PART SIX
Di penghujung bulan keenam masa kehamilannya ,ajakan Jun Pyo untuk berpiknik di akhir pekan diterima Jandi dengan senyuman manisnya..
Lembah Hwayang menjadi tempat pilihan mereka..Memikirkan sungai ,daun-daun musim semi ,dan bukit di alam bebas membuat Jandi semakin tak sabar untuk segera pergi..
Di hari yang ditentukan ,Jandi tak bisa lagi memaksa matanya untuk tidur berlama-lama ,ia bangun di pagi hari ketika matahari masih terlelap .. Perutnya sedikit mual karena perasaan senang dan tak sabar ini ..Setelah mandi ,Jandi berkemas dan pergi ke dapur untuk mempersiapkan semuanya..
Satu keranjang besar yang menampung bekal mereka ,terasa mustahil untuk dihabiskan berdua saja..Namun karena Jandi tahu dirinya akan dengan rakus makan bak babi ,akhirnya ia membawa banyak sekali ragam makanan..
Pukul 7 pagi ,ketika matahari perlahan menunjukkan sinarnya ,Jun Pyo dan Jandi telah siap untuk menempuh perjalanan ke Lembah Hwayang dengan mobil pribadi mereka ,tanpa supir tentu saja ,Jun Pyo ingin acara ini menjadi ‘milik mereka berdua’..
Seoul belum ditandai dengan kemacatan parah pagi itu ,mungkin karena orang akan bangun telat di akhir pekan..Jadi bisa dibilang perjalanan ini lancar-lancar saja..Mereka memasuki rute luar kota dengan cepat..Padahal biasanya ,orang akan berebut tempat ,menyelinap sana dan sini untuk menghindari kemacatan sebisa mungkin..Tetapi hari ini sepertinya sedikit orang yang berniat untuk liburan..
Tidak ada yang diam selama perjalanan itu ,bisa dibilang Jun Pyo dan Jandi banyak mengoceh didalam mobil..Entahlah ,itu candaan atau sekedar berdiskusi tentang anak mereka..Keduanya menikmati setiap detik dari perjalanan itu dan benar-benar merasa dunia adalah milik mereka berdua..
Jandi menyipitkan matanya ketika cahaya matahari begitu pekat menembus jendela mobil..Semakin tinggi mereka menanjak lembah ,terik matahari menyinari cahayanya dengan begitu menjadi-jadi ,udara segar terasa menari-nari diluar sana..
“Oppa ,apakah sudah mau sampai?”Tanya Jandi yang kelewat semangat..,Jun Pyo hanya tersenyum ,”Belum”
Selama 15 menit mereka hanya menyusuri lembah yang menanjak keatas ..Puncak bukit semakin nyata ,matahari berganti awan tebal dan kabut..Mobil sepi berlalu-lalang ,selama 15 menit terakhir tidak ditemukan satupun mobil yang menyusuri lembah..
“Sepi sekali!”gumam Jandi ,pandangannya tidak lepas dari alam luar..
“Memang karena mereka tidak tahu pemandangan tersembunyi ,”kekeh Jun Pyo..
Mobil mereka melewati sebuah klinik tua bergaya Eropa..,yang hanya berdiri sendiri tanpa bangunan lain di kanan atau kirinya..Jandi menatap klinik itu dengan heran..Perasaannya menjadi tidak enak setelah melihat klinik itu..Apakah klinik tersebut berhantu?Atau sesuatu akan terjadi?Jandi menggelengkan kepala ,ia tidak ingin berpikir yang tidak-tidak..Jandi meluruskan pikirannya ,berusaha memikirkan alam terbuka yang akan didatanginya nanti..
Jandi yang merasa tegang ,mulai mengeluarkan beberapa candaan dan obrolan untuk mencairkan suasana hatinya..,”Tidak kusangka ,waktu berjalan begitu cepat dan sebentar lagi anka kita lahir ,apakah oppa bisa menjadi ayah yang ‘becus’?Mengingat Oppa menolak untuk menghadiri kelas perawatan ayah ..,”goda Jandi ,ia tak tahu harus berkata apa ,perasaan yang begitu buruk menyergap dirinya saat itu ,membuat lidahnya semakin kelu..
Jun Pyo menujukkan muka masam ,ia menatap Jandi dan berkata dengan ketus ,”Enak saja ,jangan meremehkanku tahu!?”Jun Pyo mencubit pipi Jandi dengan satu tangannya..
“Aduh sakit!”protes Jandi ,padahal cubitan itu tidak terasa sakit sama sekali..
Jun Pyo terkekeh ,matanya terfokus pada Jandi dan jalan raya dalam waktu bersamaan…Tidak ada satupun kendaraan yang ditemuinya ,membuat jalan serasa milik sendiri ,lembah ini bagaikan lembah tak berpenghuni ,begitulah pikir keduanya dalam waktu kurang dari 15 menit..,”Tidak ada siapapun disini ,tak kusangka begini sepi..,”kata Jun Pyo santai sambil memandang Jandi..
Tragis..Pandangan itu adalah pandangan maut ..Bagi mereka berdua..Jun Pyo tidak memperhatikan jalan saat itu ,membuatnya tak sadar akan kedatangan truk besar bewarna merah ,yang berjalan menuruni lembah dalam kecepatan tinggi ,bagaikan monster bertubuh 3x lipat besarnya , yang siap menabrak dan meluluh-lantahkan mobil sedan mereka..,Sialnya pada saat yang sama ,supir truk itu sama sekali tidak memperhatikan jalan kecuali mengeleng-gelengkan kepalanya dengan sibuk mengikuti irama lagu yang diputar di radio..
“AWAS OPPA!!ADA TRUK DI DEPAN!!!!!!”Begitulah teriakan Jandi , yang dengan sigap melindungi tubuh Jun Pyo ,menamengi dengan tubuh mungilnya yang sedang dalam keadaan hamil besar , semua terjadi begitu cepat ,dan..
DASHHHH!!
Suara itu ,terdengar begitu hebat ,terlambat sudah..Mobil sedan mereka ,sekarang terlihat hancur sepeti ditelan oleh badan truk merah yang besar itu ,semua terjadi begitu cepat ,puing-puing kaca bertebaran dimana-mana ,bagian depan dari mobil itu sudah tak bisa dikenali lagi ,habis ‘termakan’ truk..
Supir truk itu menatap mobil sedan yang hancur ,baru saja ditabrak olehnya ,ia sadar bahwa dirinya dalam keadaan gawat ,jika seseorang melihat ,atau korban melaporkan kejadian ini ..,pikiran buruk menghantui diri supir itu ,membuatnya lari terbirit-birit ,kabur dari kenyataan mengerikan ini..
Luka ditubuh Jun Pyo tidak seberapa ,pasalnya ada tubuh Jandi yang menamenginya..Ia hanya mendapati beberapa memar ..,dan dirinya masih sadar ketika semuanya berlangsung..
Dari belakang Jun Pyo perlahan menghampiri Jandi ,ia membawa gitar ,sambil memainkannya ,tangan kanannya mengapit sebuket bunga mawar ,..ia mulai bernyanyi di hadapan Jandi
Baby ,aboji dan omoni disini selalu menunggumu..cepat lahir yah..,aboji dan omoni akan sangat menyanyangimu..
Semua ingatan indah itu berputar menjadi satu di dalam pikiran Jun Pyo…Tetapi kejadian mengerikan yang hanya terjadi dalam beberapa detik itu seolah memupuskan semua harapan rumah tangganya dengan Jandi..
Bau darah begitu menyengat ,Jun Pyo sadar sebagian besar darah yang tercecer adalah darah istrinya..Tubuh rapuh Jandi terkapar di pangkuan Jun Pyo ,dalam arti ia telah berhasil menyelamatkan Jun Pyo dan disisi lain juga menghancurkan dirinya sendiri..Nafas sesak Jandi seolah mengejar-ngejar udara ,semakin lama semakin melemah dan terdengar begitu mengerikan ,paru-parunya bagaikan bingung dan tak bekerja dengan baik sehingga ini membuatnya sengsara..
Jun Pyo membawa seluruh tubuh Jandi kedalam pangkuannya dan mencoba untuk keluar dari reruntuhan mobil mereka .Jandi tak bisa bergerak ,ia hanya mampu berbisik dengan suara serak yang sangat kecil ,kedua mata sayunya sudah setengah menutup seolah ia memberikan tanda bahwa ini semua terlalu sakit dan ia tidak kuat lagi..Ketika mereka berhasil keluar ,semuanya terlihat lebih jelas ,tubuh Jandi yang terluka dimana-mana ,darah yang menghiasi setiap sisi tubuhnya terasa begitu ‘tragis’ ,perlahan-lahan awan pekat mulai meneteskan rintik-rintik hujan , beberapa lecetan di sekitar tangan dan kepala Jun Pyo terasa sangat perih dibasahi rintik hujan ,namun ia tahu apa yang ia rasakan sekarang tidak apa-apanya disbanding tubuh ‘horor’ Jandi dengan darah dimana-mana..
Jun Pyo mulai berteriak panic memanggil nama Jandi sampai berkali-kali dengan harapan ia akan terus sadar ,tetapi keadaan menjadi semakin memburuk ketika gumaplan darah mulai menyusuri kaki Jandi..Jun Pyo tahu ‘sesuatu’ telah terjadi ,seluruh pikiran buruk menghantuinya ,apakah anak mereka akan menjadi taruhannya?Kim Byeol dan Kim Dal yang mereka tunggu setelah sekian lama?Atau Jandi yang akan menjadi korban?Atau lebih buruknya lagi ,istri dan anak-anaknya akan meninggalkannya seorang diri?
“Geum..Geum Jandi..!!”Jun Pyo tak berhenti menggumam sementara otaknya berputar ,apa yang harus ia lakukan sekarang…Mulut Jandi hanya bisa membentuk huruf a tanpa memiliki kekuatan untuk berbicara lebih ,ia hanya menangis merasa kesakitan dan tak berdaya..
“Klinik itu!!”Jun Pyo mengingat-ingat klinik tua disisi jalan yang baru mereka lewati tadi ,.,”Jandi ..Geum Jandi..,.bertahanlah ..!”teriak Jun Pyo..
Dengan sisa tenaganya ,Jun Pyo memaksa tangannya yang memar untuk mengendong tubuh Jandi ,segera seluruh darah menodai kemeja putih Jun Pyo..Ia harus berlari..,berlari tak peduli apapun ,demi keselamatan istri dan anak-anaknya ..
Jun Pyo setengah berlari menuruni lembah ,tetapi secepat apapun ia mencoba berlari ia tak pernah merasa cukup cepat..,..ia berharap akan segera menemukan klinik tersebut walaupun ia tahu masih jauh jalan yang harus ditempuhnya ,sementara Jandi terus menangis di tengah hujan deras ini ,ia tak bisa berhenti menangis ketika air hujan hanya membuat lukanya semakin perih bagai terbakar dan sensasi sakit yang harus di dalam perutnya terus menjadi ketika gumpalan darah mengucur lebih deras melalui kedua kakinya..Jun Pyo percaya itu adalah tanda yang buruk ,sungguh ,maka ia mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan apapun yang terjadi dengan dirinya ,sekarang yang terpenting adalah istri dan anak-anaknya..
Semakin lama puing-puing mobil mereka tertinggal semakin jauh di belakang sana..Didalam gendongannya ,Jandi ‘tertidur’ namun dalam kepanikan ,Jun Pyo terus memeriksa apakah istrinya masih bernapas atau tidak..Jandi tak berkutik lagi ,ia terasa dingin dan diam seperti ‘mayat’ ,tak merasa kesakitan atau meringis lagi..Apakah benar-benar? Jandi telah tiada?Pikiran mengerikan itu membuat tubuh Jun Pyo bergetar hebat ,ia mulai menangis menguncang-guncang tubuh Jandi dalam keputusasaan..