Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 48888 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
maaf kepotong...

ini lanjutannya

Dokter Shin menatap Hye na dalam, kemudian menyerahkan sebuah berkas pada Hye na. Hye na menatap berkas itu sesaat, tertulis Lee Jung min’s file disana. Hye na duduk dan mulai membuka berkas itu.

“apa ini…!!!????”

“maafkan aku Hye na-ssi… aku terpaksa melakukan ini…”kata dokter Shin

“tapi kau…”

“aku memalsukannya… ini berkas yang benar-benar asli…”

“tapi..”

“aku memberikan ginjalku untuk Jung min… maafkan aku…”

“ne… Jung min mengalami kerusakan ginjal yang parah saat penusukan itu…dan Jung moon bersedia memberikan ginjalnya… tapi dia tidak ingn siapapun tahu…jadi…maafkan kami..”

“jadi kalian membohongiku…”kata Hye na, menutup keras berkas ditangannya. Dokter Shin dan Jung moon diam ditempatnya, dan Hye na dengan cepat bangkit dari kursinya, menatap Jung moon dan dokter Shin tajam. “maafkan kami…”kata Jung moon lirih. Hye na menghentikan langkahnya yang akan keluar dari ruangan dokter Shin.

“aku maafkan… tapi kalian harus menerima hukuman…”kata Hye na, membuat Jung moon dan Dokter Shin menatapnya terkejut. “ hukuman…”

“ne… hukuman… dokter Shin… sebagai pemilik dan pemimpin rumah sakit ini… kau dalam masa percobaan… kau harus merawat Jung moon setiap harinya…. Dan kau oppa… kau harus tinggal bersama kami di mansion…”

“Mwo!!!”

“tapi…”

“titik… lakukan yang aku katakan…”kata Hye na yang kemudian melangkah kearah pintu dan membuka pintunya, tetapi langkahnya terhenti sesaat, “oppa… aku tunggu sampai nanti sore… kau harus berada di mansion… dan dokter Shin..mulai besok… kau bekerja menjadi dokter pribadi Jung moon… datanglah saat Jung min kekantor…”

“tapi Hye na…” cegah Jung moon

“lakukan…”ancam Hye na, memberikan sorotan mata yang tajam.

***************

Hye na melangkahkan kakinya masuk. Hye na tahu Jung min mencarinya, tapi Hye na ingin berdua saja dengan En kyu, jadi Hye na menyuruh Jung min untuk pulang saja, dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Dan disinilah ia, berdiri menatap Jung min, yang tengah menatapnya tajam, namun juga tersirat kekhawatiran dan syukur di kedua matanya.

“kau… apa kau ingin aku mati…”seru Jung min keras, menatap Hye na tajam, berjalan mendekat kearahnya. Hye na tersenyum lebar menatap Jung min “mianhe… jeongmal mianhe…”

“cihhh… apa cukup dengan minta maaf…”

“jadi…”tanya Hye na, menatap Jung min, tersenyum dengan senyuman memohonnya.

“auussshhh…” Jung min berjalan masuk kedalam kamar. Hye na menyusulnya “Jung min…tunggu…”cegah Hye na

“mwola… apalagi…”jawab Jung min kesal

Hye na menatap Jung min, menyelidik, tersenyum “kau marah…”

“ne!!! apa yang kau harapkan!!! Tentu saja aku marah…aku kesal… kau membuatku takut hingga hampir mati…”

“mianhe…” kata Hye na memohon, menatap Jung min dengan senyuman mautnya

“aiissshhhh…” Jung min membuang wajahnya.

Keduanya terdiam sesaat “ahhh…aku punya kejutan untukmu…”

Jung min menatap Hye na lagi. “apa…?”tanya Jung min

Hye na tersenyum sesaat “oppa…”panggil Hye na kemudian. Jung min diam ditempatnya, terkejut sesaat dengan panggilan yang Hye na katakan, siapa lagi sekarang… batin Jung min cemburu.

Jung min diam, menunggu. Dan betapa terkejutnya Jung min menatap seseorang dihadapannya. Kemarahan kembali menjelma di hatinya. “untuk apa kau kemari…”tanya Jung min dingin

“aku yang memintanya… dan mulai sekarang ia akan tinggal disini…”kata Hye na. Jung min terdiam, mengalihkan wajahnya menatap Hye na. Hye na tersenyum menatap Jung min.

“boleh ya…”bujuk Hye na, tersenyum manis, sebuah senyuman yang ditunggu Jung min selama ini, senyuman yang sangat Jung min rindukan. Senyuman yang Jung min berjanji akan melakukan dan menuruti apapun, jika ia dapat melihatnya lagi, dan akhirnya ia melihatnya. Sejenak Jung min terdiam di tempatnya, menatap senyum itu, dan perlahan, kemarahan Jung min menghilang. Jung min memejamkan matanya menyerah.



Seakan mengatakan ‘terserah kau saja’ kemudian pergi dari tempat itu.

“pelayan… tolong siapkan kamar tuan Jung moon…”kata Hye na

“oppa… istirahatlah…” tambah Hye na, berjalan kembali untuk menyusul Jung min yang sudah masuk kekamarnya, tetapi langkahnya terhenti “ahh… pelayan… tolong bawa En kyu kekamar… “kata Hye na lagi, menatap En kyu yang sudah tertidur lelap di sofa, setelah menemani Hye na seharian.

“ne agashi…” jawab para pelayan itu. “ehh… biar En kyu tidur bersama ku… bawa barang-barangku kekamar…”perintah Jung moon, yang kemudian, menggendong En kyu di pelukannya.

*******

Hye na melongokkan wajahnya di pintu kamar, menatap Jung min yang terlihat tengah membaca beberapa berkas di meja kerjanya.

“tok…tok…” ucap Hye na. Jung min diam, menatap pintu sesaat kemudian menyibukkan dirinya kembali dengan berkas ditangan. Hye na menghembuskan napasnya dan kemudian dengan perlahan masuk dan berjalan mendekati Jung min. Hye na menempatkan dirinya di belakang Jung min yang terlihat sangat sibuk membaca dan mencoret setiap berkas ditangannya.

Perlahan Hye na melingkarkan tangannya di leher Jung min, memeluknya, meletakkan dagunya di tengkuk Jung min “gwenchana…?”tanya Hye na tersenyum.

“hemmm…”jawab Jung min

“kau masih marah…?”tanya Hye na. Jung min hanya diam ditempatnya. Dan Hye na kembali menghembuskan napasnya pelan “karena ku… atau karena oppa…?”tanya Hye na, menggelayut manja di leher Jung min.

“keduanya…”

“kau masih marah ya karena kepergianku… apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan kemarahanmu…”tanya Hye na, menatap Jung min berharap.
Jung min diam, kemudian meletakkan berkas di tangannya ke meja “apapun akan kau lakukan…?”tanya Jung min meyakinkan

“ne… apapun… apapun untuk mnghilangkan kemarahanmu…”

“jinja…?”

“ne…apapun…”jawab Hye na meyakinkan. Jung min mengulum senyumnya, menyimpan sesuatu.

Perlahan Jung min mendekatkan wajahnya “mwo…?! Apa yang kau lakukan…?”tanya Hye na bingung, memundurkan tubuhnya hingga jauh dari jangkuan wajah Jung min. “kau akan melakukan apapun bukan…? Jadi… mendekatlah…kemarilah…”pinta Jung min. Hye na tersenyum menatap Jung min, kemudian dengan cepat dan tiba-tiba Hye na menerjang Jung min, duduk di pangkuannya dan mencium bibirnya. Lama, hanya menempel, kemudian lumatan demi lumatan mulai tercipta.

Hye na melingkarka lengannya di leher Jung min, membawanya semakin mendekat dan semakin memperdalam ciumannya. Lidah Hye na yang pertama kali masuk, menguak mulut Jung min, membelit dan meraba kasar. Jung min membuka matanya, ditatapnya Hye na, yang tengah menikmati ciumannya sendiri di selingin desahan tertahan dari bibirnya. Jung min tersenyum, dan melanjutkan kembali hisapan dan lumatanya. Membelit dan menarik lidah Hye na masuk kedalam mulutnya.

Desah napas yang memburu terdengar dari keduanya, ketika keduanya telah melepaskan ciumannya, dan kini keduanya saling menatap. Hye na tersenyum dan masih duduk di pangkuan Jung min.

“sudah lebih baik…”tanya Hye na

“ne… lebih baik… tapi belum terlalu… bagaimana caramu membujukku untuk menerima orang itu lagi…”kata Jung min.

Hye na tersenyum, wajahnya memerah “…apapun…”

“benarkah…?”tanya Jung min pelan, tersenyum

“ne… apapun… bagaimana…?”

“jinja..?”

“ne… tentu saja… apapun…”

Jung min tersenyum, menatap Hye na “benar ya… apapun… jadi… bersiaplah!!!”

“aahhhh…” Hye na berseru keras saat Jung min tiba-tiba mengangkat tubuh Hye na ke pelukannya dan membawanya ke ranjang. Keduanya saling menatap, hingga akhirnya Jung min menjatuhkan tubuh Hye na cukup keras diranjang.

“akhhhh!!!”seru Hye na, menekan perutnya

“gwenchana…?”tanya Jung min khawatir

“de… tak apa…”

“benarkah…”tanya Jung min tidak percaya yang kemudian, membuka kemeja yang dikenakan Hye na, dan membuangnya. Ditatapnya luka yang terlihat di perut Hye na. Kesedihan kembali hadir dan terpancar di wajahnya. Hye na tersenyum “gwenchana…”hibur Hye na, menenangkan, menarik wajah Jung min yang tertunduk, menghadapnya. Jung min menatap Hye na dalam, kemudian perlahan Jung min menundukkan kepalanya lagi, menatap luka di perut Hye na sesaat, kemudian menciumnya lembut. Memberikan beberapa kecupan disana. Hye na mendesah geli, mendapat perlakuan itu “apa lebih baik…?”tanya Jung min
Hye na tersenyum “ne… lebih baik… gomawo…”

“apapun sayang…”jawab Jung min, menatap Hye na dalam. Pandangan Jung min menjalar dan wajahnya terus naik, menatap wajahnya Hye na. Jung min memberikan ciuman yang dalam pada Hye na, memberikan kecupan singkat di sana, sebelum akhirnya membawa bibir Hye na lebih dalam lagi, memberikan rangsangan pada Hye na.

Hye na mendesah pelan. Ciuman Jung min terus berjalan menyusuri lekuk wajah Hye na, membuat Hye na tersenyum merasakan sensasinya.

“bagaimana… apa kau mau kita meneruskannya…?”tanya Jung min basa basi, menatap Hye na yang tertidur di bawahnya.

Hye na tersenyum geli, menatap Jung min, “sama saja bukan jika aku tidak menginginkannya, apakah kau akan menurutinya…?” ujar Hye na, melingkarkan lengannya di leher Jung min

Jung min tersenyum “ahni… aku akan tetap melakukannya…”jawab Jung min yang kemudian memeluk Hye na, membenamkan kepalanya di sana, menghirup aroma khas Hye na dan memberikan beberapa ciuman disana, yang membuat Hye na melenguh dan menggelinjang kegelian. Hye na melingkarkan lengannya di leher Jung min semakin erat dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jung min, membawanya lebih mendekat. “Hye na…” panggil Jung min, mengangkat kepalanya, menatap Hye na lembut, tersenyum.

“de…?”

“kau ingin anak bukan…?”tanya Jung min

“ne… ingin sekali… “jawab Hye na tersenyum

“kalau begitu… kita lakukan…”

Hye na tersenyum geli, memalingkan wajahnya yang memerah, malu. Hye na tersenyum geli, memalingkan wajahnya yang memerah, malu. “….kalau ada teknik baru…”tantang Hye na. Jung tersenyum mengerti kemudian tersenyum nakal, menatap Hye na.

Hanya berlangsung beberapa menit, tubuhnya keduanya kini tidak terbalut sehelai benangpun. Saling menatap dalam, menyalurkan rasa cinta mereka.

***********

End of Chapter