Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 50348 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Re: Angel By My Side~Chapter 2 Updated 31 January 2010~
« Reply #30 on: February 04, 2010, 05:35:22 am »
Angel By My Side

Chapter 3
   
   Sebentar lagi, pesawat pribadi Hye Sun ke Italia akan boarding. Hye Sun tak henti-hentinya melihat jam tangan. 20.45. Kenapa 15 menit itu terasa lama sekali.

   Ia telah mempersiapkan segalanya untuk pergi ke Italia. Dengan balutan, kaos warna hitam, celana jeans  Levi’s, sepatu platform Christian Louboutin warna putihnya, dan sebuah tote bag merk Chanel.

Ibunya dan kakaknya ada di sini, duduk di sebrang Hye Sun. Mereka menatap Hye Sun lekat-lekat, bersiap untuk melepaskan Hye Sun.

 “Hye Sun-a, kumohon pikir-pikir lagi.”kata Hye Jung sambil memandang adiknya ini dengan penuh harap.

Tapi, Hye Jung tahu ini percuma saja, tak mungkin pertahanan Hye Sun akan goyah dalam 15 menit terakhir ini.

“Pergi ke Italia tak apa untuk menenangkan diri. Tapi tak perlu ke Amerika, untuk apa kembali ke dunia modeling.”ucap Hye Jung lagi. Hye Sun melotot pada Unnie-nya, Unnie-nya memang satu-satunya orang yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap dunia modeling yang digeluti Hye Sun, namun ia berpaling pada ibunya dan Hye Jung silih berganti. “Aku mohon jangan ada yang menghubungiku.”

Hye Jung tambah melotot mendengar permintaan gila adiknya ini. “Hei, kau tak pernah ke Italia sebelumnya. Jika terjadi apa-apa bagaimana? Kalau soal Amerika, aku tahu kau sudah sering ke sana. Tapi, tetap saja kau harus tetap menelpon kami!”

“Hye Jung-Unnie, aku dapat menangani ini semua. Omma, kau percaya padaku, kan? Tapi, jika keadaan sangat terpaksa, aku pasti akan menelpon kalian.”tanya Hye Sun. Ibunya tersenyum terpaksa, ibunya sedang menunggu sesuatu juga, tapi tentu bukan kepergian anaknya yang satu ini. Salah satu penyesalan dalam hidupnya adalah bisa-bisanya ia membiarkan Hye Sun pergi ke Amerika untuk kembali ke dunia modeling. Hye Sun memang sudah berjanji akan menikahi Min Ho setelah ini, dan Hye Young yakin sekali anaknya tak akan berbohong. Hye Young juga bukannya tak suka dengan dunia modeling yang akan digeluti lagi oleh anaknya ini, ia sangat menyukainya, tapi, ia takut anaknya akan terlena pada dunia itu.

Sesekali, ibunya melihat jam tangannya dengan gelisah.

“Min Ho-ssi, kenapa ia belum tiba?”Akhirnya setelah diam beberapa saat, ibunya membuka mulut, “Seharusnya ia sudah tiba. Lima belas menit lagi pesawatmu akan boarding.”

“Dia bilang mungkin tak bisa datang.”sahut Hye Sun. Tinggal 10 menit lagi.

“Nah, aku harus pergi.”Hye Sun bangkit berdiri, ibunya dan kakaknya juga bangkit berdiri, bisa dilihat kemantapan dari wajah mungil Goo Hye Sun.

Ibunya melipat tangannya di depan dada dan menatapnya dengan lirih.
Dengan suatu gerakan cepat, ibunya segera memeluk Hye Sun sambil membisikkan kata “Hati-hati”. Hye Jung Unnie masih menatapnya, berharap adiknya dapat berpikir jernih dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Korea dalam waktu selama itu. Tapi, akhirnya Hye Jung menghambur ke pelukannya, “Kau tahu, kau beruntung. Mengadakan perjalanan ke Italia dan setelah itu ke Amerika.”



“Jaga dirimu baik-baik, adik kecil. Jika kau mengalami kesulitan, telpon aku.”kata Hye Jung Unnie. Air mata mengalir perlahan di kedua pipinya yang merah, maskaranya luntur.

“Hye Jung Unnie, kau juga harus jaga diri baik-baik. Aku menyayangimu Unnie.”kata Hye Sun, setelah itu, ia melambaikan tangan pada Omma dan Unnie-nya dan masuk ke lapangan di mana jet pribadinya telah menunggu.

Ponselnya masih terselip di tangannya, ia pun menekan nomor telpon Lee Min Ho. Tak perlu menunggu lama, Min Ho segera mengangkatnya.

“Masih meeting, Min Ho-ya?”tanya Hye Sun.

“Tidak. Aku dalam perjalanan ke airport.”kata Min Ho, dari suaranya, ia kelihatan sangat terburu-buru. Hye Sun tersenyum sambil berjalan menuju pesawatnya.

“Tak perlu. Jangan mengebut di jalanan. Aku sebentar lagi naik pesawat. Jal isseo.”kata Hye Sun sambil menutup ponselnya cepat-cepat. Ia mempercepat laju langkahnya, ia tak boleh bertemu Min Ho lagi dan hatinya tak akan pernah mengijinkannya untuk menyakiti pria itu lebih jauh lagi...

***

   Dengan terburu-buru, Min Ho menuju Incheon Airport, tempat jet pribadi Hye Sun akan lepas landas. Speedometer di mobilnya sudah menunjukkan angka 120 km/h. Ia dikuasai keinginannya untuk bertemu Hye Sun untuk terakhir kali. Ketika tadi menerima telpon dari Hye Sun, hatinya sangat tidak tenang. Lihat apa yang telah kau lakukan! Kau membiarkan perempuan paling berharga di dunia ini pergi begitu saja!

Untungnya, sekitar 3 menit kemudian, ia sampai di Incheon International Airport. Dengan tergesa-gesa, ia menuju tempat lepas landas jet-jet pribadi. Petugas di bandara itu mengenalinya, dengan cepat ia dipersilahkan masuk ke dalam ruang tunggu, di mana ibu Hye Sun dan Hye Jung menunggu dan masih berdiri terpaku.

“Min Ho-a?!”Ibu Hye Sun tak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat calon menantunya itu. Tapi, Min Ho tak bisa berbasa-basi lagi dengan calon mertuanya ini. Dengan napas tersenggal-senggal, ia menuju lapangan lepas landas, jet Hye Sun masih berada di sana, namun, perlahan-lahan jet itu bergerak…

***

   Dengan tatapan lirihnya, ia melihat lampu malam yang menerangi lapangan lepas landas itu dari dalam pesawat. Ia tak akan kembali Korea dalam waktu yang dekat, sebagian dari dinya menyesalinya, tapi, sebagian lagi, ia tak tahu.

“Goo Hye Sun-ssi—“panggil seorang pramugari. “Semoga Anda menikmati perjalanan Anda ke Italia. Kita akan mendarat di Bandara Internasional Leonardo Da Vinci, Roma.”

   Hye Sun mengangguk dan tersenyum pada pramugari itu. Tapi pramugari yang satunya melirik pramugari itu, menunjukkan suatu isyarat dan kemudian membisikkan sesuatu.

   “Nona—“panggil pramugari itu lagi. “Tepat di belakang kita, seorang laki-laki sedang mengejar pesawat kita. Perlukah kita menghentikan laju pesawat ini sejenak?”

Hye Sun segera menoleh ke arah pramugari itu dan langsung tahu siapa lelaki itu, pasti Lee Min Ho.

“Tidak. Tak perlu. Jalan saja terus.”jawab Hye Sun mantap.

Ia tahu sekali, dia tak tega membiarkan Min Ho mengejar pesawatnya ini. Tapi, ia juga tak bisa bertemu lagi dengan Min Ho, setiap detik yang ia habiskan dengan Min Ho hanya akan menyakiti lelaki itu.

Min Ho-ya, kau sangat baik padaku. Aku selalu mendoakan, Angel By Your Side. Semoga dalam satu tahun ini kau dapat menemukan yang lebih baik dariku, seseorang yang bisa kau sebut ‘malaikat’-mu dan bisa kau jadikan ibu dari anak-anakmu. Min Ho-ya, gomawo dan mianhae…


 Tenggorokan Hye Sun tercekat ketika ia memikirkan kata-kata itu. Air matanya perlahan mengalir, dengan cepat ia menghapusnya. Ia meminta dirinya sendiri untuk bertahan, tapi dirinya sendirilah yang membiarkan pertahanan itu runtuh.

“Berhenti!”seru Hye Sun dalam pikirannya yang masih ruwet. Pramugari itu terkesiap, segera menuju ruangan pilot dan ingin menuruti perintah Hye Sun. Pesawat yang sudah berjalan lambat itu akhirnya berhenti sama sekali.

Hye Sun masih duduk di bangkunya, ia tak tahu apa yang telah dan harus ia lakukan. Tapi, secara naluriah, ia melepaskan sabuk pengaman dan menunggu pramugari itu membukakan pintu pesawat untuknya.

Ia turun dari tangga itu dan melihat Lee Min Ho yang terpaku di tempatnya. Hye Sun berlari sekuat tenaganya sampai ia mendarat di pelukan Min Ho.

***

Min Ho melihat perempuan itu berlari ke arahnya dengan mulut membisu. Melihat pesawat itu berhenti saja, jujur ia sudah cukup terkejut. Sekarang, ditambah lagi dengan Hye Sun yang semakin lama-lama mendekatinya dan segera menghambur dalam pelukannya.

Min Ho tau ini yang diharapkannya selama ini. Namun, ia terlalu takut untuk menyatakan semuanya. Terlalu takut untuk bersaing dengan Geun Seuk yang sempurna dan memiliki segalanya. Sehingga ia tak punya pilihan lain selain lari dari perasaan ini.

Sinar-sinar lampu malam di lapangan itu memantul di mana-mana. Memunculkan efek bagus layaknya sedang menyaksikan sebuah proses penggarapan film.



“Aku sudah tahu kalau aku tak akan tenang jika tak mengucapkan selamat tinggal padamu.”bisik Hye Sun, kakinya sampai terangkat dari lantai. Dialah perempuan yang selama ini tak pernah menjadi penyesalan Min Ho dalam hidupnya, meskipun perempuan itu telah dengan jelas menolak perasaannya, bahkan tanpa ia harus menyatakan semua yang dirasakannya.

“Aku akan kembali. Tapi, tolong jangan tunggu aku.”bisik Hye Sun ke telinga Min Ho. Min Ho membalas pelukannya, tapi otaknya bahkan tak mau mencerna kalimat terakhir gadis yang dicintainya ini. Jangan tunggu dirimu? Bagaimana mungkin selama setahun aku akan gugur setelah tujuh tahun ini?

 Hye Sun akhirnya yang berinisiatif mengakhiri pelukan itu. “Nah, kini saatnya aku harus pergi.”

Mata Min Ho bertemu dengan mata keclokatan yang selalu mengeluarkan sinar yang berbinar-binar itu. Bahkan dalam keadaan gelap gulita, mata itu akan tetap bersinar, menjadi pelita di dalam kegelapan, segelap apa pun kegelapan itu.

“Jaga dirimu baik-baik, Min Ho-ya.”kata Hye Sun. Min Ho lalu tersenyum, tak dapat bicara apa-apa lagi dan sangat membenci dirinya sendiri karena itu. Bagaimana bisa ada orang sepertinya yang membiarkan begitu saja orang yang dicintainya pergi untuk kesekian kalinya?

 “Jal isseo!”teriak Hye Sun sambil kembali lagi ke pesawat untuk menyongsong Italia di hadapannya. Kali ini, Hye Sun benar-benar harus pergi. Hye Sun melambai lagi pada Min Ho yang masih berdiri di tempatnya. “Angel by your side!”

Min Ho amat terkejut ketika mendengar Hye Sun tiba-tiba meneriakkan kata-kata itu. Bagaimana bisa ia mengetahui kata-kata itu?

***

Min Ho melihat jet yang perlahan terbang ke langit dan menghilang dari pandangan. “Angel by your side.”gumam Min Ho.

Dengan berat hati ia melangkahkan lagi kakinya ke dalam, meninggalkan lapangan lepas landas itu.

Hye Young dan Hye Jung masih terpaku melihatnya.

“Apa yang kau lakukan?”tanya Hye Young pada Min Ho. Tapi Min Ho hanya bisa tersenyum.

Hye Jung tersenyum pada Min Ho. “Dongsaeng-a, percaya pada Noona. Ia pasti akan kembali.”

Mendengar itu Min Ho tersenyum tipis. Ia ingin mempercayai itu. Tapi, ia tak tahu juga apa yang akan terjadi 1 tahun kemudian. Apakah janji itu akan ditepati? Atau janji yang terbuat akan terlupakan? Tapi, suatu ketakutan muncul dalam hatinya, Aku takut kalau aku yang akan lelah menunggu. Aku takut aku yang akan meninggalkanmu. Aku takut jika suatu hari diriku akan kehilangan rasa ingin melindungimu. Goo Hye Sun-a, mungkinkah itu terjadi setelah aku bahkan mengetahui secara jelas apa tujuanmu pergi dari Korea?

***
   
Hari yang cerah itu, Min Ho menuju ke kantor Hye Sun. Bermaksud untuk mengajaknya makan siang karena ini adalah hari terakhirnya di Seoul.

“Nona Cha, Bu Direktur ada?”tanya Min Ho pada Sekretaris Cha yang sekarang sedang berkutat dengan make up-nya. Sekretaris itu sekarang menyembunyikan alat-alat make up-nya dan memasang senyum lebar.

“Direktur Goo ada di dalam. Tapi, Tuan Lee, Beliau sedang menerima tamu.”kata Sekretaris Cha dengan manis. Tak akan ada perempuan yang tidak meleleh ketika melihat wajah tampan Lee Min Ho, tapi, mungkin ini pengecualian bagi Goo Hye Sun…

“Tamu?”tanya Min Ho pada Sekretaris Min sambil mengerutkan kening.

“Ya. Kakaknya, Nona Goo Hye Jung baru pulang dari Paris dan sedang berbicara dengan Bu Direktur.”kata Sekretaris Cha sambil memandang wajah Min Ho. Min Ho terkejut, tapi ia tak berlama-lama dengan keterkejutan itu.

“Anda mau masuk saja, Tuan? Nona Hye Jung pasti tak akan keberatan jika Anda masuk.”tawar sekretaris muda itu lagi. Sekretaris Cha benar, Hye Jung Noona pasti tak akan keberatan jika ia masuk. Mereka pasti sedang tidak membicarakan hal khusus.

“Aku akan masuk saja.”jawab Min Ho pada Sekretaris Cha. “Gamsahamnida.”

Min Ho membungkuk sedikit pada Sekretaris Cha. Sekretaris Cha tersenyum lebar, siapa yang tidak suka pria sesopan ini?

Min Ho mendekati ruangan itu dan membuka gagang pintunya dengan sangat pelan dan hati-hati. Sedikit saja ruangan itu terbuka, suasana tegang yang menyelimuti ruangan itu tiba-tiba terasa oleh Min Ho. Apa yang dibicarakan kedua kakak beradik ini? Yang pasti bukan hal biasa.

Min Ho ingin segera pergi meninggalkan ruangan itu karena merasa sangat tidak sopan sekali dengan mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi, kakinya terasa berat untuk digerakkan. Ia tak dapat melawan keinginan untuk mendengarkan percakapan ini, apalagi setelah namanya disebut-sebut.

 “Hye Sun-a, kenapa kau tak membatalkan perjodohan ini saja dari awal kalau begitu? Aku yakin Omma akan menurutimu dan keluarga Min Ho dapat menghargai keputusanmu.”Suara memberontak itu. Itu suara Hye Jung Noona, jelas sekali.

Setelah itu, suara seorang Tuan Putri dengan segala keanggunan dan kelemah lembutannya terdengar. Ini adalah suara Goo Hye Sun. Betapa pun Min Ho menolak dan tak menerimanya, itu tetap suara Hye Sun.

“Kalau aku membatalkannya, yang ada aku malah tak akan diijinkan ke Italia maupun Amerika dan perusahaan tak akan dibantu. Jadi, aku akan membiarkan Min Ho lelah menunggu dan dialah yang memutuskan perjodohan ini, setelah itu aku tak akan disalahkan dan tak akan menikah dengannya.”

Api kemarahan tampak menguasai dirinya sekarang. Telinganya terasa panas ketika mendengar kata-kata itu. Tapi, ia tak mungkin masuk ke dalam ruangan itu dan menginterupsi percakapan mereka. Seorang Lee Min Ho tak akan pernah melakukan itu dan sepanjang ingatannya selama ini, ia selalu dapat menguasai dirinya, dalam emosi setinggi apa pun.

Ia mencoba berbalik pada Sekretaris Cha dan tersenyum ke arah sekretaris itu.

“Nona Cha, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Saya harus tiba di kantor secepat mungkin. Tolong jangan beri tahu tentang kedatangan saya di sini pada Bu Direktur maupun Hye Jung Noona.”pinta Min Ho sambil berpura-pura melihat jam tangannya.

“Hah? Ya, Tuan Lee.”jawab Sekretaris Cha dengan bingung. Tapi ia akhirnya hanya memerhatikan sikap aneh lelaki itu dari belakang.


***

END OF CHAPTER

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE