[size=12
Chapter 5
“Apakah seluruh barang bawaan dan koper Doryonim sudah siap?”
Jin-ho mengangguk. “Ne… tolong panggilkan Pelayan Min kesini untuk meletakkan barangku di mobil ya, Hye-na…” pinta Jin-ho kepada Hye-na, pelayan pribadinya yang baru.
Kemarin, ketika Jin-ho pulang dari General Clinic, ia mendapatkan dua berita penting. Pertama, ia, Jeong-wo, Yook-jae, dan Sae-ryun akan pergi ke Himeji (Jepang), kota tempat tinggal Nenek Song berada. Lalu yang kedua adalah, Pelayan Na atau yang sering dipanggil Hye-na oleh kedua tuan muda Song, mulai menjadi pelayan pribadi Jin-ho selama Jin-ho tinggal di Song Mansion bersama ibunya. Awalnya Jeong-wo merasa keberatan dan tidak setuju karena ia sudah merasa nyaman bersama Hye-na. Tetapi, Yook-jae tidak mengindahkannya. Menurutnya, Jin-ho lebih membutuhkan Hye-na daripada Jeong-wo yang sudah lama tinggal di Song Mansion. Oleh karena itu, kini Hye-na menjadi pelayan pribadi Jin-ho sejak Jin-ho dan ibunya pindah dari Ha Na House ke Song Mansion.
Hye-na mengangguk, lalu keluar dari kamar Jin-ho yang sudah rapi dan bersih itu. Setelah Pelayan Min datang menemui Jin-ho dan meletakkan semua barang milik Jin-ho di dalam mobil, Jin-ho dan Hye-na lalu keluar dari rumah utama Song Mansion untuk berkumpul dengan keluarga yang lain di gazebo samping rumah.
“Selamat pagi, Doryonim…” sapa salah seorang pelayan Song Mansion, saat Jin-ho berjalan menaiki tangga menuju gazebo.
“Ne…” balasnya.
Jin-ho lalu duduk di sebelah Eun-hye, sementara itu Hye-na berdiri di belakang Jin-ho sambil meletakkan kedua tangannya di depan dengan sopan.
“Baiklah… karena semuanya sudah hadir, ayo kita mulai sarapannya…” kata Yook-jae, sekaligus menjadi perintah untuk Pelayan Han dan pelayan di bawahnya untuk menyajikan sarapan di hari itu.
Setelah makanan dan minuman tersaji di meja makan, Keluarga Song dan Sae-ryun mulai makan dengan tenang.
“Apakah kau akan tinggal di rumah ibu dalam waktu yang lama, sayang?” tanya Joo-young pada Yook-jae, dengan nada manja khas yang dimilikinya.
“Ne… tidak terlalu lama. Paling hanya 1 minggu…” jawab Yook-jae.
“Mwo? Tidakkah itu terlalu lama, sayang?”
Yook-jae menghentikan makannya. “Tidak… itu tidak lama. Tinggal di rumah ibu sangat menyenangkan. Jin-ho dan Jeong-wo saja tahu tentang hal itu…” kilah Yook-jae, tetap teguh pada pendiriannya.
Joo-young akhirnya diam dan menurut. Ia tidak lagi membantah kata-kata Yook-jae yang memang apabila sudah dikatakan A, maka akan susah untuk dirubah menjadi B. Pendirian dan sikap tegas telah menjadi ciri khas yang tidak bisa dipisahkan dari seorang Song Yook-jae lagi.
“Oh ya, Sae-ryun, apakah kau sudah pernah ke Jepang sebelumnya?” tanya Yook-jae, lalu kembali melanjutkan sarapannya.
“Sudah, paman. Bukankah dulu aku, eomma dan appa sudah pernah mengunjungi villa paman di Jepang? Paman lupa, ya?”
Yook-jae mengernyitkan dahinya sebentar, menggali pikirannya kembali ke masa dulu. “Oh iya… aku lupa! Dulu… dulu sekali… benarkan?” seru Yook-jae, ingat ketika Sae-ryun dulu pernah mengunjunginya di Jepang.
“Ne…” Sae-ryun mengangguk dengan semangat. “Dulu… sangat dulu… dulu ketika sakura tengah bermekaran dengan sangat indahnya…. Dan Jeong-wo oppa pasti mengerti apa maksudku, benarkan oppa?”
Sae-ryun mengalihkan pandangannya dari Yook-jae kepada Jeong-wo yang duduk di sebelahnya. Sae-ryun tersenyum. Dan Jeong-wo yang melihat Sae-ryun bahagia seperti itu, hanya mengangguk saja meskipun sebenarnya tidak mengerti apa maksud dari perkataan Sae-ryun tadi.
Jin-ho melirik ke arah Sae-ryun sebentar. Ia seperti menangkap maksud dari perkataan Sae-ryun tadi dengan baik. Tetapi, Jin-ho segera melanjutkan makannya dan tidak mempedulikan perasaan hatinya yang sangat penasaran dengan ucapan-ucapan Sae-ryun yang terdengar familiar di telinganya.
“Dan aku senang, karena sekarang bisa berkunjung ke rumah Nenek Jeong-wo oppa. Semoga aku bisa membantu, ya,” lanjut Sae-ryun, dengan mata yang bercahaya.
Yook-jae mengangguk. “Benar… dan aku harap, kau akan senang ketika berada disana, Sae-ryun…”
“Ne… aku harap juga begitu, paman,” kata Sae-ryun, dengan tersenyum manis.
15 menit telah berlalu. Seluruh piring kotor sudah diangkat dan dibawa ke dapur. Dan kini, meja itu sudah terisi kembali dengan kue-kue kecil dan jus untuk penutup.
“Aku akan ke mobil duluan. Jika kalian sudah selesai, cepat kesana agar tidak banyak membuang waktu…” kata Yook-jae, lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan gazebo tempat Keluarga Song sedang sarapan.
Beberapa menit kemudian, Jin-ho, Jeong-wo, Sae-ryun, dan Hye-na sudah berkumpul di depan mobil yang akan membawa mereka ke bandara. Setelah berpamitan kepada orang rumah yang tinggal, mereka pun berangkat ke bandara setelah mengecek bahwa tidak ada barang yang ketinggalan.
Himeji, Jepang…
“Doryonim dan agashi pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh kan?”
Pelayan Nam, kepala pelayan rumah Nenek Song, menyambut kedatangan Yook-jae dan rombongannya dengan hangat dan sopan. Setelah mereka tiba di ruang tengah, tampaklah seorang wanita tua berambut coklat yang sedang duduk di kursi goyang menghadap ke arah jendela di depannya. Wanita tua itu terlihat sedang termenung, memandang langit melalui jendela seperti mencari sesuatu.
“Jin-ho ya… kau sudah datang?”
Jin-ho yang dipanggil seperti itu, langsung tersentak kaget. Mereka belum mengatakan apa-apa. Tetapi entah mengapa, neneknya itu mengetahui bahwa ia sedang berdiri di hadapannya sekarang.
“Ne… halmonie….” jawab Jin-ho, dengan pelan.
Perlahan, Jin-ho berjalan mendekati Nenek Song yang masih duduk dengan tersenyum. Ia senang, kini ia bisa melihat dan bertemu dengan nenek kesayangannya itu. Dan setelah sampai di depan neneknya, Jin-ho lalu berjongkok dan memegang tangan neneknya dengan hangat.
“Halmonie…”
“Kau tahu, seperti biasa, sakura-sakura itu memberitahuku bahwa kau akan datang…” ucap Nenek Song, lalu memandang Jin-ho di depannya dengan penuh kasih. “Dan aku senang, karena kau masih ingat untuk menjengukku disini…”
Jin-ho kembali menyunggingkan senyum di bibirnya dengan tulus. “Dan aku juga senang, karena bunga-bunga sakura itu tidak pernah lupa untuk mengingatkanku bahwa halmonie selalu menungguku disini…” kata Jin-ho, sambil memeluk neneknya itu dengan pelan. “Apakah halmonie baik-baik saja?”
Nenek Song mengangguk, tetapi tidak menjawab. Jin-ho yang melihat neneknya diam saja itu, akhirnya melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangannya kepada Pelayan Nam yang masih berdiri di belakangnya.
“Pelayan Nam, apakah halmonie baik-baik saja?” tanya Jin-ho, dengan tatapan tajam. Jin-ho memang sengaja memasang tampang serius seperti itu kepada Pelayan Nam, agar pelayan setia neneknya itu dapat berkata jujur dan tidak mengikuti perkataan neneknya agar berbohong kepadanya seperti dulu ketika ia masih kecil.
Pelayan Nam bergidik sedikit ngeri. “Tekanan darah sedikit turun menjelang musim tumbuh bunga Sakura tiba, doryonim. Tetapi, sekarang nyonya tidak apa-apa…” jawab Pelayan Nam, setelah menghembuskan napas panjang agar tenang. “Dan saya telah memberitahu nyonya bahwa doryonim dan agashi akan datang hari ini, tetapi nyonya tidak mau percaya dan malah menyuruh saya untuk mengantarnya keluar dan halmonie belum minum obat sampai sekarang….”
Jin-ho mendengar penjelasan dari Pelayan Nam dengan seksama. Ia lalu melihat neneknya lagi. “Benar-benar neneknya Song Jin-ho, ya…” seru Jin-ho, dengan tersenyum manis. Sementara itu, Nenek Song yang mendengar ucapan dari cucunya tadi juga ikut tersenyum dan mencubit kecil pinggang Jin-ho. “Jangan katakan itu lagi!” perintah Nenek Song, menggoda Jin-ho, pertanda tidak serius.
Yook-jae ikut tersenyum melihat keakraban yang terjalin antara Jin-ho dan ibunya itu. Sae-ryun yang masih berdiri juga tersenyum saat matanya menangkap cubitan kecil dari Nenek Song kepada Jin-ho. Dan ketika Sae-ryun mengalihkan pandangannya kepada Jeong-wo yang berdiri tegak di sampingnya, Sae-ryun dapat melihat… bahwa Jeong-wo menatap pemandangan itu dengan tajam… dan seperti tidak suka….
“Oppa… sekarang kita akan kemana?” tanya Sae-ryun pada Jeong-woo.
Jeong-woo terdiam, berpura-pura berpikir. “Hm… bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman saja? Bukankah tadi kau ingin melihat bunga sakura?” jawab Jeong-woo, sambil menatap Sae-ryun yang sedang berjalan di sebelahnya.
Sae-ryun langsung mengangguk senang. Dengan refleks, Sae-ryun memeluk tubuh Jeong-woo dari samping dengan erat. “Ne. Gomapta, oppa. Oppa memang sangat baik padaku.”
Jeong-woo tertegun melihat tingkah laku Sae-ryun padanya yang begitu tiba-tiba. Ia sungguh merasa menyesal karena telah berbohong pada Sae-ryun selama ini. Ia tidak menyukainya. Lebih tepatnya, ia memang sudah tidak menyukai gadis itu sejak awal pertunangan ini. Tetapi, ia tidak bisa menolak. Memang, ini bukanlah suatu perjodohan. Jeong-woo sendirilah yang telah mengucapkan cinta dan meminta Sae-ryun untuk menjadi partner hidupnya seumur hidup. Namun, itu tidak benar-benar dari hatinya. Itu karena permintaan ibunya. Dan Jeong-woo tidak pernah bisa dan tidak pernah mau untuk menolak semua perintah dan permintaan dari ibunya. Ia menyayangi ibunya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin dibahagiakannya kecuali ibunya. Meskipun pada akhirnya, kini ia harus semakin berusaha untuk membunuh perasaannya sendiri pada Hye-na, gadis yang sebenarnya mampu membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Sae-ryun melepaskan pelukannya dari Jeong-woo. Ia lalu menatap Jeong-woo dan tersenyum. Jeong-woo yang melihat Sae-ryun seperti itu, juga ikut tersenyum meskipun agak sedikit terpaksa.
Di taman sakura…
Sae-ryun langsung terkagum-kagum melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang. Begitu banyak pohon bunga sakura yang berdiri dan tumbuh tegak disana. Sae-ryun menapaki jalan berbatu yang tertutup bunga sakura dan daun-daun kering itu dengan perlahan. Sementara itu, Jeong-woo masih mengikutinya dengan terus berjalan di sebelahnya.
“Oppa… ini indah sekali! Aku tidak mengira ada pemandangan seindah ini…” gumam Sae-ryun pelan, tetapi masih terdengar oleh Jeong-woo.
Jeong-woo mengangguk senang. Ia juga menikmati keindahan yang ditunjukkan oleh puluhan bunga di depannya itu. Meskipun tidak terlalu suka pada sakura, tetapi Jeong-woo tetap mengakui bahwa sakura memang indah. Dan memang mampu menarik perhatian.
Sae-ryun mendekati salah satu pohon di dekatnya. “Sayang sekali ya, dua minggu lagi mereka akan gugur. Sungguh, aku ingin sekali melihat mereka tetap hidup dan selalu tumbuh untuk mewarnai dunia. Bukankah oppa juga ingin begitu?” kata Sae-ryun, lalu meminta jawaban “iya” dari mulut Jeong-woo.
Namun sayang, apa yang diharapkan oleh Sae-ryun tidak didapatkannya sekarang. Jeong-wo hanya mengangguk tanpa menampakkan ekspresi wajah yang begitu kagum pada bunga sakura. Hanya sebuah anggukan dan setelah itu sudah.
Sae-ryun menatap Jeong-woo dengan kecewa. Mengapa hanya begitu saja? Tidakkah ia ingin mengatakan sesuatu seperti dulu? Seperti dulu ketika mereka berdua yang masih kecil melihat bunga sakura bersama-sama? Bukankah dulu ia sangat menyukai bunga sakura? Bahkan ketika itu, aku bisa melihat dari matanya bahwa ia begitu berharap pada bunga sakura agar tidak gugur dan terus menemaninya sampai mati. Tetapi, mengapa sekarang ia biasa saja ketika melihat ini semua? Mengapa ia tidak menampakkan mata yang indah dan teduh seperti dulu?
Sae-ryun masih berkutat di dalam pikiran-pikirannya seorang diri. Jeong-woo yang melihat Sae-ryun diam saja, akhirnya menyentuh pundak gadis cantik itu dengan pelan. Dan jelas, Sae-ryun tersentak kaget meskipun tidak teriak.
“Kau kenapa? Kau baik-baik saja kan?” tanya Jeong-woo, sedikit khawatir pada Sae-ryun.
Sae-ryun langsung menggeleng dengan kuat. “Aniyo… aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku malah berpikir bahwa oppa yang sedikit kenapa-napa…” jawab Sae-ryun, pelan.
Jeong-woo mengernyitkan dahinya. “Aku? Aku kenapa-napa? Memangnya aku terlihat tidak baik, ya?” tanya Jeong-woo, bingung pada pernyataan Sae-ryun tadi.
Sae-ryun melihat Jeong-woo sejenak. Ia menatapnya dengan tajam. Karena tidak juga menemukan apa yang ia cari, Sae-ryun akhirnya menyerah dan langsung mengalihkan pandangannya. “Hm… oppa terlihat baik-baik saja, kok! Aku hanya salah lihat saja tadi. Aku kira mata oppa sakit, tetapi ternyata tidak. Maaf ya oppa, karena telah sedikit mencemaskanmu,” ucap Sae-ryun, berusaha tersenyum meski sebenarnya tidak ingin.
“Ayo jalan lagi! Kau pasti ingin melihat pohon sakura yang lebih indah kan?” ajak Jeong-woo, lalu menggandeng tangan Sae-ryun.
Sae-ryun masih belum bergerak. Ia tidak mengikuti langkah kaki Jeong-woo yang mulai berjalan pergi dari tempat itu. Jeong-woo lalu melihat Sae-ryun di belakangnya. Ia menatap gadis itu kembali dengan dahi yang berkerut.
“Apakah masih ada yang janggal?” tanya Jeong-woo, berusaha mengerti perasaan hati Sae-ryun yang kelihatannya agak sedikit lain hari ini.
Sae-ryun kembali menatap Jeong-woo. “Hm… apakah oppa sebenarnya suka pada bunga sakura?” tanya Sae-ryun, dengan sedikit ragu tetapi sangat ingin tahu.
Jeong-woo kaget mendengar pertanyaan Sae-ryun. Ya, dulu ketika ia menyatakan cinta pada gadis itu, gadis itu menerimanya. Dan saat ditanya mengapa gadis itu menerimanya, Jeong-woo tidak mengerti apa maksud jawaban yang diutarakannya. Gadis itu bilang, bahwa ia suka pada sosok Jeong-woo yang suka pada bunga sakura. Dan gadis itu berharap agar Jeong-woo mau menjadikannya sebagai pengganti bunga-bunga sakura yang hanya bertahan selama dua minggu itu di hati dan hidupnya. Meskipun tidak mengerti apa arti dari jawaban Sae-ryun, Jeong-woo hanya mengiyakan saja. Dan ternyata, satu hal yang membuat Jeong-woo tidak mengerti itu (bunga sakura), masih selalu diingat oleh Sae-ryun dan sangat penting untuk gadis itu. Dan itu terbukti dengan pertanyaannya pada hari ini. Pertanyaan yang membuatnya kembali harus berbohong entah untuk yang keberapa kali.
Jeong-woo menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya agar kembali kuat untuk berbuat hal yang salah. Ia lalu melihat Sae-ryun. “Ne. Aku suka bunga sakura. Aku sangat menyukainya. Meskipun tidak terlalu terlihat, tetapi aku menyukainya. Sama ketika aku melihatmu sebagai bunga sakuraku untuk selamanya…” jawab Jeong-woo, pelan.
Sae-ryun tertegun mendengar jawaban dari tunangannya. Ia senang, sekaligus ragu. Jeong-woo yang masih melihat keraguan dari mata Sae-ryun akhirnya memeluknya untuk meyakinkannya. Sae-ryun terkejut, namun kemudian tersenyum.
“Aku harap, oppa tidak berbohong. Aku benar-benar menyukai oppa. Dan aku tidak ingin oppa menjadi orang lain yang tidak kukenal…” ucap Sae-ryun dengan suara yang kecil.
Jeong-woo hanya bisa diam ketika mendengar permintaan Sae-ryun padanya. Ia tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Ia hanya berbohong. Dan Sae-ryun tidak tahu itu. Ia melakukan itu karena terpaksa. Dan untuk itu ia merasa bodoh. Ia memberikan harapan dan cinta yang palsu pada Sae-ryun. Dan ia meminta maaf karena itu. Meski hanya bisa mengatakan itu di dalam hati, tetapi Jeong-woo benar-benar ingin Sae-ryun tahu tentang kejujurannya…
“Kau sedang membaca apa? Kelihatannya serius sekali.”
Jin-ho menghampiri Hye-na yang sedang duduk dengan tenang di teras depan. Ia mengintip buku yang sedang dibaca oleh Hye-na. Ia kemudian tersenyum.
“Kau sangat suka novel romantis, ya?” tanya Jin-ho.
“Hm… ne…” jawab Hye-na, gugup.
Jin-ho kembali tersenyum. “Aku suka kau, Hye-na. Kau gadis yang pintar. Kau juga suka membaca. Jarang sekali lho ada gadis sepertimu!” kata Jin-ho, memuji Hye-na.
Hye-na langsung tersipu malu. Ia tidak menyangka jika pemuda yang disukainya itu akan berkata seperti ini padanya. Ini adalah sebuah keajaiban untuknya.
“Hm…”
Jin-ho tidak bisa menahan keinginannya untuk tertawa lagi. Ia lalu mengelus-elus kepala Hye-na dengan lembut. “Aku hanya bercanda. Aku suka kau sebagai seorang teman. Lagipula, aku juga suka kau karena kau adalah seorang teman yang baik dan pintar. Aku tidak benar-benar serius mengatakannya, Na Hye-na! Kau tidak perlu merasa malu seperti itu…” kata Jin-ho lagi, ketika ia melihat wajah Hye-na yang sudah sepenuhnya merah padam itu.
Hye-na mengelus-elus dadanya dengan pelan. Jika kau benar-benar menyukaiku juga tidak apa-apa, kok. Aku malah senang. Karena aku juga suka kau. Tetapi, itu tidak hanya menjadi sebuah mimpi saja kan? Meskipun sekarang kau menganggapku sebagai teman, tetapi besok kau bisa melindungiku sebagai seorang wanita kan?, tanya Hye-na di dalam hati.
Jin-ho kembali tertawa melihat tingkah laku Hye-na yang mengelus-elus dadanya seperti itu. Jin-ho lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tanpa sengaja, matanya terarah pada sebuah pohon sakura favoritnya. Ia lalu berjalan mendekati pohon itu. Dengan sedikit menjinjit, ia memetik sekuntum bunga sakura. Diciuminya bau harum bunga itu dengan pelan. Sejenak, ia dapat merasakan kedamaian di hatinya.
“Doryonim suka sekali pada bunga sakura, ya?” tanya Hye-na, memunculkan wajahnya di samping Jin-ho.
Jin-ho mengalihkan pandangannya yang tadi terpejam kepada Hye-na. Ia tersenyum. Ditatapnya bunga sakura di tangannya dan ia pun menjawab, “ne... aku sangat suka bunga sakura. Sakura itu keren. Mungkin akan terasa aneh jika seorang pemuda menyukai bunga. Tetapi, aku tidak bisa berpaling dari pesonanya. Ia benar-benar indah. Meskipun, ia tidak lebih indah daripada sakura rahasiaku…”
Hye-na menatap Jin-ho dengan seksama. “Sakura rahasiaku? Maksud doryonim, seorang gadis yang doryonim suka?” tanya Hye-na, penasaran.
Jin-ho tersenyum manis. “Hm… ne. Sakura rahasiaku itu adalah gadis yang kusuka. Aku kira, sakura adalah satu-satunya hal yang paling indah dan menyejukkan di dunia ini. Tetapi ternyata tidak. Setelah bertemu dengannya, aku merasa itu salah. Sakura rahasiaku ini… lebih indah dan menyejukkan. Dan yang jelas, lebih unik. Meskipun aku tidak tahu dimana ia sekarang, tetapi aku yakin akan bertemu dengannya suatu saat nanti… entah kapan…”
Hye-na menatap Jin-ho dengan sedikit cemburu. Ia tidak suka jika pemuda itu memuji gadis lain. Dan meskipun Hye-na tahu bahwa Jin-ho sudah menyukai orang lain, tetapi ia tidak akan menyerah. Bisa saja kan, gadis itu kembali atau… tidak akan hadir lagi?
Jin-ho lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Hye-na. “Bisakah kau mengambilkanku sebuah minuman? Aku haus sekali…” pinta Jin-ho, yang langsung diikuti oleh anggukan dan langkah kaki Hye-na.
Sepeninggalnya Hye-na yang berjalan ke dapur, Jin-ho kembali mengamati bunga sakura di tangannya. Ia sangat suka bunga itu. Dan ketika ia sedang asyik-asyiknya melihat pohon sakura di depannya, ayahnya datang dan berdiri di sampingnya.
Jin-ho terkaget melihat sesosok pria sudah berdiri di sebelahnya. Ia menundukkan badannya sebentar ke arah Yook-jae, kemudian kembali berdiri dengan tegak dan sedikit kaku.
“Bagaimana kabarmu selama berada di Indonesia kemarin? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Yook-jae, mencoba membuka percakapan dengan Jin-ho.
Jin-ho mengangguk pelan. “Saya baik-baik saja, appa.”
Yook-jae menatap Jin-ho. “Kau tidak perlu berbicara seresmi itu kan? Apakah sejak kejadian itu… kau memang tidak ingin dekat denganku lagi?” tanya Yook-jae, berusaha memancing Jin-ho untuk membuka perasaannya yang sebenarnya.
Jin-ho hanya diam. Ditariknya napasnya dalam-dalam, kemudian berkata, “aku ingin dekat dengan appa. Tetapi, aku belum bisa melupakan kejadian itu.” Jin-ho kembali terdiam. “Memang, kejadian itu bukan kesalahan appa. Tetapi, karena kesalahanku sendiri. Oleh karena itu, aku benar-benar minta maaf karena ini…”
Yook-jae menatap Jin-ho dengan sendu. Kejadian dua tahun yang lalu itu, ternyata telah mampu membuat Jin-ho jauh darinya. Ia mengerti, Jin-ho tidak membencinya. Tetapi, ia juga tahu, bahwa Jin-ho pasti kecewa padanya. Mungkin semua itu terjadi bukan karena kesalahannya. Namun, untuk mengatasi masalah dari kejadian itu, ia yang harus bersikap bijak. Dan sayangnya… ia tidak seperti itu ketika kejadian itu sedang nyata terjadi…
“Aku juga ingin meminta maaf pada appa karena sikapku yang kekanak-kanakan seperti ini. Mungkin seharusnya aku sekarang melupakannya. Tetapi… jangan paksa aku untuk bisa melakukannya! Mungkin juga nanti appa memang harus memaksaku, tetapi nanti saja ya… jangan sekarang…”
Yook-jae benar-benar merasa sedih ketika melihat Jin-ho yang seperti ini. Ia tahu betul bagaimana perasaan Jin-ho sekarang. Pemuda itu… anaknya ini… Song Jin-ho, harus kehilangan cita-citanya ketika ia hampir mendapatkannya. Semua itu terjadi karena dirinya yang terlalu egois dan emosional saat itu. Dan ketika ia tahu kebenarannya, ia sungguh merasa menyesal dan bersalah pada anak itu. Tetapi, Jin-ho malah biasa saja. Ia memaafkannya… ya, Yook-jae tahu jika Jin-ho telah memaafkannya, benar-benar memaafkannya! Namun... bukan itu yang penting. Sekarang, Jin-ho malah tidak mau mencoba cita-citanya lagi meskipun Yook-jae dan Eun-hye sudah membujuknya. Jin-ho menjadi sedikit berbeda. Jin-ho tidak lagi melakukan semuanya sesuai dengan keinginannya dan perasaan hatinya. Ia menjadi terlihat terpaksa dan tertekan ketika melakukan ini dan itu, terutama jika sudah menyangkut dengan Joo-young dan Jeong-woo, ibu dan saudaranya yang lain. Makanya, ketika Yook-jae menyuruh Jin-ho untuk tinggal di Song Mansion, ia kira akan sulit. Tetapi ternyata tidak, karena Eun-hye telah membantunya untuk itu.
Yook-jae menghembuskan napasnya panjang. “Baiklah. Aku tidak ingin memaksakan apapun padamu, termasuk untuk bekerja di kantor dan meraih cita-citamu yang dulu lagi. Mungkin, dokter yang terbaik, tetapi aku pun juga tidak tahu. Hanya kau yang tahu tentang hal itu… dan jangan ragu untuk melakukannya jika kau ingin melakukannya dan kau yakin jika itu benar dan yang terbaik!”
Jin-ho mengangguk perlahan. Ia lalu melihat Yook-jae yang sudah melangkah pergi. Ia sebenarnya tidak ingin berkata seperti itu pada ayahnya. Tetapi, itulah perasaannya sekarang. Mungkin bisa berubah. Dan ia sebenarnya sangat ingin agar perasaan itu berubah…
“Jin-ho ya…”
Jin-ho mengalihkan pandangannya ke belakang. Di belakang, ia dapat melihat Nenek Song bersama Sae-ryun, yang sedang mendorong kursi roda Nenek, berjalan ke arahnya.
Jin-ho lalu memutar tubuhnya. “Halmonie sedang apa disini?” tanya Jin-ho, sambil membungkuk agar dapat melihat wajah neneknya dengan jelas.
Halmonie memandang Jin-ho dengan tulus. Ia kemudian tersenyum. “Halmonie ingin pergi jalan-jalan.”
“Apakah aku perlu menemani halmonie?” tawar Jin-ho, dengan mata teduhnya.
Halmonie masih tersenyum. “Tidak perlu. Sae-ryun sudah ada di belakang halmonie dan berniat untuk mengantar halmonie jalan-jalan,” jawab Nenek Song, menolak halus tawaran dari Jin-ho.
Jin-ho menatap tajam ke arah Sae-ryun. “Kenapa tidak bersamaku saja? Biarkan Sae-ryun pergi dengan Jeong-woo dan aku yang mengantar halmonie, bagaimana? Halmonie tidak ingin mengganggu orang pacaran kan?” bujuk Jin-ho lagi, yang membuat Sae-ryun sedikit tidak suka.
Sae-ryun akhirnya angkat bicara. “Aku ingin mengantar halmonie jalan-jalan, Jin-ho! Kau tidak perlu repot-repot untuk menawarkan diri lagi. Lagipula. Jeong-woo oppa sedang mandi, jadi tidak mungkin untuk mengajaknya jalan-jalan,” kata Sae-ryun, sedikit ketus.
Jin-ho tetap tidak menyerah. “Sudahlah halmonie, denganku saja ya! Aku sedang tidak ada kerjaan hari ini. Apakah halmonie tidak merindukanku?” Jin-ho kembali membujuk neneknya dengan manja.
“Song Jin-ho, biarkan aku berdua dengan halmonie sekarang! Aku sangat ingin dekat dengan halmonie. Kau kan sudah sering jalan-jalan bersama halmonie, mengapa kau tidak mengizinkanku untuk bersamanya walau hanya sekali saja?” sahut Sae-ryun tiba-tiba, karena tidak senang dengan sikap Jin-ho yang kelihatannya ingin menjauhkannya dari Nenek Song.
“Kau tahu, kau itu sok kenal dan sok dekat! Dan aku tidak suka itu. Dan halmonie pun juga tidak suka itu. Oleh karena itu, kau tidak perlu memaksakan diri untuk dekat dengan halmonie. Lagipula, kau itu juga cerewet dan kekanak-kanakan. Bukannya menjaga halmonie, nanti kau malah merepotkannya. Dan satu lagi… halmonie itu orang baik, jadi kau tidak perlu khawatir jika halmonie tidak merestui hubunganmu dengan Jeong-woo nanti…” kata Jin-ho, blak-blakan.
Sae-ryun menatap Jin-ho dengan tidak percaya. “Apa kau bilang? Kau itu ya… sudah keterlaluan! Memangnya kau pikir, karena Jeong-woo oppa makanya aku mau bersikap baik pada halmonie, hah? Tidak, Song Jin-ho… TIDAK!!! Dan aku tahu, kau memang tidak suka padaku sejak awal. Tetapi, bukan berarti kau berhak membuat orang lain tidak menyukaiku kan? Lagipula, aku juga tidak pernah menyukaimu! Apakah kau tidak sadar, jika kau itu sungguh dingin dan kaku sekali? Apakah menurutmu itu membuat orang lain senang terhadapmu dan suka bergaul denganmu?” bentak Sae-ryun, marah.
Jin-ho menatap Sae-ryun dengan tajam. Begitu pun juga dengan Sae-ryun, ia menatap pemuda itu dengan tajam. Sementara itu, halmonie yang berada di tengah-tengah mereka, akhirnya melerai juga. “Sudah… sudah…. Kalian tidak boleh begini. Sebentar lagi, kalian akan menjadi saudara kan, mengapa kalian malah bertengkar? Dan jika kalian seperti ini terus, kalian berarti memang kekanak-kanakan! Dan aku paling tidak suka dengan cucu yang kekanak-kanakkan!” ucap Nenek Song, lalu mendorong kursi rodanya seorang diri, meninggalkan kedua anak itu yang masih saling melotot satu sama lain.
“Oh my God… halmonie kelihatannya marah pada kita…” Sae-ryun memegang kepalanya dengan keras. Ia bingung mengapa semuanya jadi begini.
Jin-ho yang juga masih berada di ruang tamu, hanya bisa duduk bersandar di dinding dalam diam. Ia juga bingung harus melakukan apa. Sebelumnya, neneknya belum pernah semarah ini padanya. Memang sih, ini semua kesalahannya. Tetapi, ia hanya ingin neneknya itu baik-baik saja.
Jin-ho akhirnya berdiri dan menghampiri Sae-ryun yang masih uring-uringan di depannya sambil mondar-mandir itu. “Aku kira ini kesalahanku. Mungkin tidak hanya kau saja yang kekanak-kanakan, tetapi aku juga. Seharusnya aku membiarkanmu pergi bersama halmonie. Tetapi, karena egois, aku jadinya menghinamu dan berakibat fatal seperti ini. Dan untuk itu, aku minta maaf…” ucap Jin-ho, pelan tetapi sungguh-sungguh.
Sae-ryun menatap Jin-ho yang sudah berdiri di sampingnya itu dengan tajam. Perlahan, sorotan mata Sae-ryun berubah lembut. Ia lalu mengangguk. “Ne. Aku juga salah dalam hal ini. Mungkin jika aku tidak kekanak-kanakan, aku hanya akan diam ketika kau berbicara kejam seperti tadi padaku. Oleh karena itu, aku juga minta maaf ya, Jin-ho. Dan juga, aku minta maaf karena sering mengganggumu dan membuatmu terluka…” kata Sae-ryun, ikut menyesal atas kejadian ini.
Dahi Jin-ho berkerut. “Terluka? Memangnya kapan kau membuatku bersedih? Perasaan… kesalahanmu itu hanya cerewet dan menggangguku saja, deh!” tanya Jin-ho, yang langsung membuat Sae-ryun nyengir.
“Ketika aku berkata di depan semua orang bahwa kau bisa bermain piano. Apakah menurutmu itu biasa saja? Tentu saja tidak, bahkan kau sampai marah seperti itu padaku waktu itu. Dan kemarahanmu saat itu, bahkan lebih mengerikan daripada yang pernah kulihat!” jawab Sae-ryun, to the point.
Jin-ho mengangguk mengerti. Ia lalu menatap Sae-ryun. “Bagaimana jika kita melupakan semua yang sudah terjadi? Maksudku, bagaimana kalau kita berdamai? Aku pikir, jika kita seperti ini terus, maka akan semakin banyak masalah yang muncul dan…”
“Dan itu akan sangat melelahkan. Benarkan?” potong Sae-ryun, yang diiringi oleh anggukan setuju dari Jin-ho.
“Aku setuju.” Sae-ryun mengangkat tangannya dan mengajak Jin-ho untuk berjabat tangan. Jin-ho pun menerima jabatan tangan itu dengan baik.
“Jadi… sekarang kita punya dua perjanjian, ya…” gumam Sae-ryun, namun Jin-ho bisa mendengarnya.
Jin-ho bertanya, “dua? Bukankah baru kali ini saja, ya?”
Sae-ryun hendak memukul lengan Jin-ho jika Jin-ho tidak segera mengelak ke depan. “Kau itu ya… benar-benar menyebalkan! Awas jika kau lupa pada janjimu padaku tentang tiga permintaan itu!” ancam Sae-ryun, yang langsung membuat Jin-ho tertawa.
“Iya… iya… aku ingat. Aku kan bukan seorang pembohong. Lagipula, palingan kau akan minta apa sih?” kata Jin-ho, seolah-olah meremehkan Sae-ryun.
Mata Sae-ryun langsung berubah membelalak ketika melihat Jin-ho. “Kau tahu… aku akan meminta sesuatu yang membuatmu mati untuk mendapatkannya! Araso? Kau bersiap-siap saja…” kata Sae-ryun, yang membuat Jin-ho nyengir.
Sae-ryun dan Jin-ho akhirnya sama-sama tertawa. Namun, tawa mereka langsung terhenti ketika melihat Nenek Song di taman belakang bersama seorang pelayannya. Mereka lalu bergegas berpikir untuk mencari cara yang tepat guna membujuk sang nenek agar tidak marah lagi…
The end
pt][/size]
hai, teman-teman....
![[bye]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/bye.gif)
maaf ya kalau ceritanya gak kalian suka atau agak gak nyambung...
![[heh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/heh.gif)
semoga bisa menghibur...
![[flowers]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/flowers.gif)