Author Topic: I Am 'Willing' --Chapter Two update 27 Feb' 2011  (Read 6244 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: I Am 'Willing' (banner and casts only)
« Reply #45 on: December 13, 2010, 07:45:51 pm »






”Hey—Willing, oper bolanya ke sini!!” Pelatih King berteriak dari seberang lapangan.

Sacha mengangkat tangannya, kemudian …. Plap!! Bola kecil tersebut sempurna melewati lawan latih di hadapannya. Orang itu tak berkutik—terpaku di tempat dengan sepasang tangan terangkat memegang tongkat baseball.

“Good!!!!” si pelatih mengacungkan jempol pada Sacha.

Sacha membalas dengan melepas cap baseballnya. Dia membungkuk dengan wajah berseri-seri.


~~~~ ***** ~~~~



”Jul, masih berdiri di situ?! Cepatlah, pertandingannya akan segera dimulai!!!”

Jimmy ‘David’ Walls berlari menuruni tangga menuju lapangan baseball Jamsil berada.

“Aku dan Seo Na menunggumu di sana!!!” Dia berteriak sambil menoleh ke belakang.

“Sipp!!!”

Julyan Mayber membalas dengan mengangkat tangannya. Baru saja dia berniat mengayunkan kakinya ketika ponsel dalam saku celana jeansnya bergetar halus. Langkah Julyan terhenti. Dia mengeluarkan ponsel tersebut dan, betapa terkejutnya dia begitu mendapati siapa yang meneleponnya saat itu.

“Hyung!!” sapanya, hampir berteriak.

Jidatnya berkenyit seiring apa yang dikatakan Jerry Mayber dari seberang telepon.

“Mwo?!! Hyung berada di Seoul??!! Oh—sejak kapan? Dan .. mengapa?”

Dia mendengarkan lagi.

“Grand Prix Formula 1 2010??! Karenanya hyung berada di sini?”

Hening kembali. Julyan menyimak dengan seksama kalimat-kalimat yang dilontarkan Jerry.

“Lalu kapan hyung pulang ke rumah? … Tidak!!! Jangan berpikiran begitu! Aku yakin omma tidak marah lagi. Walaupun beliau tidak mengatakan apa-apa, aku tahu—sebenarnya omma sangat merindukan hyung. Begitu juga si kecil Jan. Apa hyung tak merindukannya? Sudah berapa lama hyung tak melihatnya? Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menarik. Hyung tak akan percaya jika tak melihatnya sendiri. Betapa banyak cowok yang mengejarnya—“

Julyan menghentikan perkataannya dan mendengarkan selama beberapa lama.

“Hyung tak berniat kembali ke rumah? Bertolak ke Jepang besok subuh?—Mengapa?”

Perlahan-lahan Julyan menjatuhkan diri di bangku panjang yang berjejar di sekitar situ. Penjelasan-penjelasan Jerry berputar-putar dalam kepalanya. Tak jelas, dan seakan-akan bergema dari kejauhan—terdengar sangat samar dan hanya tertangkap sepotong-sepotong oleh pendengarannya. Sampai Jerry mengucapkan satu kata ‘good bye’, menyadarkannya dari lamunan.

Julyan menurunkan ponsel dari telinga. Tangannya terayun lemah di atas bangku kayu yang didudukinya. Setelah sekian lama, bayangan-bayangan masa lalu kembali bermain-main dalam pikirannya. Hari-hari yang dihabiskannya bersama Jerry, hyungnya. Bagaimana mereka saling melengkapi waktu kecil—bermain bersama, tumbuh dan berkembang, anehnya, memiliki hobi yang sama di bidang balap mobil. Dan juga bagaimana kebahagiaan mereka waktu menyambut kedatangan si kecil Janice, dan bagaimana setelah itu ayah mereka mencampakan mereka—pergi dan menikah lagi dengan wanita lain.

Jerry nekat meninggalkan rumah setelah pertengkaran besar antara dirinya dan omma. Kecintaannya yang begitu besar terhadap balap mobil membuatnya kalap. Tak ada seorangpun, termasuk Julyan, mampu mencegahnya.

Sedangkan dia—Julyan Mayber—tak punya keberanian seperti hyungnya. Dia terpaksa melepas impiannya, cita-citanya, hanya buat kebahagiaan omma. Melihat omma bersedih, khawatir dan ketakutan setiap kali melihat putra-putranya mempertaruhkan nyawa dalam dunia balap membuat Julyan tak berdaya.

Satu jam berlalu seiring kesadaran Julyan akan tujuan keberadaannya di stadium Jamsil. Tubuhnya menegak.

“Sial!!”

Dia meloncat bangun dari bangku dan berlari ke lapangan besar yang tertutup oleh tembok besar dari tempatnya berada. Sesampainya di sana, dia termangu. Lapangan itu telah kosong. Perlahan Julyan menuruni anak tangga di mana bangku-bangku panjang berjejer rapi. Pandangannya disapukan ke sekeliling lapangan. Samar-samar di sudut lapangan, terlihat beberapa petugas sedang membereskan peralatan ke dalam gudang.

Julyan berpaling ke sisi lain lapangan itu. Cuma satu orang berdiri di sana. Dan dia hanya mampu melihat bagian punggungnya. Orang itu terpaku di depan papan skor yang terisi penuh oleh angka-angka. Julyan bergerak ke depan. Sekarang wajah itu terlihat jelas olehnya. Seorang wanita. Kulitnya putih bersih dengan wajah oval terlindungi oleh topi baseball. Julyan sudah berniat menyapanya ketika sebuah suara terdengar berteriak dari belakang.

“Bro—ngapain kau di situ?!! Ayo pergi!!!”

Julyan berpaling. “Jim--!!”

“Kita harus pulang sekarang!! Manajer Moon menelepon tadi. Si Dragon buat masalah lagi!!”

“Mwo?!!” teriak Julyan sambil melirik ke belakangnya. Wanita yang dilihatnya tadi sudah tak ada di tempatnya.

“Si berengsek itu tak puas terhadap MV SkiesV yang diambil lusa lalu!!”

“Sialan!!!” Julyan berlari kearah Jimmy. “Kenapa dia selalu buat ulah??!!”

“Buat sensasi, PASTI!!” sahut Jimmy tak kalah kesalnya.

“Mana Seo Na?!”

“Dia sudah kembali ke YG. Katanya ada rekaman buat lagu terbarunya .. “

Julyan mengangguk. “Kalau begitu, ayo bergegas! Anak itu kalau sering-sering begini, akan kubatalkan job ini!!”

Jimmy terkekeh perlahan. “Kau selalu ngomong begitu. Buktinya … “

“Aishh!!” Julyan menyepakan kakinya. D-Dragon memang selalu membuatnya kesal.  

  
~~~~ ***** ~~~~
« Last Edit: December 14, 2010, 11:20:22 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun