Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 100089 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER TWENTY ONE

Song of The Day :
http://www.youtube.com/watch?v=YDkf4iLL14E&feature=related

Lyrics : 2 Become 1 by Spice Girls

Candlelight and soul forever
Dream of you and me together
Say you believe it say you believe it
 
Free your mind of doubt and danger
be for real don't be a stranger
We can achieve it we can achieve it
Come a little bit closer baby
Get it on get it on
'cause tonight is the night
When 2 become 1

I need some love like I've never needed love before
Wanna make love to ya baby
I had a little love now I'm back for more
Wanna make love to ya baby
Set your spirit free, it's the only way to be

Silly games that you were playing
Empty words we both were saying
Let's work it out boy, let's work it out boy
 
Once again if we endevour
Love would bring us back together
Take it or leave it, take it or leave it
Are you as good as I remember baby?
Get it on, Get it on
'cause tonight, is the night,
When 2 become 1

I need some love like I've never needed love before
Wanna make love to ya baby
I had a little love, now I'm back for more
Wanna make love to ya baby
Set your spirit free, it's the only way to be

Be a little bit wiser baby,
Put it on, put it on
'cause tonight is the night
When 2 become 1

I need some love like I've never needed love before
Wanna make love to ya baby
I had a little love, now I'm back for more
Wanna make love to ya baby
I need some love like I've never needed love before
Wanna make love to ya baby
I had a little love, now I'm back for more
Wanna make love to ya baby
Set your spirit free, it's the only way to be

It's the only way to be
It's the only way to be



Additional Cast :

Jun Matsumoto as Soko Matsumoto



Sebulan berlalu seiring kekakuan yang tercipta antara hubungan Minho dan Hyesun setelah kebersamaan mereka malam itu. Minho masih rajin mengunjungi Hyesun di Katada's Palace, tapi hanya buat menjemput Kangsan dan Yuri untuk diajak keluar bersama, ataupun bertemu dengan haraboji mereka di Lee's mansion, maupun hanya sekedar menjenguk mereka jika dia terlalu sibuk oleh pekerjaan kantor sehingga harus pulang larut malam.

Siang yang kelabu ketika Hyesun berdiri sendirian di depan klinik Kim's Health. Setelah Minho membawa Kangsan dan Yuri mengunjungi Mr. Lee, dia memiliki waktu untuk menyampiri Kim Joon yang sudah genap setahun tak ditemuinya.

Hyesun mendorong pintu kaca masuk sehingga menimbulkan bunyi 'tinggg' nyaring dari lonceng yang tergantung di atas pintu.

"Anyongheseyo .. ," sapa seorang suster muda yang berdiri di meja layan.

Kening Hyesun agak berkerut. Suster itu bukan Eunhye. Terlihat dua suster lain di belakang suster pertama, tapi mereka juga bukan mantan rekan kerjanya itu.

"Ada yang bisa saya bantu, agashi?" lanjut si suster muda sambil tersenyum manis.

Hyesun membungkuk sedikit. "Anyongheseyo, .. mian, tapi saya mencari suster Yoon Eun Hye ... Apa dia masih bekerja di sini?"

Suster-suster tersebut saling berpandangan.

"Agashi siapa?" tanya suster berkacamata.

"Saya sahabatnya ... ," sahut Hyesun.

"Apa anda tak tahu?" sela suster satunya.

"Tahu? .. Tahu apa?" tanya Hyesun bingung.

"Bahwa suster Yoon ... "

Ceklek ...

Suara suster mungil itu terputus oleh pintu salah satu ruangan yang dibuka secara tiba-tiba. Seorang pria berjubah putih muncul di ambang pintu.


"Suster--pasien selanjutnya berikan ke dokter Son ... "

"OPPAAA!!!" seru Hyesun--hampir menjerit.

Pria itu langsung mengalihkan perhatiannya kepada Hyesun. Mulutnya terbuka perlahan.

"Hyesun-a .... ," katanya tak percaya. "Ba .. bagaimana mungkin?"

"Aku kembali, oppa .. ," sahut Hyesun terharu. "Aku sangat merindukanmu ... "

Kim Joon yang terguncang oleh kehadiran Hyesun mengembangkan tangannya secara perlahan. Hyesun segera menghambur ke dalam pelukannya.

"Miane oppa. Aku pergi tanpa kabar ... "

"Gwen .. gwencana, Hyesun-a?"

"Ne!!" Hyesun mengangguk kuat-kuat. "Aku baik-baik saja .. "

Kim Joon mengelus halus rambut Hyesun. "Syukurlah kalau semua baik-baik saja. Ayo masuk ke ruang kerjaku, Hyesun-a. Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu .. Oppa sangat merindukanmu .. "

"Ne .. "

Kim Joon melepaskan rangkulannya pada tubuh Hyesun kemudian menuntunnya masuk ke dalam ruangan.


***** oOo *****



"Eunhye-a!!!"

Hyesun tak percaya mendapatkan Eunhye di dalam ruang praktek Kim Joon. Apalagi mantan rekan kerjanya ini tak berseragam suster, malah berpakaian biasa.

"Apa yang kau lakukan di sini?" lanjut Hyesun sambil mendekati Eunhye. Digenggamnya tangan Eunhye erat-erat. "Sudah lama tak bertemu. Aku sangat merindukanmu, Eunhye-a. Bagaimana kabarmu?”

Eunhye yang tak kalah terkejutnya dengan segera memeluk Hyesun.

“Goo Hye Sun, kau kemana aja?”

Hyesun memejamkan matanya. “Miane .. aku selalu menyusahkan ..”

“Gwencanayo .. ,” Eunhye melepaskan pelukannya sambil menghapus air bening dari matanya. “Gwencana, Hyesun-a .. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Ne. Aku juga baik-baik saja.” Sahut Hyesun. “Aku pergi tanpa pamitan pada kalian. Mianeyo. Selama ini aku berada di Jepang—hampir setahun lamanya. Tidak mengabari kalian, sungguh maafkan aku .. ,” Hyesun membungkukan badannya dalam-dalam.

“Mengapa sungkan begini?” Eunhye menepuk lengannya. “Apapun yang kau lakukan di masa lalu, lupakan saja. Kami tidak marah, kami hanya mengkhawatirkanmu, Hyesun-a .. “

“Ya, apalagi Minho-ssi .. ,” sela Kim Joon mendadak. “Dia mencarimu kemana-mana selama ini. Apa kau sudah menemuinya?”

Hyesun mengigit bibirnya. “Ne .. ,” dia mengangguk perlahan. “Aku sudah bertemu dengannya.”

“Lalu .. bagaimana hubungan kalian?” tanya Kim Joon agak sungkan. “Maaf jika oppa terlalu ikut campur, tapi .. Minho-ssi benar-benar menderita setelah kepergianmu. Dia sering mendatangiku di sini—bercerita tentang dirimu. Apalagi waktu kepulanganku dari Kamboja setengah tahun yang lalu. Dia langsung mendatangiku dan menanyakan keberadaanmu—apa kau pergi bersamaku ... Dia sangat tertekan saat itu ….”

“Aku tahu .. ,” Hyesun menundukan wajah perlahan. “Aku tahu itu oppa .. tapi, .. bolehkah kita .. kita tak membicarakan masalah itu … Aku .. aku tak ingin menyinggungnya sekarang .. “

Beberapa lama keheningan tercipta di antara mereka. Hyesun masih menundukan wajah—tak berani menatap Kim Joon sementara Kim Joon mengamatinya secara seksama. Pria itu menghela nafas. Eunhye berpaling padanya. Tampak ikut menahan nafas. Tanpa sadar dia memegang lengan Kim Joon kemudian mengeleng perlahan.

“Baiklah .. ,” kata Kim Joon akhirnya. “Oppa tak akan mengungkit masalah itu lagi. Biarlah kau sendiri yang menyelesaikannya .. “

Hyesun mengangkat wajahnya. “Gumawo, oppa .. ,” katanya dengan nada pelan.

“Apa kau sudah makan siang .. ?,” tanya Kim Joon.

Hyesun mengeleng. “Aku mesti pulang ke Katada’s Palace—oh ya, itu tempat tinggalku sekarang .. ,” katanya memberitahu. “ .. dalam waktu sejam dari sekarang. Miko—bayi yang kurawat, harus tidur siang … Aku akan menidurkannya terlebih dahulu, baru makan siang .. “

“Kau menjadi pengasuh bayi?”

“Ne .. ,” Hyesun tersenyum. “Dalam keluarga Katada, aku punya tempat berteduh yang nyaman. Mereka semua sangat baik padaku. Bukan hanya para pembantu di sana, tapi juga nyonya, tuan dan nona muda Katada.”

“Apa tak terpikiran untuk kembali bekerja di sini? Kau tahu tempat ini selalu terbuka buatmu?” tanya Kim Joon.

Hyesun mengeleng perlahan. “Aniyo oppa. Sudah cukup kebaikan oppa selama ini. Lagipula .. perawat memang tak cocok buatku dari semula .. “

“Kau yakin?”

“Ne!” jawab Hyesun tegas. Dia mengamati Kim Joon, kemudian beralih pada Eunhye. Ada sesuatu yang janggal dirasakannya. Tapi apa itu? Dia melirik tangan Eunhye yang masih menempel di tangan Kim Joon. “Oppa … “

“Dhe?”

“Apa ada yang terjadi setelah kepergianku?” tanya Hyesun menyelidik.

“Tidak.” Sahut Kim Joon. “Memangnya apa yang terjadi?”

“Oppa .. dan .. ,” Hyesun melirik Eunhye. “ … Eunhye .. “

“Oh—“ mulut Kim Joon terbuka lebar—seperti baru teringat akan sesuatu, dia tertawa. “Ha .. ha .. miane Hyesun-a. Oppa lupa memberitahumu. Kenalkan, ini Eunhye, profesi barunya--istriku .. “

“MWO?!!” seru Hyesun kaget. “KALIAN MENIKAH?!! SEJAK KAPAN?”

“Dua bulan yang lalu .. ,” kali ini Eunhye yang menjawab. Dia tersenyum malu-malu. “Pernikahan kami diselenggarakan secara sederhana—sangat tertutup dan hanya dihadiri sedikit undangan. Kami tak ingin membesar-besarkannya--karena selain keluarga kami tak banyak, pernikahan tersebut juga dilakukan agak mendesak. Joon mesti mengikuti beberapa course dan juga kegiatan-kegiatannya di World Cross .. “


“Tapi .. ,” Hyesun masih terlihat kebingungan. “ .. bagaimana .. kalian bisa bersama? .. Maksudku, .. aku tak pernah melihat gejala .. ataupun .. gelagat .. bahwa kalian .. saling menyukai .. “

“Hubungan terjalin karna kebersamaan, Hyesun-a. Seperti kau dan juga Minho .. ,” Kim Joon mengedipkan matanya.

Membuat Hyesun tak berkutik.

“Kami merasa nyaman ketika bersama. Semua terjadi begitu saja. Begitu aku menyatakan perasaan kepadanya, dia langsung menyambut. Begitulah hubungan kami. Sangat sederhana dan tanpa romantika .. “

Tiba-tiba Eunhye mencubit ringan lengan Kim Joon.

Kim Joon terpekik kaget, tapi itu hanya pura-pura saja. Dia segera meraih tubuh Eunhye dan membawanya ke pelukannya. “Bukankah begitu?” tanyanya sedikit manja.

Mata Hyesun melebar. Benarkah ini Kim Joon yang dilihatnya?

“Ne .. ,” jawab Eunhye sambil mengelus dagu suaminya.

Kim Joon tertawa. Setelah mengecup pelan jidat Eunhye, dia berpaling kembali kearah Hyesun. “Lalu bagaimana denganmu? Selain bekerja di Katada’s Palace, apalagi yang kau lakukan?”

“Menikmati peranku sebagai seorang ibu.” Sahut Hyesun tanpa beban. Ya, Kim Joon dan Eunhye bisa berbesar hati berbagi kebahagiaan dengannya, mengapa dia tidak?


“Ibu? Maksudmu Kangsan?”

Hyesun mengeleng sambil tersenyum. “Anhi. Yuri—putri kandungku!”

“MWO?!! Jadi kau sudah menikah?!!”

Sekali lagi Hyesun mengeleng.

“Jadi?!!” Alis Kim Joon berkerut. Begitu juga Eunhye.

“Dia putri Minho … “

“MWOOOO?!!!” seru Kim Joon dan Eunhye berbarengan.

“Berapa umur putrimu?” sambung Kim Joon.

“Tiga bulan .. “

“Tiga bulan? Berarti .. waktu kepergianmu .. “

“Ya, aku sudah hamil .. ,” sahut Hyesun.

“Kau mengetahuinya?”

Hyesun mengangguk.

“Tapi kau tak kembali?” lanjut Kim Joon tak percaya. “Kenapa Hyesun-a?”

Hyesun menghela nafas. Pandangannya diterawangkan ke langit-langit ruangan. “Mungkin karna aku egois .. “

“Lalu bagaimana sekarang? Apa Minho mengetahui keberadaan Yuri?”

“Ne … “

“Kalian berbaikan?”

Hyesun mengeleng. “Anhi.”

“Kenapa?”

“Semua sudah berlalu, oppa. Aku tak ingin membahasnya. Masa lalu tak bisa dibalik, begitu juga sebaliknya. Tak ada yang bisa meramalkan masa depan, biarlah semua berjalan apa adanya .. “

“Kau tak menyesal?” tanya Kim Joon prihatin.

Hyesun mengangkat pundaknya—sendu. “Aku tak bisa memilih buat sesuatu yang sudah kumulai .. Aku yang memutuskan meninggalkannya, lalu apa hak-ku kembali padanya? Tak ada … “

“Hyesun-a .. “

“Oppa akan mendukungku, kan?” sela Hyesun cepat.

Mereka saling berpandangan selama beberapa saat. Kemudian Kim Joon mengangguk walaupun terlihat terpaksa. “Tentu. Oppa akan selalu mendukungmu .. “

“Gumawo .. ,” ujar Hyesun, berusaha tersenyum.

Kim Joon berpaling pada Eunhye. Keduanya menghela nafas secara bersamaan. Mereka mengenal sifat Hyesun sejak dulu. Keras kepalanya memang tak ada tandingannya.


***** oOo *****



Keluar dari klinik Kim’s Health, Hyesun menyusuri pinggir jalan raya dengan pikiran melayang. Banyak hal yang dipikirkannya. Tidak hanya pertemuannya dengan Kim Joon dan Eunhye, tapi terutama yang berkaitan dengan hubungannya dan Minho. Apa yang terjadi pada pemuda itu? Kenapa tak begitu memperdulikannya selama sebulan terakhir? Apa dia marah karna perkataannya yang keterlaluan malam itu? One Night Stand? Hyesun tersenyum kecut. Sebenarnya, apakah adil keputusannya selama ini buat Kangsan dan putri mereka—Yuri? Yuri yang lahir tanpa ayah. Yuri—yang harus menanggung akibat dari keegoisannya .. Yuri—yang …

BRAKKKK!!!!!

Benturan keras itu menghentak Hyesun dari lamunannya. Langkahnya terhenti seketika itu juga. Dia mendongak.

“Astaga!!!”

Hyesun menutup mulut dengan tangannya. Matanya terbelalak lebar. Apa yang disaksikannya di depan sungguh mengerikan.

Dua buah mobil saling bertabrakan dengan kondisi rusak parah. Asap tebal mengepul dari mesin mobil. Kapnya beserta atap dari besi penyok-penyok. Seorang pria dengan susah payah merangkak keluar dari Mercy warna hitam. Sekujur tubuhnya berdarah namun dia dalam keadaan sadar. Pria itu berpaling ke belakang, dia mengeleng sambil mendesah berat. Kemudian, dengan sempoyongan dia berjalan kearah orang-orang yang mulai mengerumuni tempat itu.

“Telepon ambulan!!”

“Cepat!! Masih ada korban dalam mobil satunya!!!”

Samar-samar Hyesun mendengar teriakan-teriakan itu silih berganti—saling sahut menyahut. Tanpa sadar, dia melangkah mendekati mobil yang kondisinya lebih parah. Hyesun mengamati tanpa berkedip lewat kaca jendela.


Seorang pria—yang diperkirakan pengemudi Lotus kuning itu—terhenyak di kursi kemudi dengan wajah dan tubuh bersimbah darah. Wanita muda di sebelahnya menangis terisak-isak sambil menguncang tubuhnya keras-keras. Tak ada reaksi dari pria tersebut. Dapat diperkirakan dia sudah kehilangan nyawanya. Wanita itu memegang wajah si pria dengan kedua tangannya yang berlumuran darah kemudian memutar kearahnya.

“Bangun .. bangun Chun-a!!! Aku tak bermaksud marah padamu! Apa kau dengar!!! Bangun kataku!!! Huhuhu .. “

Tubuh Hyesun membeku. Tangisan itu menyayat hatinya. Kecelakaan tragis yang terjadi pada Hyekyo onnie dan Jihoon oppa kembali terbayang-bayang di pelupuk matanya. Begitu nyata dan terasa membekas di hati. Apa benar kecelakaan itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu? Airmata perlahan mengalir dari pelupuk mata Hyesun.

“Chun-a!! Huhuhu .. “

Tangisan itu kembali memasuki telinga Hyesun.

“Kau tak boleh pergi!! Huhuhu .. kau telah berjanji untuk menjaga dan melindungiku seumur hidup .. Bagaimana mungkin kau meninggalkanku begitu saja? Hanya seginikah usahamu? .. Huhu .. Kau bilang tak akan marah, bagaimanapun egois dan keras kepalanya diriku. Kau bilang akan menghiburku walaupun aku marah-marah dan pergi tanpa alasan yang jelas .. kau juga bilang .. huhuhu … kau akan menjadikanku istrimu .. tapi kenapa .. huhuhu … kenapa hanya sampai di sini saja?!! CHUN-AAAA!!! BANGUN!!! Aku tak mengijinkanmu pergi!!! KAU DENGAR—KAU TAK BOLEH PERGI!! Aku belum minta maaf padamu .. Aku belum bilang bahwa aku .. aku sangat mencintaimu … Aku belum memberikan kebahagiaan yang kau inginkan, jadi kau tak boleh pergi!!! CHUN-AAAAAAAAAAA!!!!!”

Hyesun menutup telinga erat-erat. Demi tuhan, dia tak ingin mendengar tangisan-tangisan menyayat itu. Entah kenapa, tiba-tiba dia teringat pada Minho. Teriakan-teriakan itu seperti menyuarakan seluruh isi hatinya—begitu pedih dan menakutkan. Mengapa yang terjadi pada wanita ini begitu mirip dengannya? Penyesalan yang datangnya sangat terlambat. Kengerian perlahan merayap masuk ke dalam hati Hyesun. Apa yang akan dilakukannya jika hal ini sampai terjadi pada orang yang sangat dicintainya? Oh—tidak!!!        


***** oOo *****



”A.. aku … aku tak tahan lagi,baby …. Huekk .. ,” kata Minho sambil memuntahkan segumpal darah dari mulutnya. “A… ku .. sangat capek .. ingin .. ingin istirahat … “ Perlahan matanya terpejam.

“TIDAKK!!!” jerit Hyesun. Diguncangnya keras-keras tubuh yang terkulai lemas itu. “KAU TAK BOLEH PERGI!! TAK BOLEH!!”

Minho membuka matanya dengan susah payah. Tak ada sinar dalam sepasang mata tersebut. Dia tersenyum—terasa hambar dan mati. “Bukankah .. bukankah .. i .. ini yang kau .. kau inginkan, baby … “

Hyesun mengeleng kuat-kuat. Bibirnya digigit sampai terasa sakit. “TIDAK!!! AKU TAK PERNAH MENGHARAPKAN KEMATIANMU!!! TIDAK PERNAH!!”


“TIDAKKKKKKKKKKKK!!!!”

Hyesun tersentak bangun dari tidurnya. “Tidakkk!!” dia masih berseru sesuai dengan mimpi buruknya barusan. Dia mengeleng perlahan. “Tidak!!”

Keringat dingin bercucuran dari kening dan seputar leher Hyesun. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengisi paru-parunya dengan udara segar, kemudian menghembuskannnya perlahan. Dia berdiam diri selama beberapa menit, kemudian beranjak bangun ke meja kecil di sisi ranjang. Sesaat dia melirik ranjang di mana Kangsan tertidur, lalu beralih kearah Yuri—memastikan teriakannya tadi tak membangunkan mereka.

Hyesun menghembuskan nafas guna menenangkan diri. Kemudian dia menuang segelas air dari cerek kecil di atas meja. Dia membawa gelas itu ke mulut, lalu meminumnya. Mendadak dia merasa mual.

“Huekkk … “

Hyesun segera berlari ke kamar mandi sambil memegangi perut dan mulutnya.

“Huekkk … ,” dia memuntahkan cairan encer berupa air dan sedikit makanan ke lubang WC.

“Huekkk … huekkk … “

Hyesun membilas bibirnya. Nafasnya tersengal-sengal. Setelah agak lega sebentar, lagi-lagi dia ….

“Huekkk …. “

Hyesun berusaha mengatur pernafasannya. Perutnya seperti diaduk-aduk dan tengorokannya serasa ada yang tersangkut dan tak mampu dikeluarkan. Baru setelah sepuluh menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi.


***** oOo *****



”Bagaimana dok?” tanya Hyesun harap-harap cemas. “Apa aku salah makan?”

Dokter setengah baya itu tersenyum. “Apa yang agashi harapkan?”

“Mwo?” tanya Hyesun keheranan. “Maksud dokter?”

Sekali lagi dokter berparas lembut itu tersenyum.


***** oOo *****



Ting .. tong ….

“Biar aku saja yang membukakan pintunya, Shin-ajuhma!!”

Maiko berlari menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Pelayan kurus kering yang dipanggil Shin-ajuhma segera membungkukan badannya begitu melihat kehadiran majikan mudanya di situ.

“Ne, agashi .. “

“Kau kembalilah ke pekerjaanmu. Itu pasti Minho-ssi yang datang menjemput San dan Yuri .. “

“Ne .. “

Maiko berlalu ke pintu depan sedangkan Shin-ajuhma kembali ke kesibukannya di dapur yang tertunda akibat suara bell tadi. Maiko membuka pintu dengan satu tarikan keras.

“Minho-ssi .. ,” sapanya dengan senyuman di bibir.

Minho membungkukan badan perlahan. “Anyongheseyo, Maiko-ssi … “


Maiko mengangguk sambil bergeser ke daun pintu. “Masuklah!” katanya sambil menyilahkan Minho masuk ke dalam. “Hyesun sudah menunggumu sejak tadi. Tumben Minho-ssi—sudah hampir dua minggu kau tak mampir ke sini. Apa tak merindukan anak-anak?”

“Rindu sekali … ,” sahut Minho sambil melangkah ke dalam rumah. Maiko mengikutinya dari belakang. Begitu sampai di ruang tamu, Maiko menyilahkan Minho duduk di sofa. Sedangkan dirinya, mengambil tempat di samping Minho.

“Kalau rindu, kenapa tak mampir ke sini? San sering menanyakanmu sehingga Hyesun kewalahan dalam menjawabnya .. “

“Mian, aku ada urusan penting. Hyesun juga sudah tahu kok .. “

“Ya, memang .. ,” Maiko mengangguk. “Tapi dia tak tahu urusan apa itu. Kau tak memberitahunya, kan?”

Minho tersenyum kaku. “Aku akan menjelaskannya nanti .. “

“Ok, terserah kau saja .. ,” Maiko mengangkat bahunya. Lalu dia melihat ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Miane Minho-ssi, aku tak bisa berlama-lama di sini. Ada urusan penting yang harus kukerjakan. Kau minum apa, nanti kusuruh Shin-ajuhma menyiapkannya .. “

Minho mengangguk pelan. “Apa saja, Maiko-ssi. Yang penting tak merepotkan .. “

“Ok.” Maiko bangkit dari duduknya. “Bagaimana dengan secangkir the?”

“Aku sangat menghargainya .. “

“Baiklah. Kau tunggu sebentar. Aku akan memberitahu Hyesun .. “

“Ghamsamida .. “

Minho membungkuk—hormat.  

    
***** oOo *****



Hyesun meletakan secangkir teh hijau di hadapan Minho.

“Maiko bilang kau minum teh .. ,” katanya dengan nada pelan.


Minho mengangguk. “Gumawo …. “

Hening sejenak.

“San .. akan turun beberapa menit lagi. Mobil mainannya tertinggal dalam kamar tadi … “

“Eh—“ Minho mengomentari dengan pendek.

“Yuri … Yuri masih tidur. Apa perlu kubangunkan sekarang?”

“Tak usah.” ujar Minho cepat. “Biarkan saja dia tidur. Aku membawa sopir hari ini jadi tak perlu mengemudi sendiri. Aku akan mengendongnya sampai ke rumah .. “

“O … ,” Hyesun mengangguk.

Kembali kebisuan menyelimuti mereka.

“Ehmm—“ Minho membersihkan tengorokannya. “Miane karna tak mampir selama dua minggu. Merepotkanmu menjaga mereka sendirian, aku sangat menyesal. Aku ada rapat penting di London yang tak bisa ditunda, karnanya aku pergi tanpa pamit, miane .. “

Hyesun mengangkat wajah dan mendengarkan dengan seksama. Jadi itu alasannya pergi tanpa kabar selama dua minggu ini? Atau … itu hanya omong kosong belaka? Sesungguhnya .. dia ingin menghindarinya—karna kejadian di malam itu?

“Baby …. “

Mata Hyesun melebar. Apa dia tak salah dengar? Panggilan baby itu masih berlaku?

“Ne?”

“Ehmm—“ Minho terlihat ragu-ragu, beberapa saat kemudian .. ,”Hmm—tak apa-apa. Lupakan saja .. “

Keheningan kembali merayap dalam ruang tamu itu sampai teriakan Kangsan terdengar.

“APPAAAAAAA!!!!”

Bocah itu menghambur ke pelukan Minho.

“Ha .. ha … apa kabarmu, anak nakal?”

“Baik!! Baikkkk!!” teriak Kangsan kegirangan. “San sangat merindukan appa .. “

“Ne, appa juga. Miane karna tak mengunjungi San selama dua minggu. Appa terlalu sibuk dengan pekerjaan .. “

“Apa kita bermain di luar hari ini?” tanya Kangsan dengan mata berkejap-kejap.

“Ne .. ,” Minho tertawa lebar. “Kita akan bermain sepuasnya, bersama haraboji dan Yuri dongseng .. berhubung appa libur hari ini .. “


Kangsan berpaling pada Hyesun. “Omma ikut juga?” tanyanya polos.

Minho juga berpaling padanya. Hyesun menangkap sinar pengharapan dari mata Minho, tapi dia takut .. takut salah menangkap, karna itu dia mengeleng perlahan.

“Aniyo. Omma harus merawat Miko, San-a. Kalian berangkatlah sendiri … “

“Omma … ,” Kangsan mengerucutkan bibirnya kecewa.[/b]

“Miane San-a. Sungguh, omma tak bisa pergi. Kau bersenang-senanglah dengan haraboji dan appa. Ingat, jaga dongseng baik-baik .. “

San menghela nafas seperti orang tua. Lalu dia mengangguk perlahan, dengan sangat terpaksa.

Hyesun mengelus lembut rambut Kangsan. “Miane sayang … “ Lalu dia berpaling pada Minho. “Aku akan membawa Yuri ke sini … “

Minho mengangguk. Hyesun memutar badannya. Sebelum dia melangkah, Minho berseru mendadak.

“Baby!!!”

Hyesun menoleh kaget. “Dhe?!!”

“Hmm—kau .. apa kau … “

“Ya?”

Mereka bertatapan selama beberapa menit.

“Ya?”

Minho mengangkat tangan ke atas. Akhirnya dia menyerah. “Tak apa-apa. Segera bawa Yuri kemari. Kami harus berangkat sekarang … “

“Ok … “

Hyesun berjalan dengan kepala agak dimiringkan. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Minho?

    
***** oOo *****



PAPPP!!!

Hyunjoong menghempaskan pintu mobilnya keras-keras.

“Anak itu menyusahkan saja!!” omelnya.

Dia membuka bagasi belakang dan mengeluarkan satu kantong penuh berisi alat-alat lukis. Dengan langkah agak tersendat-sendat dia menyeret kantong besar tersebut ke galeri Maiko—yang terletak di seberang tempat parkir.

Langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketawa renyah datang dari pintu depan. Hyunjoong mengangkat wajahnya. Maiko terlihat sedang bersenda-gurau dengan seorang pria berpostur sedang, sekitar tiga meter di depannya, agak di dekat pintu masuk galeri. Mereka tak menyadari kehadiran Hyunjoong di situ. Pria tersebut membisikan sesuatu di telinga Maiko—menyebabkan gadis itu tertawa geli kemudian mendorongnya ke belakang. Si cowok juga tertawa—sangat lebar. Kemudian dia menyolek dagu Maiko. Mendadak tubuhnya dicondongkan dengan bibir diruncingkan seakan berniat mencium gadis itu. Bibirnya hampir mencapai bibir Maiko.


Hyunjoong tersentak. Dia segera berlari kearah mereka. Kantong yang dijinjingnya dilempar begitu saja ke lantai. Dia mendorong cowok itu sehingga terpisah dari Maiko.  
    
“Kim Hyun Joong!!” seru Maiko kaget. “Mengapa .. bisa berada di sini?”

Hyunjoong menoleh dengan pandangan mendelik. “Tentu saja kau tak menginginkan kehadiranku di sini!! Ini alasannya kenapa tak menghubungiku selama sebulan?!”

“Mwo?!!”

“Pria ini—siapa dia?!!!” seru Hyunjoong keras. Jarinya menunjuk pria di depannya dengan nada menuntut jawaban.

“MWO?!!” sekali lagi Maiko dibuatnya terheran-heran.

“Aku bertanya padamu, siapa dia? Apa kau tuli?!!”

“YAA—Kim Hyun Joong!!” jerit Maiko kesal. Habis sudah kesabarannya menghadapi tingkahlaku pemuda ini. Mengapa dia marah-marah tak jelas? Salah minum obat? “Apa urusanmu, hah?!”

“Aku diberitahu paman Katada bahwa kau ketinggalan alat-alat lukis di rumah. Aku berbaik hati membawanya kemari, tapi lihat apa yang kudapatkan? Kau bersenang-senang dengan seorang pria!!! Aku mengira kau benar-benar serius dengan pekerjaanmu, ternyata .. ,” Hyunjoong mencibir sinis.


“MWO?!!” tiba-tiba Maiko mendorongnya. “Apa maksud perkataanmu? Bersenang-senang dengan seorang pria? Dia seniorku waktu kuliah dan sekarang bekerjasama denganku mengelola galeri ini, tahu?! Kau tak tahu apa malah asal cuap!!! Kim Hyun Joong berengsek!!”

“Mwo? Aku berengsek?!”

“NE!!!!” teriak Maiko. “Apa hakmu mencampuri urusanku?”

Hyunjoong kelihatan terhenyak. Dia baru menyadari sesuatu. Ya, apa haknya terhadap Maiko? Kenapa dia marah-marah tak karuan? Mengapa menjadi tak rasional begini? Maiko adalah saudara sepupunya, dan seharusnya dia bahagia buat hubungannya dengan pria lain dan bukan sebaliknya.Tapi mengapa dia merasakan ada sesuatu yang hilang? Perasaan yang membuatnya tak nyaman.

“Kenapa tak menjawab?!!” teriakan Maiko terdengar lagi.

Hyunjoong mengalihkan perhatian kearah lain secara perlahan.

“Kenapa—tampangmu begitu?” ujar Maiko. Suaranya memelan dan terdengar agak khawatir. “Kau .. sakit?”

Hyunjoong mengeleng pelan.

“Lalu?” Maiko mengelus dagunya. Dia mendekati Hyunjoong kemudian menyentuh pipinya. Diperhatikannya pemuda itu sejenak. Tiba-tiba dia tersenyum, perlahan melebar, lalu tertawa terbahak-bahak. “Kau cemburu?”


“MWO?!” Hyunjoong segera menoleh padanya. “Yaa—Maiko katada!!! Lelucon apa ini?”

“Apa bukan begitu?” Maiko berusaha keras menahan tawanya.

“Tentu saja bukan!!!” sahut Hyunjoong keras dan tegas. “Aku .. aku hanya .. hanya .. “

“Hanya apa?” tanya Maiko dengan senyum mengoda.

“Hanya … hanya … ” Hyunjoong mengacak-acak rambutnya putus asa. Dia tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Maiko. “Aishhh--!!” Kesal, dilayangkannya tinju ke udara.

“Ha .. ha … “ Maiko menutup mulut dengan tangannya. “Terimalah kenyataan ini, Kim Hyun Joong. Kau cemburu!!!”

“Andheee!!!” jerit Hyunjoong.

“Tapi kau benar-benar cemburu?” Maiko memajangkan bibirnya.

“Andheeee!!! Pokoknya anthe!!! Terhadapmu, tak akan pernah!!!” sahut Hyunjoong dengan mata melotot.

“YAA—apa salahnya denganku? Begini-begini aku juga mantan kembang kampus .. ,” sahut Maiko tak mau kalah.

“Kembang kampus kepalamu!!” teriak Hyunjoong. “Aku paling benci kembang kampus .. ,” lanjutnya dengan nada mendengus. “Sok cantik, sok centil, sok menarik … pokoknya sok segala-galanya!! Benci sama kembang kampus!! BENCI!!!” Setelah meneriakan kata-kata ini, Hyunjoong berbalik dan berlari dari hadapan Maiko.

Mulut Maiko terbuka. “Yaa—mau kemana? KIM HYUN JOONG!!!”

Dia bermaksud mengejar Hyunjoong tapi tertahan oleh sebuah tangan yang tiba-tiba menarik lengannya.

“Siapa pemuda tadi?”

Pertanyaan tersebut menyadarkan Maiko akan keberadaan seseorang selain Hyunjoong di situ.

“Kak Soko .. “

“Pacarmu?”

Maiko tak menjawab.

“Karna itu kau menolak ku selama ini?”

“Bukan!” Maiko mengeleng. “Dia kakak sepupuku. Aku baru bertemu kembali dengannya setelah kepulanganku ke sini .. Sudah bertahun-tahun lamanya .. “

“Tapi kau menyukainya?” tanya pria bernama Soko itu dengan pandangan menyelami.

Maiko membalas pandangannya, kemudian mengangguk perlahan. “Ne. Aku mencintainya!”


***** oOo *****



Maiko terhenyak di atas ranjang. Tak disadarinya kehadiran tuan Katada—appanya, di ambang pintu.

“Ada apa dengan putri kesayangan appa?”

Maiko terlonjak bangun. Dia segera menoleh ke pintu. “Appa!” sapanya sambil tersenyum perlahan.


“Ada apa?” tuan Katada tersenyum. Dia mendekati Maiko, kemudian menjatuhkan dirinya di atas ranjang. “Ada yang mengelisahkanmu? Berkaitan dengan Hyunjoong?”

“Bagaimana appa tahu?” tanya Maiko agak kaget.

“Appa yang memintanya mengantarkan peralatan lukismu, dan sepulang dari sana tampangmu kusut begini. Jadi apa lagi masalahnya kalau bukan yang berkaitan dengannya?”

“Fuhh!!” Maiko menghembuskan nafas ke atas. “Entahlah .. “ Lalu dia menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjang. “Aku juga tak tahu …. “

Tuan Katada mengamatinya. “Apa perlu appa bantu?”

“Mwooo?!!” Maiko tersentak kaget. Dia segera mengeleng dengan cepat. “Anhi!! Jangan lakukan itu!!!”

“Tak percaya pada appa?”

“Aniyo .. ,” sahut Maiko. “Hanya saja .. aku yakin bisa menyelesaikannya … “

“Jeongmal?”

“Ne!!”

“Baiklah. Kalau begitu bersiaplah. Makan malam sebentar lagi dimulai. Jangan bermalas-malasan lagi …”

Tuan Katada menyentuh kepala Maiko. Dia beranjak dari ranjang kemudian keluar dari kamar itu. Maiko menghela nafas perlahan. Sepasang tangannya diangkat buat menyangga dagunya. Pandangannya semu tertuju ke depan.

“Seorang gay … ternyata memang susah dihadapi. Kim Hyun Joong sialan!! Kenapa menghindar terus? Apa setelah aku bersama pria lain, baru dia kalang kabut?—huhhh!!!  


***** oOo *****



Seminggu berlalu … Seperti biasa, Minho menjemput Kangsan dan Yuri di Katada’s Palace sabtu itu. Wajahnya berseri-seri sejak keluar dari rumah. Hari itu berbeda dari hari biasanya—karena hari itu hari ulangtahun mr. Lee, abojinya. Dia sudah merencanakan pesta istimewa buat mr. Lee—untuk dihabiskan bersama putra putrinya. Buat sementara cuma satu kekhawatirannya—bagaimana caranya menyampaikan maksud supaya Hyesun juga hadir dalam pesta itu?

Minho mengambil-alih Yuri dari gendongan Hyesun. Bayi mungil itu tertawa. Tangannya yang montok itu mengaruk-garuk wajah Minho—seakan mengenalinya sebagai appanya. Minho tertawa lebar sambil meraih tangan putri kesayangannya—diciuminya dengan gemas. Samar-samar terhirup olehnya aroma bayi yang sangat khas.

“Appa, kita ke mana hari ini?” tanya Kangsan yang sudah berada di sampingnya. Anak itu menarik-narik ujung jas Minho. “San mau ke kebun binatang .. “

“Miane, San-a .. ,” Minho menyentuh kepala Kangsan. “Tak bisa hari ini. Kita harus menemani haraboji sarapan bersama. Setelah itu kita piknik di luar … Appa sudah merencanakan tempat yang bagus buat piknik .. “

“Piknik?” Kepala Kangsan miring ke kiri. “Kenapa mesti piknik, appa?”

“Benar. Kenapa ke tempat terbuka seperti itu?” Hyesun menyambung pertanyaan Kangsan. Alisnya berkenyit. “Tempat terbuka tak begitu baik buat Yuri. Kulitnya gampang ngundang nyamuk … “

Minho beralih pada Hyesun. “Aku tahu. Tapi kau tak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan segala sesuatunya. Segala tindakan pencegahan sudah kuambil. Ada beberapa lembar plester tempel anti nyamuk yang kubeli dan nanti aku akan menganti pakaiannya dengan baju dan celana panjang … “


“Apa .. ada maksud dari acara ini?” tanya Hyesun menyelidik. Kekukuhan Minho membuatnya curiga.

Minho menarik nafas perlahan. Sekarang saatnya mengutarakan maksud itu!! tekadnya dalam hati.

“Hari ini ulang tahun appa. Aku ingin memberikan moment tak terlupakan seumur hidup, buatnya. Delapan tahun—delapan tahun sudah, aku menyia-nyiakan hari-hari istimewa itu. Sekarang aku tak mau mengulanginya lagi.”

“O … “

Tangan Minho yang mengendong Yuri terkepal perlahan-lahan. Dia mengambil tekad bulat. Ya, maksud itu harus diutarakan. Jika tidak, tak ada kesempatan lagi buatnya. Saat ini yang paling tepat. Dia mempunyai alasan yang tepat, dan dia yakin Hyesun tak mampu menolaknya.

“Karna itu baby, .. maukah .. maukah kau ikut dengan kami?”

“Aku?!” Hyesun menunjuk dirinya—terkejut.

Minho mengangguk. “Ne! Aku yakin appa tak ingin melihat cucu-cucunya hadir tanpa seorang ibu di hari yang sangat penting ini .. “

“Ta .. tapi … “

“Aku sudah minta ijin ke Maiko tadi. Katanya tak masalah. Dia sedang libur jadi bisa menjaga Miko. Bagaimana baby?”

“Kau sudah memperhitungkan semuanya, kan?” suara Hyesun terdengar lemah.


“Mian.” Sahut Minho dengan nada menyesal. “Aku tak bermaksud memaksa, tapi … “

“Baiklah, aku ikut denganmu .. ,” sela Hyesun tiba-tiba.

“MWO?!” Minho terlonjak—kaget dan tak percaya. “Chinja?”

“Ne. Ini yang kau harapkan, kan?”

Minho mengangguk seperti dicucuk hidungnya.

“Aku akan bersiap dulu .. ,” sambung Hyesun. “Kalian menungguku di mobil. Sepuluh menit lagi aku keluar .. “

Tanpa menunggu reaksi Minho, Hyesun berlari ke lantai atas—menuju kamarnya.

Minho berbalik perlahan kearah Kangsan.

“Kau dengar itu, San-a? … Omma bersedia ikut dengan kita. OMMA IKUT PIKNIK BERSAMA KITA!!!”

“YEAHHH!!!”

Telapak tangan Minho bertemu dengan telapak tangan mungil Kangsan ketika keduanya bertoss ria.

“YESSSS!!!!”


***** oOo *****



Minho, Hyesun, Kangsan dan mr. Lee sarapan di sebuah restoran klasik Korea dengan ditemani kebawelan-kebawelan Yuri. Berulangkali bayi mungil itu berteriak, berseru dan menangis tanpa sebab. Ketiga orang dewasa itu hampir kewalahan menghadapinya.

“Ada apa? Yaa—sayang .. ,” seru Minho kebingungan. Tangannya bergerak-gerak mengiringi kerewelan Yuri. Dia bangkit dari kursi, mondar-mandir dalam ruangan, menjatuhkan diri kembali di kursi, tapi sebentar kemudian bangkit kembali. “Yaa—bagaimana ini?”

“Mungkin dia tak suka tempat ini?”

Hyesun berdiri dan bermaksud mengambil-alih tugas Minho. Tapi pria itu menolaknya dengan halus.

“Gwencana, baby. Aku mampu menanganinya .. “

“Kalau begitu cepat selesaikan sarapannya .. ,” sela mr. Lee agak khawatir. “Nanti menakutinya. San-a, kau juga—ayo diminum supnya!”

“Ne, haraboji .. “

Satu setengah jam kemudian mereka keluar dari restoran khas Korea yang paling bergengsi di Seoul itu.

“Sekarang kita ke mana?” tanya mr. Lee.

“Piknik, appa .. ,” sahut Minho. “Aku akan mengambil mobil dulu, appa tunggu saja di sini. Kau juga, San-a.”

“Aku ikut denganmu!” ujar Hyesun tiba-tiba.

“Mwo?” Minho berpaling pada Hyesun. “Tak perlu, baby. Kau di sini saja. Temani appa dan San. Sekalian, jagain Yuri .. “

“Kau bermaksud bawa bekal sebanyak itu sendirian?” alis Hyesun berkerut.

Minho melirik bawaannya. “Tak apa .. “



“Tak usah membantah!” Hyesun menyambar kantong yang mengembul dari tangan kanan Minho. “Tuan Lee bisa menjaga Yuri. Benarkan, tuan Lee?”

“Ne.” mr. Lee mengangguk. “Sebenarnya aku agak sungkan kau memanggilku tuan Lee, Hyesun-a. Terdengar sangat asing .. “ Pria setengah baya itu mendekati Hyesun, kemudian mengambil Yuri dari tangannya.

Hyesun mengangguk hormat, namun tak menyahut komentar tadi. Dia berpaling pada Minho. Tanpa berkata apa-apa dia melangkah melewatinya.

“Baby, tunggu!!!” dia menoleh sedikit pada orang-orang di belakangnya. “Aku permisi, appa.” Kemudian dia mengejar Hyesun yang sudah agak jauh di depannya.


***** oOo *****



”Kau masih marah?” Minho menyejajarkan langkahnya di sebelah Hyesun.

Tak ada jawaban.

“Mianeyo .. ,” kata Minho pelan.

Tapi Hyesun tetap tak menjawab. Pandangannya lurus tertuju ke depan.

“Baby .. “

Minho menyentuh pundak Hyesun, sehingga langkahnya terhenti. Dia tak berpaling pada Minho. Matanya tak berkedip—berusaha menahan airmata yang hampir jatuh keluar. Minho mengamatinya dalam diam. Beberapa saat kemudian dia menghela nafas.

“Berikan kantong itu padaku. Kau tunggu saja di sini. Tempat parkir itu hanya berjarak beberapa meter di seberang sana jadi aku akan memutar mobil ku ke sini dan menjemputmu .. “

Hyesun mengangguk dan menyodorkan bawaan di tangannya. Minho menerima kantong tersebut. Beberapa menit dia tak bergerak dari posisinya. Kebisuan kembali tercipta di antara mereka.

“Aku akan segera kembali .. “ Minho menghembuskan nafas perlahan.

Dia berjalan ke pinggir jalan raya--menengok ke kanan kiri sebentar, lalu melangkahkan kakinya. Hyesun menarik nafas kemudian menundukan kepalanya lambat-lambat.

GENGGGGGGGG!!!!!

DEG …

Klakson yang berteriak keras itu menghentak Hyesun seketika. Dia mengangkat wajah dengan mata terbelalak lebar. Sebuah truk besar melintas di depan matanya. Dan .. sosok Minho tak tampak.

“TIDAKKKKKKKKKK!!!!” Hyesun berteriak keras. Tangannya menekan wajah histeris.

GENGGGG!!!!

Suara klakson tersebut terdengar lagi—memekakan telinga.

“LEE MIN HOOOOOOOOO!!!!!”

Lambat laun truk besar itu bergerak meninggalkan jalurnya. Minho tampak berdiri di seberang—menoleh padanya dengan wajah berkerut.

“LEE MIN HOOOO!!!”

Tanpa memperhatikan situasi jalan, Hyesun menghambur kearah Minho.

“Hati-hati, baby!!!” seru Minho.

Hyesun tak memperdulikan peringatan itu. Dia terus berlari sampai tiba di depan Minho. Beruntung keadaan jalan tak begitu ramai sehingga dia sampai dengan selamat. Sampai di depan Minho, segera dipeluknya pemuda itu erat-erat—tak ingin dilepas lagi. Dia terisak keras. Airmata mengalir deras dari pelupuk matanya.

Hyesun menekan wajah Minho dengan kedua tangannya. Lalu tiba-tiba dia menciumi wajah pemuda itu dengan ganasnya. Mulai dari bibir, dagu, hidung, mata, jidat sampai menurun ke leher.

“Hey—wegude?” tanya Minho dengan nafas tersengal-sengal. “Baby?”

Hyesun mengeleng keras-keras. Kembali dilumatnya bibir Minho sampai terasa perih.

“Baby, lepas! Je .. jelaskan padaku .. a .. apa yang terjadi?”

Hyesun tak perduli keadaan sekelilingnya lagi. Dia terus menciumi wajah dan bibir Minho.

“Baby … Banyak orang melihat kita … ,” Minho mengatur pernafasannya dengan susah payah.

Dengan usaha cukup keras, akhirnya dia berhasil melepaskan rangkulan Hyesun dari tubuhnya.

“Wegude?”

“Kau mengejutkanku hu … hu .. Aku mengira kau tertabrak truk tadi .. Kau akan meninggalkan ku—selamanya hu .. hu … “

“Mwo? Yaa—paboya … ,” Minho meraih tubuh Hyesun ke dalam pelukannya. “Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?”

“Kau marah padaku hu .. hu .. Aku tahu perkataanku keterlaluan malam itu hu .. hu … “


“Aku marah? Aniyo, baby … “

“Tidak? Lalu mengapa .. mengapa sifatmu berubah setelah malam itu? Hu .. hu … ,” Hyesun menghapus airmata dan lendir dari hidung dengan punggung tangannya. Dia terisak-isak keras.

“Aku tidak marah, baby. Aku hanya mengira kau yang marah padaku. Tanpa memikirkan persiapanmu terhadap hubungan kita, aku memintanya padamu. Aku mengira, kau sungguh-sungguh menganggap kebersamaan malam itu hanya sebatas one night stand saja.”

“Tidak!!!” Hyesun mengeleng keras-keras. “Aku ingin menganggap begitu, tapi .. aku tak sanggup .. hu .. hu … sarangheyo Minho-a .. “

“Baby!!” Minho tersentak. “Apa katamu? Kau …. Kau sungguh-sungguh bilang cinta padaku?”

“Ne!!” jerit Hyesun. Dia memeluk Minho erat-erat. “Persetan dengan masa lalu, ataupun masa depan yang tak teramalkan. Siapa yang perduli apa yang bakal terjadi kelak?!!! Yang penting sekarang—aku cinta padamu, Minho-ssi!! Sungguh, aku hampir gila begitu mengira kau tertabrak mobil tadi. Jangan sampai kejadian yang menimpa onnie dan oppa, dan juga pasangan waktu itu, terjadi padamu!! TIDAK BOLEH!!” Dia mengeleng keras-keras. “Kau tak boleh pergi sebelum aku!! Tak boleh! Aku tak mengijinkannya .. ,” perlahan dia melepaskan pelukannya dan memegang wajah Minho dengan tangannya. “Berjanjilah padaku?!”

Minho tersenyum. “Walaupun tak ada yang bisa meyakinkan seperti apa masa depan, aku berjanji padamu—aku akan berada di sisimu, sampai akhir hayat .. “


“LEE MIN HOOO … “ Hyesun merangkul Minho erat-erat. “Gumawo .. gumawo .. “

“Sarangheyo, baby .. selamanya .. “

“Benar kata Soeun .. ,” desah Hyesun di telinga Minho. “Seharusnya aku percaya padamu .. “

“Sekarang juga tak terlambat .. ,” bisik Minho.

“Ne!!” Hyesun memejamkan matanya. “Tak terlambat. Dan semua itu karna kau … Hanya kau … “

Minho mengecup pelan bibir Hyesun. “Gumawo karna mempercayaiku .. “


***** oOo *****
« Last Edit: December 11, 2010, 04:09:35 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun