Hari keduapuluh sembilan, .... Kamis, 31 Desember 2009 ...
Goo Hye Sun ...
Aku termangu memperhatikan Sammul yang sedang sibuk memasukan pakaian ke dalam koper dari kursi dekat jendela.
"Pulang sekarang?" tanyaku, mengulangi apa yang barusan dikatakannya padaku.
"Ne .. ," jawab Sammul tanpa berpaling padaku. Dia masih disibukan dengan kegiatannya mengemas pakaian-pakaian yang lumayan banyak.
"Kenapa? Kukira urusan villamu belum beres .. "
"Memang .. " Kali ini, dia menghentikan kesibukannya dan menjatuhkan diri di atas ranjang menghadapiku. "Namun masalah yang menungguku di Seoul lebih mendesak." ujarnya. "Abojiku dimasukan ke rumah sakit karena pembengkakan pada ginjalnya .. "
Aku terperanjat kaget. "MWO?!" mataku langsung terbelalak lebar. "Apa beliau baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
"Entah .. ," jawab Sammul berupa desahan. "Sekarang sedang diperiksa dengan seksama. Jika diperlukan, mungkin akan dioperasi ... "

"Oh--" mulutku terbuka.
Sammul berdiri dan kemudian mendekatiku. Dia ikut menjatuhkan diri di kursi. "Karena itu kita pulang hari ini juga. Tentang villaku--sudah kuserahkan pada Kenneth. Dia berjanji akan mengurus segalanya bagiku, baik dari pendekorasian sampai pemilihan para pekerja .. "

"Dia sahabat yang baik .. ," ujarku halus.
"Ne. Dia sahabat terbaik-ku sejak kecil. Kami tumbuh dan dewasa secara bersama. Persahabatan kami sangat erat. Dari taman kanak-kanak sampai kuliah, kami selalu bersama. Baru setelah paman Ma memutuskan pindah ke sini dan Ken ikut dengannya, hubungan kami menjadi sedikit rengang. Tapi walaupun begitu, kami tetap menjaga hubungan baik lewat telepon maupun internet .."
"Kalian pasti sudah seperti saudara .. "
"Ne. Ken sudah kuanggap seperti saudara kandung sendiri .. "
"Seperti aku dan Hoon oppa .. ," aku mendesis pelan.
"Kau dan Ji Hoon-ssi?" Alis Sammul berkenyit, tapi hanya sesaat kemudian mulutnya terbuka. "Oh--benar. Kau dan Hoon-ssi beda marga .. "
Aku mengangguk. "Tapi kami saling menyayangi .. "
"Itu bagus .. ," Sammul tersenyum. Dia bangkit dari kursi. "Sekarang bergegaslah. Kembali ke apartemenmu dan berberes-bereslah. Pesawat kita akan berangkat dua jam lagi. Waktu kita sangat mendesak. Ingat, aku akan menjemputmu setengah jam kemudian .. "
"Ne!"
Aku berdiri dari kursi, memutar tubuh, dan setengah berlari menuju ke pintu.
"O ya, Hyesun-a!!"
Aku menoleh. "Dhe?"
Sammul terlihat ragu-ragu. Tangannya mengelus-ngelus dagu seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Ada yang lain?" tanyaku begitu dia tak mengeluarkan suara.
"Ehmm--tentang pemberhentianmu dari Daily News, apa tak perlu dipertimbangkan lagi?"
Aku tersenyum sambil mengeleng perlahan. "Miane, tapi aku sudah mempertimbangkannya masak-masak ... "
"Tak bisa dibatalkan?" tanya Sammul penuh harap.
"Sekali lagi, mianeyo Sammul-ssi .. ," sahutku tegas.
"Ya--" Sammul mengangkat kedua tangannya sambil menghela nafas. "Sepertinya aku harus merelakan kepergianmu. Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"
"Rahasia .. ," jawabku sambil tertawa kecil.
"Aku sahabat karibmu, juga tak boleh tahu?"
"Ne!!"
"Oh--kau mulai berani, Hyesun-ssi .. ," seru Sammul berpura-pura kecewa.
"Ha .. ha .. mianeyo .. tapi, ini kejutan buat seseorang jadi kuharap ... "
"Ne, ne, arasoyo .. ," potong Sammul. "Aku tak akan memaksamu. Yang kusesalkan hanya .. aku harus kehilangan seorang pekerja ulet sepertimu. Namun, itu mungkin tak buruk. Tak ada seberapanya jika dibandingkan seorang sahabat sejati. Karna itu, lakukanlah apa yang kau sukai .. "
"Gumawo, Sam-a .. ," ujarku terharu.
"Sudah. Sekarang bersiap-siaplah sana!!"
Aku tersentak begitu disadarkan akan waktu yang semakin mepet. "Ne!!"
Aku berlari meninggalkan Sammul sendirian dalam kamarnya. Kembali ke tempatku buat berberes-beres.
***** oOo *****
Lee Min Ho ...
Aku menyambar mantel panjang yang tersampir di kursi kamar, meraih koper yang tersampir dekat ranjang, kemudian menyeretnya kearah pintu. Namun sesaat kemudian aku kembali lagi. Sesuatu terlupakan olehku. Aku celingukan mencari barang itu. Di mana kira-kira saat terakhir aku menaruhnya?

Ya, itu dia. Aku berlari ke sudut ruangan, ke sebuah lemari hias kecil yang agak tertutup gorden jendela. Kusibak gorden tersebut. Kotak yang kucari ada di sana, tersimpan rapi di rak paling atas. Aku segera meraih dan membuka penutupnya. Miniatur taman lengkap dengan pondok mungil, bangku panjang beserta rumput-rumput hijau dan air mancur kecil membuatku tersenyum.
"LEADER!!!" Suara Raymond terdengar mengelegar dari ruang depan.
Aku tersentak. Dengan cepat kututup kotak tersebut, mengambil koper yang tadi kuletakan begitu saja di lantai dan berlari keluar kamar.
"Wait, Ray. I'm coming now!!"
"Apa langsung ke bandara?" tanya si bungsu Ken begitu aku bergabung dengan mereka.
"No. Kita mampir ke gedung Florest sebentar. Aku ada pertemuan singkat dengan tuan Ma mengenai goresan terakhir sketsa hotel Florest. Kita berangkat sekarang. Ray--kau yang nyetir!" Aku merogoh ke dalam saku celana kemudian melempar seuntai kunci yang segera disambut Rahmond. "Aku mesti memeriksa ulang, mungkin ada yang terlupakan .. "
"Beres!!" Raymond mengacungkan jempolnya.
Bergegas-gegas kami berlari ke pintu depan sambil menyeret koper di tangan masing-masing. Ransel-ransel berat juga memadati punggung kami.
***** oOo *****
Goo Hye Sun ...
Setelah mengemas semua pakaianku ke dalam koper, aku memasukan boneka singa--kado dari Minho yang secara tak sengaja kuperoleh lewat permainan kecil dalam pesta Natal di Grand Hotel, dengan hati-hati di lapisan paling atas. Aku memandanginya sejenak, lalu tersenyum.

Kemudian aku melangkah lebar ke lemari kaca dekat tempat tidur. Aku harus bergegas. Waktu yang kumiliki sangat sedikit. Sebentar lagi Sammul akan datang menjemputku dan kami harus berangkat ke bandara jika tak ingin ketinggalan pesawat.
Aku membuka lemari kaca tersebut dan mengeluarkan sebuah angsa kristal dari dalamnya. Angsa itu berkilat-berkilat tertimpa cahaya lampu dari langit-langit kamar. Serpihan-serpihan sinarnya berwarna-warni, jatuh menyebar ke setiap sudut ruangan. Terlihat sangat indah bak pelangi dan begitu abadi bak berlian.
Aku meraba dan meremasnya pelan. Walaupun keras dan dingin, angsa kristal ini memberi sentuhan lembut dan hangat bagi tanganku. Aku tersenyum, kemudian berjalan ke ranjang dan memasukan angsa dalam tanganku ke tas selempang yang tergolek di atas tempat tidur.
Ting .. tong ....
Aku berpaling. Hmm--pasti si Sam ..
"Ne. Datang .. "
Tergesa-gesa aku menyambar pengangan koper dan menaruhnya ke lantai. Setelah memakai tas selempangku dan mengamati sekali lagi keadaan dalam kamar--takut ada yang ketinggalan, aku segera berlalu dari kamar dengan menyeret koper yang lumayan berat.
Sepuluh menit kemudian Sammul membantuku memasukan koper ke dalam bagasi mobilnya, bersebelahan dengan koper dan ranselnya sendiri. Setelah itu kami berjalan ke badan Mercy hitam pekat itu. Sammul membukakan pintu buatku. Aku membalasnya dengan sedikit senyum. Tanganku sudah menyentuh pintu dan bersiap memasuki mobil ketika mendadak aku termangu. Aku teringat pada seseorang. Seseorang yang sering kutemui di saat tak terduga. Perlahan kepalaku berputar kearah apartemennya berada--yang sama sekali tak kelihatan dari tempatku berdiri.
"Ehemm--" Sammul berdeham pelan, membuyarkan lamunanku.
Aku berpaling padanya, dan seperti bisa membaca pikiranku, dia berkata, "Apa perlu mengabarinya tentang kepergian kita?"

"Dhe?" aku tersentak. "Oh--aniyo!" aku mengeleng dengan cepat. "Tak perlu lakukan itu. Dia pasti sangat sibuk sekarang ini. Aku tak ingin menganggunya. Lagipula, kita sedang diburu waktu. Jika tidak cepat, kita akan ketinggalan pesawat .... "
Aku segera masuk ke dalam mobil dan berlagak melupakan segalanya. Setelah menjatuhkan diri di bangku sebelah kemudi, aku melemparkan pandangan keluar jendela. Aku menyadari Sammul sedang memperhatikanku. Untuk menghindari pandangannya, aku menarik sabuk pengaman dan memakainya, setelah itu, kembali mengalihkan perhatian keluar jendela.
Tanpa meliriknya, aku tahu bahwa Sammul mengangkat bahu perlahan. Dia menutup pintu di sebelahku, kemudian berjalan mengitari mobil menuju bangku kemudi.
***** oOo *****
Lee Min Ho ...
"Beres, Minho-ssi. Semuanya sangat memuaskan .. " Tuan Ma menepuk pundak-ku.
Aku membalasnya dengan senyuman. "Tidak ada yang perlu dirubah, tuan Ma?"
"No. Semuanya sesuai keinginanku. Aku rasa kelanjutan pendirian hotel Florest bisa dimulai setelah tahun baru, dan semua itu berkat kerja keras team-mu. Aku sangat puas. Thank you very much .. "
"Oh--that's my responsibility ... " aku membungkuk dengan jengah. "Jika tuan masih memerlukan bantuanku, sekecil apapun itu, bisa menghubungiku langsung di Hongkong. Aku akan membalasnya sesegera mungkin .. "

"O ya--" Tuan Ma menepuk jidatnya ketika teringat akan sesuatu. "Kudengar, kalian pulang hari ini?!"
Aku tersenyum. "Yes. Pesawat kami berangkat satu setengah jam lagi .. "
"Begitu mendesak? Apa langsung pulang ke Hongkong?"
"Bukan. Masih ada sedikit urusan di Korea. Pulangnya baru setelah tahun baru .. "
"I see .. ," tuan Ma mengangguk. "Ok, kalau begitu, semoga sukses, Minho-ssi .. "
Tuan Ma mengulurkan tangannya, yang segera kubalas dengan membungkukan badan. Kemudian tuan Ma beralih pada Raymond cs.
"Kalian juga, guys. Thanks for your help .... "
"You're welcome, mr. Ma .. ," sahut Raymond cs bersamaan. Mereka membungkuk dalam-dalam.
Beberapa saat kemudian kami keluar dari gedung Florest menuju bandara Toronto.
***** oOo *****
Aku menyelusuri lantai bandara dengan kepala tertunduk. Bangku-bangku panjang buat para penumpang pesawat yang terbalut kulit berlapis busa tipis berjejer rapi seakan-akan saling berkejar-kejaran di sebelahku. Kepalaku terangkat perlahan. Aku menoleh ke belakang. Raymond cs belum juga kembali dari cafe' kecil dekat area kedatangan di seberang sana.
Aku kembali beralih ke depan, ke barisan bangku-bangku yang sudah dipenuhi para penunggu pesawat. Aku mengedarkan pandangan sejenak. Tidak banyak bangku yang tersisa. Satu-satunya bangku yang masih kosong ada di pinggir sebelah kanan di barisan paling depan. Beberapa lagi berada di barisan paling belakang, diapit oleh beberapa ahjuma yang sedang ngobrol dengan ributnya. Aku menghela nafas. Malas rasanya duduk di antara para ahjuma. Perlahan aku mengerakan kaki ke depan, mendekati bangku kosong di barisan paling depan.
"I'm sorry, if this seat is empty?"
Wanita di bangku sebelah menoleh dari majalah di tangannya. Mulutnya langsung mengangga dan matanya terbelalak lebar. Aku juga tak kalah terkejutnya begitu menyadari siapa wanita ini. Koper di tanganku terlepas dan terhempas keras ke lantai.
"Minho-a!!!"

"Goo Hye Sun!!"
Seru kami bersamaan.
Sesaat kami terdiam. Saling berpandangan dalam kebisuan yang cukup panjang. Kemudian aku membungkuk memungut dan mendirikan koperku dari lantai.
"Kebetulan sekali ... ," ujarku pelan. Aku tak tahu harus berkata apa. Ya, walaupun kuakui pertemuan-pertemuan kita memang tak pernah direncanakan sebelumnya, tapi sungguh, pertemuan kali ini benar-benar membuatku tak habis pikir. Berada di bandara yang sama dalam waktu yang sama? Rasanya tak masuk akal. "Kau pulang hari ini?"
Hyesun mengangguk. "Ne. Ada keperluan mendadak. Bagaimana denganmu? Kukira kau masih disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan di sini .. "
Aku menjatuhkan diri di sebelah Hyesun. "Tidak. Urusanku sudah beres semua."
"O--" Hyesun membuka mulutnya. Kemudian keheningan kembali menyelimuti kami berdua.
"Kau .. pulang sendiri?" Aku memecahkan kebisuan yang menyesakan di antara kami. "Mana Sammul?"
"Oh--" Hyesun terperanjat. "Ada .. ," sahutnya cepat. "Dia sedang check-in. Sebentar lagi juga kembali." mendadak dia menunjuk ke depan. "Nah, itu dia!!"
Aku segera menoleh ke sana. Benar saja, Sammul berjalan kearah kami dengan ekspresi agak terkejut. Mungkin karna mendapatkanku berada di sini, bersama Hyesun.
"Minho-ssi!! Kau juga pulang hari ini?"
"Ne .. ," aku membungkuk kearah Sammul. "Anyongheseyo, Sammul-ssi. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Baik." Sammul tertawa renyah. "Senang bertemu kembali denganmu. Sepertinya kita pulang satu pesawat ya?"
"Hmm--kayaknya iya .. "
"Kau sendirian?" tanya Sammul sambil menyerahkan passport dan tiket pesawat pada Hyesun.

"Tidak. Raymond cs pulang bersamaku .. ," sahutku sambil melirik tangan mereka yang saling bersentuhan.
"Raymond cs? O ya, para bawahanmu itu ... "
"Mereka sahabat-sahabatku!" celetuk-ku tegas.
"O--" Sammul melebarkan matanya. "Arasoyo, Minho-ssi. Sosoengheyo karna telah menyinggung perasaanmu. Aku tak bermaksud begitu .. "
"Ah--sudahlah!" sahutku malas. Tanganku kukibaskan di depan Sammul, sebagai tanda bahwa aku benar-benar tak suka kata-katanya barusan.
"Sekali lagi, sosoengheyo ... " Sammul membungkuk dalam-dalam.
Aku membuka mulut buat memprotes tapi segera terputus oleh teriakan dari belakang.
"Leader, it's time to go!!"
Aku menoleh ke belakang. Ternyata teriakan itu berasal dari Joe. Dia, bersama yang lainnya, melambai-lambaikan tangan padaku sambil memberi isyarat dengan menunjuk-nunjuk ke jam tangan yang melingkar di tangan mereka.
"Let's go!!"
Aku melihat jam tangan yang melingkar di pangkal lenganku. Benar, sudah saatnya berangkat.
"Coming!!" aku mengacungkan tangan kepada Raymond cs.

Kemudian aku berdiri dari bangku dan membungkuk kearah Sammul. "Kami masuk sekarang, Sammul-ssi. Apakah kalian juga?"
Sammul ikut melirik jam tangannya. "Ne, kami juga. Ayo Hyesun-a. Biar kubawakan kopermu .. "
"Gumawo .. ," kata Hyesun sambil menyerahkan kopernya.
Aku melirik mereka sekilas. Perasaan iri menjalari hatiku. Hyesun terlihat nyaman bersama Sammul. Kemudian aku menghela nafas.
"Ayo, Minho-ssi! Teman-temanmu sudah menunggu di gate masuk ... "
Aku mengangkat tangan sebagai isyarat. Mereka mendahuluiku. Aku mengamati punggung mereka yang bergerak-gerak seirama. Aku jadi berpikir, apakah tidak lebih baik Hyesun memilih Sammul daripada bertahan dengan perasaannya terhadapku yang tak mungkin ini?
***** oOo *****
"Minho-ssi, sebaiknya aku menukar tempat duduk denganmu .. ," ujar Sammul begitu kami berada dalam pesawat.
"Mwo? Kenapa?" tanyaku tak mengerti.
Hyesun ikut meliriknya bingung. "Iya, kenapa?"
"Hmm--aku lebih suka duduk di tengah daripada di dekat jendela. Bawaannya pusing melulu .. ," sahut Sammul beralasan.
"Jeongmal?" tanya Hyesun tak percaya. "Kau mabuk udara? Tapi Waktu datang ke sini, kau baik-baik saja .. "
"Bukan mabuk udara. Hanya pusing biasa kalau sudah bersebelahan dengan jendela kaca. Apalagi dalam ketinggian seperti itu. .... Sudahlah ... " Sammul membalik tubuh Hyesun dan menekannya duduk di bangku yang sudah ditentukan. "Duduklah di sini, jangan bertanya-tanya lagi .. " Kemudian dia menyodorkan karcis di tangannya padaku. "Kau juga Minho-ssi. Duduklah .. " Karena aku masih tak bergerak, dia membuka telapak tanganku dan meletakan karcisnya di sana. Aku memperhatikannya. Kemudian dia menyambar karcisku, yang nomornya bersebelahan dengan Ken, di barisan paling belakang. "See you ... "

Aku dan Hyesun mengikuti kepergiannya dengan pandangan melongo.
"Ada apa dengannya?"
Hyesun mengangkat bahu. "Biarkan saja deh. Aku malas berpikir sekarang .. "
"Oh--gwencana, Hyesun-a?" tanyaku khawatir. Perhatianku sekarang sepenuhnya tertumpah padanya.
"Ne. Aku hanya merasa capek dengan keberangkatan yang sangat mendesak ini ... "
"Kalau begitu tidurlah .. " Aku memakaikan sabuk pengaman untuknya. Kemudian mengambil selimut yang tersedia di pesawat dan menyelimutinya. "Akan kubangunkan kalau sudah saatnya makan nanti ... "
Hyesun tersenyum. "Gumawo .. ," kemudian dia memejamkan matanya.
Selama beberapa saat aku mengamati wajah malaikatnya. Wajah yang tenang walaupun terlihat lelah. Aku menghela nafas lalu membetulkan selimut yang agak tersingkap dari badannya. Setelah memakai sabuk pengamanku sendiri, kuarahkan pandangan keluar jendela. Pesawat mulai bergerak pelan di lintasannya, menderu-deru halus, semakin lama semakin keras, kemudian perlahan-lahan tapi pasti roda-roda pesawat meninggalkan landasannya, lepas dan melambung, terbang menebas awan-awan putih.
***** oOo *****
"Hyesun-a .. bangun .. " Aku mengoyang pelan pundak Hyesun.
Bola mata Hyesun bergerak. Secara perlahan-lahan dia membuka matanya. Berkejap-kejap sebentar kemudian menoleh padaku.
"Ne?"
"Saatnya makan .. ," jawabku sambil tersenyum manis. "Apa kau lapar?"
Hyesun membalas dengan anggukan kepala.
"Kau mau apa? Ada ikan, daging sapi dan daging ayam?"
"Ayam ... "
Aku berpaling ke pramugari yang bertugas melayani kami. "Two packages of chicken, please ... "
Pramugari itu mengangguk kemudian mengeluarkan dua paket daging ayam dari trolinya. Dia meletakan pesanan kami di atas meja lipat yang sudah dibuka di depan kami.
"Please enjoy your meal, sir and miss ... "
"Thanks .. ," aku mengangguk padanya.
"Ayo dimakan .. ," kataku pada Hyesun setelah si pramugari berlalu dari hadapan kami.
Hyesun mengangguk. "Kelihatannya sangat lezat .. ," serunya bersemangat. Dia mengambil sendok dan garpu kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku sangat lapar. Dan aku yakin bisa menghabiskan semuanya." dia melirik-ku. "Termasuk punyamu ... " sambungnya sambil terkekeh pelan.
Aku ikut tertawa. "Boleh, silahkan saja! Jika kau tak cukup, aku rela memberikan bagianku ... "

"Ah--kau hanya ingin melihatku semakin gemuk sehingga tak laku .. ," Hyesun menyelutuk dengan bibir dipanjangkan.
"Mwo?" tanyaku kaget. Tapi sesaat kemudian aku tertawa terbahak-bahak. "Ha .. ha .. ha .. tidak, tentu saja tidak. Mana mungkin aku setega itu? Lagipula kau tak mungkin tidak laku. Paling tidak, aku orang pertama di dunia ini yang bersedia menyuntingmu sebagai istri .. "
"Hah?" Mata Hyesun terbelalak lebar.
Ya, aku keceplosan. Melihat keceriaannya tadi, aku lupa segala-galanya. Aku telah mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya kuucapkan.
Hyesun menurunkan tangannya perlahan. Ditaruhnya kembali sendok dan garpu tadi ke atas meja. Kepalanya tertunduk, menatap semua hidangan di hadapannya.
"Mianeyo ... ," desahku pelan. "Aku salah .. "
Hyesun mengeleng pelan. Dia mengambil nafas setelah itu mengangkat wajah, menatapku dengan senyum tersungging di bibir.
"Gwencanayo .. ," ujarnya dengan nada dibuat seriang mungkin. "Gumawo buat kepastiannya tadi. Di kehidupan mendatang, jika tak ada namja yang bersedia menikahiku, aku bersumpah akan menuntutnya padamu ... "
"Mwo?" mataku melebar.
"Kenapa?" Hyesun tertawa. "Mau menarik kembali perkataanmu tadi?"
"Aniyo!!" sahutku cepat. Aku mengenggam tangannya. "I promise .. ," ujarku dengan nafas tertahan. "Apapun yang terjadi, aku akan menjaga janji ini ... "
Hyesun mengigit bibir. Dia membalas pandanganku, kemudian mengangguk yakin. "Aku percaya."
Aku tersenyum dan menyentuh poninya yang menjuntai manis di atas kacamatanya.
"Thanks. Kalau begitu makanlah .. "
"Ne .. "
Sesaat kemudian kami makan sambil berbincang-bincang ringan. Banyak hal yang kami bicarakan. Dari kehidupan sehari-hari sampai pekerjaan yang kami tekuni. Sesekali terdengar tawa kecil dari mulut Hyesun. Suara ketawa yang begitu kurindukan dan kadang-kadang masuk ke dalam mimpiku tanpa kusadari.
***** oOo *****
Hari ketigapuluh, .... Jumat, 1 Januari 2010 ...
Ladies and gentlemen--this your pilot, Jack Swimmer, speaking. Now, 12 p.m.--local time. A new year is here. We are glad to greeting you a happy new year. Enjoy your trip and has a wonderful journey with us. Thank you ..
"Oh--tak kusangka bakal menghabiskan awal tahun baru kali ini dalam pesawat!!" Hyesun menutup mulut dengan kedua tangannya.
Jarum pendek di jam tangan kami menunjukan angka 12 tepat. Artinya, tahun baru telah tiba. Dan seperti perkataannya barusan, begitu juga pengumuman dari kapten pesawat, kami memulai hari di tahun yang baru ini dalam pesawat. Sungguh sesuatu yang terasa janggal dan menakjubkan.
"Happy New Year, Hyesun-ssi .. " Aku menyentuh kepalanya.
Dia mengejapkan mata, kemudian menoleh ke belakang dan ke depan begitu suara-suara berisik terdengar di mana-mana. Para penumpang pesawat saling mengucapkan selamat tahun baru begitu kapten mengumumkan bahwa tahun baru telah tiba.
"Leader!! Happy New Year!!!" Raymond cs berteriak dari tempatnya.
"Happy New Year Hyesun-a!! Happy New Year Minho-ssi!!" begitu juga Sammul yang melambaikan tangan kearah kami.
Aku berpaling ke belakang dan mengangkat tangan ke atas.
"Happy New Year!!!"
"Happy New Year Sam!!" Hyesun ikut berteriak dari posisinya. Kemudian dia berpaling padaku. "Kau juga, Minho-a. Happy New Year ... "
Aku tersenyum. "Semoga segala sesuatu berjalan baik di tahun yang baru .. "
"Ne!!"
Dia mengangguk kuat-kuat. Sampai-sampai kacamatanya merosot dari batang hidungnya. Aku langsung ngakak melihatnya. Kemudian aku merogoh sesuatu dari dalam ransel yang kuletakan di lantai pesawat. Setelah mempertimbangkannya sejenak, aku menyodorkan benda itu padanya.
"Untukmu--Happy New Year .. "
Hyesun menghentikan kesibukannya mengosok-gosok lensa kacamata. Dia menoleh ke benda dalam genggamanku. Mulutnya mengangga.
"I ... ni ... "
Benda itu adalah salah satu angsa dari sepasang angsa kristal yang kami menangkan dalam permainan hari Natal di Grand Hotel seminggu yang lalu.
"Untuk-ku?"
"Ne .. "
Aku meraih tangannya kemudian meletakan angsa kristal tersebut di telapak tangannya.
"Tapi .. kenapa?"
Aku merapatkan tangannya yang masih terbuka lebar sambil menatapnya lekat-lekat.
"Sepasang pria dan wanita yang seharusnya berjodoh tak bisa bersama karna permainan waktu. Akan sangat menyedihkan jika sepasang angsa mati ini juga dipisahkan. Mereka seharusnya bersama--Tidak! Mereka akan selalu bersama. Tak ada yang bisa memisahkan mereka ... "
"Minho-a .. "
"Berjanjilah padaku untuk tak memisahkan mereka?"
"Ne .. ," Hyesun mengangguk.
"Gumawo .. "
Sejenak keheningan menyelimuti kami. Mendadak Hyesun tertawa--sendu.
"Aneh sekali ... "
"Mwoga?"
"Takdir berusaha menyatukan kita. Ini dapat dilihat dengan seringnya pertemuan-pertemuan tak terduga yang terjadi di antara kita. Namun, entah kita yang bodoh atau .. DIA yang keras kepala?! Tidak-kah DIA sadar semua itu percuma? Kita punya keyakinan masing-masing yang tak mungkin tergoyahkan oleh reaksi alam ... "
"Apa kau percaya takdir?"
Untuk sesaat aku mengutuk diri buat pertanyaan ini.
"Menyedihkan Minho-a ... ," desah Hyesun. "Karna aku .. percaya ... "
Ya, memang jawaban ini yang kuharapkan darinya. Walaupun semua terdengar mustahil, paling tidak, kami sama-sama percaya takdir. Takdir yang selalu mempertemukan kami. Takdir yang akan selalu mengiringi langkah kami. Tapi--yang paling menyesakan, takdir yang tak mungkin mempersatukan kami ...
***** oOo *****
Aku dan Raymond cs keluar dari bandara Incheon sekitar pukul 12 siang. Aku menoleh ke belakang. Hyesun dan Sammul jalan berdampingan sambil menyeret koper-koper berat di tangan mereka.
"Perlu kuantar?" aku bertanya pada mereka.
Mobil yang disediakan Great Building memang sudah menunggu di depan bandara.
Sammul mengelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Mobilku akan sampai sebentar lagi .. "
Aku menoleh pada Hyesun. "Bagaimana denganmu?"
"Aku ikut Sam saja .. ," jawabnya pelan.
Aku mendesah. Walaupun berat, aku mengangguk jua. "Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu lagi .. ," aku mengalihkan perhatian pada Sammul. "Bye, Sam .. "
Sammul melambaikan tangannya. "Bye ... "
Sesaat kemudian aku dan Raymond cs sudah berada dalam mobil. Aku melihat keluar jendela. Sebuah Mercedes perak perlahan-lahan merapat di sebelah Sammul dan Hyesun. Aku mendesah kemudian berpaling ke depan.
"Kita berangkat, tuan Park .. "
Pria itu mengangguk. "Ne, tuan Lee. Apa langsung ke Great Building?"
"No. Ke apartemen dulu. Badanku lengket dan ingin mandi .. "
"Ne .. "
Mobil yang dikemudikan tuan Park bergerak pelan meninggalkan jalan lebar di depan bandara. Sekali lagi aku berpaling ke belakang. Mercedes perak di belakang juga sudah dijalankan. Setelah mundur dan memutar sedikit, mobil itu dimajukan, menuju arah berlainan. Aku menghembuskan nafas perlahan, lalu berbalik kembali ke posisi semula. Pandangan tak berkedip tertuju ke depan.
***** oOo *****
Aku baru memasuki rumah ketika Angel tiba-tiba menyambutku dengan pelukan hangat yang teramat erat.
"Ehh--" Aku menghindar dengan risih. "Kenapa?"
"Happy New Year. Aku mempersiapkan kejutan buatmu .. ," sahut Angel sambil tersenyum manis.
"Bagaimana kau tahu kepulanganku?"
Aku menyandarkan ransel ke dinding dan mengikuti langkahnya.
"Ken yang memberitahuku!" jawab Angel ringan.
Dasar si bungsu itu!! rutuk-ku dalam hati.
"Lihatlah!!"
Aku mengikuti sepasang tangan Angel yang terkembang di atas meja makan.
"Oh--what is this?" mulutku mengangga dan mataku membelalak.
"I said it--surprise!! A new year lunch .. " sahut Angel riang, tanpa memperdulikan keterkejutanku yang tak dibuat-buat.

"Tapi .. kenapa yang seperti ini?" Aku bertanya sambil berkacak pinggang. Kuperhatikan makanan-makanan istimewa yang terhidang di atas meja. Sebuah tempat lilin bercabang tiga terletak di tengah-tengah meja panjang tersebut.
"Why? You don't like it?"
"No--Not that I mean .. ," jawabku cepat--takut kalau dia tersinggung. "I just don't believe it. As you see, it's a day right now .. "
"So what's the problem? Candle light tak mesti dilakukan pada malam hari kan?"
"Iya sih .. ," jawabku tak jelas.
"Jadi ayo dinikmati hidangan yang kubuat khusus untukmu .. ," kata Angel dengan wajah berseri-seri.

Dia berjalan kearahku kemudian membawaku ke sebuah kursi. Kami duduk saling berhadapan. Dia menusuk sepotong steak lalu meletakannya di piringku.
"Cobalah!"
Aku meraih garpu itu, tapi sesaat kemudian kujatuhkan kembali ke dalam piring.
"Ada yang ingin kubicarakan .. "
"Habis makan saja ya?" Angel mengambil salad dengan garpu di tangannya.
"Aku bertemu Hyesun di Canada .. "
Prang!! Garpu Angel jatuh mengenai piringnya.
"WHAT?!" Dia mengangkat wajah dengan cepat.
"Aku bertemu Hyesun di Canada!" ulangku tegas. Setiap kata yang meluncur keluar sangat jelas dan padat.
"Dia mengikutmu ke sana?" tanya Angel dengan nada menuduh.
"No!" aku mengeleng cepat. "Kami bertemu secara tak sengaja. Dia sudah berada di sana sebelum pemberangkatanku ... "
"What?" Angel mendengus. "Takdir lagi?"
"I'm sorry. Aku sudah berusaha menghindarinya tapi ... "
"Tapi takdir berkata lain?" sela Angel.
"I'm sorry. I'm really sorry ... "
"Kau kejam, Lee Min Ho!" Angel berdiri dari kursi dan memutar tubuh membelakangiku. "Kenapa kau tak coba menyembunyikan kenyataan ini dariku? Hanya berbohong sedikit, apa sulitnya bagimu?"
"Aku hanya bermaksud terus terang padamu ... sorry ... kalau ini menyakitimu ... "
"Terus terang?" Angel tersenyum kecut. "Andai saja aku juga bisa berterus-terang padamu .. "
"What?" Aku berusaha menangkap ekspresi wajahnya. Suaranya terlalu pelan untuk terdengar olehku.
"Nothing!" dia mengeleng keras-keras. "Permisi dulu ... " Dia berlari kearah pintu.
"Hey--kau tak makan?" tanyaku kaget.
"Aku tak lapar!" sahut Angel. "Harus berbenah buat keberangkatan nanti sore. Kau juga pulang denganku kan? Aku mendapat perintah dari tuan Lau. Katanya ada proyek khusus yang baru diterimanya jadi diharapkan kita semua berada di Hongkong sesegera mungkin ... "
"Ya, aku juga sudah menerima amanah seperti itu .. "
Angel menoleh sedikit. "Bagus. Semoga saja semua masalah di sini segera selesai .. Aku tak ingin berlama-lama di sini. Tempat ini membuatku tak nyaman .. "
Aku memundurkan kursi sehingga menimbulkan bunyi halus. "Aku akan ke Great Building sebentar. Makanan ini, hmm--sorry tapi aku tak bernafsu makan juga .. "

Angel mengigit bibirnya. Secepat kilat dia berlari meninggalkanku sendirian dalam ruang makan.
***** oOo *****
Pukul 4 sore, aku dan Angel menyeret koper-koper besar menuju tempat parkir. Aku tertegun ketika seseorang sudah menunggu kami di dekat mobil. Dia bukan Raymond cs, melainkan orang yang tak terduga.

"Hye ... sun-a ... kenapa ... ?"
"Aku yang mengundangnya!"
Aku berpaling kearah Angel. "WHAT? Why did you do this?"
"Karna ini hari terakhir kita di sini! Aku tak ingin kau menyesal buat sesuatu yang ingin kau lakukan tapi tak boleh kau lakukan!"
Aku tak mampu menyahutnya. Perkataan Angel berkumandang dalam gendang telingaku.
"Anyongheseyo, Minho-a ... "
Sapaan halus tersebut membuatku menoleh. Hyesun tersenyum kikuk. Dia mendekatiku sambil membungkuk kearah Angel.
"Anyongheseyo, Angel-ssi ... "
"Hy, miss Goo .. ," Angel menyapa dengan dingin. Dia berusaha bersahabat tapi yang ada, sikapnya terlihat kaku dan agak menyebalkan.
Aku berdeham pelan membuyarkan ketegangan di antara mereka.
"Hmm--di mana Raymond dan kawan-kawan?"
"Mereka bilang berangkat sendiri .. ," jawab Angel, masih dengan menatap tajam ke Hyesun.
"Kalau begitu masuk ke dalam mobil. Kita berangkat sekarang .. "
Kedua wanita itu mengangguk. Berlomba mereka masuk ke dalam mobil. Angel duduk di sebelahku, sedangkan Hyesun duduk di jok belakang.
***** oOo *****
Setibanya di bandara, tak ada seorangpun mengeluarkan suara. Bahkan setelah kami menjatuhkan diri di tempat tunggu, situasi masih tetap bisu mencekam. Raymond cs sejak tadi sudah memisahkan diri. Dalam hati aku memuji kecerdasan mereka. Berada di tengah-tengah dua wanita yang mengapit seorang pria memang tidak enak.
"Aku tinggal sebentar .. ," Angel tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Mau ke mana?" tanyaku sambil menengadah kepadanya.
"Ada yang ingin kubeli .. ," dia melirik Hyesun yang sejak tadi menundukan kepalanya. "Jangan katakan aku tak memberimu kesempatan." dia menghela nafas sebentar kemudian melanjutkannya. "Manfaatkanlah sebaik-baiknya .. "
Angel pergi meninggalkan kami. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan berkata apa, aku juga tak tahu. Aku berpaling pada Hyesun. Kepalanya masih tertunduk ke lantai.
"Gumawo karna mengantarku .. " Ya, akhirnya kata-kata tersebut keluar juga.
Hyesun mengangkat wajah perlahan. "Sama-sama .. ," dia tersenyum.
"Sebenarnya kau tak perlu kemari kalau memang tak ingin. Sekalipun Angel mengundangmu langsung, kau boleh menolaknya .. "
"Tidak!" seru Hyesun. "Aku datang bukan karna undangannya. Memang sih ada sedikit kaitannya, tapi itu tak begitu besar. Walaupun dia tak mengundangku, aku tetap akan mengantarmu .. ," Hyesun terdiam sejenak. Dia mengambil nafas kemudian menghembuskannya. Senyum manis tersungging di bibirnya. "Aku berada di sini karna aku ikhlas ... ," sambungnya dengan nada lembut.
"Gumawo .. " Lagi-lagi ucapan terimakasih terlontar dari mulutku.
"Apa kau bisa menebaknya, Minho-a?" tanya Hyesun tiba-tiba.
"Mwo?" tanyaku tak mengerti. Aku menatapnya. Sumpah, ingin sekali aku memeluknya saat ini juga. Dia kelihatan lebih bersinar dari hari-hari sebelumnya. Di hari keberangkatanku? Entahlah. Aku sungguh-sungguh berharap telah salah lihat.
Sekali lagi Hyesun tersenyum. Dia mengeleng perlahan. "Tak apa-apa. Kau akan mengetahuinya juga nanti ... "
"Apa itu?" tanyaku penasaran.
Dia mengeleng kembali.
"Yaa--Goo Hye Sun, kau ingin membuatku mati penasaran?" ucapku gusar. Dia benar-benar berubah, dari seorang pengugup menjadi si pengoda kecil. Mengapa dia jadi nakal begini?
"Ceritakan padaku sebelum aku marah!!" desak-ku dengan nada mengancam.
Dia mundur selangkah sambil mengeleng pelan. Senyum manis masih tersungging di bibirnya. "No ... I will promise you that i will do it, but sorry, I can't tell you now ... "
"You speak English?" Mataku melebar tak percaya.
"I learn it to connect you. Maybe ... Cantonese too ... "
"Kau belajar Cantonese juga?" Aku semakin heran.
"Ne! Kau akan melihat perkembanganku nanti .. "
Aku tersenyum kecut. "If I have chance. Aku tak tahu kapan bisa kembali ke sini. Mungkin--ya, mungkin akan lama sekali ... "
"Tak apa!" sahut Hyesun. "Aku akan menunggumu. Bukankah kita sudah berjanji?" Dia mengangkat jari kelingking ke atas. "We are the real soulmate .. "
"Soulmate .. ," aku tertawa hambar. "Ya, soulmate .. "
"Hey--come on, man .. ," Hyesun menepuk pundak ku. "Jangan bermuram durja begitu. Waktu masih harus berjalan, kita tak bisa menghentikannya .. "
Aku menatapnya. Dengan enggan aku mengangguk lemah.
"Minho!!"
Aku dan Hyesun berpaling ke panggilan tersebut.

Angel berdiri di gate masuk sambil menunjuk ke jam tangannya. Sedangkan Raymond cs mengapit di kanan kirinya.
"It's time!!!"
Aku mengangkat tangan membalas isyaratnya. "I'm coming!!" kemudian aku berbalik kepada Hyesun. "Aku harus pergi sekarang! Entah kapan kita dapat bertemu lagi .... ," kataku dengan nada pelan.
"Tak usah khawatir .. ," Hyesun berkata dengan maksud menghibur. Aku tak tahu mengapa dia tak terlihat sedih ataupun tak rela. Mungkin--mungkin saja kan ini pertemuan terakhir kami? "Kita akan bertemu lagi, percayalah! ... Sekarang pergilah, mereka sudah menunggumu ... Aku akan berada di sini sampai pesawatmu berangkat .. "
Aku berniat mengatakan sesuatu, tapi semuanya tersangkut dalam tengorokan. Aku mendekatinya. Meraup kepalanya kemudian mendaratkan kecupan hangat di jidatnya.
"Aku akan merindukanmu ... ," ucapku pelan di sela-sela poninya yang bergerak-gerak halus akibat helaan nafasku.
"Ne .. aku juga .. ," dia menjawab tak kalah pelannya.
Selama beberapa saat kami saling berpandangan. Sampai tangannya bergerak halus mengusirku.
"Pergilah ... "
Aku mengangguk. "Selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik ... "
"Pasti ... "
Aku mundur dengan pandangan masih melekat di wajahnya. Lagi-lagi dia tersenyum. Mendadak aku tak bisa menahan diri lagi. "Apa yang kau sembunyikan?!!" teriak ku keras dari posisiku yang sudah agak jauh darinya.
Dia mengeleng perlahan. Tangannya melambai kearahku dengan senyuman masih terkembang di bibir.
"Hati-hati di jalan!!"
Gadis nakal itu--malah balasan tak nyambung yang diberikannya padaku.
"Goo Hye Sun!!"
"Kau akan mengetahuinya!" Tangannya bergerak semakin cepat. "Sampai ketemu lagi, Lee Min Ho-ssi!!!"

Fuhh, aku menghembuskan nafas panjang. Kubalas lambaian tangannya. Percuma aku mendesak--ya, percuma saja. Aku bergabung dengan Angel dan Raymond sesaat kemudian. Setelah berpaling untuk terakhir kalinya pada Hyesun, kami memasuki gate masuk. SELAMAT TINGGAL KOREA.
***** oOo *****
"Apa yang kau pikirkan?" Angel menyandarkan kepalanya di pundak ku.
Aku berpaling sedikit. "Tak ada .. ," jawabku sambil melempar pandangan keluar jendela.
Pemandangan tak menarik di luar sana, hanya awan-awan kelabu yang menutupi mentari, tapi cukup membuat hatiku terdiam dalam damai--mengenang kembali apa yang telah terjadi selama sebulan ini.

Tiga puluh hari lamanya! Ya, dalam waktu tiga puluh hari aku berubah dari seorang pemendam perasaan menjadi seorang yang lebih terbuka. Aku berani mengungkapkan segalanya walaupun akibat dari semua itu kadang-kadang tak begitu baik. Seperti juga keterus-teranganku terhadap Angel mengenai segala sesuatu yang terjadi antara aku dan Hyesun. Aku sadar Angel sangat sedih. Mungkin dia berharap lebih baik aku menyembunyikan semuanya, mendustainya, daripada jujur dan menunjukan perasaanku terhadap Hyesun. Tapi Hyesun telah merubahku. Dia mengajariku untuk menjadi seseorang yang tegar dan bertanggung-jawab, menjadi seseorang yang tak melarikan diri dari masalah.
Selain tentang Angel, juga tentang orangtuaku. Mulai sekarang, aku tak akan menghindar lagi. Semua kenangan di sini tentang omma dan appa bukan kenangan pahit. Dia benar. Semua kenangan di sini, manis adanya. Kebersamaanku dengan omma, walaupun pendek, semuanya sangat berkesan. Beliau menyayangiku, dan tak seharusnya aku melupakannya. Begitu juga appa. Beliau telah membuat hidupku lebih berarti. Walaupun beliau tidak menemaniku di saat-saat pertumbuhan di masa remaja, keuletannya dalam mencari nafkah buat membiayai sekolahku telah membuatku berhasil dalam karir. Jika bukan beliau, aku tak akan menjadi aku yang sekarang ini.
Dan semua itu karna satu orang, Goo Hye Sun. Dia bak malaikat yang muncul mendadak dalam kehidupanku--yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Dia senantiasa menemani langkahku. Muncul di hadapanku setiap kali kubutuhkan. Ketika aku bimbang dan jemu terhadap kehidupan, dia menarik ku keluar dari kegelapan.
Tiga puluh Hari? Betapa ajaibnya waktu tiga puluh hari yang kulalui bersama Hyesun ...
***** oOo *****
Goo Hye Sun ...
Aku mengikuti kepergian pesawat yang ditumpangi Minho dengan pandanganku. Kusentuh kaca jendela. Pesawat itu semakin lama semakin tinggi dan mengecil, akhirnya menghilang tak berbekas di balik awan-awan putih.

"Sampai ketemu lagi, Minho-a .. ," ujarku halus. Perlahan aku tersenyum. "Ini bukan kebersamaan terakhir kita ... Bukahkah aku sudah menjanjikannya padamu?"
Tiga puluh hari menjadikanku lebih dewasa. Aku--dari seorang pengugup yang ceroboh, yang selalu tak percaya diri dan dimanfaatkan kelemahannya oleh orang-orang sekitar, ternyata bisa berubah tegas.
Dan semua itu karna satu orang--Lee Min Ho.
Dia menjadikan segalanya lebih baik. Hubunganku dengan omma, appa dan oppa begitu. Juga cita-citaku. Apa susahnya mengeluarkan kata hati? Jika tak suka, katakan saja! Jika memendamnya terus tak ada yang tahu. Benar apa katanya.
Sekarang aku berani melakukan apa yang kusukai. Persetan dengan pandangan orang-orang terhadap kelemahan-kelemahanku. Usaha keras akan membuahkan hasil. Aku yakin usaha kerasku juga akan membuahkan hasil. Mungkin bukan sekarang, tapi pasti di kemudian hari.
Tiga puluh hari--akan menyenangkan jika dapat mengulang waktu tiga puluh hari itu ...
***** oOo *****
« Last Edit: December 18, 2010, 11:35:06 pm by mrs. Lee Min Ho »

Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ... keeps it strong!!!
Our MinSun