dimintanya dari pelayan. “terima kasih…”

“apa yang terjadi agashi…? Kenapa anda meminta ini semua…?” tanya seorang pelayan khawatir

“apakah terjadi sesuatu dengan doronim…”tanya seorang pelayan yang lain.

“tak apa… aku bisa menanganinya…” jawab Hye na

“baiklah…adakah yang lain yang bisa kami lakukan agashi…?”

“tidak ada… terima kasih banyak…” kata Hye na kemudian sebelum akhirnya ia menutup pintu dihadapannya. Hye na bergegas kembali ke tempat dimana Jung min berada. Ia terlihat sangat khawatir sekarang. Dengan cepat Hye na membuka kotak p3k ditangannya dan mengeluarkan kapas untuk membersihkan darah yang keluar. “ah… kau tak apa…? Kenapa begitu banyak darah yang keluar…” tangis yang berusaha Hye na tutupi mulai terdengar. Jung min menatapnya dalam diam.

“aku sudah bilang untuk berhati-hati tapi kau…” Hye na menghentikan kata-katanya dan tergantikan oleh isakannya “… bisakah kau berhenti membuatku khawatir!!! Kau tidak pernah memikirkan diriku… kau selalu saja membuatku takut...hiksss…” Hye na menangis pelan “ kau juga membuatku khawatir…”keluh Hye na di sela tangis dan kegiatannya membersihkan luka Jung min, memberikan obat di luka itu dan mulai memasang perban yang baru diluka Jung min. Hye na membelitkan perban itu ke sekeliling perut Jung min

“kau…” tangis Hye na terdengar keras sekarang. Air matanya mulai jatuh membasahi kulit perut Jung min, membuat genangan di lekukan otot perut Jung min “…aku mohon… berhentilah membuatku khawatir…kau menyiksaku dengan itu…”tambah Hye na pelan, menundukkan kepalanya dalam, membenamkan wajahnya. Saat itu Jung min bangkit, menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, menatap Hye na tersenyum senang sekaligus sedih.

“… hiks… bisa-bisa aku mati karena khawatir dan takut…”kata Hye na lirih, yang kemudian hanya berselang beberapa detik, tiba-tiba Jung min membawa Hye na ke pelukannya mendekapnya erat “mianhe… mianhe… mianhe… maafkan aku… bukan maksudku untuk membuatmu khawatir dan sedih… aku tidak… mianhe… mianhe…”

Hye na diam, masih terisak dalam pelukan Jung min “mianhe Hye na… mianhe… mianhe… mianhe… mianhe… mianhe…” tambah Jung min lagi terus menerus hingga terdengar lirih. Entah sudah berapa kata maaf yang Jung min ucapkan di telinga Hye na hingga akhirnya tangis Hye na mereda. Hanya isakan lembut dan goncangan di bahu Hye na yang terasa. Jung min melepaskan pelukannya perlahan, menyentuh dagu Hye na untuk kemudian mengangkatnya. Ditatapnya wajah Hye na yang terbasahi oleh air mata.

Jung min menghapus air mata Hye na perlahan, dan menatapnya. Dan kini keduanya saling menatap. Jung min menatap Hye na lembut dan Hye na menatap Jung min sayu.
“maafkan aku untuk segalanya…”kata Jung min lembut, mengahpus air mata Hye na yang satu persatu masih menetes “maafkan aku…”tambah Jung min. Hye na terisak, Jung min kembali membawa Hye na ke pelukannya. Mendekapnya erat. “…berhentilah melakuan hal yang membuatku khawatir dan sedih…”kata Hye na dalam pelukan Jung min, Hye na memberikan beberapa pukulan kecil ke punggung Jung min.

“ne… iya… iya… iya… mianhe…. Mianhe…mianhe… maafkan aku… aku tidak pernah bermaksud untuk itu dan… AKHHH!!!”
Cepat, Hye na melepaskan pelukan Jung min, menatap Jung min yang terlihat menekan pelan lukanya. Hye na menatap kearah tangan Jung min khawatir “gwenchana…?”

“ne… gwenchana…”jawab Jung min tersenyum meringis menahan sakitnya. “kau istirahatlah… aku bantu ke kamar…” kata Hye na kemudian, melingkarkan lengan Jung min ke lehernya dan melingkarkan lengannya yang lain ke pinggang Jung min, membawanya bangkit, dan perlahan membawanya keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju kamar Jung min.

Hye na membantu Jung min, merebahkan dirinya di ranjang perlahan. “istirahatlah… jangan sampai lukamu terbuka lagi… dan jangan banyak gerak dulu…”kata Hye na, menatap Jung min khawatir. Menyelimuti tubuh Jung min pelan. Jung min hanya terdiam dan menatap Hye na tersenyum. Keduanya terdiam sesaat, saling menatap hingga tiba-tiba terdengar suara dari perut Jung min. Jung min tersenyum malu dan Hye na menatapnya tersenyum lembut. “kau lapar…? Aku buatkan bubur setelah itu minum obatmu…”kata Hye na yang kemudian bangkit dari tempatnya.

Hye na memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar itu, namun ketika ia akan melangkah, Jung min menghentikannya, menggenggam tangan Hye na kuat. Hye na membalikkan tubuhnya, menatap Jung min. “aku mohon… untuk kali ini… biarkan para pelayan itu yang melakukannya… kau temani aku… aku sangat… merindukanmu…aku mohon”kata Jung min, menatap Hye na memohon.

Hye na membalas tatapan Jung min. keterkejutan terlihat di kedua penglihatannya, tetapi perlahan tatapanya berubah. Tatapan mata Hye na berubah menjadi sayu, menatap Jung min. Dan perlahan Hye na kembali duduk disisi Jung min. Jung min tersenyum “gomawo… terima kasih banyak…” menarik tangan Hye na yang masih di genggamnya dan membawanya ke dadanya. “terima kasih…”kata Jung min. Hye na tersenyum.

“aku sangat merindukanmu…”tambah Jung min, memejamkan matanya perlahan, tersenyum “…saranghae Hye na-aa…”kata Jung min lirih “saranghae… saranghae… saranghae…”

Hye na terkesiap sesaat, mendengar perkataan Jung min, menatapnya. Ia sangat merindukan kata itu. merindukan kata itu keluar dari bibir Jung min. Hye na menatap Jung min sesaat. Keduanya saling menatap, Jung min mengangkat wajahnya perlahan, hingga wajahnya dan Hye na hanya berjarak beberapa centi saja. Jung min semakin mendekatkan wajahnya. Hye na mengerti dan memejamkan kedua matanya perlahan, membiarkan bibir Jung min yang perlahan membekap mulutnya dan melumatnya. Hye na hanya dapat diam, tidak membalas Jung min, sedangkan Jung min semakin agresif melumat dan mengulum bibir Hye na hingga Hye na mengeluarkan desahan dari mulutnya.
Jung min melepaskan ciumannya, menatap Hye na sayu “saranghae Hye na-aa… saranghae…”kata Jung min lirih dan kemudian mulai membekap lagi bibir Hye na. Kali ini ciuman Jung min lebih agresif di bandingkan sebelumnya.

Kedua lengan Jung min dilingkarkannya ke leher dan pinggang Hye na, membawa Hye na semakin dekat dan melumatnya. Lama, Hye na dapat merasakan lidah Jung min terjulur, berusaha membuka bibir Hye na, dan akhirnya lidah yang kasar itu berhasil menguak seluruhnya, membukanya. Menyentuh bagian sensitive bibir Hye na, menjelajah kekedalaman mulut Hye na. membelit dan menarik lidah Hye na. Hye na mendesah pelan, membuat Jung min semakin agresif memberikan ciuman terdalamnya.

Perlahan tanpa Hye na sadari Jung min mulai menyentuh bahu Hye na, membuat kaos lengan panjang Hye na dengan potongan leher yang berbentuk V terbuka, semakin mudah terbuka, sehingga dengan dorongan yang lembut Jung min dapat membuat bagian bahunya turun. Hye na dapat merasakan sentuhan hangat tangan Jung min di bahunya. Dan tak lama akhirnya bagian yang lain terjatuh, membuat kedua bahu Hye na terbuka. Dan kini bagian atas tubuh Hye na mulai terbuka. Terlihat bra hitam Hye na di sana. Hye na mendesah keras, dan tubuhnya mulai menggeliat ketika Jung min mulai membawa tangannya menjelajah dengan tetap mencium bibir Hye na lebih dalam lagi.

Ketika itu Hye na mulai melumat bibir Jung min, melawan perlakuan Jung min, membawa lidahnya masuk kedalam mulutnya, dan melingkarkan kedua lengannya di leher Jung min, membawanya semakin dekat, mendekapnya hangat.

Tanpa disangka Hye na, tiba-tiba Jung min mendorong tubuh Hye na kebelakang merebahkannya perlahan. Jung min melepaskan ciumannya ketika Hye na sudah tertidur di bawahnya. Menatapnya lembut,