LanjutanPark Joon diam. Menatap kosong meja kosong dihadapannya, dengan – sesekali - senyum terlihat merekah diwajahnya. Senyum aneh yang memancarkan rasa cinta. Hingga tidak menyadari hadirnya seseorang dihadapannya.
Orang itu berdeham, setelah beberapa lama Park Joon hanya diam dan menatap kosong makanannya.
“ahhh…aboji…”seru park joon terkejut dan bangkit dengan cepat dari tempatnya. “sejak kapan…?
Tuan Han diam, menatap park Joon sesaat, kemudian duduk di hadapannya “sejak kau tersenyum aneh seperti itu…kau belum berangkat..”
“ahh…sudah…ahni maksudku…belum…aku belum berangkat aboji…masih menunggu pak Jeong…”jawab park Joon gugup.
Keduanya terdiam, melakukan kembali aktivitas sebelumnya, termasuk park Joon yang kembali terdiam, menatap kosong meja di hadapannya dengan senyum merekah di wajahnya. tuan Han terlihat membuka Koran paginya, mencari berita-berita yang menarik baginya
“sebenarnya apa yang kau bayangkan hingga tersenyum seperti itu…? apa…Goo agashi…?”tanya Tuan Han dengan pandangan masih tertuju pada Koran paginya.
“ne…ahhh..ahni… bukan aboji…”
Tuan Han tersenyum, menatap korannya “kalau begitu kenapa kau tersenyum seperti itu…?”
“ahni… tak apa…hanya…” Park Joon terdiam bingung, terlihat gugup, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Tuan Han.
“kenapa…?”tanya Tuan Han
“ahni… tak ada aboji…”jawab park Joon, mengambil segelas teh yang baru saja dibawa oleh Jang halmoni di meja, tepat dihadapannya.
“apa …senyummu itu berhubungan dengan Goo agashi…?”tanya tuan Han tiba-tiba yang berhasil membuat Park Joo tersedak.
“mwo..? ahn…ahniya…”
“…mulutmu bisa mengatakan itu…tapi reaksimu… tidak… tuan park…”ujar tuan Han, tersenyum lebar menatap Park Joon yang duduk di hadapannya, tersenyum
Park Joon diam, menundukkan kepalanya, menyimpan malu. Terbayang kembali di kepala semua yang terjadai setelah makan malam itu.
Flashback
Park Joon menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah rumah. Jantungnya terasa sakit saat itu, dan ia tahu kenapa jantungnya begitu sakit. Jantungnya berdegup sangat cepat saat itu. memompa darah dengan begitu cepatnya, membuatnya terasa sakit.
“gomawo…” kata Eun jo tiba-tiba setelah Park Joon menghentikan mobilnya di depan kediaman Goo.
“ahn…ahni… tak apa… ini sudah menjadi kewajibanku…”jawab Park Joon
Eun Jo diam, menatap Park Joon, kemudian senyum terkembang di wajahnya. Eun jo menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya.
“ahhh.. maksudku…aku…aku yang menjemputmu…jadi aku yang harus mengantarmu pulang…”jawab Park Joon.
Eun jo tersenyum lebar “…ne aku mengerti tuan Park… gomawo…”
Park Joon diam, menundukkan kepalanya, tersenyum “tak masalah…”
Eun jo membuka pintu mobil Park Joon pelan dan turun, “…satu permintaan…agashi… jangan memanggilku pak jika kita tidak berada di kantor… cukup park Joon saja…”ujar park Joon sebelum Eun jo menutup pintu mobilnya. Eun jo tersenyum “…baiklah…asal anda juga berjanji jangan memanggilku agashi lagi…cukup Eun jo saja… baik di kantor atau di luar kantor… tak apa…”sahut Eun jo kemudian yang di jawab dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.
Dan saat itulah, nyanyian cinta bergema di hatinya. Bunga-bunga bersemi dan angin musim semi berhembus.meniupkan setiap bunga dan menyebarkan harumnya.
End of Flashback
Lagi-lagi senyum lebar terkembang di wajahnya. Rasa cinta semakin berkembang di hatinya. Kali ini ia benar-benar berharap tidak akan mengalami kegagalan cinta untuk kedua kalinya, seperti yang ia alami pada Hye na.
“dan…sekarang aboji mulai yakin…”kata tuan Han, membuyarkan sneyum yang terkembang di wajah Park Joon
Park Joon diam, menatap sang ayah dan bangkit dari tempatnya “…aboji…saya berangkat dulu…”
“..tapi pak Jeong belum datang…”
“tak apa aboji… biar dia menyusul nanti..”
Tuan Han tersenyum diam, menatap sang putra yang kemudian segera beranjak pergi dari hadapannya. Dasar…batin tuan Han.
*********
Jung min terdiam, menatap kertas di hadapannya kosong. Setumpuk pikirannya berhasil mengalihkan setumpuk kertas berkas penting di hadapannya. Sesekali helaan napas terdengar darinya. Banyak yang ada dipikirannya saat itu. Dan yang sangat menyita pikirannya adalah rencana yang ia ingin dia lakukan untuk kekasih hatinya. Bidadarinya dan ibu dari anaknya. Ia ingin melakukan sesuatu untuk Hye na. sesuatu yang membahagiakannya. Tapi, rencana itu gagal sebelum ia melakukannya.
Jung min kembali menghela napas dan terdiam, menundukkan kepalanya. Lagi-lagi ia melamun. Pikirannya kembali melayang terbang, mencari cara yang lain untuk melakukan rencana itu. Namun, buntu… tak ada ide yang datang menghampirinya bahkan terbersit pun tidak. Lagi-lagi helaan itu terdengar, pikirannya kembali melayang, hingga akhirnya jatuh tersadar ketika ia mendengar ketukan di pintu ruangannya. Ketukan keras yang lama karena lamanya ia terbang.
“masuk…”seru Jung min kemudian, ditatapnya seseorang yang berdiri di pintu lesu.
“anyong Lee Jung min…”serunya. Jung min mengangkat wajahnya kembali, ditatapnya seseorang yang berdiri tersenyum di hadapannya.
“Lee Seung gi…”jawab Jung min, bangkit dari tempatnya dan berjalan menghampiri Seung gi yang masih berdiri diam dengan senyum yang merekah dihadapannya.
“apa kau tidak merindukanku saeng-aa…”tanya Seung gi, membentangkan kedua lengannya untuk memeluk Jung min, namun ternyata gayung tidak bersambut. Jung min membanting setirnya berbelok dan duduk di sofa ruangannya tak jauh dari pintu ruangannya.
“aiisshhh… tidak berubah…”gumam Seung gi pelan, namun masih dalam batas pendengaran Jung min.
“
kenapa kau pulang…? Liburanmu belum selesai bukan…?”tanya Jung min ketus
“sama saja…”gumam Seung gi lagi.
Keduanya terdiam sesaat, salig menatap dan mengalihkan pandangan, kemudian saling tersenyum. Rasa rindu ternyata juga terbersit di dalam diri mereka. Walaupun hanya terrucap tidak namun hati mereka mengatakan iya.
“yya!! Jung min-nim…aku dengar Hye na hamil ya…?”tanya Seung gi, menatap Jung min
“cih… darimana kau tahu…apa kabarnya ada di Koran pagi yang kau baca saat kau liburan… wah… benar-benar hebat… aku bahkan belum mengatakannya pada Hye na…” kata Jung min yang setelahnya, ia terdiam menundukkan kepalanya. Teringat kembali semuanya.
“mworagu…?”tanya Seung g bingung sekaligus khawatir
Jung min diam ditempatnya, tidak menjawab pertanyaan Seung gi “aiiisshhh… kau benar-benar masih sama…aku tahu…semua ini pasti berhubungan dengan Hye na…”
Perkataan Seung gi berhasil membuat Jung min mengangkat wajahnya, menatap Seung gi. “aiiissshhh…aku tahu itu…”kata Seung gi lagi, tanpa mendengar perkataan Jung min dan dengan hanya melihat raut wajahnya, ia mengerti.
“ada apa lagi sekarang…?”tanya Seung gi
Jung min menghela napas berat dan diam. Keterdiaman keduanya terganggu oleh ketukan di pintu. Ketukan pintu yang cepat dan terdengar sangat penting.
“masuk…”seru Seung gi, tidak ingin menunggu Jung min lagi.
Sang sekretaris membuka pintu dan masuk dengan napas cepat, menderu “ada apa…”tanya Seung gi, berjalan mendekat pada sang sekretaris.
“…agashi…hah…agashi… dia…aku…tuan…” sang sekretaris tampak masih belum dapat menenangkan dirinya. Dan ini berhasil membuta Jung min mengalihkan perhatiannya pada sang sekretaris.
“ada apa…? Ceritakan pelan-pelan…”desak Jung min akhirnya, mengikuti langkah Seung gi bangkit dan berdiri di sisi Seung gi. Ditatapnya tajam sang sekretaris. “… tenangkan dirimu dan katakan pelan-pelan…perlahan…”kata Seung gi menenangkan.
Sang sekretaris menarik napas dalam, menenangkan dirinya, setelahnya ia menatap Jung min dan Seung gi tajam, bergantian.
“ada apa…?”
“ahhh…Jung min-nim… Hye na agashi… dia berada di rumah sakit…”
“MWO!!! Aissshhh… kenapa kau tidak segera mengatakannya…”seru Jung min cepat dan segera berlari meninggalkan Seung gi dan sekretaris cepat.
“apa saya akan di pecat… seosonghaeyo… aku…’
“tak apa… tidak ada yang akan memecatmu…”hibur Seung gi, membawa sang sekretaris kedalam dekapannya.
“yya!! Lee Seung gi!!!” panggil Jung min tiba-tiba, menahan pintu lift yang akan tertutup.
“ahh…de…”jawab Seung gi yang kemudian berlari menyusul Jung min, masuk kedalam lift tepat saat Jung min melepaskan pegangannya..
“aiissshhhh… untung saja…”gumam Seung gi. Ditatapnya Jung min yang berada di sisinya. Terlihat sangat cemas duduk berdiri di sisinya. Seung gi menatapnya tersenyum “…tenang saja… tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Hye na… ia wanita yang kuat dan penuh keberuntungan…”kata Seung gi. Jung min masih diam disisinya, sepertinya kalimat menghibur Seung gi tidak berhasil membawanya keluar dari rasa khawatir.
Seung gi menatapnya, diam, namun tak lama kemudian senyum terlihat di wajahnya. Ditatapnya Jung min lama dan dihelanya napas, tenang.
**********
Seung gi menghentikan laju mobil Jung min dan sebelum benar-benar berhenti Jung min berlari cepat keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah sakit. Seung gi keluar tanpa mampu menghentikan laju lari Jung min. Jung min sudah sangat tergesa ketika mendengar kabar tentang Hye na. Perlahan Seung gi keluar dan berjalan keluar ke sebuah toko bunga yang tak jauh dari tempatnya berada. Ia membeli beberapa ikat bunga mawar putih yang di bungkus apik dan diberi pita. Benar-benar menarik. Setelahnya ia masuk kedalam rumah sakit.
Jung min masih berlari masuk ke dalam lift dan segera menekan tombol 3. Lift berdebtang tertutup dan mulai bergerak perlahan. Jung min sangat khawatir saat itu. Banyak hal berkelebat di kepalanya. Ketakutan merajai.
“aiiissshhh… sudah aku bilang istirahat di rumah…tapi kau…”gumam Jung min pelan. Pintu lift berdentang terbuka dihadapannya, membuat Jung min segera berlari keluar dari sana dan melaju cepat ke sebuah ruangan. Jung min menghentikan langkahnya saat tiba-tiba sebuah pintu terbuka dari dalam. Jung min menatap seseorang dihadapannya yang diam sama terkejutnya dengan dirinya.
Keduanya terdiam sesaat, saling menatap. “mana Hye na…”tanya Jung min cepat begitu tersadar dari keterdiamannya.
Orang itu hanya diam, menundukkan kepalanya, dan diam. “yy..yya…yya…apa yang terjadi…”tanya Jung min lagi, semakin khawatir. Orang itu masih diam ditempatnya, hanya helaan napas yang berat yang terdengar.
“aaiiissshhh..!! apa yang terjadi!!”seru Jung min akhirnya tak sabar
“…dia…ada di atap…”jawab orang itu akhirnya. Jung min diam, menatap orang itu. rasa bingung kembali menguasai dirinya.
“ayo…”
Jung min diam sesaat kemudian segera berlari pergi menaiki tangga. Ia tidak ingin berlama-lama menunggu lift yang begitu lama berdentang terbuka dihadapannya, namun ketika ia membuka pintu darurat, langkahnya terhenti, ditatapnya sekuntum mawar merah yang tergeletak di lantai. Jung min menatapnya sesaat, kemudian memungutnya. Ditatapnya sekuntum mawar itu ditangannya sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya lagi. Jung min kembali berlari naik ke tangga berikutnya dan lagi-lagi langkahnya terhenti. Ia kembali memungut sekuntum mawar yang mulai ia sadari sengaja di letakkan oleh seseorang. Dan itu terjadi hingga akhirnya ia sampai di tangga terakhir menuju atap. Jung min diam, menatap sekuntum bunga terakhir ditangannya. Sebuah foto hitam putih diantara bunga-bunga terakhir yang ia temukan di sana. Sebuah foto yang tidak jelas tentang apa, yang ia tahu foto itu memperlihatkan titik kecil di tengah dengan latar belakang foto hitam. Jung min tersenyum, ketika mulai menyadarinya.
Perlahan Jung min membuka pintu, cahaya terang matahari mulai menyinari dirinya dan kedua penglihatannya. Jung min diam sesaat, di carinya sebuah sosok di antara sinar matahari yang menyilaukan. Dan sosok itu terlihat tengah berdiri dengan tangan membentang terbuka dan mata tertutup. Jung min berjalan cepat menghampiri, ketika rasa takut mulai menghantui dirinya.
“yya!! Apa yang kau lakukan!!!” seru Jung min, memeluk Hye na dari belakang, seakan menghentikan langkah Hye na yang akan terjun dari atap rumah sakit.
Hye na tersenyum, di bukanya kedua penglihatannya perlahan “kau sudah datang…”kata Hye na, mengusap pelan tangan Jung min yang melingkar di perutnya.
“sebenarnya apa yang kau lakukan…” bisik Jung min, bertanya.
“ahni… tak ada… hanya menunggumu…”
Jung min diam, di benamkan kepalanya di tengkuk Hye na, menghirup aromanya “…jadi semua bunga itu…?”
Hye na tersenyum geli “apa…sudah romantis…?”tanya Hye na, melepaskan dekapan Jung min, memutar tubuhnya.
“…eerrrmmmm…. Hampir…”
Hye na menundukkan kepalanya, sedih “… masih belum ya…”
Jung min tersenyum “…hampir… hanya kurang ini…” ucapnya, yang kemudian mengangkat dagu Hye na perlahan, dan ditatapnya Hye na dalam, penuh cinta kemudian seperti yang Hye na diga, Jung min membenamkan bibir padatnya di bibir Hye na. Jung min menciumnya dengan penuh kelembutan.
Hye na tersenyum menatap Jung min lembut setelah Jung min melepaskan ciumannya. Jung min membalas tatapan Hye na, tersenyum. “…foto ini…”tanya Jung min, menunjukkan foto yang ia temukan diantara bunga-bunga.
Hye na tersenyum, “kau sudah tahu…”tanya Jung min kemudian, menatap Hye na.
Dan tanpa menjawab pertanyaan Jung min, Hye na membawa Jung min duduk di sebuah kursi yang sudah ia sediakan, yang menghadap ke sebuah dinding atap dimana sudah terpasang layar besar. Hye na menyalakan laptopnya dan hanya dalam hitungan detik, sebuah film terlihat di hadapannya. Jung min diam, menatap layar itu takjub. Dari film, itu ia hanya melihat sebuah video kabur yang bergerak perlahan dan menunjukkan gambar yang sama dan tidak berubah hanya memperlihatkan gerakan-gerakan yang berbeda, seakan hanya diambil dari satu tempat. Jung min terdiam, ia bangkit dari tempatnya dan menajamkan pendengarannya saat ia mendengar degupan jantung yang terdengar lirih namun cepat disana, seperti jantungnya saat itu.
Hye na tersenyum. Dilangkahkan kakinya perlahan mendekati Jung min, dan dipeluknya Jung min dari belakang. “….anak kita…”bisik Hye na, yang kemudian disusul senyum lebar dari Jung min
***********
Malam menjelma kembali. Menunjukkan kecantikannya dengan kerlip bintang dan sinar bulan sabit yang menyertainya. Hye na diam menatap mawar putih di sisinya yang sudah ia pindahkan ke sebuah pot cantik di kamarnya yang ia letakkan di meja disisi ranjang tepat di sampingnya. Di pandanginya terus tanpa menyadari tatapan Jung min dengan senyum terkembang di wajahnya.
“kok belum tidur…kenapa…?”tanya Jung min kemudian
Hye na mengalihkan pandangannya dan tersenyum menatap Jung min “…bunga pertama yang kau berikan padaku…”kata Hye na
Jung min diam, ia kalah. Ia benar-benar tidak pernah bersikap romantis pada Hye na, dan hari itu, Hye na yang mendahuluinya. Memberikan sesuatu yang romantis untuknya dan membuatnya bahagia hingga berjanji tidak akan pernah melupakan hari ini. “benarkah…?”tanya Jung min kemudian, menatap Hye na, dan dalam hati berterima kasih pada Seung gi. Ia benar-benar kalah dari Seung gi. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan apa yang membuat Hye na senang dan bahagia. Dan ternyata hanya dengan seikat bunga, Hye na sudah sangat bahagia hingga tidak dapat memejamkan matanya.
“kau senang…?”
“sangat… “jawab Hye na tersenyum lebar menatap Jung min “gomawo sayang…”tambah Hye na, melingkarkan lengannya di leher Jung min. Keduanya diam saling menatap lembut. Hanya berlangsung beberapa detik, kemudian Hye na tersenyum lebar di hadapannya.
“…ada apa…? Kenapa kau tersenyum seperti itu…”tanya Jung min, menangkap sesuatu yang aneh dari Hye na, seperti senyum anak kecil yang menginginkan sesuatu.
“… aku ingin sushi…”kata Hye na, menatap Jung min dengan tatapan rayuannya.
Jung min diam, bingung “…sushi…?!?”
Hye na menganggukkan kepalanya “ne.. sushi…”
“tapi… sudah jam berapa sekarang… apa masih ada restoran Jepang yang buka…”
Hye na diam, mengerucutkan bibirnya “…aku tidak pernah bilang kau harus membelinya… kau bisa membuatnya…”
“tapi…aku…”
Hye na diam, membalikkan tubuhnya, melipat kedua tangannya didada dan semakin mngerucutkan bibirnya. Jung min diam, menatapnya, kemudian senyum terkembang di wajahnya.
“…baiklah… untuk istriku tersayang…”kata Jung min menyetuh dagu Hye na dan memutar kepalanya hingga kembali menghadap padanya, dan dengan lembut Jung min mendaratkan ciuman di bibir mungil Hye na, sesaat dan kemudian bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar.
Hye na diam, menatap kepergian Jung min dan menunggu, menunggu…menunggu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari ranjang, mengambil mantel hangatnya dan membuka blakon kamarnya.
Akhirnya penantiannya berakhir. Pintu dibelakangnya menjeblak terbuka disertai aroma sushi yang ia tunggu.
“aku datang…”seru Jung min, menutup pintu di belakangnya.
“ahhh!! Sushi!!”seru Hye na, menerima sepiring sushi dari tangan Jung min.
Hye na mengambil sebuah dan ia celup ke saus kecap yang sudah disediakan Jung min kemudian mulai memakannya. Jung min diam, menatap Hye na, khawatir, dan cemas, menunggu. Hye na menghentikan makannya dan menatap Jung min bingung “kenapa…?”tanya Hye na
“ahni…”
Hye na menatap Jung min sangsi “benarkah…?” tanya Hye na “…tenang saja… enak…”sambung Hye na, ketika menatap Jung min yang menundukkan kepalanya.
Jung min mengangkat kepalanya, menatap Hye na “jeongmal…?”
“ne…kalau tidak percaya…ini…”kata Hye na, yang kemudian menjejalkan sebuah sushi ke mulut Jung min “…hambar…”kata Jung min kemudian
Hye na tertawa pelan, meatap Jung min yang terlihat malas untuk untuk menguyah sushi buatannya sendiri. “…sekarang…”tanya Hye na yang kemudian mengecup bibir padat Jung min. Hye na tersenyum menatap Jung min yang terkejut dihadapannya setelah Hye na melepaskan ciumannya yang sesaat.
“bagaimana…?”tanya Hye na, menatap Jung min
Jung min tersenyum “…lebih enak…”kata Jung min, yang tiba-tiba menyerang Hye na hingga tertidur di sofa di mana mereka duduk. “yya…!!”seru Hye na
“ada apa…?”tanya Jung min, menatap Hye na yang ada di bawahnya. Hye na hanya diam, menatap Jung min, ia begitu terpana dengan tatapan tajam nan kembut dari Jung min “…ahni…”
Jung min tersenyum, menatap Hye na, lalu perlahan ia menurunkan kepalanya, dan mengecup kening Hye na pelan. “…bisakah aku meminta sesuatu…”bisik Jung min.
Hye na diam, ditatapnya Jung min, sedikit takut “…ap…apa…?”tanya Hye na
“…buatkan aku jeruk dingin…”
“dingin…?”
“ne…”
“tapi ini sudah terlalu malam dan dingin untuk minum minuman dingin…”
“…tapi…”
“…aku buatkan susu gimana…?”
“susu…?”
Hye na mengganggukkan kepalanya “ne… sebentar ya…” Hye na keluar dari kamar, meninggalkam Jung min yang diam menatapnya, tersenyum.
Tak lama Hye na datang dengan segelas susu yang ia janjikan “datang…”seru Hye na, memberikan segelas susu yang ia buat pada Jung min.
“ayo minum…”pinta Hye na, menatap Jung min menunggu. Jung min diam ditempatnya, ditatapnya susu ditangannya, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Hye na yang menatapnya, berharap. Perlahan Jung min meminum susu yang Hye na buat untuknya, namun hanya satu kali teguk, Jung min meletakkan gelas itu dihadapannya “kenapa…?”tanya Hye na bingung
“..asin sayang…”
“benarkah… tapi aku memberikan gula tadi…bukan garam”
“asin… coba kamu rasakan…”
“tapi… masa aku salah memasukkan garam alih-alih gula…”
“entahlah…kalau tidak percaya…. Coba saja rasakan…”
“tapi…”
“rasakan saja…”
Hye na diam, ditatapnya Jung min, kemudian perlahan menjulurkan jemarinya, masuk ke dalam gelas, untuk merasakan susu yang dibuatnya. “enggak kok…”jawab Hye na kemudian, menatap Jung min meragukan.
“jeongmal…?!?!”kata Jung min tidak percaya “tapi… coba aku rasakan lagi…”kata Jung min lagi dan kemudian kembali meneguk susu dihadapannya lagi. “…asin sayang… mungkin karena pengaruh sushi yang kau makan…”
“masa… tapi…”
“coba kamu minum sedikit…”pinta Jung min kemudian, memberikan gelas susu di datangannya pada Hye na. Hye na menerimanya dan ditatapnya Jung min sesaat sebelum akhirnya ia menjulurkan lidahnya untuk lebih merasakan, dan… “enggak sayang… gak asin…”jawab Hye na kemudian
“jeongmal…? Coba berikan padaku…” Hye na memberikan gelas susu itu pada Jung min dan kemudian dengan cepat Jung min mulai menghabiskan susu itu, hingga tetes terakhir. Hye na menatapnya bingung “…kok…?”
“setelah kau memasukkan lidahmu…rasanya jadi manis… bahkan lebih manis dari karamel…”ucap Jung min, membuat wajah Hye na memerah mendengarnya. Dan Jung min tersenyum, ia berhasil kali ini.
***********
Hye na diam, ditatapnya laki-laki yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya di hadapannya. Keduanya terdiam lama, sangat lama bahkan. Hingga akhirnya laki-laki dihadapannya menyerah.
“soesongheyo Hye na… maafkan aku…aku tidak bermaksud mencelakai dirimu…aku hanya…”
“cukup oppa… aku tidak pernah menyalahkan dirimu…”
“tapi…”
“tapi jika kau ingin aku menyalahkanmu…aku akan melakukannya…”sambung Hye na dan berhasil membuat laki-laki dihadapannya mengangkat wajahnya, menatap Hye na.
“mianheyo…jeongmal mianhe…”
Hye na diam, menarik napas dalam, karena tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya, namun ia menahannya.
“…apa kau benar-benar ingin aku memaafkanmu…”tanya Hye na kemudian
Laki-laki dihadapannya menatap Hye na penuh harap “tentu saja… apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan maafmu…”
“apapun…oppa…”
“ne…”
Hye na diam, menatap laki-laki dihadapannya, lalu senyum terkembang di wajahnya.
********
Hye na tersenyum menatap wanita dihadapannya, “bisakah aku menemui suamiku…ah… maksudku tuan Lee…”
Wanita dihadapannya tersenyum “ne… tentu saja… tapi beliau sedang rapat… anda bisa menunggunya didalam Han agashi…”
“terima kasih banyak nona Kang…”
Hye na membuka pintu dihadapannya dan masuk. Perlahan ia duduk di sofa dan menghabiskan waktunya menunggu Jung min dengan membaca beberapa majalah ekonomi di sana, namun hanya sesaat, kemudian rasa bosan merajainya. Hye na meletakkan majalah ditangannya dan mencari bacaan yang lain yang lebih menarik yang dapat ia temukan, dan ia benar-benar terkejut saat ia menemukan sebuah buku tentang kedokteran dan tentang ibu dan anak. Hye na tersenyum menatap itu dan kemudian ia mulai membacanya. Ia sama sekali tidak menyangka Jung min tertarik dengan hal-hal tentang kedokteran dan tentang ibu anak.
Tak lama, pintu di hadapan Hye na menjeblak terbuka, dengan cepat Jung min masuk, diedarkan pandangannya mencari sebuah sosok yang sangat ia rindukan.
“Hye na!!”seru Jung min, berjalan cepat menghampiri Hye na, lalu memeluknya erat “ada apa…kenapa kau kemari…?”
Hye na melepaskan pelukan Jung min dan ditatapnya sang kekasih di hadapannya. “ahni… hanya rindu…”kata Hye na, tersenyum menatap Jung min
Jung min tersenyum mendengar perkataan Hye na “…oh syukurlah…aku pikir terjadi sesuatu denganmu…” ucap Jung min, menundukkan kepalanya pelan.
“bukankah kau sedang rapat…?”tanya Hye na, menatap Jung min bingung.
“ahh…” perkataan Jung min terputus. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Jung min, dan berteriak padanya. “YYA!! Lee Jung min!! rapat kita belum selesai!!”seru Seung gi tiba-tiba
Jung min diam ditempatnya “aaiiissshhh…”
“….YYA!! kau ini!!”
“tapi…”Jung min menatap Hye na
“cepat kembali!!”seru Seung gi
“tapi…”
“pergilah…”sambung Hye na, menatap Jung min tersenyum.
“tapi…”
“tak apa…atau aku pergi…”
Jung min diam, menatap Hye na, mencari sebuah kesungguhan disana, dan ia mendapatkannya “…baiklah…aku pergi… tapi kau…tunggu aku…”kata Jung min. Hye na tersenyum dan mengganggukkan kepalanya, kemudian secepat kilat Jung min mengecup bibir mungil Hye na.
“auuushhh…pergilah…”
Jung min tersenyum, kemudian beranjak pergii dengan Seung gi yang mengikuti Jung min, namun langkah Seung gi tiba-tiba terhenti “…Seung gi-ssi… terima kasih untuk bunganya…”kata Hye na kemudian setelah Jung min menghilangm berbelok di ujung lorong. Seung gi diam, setelah ia menatap senyum Hye na, senyum terkembang di wajahnya.
“..Jung min yang memintaku untuk membelinya…”kilah Seung gi. Hye na tersenyum
“..sama saja bukan… kau juga yang keluar, memilih dan membeli…”
Seung gi diam, menyerah. Tidak ingin mendebat apapun lagi, karena ada rapat yang lebih penting dari hanya sekedar berdebat dengan Hye na “…ne… traktir saja aku kapan-kapan untuk terima kasih mu itu Hye na-ssi… dan sekarang… aku harus menemani Jung min… rapat sudah dimulai…”kata Seung gi tersenyum menatap Hye na.
Hye na tersenyum, membalas senyum Seung gi, menatap Seung gi dan mengganggukkan kepalanya.
***********
Matahari semakin beranjak pergi. Semburat merahnya terlihat indah menghiasi ufuk barat. Perlahan sang surya menghilang hingga tergantikan oleh bulan.
Seorang laki-laki terlihat terdiam, menopang dagunya. Banyak hal yang berputar di kepalanya. Banyak pikiran yang sangat perlu ia pikirkan, dan itu membuatnya bingung sekaligus bimbang. Kini pikirannya kembali melayang, sebuah sosok yang sangat ia rindukan namun juga sangat ia takutkan datang, menemuinya dan menawarkan suatu hal padanya.
Flashback
“soesongheyo Hye na… maafkan aku…aku tidak bermaksud mencelakai dirimu…aku hanya…”
“cukup oppa… aku tidak pernah menyalahkan dirimu…”
“tapi…”
“tapi jika kau ingin aku menyalahkanmu…aku akan melakukannya…”sambung Hye na dan berhasil membuat laki-laki dihadapannya mengangkat wajahnya, menatap Hye na.
“mianheyo…jeongmal mianhe…”
Hye na diam, menarik napas dalam, karena tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya, namun ia menahannya.
“…apa kau benar-benar ingin aku memaafkanmu…”tanya Hye na kemudian
Laki-laki dihadapannya menatap Hye na penuh harap “tentu saja… apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan maafmu…”
“apapun…Ji hoon-ssi…”
Ji hoon diam, keterkejutan terlihat di wajahnya. Ia benar-benar tidak menyangka Hye na akan memanggilnya seperti itu “…ne…”jawab Ji hoon pelan, menundukkan kepalanya
Hye na diam sesaat, ditatapnya laki-laki dihadapannya diam, lalu senyum terlihat terkembang di wajahnya dan semakin lebar. Ji hoon diam menatap Hye na. ia sudah mengertu tentang Hye na. hampir separuh hidupnya ia bersama Hye na, dan ia mengerti apapun itu. Wajah Hye na menyimpan sesuatu, sesuatu yang besar.
“… aku ingin kau keluar dari Seoul…”ujar Hye na pelan, menatap Ji hoo yakin. Ji hoon mengangkat kepalanya cepat mendengar perkataan Hye na.
End of Flashback
Ji hoon menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia benar-benar tidak menyangka Hye na akan sebenci itu padanya. Hye na tidak mau melihat dirinya lagi. Hye na benar-benar membenci dirinya, bahkan Hye na tidak ingin melihat dirinya berada di kota yang sama dengannya, Hye na tidak menginginkan dirinya berada di Seoul.
Ji hoon membenamkan dirinya. Kegelapan malam mulai menyelimuti. Cahaya sang bulan kembali menyusup masuk, menerangi ruangannya yang hanya berukuran 3x4m.
*********
End of Chaptermaaf kalau jelek...
![[lovestruck]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/lovestruck.gif)
« Last Edit: December 06, 2010, 05:03:50 pm by ai_yuki »

Logged