Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 49708 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Sebagai permulaan dari kencan *tanda kutip “bohongan”* pertama kami, my sonsaengnim a.k.a Lee Min Ho, membawaku ke sebuah restoran Perancis yang terletak di pusat kota. Aku agak gugup begitu memasuki restoran mewah itu. Para pelayan beserta para pelangannya—yang kebanyakan berasal dari orang-orang terpandang dan kaya, langsung mengerling tajam padaku. Beberapa di antaranya mengamatiku keheranan, sedangkan sebagian besar menutup mulutnya—kecikikan. Mengapa? Apalagi kalau bukan kesalahan yang terletak pada penampilanku?

Karena hanya memiliki waktu satu menit buat berganti pakaian, aku hanya berhasil menyambar celana jeans belel dan kaos oblong bergambar ‘Winnie the Pooh’ dari atas ranjang dan mengantinya dengan terburu-buru. Hasilnya? Di sini-lah aku—ditertawakan sampai pipiku memerah dadu. Orang-orang itu mengigit bibir keras-keras supaya suara ketawanya tidak terdengar berisik dalam restoran yang super tenang itu. Tapi justru perbuatan mereka membuatku menunduk semakin dalam. Sungguh memalukan berdandan tidak pada tempatnya di saat kencan pertama kita! Ok, sekali lagi dalam tanda kutip *Cuma boongan, huhhh ….

Aku manyun dengan menyedihkan dan berusaha sekuat tenaga bersembunyi dibalik postur jangkungmu.

“Sonsaengnim .. “ Aku menarik ujung jasmu.

“Mwo?” kau menoleh kearahku dengan kening berkerut.

“A .. aku .. tidak mau .. makan di sini .. ,” jawabku lirih dan memelas. “Kita ke restoran fast food aja, ya? Ya? … sonsaengnim .. ,” bujukku memasuki tahap merengek.

Kau menyilangkan tangan di depan sambil berputar cepat kearahku. “Apa kau tahu apa yang paling diinginkan seorang pria dari pacarnya?”

“Dhe?” tanyaku bingung.

Kau mendengus sambil menarik kembali ujung jas yang sudah kucel akibat remasan-remasan tanganku.

“Bersikap dewasa dan berwibawa. Bisa menempatkan diri di mana saja. Persetan dengan beribu-ribu mata yang memandangimu. Anggap mereka tidak ada. Himpun kepercayaan dirimu ... ,” ujarmu tajam dan menyengat.

Aku mundur selangkah. Pertamakalinya kulihat kau seemosi ini. Apa aku memang begitu sulit ditangani? Sampai orang setenang kau saja kewalahan?

“Tapi .. aku hanya …hanya gadis kecil berusia 16 tahun .. ,” kataku pelan-pelan—berusaha membela diri walaupun takut-takut. Aku ngeri mengobarkan api amarahmu lagi. Atau lebih tepatnya, takut membangunkan singa tidur kembali …

Tiba-tiba jitakan mendarat di batok kepalaku.

“Awas jika protes lagi!” ancam-mu dengan pandangan mendelik. “Restoran fast food tidak cocok buatku, tahu?”

“Tapi kan, restoran fast food lebih … “

Perkataanku terputus begitu melihatmu mengangkat tangan dan bersiap mendaratkan ke kepalaku lagi.

“Try again?” tanyamu sinis.

“Anyi .. “ Aku mengelengkan kepala keras-keras. “Aphoyo … “

“Meja ini, tuan dan nona .. ,” pengantar kami, seorang pelayan cewek berpostur pendek—lebih pendek dariku—yang dari tadi hanya membisu dan sesekali mengerling kearah kami, mengeluarkan suaranya sambil menunjukkan meja yang telah dipesan olehmu. Mungkin karena kelamaan membisu, aku merasa seperti mencium bau mulutnya weeekkk …

Kau berjalan ke salah satu kursi yang mengelilingi meja, kemudian menariknya keluar buatku. Kau menyilahkanku duduk di situ dengan gerakan pelan. Wajahku langsung memerah tomat. Aku malu diperlukan bak seorang tuan putri olehmu.

“Ghamsamida .. ,” ucapku pelan dan hampir tak terdengar.

Kau tersenyum. “You’re welcome .. “

Oh—god, ternyata kau mendengarnya! *Surprise ..

Kau menjatuhkan diri di kursi tepat di depanku dan mulai menghayati daftar menu yang tadi disodorkan pelayan tadi. Aku juga mulai mempelototi tulisan-tulisan yang berseliweran—saking tak mengertinya, bahasa Perancis sih *dead—kabur di depanku. Aku merasakan bintang-bintang kecil mulai berputaran di atas kepalaku.

“Tahu apa yang kusuka?”

Pertanyaanmu menghentakku. “Dhe?” secepat kilat daftar menu yang sudah ingin kubuang sejak tadi kugeser ke samping sehingga wajahmu terlihat jelas olehku sekarang. Ajaib, pikiranku langsung segar!

“Tahu apa kesukaanku?” kau meletakkan daftar tebal di tangan ke atas meja. Tanganmu saling melipat dan bertumpu di atas meja sambil mengamatiku.

“Daging .. ,” tebakku perlahan-perlahan.

Tokkk, jitakan yang kuterima …

“Akhh … ,” aku meringgis kesakitan sambil mengelus-ngelus jidatku yang meninggalkan bekas merah. “Sonsaengnim .. , apa kesalahanku?” Tak terima aku diperlakukan begini.

Mengapa selalu menjitak dan mengetok kepala dan jidatku? Come on—aku bukan anak TK lagi! Jika ingin marah, atau ada sesuatu yang tidak berkenan, katakan padaku. Jangan bisanya hanya mengetok dan menjitak melulu! Huhh!! Tapi apa aku berani mengutarakan semua keberatan-keberatan ini? Tentu saja tidak! Seperti julukan yang melekat pada diriku—aku si pengecut kecil. Aku hanya bisa cemberut dengan mulut komat-kamit seperti membaca mantra.

“Daging katamu?” kau mendelik. “Memangnya di dunia ini hanya ada satu jenis daging?”

“Oh--,” aku membuka mulut lebar-lebar.

“Oh--,” kau meniruku sambil tersenyum tipis—menyengir tepatnya. “So?”

Bola mataku berputar ke atas—berpikir keras. Beberapa detik kemudian aku menjawab takut-takut. “Daging .. sapi … “

Kau tersenyum. Perlahan meraih kembali daftar menu yang tadi diletakkan di atas meja dan menyelusuri menunya satu-persatu.

“Apa yang kau mau?” tanyamu beberapa saat kemudian.

Aku mengangkat kepala yang sudah puyeng-puyeng oleh tulisan-tulisan Perancis dalam menu.

“Ter … “

Perkataanku terputus oleh daftar menu yang tiba-tiba kau sorongkan dengan cepat kearahku.

“Jangan ada kata ‘Terserah’!” selamu tajam.

“Dhe?” sekali lagi tampangku seperti orang bego. “Ghentwee—weeyo?” kepalaku sedikit miring ke samping.

Kau menghempaskan daftar menu ke atas meja.

“Seorang pria paling benci dipaksa memikirkan sesuatu yang tidak penting. Apa kau suka ini? Atau suka itu? Mau makanan ini atau makanan itu?” kau menghembuskan nafas keras-keras.

Kepalaku semakin miring ke samping. Mataku berkejap-kejap—makin pusing dengan ajaran-ajaranmu yang kedengaran sangat dalam itu. Apa kau berbakat jadi filsafat sejak lahir ya?

“Maksudku .. ,” telunjukmu mengarah ke wajahku dan digerak-gerakkan. “Seorang pria tidak suka jika pacarnya tidak punya pendirian. Apalagi jika kepala sudah sumpek dan hanya ingin melepaskan lelah dengan pujaan hatinya, paling anti mendengar kata ‘Terserah’. Kalau sudah begitu, dia dipaksa untuk berpikir. Memikirkan sesuatu yang tidak penting. Memakai otak padahal dia ingin bersantai dan dimanja oleh kekasihnya. Yang lebih tepat tuh si cewek yang menyiapkan segalanya buat cowok. Araso?”

Aku mengangguk-angguk berkali-kali—berlagak mengerti padahal dalam hati aku tidak begitu mengerti. Namun tidak ada salahnya aku berlagak pintar selama hal itu memuaskanmu, kan? Tapi alismu berkerut perlahan, seperti mampu membaca pikiranku—memaksaku menundukkan kepala sedalam-dalamnya.

“Ah—sudahlah! Belajarnya pelan-pelan saja .. “

Aku mendengarmu berkata.

“Malam ini kau makan dengan menu yang sama denganku saja .. “

Lanjutmu yang segera membuatku mengangkat kepala kegirangan.

“Beef Stroganoff—Fillet daging sapi dengan saus krim dan homemade Spatzle dan pencuci mulut atau dessertnya, Mousse au chocolat dan fondant au chocolat—pencuci mulut ala Perancis dengan isi coklat meleleh. Setuju?”

“NE!!” Aku berteriak keras sambil mengangkat garpu dan pisau ke atas.

Berpuluh pasang mata langsung melotot kearahku. Tahu keceplosan, aku menutup mata rapat-rapat sambil mengangkat tangan memohon ampun.

“Miane, sonsaengnim … Lain kali nggak berani lagi … “

Aku memicingkan sebelah mata dan melihatmu menarik kembali tangan yang tadi bersiap di daratkan ke kepalaku. Aku langsung menghembuskan nafas lega dan tersenyum lebar—memperlihatkan sepasang lesung pipiku yang sangat dalam.

“Masih ada lain kali?” kau mendengus.

“Anyi .. ,” aku mengangkat dua jari ke atas. “Promise .. “

Tiba-tiba kau mencolek daguku. “Dasar, little coward!”

Kemudian kau mengangkat tangan dan melambai memanggil pelayan buat mencatat pesanan-pesanan yang sudah ditetapkan. Aku mencuri pandang kearahmu. Tanpa sadar aku menunduk dan tersenyum perlahan.

Ini kencan pertama kita! Ya, kencan pertama kita. Walaupun tidak sempurna—dengan adanya perselihan-perselihan kecil tadi, dan hanya bohongan, aku cukup puas dan bahagia. Aku ingin teriak pada dunia—paling tidak pada Soeun, MIMPIKU SUDAH TERWUJUD!! AKU BUKAN SEORANG PEMIMPI LAGI!! MINHO SUNBAE ADALAH PACARKU SEKARANG—walaupun hanya pacar gadungan,, siapa yang peduli wekkk …


******



“Habis ini kita pergi nonton ..,” katamu sambil mengelap mulut dengan serbet.

“Mwo?”

Prangg! Garpu dalam genggamanku jatuh ke piring dan menimbulkan suara berisik. Kau langsung melotot kearahku.

“Nonton?” tanyaku tanpa mempedulikan bola matamu yang hampir meloncat keluar dari rongganya.

“Ne .. ,” sahutmu keras. “Ada apa? Tidak suka?”

“Bukan!” aku mengeleng keras-keras. “Bukan begitu!”

“Jadi, … diterima?”

“Ne!” aku mengangguk keras-keras—lebih keras dari gelengan tadi.

“Ok, kalau begitu cepat selesaikan makannya. Kau lambat sekali .. “

Tanpa disuruh untuk keduakalinya, aku menghabiskan sisa-sisa makanan dalam piring dengan gerakan kilat—sampai-sampai matamu terbelalak lebar melihat kegilaanku.

“A .. apa cukup cepat?” tanyaku tersengal-sengal.

Kau menyodorkan segelas air padaku.

“Kau dikejar setan ya? Buat apa seterburu-buru itu? Aku memintamu cepat, bukan kilat! Apa jadinya kalau sampai tersedak?” kau mengerutu terus-menerus.

Aku mengambil gelas dari tanganmu dan meneguk air dari dalamnya sampai habis.

“Aku tidak apa-apa .. ,” jawabku sambil menghembuskan nafas keras-keras. “Bisa nonton sekarang!” aku mengangkat tangan keatas kemudian mengayunkannya keras-keras ke belakang. “Yess!!”

Kau tertawa. “Demi nonton?”

“Ne!” sahutku sambil mencondongkan badan ke depan. “Sonsaengnim bukannya mau mengingkar janji, kan?” tanyaku harap-harap cemas.

Kau menekan cuping hidungku. Yang secara reflek membuatku memejamkan mata. “Tentu saja tidak. Sejak kapan sonsaengnim membohongimu?”

Aku tahu kau tidak akan membohongiku! ujarku dalam hati masih dengan sepasang mata terpejam.


*****



“Tahu apa yang biasa ditonton sepasang muda-mudi yang sedang pacaran?” tanyamu sambil mengamati poster-poster raksasa yang terpajang di dinding begitu kita berada di dalam gedung bioskop.

Aku mengeleng lambat-lambat. Kau mengalihkan perhatian padaku.

“Film horror .. ,” katamu sambil tersenyum tipis.

Aku bergidik. “Weeyo?”

“Karena .. ,” kau mengelus-ngelus dagu sambil mengulum senyum. “.. para pria sadar, dengan berbuat begitu pacar-pacarnya akan memeluk atau merangkulnya kalau sedang ketakutan.” Tiba-tiba kepalamu condong ke arahku. “Bisa dikatakan, mencari kesempatan dalam kesempitan .. “

“Se .. seketerlaluan itu .. ?” tanyaku tersendat-sendat.

“Keterlaluan?” alismu berkenyit. “Biasanya para wanita menyukainya .. ,” lanjutmu adem.

“Menyukainya?” ulangku perlahan. “A … apa sonsaengnim juga .. berniat .. nonton film .. horror?” aku mengigit bibir keras-keras begitu melontarkan pertanyaan ini.

“Tidak!” jawabmu cepat—membuatku segera menatapmu lekat-lekat. “Jangan memandangiku seperti itu!” kau melarang dengan mata melebar. “Aku tak mau mengambil resiko diterkam akibat ketakutan-ketakutanmu yang tak wajar itu. Kau—si pengecut kecil! Sudah bukan sekali aku mengalaminya .. jadi … ,” kau mengangkat tangan tanda menyerah.

“Sonsaengnim .. ,” desahku dengan bibir manyun sesenti. “Aku tidak seperti itu .. ,” protesku dengan nada sumbang.

“O—kau seperti itu, pengecut kecil .. ,” sambutmu tak mau kalah.

“Sonsaengnim .. “

“Kita nonton film musical saja .. ,” katamu sambil melangkah ke depan, ke barisan loket yang menjual tiket, tanpa mempedulikan tampang memelasku.

“Weeyo?” aku mengikutimu dari belakang.

“Apa kau bisa menanyakan pertanyaan lain selain pertanyaan itu?” tanyamu tanpa berpaling padaku.

Aku langsung membungkam sambil memajukan bibir bawah—cemberut.


*******


Aku duduk di sebelahmu sambil sesekali mencuri pandang. Alunan musik klasik berulangkali diputar dari film yang kita tonton. Tapi aku tidak begitu konsentrasi karna yang kuperhatikan hanya dirimu. Beruntung kau begitu berpusat pada film mellow di depan sehingga tidak menyadari atau mengetahui tingkah-lakuku. Atau .. mungkinkah kau hanya pura-pura saja? Berpikir begini, membuatku mengigit bibir keras-keras.

Aku melirik secara diam-diam. Tanganmu menumpu dagu sementara di saat yang lain telunjukmu menyentuh-nyentuh bibir yang bergerak-gerak mengikuti alunan musik klasik dari film yang diputar. Pesonamu menguncangku lagi. Sumpah mati, aku paling klepek-klepek melihat ekspresimu seperti itu—tentu saja selain gayamu waktu menikmati secangkir cappuccino di sore hari.

Mengapa ada pria semenarik kau? dan mengapa mesti menyampiriku sehingga membuat duniaku terguncang hebat seperti sekarang ini?


********



Aku mengimbangi langkahmu keluar dari bioskop.

“Tahu mengapa aku memilih film musical?” kau menoleh padaku.

Aku mengeleng perlahan. “Anyi … “

“Karena aku suka musik .. ,” jawabmu sederhana.

Aku mengangguk sambil menjulurkan lidah. Kalau itu, aku juga tahu!

“Tahu kenapa aku suka musik klasik?”

Nah, jawaban dari pertanyaan ini yang ingin kuketahui! Sejak semula aku sudah bingung dan heran, mengapa pria semuda dan semenarik kau menyukai musik klasik yang biasanya digemari para ajushi.

“Anyi .. “

Kau menghentikan langkah dan menghadapiku. “Karena .. omma selalu memutar musik jenis itu buatku sejak aku masih bayi .. “

“O—,” mulutku terbuka membentuk huruf ‘O’. Aku mengangguk-angguk bijak. Akhirnya jawaban dari keanehanmu yang satu itu terjawab juga!, aku bersorak dalam hati.

“Tahu mengapa aku menjelaskannya padamu?” Kau memutar tubuh dan melangkah lagi.

Aku berlari-lari kecil di belakangmu. “Anyi .. “ Kira-kira sudah berapa kali aku mengeluarkan jawaban itu ya?

“Sebuah hubungan agar tetap langeng dan terpelihara keharmonisannya yang paling diperlukan adalah keterus-terangan yang didasari kepercayaan.”

Apa ini berarti hubungan kita sudah memasuki tahap yang lebih tinggi? Bola mataku berputar ke atas.

“Kau mengerti?” suaramu terdengar lagi.

Aku mengangguk. “Ne!” jawabku keras dan tegas.

Kau tak menoleh dan memandangiku dengan sinar mata menyelidik seperti biasanya. Apa kau benar-benar bisa membaca pikiranku? Tahu bahwa aku tidak berdusta sekarang ini? Jujur, mulai saat ini aku agak ngeri dan segan padamu. Kau seperti sebuah kaca pembesar, atau .. paling tidak, sebuah teropong yang mampu menembus apa yang tak terlihat oleh kasat mata.  

Kau tak mengeluarkan suara lagi. Selama beberapa menit ke depan, kebisuan tercipta di antara kita. Aku mengikutimu menuju tempat parkir yang berada beberapa puluh meter dari bioskop tadi. Aku menatap pundak dan punggungmu yang bergerak-gerak seiring gerak tubuh. Pundak itu sangat lebar, dan posturmu sungguh tinggi dan proporsional.

Aku mendesah. Apa ini kencan benaran? Aku mulai ragu. Perkataanmu yang menunjukkan ke arah kemungkinan itu tadi, perlahan mengabur. Mengapa kau tidak mengandeng tanganku selayaknya sepasang kekasih? Mungkin aku sudah berharap lebih!

Aku memajukan bibir ke depan sambil mengikuti bayanganmu yang jatuh ke jalan akibat pantulan sinar buram dari lampu-lampu jalanan. Tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang yang membuatku mengulum senyum. Perlahan aku menyamping sedikit dan mengatur posisiku sampai bayangan kepalaku menyandar ke bayangan pundakmu.

Aku tersenyum simpul. Paling tidak, aku sudah merasakan kehangatan pundakmu, walaupun cuma bayangan! Siapa tahu kelak, di kemudian hari, harapan ini bisa jadi kenyataan? Ya, siapa yang bisa meramalkan masa depan? Iya, kan?


******
« Last Edit: November 06, 2010, 02:40:11 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun