Author Topic: PIECE OF HEART CHAPT. 4 UPDATEEEEE lol 26.04.2011 ^^  (Read 7824 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: PIECE OF HEART last update 17.07.2010 ^^
« Reply #45 on: December 19, 2010, 01:58:14 am »
CHAPTER 3


Kediaman Lee Jae Ha

“Selamat datang doronim” seorang pelayan rumah tampak menyambut kedatangan Jae Ha sore itu.

“Dimana putriku” Tanya Jae Ha seraya memberikan tas kerjanya kepada pelayannya tersebut.

“Seperti biasa nona kecil mengurung dirinya dikamarnya tuan, hari ini juga dia marah – marah seharian” jawab pelayan tersebut sopan.

“Baiklah kalau begitu, siapkan makan malam seperti biasanya” sahut Jae Ha, ia kemudian berjalan menuju ke atas ke kamar Min Ah, sesampainya di depan kamar gadis kecil tersebut, Jae Ha membuka pintu kamar dengan hati-hati dan memasuki ruangan kamar yang berwarna dominan putih, warna kesayangan Min Ah.

Saat melangkah masuk, beberapa kali ia tersandung  mainan ataupun boneka yang berserakan dilantai. Jelas sekali kalau penghuni kamar ini sedang marah besar melihat keadaan kamar yang berantakan seperti kapal pecah. Jae Ha berjalan menghampiri seorang gadis kecil yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya. Wajahnya menunduk murung. Jae Ha menghampiri gadis itu dengan sangat hati-hati.

“Hey, little princess” sapa Jae Ha lembut, menyunggingkan senyuman dibibirnya. Min Ah menoleh sekilas kemudian kembali menundukkan kepalanya, bibir gadis kecil itu terkatup rapat dan pandangannya dingin. Sama sekali tidak membalas ataupun memperdulikan kehadiran Jae Ha.

“Hmmm, tampaknya putri ayah sedang marah. Baiklah apa yang kamu inginkan sayang?”

Min Ah masih tetap diam tidak menjawab.

“Min Ah? Lee Min Ah?” gadis itu masih tidak bergeming. Jae Ha bangkit dari duduknya, kedua tangannya ia letakkan diatas pinggangnya.

“LEE MIN AH, apa kau tidak dengar apa yang ayah bilang hah” bentak Jae Ha, kali ini senyuman hilang dari wajahnya. Ia kehilangan control kesabarannya. Min Ah tersentak, gadis kecil itu meringkuk ketakutan mendengar suara Jae Ha yang menggelegar.

“Appa pembohong” jawab gadis itu pendek, nada ketakutan jelas terdengar dari suaranya. Jae Ha mengernyitkan alisnya.

“Om..ma… dimana ommaaaaa” seru Min Ah kemudian, sejenak kemudian butiran air mata jatuh dari kedua mata gadis kecil itu, ia mulai menangis. Jae Ha menggigit bibir bawahnya.

“Appa bohonggggg hu…hu…hu..” gadis itu terus terisak-isak sedih.

“Miane, appa sudah membentakmu” Jae Ha kembali berjongkok dan menghampiri Min Ah, ia kemudian memeluk gadis kecil itu. “Omma masih belum bisa ditemui sayang, omma masih harus dirawat dirumah sakit, nanti kalau dokter sudah mengijinkan pasti appa akan membawamu menemui omma yah” bujuk Jae Ha. Ia mengusap2 rambut gadis kecil itu dan mencium kepala gadis kecil itu.

“Kenapa omma lama sekali, memangnya omma sakit apa hu..hu..hu..” Jae Ha tidak menjawab hanya tersenyum getir sembari mengelus-elus kepala Min Ah yang sedang menangis. 30 menit berlalu, Min Ah tertidur setelah kelelahan menangis. Jae Ha hati-hati mengangkat Min Ah ketempat tidurnya dan meletakkan putrinya tersebut di kasurnya. Ia mengamati Min Ah cukup lama sebelum meninggalkan kamar putrinya tersebut. Ia kemudian berjalan menuju ke ruang kerjanya yang berada dilantai bawah saat Mr. Jang sekretarisnya datang menghampirinya.

“Doronim” sapa Mr. Jang hormat, ia membungkukkan badannya. “Masuklah, aku sudah menunggumu dari tadi” perintah Jae Ha, mereka berdua masuk keruang kerja Jae Ha.

“Sudah kau temukan dia” seru Jae Ha dingin, ia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.

“Sosonghaeyo doronim, agashi kali ini kelihatan lebih berhati-hati dan berpindah-pindah tempat” lapor Mr. Jang, pria setengah baya tersebut sedikit menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Jae Ha langsung.

“Begitu? Jawabnya lemah. Jae Ha menyandar lebih dalam ke kursi kerjanya, meletakkan kepalanya di kepala kursi, ia memejamkan matanya. Mr. Jang melirik hati-hati majikannya itu. “Doronim, kami akan terus melakukan pencarian terhadap agashi, begitu kami mendapatkan jejak agashi, kami akan segera melaporkan kepada doronim”

“Baiklah, sekarang pergilah” jawab Jae Ha tidak bersemangat.

“Kalau begitu, saya undur diri dulu doronim” pamit Mr. Jang. Pria itu melangkahkan kakinya menuju   kearah pintu namun saat tangannya akan meraih gagang pintu, Jae Ha kembali memanggilnya.                 

“Mr. Jang”

“Ne, doronim” sahut Mr. Jang membalikkan tubuhnya.

“Aku hampir lupa memberitahumu, besok aku harus ke New York selama 3 hari untuk menghadiri rapat disana, selama aku pergi tolong awasi putriku baik-baik jangan sampai terjadi sesuatu dengan dia mengerti”

“Ne, doronim” Mr. Jang menganggukkan kepalanya hormat. Pria itu kemudian melangkahkan kakinya kearah pintu meninggalkan Jae Ha sendirian. Jae Ha memejamkan matanya sembari menyandarkan kepalanya diatas bahu kursi kerjanya. Ia menghela nafasnya dalam, tiba-tiba tangannya yang mengepal melepaskan tinjunya ke arah meja didepannya.

****!!” umpatnya tertahan. Ia kemudian beranjak dari kursinya, berjalan mondar-mandir diruang kerjanya. Jae Ha menggigit tangan kanannya dengan mulutnya sementara tangan kirinya mengacak dipinggangnya.

“Dasar wanita sialan” umpatnya lagi, wajahnya merah padam menahan amarahnya.


******************************

Jun Pyo melirik kearah ponselnya yang bergetar di atas mejanya. Nama Jae Kyung tertera di layar handphonenya, ragu-ragu Jun Pyo meraih handphonenya kemudian menekan tombol penjawab.

“Yoboseo” jawab Jun Pyo tidak bersemangat.

“Hey, kau ada dimana sekarang Jagi-yya” seru Jae Kyung ceria.

“Oooo aku.. masih dikantor. Wae?”

“Mwo? masih dikantor, jam segini?” Tanya Jae Kyung terkejut.

“Ne, memangnya sekarang jam berapa? Tanya Jun Pyo sembari melirik jam tangan miliknya yang ia letakkan diatas meja. “Hampir jam 11” Junpyo bergumam sendiri menjawab pertanyaannya. Waktu menunjukkan hampir jam 11 malam. Jun Pyo tersentak ternyata sudah selama ini ia berdiam didalam kantor dan tidak merasakan waktu yang berlalu begitu cepat.

“Iya sekarang sudah hampir jam 11 malam dan kau masih saja mengurung diri dikantormu, memangnya ada kasus besar yah sampai-sampai kau lupa waktu” omel Jae Kyung. Jun Pyo tersenyum pelan. Benar ia sedang berkonsentrasi untuk menangani kasus Jandi sampai ia lupa waktu, mengingat hal ini Jun Pyo hanya tersenyum pelan, tentu saja ia tidak memberitahu Jae Kyung tentang masalah ini.

“Yoboseyo…. Yoboseyo….” Ucapan Jae Kyung menyadarkan Jun Pyo dari lamunannya.

“Ah.. Ne…”

“Kau ini, apa sebegitu pentingnya kasus ini sehingga harus kau tangani sendiri hah” ujar Jae Kyung kembali.

‘Tentu saja, ini masalah yang sangat penting bagiku, bahkan aku rela menukarnya dengan nyawaku’ batin Jun Pyo.

“Yoboseyo…. Jagi-yya you still there?” Kembali Jae Kyung berseru karena Jun Pyo tidak menyahut pertanyaannya sejak tadi karena terlalu asik melamun.

“Ah, Ne… Miane…” jawab Jun Pyo.

“Huh, kau ini selalu saja. Baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi, aku hanya ingin mengingatkanmu untuk makan dan besok pagi aku berangkat ke New York, apa kau akan mengantarku?” Tanya Jae Kyung sedikit kesal.

“Hmm, besok jam berapa kau berangkat?” Tanya Jun Pyo basa-basi.

“Jam 9 aku sudah harus ada dibandara”

“Baiklah kalau begitu aku jemput setengah jam sebelumnya”

“Chinja? Kau mau mengantarku?” ujar Jae Kyung kembali, ia mendadak bersemangat.

“De” jawab Jun Pyo pendek.

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok, cepat pulang dan istirahatlah dan jangan lupa makan malam”

“Ne, arasso”

“See you tomorow baby” pamit Jae Kyung dengan nada menggoda. Jun Pyo hanya tersenyum kecil sembari menjawab “Oke”. Ia kemudian mematikan handphonenya saat ia menyadari lingkungan sekitarnya sudah sunyi sepi. Jun Pyo kemudian berkemas pulang. Saat berjalan menuju ke lift, ia kemudian teringat dengan Jandi yang sendirian di apartemennya.  Ia memutuskan untuk menelepon ke handphone Jandi, namun ia urungkan kembali karena berpikir kalau Jandi pasti sudah tertidur sekarang.

Jun Pyo berjalan keluar menuju ke lantai bawah, saat ia keluar dari gedung, beberapa security yang bertugas menganggukkan kepalanya hormat saat berpapasan dengannya. Jun Pyo mempercepat langkahnya menuju kearah mobilnya dan sejenak kemudian melesat cepat menuju ke apartemennya.

20 menit kemudian ia sampai di kondominium miliknya, saat ia berjalan melintasi ruang tengah, ia menghentikan langkahnya saat mendapati sosok Jandi yang sedang meringkuk di sofa di depan televisi. Pelan-pelan Jun Pyo berjalan mendekati Jandi. Saat berada dihadapannya, Jun Pyo berlutut didepan Jandi. Memandang wajah Jandi, memperhatikan wajah tidur Jandi yang seperti malaikat. Jun Pyo tersenyum, bahkan sampai sekarang, ia tidak pernah berhenti untuk mengagumi wajah wanita yang pernah menghiasi hari-harinya dulu. Jun Pyo menyibakkan beberapa helai rambut Jandi yang menutupi matanya spontan ia mendekatkan bibirnya ke wajah Jandi kemudian mengecup dahi Jandi pelan. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu, ia membiarkan saja nalurinya bertindak.



Jandi bergerak pelan mengejutkan Jun Pyo, gadis itu perlahan membuka matanya dan terkejut dengan kehadiran Jun Pyo dihadapannya.

“Goo Jun Pyo…” sontak Jandi pelan.

“Mian..ne… aku sudah membangunkanmu” ujar Jun Pyo, ia terlihat gugup seperti maling yang tertangkap. Spontan Jun Pyo berdiri.

“Kau baru pulang?” Tanya Jandi kemudian, gadis itu sekarang sudah terduduk di tempatnya.

“Ne” jawab Jun Pyo pendek “Kenapa kau tidur disini, bukankah aku sudah bilang kau bisa tidur dikamarku” lanjutnya.

“Ahni, aku bisa tidur dimana saja kok, gomawo”

“Kalau kau tidur disini kau bisa sakit tau”

“Kau lupa kalau aku Jandi si rumput liar” jawab Jandi tergelak kecil.

“Yaish… kau ini masih keras kepala sama sekali tidak pernah berubah” Jun Pyo mengacak rambut Jandi, membuat Jandi tersentak. Ia tiba-tiba menundukkan kepalanya. Jun Pyo menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

“Miane… aku” ucap Jun Pyo tertahan.

“Kau yang banyak berubah sekarang, setidaknya sekarang kau banyak meminta maaf” ujar Jandi tersenyum, Jun Pyo tertawa pelan mendengar ucapan Jandi. Mereka kemudian terdiam cukup lama sampai Jandi berdehem mencoba memecah suasana canggung yang tercipta diantara mereka berdua sekarang.

“Ehem… Kau sudah makan?” Tanya Jandi pelan.

“Belum, kau sendiri sudah makan?” Jun Pyo balik bertanya. Jandi menggelengkan kepalanya pelan.

“Mwo? kau belum makan? Yaish.. kau ini”

“Aku tadi menunggumu dan memasak beberapa menu untukmu karena aku pikir kau tidak akan lama” Jandi berkata pelan. Ia menundukkan kepalanya dalam, Jun Pyo menelan ludahnya sendiri saat mendengar perkataan Jandi, ia merasa seperti bermimpi.

“Ka..u… me..ma..sak.. untuk..Ku?” Tanya Jun Pyo tergagap. Ia tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

“Ne” Jandi menganggukkan kepalanya.

Jun Pyo tiba-tiba beranjak berjalan menuju ke meja makan, diikuti oleh Jandi dibelakangnya. Saat berada di depan meja makan, Jun Pyo berhenti dan membuka tutup saji yang ada diatas meja makannya. Sayuran tumis dan kimchi serta daging yang diolah oleh Jandi terpampang didepan matanya, ia mengamati makanan itu satu per satu. Ia kemudian menarik kursi makan dan duduk sembari meraih sumpit yang terletak didepannya. Jun Pyo mulai melahap satu persatu makanan yang ada didepannya.

“YYa.. makanan itu sudah dingin, biar aku buatkan yang baru” seru Jandi tiba-tiba namun dicegah oleh Jun Pyo.

“Tidak usah, duduklah kita makan bersama” Jun Pyo menyodorkan mangkuk nasi kearah Jandi. Jandi menerima mangkuk tersebut dengan ragu-ragu kemudian iapun menjatuhkan dirinya dikursi disamping Jun Pyo.

“Miane, aku hanya bisa membuatkan ini, kau tau sendiri aku tidak pandai memasak” sesal Jandi pelan. Jun Pyo hanya tersenyum sembari melahap satu per satu makanan yang disediakan oleh Jandi.

“Begini juga cukup, gomawo” ucap Jun Pyo tersenyum. Jandi tersenyum malu, pipinya merona merah. Mereka berdua kembali melahap makanan tersebut sampai habis, melihat Jun Pyo yang sangat menikmati makan malam ala kadarnya itu membuat Jandi keheranan, apa masakan itu begitu enak pikirnya.

Selesai makan, Jandi membereskan peralatan makannya, Jun Pyo membantu Jandi mencuci peralatan makan membuat Jandi kembali merasa heran karena sepengetahuannya, Jun Pyo yang dulu tidak pernah terlihat seperti sekarang, bahkan Jandi merasa geli melihat Jun Pyo memakai celemek untuk mencuci piring.
“Weo?” Tanya Jun Pyo saat melihat Jandi tersenyum kecil saat melihatnya.

”Ahni.. hanya saja…lupakan” jawab Jandi geli. Jun Pyo mengernyitkan alisnya heran. Jandi kembali tersenyum membuatnya terperangah.

‘Lagi-lagi senyuman itu, betapa aku sangat merindukan senyuman itu’ batinnya 

10 menit kemudian mereka selesai, Jun Pyo dan Jandi kembali duduk diatas sofa. “Ah, kenyang sekali” Jun Pyo merebahkan dirinya disofa, ia memejamkan matanya dan mengelus perutnya yang kekenyangan karena ia menghabiskan seluruh makanan yang dimasak oleh Jandi tadi. Jandi lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Jun Pyo yang tidak biasa.

“Miane, aku hanya bisa membayarmu dengan itu saja” ujar Jandi pelan. Ia memandang Jun Pyo yang terduduk disampingnya.

“Jun Pyo-yya…” Jun Pyo tidak menyahut.



“Goo Jun Pyo-yya” ulang Jandi, namun Jun Pyo masih tidak menjawab, “Kau pasti sangat lelah” gumam Jandi memandang Jun Pyo yang tertidur, diamatinya wajah pria itu memperhatikan nafasnya yang naik turun dengan teratur. Jandi mengibas-ngibaskan tangannya diwajah Jun Pyo, namun rupanya Jun Pyo sudah bena-benar tertidur. Jandi beranjak perlahan, ia berjalan mengambil selimut yang ada di meja diseberangnya, membantu Jun Pyo untuk merebahkan seluruh badannya disofa, meletakkan kakinya disudut sofa sementara kepalanya direbahkan oleh Jandi diujung lainnya. Jandi meletakkan bantal kursi untuk menyangga kepala Jun Pyo dan menyelimuti badan pemuda itu sebelumnya, ia membantu melepaskan sepatu yang masih dipakai oleh Jun Pyo. Setelah itu, iapun beranjak menuju ke kamar Jun Pyo. Sepeninggal Jandi, Jun Pyo membuka matanya dan tersenyum “Gomawo” ujarnya pelan kemudian iapun kembali tertidur.

******************************

Pagi itu, saat Jandi terbangun, ia tidak mendapati sosok Jun Pyo di sofa hanya sebuah memo tergeletak di atas meja. Jandi meraih kertas kecil itu dan membaca tulisannya.

Aku ada urusan sebentar, tidak enak membangunkanmu.
Semalam terima kasih atas makan malamnya
-Jun Pyo –

NB : tidak usah menungguku untuk sarapan, nanti siang aku kembali membawa makan siang

Jandi tersenyum membaca tulisan tangan Jun Pyo. Ia melipat tulisan tersebut dan menyimpannya disaku bajunya.

******************************

Incheon Airport,

Jae Kyung semakin mempererat pelukannya di tubuh Jun Pyo. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jun Pyo.

“YYa, sudah lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas” Jun Pyo perlahan mendorong tubuh Jae Kyung kebelakang.

“Ahni, aku ingin seperti ini sebentar lagi” sahut Jae Kyung manja. Bibirnya dibuat cemberut. Jun Pyo menghela nafasnya pelan, ia tersenyum kecil.

“Sudah, lagipula kau sudah harus masuk nanti kau bisa tertinggal pesawat” Jun Pyo tersenyum pelan, ia membalikkan tubuh Jae Kyung dan mendorongnya pelan untuk masuk ke dalam. “Kacha” lanjutnya.

Jae Kyung tiba-tiba berbalik menghambur ke dekat Jun Pyo. “Cium aku dulu baru aku pergi” godanya.

“Aish, kau ini. Kita sedang berada di tempat umum” tolak Jun Pyo halus.

“Biar saja, aku tidak akan pergi sebelum kau menciumku Jun Pyo-yya” Jae Kyung masih keras kepala dengan permintaannya, ia mendekatkan wajahnya kearah Jun Pyo.

“Aush” Jun Pyo berdecak kecil, ia kemudian mengecup bibir Jae Kyung cepat.

“Sudah sana pergi”

“Hanya kecupan kilat?” protes Jae Kyung kembali, ia terlihat sedikit kecewa.

“Mwo? memangnya apa yang kau..” belum selesai Jun Pyo bicara, tiba-tiba Jae Kyung mendaratkan ciumannya di bibir padat Jun Pyo. Jun Pyo tersentak kaget, tidak menyangka dengan perlakuan Jae Kyung padanya. Ia perlahan melepaskan Jae Kyung.

“Yya, kau….. Aush…. Sudah puas? Sekarang cepat masuk” Jun Pyo tiba-tiba berubah menjadi kikuk, wajahnya memerah karena malu. Jae Kyung tersenyum senang melihat kebingungan Jun Pyo.

“Ne…ne..arasso, aku pergi sekarang, jaga dirimu selama aku tidak ada okay” Jun Pyo hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Jae Kyung bergegas masuk dan melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam terminal penumpang. Sepeninggal Jae Kyung, Jun Pyo bergegas kembali ke kantornya untuk mempersiapkan beberapa dokumen penting yang akan dipelajarinya untuk kasus Jandi.


******************************

New York

Jae Ha terbangun di sebuah kondominium mewah miliknya yang terletak di salah satu distrik di Kota New York. Ia menyipitkan matanya saat sinar mentari pagi memasuki matanya. Ia memandang ke sekeliling dan menghentikan pandangannya pada salah satu sudut ruangan condonya. Siluet seorang gadis tengah berdiri disamping tirai dekat jendela kaca besar yang mengelilingi ruangan itu sedang memandang ke luar. Bayangan tubuhnya yang sintal dan tanpa busana dengan sebatang rokok di genggamannya. Perlahan Jae Ha mendekati wanita itu dan saat ia sudah berada di dekat wanita tersebut ia meraih pinggang wanita tersebut dan memeluknya dari belakang. “Kenapa bangun sepagi ini sayang?” tanyanya sembari mengecup punggung wanita tersebut.

Wanita itu mendesah perlahan, “Masih merasa pusing karena terlalu lama dipesawat” jawab wanita itu dingin.       

“Aku tahu bagaimana cara menghilangkan jetlag-mu itu” ujar Jae Ha. Ia masih mengecup punggung wanita tersebut, semakin lama tangannyapun merabah dan menjamah tubuh wanita itu kemudian ia menarik tangan wanita tersebut dan membawanya ke atas ranjang. Merekapun bercinta dengan panasnya mengalahkan cuaca dingin New York. Beberapa lama mereka bermain dan behenti saat nafas mereka sudah tidak teratur. Jae Ha memeluk tubuh wanita tersebut. Nafas mereka masih tersengal-sengal sampai beberapa saat.

“I Miss You” ujarnya pelan sembari mengecup kepala wanita tersebut saat keadaan kembali normal.

“Bagaimana kabar istrimu? Apa kau sudah mendapatkannya kembali dan “setan kecil” itu?” jawab wanita tersebut masih dingin.

‘Hah’ Jae Ha menghela nafasnya berat, ia melirik ke wanita yang ada disampingnya.

“Bisakah kita hentikan pembicaraan ini?” sahutnya pelan.

“Kenapa? Kau takut?” sindir si wanita tersebut sinis. Ia melepaskan pelukan Jae Ha dan berjalan kearah sofa kemudian merebahkan dirinya disana. Kemudian menyulutkan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

“Kau cemburu?” Tanya Jae Ha. Si wanita tersebut masih tidak menjawab, ia terus menyulut sebatang rokoknya. Jae Ha bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju kearah si wanita tersebut. “Don’t worry about her baby. I’m the one who should worry. Sampai kapan kau akan bertahan bersama Jun Pyo” sindir Jae Ha balik.

“Hah, sekarang kau mengalihkan pembicaraan, kalau bukan demi kau sudah aku tinggalkan lelaki dingin itu sejak dulu” jawab si wanita senyuman sinis tersungging di bibirnya.

“Benarkah? we’ll aku merasa tersanjung, tapi kelihatannya kali ini tidak akan mudah” Jawab Jae Ha, Ia menyahut batang rokok yang ada digenggaman Jae Kyung.

“Waeyo? Hey jangan bilang kalau kau belum bisa menangkap Jandi kembali?”

Jae Ha tidak menjawab, ia menyulut rokok JaeKyung kedalam mulutnya.

****!!!! How come?” sahut Jae Kyung panic. Ia segera berdiri dan berjalan mondar-mandir dihadapan Jae Ha sembari memegang kepalanya atau berkacak pinggang.

“Entahlah, tapi kelihatannya ada seseorang kuat yang membantunya kali ini sehingga aku sama sekali tidak bisa mendapatkan jejaknya, tapi tenang saja selama Min Ah masih berada di genggamanku, dia tidak akan bisa berlari jauh” sahut Jae Ha cuek.

“YYa… tapi..tapi… bagaimana kalau dia sampai bertemu dengan Jun Pyo dan…dan….”

“Ssshhhh, relax baby, kau terlalu banyak berpikir” Tiba-tiba Jae Ha meraih tubuh Jae Kyung kedalam pelukannya. “Tenanglah relax, everything will be alright okay. Haruskah aku memberimu “itu”?” Jae Ha berusaha menenangkan Jae Kyung yang terlihat semakin tidak bisa menguasai dirinya. “Sudah lepaskan aku,” Jae Kyung menepis tangan Jae Ha “aku mau mandi dulu”, lanjutnya. Ia kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Ia mengisi bathtub dengan air dan menuang sabun beraroma mawar kedalamnya, ia menceburkan dirinya ke dalam shower dan memejamkan matanya.



******************************

-END OF CHAPTER-

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^