Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17683 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: LOVE chap 7 update 26 oktober
« Reply #30 on: November 18, 2010, 02:21:19 am »
SPECIAL CHAPTER HYE SUN ONNIE BIRTHDAY

Senin, 8 November 2010. KBS TV

Goo Hye Sun terus berjalan sambil sesekali mengumbar senyumnya pada setiap orang yang menyapanya. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit ketika sudah mencapai satu meja di sudut kantin di kantor KBS TV ini.

“Miane, Bi-ssi. Aku terlambat.” Ujarnya dengan penuh penyesalan.

Pria yang di panggil Bi tadi mengalihkan pandangannya dari laptop Apple di hadapannya.

“Hye Sun-ssi. Aa..tidak apa-apa. Aku juga baru sampai. Ayo duduk.” Kata Bi sambil mempersilahkan Hye Sun. Ia menyingkirkan tiga gelas kopi yang berada di samping laptopnya. Hye Sun meringis melihat gelas-gelas itu. Yah, dia tahu bahwa Bi berbohong padanya dengan mengatakan bahwa ia juga baru saja sampai. Tapi nyatanya? Tiga gelas kopi sudah dihabiskan Bi selama ia menunggu Hye Sun. Tidak heran sih, Bi bisa menghabiskan kopi sebanyak itu. Mengingat wanita cantik ini terlambat 1 jam 43 menit 10 detik dari waktu yang sudah mereka sepakati untuk bertemu. Kita ulangi sodara-sodara, 1 JAM 43 MENIT 10 DETIK. Hell, salahkan Kim So Eun yang memaksa meminta pendapatnya tentang cat kuteks warna apa yang seharusnya dia pakai ketika candle light dinnernya nanti malam bersama si bummie kitty-kitty itu.

Hye Sun meringis lagi, “Bi-ssi, sekali lagi miane. Joungmal miane.”

Bi tersenyum maklum, “Sudah kubilang tidak apa-apa. Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Jadi sekarang.... apa keputusanmu?”

Hye Sun meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa berkas. Ia menjulurkannya pada Bi yang menerimanya dengan kening berkerut, “Apa ini?”

“Aku setuju bekerja sama denganmu.” Hye Sun tersenyum, kemudian ia melanjutkan, “Itu adalah beberapa alat yang diperlukan kita selanjutnya. Yang tidak tercatat di situ sudah berada di galeriku sejak lama. Masih bagus untuk dipakai, jadi kita tidak akan membuang banyak biaya. Yah, walaupun kebanyakan alat-alat lukis sih. Bagaimana?”

Bi tersenyum sumringah. Ia membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas itu dengan antusias. “Whoa, kau bahkan sudah mengambil start lebih dulu. Sepertinya aku harus bekerja keras setelah ini.”

Hye Sun tertawa pelan, kedua lesung pipi dan rona merah muncul di kedua pipinya. “Membangun sekolah seni sudah menjadi impianku sejak dulu. Dan kurasa kau adalah partner yang baik dalam hal ini.”

“Hal ini?”, Bi meletakkan kertas-kertas tadi diatas meja. Ia menaruh kedua tangannya didepan dada sambil berpura-pura tersinggung, “Jadi dalam hal lain aku bukan partner yang baik? Begitu, Hye Sun-ssi?”

“Ah...a..aniyo. Bukan itu maksudku. Maksudku.. kk..kkau partner yang...” Hye Sun tergagap dalam menjawab pertanyaan Bi. Sungguh ia tidak menyangka akan begini reaksi Bi. Hye Sun meremas-remas jarinya dan matanya tidak berhenti memandang kesana-kemari. Ia begitu takut jika ada orang yang marah padanya.

“Hmmp... huahahaha... kau lucu sekali Hye Sun-a.” Bi menjulurkan tangan kanannya dan mengacak-acak rambut baru Hye Sun. Segaris warna merah muncul di kedua pipi Hye Sun. Dan tak berapa lama, kedua orang multitalenta itu sudah tertawa terbahak-bahak. Tidak mempedulikan beberapa orang yang ada didalam kantin itu yang menatap mereka dengan heran. Mereka bahkan tidak peduli jika ada wartawan yang lewat dan mengabadikan keakraban mereka dan kemudian menyebarkan gosip-gosip yang memuakkan.

“Oke, cukup tertawanya.” Hye Sun berdeham sedikit sebelum kembali berbicara. “Jadi bagaimana denganmu? Sudah menentukan beberapa rencana?”

“Aa.. aku sudah memikirkan ini sejak semalam. Begini.” Bi merubah posisi duduknya menjadi lebih serius. Kedua tangannya diletakkan diatas meja. “Pertama, kita harus cari tempat yang strategis.”

“Bagaimana kalau galeriku? Ada dua lantai atas yang tidak terpakai. Dan kujamin dua lantai itu sangat luas untuk ukuran sekolah.”

“Oke. Tempat beres. Kedua, alat-alat. Yang ini juga sudah beres. Untuk beberapa alat yang tidak ada ditempatmu bisa kubicarakan nanti dengan menejerku, kami yang akan mengurusnya. Dan yang ketiga, pengajar dan siswanya.” Bi kembali bersandar pada kursinya.

“Ini gampang. Kita tinggal memasang iklan di koran-koran, televisi, atau radio.”

“Yaaah.. aku tahu, tapi...”

“Tapi? Oh, come on Bi-ssi. Ini hanya perkara mudah. Kita tinggal memasang namamu di bagian bawah iklan, dan kujamin akan banyak yang mendaftar untuk dua kategori yang kita perlukan. Hanya tinggal menentukan kualitasnya saja. Dan jika kualitas yang kita inginkan belum kita dapatkan dari calon-calon pengajar, kita bisa meminta bantuan pada guru tari dan vokalmu untuk sementara waktu sampai apa yang kita inginkan dari calon-calon pengajar itu ada. Untuk kelas lukis biar aku yang pegang. Bagaimana?”

Bi menyeringai, “Kau sudah memikirkan semua ini ya? Dan aku suka caramu ketika kita harus mengiklankan dan harus ada namaku dibawahnya.”

“Hahaha... setiap bisnis yang dijalankan butuh strategi, Bi-ssi.”

“Dan menjual namaku adalah salah satunya? Licik sekali.”

Dan sekali lagi, semua orang yang berada di kantin itu menolehkan pandangan ke arah mereka berdua yang kembali tertawa terbahak-bahak.

*****************

Hye Sun melirik jam tangannya. Ia meringis ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sudah lebih dari tiga jam ia dan Bi berbincang-bincang. Ia kembali menatap Bi dan menarik tasnya. “Bi-ssi, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama lagi disini. Ada beberapa keperluan yang harus ku urus setelah ini. Tidak apa-apa kan jika aku pamit lebih dulu?”

“Hm. Tidak apa-apa. Aku juga harus ke lantai 12 setelah ini. Ada acara yang harus kuhadiri. Kalau begitu sampai jumpa besok di manolin.” Bi tersenyum ramah.

Hye Sun berdiri dan kemudian berbalik. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara Bi memaksanya menoleh, “Ne?”

Bi berdiri dan menyusul ke tempat Hye Sun berdiri. Ditangannya tergenggam sebuah kotak berwarna merah. “Untukmu. Saengil cukkae.”

Hye Sun menatap kotak itu agak lama, “Tapi ulang tahunku besok.”

“Tidak apa-apa kan jika aku memberikan hadiahku sekarang? Ambilah.” Hye Sun menjulurkan tangannya dan mengambil hadiah itu.

“Gamsamhamnida.” Ujar Hye Sun tulus.

“Sebenarnya itu adalah sogokan dariku agar kau menyetujui penawaranku. Tapi ternyata kau gampang sekali menyetujui rencanaku. Jadi ya...” Bi mengangkat bahunya, kemudian melanjutkan, “Saengil cukkae.”

Hye Sun tertawa pelan. “Ne, gamsamhamnida Bi-ssi. Ah ya, besok malam aku mengadakan privat party di apartemenku. Aku harap kau datang. Pukul 7 malam. Oke?”

Bi tersenyum lebar. Tangan kanannya terangkat menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari yang membentuk lingkaran di tengahnya. “Sip.”

Dan tanpa mereka sadari, seseorang –ah, anyi. Empat orang tengah mengamati mereka sedari tadi sejak keakraban itu terjalin.

“Sejak kapan Hye Sun-ssi akrab dengan Bi Rain-ssi? Mino-a?”

Pemuda tampan yang dipanggil Mino tadi hanya menatap tanpa ekspresi pada Bi yang sudah kembali ketempat duduknya semula. Ia menghembuskan napasnya. Sebersit kecemburuan menghinggapi hatinya.

“Besok malam privat party Hye Sun.” seorang wanita yang memakai kacamata mengumumkan pada tiga orang pria disekelilingnya. “Jangan lupa. Mino-a, pastikan Bummie-ssi datang besok malam. Araseo?”

Min Ho masih terus memandang Bi tanpa ekspresi. “Tentu saja. Akan kupastikan besok malam Hye Sun tidak bersama lelaki itu.”

O-ow... sepertinya Goo Hye Sun harus kerja ekstra keras pada malam ulang tahunnya untuk ‘menjinakkan’ sang kekasih yang keburu cemburu.

*****************

Selasa, 9 November 2010. Apartemen Goo Hye Sun

Apartemen Hye Sun yang biasanya dipenuhi alat-alat lukis kini telah disulap menjadi tempat pesta yang diyakini akan berjalan semalam suntuk. Gelas-gelas disusun membentuk piramida di sudut ruangan. Berpuluh-pulung kaleng bir menghiasi beberapa meja. Pesta memang direncanakan akan berlangsung DIMANAPUN didalam apartemen Hye Sun. Entah itu diruang tamu, dapur, kamar mandi, bahkan kamar Hye Sun. Tapi sepertinya tempat yang terakhir itu sudah dikontrak secara khusus oleh sang kekasih tuan rumah. Fufufufu....

Dan berhubung semua tamu yang diundang berasal dari kalangan selebritis, Hye Sun tidak perlu repot-repot menyewa penyanyi untuk memeriahkan acaranya. Ia hanya menyediakan seperangkat alat karaoke dan menatanya di ruang tengah yang memang paling luas diantara ruangan lainnya.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 7.35 malam. Tapi, 80% dari tamu yang dipastikan hadir sudah memenuhi apartemen Hye Sun. Maklumlah, sikap Hye Sun yang selalu membina hubungan baik dengan mantan lawan mainnya terdahulu membuat ia mempunyai banyak teman dan disukai banyak orang. Salah satu yang sudah hadir adalah Dong Hae. Pemuda tampan ini malah sedang mengobrak-abrik isi kulkas dan mengambil apapun yang bisa mengganjal perutnya.

“Aku belum makan dari tadi siang.” alasannya.

Pukul 8 tepat seseorang –yang diyakini Hye Sun adalah Dong Hae lagi– telah menyalakan alat karaoke dan membuat semua tamu Hye Sun yang tadinya ngobrol ngadul ngidul di seluruh sudut berkumpul di tengah ruangan. Mereka tengah membuat satu game. Semua tamu yang hadir membentuk lingkaran –ada yang duduk, ada yang berdiri-. Dimulai dari Kim Jun, terus kekanan, harus menyebutkan kata yang hurufnya berada di akhir kata yang disebutkan sebelumnya. Semacam kata berantai. Dan hukuman bagi yang kalah adalah minum tiga gelas bir dan bernyanyi dengan badan yang digoyang-goyangkan. Game yang menyita tawa para selebriti itu membuat sesi potong kue terlambat dari jadwal. Potongan kue pertama tentu saja diberikan untuk sang kakak tercinta –setelah sebelumnya Bi mengikat dengan sadis Dong Hae yang beronta-ronta ingin dapat potongan pertama- [hmpfh]

Btw soal potongan kue pertama. Bukankah seharusnya potongan pertama harus untuk kekasih, tapi kenapa malah untuk kakaknya? Mungkin karena Hye Sun tidak ingin membuat sensasi. Tapi sebenarnya lebih bukan karena itu, tapi karena sang kekasih, Lee Min Ho, pria paling diidam-idamkan di Korea BELUM BERADA DITEMPAT. Hye Sun uring-uringan terus ketika mengetahui Min Ho juga belum sampai daritadi. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Min Ho tapi selalu dijawab oleh operator.

“Hye Sun-ssi.” Bi menepuk pelan pundak Hye Sun dari arah belakang. Hye Sun yang sedang mencoba menghubungi Min Ho langsung berbalik.

“Ah, Bi-ssi.” Sapanya sambil tersenyum.

“Sedang apa disini? Dong Hae membuat game lagi. Kau tidak mau ikut?”

Sekarang ini Hye Sun dan Bi sedang berada di balkon apartemen Hye Sun. Pemandangan dari sini tepat mengarah ke pusat kota Seoul. Lampu-lampu dari bangunang-bangunan maupun kenderaan dibawahnya berkelap-kelip. Sungguh indah. Bi ikut menyandar di pembatas balkon.

“Anak itu, Dong Hae, setiap bertemu denganku pasti sifat kekanak-kanakannya keluar.” Ujar Hye Sun sambil tertawa kecil.

“Aa...kudengar kau sudah bersahabat lama dengannya.”

“Ne. Dia sudah kuanggap sebagai adikku.”

Dan seterusnya percakapan terus mengalir dengan hangatnya. Hingga tiba-tiba menejer Hye Sun menginterupsi sedikit dengan mengumumkan kedatangan –ehm, pangeran Hye Sun.

“Min Ho-ssi ada didalam. Ah, Bi-ssi. Anyyong.”

“Anyyong.” Balas Bi.

Melihat gelagat Hye Sun yang ingin sekali bertemu dengan sang pujaan hati yang tidak mungkin dilakukannya jika masih ada Bi disekitarnya, menejer Hye Sun sengaja mengajak Bi masuk kedalam dengan alasan agar Bi ikut memeriahkan game-yang-entah-apa-namanya buatan Dong Hae.

Sepeninggalan Bi, Hye Sun tidak lantas masuk kedalam mengikuti keduanya. Ia memilih tetap tinggal di balkon, menunggu sang kekasih menghampirinya. Dugaannya benar. Lee Min Ho menghampirinya dibalkon.

“Kenapa terlambat?” tanya Hye Sun. Ia memperhatikan Min Ho yang bersandar pada kusen pintu balkon dibelakangnya.

Min Ho mengangkat bahunya cuek, “Bummie mendapat kesulitan keluar dari lokasi syutingnya.” Ia berjalan mendekati Hye Sun. dilingkarkan kedua lengannya di pinggang Hye Sun. “Apa yang kau lakukan bersama orang tadi?”

Hye Sun tertawa kecil, “Tidak ada. Hanya ngobrol biasa.”

Min Ho mengerutkan keningnya, “Lalu apa yang kau lakukan bersamanya kemarin? Dikantin KBS?”

“Oh. Aku hanya membahas kerja sama kami.” Ia tersenyum hangat.

“Kerja sama?”

“Ne, kerja sama. Aku dan Bi-ssi berencana membuat sebuah sekolah seni. Bagaimana menurutmu?”

Min Ho mengencangkan pelukannya pada pinggang Hye Sun dengan gestur posesif, “Tapi kenapa harus dia? Memangnya tidak ada orang lain?”

Hye Sun tersenyum tipis. Dalam hati ia mati-matian menahan tawanya dan sangat menikmati kecemburuan kekasihnya. “Memangnya kau mau aku bekerja sama dengan Wu Chun? Ah, ide yang bagus. Nanti aku bicarakan lagi dengan Bi-ssi agar dia menawarkan Wu Chun bergabung dengan kami.”

“Yyaa...!!!”

Hye Sun tertawa. Setiap orang yang kenal dan mengetahui hubungan mereka pasti tahu bahwa Min Ho sangat amat tidak menyukai Wu Chun yang notabene lawan main Hye Sun di Taiwan. Statement Hye Sun yang mengatakan bahwa Wu Chun adalah satu-satunya pria yang saat ini memenuhi pikiran Hye Sun membuat Min Ho kebakaran jenggot. Dengan tidak menghiraukan pelototan menejernya ia bahkan membalas dengan mengeluarkan statement yang menyebutkan bahwa Hye Sun adalah wanita idamannya. Hell, statement Min Ho membuat para fans mengangkat alis mereka tinggi-tinggi. Sebenarnya yang mana? Hye Sun atau Hye Kyo?

Samar-samar terdengar suara karaoke dari dalam apartemen. T-Ara, Lies. Hye Sun bisa menebak dengan mudah lagu yang sementara dinyanyikan kumpulan artis-artis papan atas itu. Dong Hae dengan brutalnya naik ke atas meja dan tanpa perasaan mengikuti gaya menari di MV lagu itu.

Hye Sun memperhatikan sedikit dandanan kekasihnya. Jas hitam membalut tubuh atletisnya, jeans berwarna biru tua tidak terlalu ketat, dan converse yang dipakainya. Dan...

“Potongan rambutmu baru?” tanya Hye Sun. Tangan kanannya menyentuh rambut Min Ho.

“Mm.. kau suka?”

Hye Sun mengerutkan keningnya, “Mirip Justin Bieber. Hehehe.”

Min Ho tersenyum kecil. Didekatkan kepalanya ke Hye Sun. belum sempat dijamahnya bibir mungil itu Hye Sun langsung mendorong wajahnya. “Jangan disini, dongsaeng.” Tegas Hye Sun. Yeah, Hye Sun tahu betul bahwa Min Ho tidak menyukai jika Hye Sun menyebut dirinya dongsaeng. Terbukti dengan bibir Min Ho yang maju beberapa centi sekarang.

“Waeyo?”

“Ada banyak orang didalam. Kau ingin cari sensasi?”

Min Ho mendengus. Dengan lembut Hye Sun melepaskan dekapan Min Ho dan mengajak pemuda itu masuk.
Di dalam keadaan pesta semakin meriah. Tambahan berkrat-krat bir yang baru saja dibeli menejer Hye Sun disupermarket sebelah habis hanya dalam beberapa menit. Heck, para artis benar-benar sedang ingin bersenang-senang.

“Noona.” Dong Hae berteriak dari atas meja ditengah ruangan. Ditangan kanannya terdapat mikrofon, sedangkan ditangan kirinya sekaleng bir. Wajahnya memerah, pertanda anak itu sudah mabuk.

“Ck, sepertinya pesta akan berlangsung semalam suntuk.”

“Mwo? Semalam suntuk? Lalu acara kita bagaimana?”

Hye Sun tersenyum, “Sepertinya harus ditunda. Miane, Mino-a.”

Min Ho mendengus mendengarnya. Ia berjalan dengan gusar ke arah dapur. Sedangkan Hye Sun mengekorinya dari belakang.

“Aku berangkat ke Jepang besok pagi. Dan kau akan segera kembali ke Taiwan. Dan itu berarti kita tidak akan berjumpa dalam waktu yang lama. Dan kau tahu aku tidak akan tahan jika kita....” ucapan Min Ho terpotong oleh kedatangan menejer Hye Sun.

“Hye Sun-ssi. Sambungan interlokal dari Wu Chun.” Ujarnya tanpa menyadari keadaan Min Ho. Ditangannya tergenggam ponsel Hye Sun.

“Aish. Urus saja urusanmu sendiri.” Setelah itu Min Ho keluar dari dapur dan menghilang dibalik keramaian pesta. Samar-samar terdengar pintu yang dibanting.

Hye Sun menoleh pada menejernya. “Miane. Katakan pada Wu Chun aku sedang sibuk sekarang”

Hye Sun segera berlari menuju pintu, meninggalkan menejernya yang kebingungan setengah mati.

*****************

Hye Sun menemukan Min Ho diujung lorong gedung apartemennya. Ditangan kanannya terdapat sepuntung rokok yang sepertinya baru saja dinyalakan.

“Mino-a.” Panggil Hye Sun.

“...”

“Yya..”

Tetap tidak ada jawaban.

Hye Sun mengambil puntung rokok dari tangan Min Ho, membuangnya kebawah kakinya dan menginjaknya.

“Kau tahu aku benci pria perokok.”

Hening

Hening

Hening

Mengheningkan cipta, dimulai.

“Mino-a.”

“...”

“Mino-a.”

“...”

Min Ho tetap tidak merespon panggilan Hye Sun. Ia masih setia menatap jendela besar di samping kanannya. Hye Sun yang bosan diacuhkan kekasihnya segera menangkupkan kedua tangannya kewajah Min Ho, memaksa pemuda itu agar menatapnya.

“Jangan acuhkan aku lagi Lee Min Ho-ssi.” Perintah Hye Sun. Min Ho hanya mendengus.

Hye Sun menghela napasnya, “Kau tahu kita tidak bisa ‘melakukannya’ sekarang kan? Didalam ada banyak orang.”

Min Ho menyeringai kecil, “Kalau begitu diapartemenku saja.”

“Lalu pestaku?”

“Tinggalkan. Kau bisa minta tolong menejermu untuk mengawasinya.”

“Itu pestaku Lee Min Ho-ssi. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

“Jadi kau lebih memilih pestamu daripada aku? Baik. Aku pulang saja.” Min Ho segera menghampiri lift yang berada tepat dibelakang Hye Sun.

“Baik baik. Kau menang. Aku kedalam dulu mengambil mantel. Kau tunggu saja dimobilmu.”

Perkataan Hye Sun barusan membuat seringaian Min Ho semakin lebar. Yeah, malam ini Min Ho akan kembali membuktikan bahwa Hye Sun hanya miliknya.

Diciptakan hanya untuk Lee Min Ho seorang.

*****************

Rabu, 10 November 2010, Apartemen Min Ho

Jarum jam sudah menunjuk ke angka 1 ketika Min Ho dan Hye Sun sampai di apartemen Min Ho. Min Ho menurunkan Hye Sun diparkiran, sedangkan ia pamit sebentar membeli bir.

Pesta perayaan ulang tahun Hye Sun kembali dirayakan kali ini hanya bersama sang kekasih tercinta. Belaian lembut, kecupan hangat, hingga keduanya berakhir diatas ranjang Min Ho.

Pukul 6 tepat weker di kamar Min Ho, membangunkan dua orang yang saling berpelukan dengan mesra. Min Ho menggeliat sedikit sebelum bangun dan membanting weker miliknya dengan kasar ke lantai.

PRANG

Hye Sun terbangung mendengar suara benda yang pecah. Disingkirkannya lengan Min Ho yang memeluk pinggangnya dari belakang.

“Apa itu?” tanyanya dengan suara serak. Maklumlah, mereka berdua baru bisa tidur pukul 5 pagi setelah melaksanakan dua ronde semalaman. Ditambah berkaleng-kaleng bir yang mereka minum.

Min Ho tidak menjawab pertanyaan Hye Sun. Ia malah menarik Hye Sun kembali kepelukannya dan mendekapnya dengan erat.

“Yya...bukannya kau harus ke Jepang pukul 10?”

“Mm...”

“Lalu kenapa belum bangun?”

“Itu baru pukul 6, baby.”

Hye Sun mendengus sebal. Dengan susah payah ia melepaskan diri dari Min Ho dan dengan limbung berjalan menuju kamar mandi. Bagian bawah diantara selangkangnya terasa perih. Heck, walaupun sudah sering melakukannya kenapa masih terasa sakit juga, batin Hye Sun. Tidak sampai 15 menit Hye Sun membersihkan dirinya. Ketika keluar dari kamar mandi Min Ho masih setia dengan gulingnya. Hye Sun mengernyit. Dengan paksa ia membangunkan Min Ho dan menyuruhnya masuk kedalam kamar mandi.

“Ada apa?” tanya Hye Sun. Mereka sekarang tengah sarapan didapur Min Ho. Wajah Min Ho yang menunjukkan ekspresi err—nakal?, membuat Hye bertanya-tanya.

“Benar ingin tahu?”

Alis Hye Sun semakin tinggi terangkat. “Ada apa sih?”

Min Ho menyeringai. Disingkapnya baju mandi dibagian dadanya sehingga menunjukkan dada bidang Min Ho yang penuh akan... ehm!! BERCAK-BERCAK MERAH BEKAS KEGANASAN MAMI, SODARA-SODARA PARA MINSUNERS YANG BERBAHAGIA. HUAHAHAHAHAHAHA...

BLETAK

Sebuah sendal melayang tepat ke kepala Min Ho. Wajah Hye Sun memerah melihat bercak-bercak itu, dan tanpa memedulikan bahaya yang akan menimpanya selanjutnya, Min Ho berkata, “Kau semakin hebat, baby.”

“LEE MIN HOOOO!!”

Dan selanjutnya anda bisa menebak sendiri apa yang terjadi kemudian.

10 menit kemudian

“Baby, bisa kau pilihkan baju untukku?” teriak Min Ho dari dalam kamarnya. Terburu-buru Hye Sun menghampiri kekasihnya itu.

Beberapa helai pakaian dikeluarkan Hye Sun dari dalam lemari dan disodorkannya ke Min Ho. “Aku akan pulang sekarang. Taksi sudah menunggu dibawah.”

“Mwo?” Min Ho menghentikan langkahnya menuju kamar mandi. “Kenapa naik taksi? Aku yang akan mengantarmu.”

Hye Sun menggeleng, “Antwe. Menejerku tadi menelpon. Dia bilang ada yang melihatku semalam diparkiran. Aku harus secepatnya pergi dari sini.”

Min Ho mendengus. Dengan cepat ia melangkah ke arah Hye Sun dan meraup wanitanya kedalam pelukannya. “Aku masih merindukanmu, baby.” desahnya. Dan tanpa aba-aba Min Ho langsung melumat ganas bibir Hye Sun. Permainan pun dimulai. Hye Sun melingkarkan kedua tangannya ke leher Min Ho dan berusaha mengimbangi permainan. Pasokan udara yang menipis membuat keduanya harus mengakhiri permainan.

“Aku akan menelponmu begitu  aku sampai di Taiwan.” Hye Sun mengecup kening Min Ho, “Saranghae.”

“Saranghae yo, baby.” balas Min Ho.[/color][/font][/size]

SPECIAL CHAPTER
THE END

THANKS FOR READING, MINNA-SAN


Endingnya ngegantung? Emang sengaja aku buat kayak gitu. Hehehe...
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME