Chapter 19
Gelap malam masih menyelimuti. Hye na membuka matanya perlahan, terbangun dengan senyum terkembang di wajahnya. Ditatapnya seseorang yang tidur disisinya, lelap, memeluknya, mendekapnya dalam dada bidangnya. Hye na tertidur dalam pelukannya. Di balikkan tubuhnya, menghadap orang itu.
“Lee Jung min… suamiku…milikku…”kata Hye na pelan, tersenyum menatap Jung min, menyentuh wajah Jung min dengan telunjuknya, dan menelusurinya hingga akhirnya mencapai bibir padat Jung min. Dirasakannya kelembutan dan kepadatan bibir Jung min. Rasa gemas menyelimutinya, Hye na mengangkat wajahnya perlahan kemudian di kecupnya bibir yang padat itu pelan, tidak ingin membangunkan pemiliknya, namun setelahnya, Jung min terlihat tersenyum, sambil terus memejamkan matanya dan tiba-tiba menarik Hye na, memeluknya lebih mendekat kepadanya.
Hye na tersenyum, membalas pelukan Jung min padanya. “kau sudah bangun…”tanya Hye na dalam pelukan Jung min “ahni… aku tidak akan bangun… aku tidak ingin semua ini berakhir…”jawab Jung min, tersenyum dan masih memejamkan matanya.
“ausssshhh…”Hye na mengeluh pelan “tapi bukankah kau harus bekerja pagi ini…”
“iya… itu masih nanti… ini pukul 3 pagi sayang…”
Hye na diam, menatap Jung min tersenyum“… kalau begitu tidurlah… mau aku buatkan sarapan…?”
Jung min membuka matanya tiba-tiba menatap Hye na, senang. “benarkah…?!? baiklah… sudah lama kau tidak masak…”
Hye na tersenyum, menatap Jung min aneh “mwo…? Lama… benarkah…? kapan tepatnya…?”
“2 bulan… 2 bulan yang melelahkan dan menyedihkan…”jawab Jung min menatap Hye na dalam
“benarkah…selama itu…”
“ne… saat itu kau benar-benar membuatku sangat sedih…”
“ooowww…” Hye na menatap Jung min prihatin dan mengusap kepalanya lembut. “maafkan aku kalau begitu… “
“saat itu kau benar-benar…ahhh…aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.. tapi saat itu kau hanya diam tanpa ekspresi dan terkadang tiba-tiba menangis dalam diam…dan itu yang membuatku semakin sakit…”
Hye na diam, menatap Jung min, mendengarkan. Jung min mengalihkan pandangannya, menatap Hye na. “…aku benar-benar merindukan senyumanmu… dan aku bahkan berjanji akan melakukan apapun untuk mendapat senyum itu lagi…”
“lalu… kau mendapatkannya…?”
“…ne…aku sudah mendapatkannya…dan ternyata harus dengan bantuan laki-laki itu…”
“siapa…?’
“laki-laki yang kau bawa bersamamu…”
“siapa…” Hye na tersenyum menatap Jung min
“laki-laki itu…”
“laki-laki itu punya nama sayang…”kata Hye na, tersenyum manis menatap Jung min lembut, mengusap kepalanya penuh kasih.
Jung min menghela napas berat sesaat “hyu…hyu…hyung ku…” jawab Jung min. Hye na tersenyum menatap Jung min. “mianhe… jeongmal mianhe…”kata Hye na lirih, memeluk Jung min erat, yang kemudian dibalas sebuah pelukan tak kalah eratnya oleh Jung min.
“sekarang kau harus menggantikan hari-hari yang hilang dulu…kau harus memasak makanan kesukaan ku setiap hari…dan tidak!... ada !... bekerja dirumah sakit…”kata Jung min dengan menekankan beberapa kata yang harus Hye na tepati.
“mwooo…??? Aku harus tetap ke rumah sakit…”
“anhi…antwe… sebelum kesehatanmu benar-benar pulih… dan maksudku… benar-benar 100% persen baik…”
“tapi…”
“titik!!” Jawab Jung min tegas, tidak dapat di ganggu gugat lagi. Hye na mengerucutkan bibirnya sesaat, kemudian senyum terkembang diwajahnya. Hye na menghela napas pelan sesaat “baiklah…asal kau berjanji akan menerima Jung moon oppa di sini…”
Jung min diam sesaat, menatap langit-langit kamarnya. “tidak bisa secepat yang kau inginkan…”
Hye na tersenyum “akan ada banyak waktu sayang…”jawab Hye na, yang kemudian membenamkan kepalanya di dada bidang Jung min. keduanya terdiam sesaat “…jadi…apa yang kau inginkan untuk sarapanmu pagi ini…”tanya Hye na kemudian.
Jung min bangkit dari ranjangnya, dan duduk di sisi Hye na, bersandar di sandaran tempat tidur, berpikir, seperti anak kecil yang ditawari beberapa mainan untuk dipilihnya salah satu.
“aku ingin….eerrrrmmm….” Jung min diam, berpikir. Hye na menunggu “ahhhh!!!” Jung min berseru tiba-tiba, menatap Hye na tajam “waeyo…?”
“aku ingin…. Memakanmu…”seru Jung min yang tiba-tiba menelungkupkan selimut mereka, menutupi tubuh keduanya.
“aussshhh… kau…”Hye na tiba-tiba membuka bagian selimut yang menutupinya “ kita baru saja…” kata-kata Hye na terhenti karena tiba-tiba Jung min menariknya kembali masuk kedalam selimut
“auuussshhh… kacha… kau yang membuatku begitu rindu ingin menyentuhmu… dan sekarang akan kulakukan…sampai aku puas…”menatap Hye na yang sudah berada di bawahnya, berjanji.
“tapi…”
“aiissssshhhh… kacha…”kata Jung min, menatap Hye na bergairah dan membuat bagian sensitive dada Hye na menjadi korbannya pertama kali. Hye na melenguh keras saat dadanya di terkam Jung min, dijilati dan digigitnya pelan, gemas.
“akkhhh!!! Jung…apho…” baru saja beberapa jam yang lalu Jung min membuatnya memerah dan Hye na masih merasakan sakitnya.
“apho…?”
“ne… sangat… “
“kalau begitu aku ketempat lain saja…”
“tapi… akhhhhh!!!” desah Hye na kemudian saat tiba-tiba Jung min menelusupkan kepalanya di antara paha Hye na dan mulai menjamah daerah sensitivnya yang masih terasa sangat sensitive karena perlakuan Jung min pada daerah itu beberapa jam sebelumnya.
“aku… akhhhh… Jung… hent… akhhhh… cukup….” Desah Hye na saat Jung min mulai menjilati bagian sensitive itu
“mwo…? Aku belum selesai… jadi aku tidak akan menghentikannya…”
“tapi… akkhhhhh…. Aku mohon… aku akkkkhhhh…”Hye na sudah tidak sanggup mengatakan apapun lagi, hanya desah keras yang tercipta saat dia mulai berkata-kata. “akkkhhhh…. Aku mohon… “
Jung min mengangkat wajahnya menatap Hye na yang memejamkan matanya, menahan gairahnya. “ ada apa sayang…”kata Jung min menatap Hye na dan memberinya kecupan ringan dibibirnya. Hye na mendesah lirih saat Jung min mengecupnya. Perlahan Hye na membuka matanya dan ditatapnya Jung min sayu. Jung min mengrcup seluruh bagian tubuh Hye na, menurun hingga ke bagian dimana semua kenangan buruknya berada. “lukamu…”gumam Jung min pelan namun masih dalam batas pendengaran Hye na.
Hye na diam, menatap Jung min, ditariknya tubuh Jung min mendekat hingga keduanya saling menatap. “gwenchana…?”tanya Jung min.
“ne… gwenchanayo…”
“melihat luka ini membuka kenangan lama yang baru saja terlewat…”tambah Jung min, yang kemudian menurunkan wajahnya dan mengecup luka Hye na lembut.
“…kita punya tanda luka yang sama sayang…”kata Hye na kemudian, menggigit bibirnya menahan rasa saat Jung min mengecup lembut lukanya dan menelusurinya. Jung min tersenyum menatap Hye na, kemudian bangkit, dan menunjukkan lukanya pada Hye na “luka ini…yah… karena kecerobohanku… maafkan aku sayang… maaf…”kata Jung min kemudian, memeluk Hye na, membenamkan kepalanya di tengkuk Hye na hangat.
“boleh aku lanjutkan…”tanya Jung min menatap Hye na dalam, berharap
Hye na menatap Jung min diam, kemudian perlahan Hye na menganggukkan kepalanya, menyetujuinya.
Jung min tersenyum senang, kemudian dengan cepat ia mendaratkan ciumannya lagi ke bibir mungil Hye na dan mulai bertindak lebih agresif lagi. Jung min mulai menjelajahi kedalam mulut Hye na dengan lidahnya, mengecap lidah Hye na kuat, membawanya masuk kedalam mulutnya. “akkhhhhh…” Hye na berdesah, menahan kenikmatan yang menerjangnya.
“hmmm… sayang…”
Hye na membuka matanya, menatap Jung min. “benarkah tidak apa-apa… kita baru saja melakukannya…”tanya Jung min lagi.
Hye na tersenyum “bukankah kau yang menginginkannya… aku hanya menurut, tapi jika kau tidak mau… aku tidak memaksa… aku juga akkkhhhhh!!!” seru Hye na tiba-tiba saat Jung min menyurukkan kepalanya ke dada Hye na, dan menjelajahi tempat yang masih sangat sensitifnya bersamaan antara meremas dan menjilatnya.
“baiklah… aku lakukan…. sekarang…”kata Jung min terbata-bata, menahan gairahnya yang semakin memuncak.
“akkkhhhh...” desah Hye na dan Jung min bersamaan saat keduanya merasakan kenikmatan itu merajai diri mereka lagi. kenikmatan yang baru saja di rengguk keduanya beberapa jam yang lalu
********
3 bulan kemudian…
Pagi yang indah dan cerah kembali datang. Hye na terlihat tengah menata banyak makanaan yang tertata diatas meja makan seperti biasanya. Hampir semua yang ada disana Hye na yang memasaknya. Hampir 4 bulan terlewati sejak Hye na keluar dari rumah sakit dengan membawa bekas luka panjang di perutnya. Sejak saat itu Hye na sudah dapat melakukan tugas-tugasnya kembali. Ia masih dapat menyiapkan segalanya sebagai seorang ibu, menemaninya sebagai seorang istri, memberi berbagai saran sebagai seorang teman dan bermanja padanya bagai adik baginya. Hanya saja dalam batasan tertentu, karena Jung min memberi batasan padanya, untuk semua yang dilakukannya.
Kegiatannya dirumah sakit, tidak sama dengan yang dilakukan di rumah. Jung min melarang Hye na untuk bekerja sebelum keadaannya benar-benar pulih, tapi sekali lagi, Jung min kalah terhadap kekerasan hati Hye na bila berhubungan dengan rumah sakit ataupun orang lain. Terkadang Hye na mencuri waktu untuk kembali kerumah sakit, dan setelahnya bila Jung min marah, maka Hye na akan mengeluarkan jurus andalannya, dan Jung min akan segera memaafkannya. Jung min tidak akan sanggup marah lama pada Hye na saat Jung min menatap senyum manis terbentuk di wajahnya.
Jung min tersenyum. Pagi tiba dan sarapan pagi yang tidak pernah bosan dan selalu dirinya tunggu akhirnya datang. Saat itu Jung min sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Saat itulah dimana ia dapat merasakan kehadiran keluarga yang sebenarnya. Keluarga yang ia buat sendiri. Keluarga kecil miliknya dan Hye na. Jung min tersenyum menatap Hye na yang tengah menyibukkan dirinya dengan berbagai hal untuk menyiapkan sarapan mereka. Namun senyum itu hanya beberapa saat muncul di wajahnya, dan kemudian senyum itu musnah.
Jung min menatap diam, marah pada seseorang dihadapannya, dimana Jung moon dan En kyu duduk bersisian di meja makan. Hye na diam menatap Jung min bingung dan menatap kearah kemana Jung min menatap.

Hye na diam, kemudian senyum tersungging di wajahnya.
“ayo duduk… kau sudah berjanji padaku…” ajak Hye na, menatap Jung min serius. Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na. Keduanya terdiam. Tak lama Jung min beranjak dari tempatnya berdiri meninggalkan Hye na. “YYA!! Lee Jung min!!” panggil Hye na berseru, dan berhasil menghentikan langkah Jung min, namun tidak berhasil membuat Jung min membalikkan tubuhnya ataupun kembali ketempatnya. Jung moon tersenyum lebar menatap itu.
Hampir 3 bulan Jung moon tinggal bersama keduanya dan En kyu. Dengan sikap dingin yang ia dapatkan dari Jung min, ia mencoba untuk bertahan karena Hye na memintanya untuk bertahan. Dan bujukan Hye na berhasil. Jung moon bertahan. Dan terus mencoba bertahan di tengah sikap dingin dan ketus Jung min. Tapi dia tahu, dia tidak akan pernah melupakan bagaimana tingkah dan sikap Jung min dulu.
Hampir separuh hidupnya, Jung moon tinggal dengan Jung min, jadi apapun itu, hal sekecil apapun tentang Jung min, dia memahaminya. Dan senyum itu masih terlihat di wajahnya saat menghadapi Jung min. Ia semakin terbantu saat ia melihat senyum manis Hye na kapanpun ia inginkan, tepat saat ia merasa akan menyerah. Senyum itu berhasil membuat dia melupakan semua hal yang menyakitkan bagi dirinya. Dan kesehatannya… berangsur membaik.
“auussshhh… sampai kapan kau akan begini… 2 bulan yang lalu… sebulan…dua minggu… dan seminggu yang lalu kau sudah berjanji.. dan semalam kau berjanji lagi tapi…” kalimat Hye na terhenti, Hye na tiba-tiba menyentuh kepalanya, menopang tubuhnya di sandaran kursi, dan menatap Jung min, bingung terhadap keadaan dirinya yang tiba-tiba berubah drastis.
“gwenchana…?”tanya Jung moon tiba-tiba, berlari menghampirinya dan menatapnya, menopang tubuhnya.
Kali ini Hye na berhasil membuat Jung min membalikkan tubuhnya, membuat Jung min terdiam ditempatnya, menatap semua itu kesal. Jung min menatap Hye na yang menekan perutnya dan menutup mulutnya. “gwenchana…?”tanya Jung min berjalan mendekat, begitu pula En kyu, menatap Hye na khawatir. Jung min memegang lengan kanan Hye na sedangkan Jung moon di lengannya yang lain. Jung min diam menatap itu, rasa kesal semakin merajainya.
“lepaskan…”seru Jung min tiba-tiba menatap Jung moon marah, namun Hye na yang mengalihkan pandangannya, menatap Jung min marah.
“ahni… tak apa…”kata Hye na, Jung min dapat melihat dan merasakan napas Hye na yang berderu cepat. Hye na mencoba bangun dan menyeimbangkan dirinya, namun tiba-tiba Hye na jatuh, pingsan., tak sadarkan diri. Jung min dan Jung moon dengan cepat menangkapnya dan menopang tubuhnya.
“Hye na..!!! gwenchana…?”tanya Jung min, meraih tubuh Hye na dari dekapan Jung moon, dan dengan cepat Jung min membopong Hye na dalam pelukannya dan membawanya ke kamar. Setelah dibukanya pintu kamarnya dengan keras, Jung min masuk dan dengan perlahan Jung min meletakkan tubuh Hye na diranjang.
Jung moon dan En kyu mengikuti langkah cepat Jung min, menatap Hye na khawatir “gwenchana..?”tanya Jung moon yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Jung min
“appa… ada apa… omma sakit lagi…? appa ada apa…?” tanya En kyu takut, menatap Hye na yang tengah tertidur dan diselimuti Jung min. Jung min mengalihkan wajahnya menatap En kyu “gwenchana… omma tak apa…”jawab Jung min lembut, dan mengacak rambut En kyu lembut. En kyu diam, menatap Jung min takut sekaligus sedih. Lama keduanya saling terdiam, hingga kemudian Jung min berdiri “bisakah… hyu…hyung… membantuku…”kata Jung min pada Jung moon tanpa menatap kearahnya.
Jung moon diam, menatap Jung min ti dak percaya. Keduanya diam. Jung moon tidak percaya sedangkan Jung min diam menunggu jawaban dari Jung moon.
“yya!!! Bisakah!!!???” seru Jung min kesal
“ne… tentu saja… apapun…”
“tolong hubungi dokter Kim segera…”kata Jung min cepat, tanpa menatap Jung moon yang berdiri tak jauh di belakangnya, menatap Hye na khawatir. “baiklah…” Jung moon berlalu pergi meninggalkan ketiganya.
Jung min diam menatap Hye na yang masih tertidur di tempatnya. En kyu merebahkan tubuhnya di ranjang, disisi Hye na, dan terus menatap kearahnya. “omma… bangun… gwenchana…?”tanya En kyu khawatir, mengusap kening Hye na yang berkeringat. Jung min tersenyum menatap itu “tak apa En kyu-aa… semuanya akan baik… jangan khawatir…”sahut Jung min mengusap kepala En kyu lembut.
En kyu mengalihkan pandangannya menatap Jung min. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca sekarang. “omma….appa…”ucap En kyu pelan, diantara isak tangisnya.
*********
Park Joon diam menatap kosong jendela kaca ruangannya. Senyum terlihat terus terkembang di wajahnya setelah pertemuan itu. Ditatapnya ponselnya yang sedari tadi selalu menyita perhatiannya. Benar, ia tengah menunggu seseorang. Seseorang yang ternyata berhasil menggantikan posisi Hye na dihatinya sebelumnya. Posisi Hye na sebelum benar-benar menjadi seorang dongsaeng di hatinya.
Park joon diam, tersenyum kembali, tanpa menyadari kehadiran 2 orang yang juga menatapnya tersenyum, sampai akhirnya salah satu diantaranya berdeham.
“selamat pagi doronim…”sapa Pak Jeong kemudian membuat Park Joon membalikkan tubuhnya cepat, terkejut.
“oowww…. Aboji… pak Jeong….”
“apa yang kau lakukan…?”
“aaa….ahni…”
“…lalu apa yang membuatmu tersenyum seperti itu…”tanya tuan Han
Park Joon menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya.

“ada apa sebenarnya…pak Jeong bisakah anda menjelaskannya padaku…”tanya Tuan Han lagi, menatap pak Jeong yang berdiri di belakangnya, mendorong kusir dorongnya maju lebih mendekat pada Park Joon.
Pak Jeong mengulum senyumnya sesaat, menatap Park Joon dan kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Tuan Han, untuk memberikan jawabannya lewat bisikan.
“ahhhh… ternyata… tapi bukankah hari ini ada rapat dengannya…”kata tuan Han kemudian setelah mendapat kejelasan dari pak Jeong
“nee… sepertinya tuan Park sangat antusias karenanya…sehingga…”
“pak Jeong…”Park Joon menghentikan perkataan pak Jeong, mendelikkan matanya menatap pak Jeong. Pak Jeong tersenyum, menundukkan kepalanya.
“baguslah kalau begitu… jadi… kau sudah siapkan materi rapat nanti…?”
“ne… semuanya sudah di siapkan…”
“bagus… karena appa akan ikut dalam rapat nanti…”
“mwo!!!???”
“ne…”
“tapi…”
“tak apa bukan…?”
Park Joon menundukkan kepalanya, menatap tuan Han dan pak Jeong bergantian sebelum akhirnya ia menghembuskan napasnya dan menyetujui keputusan appanya itu dan berarti membatalkan semua rencana yang sudah disusunnya.
Tuan Han tersenyum menatap Park Joon, menyimpan berjuta pemikiran dan satu rencana disana.
*********
Jung min menatap Hye na yang masih memejamkan mata di hadapannya. Hanya dirinya sekarang. Setelah dokter Kim datang dan memeriksa keadaan Hye na. Jung min meminta hyungnya untuk membawa En kyu pergi. Jung min tidak mau kehadiran En kyu akan mengganggu Hye na ataupun keadaan Hye na yang akan membuat En kyu semakin khawatir dan terus menangis.
Flashback
Jung min diam, menatap dokter Kim yang tengah memeriksa keadaan Hye na. Suasana hening saat itu. En kyu juga mencoba untuk bersikap tenang setelah banyak kalimat keluar dari mulutnya karena rasa khawatir. Jung min diam, menatap En kyu kemudian hyungnya. Di hembuskan napasnya pelan “hyu…hyung…”panggil Jung min tiba-tiba. Jung moon diam di tempatnya, belum menyadari panggilan Jung min.
“hyung…”panggil Jung min lagi. dan kali ini berhasil membuat Jung moon mengalihkan pandangannya menatap Jung min diam sekaligus terkejut.
“ne…kau memanggilku..?”tanya Jung moon tidak percaya
Jung min diam “bisakah kau membawa En kyu jalan-jalan… aku tidak ingin membuatnya khawatir…”kata Jung min, pelan.
Jung moon diam, menatap Jung min sesaat kemudian senyum terlihat terkembang di wajahnya “ya… aku akan membawanya keluar…”
“gomawo…” jawab Jung min lirih, hampir tidak terdengar dan kembali berdiri disisi dokter Kim.
Jung moon pergi membawa En kyu “kita mau kemana… En kyu ingin menemani omma… En kyu…”
“kita beli es krim En kyu…
“ahni… En kyu ingin menunggu omma disini…”
“kita beli untuk omma juga… bagaimana…?” bujuk Jung moon, menatap En kyu, tersenyum, menunggu
“…appa juga…”
“ne… appa juga…” kata Jung moon, yang kemudian menggandeng tangan En kyu dan membawanya keluar.
Jung min diam, menatap dokter Kim, menunggu apa yang akan dikatakannya dan kemudian senyum terlihat terkembang di wajah dokter Kim. “bagaimana keadaanya dok…?”tanya Jung min, khawatir sekaligus penasaran dengan senyum yang terlihat di wajah dokter Kim
“semuanya baik… tidak ada masalah… lukanya juga tidak apa-apa… luka itu sudah hampir benar-benar sembuh… hanya…”
“…hanya apa dok… kenapa… apa yang terjadi…”tanya Jung min khawatir
Dokter Kim terlihat terdiam menatap Jung min, bingung “…bukankah ini pengalaman kedua mu… kenapa kau belum mengerti juga…”
Jung min diam, masih bingung dengan perkataan dokter Kim “ada apa dok…aku… sebenarnya… apa…” Jung min menghentikan perkataanya, menatap dokter Kim tidak percaya, dan mulai mengerti maksud dokter Kim “oohh…benarkah…?!?”tanya Jung min tidak percaya.
Dokter Kim tersenyum, menatap Jung min tersenyum, menganggukkan kepalanya, seakan mengetahui apa yang belum Jung min ucapkan dan membenarkan apa yang dimaksud oleh Jung min “..ne… benar… Hye na… hamil… dia hamil…dan kemungkinan usianya sudah hampir 12 minggu”tambah dokter Kim, meyakinkan Jung min.
Jung min tersenyum menatap Hye na. Ia tidak menyangkanya “terima kasih banyak dokter Kim… terima kasih banyak…”
Senyum Dokter Kim tiba-tiba menghilang. Jung min mencium sesuatu yang salah disana “kenapa dok…?”tanya Jung min, menatap serius dokter Kim.
Dokter Kim menarik napasnya dalam “…kali ini kau benar-benar harus menjaga kandungannya… jangan biarkan Hye na melakukan pekerjaan yang berat dan membuat dirinya kelelahan… jangan biarkan dia tertekan dan berpikir terlalu keras… karena semua itu dapat mempengaruhi janinnya…”
Jung min diam mendengarkan “…setelah kejadian yang lalu… kandungannya lebih lemah dari sebelumnya… tapi itu tidak akan banyak mempengaruhi janinnya…jika emosi ibunya terjaga dengan baik…buat dia senang… jangan sampai dia bersedih…”
“baik dokter…”
“dan satu pesan untukmu… emosinya akan lebih labil dari sebelumnya… jadi bersabarlah dan tetap bertahan… jangan sampai membuat Hye na tertekan dan sedih…turuti apapun yang kau pikir tidak berat untuknya dan akan membuatnya senang…”
End Of Flashback
Jung min tersenyum menatap Hye na, mengusap kepalanya lembut “bangun sayang… bangun…ada kabar yang menggembirakan untuk kau dengar… ayo bangunlah…”kata Jung min lirih. Namun Hye na masih memejamkan matanya. Jung min menggenggam jemari Hye na lembut dan menempelkannya ke pipi Jung min
“bangun sayang…”panggil Jung min lagi.
Ketukan cepat terdengar, membuat Jung min mengalihkan pandangannya, namun Jung min masih diam ditempatnya, tidak menghiraukannya.
“Jung min-aa…Hye na…”panggil seseorang itu kemudian. Jung min bergegas bangkit kemudian setelah menyadari siapa yang datang.
“ooohhh… nak… benarkah semua itu… benarkah…? omma baru dengar…”ucap Kang Hye Young sedih, menatap sang anak prihatin kemudian mengahmbur ke dalam pelukannya. “maafkan omma dan appa… tidak bisa bersamamu saat itu… sekarang bagaimana keadaan menantu omma… apa baik…dia baik-baik saja…oh… pasti tidak… dia sangat terpukul bukan…? Bagaimana keadaaannya…? Ohhh… omma mengerti… pasti tidak baik… omma tahu bagaimana rasanya kehilangan buah hati yang sudah lama ditunggu…. Omma…huhuhuhu…” omma Jung min menangis dalam pelukan Jung min yang masih diam di tempatnya.
“tenanglah omma…semuanya sudah membaik… Hye na tak apa…”
“lalu dimana menantu omma…?” kata Kang Hye Young mengusap air matanya yang muali menetes
Jung min mengarahkan pandangannya pada Hye na yang masih tertidur diranjang, dan kemudian Kang Hye Young mengikuti arah pandangannya. Dengan cepat Kang Hye Young berjalan mendekat, menatap Hye na penuh kasih dan mengusap kepalanya lembut “…ada apa dengan Hye na… kenapa dia…?” ibu Jung min menatap sang anak, takut sekaligus penasaran.
“dia tak apa omma… dokter Kim baru saja memeriksa keadaannya…”
“jeongmalyo…?”
“ne omma… semuanya baik… bahkan dia akan memberikan cucu lagi pada omma…”jawab Jung min, tersenyum lembut menatap Hye na.
“benarkah…?”tanya omma tidak percaya, menatap Jung min.
“ne… dokter Kim baru saja mengatakannya…”
“ohhh… syukurlah… omma senang mendengarnya…dan…”
“halmooniiiii…..!!!!” panggil En kyu tiba-tiba menghentikan kalimat Kang Hye Young yang kemudian mengalihkan pandangannya, menatap En kyu tersenyum. “ooohhh… cucu halmoni…”kata Kang Hye Young tersenyum lebar senang menatap En kyu dan membentangkan tangannya lebar, memeluk En kyu erat.
“En kyu rindu sekali…”
“halmoni juga… “
“ahhh… halmoni…En kyu sedih…”
“mwola…kenapa..apa yang membuat En kyu sedih…?”
“omma… dia sakit lagi…”jawab En kyu menundukkan kepalanya.
“tak apa sayang… omma baik-baik saja…dan darimana cucu halmoni ini…? Dan apa yang…”
“…omma…” panggil seseorang tiba-tiba, membuat Kang Hye Young mengalihkan perhatiannya dari En kyu dan menatap seseorang itu. Keterkejutan yang sangat terlihat di wajahnya, ketika ditatapnya seseorang yang sangat dirindukannya, walaupun tidak pernah ia katakan kerinduannya itu namun tidak dapat dipungkiri air mata mulai jatuh perlahan, mengalir dipipinya.
“…Jung…Jung moon…”kata Kang Hye Young lirih, membekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya, dan sama sekali tidak menyangka.
“…omma… aku pulang…”sapa Jung moon, tersenyum menatap ibunya itu.

“ooohhh… nak… benarkah ini dirimu…? Jung moon… Lee Jung moon ku… benarkah…ooohhh…”
Jung moon tersenyum menatap ommanya itu. “ ne omma… ini aku…”kata Jung moon yang kemudian membentangkan lengannya, menatap ommanya.
“ooohhh….omma sangat merindukanmu…”kata Kang Hye Young, menghambur, memeluk Jung moon. “omma sangat rindu… rindu…rindu sekali…” tambah Kang Hye Youg dalam pelukan Jung moon.
“…ne omma… begitu pula denganku… maafkan aku omma… selama ini pergi tanpa memberi kabar dan…”
“tak apa sayang… tak apa… omma yang minta maaf tidak bisa membuatmu bertahan di rumah…maafkan omma…”
Jung moon diam, tersenyum dan membawa sang ibu kembali ke pelukannya dan memeluknya erat. Jung min diam menatap itu, kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya.
Hanya sesaat adegan itu berlangsung. Kembali utuhnya sebuah keluarga, tiba-tiba terpecah oleh seseorang.
“uuuhhhh…” gumam Hye na pelan, terbangun dari pingsannya dan membuat semua orang diruangan itu menatapnya, dan menghambur mendekat. “Hye na… kau bangun!!!”seru Jung min, duduk disisi Hye na dan menggenggam jemarinya kuat.
“ahhh…apa yang terjadi…?”tanya Hye na, menatap Jung min “…omma…kapan…akkhhh…” kata Hye na yang berusaha bangkit dari ranjang setelah ditatapnya sang mertua tengah di sana, menatapnya tersenyum.
“tenang dulu sayang… tak apa… berbaringlah…”kata Kang Hye Young kemudian menyentuh pundak Hye na, membuatnya merebahkan tubuhnya lagi.
Hye na kembali tidur, ditatapnya semua orang diruangan itu, rasa penasaran muncul di hatinya “ada apa…? Semuanya baik bukan…?”
“…omma tak apa…? Omma membuat En kyu khawatir…”kata En kyu yang kemudian berlari ke ranjang dan memeluk Hye na erat.
Hye na tersenyum “maaf kan omma sayang… bukan maksud omma…tapi…apa semuanya baik… kenapa…?”kata Hye na sambil mengusap kepala En kyu sayang, penuh penyesalan, kemudian ditatapnya semua orang lalu berhenti pada Jung min. Hye na menatapnnya dengan sebuah pandangan penasaran, bingung.
Semua terdiam, menatap Hye na, tidak ada yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Membuat Hye na terdiam, dengan sejuta rasa penasarannya “ada apa…?”tanya Hye na lagi yang kini menatap Jung min.
“ayo…En kyu ikut halmoni… halmoni membawakan banyak mainan dari haraboji…”
“jeongmalyo…?”
“ne… ayo…dan…Jung moon…banyak yang ingin omma dengar dari dirimu…”
**********
“anyong…”sapa seseorang, tersenyum dan masuk kedalam sebuah ruangan dimana sudah dipenuhi oleh beberapa orang yang mengelilingi sebuah meja panjang dengan sebuah berkas dihadapannya. Semua orang mengalihkan padangannya menatap wanita cantik yang berdiri di pintu dan menunggu wanita itu masuk kedalam, tak terkecuali seseorang yang tiba-tiba bangkit dari tempatnya saat wanita itu beranjak masuk dan duduk dihadapannya. Orang itu terlihat menatap wanita itu diam, tak berkedip.
“maaf tuan Han… tuan park dan semuanya karena saya terlambat…”
“ne… tak apa nona Goo… duduk lah… rapt akan segera kita mulai…”
“khamsamnida…” jawab Eun Jo, tersenyum lebar menatap pak Jeong yang saat itu akan membuka rapat itu.

“silahkan duduk tuan Park… kita akan mulai rapatnya…”kata pak Jeong, menyentuh pundak Park Joon yang berada disisinya membuatnya terkejut dan dengan cepat duduk kembali ke tempatnya.
Rapat dimulai, saat itu tuan Han dapat melihat segalanya. Park Joon terlihat sangat berbeda saat itu. dihadapan Goo Eun Jo, Park Joon tidak dapat menyembunyikan semuanya. kegugupan dan rasa gelisah terlihat jelas di wajahnya, membuat tuan Han menyimpan senyumnya. Tuan Han tersenyum. Dia harus melakukan sesuatu. Kebahagiaan juga harus didapat oleh anaknya itu.
Tuan Han menatap Park Joon dan Goo Eun jo bergantian, menyusun rencana.
*******
“makan malam…?”
“ne… tuan Han mengundang anda untuk makan malam bersamanya akhir pecan besok di mansionnya… dia juga akan mengundang Hye na dan menantunya…” kata pak Jeong, mengutarakan maksudnya, setelah rapat selesai.
“ Hye na… berarti ini makan malam keluarga… apa tidak apa-apa…?”
“ne… tuan sendiri yang meminta anda untuk hadir…”
“tapi…”
“Han Boung Yo-nim sangat mengharapkan kehadiran anda Goo agashi…” tambah Pak Jeong semakin menegaskan.
Eun Jo diam, ditempatnya berpikir, dan sesekali menatap pak Jeong, mencari sesuatu disana. entah sebuah keseriusan atau maksud yang lain. Apapun itu, tapi…
“baiklah…aku akan datang… tapi benarkah tak apa… bukankah semua yang diundangnya adalah keluarganya… apa kehadiranku tidak akan mengganggu…”
“ahni… bukankah saya sudah bilang… tuan Han sangat mengharapkan kehadiran anda… jadi saya mohon anda untuk datang…”
Eun Jo diam lagi, ditatapnya pak Jeong diam, dan… “…baiklah…aku akan datang…”
“ne… terima kasih banyak…” kata Pak Jeong, kemudian, tersenyum senang
Eun Jo membalas senyumannya dan membungkukkan tubuhnya sesaat “…kalau begitu saya pamit pak Jeong…”
“ne… terima kasih banyak agashi…”kata pak Jeong lagi, senang
“ne…”tambah Eun Jo, menatap pak Jeong aneh, sesaat sebelum akhirnya Eun jo benar-benar meninggalkan tempat itu.
*******
Hye na menatap Jung min yang duduk dimeja kerjanya, menatap dan membaca berkas dihadapannya satu persatu dengan serius. Keheningan tercipta diantaranya, yang terdengar hanya bunyi lembaran kertas yang terbuka beradu dengan lembaran yang lain, menciptakan bunyi. Sudah hampir 2 jam Hye na di ranjang, menatap Jung min. Sudah 2 jam pula Jung min tidak memperbolehkan dirinya melakukan apapun bahkan hanya sekedar bangkit dari ranjang. Hye na hanya dapat membaca buku ringan yang diberikan Jung min padanya, yang kini sudah habis ia baca. Hye na menarik napas dalam dan menghembuskannya. Rasa bosan menyerangnya. “sayang… aku ke yayasan ya…”kata Hye na kemudian, memecah keheningan diantara keduanya.
Jung min menghentikan pekerjaannya dan menatap Hye na tajam, dengan cepat Hye na menundukkan kepalanya, mengerti maksud Jung min. Hye na mengerucutkan bibirnya, dan semakin menundukkan kepalanya, tanpa mengetahui senyum lebar yang terkembang di wajah Jung min. “…aku…bosan…”gumam Hye na pelan. Jung min mendengarnya, namun ia masih diam, dan kembali melakukan pekerjaannya.
“sebenarnya ada apa…kenapa kau melarangku untuk melakukan apapun… apa yang terjadi…? Dan…” Hye na terdiam sesaat, mencari sebuah pembelaan yang lain untuk dirinya .“…kau…kau… kenapa tiba-tiba membawa pekerjaanmu ke rumah. Suatu hal yang tidak pernah kau lakukan…” keluh Hye na, menatap Jung min tajam, mencari dan menanti sebuah alasan.
Jung min mengalihkan pandangannya lagi pada Hye na, menatapnya dalam, dan kemudian senyum terlihat diwajahnya. Jung min meletakkan berkas ditangannya dan dengan langkah pelan ia berjalan mendekati Hye na.
“…kau bosan sayang…?”tanya Jung min yang dengan anggukan cepat dan lebih dari sekali dari Hye na “…jika kau merasa bosan…maka…aku takut…”kata Jung min.
“takut…? Waeyo…?”
Jung min diam, menatap Hye na dan membelai kepalanya lembut, kemudian tatapannya beralih ke perut Hye na, membuat Hye na menatap bingung Jung min “…ada apa… lukaku sudah membaik dan kau tidak perlu khawatir tentang itu…”
Jung min tersenyum, mendengar perkataan Hye na. Hye na memang belum tahu tentang kehamilan dirinya. Jung min tahu, Hye na akan sangat senang mendengar kehamilannya namun Jung min ingin membuat Hye na bahagia terlebih dahulu sebelum mengatakan semuanya. Sebuah cara yang akan Jung min lakukan di kehamilan Hye na yang kedua yang belum pernah Jung min lakukan di kehamilan Hye na yang pertama.
“waeyo… kau kenapa…”tanya Hye na lagi.
“…apa kau belum menyadarinya…?”
Hye na memiringkan wajahnya, menatap Jung min bingung. “apa…?” Jung min membalas tatapan Hye na diam “…ahh sudahlah… “kata Jung min akhirnya
Hye na diam, bingung dengan sikap Jung min. Jung min terlihat membereskan semua berkas di meja kerjanya “kau bosan bukan…? Kalau begitu… kita ke yayasan…” kata Jung min akhirnya. Hye na tersenyum lebar mendengar itu, menatap Jung min dan menghambur dalam pelukannya.
“gomawo sayang… gomawo…”kata Hye na
“…tapi…” kata Jung min kemudian, membuat Hye na melepaskan pelukannya, menatap Jung min “apa…”tanya Hye na, tidak menyangka ada tambahan syarat dari suaminya itu.
“tidak melakukan apapun… tidak ada main-main atau melakukan sesuatu dengan anak-anak itu…”
“mwo?!?! YYA!!!...”
“titik… bersiaplah… En kyu juga selalu mengajakku untuk mengantarkannya kesana…”
“tapi…”
“titik”
“auussshhhh…”
“mau tidak…?”
Hye na diam, menggembungkan mulutnya sebal, kemudian segera bergegas untuk bersiap.

**********
Jung min menatap En kyu dan Hye na yang sudah duduk di tempat masing-masing, tersenyum. Hari itu ia serasa memiliki 2 anak. Satu anak yang sangat lucu dan terkadang merepotkan bila sudah mulai penasaran dan banyak bertanya dan satu anak yang membutuhkan pengawalan ketat darinya. Kali ini Jung min yang menjabat sebagai supir untuk keduanya. Dan kali itu, mereka pergi tanpa adanya Jung moon. Jung moon masih ingin menghabiskan waktunya bersama ommanya. Ia sangat merindukan ommanya itu.
“En kyu… pakai sabuk pengamanmu…”kata Jung min, menatap En kyu yang duduk di kursi belakang. “dan kau…”kata Jung min yang tiba-tiba menjulurkan tubuhnya, dan mengaitkan sabuk pengaman di perut Hye na, pelan dan lembut.
“nah… begini lebih baik…ayo kita berangkat…”
“tunggu…”cegah Hye na tiba-tiba, menghentikan kaki Jung min yang akan menekan gas mobilnya.
“kita harus berhenti di supermarket sebentar… banyak yang harus aku beli…”kata Hye na, menatap Jung min serius.
“apakah harus…”
Hye na menjawabnya dengan anggukan kepalanya cepat.dan penuh keyakinan. Jung min menghela napas cepat. “baiklah…”jawab Jung min menyerah.
Mobil melaju cepat membelah angin, menembus dan melewati setiap jalan, tak lama mobil yang mereka tumpangi sudah berbelok ke sebuah supermarket besar di kota Seoul. Hye na dan En kyu turun tak lama Jung min menyusulnya dan segera berjalan menjajari Hye na, mengawalnya, menjaganya.
“kau kenapa…”tanya Hye na bingung, saat menatap Jung min berjalan cepat di sisinya.
“ahniyo… tak apa… En kyu kemari… gandeng tangan appa…”kata Jung min kemudian menatap En kyu yang berjalan disisinya, berusaha menjajari langkahnya dengan Jung min. Jung min mengambil kereta dorong dan bersama Hye na, ia mulai membeli banyak barang dan makanan yang mereka butuhkan.
“yya!! Kenapa banyak sekali… siapa yang akan menghabiskannya…” cegah Hye na saat kereta dorong yang di bawa Jung min di berhentikannya di sebuah rak makanan cepat saji dan dengan cepat tanpa pikir panjang, Jung min mengambil banyak sekali mi ramen dari sana.
“ssttt… aku…aku yang akan menghabiskannya…”jawab Jung min, yang kemudian beranjak pergi dan meninggalkan Hye na yang terdiam, bengong menatap Jung min.
“auussshhh…dasar…”keluh Hye na, yang kemudian tersenyum manis, dan mengikuti langkah Jung min bersama En kyu. Kemudian, saat mereka mencapai bagian sayuran, Hye na mengambil banyak sayuran sebagai bahan dasar pembuatan kimchi dan juga daging.
“apa yang akan kau lakukan dengan semua daging dan sayuran itu…?”
“…memasaknya…”
“auuusshhh… ternyata kau sama saja..”
Hye na mendengus kesal dengan perkataan Jung min, kemudian senyum terlihat terbingkai di wajahnya.
********
Jung min tersenyum menatap kekasihnya yang tersenyum di tengah lelap tidurnya. Jung min mengalihkan pandangannya menatap kursi di bagian belakang di mana En kyu berada. Anak itu ternyata juga sudah terbuai dalam mimpi indah. Senyum terhias di wajahnya.
“selamat malam semuanya…” kata Jung min lirih.
Jung min mengerti walaupun Hye na ia batasi untuk tidak melakukan banyak hal yang melelahkan, Jung min yakin Hye na sangat kelelahan di tengah kebahagiannya. Ia tidak berhenti tertawa bahagia setelah ia bertemu dengan semua orang diyayasan itu, Nyonya Yoon dan terutama anak-anak yang ada diyayasan. Rupanya ia benar-benar merindukan semuanya.
Jung min memutar stir nya dan melajukan mobilnya pelan masuk kedalam halaman Lee’s Mansion. Perlahan Jung min membuka pintu disisinya dan keluar memanggil beberapa orang pelayan yang datang bersama Jung moon dan ommanya.
“omma…?”
“semuanya baik sayang…?”tanya omma Jung min, terlihat khawatir
“kapan omma datang…”tanya Jung min, tanpa menjawab pertanyaan sang omma terlebih dahulu sambil sesekali memerintahkan beberapa pelayan utnuk mengambil semua barang yang dibelinya tadi bersama Hye na.
“bawa semuanya masuk…dan…hyu…hyung… bisakah kau membawa En kyu masuk… dia tertidur di kursi belakang…”
“mwo…?!?”seru Kang Hye Young dan Jung moon bersamaan, namun keduanya menyiratkan keterkejutan yang berbeda “apa dia tak apa…” tanya Jung moon kemudian
“ne… dia tertidur saat perjalanan pulang tadi…”
“sejak kapan…”tanya Kang Hye Young terkejut, menatap Jung min dan Jung moon bersamaan.
“mwo…?”tanya Jung min dan Jung moon bersamaan, bingung.
Kang Hye Young tersenyum diantara air mata yang mulai mengalir jatuh dipipi “peluk omma sayang… omma sangat merindukan kebersamaan ini…”kata Kang Hye Young yang kemudian mendekap kedua anak laki-laki nya itu. Rasa haru dan senang menyergap ke dalam dirinya.
Lama ketiganya saling berpelukan hingga “cukup omma… malu di lihat para pelayan… dan Hye na juga En kyu bisa sakit jika terus tertidur di mobil.
“ah… mianhe… jeongmal mianhe…bawa keduanya masuk… dan biarkan keduanya istirahat…”kata omma Jung min
“ne…” jawab Jung min, mengangkat Hye na ke dalam pelukannya dan membawanya yang masih tertidur lelap. Jung min membawanya masuk dan naik ke lantai 2 dimana kamar keduanya berada, sedangkan Jung moon membawa En kyu masuk kekamarnya yang berada di lantai 1.
Jung min membuka pintu di hadapannya perlahan, tidak ingin membangunkan bidadarinya itu dan menidurkannya perlahan di ranjang sebelum akhirnya menyelimuti tubuhnya.
“selamat malam sayang…” sapa Jung min dan dengan lembut mengecup kening Hye na. Jung min bangkit dan ketika ia benar-benar berdiri dari tempatnya, tiba-tiba Hye na meraih tangannya dan menariknya, menahannya
“…jangan pergi… tetap disini…”kata Hye na pelan, dengan masih dalam keadaan memejamkan matanya, tertidur. Jung min diam, menatap Hye na, kemudian senyum terlihat di wajahnya. Diusapnya lembut dan sayang kening Hye na, melelapkan Hye na. Jung min diam, menatap senyum Hye na, yang dapat membuat ia akhirnya merebahkan dirinya di sisi Hye na, membawa tubuh Hye na tidur dalam dekapannya hangat.
Pelan Jung min kembali mengecup kening Hye na, dan membawa Hye na semakin dalam, mendekapnya erat, memberi kehangatan.
**********
Pagi kembali menjelma. Hye na membuka matanya pelan dan ditatapnya Jung min yang masih menutup matanya, tidur. Hye na tersenyum, kemudian perlahan di telusurinnya wajah Jung min dengan jemarinya dari dahi hingga dagu Jung min. Saat Hye na mencapai dagu Jung min, tiba-tiba Jung min membuka matanya pelan, tersenyum merasakan kelembutan jemari Hye na yang menelusuri wajahnya. “sudah bangun sayang…”tanya Jung min, menatap Hye na yang terlihat menatap dirinya tersenyum
“ne… baru saja… “ jawab Hye na tersenyum, menatap Jung min “…apa yang heeeekkk…”kalimat Hye na terhenti, tiba-tiba rasa mual menyergapnya. Hye na membekap mulutnya kuat dan ditatapnya Jung min yang menatapnya tak kalah terkejut.
“kenapa…”tanya Jung min, bangkit dari pembaringannya, menatap Hye na yang perlahan bangkit sambil terus membekap mulutnya.
“entahlah.. rasanya… heeeekkkk…”kata Hye na, yang semakin membekap mulutnya menahan sesuatu disana, namun kemudian dengan cepat dan tiba-tiba Hye na bangkit dan berlari masuk kekamar mandi.
“pelan saja sayang… tidak usah berlari…”kata Jung min ketika menatap Hye na berlari masuk kedalam kamar mandi dan menyusulnya cepat.
“gwenchana…?”tanya Jung min, ketika ditatapnya Hye na sudah membasuh mulutnya dengan air, dan perlahan diusapnya dengan handuk kering yang tergantung tak jauh disisinya
“nee… gwenchana…”kata Hye na lemah bangkit dan menatap Jung min yang tersenyum. Hye na membalas senyumnya walaupun lemah. Hye na mengusap mulutnya pelan, kemudian keterkejutan dan rasa tidak percaya menyergap dirinya “…sayang… apa aku…”
“kenapa…?”
“ini… itu…apa aku…”
“hamil…”jawab Jung min kemudian, menatap Hye na enteng
“ne…”jawab Hye na yakin, tegas
“apa kau yakin sayang… apa kau yakin bukan karena masuk angin saja…kemarin kau terlalu lama di luar ruangan dan terlalu lama juga tertidur didalam mobil… jadi…”kalimat Jung min terhenti sesaat, ia menatap Hye na yang terdiam dihadapannya. Wajahnya terlihat bersedih.
Hye na diam, menatap Jung min “apa kau tidak ingin..?”kata Hye na, cemberut mendengar perkataan Jung min
“ahniya… bukan itu maksudku…”
“lalu…”kata Hye na lagi, menatap Jung min sedih sekaligus marah
“yya…yya… jangan menangis… bukan itu maksudku…”
“tapi…memang seperti itu bukan…”kata Hye na lagi yang terlihat mulai meneteskan air mata.
Jung min menatap itu dan mengacak kepalanya bingung. “aauuussshhh… bukan itu… sayang…sa…”
Kata-kata Jung min terhenti ketika ditatapnya Hye na sudah berlari masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
“yya… yya…sayang… Hye na…”panggil Jung min memohon, namun Hye na masih diam di tempatnya tidak melakukan apapun.
“mianhe… jeongmal mianhe…aku benar-benar tidak bermaksud untuk itu… tapi kau dokter… kau lebih tahu bukan…”
Hye na masih diam, tidak memperdulikan Jung min yang masih berusaha untuk membuka pintu kamar mandi dan masuk kedalamnya.
Jung min diam, menghela napas berat dan menyerah “baiklah… terserah kau saja sayang… kalau kau tidak yakin… bagaimana kalau kita panggil dokter Kim…”usul Jung min.
Hye na diam, menatap pintu, mendengarkan perkataan Jung min “jeongmal…?”
“ne…”
“jigeum…”
“ne…aku akan menghubunginya sekarang… “kata Jung min, menatap pintu dihadapannya dan menunggu Hye na keluar dari dalamnya.
“jeongmal…?”tanya Hye na lagi dengan wajah sumringah seperti anak kecil yang dijanjikan banyak mainan bagus yang diinginkannya.
“ne…” kata Jung min, menatap pintu di hadapannya, menunggu pintu terbuka Tepat seperti perkiraannya, tak lama Hye na keluar dari kamar mandi, menatap Jung min tersenyum.
“bagus… aku sudah menghubunginya…sekarang kita sarapan… omma sudah membuatkan beberapa makanan untuk kita…”
“omma…?!?!” seru Hye na terkejut
“ne… semalam omma datang…”
“benarkah…? kenapa kau tidak membangunkanku…”
“..tidak mungkin sayang… kau sudah terlalu lelah… tidurmu bahkan sangat lelap…”
Hye na menghela napas berat, mendengar perkataan Jung min “tapi kan tidak baik…”
“tak apa…sekarang kita makan…”
“antwe… tunggu dokter Kim… “ cegah Hye na, saat Jung min menarik tangannya, mengajaknya keluar. “mwo…? Kenapa tunggu dokter Kim…?”
“ne…aku ingin dokter Kim sekarang…”
“tapi…”
“sekarang ya sekarang…”kata Hye na ngotot, melipat kedua lengannya didada tidak mau tahu. Seperti anak kecil yang ngotot untuk di belikan mainan yang ia inginkan. Jung min diam, tersenyum menatap Hye na, kemudian menghela napas pelan “baiklah… kau berbaringlah dulu… aku meneleponnya sekarang…”
“bagus…” Hye na tersenyum mendengar jawaban Jung min.
Jung min menekan beberapa nomer di ponselnya, sesuai dengan janjinya. Namun penantian keduanya tampaknya belum berujung hingga satu jam berlalu. Jung min memegang perutnya, menahan laparnya. Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na yang terlihat tengah membaca majalah sambil bersandar di sandaran tempat tidur.
“ayo sayang kita makan dulu… sudah lapar…”kata Jung min memohon.
“anhiya… kau makan duluan saja… aku menunggu dokter Kim…”
“aiissshhh… kau ini aneh sayang… kau dokter tapi tidak mengerti tanda-tandanya…”
“aussshhh…dokter juga manusia… jadi pasti punya kekurangan dan kelemahan… auuusshhh… kau ini…”
Jung min tersenyum “baiklah…aku akan menghubungi dokter Kim lagi…kau tunggu saja…”kata Jung min yang kemudian bangkit dari sisi Hye na dan berjalan ke pintu. Jung min membuka pintunya dan tepat saat itu dokter Kim akan menekan ganggang pintu kamar keduanya.
“omo..sudah datang dokter…”kata Jung min, terkejut sesaat
“ne…apa semuanya baik… kenapa kau memanggilku sepagi ini…”
“maafkan saya dokter… Hye na meminta saya untuk memanggil anda dan… sepertinya sifat manjanya mulai muncul dok…” Dokter Kim tertawa mendengar perkataan Jung min “…itu baru permulaan nak… tunggu yang lebih gawat lagi…”
Jung min menghela napas berat dan menundukkan kepalanya “…dokter Kim… boleh aku minta sesuatu pada anda…”
Dokter Kim diam, menatap Jung min. laki-laki yang hampir seumur appa Jung min terdiam bingung dengan permintaan Jung min padanya “…apa…apa yang kau inginkan…”kata dokter Kim akhirnya.
*******
Flashback
Park Joon menatap sang ayah yang diam dihadapannya tersenyum. Park Joon diam, bingung menatap senyuman itu.
“ada apa appa… kenapa kau…”
“ahni… tak apa… hanya…bisakah kau menjemput seseorang… ia appa undang ke acara makan malam kita… dan aku ingin kau menjemputnya…”
Park Joon terdiam sesaat, menatap bingung sang ayah “…siapa…?”
Tuan Han tersenyum, menatap Park Joon penuh maksud. Park Joon diam ditempatnya. Ditatapnya dengan semakin bingung “kau akan tahu nanti… sekarang pergilah…”kata Tuan Han “kealamat ini…”tambahnya, menyerahkan secarik kertas kepada Park Joon.
Park Joon menurut dan menerimanya dalam diam, dan hanya dapat diam, menatap kertas di tangannya bergantian dengan sang ayah yang masih berdiri dihadapannya, tersenyum.
“lakukan sekarang…”
“tapi aku harus bersiap…?”
“tak apa… begini saja kau sudah sangat tampan…”
Park joon tersenyum, menatap penampilan dirinya sendiri yang saat itu baru saja pulang bekerja. Dengan jas dan dasi yang memang sengaja ia longgarkan ternyata memang masih membuat dia sangat tampan.

“yya…appa…aku seharusnya curiga dengan sikapmu ini…”
“cih…kau memang tampan…”
“auuussshhh…darimana kau belajar menggoda…”
“aiiisshhh…lakukan saja…jemput orang itu sekarang…”kata sang ayah akhirnya, yang kemudian pergi meninggalkan Park Joon, yang masih diam tersenyum lebar di tempatnya, beserta rasa bingung yang masih menyertainya
End Of Flashback
Dan disinilah ia sekarang, menatap diam, rumah besar di hadapannya. Senyum yang semula hadir di wajahnya terhapus hilang.
“silahkan masuk doronim… agashi sudah menunggu…”kata seorang pelayan, membuyarkan keterdiaman Park Joon. “mwo?!?! Agashi…?”
“ne… agashi…silahkan masuk…”ajak pelayan tersebut lagi.
Park Joon diam, menatap pelayan itu dan kemudian menurut masuk kedalam rumah itu, dan duduk si salah satu sofa yang ditunjuk oleh pelayan tersebut.
“khamsamnida..”jawab Park Joon, ragu, sambil terus menatap dan mengitarkan pandangannya menatap semua bagian ruangan itu, hingga tanpa menyadari kedatangan seseorang yang menatapnya diam, sedikit terkejut.
“tuan Park…”sapa orang itu, lirih namun Park Joon masih mampu mendengarnya, karena dengan cepat Park Joon mengalihkan pandnagannya menatap orang itu, lalu terdiam lama, terkejut.
Keduanya terdiam, saling menatap, namun hanya Park Joon yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang berdiri dihadapannya.
“tuan Park …”panggil orang itu menyadarkan keterdiaman Park Joon.
“ah..de…”
“apa kita bisa pergi sekarang…”
“ahh…ne…”jawab park Joon terkejut, tersadar dan kemudian beranjak dari tempatnya melangkah cepat melewati orang tersebut. Orang tersebut terlihat diam, bingung dengan tingkah park Joon yang berjalan terus masuk, melewati dirinya.
“ahhh... Park Joon..pintunya disana…”kata orang itu dengan senyum tertahannya, menunjukkan arah sebaliknya dari arah yang dituju oleh park Joon. “ahhh…de… mianhe…”jawab park Joon menundukkan kepalanya malu, sangat malu bahkan, dan kemudian melangkah pergi, mendahului langkah orang itu yang tersenyum menatap tingkah Park Joon.
********
“sayang…”panggil Jung min, menatap Hye na yang terdiam di ranjang menatap kosong hadapannya. Hye na diam, ditempatnya kosong, tidak menggubris panggilan Jung min. Jung min mengenakan jasnya dan membalikkan tubuhnya. Ditatapnya sang kekasih diam, sedikit kesedihan hadir dihatinya menatap sang kekasih yang diam lesu ditempatnya, tidak bertenaga terlihat sangat sedih.

“sayang…”panggil Jung min lagi, berjalan mendekat dan duduk disisi Hye na yang masih diam, membisu dengan pandangan kosong. “Hye na…”panggil Jung min lagi lirih. Dirangkulnya bahu Hye na dan dibawanya ke pelukannya “gwenchana… tak apa… kita hanya harus menunggu…”hibur Jung min. Hye na diam, membenamkan kepalanya di dekapan Jung min. Jung min mengusap lembut kepalanya dan mengecup lembut keningnya. Isak Hye na mulai terdengar. “hey…jangan nangis… kita bisa berusaha lagi… tenanglah…”
“…ta…tapi…” ujar Hye na, diantara isak tangisnya yang pelan.
“tak apa sayang… tak apa..” hibur Jung min, mendekap semakin erat Hye na.
“tapi…ak…aku…sudah lama…menunggu…”
“ne… aku tahu… tapi kita hanya dapat berusaha bukan… semuanya diluar kuasa kita… mungkin belum saatnya kita mendapatkan pengganti yang sudah hilang…”
Hye na diam, terisak. Jung min menatapnya, mengangkat wajah Hye na, hingga keduanya saling menatap. “masih banyak waktu dan cara untuk mendapatkannya… lagipula…”
Jung min menghentikan kalimatnya sesaat dan tersenyum “kita masih punya En kyu bukan… biarkan semuanya berjalan alami…pasti akan ada saatnya…”
Hye na menatap Jung min diam. Jung min menghapus air matanya pelan “sudah…sekarang bersiaplah…”
“…de…?”Hye na menatap Jung min bingung “kita mau kemana…?”tanya Hye na
Jung min tersenyum. “aku yakin kamu akan sangat senang…”
“jeongmal…?...errrmmm…apa kita akan ke taman ria…”
“ahni…”
“lalu…”
“…pokoknya kamu akan sangat senang… sekarang bersiaplah…”
Hye na diam, menatap Jung min kemudian bergegas bangkit dan bersiap, sesuai kata Jung min.
********
“haraboji!!!!”seru En kyu senang dan berlari ke pelukan sang kakek senang saat ketiganya sampai kekediaman Han.
“appa…!!!”seru Hye na tak kalah senangnya dari En kyu “bogoshipo…”kata Hye na, bersamaan memeluk sang ayah dengan En kyu.
“En kyu juga…”
Tuan Han tertawa keras, senang menatap dengan mengalami semuanya. “de…haraboji dan appa juga sangat rindu dengan kalian…”
Hye na mengangkat tubuhnya dan menatap sang ayah, penuh kerinduan “bagaimana kabar appa…?”tanya Hye na, menggenggam tangan En kyu yang berdiri di sisinya.
“sangat baik…sangat baik… tapi… kau terlihat sangat pucat sayang… apa yang terjadi…”tanya Tuan Han, yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap Jung min.
“ahni appa… Na tak apa… hanya sedikit lelah…”kilah Hye na
“ahni… tidak seperti yang appa lihat… kau terlihat tidak baik…”
Hye na diam ditempatnya menundukkan kepalanya. Hari itu Hye na memang terlihat sangat pucat, ditambah syal dan pakaian tebal yang menutup tubuhnya menegaskan jika Hye na memang sedang tidak baik.

“tak apa appa… semuanya baik…”
“tapi…”
“benar aboji…semuanya baik… tidak perlu khawatir… itu karena kulit Hye na yang seputih salju bukan…”tambah Jung min.
Hye na tersenyum menatap Jung min. “ne… benar appa… tenang saja…” tambah Hye na, mendekap pinggang Jung min, memeluknya erat.
“ehemmm…”deham seseorang tiba-tiba, membuat semua orang diruangan itu mengalihkan pandangannya menatap kearah pintu.
“…kau sudah datang Hye na sayang…”sapa orang itu, menatap Hye na lembut
Hye na dan Jung min diam menatap orang itu, sedikit terkejut dengan perkataannya. “yya!! Oppa…sejak kapan kau memanggilku seperti itu…”keluh Hye na.
“YYa!!! Park Joon…dia sudah menjadi milikku…jadi tidak ada seorangpun yang boleh memanggilnya seperti itu kecuali aku..!! auussshhh”seru Jung min kesal, mendekap Hye na lebih erat lagi di pelukannya.
“appa juga tidak boleh…”sambung Tuan Han tiba-tiba
Jung min diam, menatap Tuan Han “…ne…termasuk aboji…”
“oowwwhhh…. Begitu ya…”
Hye na tersenyum senang melihat itu “oppa…siapa wanita cantik yang kau bawa itu…sepertinya….tidak asing…”
Park Joon tersadar dan terdiam di tempatnya, terkesiap dan teringat seseorang yang berdiri diam di sisinya.
“anyong… Chonun Eun Jo..Goo Eun Jo imnida…”sapanya memperkenalkan diri, membungkukkan tubuhnya, yang dibalas dengan hal yang sama oleh Hye na.
“ahhh… Eun Jo onnie…aku sering mendengar namamu dari appa dan oppa…”
“jeongmal…?”
“ne… “
“masuklah Eun Jo… kita ngobrol didalam..”ajak tuan Han
“ne…” Eun Jo masuk, mengikuti langkah tuan Han, En kyu dan Jung min. Sedangkan Hye na, berjalan perlahan mendekati park Joon sambil terus menatap Eun Jo yang berjalan masuk ke ruang keluarga mansion tersebut.
“oppa…Eun Jo onnie cantik ya…”kata Hye na
“ne..selalu… selalu cantik… dan malam ini ia terlihat lebih cantik…”jawab park Joon, menatap Eun Jo tanpa berkedip, mengikuti langkahnya yang masuk dan sepertinya tidak menyadari ucapannya.
Hye na tertawa pelan di tempatnya mendengar perkataan Park Joon. Hye na menatap Park Joon, tersenyum senang karena berhasil menangkap kejujuran dari Park Joon.
Eun Jo memang terlihat cantik malam itu. Dengan gaun bermotif kotak-kotak, berwarna hijau dan hitam dan bermodel kemben. Eun jo terlihat sangat manis dan berbeda dari biasanya yang selalu memakai setelan jas dan celana panjangnya.

“ahhh.. Hye na mendengar lagu-lagu cinta yang bergema… sepertinya ada cinta yang sedang bersemi disini…”goda Hye na yang kemudian dengan cepat berlalu dari hadapan Park Joon yang diam ditempatnya, namun kemudian senyum terlihat diwajahnya.
Makan malam dimulai. Semua orang terlihat sudah duduk di tempatnya masing-masing dan mengitari meja dengan berbagai macam makanan. Keceriaan dan kebahagian menyelimuti mereka hingga akhir sisa makanan.
“sudah kenyang…?”tanya Jung min, duduk di sisi Hye na, memberikan segelas air putih padanya.
“ne…”
“aiissshhh.. tentu saja… kau makan banyak sekali malam ini… seakan kau belum makan selama seminggu…”goda Jung min.
“auussshhh…” dan Hye na mulai meneguk palan air putih di tangannya, “…errmmm… gomawo sayang… tapi…heyyy…ada yang aneh… biasanya kau membawakanku segelas kopi.. tapi kenapa… heekkk…” Hye na menghentikan ucapannya, dan membekap mulutnya kuat. Rasa mual menyerangnya setelah appa, Park Joon dan Eun Jo datang bersama Jang halmoni yang membawa beberapa cangkir kopi. Hye na berlari masuk kedalam kamar mandi dan mulai menyelesaikan rasa mualnya, namun tidak ada yang keluar disana. Hanya ada rasa mual yang sangat yang menyerang perutnya. Hye na menarik napas panjang setelah merasa lebih baik. Jang halmoni terlihat diam berdiri di sisinya.
“kau hamil lagi nak…”ujar Jang halmoni tiba-tiba, memberikan handuk kering pada Hye na, dengan wajah yang terkejut, tidak percaya.
Hye na diam, menatap Jang halmoni terkejut “de…?!? Ahni halmoni…aku hanya masuk angin…”jawab Hye na
“tapi…seperti yang lalu…kau mual setelah mencium bau kopi, atau susu..”
“tapi nek… dokter Kim sudah memeriksaku tadi pagi dan katanya…”
“tapi… ibu hamil… bisa seperti itu… jadi…”
“tapi nek… tidak mungkin…”Hye na terdiam sesaat di tempatnya, mengingat segalanya kembali dan menyadari segalanya. “…kecuali..Jung min bersekongkol dengan dokter Kim…”
Jang halmoni diam ditempatnya, menatap Hye na bingung sesaat, tidak mengerti dengan yang dibicarakannya. “apa maksud anda agashi…?”
“ahh…ahni…” Hye na terdiam sesaat “…errmmm Jang halmoni…bisakah kau mengantarku ke rumah sakit…”
“malam ini agashi…?”
“ne… malam ini…”
“jigeumyo…?”
“ne… jigeum…”
“tapi… “
“bantu aku memberikan alasan…”
“tapi agashi…”
“ayolah Jang halmoni…?”pinta Hye na, memohon.
********
Pagi menjelma, matahari kembali hadir memancarkan sinar dan kehangatannya. Sinar matahari terlihat menerpa wajah putihnya, membuatnya memejamkan matanya, karena silau. Jung min diam menatap sang bidadari yang masih terbuai dalam mimpinya, terlelap tidur. Kemudian senyum terpancar diwajahnya. Jung min melangkah mendekat dan mengusap pelan wajah Hye na, setelah ia menutup tirai jendela kamar keduanya. membuat senyum Hye na terlukis inddah di wajahnya, bagai matahari pagi, yang kini tengah menyinari bumi. Hangat ….
“bangun sayang” ucap Jung min lirih, sambil terus mengusap pipi Hye na. Tak lama senyum semain terkembang di wajahnya saat ia menyadari senyum Hye na yang lebar terlihat di wajahnya, namun Hye na masih menutup kedua matanya.
“bangun sayang…”ujat Jung min lagi, pelan, sambil mengusap bibir mungil Hye na yang tersenyum. Namun Hye na terlihat masih menutup kedua penglihatannya. “YYA!! Bangun pemalas… aku ingin kau menyiapkan pakaianku pagi ini…” ujar Jung min tak sabar.
Hye na membuka matanya perlahan mentapa Jung min diam. Saat itu ia menatap wajah Jung min sangat dekat dengannya, membuat jantungnya berdegup kencang. “kau sudah bangun…?”tanya Jung min pelan, tersenyum, mendekatkan wajahnya.
“auussshhh… bisakah lebih lembut lagi…”keluh Hye na
Jung min diam, menatap Hye na, penuh maksud “waeyo…?”tanya Hye na bingung
Jung min tersenyum, masih menatap Hye na, dan semakin mendekatkan wajahnya menatap Hye na. “yy..yya..yya!! apa yang mau kau lakukan…?!?” seru Hye na semakin keras dan dengan cepat bangkit dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi. Jung min tersenyum, ia berhasil, namun senyumnya hanya sesaat, setelahnya senyum itu berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
“…gwenchana sayang… kau tak apa…?”
Hye na diam, mengusap mulutnya pelan “ne… tak apa… sepertinya aku masih masuk angin…”
“benarkah…? kalau begitu istirahatlah…”
“ahni…aku ingin kerumah sakit…”
Jung min diam, menatap Hye na terkejut “bo…!?!? Untuk apa…? Kemarin dokter Kim sudah memeriksamu bukan…? Jadi…”
“hanya untuk memastikan…aku akan memeriksakannya pada Dokter Choi…”
“mwo…?!?!? YYA!! Kalau begitu aku ikut…”kata Jung min, menatap Hye na cemas dan takut seakan rahasia terbesarnya akan terbongkar dalam hitungan detik. Hye na diam menatap Jung min, senyum terlihat di wajahnya.
“kenapa…”
“apa…?”
“kau terlihat sangat khawatir…?” tanya Hye na tersenyum “tak apa sayang… tenang saja…semuanya akan baik…”hibur Hye na, tersenyum, menenangkan Jung min, menepuk bahunya pelan. “ahni sayang…aku hanya khawatir…?”
“tak apa…”
Jung min diam menatap Hye na, rasa takut dan kesal merasuk di dirinya “ahhh…gagal sudah rencanaku…”pikir Jung min, menyesal dalam hati.
“benarkah…?....atau ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku…?”tanya Hye na, tersenyum aneh, seakan telah memenangkan sesuatu
“ahni… tak apa… dan tak ada…
***********
« Last Edit: December 06, 2010, 05:01:31 pm by ai_yuki »

Logged