Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 60227 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #135 on: February 21, 2010, 06:18:12 am »
CHAPTER 3

SONG OF THE DAY

Jandi duduk termenung di ruang kantor Junpyo yang besar dan sunyi. Masih terbayang dalam pikirannya, lima menit yang lalu, pandangan menyelidik dan kobaran api dari sepasang mata Junpyo dan Jaehea. Pikiran Jandi menjadi kacau. Bagaimana mungkin Jaehae oppa sampai berada di Korea? Tidak pernah terpikirkan olehnya, dalam mimpi sekalipun, kalau Shin Hwa akan bekerjasama dengan Jung's Corporation, yang biasanya hanya bergelut dalam perekonomian Eropa.

Teringat kembali oleh Jandi, janji yang pernah diucapkan sebelum kepulangannya ke Korea dua bulan yang lalu. Sekarang .. bagaimana dia harus menghadapi Jaehae? Sinar mata penuh tanda tanya, tidak percaya dan kecewa yang campuraduk itu membuatnya menjadi kecil dan rendah dihadapan Jaehae.

Sedangkan Junpyo ... ada apa dengan orang itu? Bukankah dia tidak ingin hubungan mereka diketahui orang luar? Lalu mengapa .. mengapa sekarang dia mengakuinya sebagai istri dalam rapat yang dihadiri begitu banyak rekan bisnis terpenting Shin Hwa? Apa sebenarnya yang terjadi dengan orang itu? Apakah ini bagian dari permainannya? Pertanyaan bertubi-tubi terlontar keluar dari pikiran Jandi.

Satu jam kemudian ... Jandi hampir tertidur di sofa panjang yang terletak di pojok kanan ruangan ketika pintu kantor terbuka dari luar. Jandi menoleh kearah pintu dengan pikiran setengah sadar. Matanya menyipit dan kepalanya terangguk-angguk akibat rasa kantuk yang menyerangnya. Tapi itu hanya sesaat saja. Detik berikut kesadarannya langsung pulih ketika merasakan api panas yang hampir membakar seisi ruangan.

Junpyo dan Jaehae memasuki ruangan. Wajah Junpyo merah padam. Begitu juga tampang Jaehae, sekeruh Junpyo. Keduanya kelihatan sangat tegang. Tidak saling memandang tapi Jandi bisa melihat kalau mereka saling tidak menyukai.


Jaehae menghampiri Jandi, kemudian menarik tangannya. Sedangkan Junpyo tidak bergeming dari posisinya semula.
"Ikut saya!! .. kita perlu membicarakan masalah ini, Jandi-ya ... "

Perkataan Jaehae sangat mengejutkan Jandi. Apalagi tangan Jaehae mengenggam erat tangannya. Dengan segera Jandi mengibaskan tangan Jaehae. Dia langsung berpaling kearah Junpyo, seakan meminta persetujuannya.

"Sepuluh menit ... , hanya sepuluh menit!! ... tidak lebih dan tidak kurang!! .. Saya akan menunggumu di luar ... ", ujar Junpyo dengan suara parau. Dia tidak rela melakukannya tapi dia tidak punya pilihan lain.

Jandi mengangguk. Dia berdiri dari sofa dan mengikuti Jaehae keluar dari ruangan itu. Junpyo mengikuti mereka dari belakang sampai di cafe' Deffa yang terletak di lantai satu gedung Shin Hwa.

**************


Kepala Jandi tertunduk. Dia tidak mampu membalas pandangan tajam dari Jaehae. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di ruang tengah cafe. Kopi dan makanan kecil baru saja disajikan oleh seorang pelayan. Jaehae melirik ke pintu masuk cafe dimana Junpyo tampak berdiri di sana.

"Hmmmm ... apakah tidak ada yang perlu kamu jelaskan padaku, Jandi-ya? .. Apa sebenarnya yang terjadi?", Jaehae memulai pembicaraan mereka.

"Miane oppa .... jeongmalmiane ... ", jawab Jandi. Sangat lirih.


"Bukan kata maaf yang ingin saya dengar Jandi-ya, tapi penjelasan darimu ... Mana janjimu? Mana janji yang kita sepakati bahwa setelah kepulanganmu dari Korea kamu akan memikirkan rencana pertunangan kita?", suara Jaehae mulai mengeras.

"Karena itu saya minta maaf .... soseongheyo oppa .."

"Ada apa sebenarnya?", Jaehae mengulangi pertanyaannya.

"Terjadi sesuatu yang tidak diinginkan .... ", Jandi memulai ceritanya. Bagaimana dia tidak sengaja mendengar dan mengetahui keadaan keuangan Geum's Corporation yang hampir ambruk, keputusan sepihak darinya untuk meminta bantuan Mr. Goo Hyun Jun, lalu tawaran yang diajukan Mr. Goo untuk menyalurkan dana ke Geum's dengan syarat menikah dengan putranya. Jandi menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewatkan.

Jaehae menyimak semua penjelasan kilat dari Jandi dengan pandangan tak percaya. Mulutnya mengangga lebar. Setelah Jandi menyelesaikan perkataannya, Jaehae masih terpaku di tempat. Dia tidak ingin mempercayai pendengarannya sendiri.

"Oppa ..??", Jandi menepuk lengan Jaehae sehingga mengembalikannya dari alam bawah sadar.

"Karena alasan itu kamu ... kamu menyetujui pernikahan tersebut, bagaimana .. bagaimana mungkin? ... lalu  .. mengapa ... mengapa kamu tidak mencariku? .. Mengapa kamu tidak meminta bantuanku? .. Mengapa Jandi-ya? .. kamu tahu kan, kalau demi kamu oppa rela melakukan apa saya ... "

Perlahan kepala Jandi tertunduk lagi ..
"Miane oppa .. jeongmalmiane .. waktu itu keadaan sangat mendesak .. saya tidak bisa berpikir dengan kepala jernih .. dan .... saya .. saya baru sadari sekarang .. kalau .. kalau .. tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk meminta bantuan oppa .. lebih tepatnya lagi .. saya ... saya melupakan oppa ... Yang terlintas dalam pikiran saya cuma keluarga Goo yang bisa menolong haraboji dan Geum's ... sekali lagi miane oppa ... miane karena saya belum memberi jawaban dari janji itu .... dan miane .. karena jawaban dari janji itu tidak bisa lain selain ... saya tidak mungkin menerima pertunangan oppa ... "

Jaehae mendesah perlahan. Kekecewaan terlukis jelas dari wajahnya.
"Setidakberarti itukah kedudukanku dalam hatimu, Jandi-ya?", pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Pelan dan penuh tekanan.

"Miane oppa .... ", jawaban Jandi juga terdengar sangat pelan. Bahkan di cafe yang sepi itu sekalipun suaranya hampir tak terdengar.

"Apakah kamu mencintainya, Jandi-ya?"

Pertanyaan itu sangat mengejutkan Jandi ..
"TIDAKKK!!!", jawabnya cepat, "Saya tidak mencintainya dan saya juga yakin dia tidak mencintaiku .. semua itu tidak mungkin terjadi ... ", Jandi mengeleng keras.

"Lalu .. mengapa kamu masih bertahan?"

Pandangan Jandi terarah lurus ke mata Jaehae ketika menjawab pertanyaan itu ..
"Walaupun saya tidak mencintainya, saya tidak mungkin lari darinya .. karena saya menghargai keputusan yang telah kuambil. Saya menghargai posisi saya sebagai menantu dari appa dan omma, mereka mencintaiku ... terlepas dari hubunganku dengan Junpyo, saya juga menyayangi dan mencintai mereka .. "

"Jadi percuma saja kalau saya menunggumu ya, Jandi-ya?", suara Jaehae terdengar bergetar.

Jandi membisu selama beberapa detik, kemudian dia berujar pelan, "Miane oppa .."

Jaehae menghembuskan nafasnya. Sepasang matanya terpejam perlahan. Hatinya sudah hancur begitu mengetahui pernikahan Jandi dengan Junpyo, sekarang menjadi berkeping-keping setelah mendengar permintaan maaf dari Jandi. Putus sudah harapannya supaya Jandi kembali ke dalam kehidupannya.

Jaehae membuka mata dan bermaksud mengatakan sesuatu. Tetapi suaranya tertahan di tenggorokan ketika mendapati Junpyo sudah berdiri di samping mereka.
"Soseongheyo Jung Jae Hae-ssi .. saya rasa sudah cukup waktu yang saya berikan pada anda .. Saya membutuhkan istriku sekarang juga ...", suara Junpyo terdengar sinis.

Jandi berpaling kearahnya dan dahinya langsung berkerut. 'Mengapa orang ini begitu tak bersahabat?'. Junpyo tidak memberi kesempatan Jandi untuk berpikir lebih lanjut. Dia segera menarik Jandi berdiri dari kursi dan memaksanya pergi dari situ.


"YAAAA .. GOO JUN PYOOO!!! Kamu mau apa? .. Saya bisa berjalan sendiri ..", Jandi memukulkan tangannya berkali-kali ke tangan Junpyo yang mengenggam erat tangan kanannya. Tapi usahanya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Junpyo sia-sia saja. Tenaga Junpyo terlalu besar.

"Apakah anda tidak bisa bersikap lebih lembut terhadap istri anda sendiri?".

Pertanyaan Jaehae menghentikan langkah Junpyo. Dia berbalik kearah Jaehae. Dia kelihatan tidak senang.
"Tidak ada urusannya denganmu Jung Jae Hae-ssi!!!! .. ini adalah masalah pribadiku dengan Jandi, jadi saya berharap anda tidak ikut campur .. ", bibir Junpyo tertarik keatas membentuk senyum ejekan ke Jaehae.

Dia berbalik lagi ke pintu keluar cafe. Cenkraman di tangan Jandi dilepaskannya, kemudian dia melingkarkan tangannya ke leher Jandi dan memaksanya berlalu dari situ.

"YAAA ... GOO JUN PYOOO!!!", protes Jandi.

"Jangan berteriak lagi!! .. Saya ada kejutan untukmu jadi ikut denganku ... "

"Kejutan apa? .. Saya peringatkanmu, Junpyo-ya, jangan mempermainkanku atau kamu akan merasakan akibatnya!!!"

Suara Junpyo dan Jandi semakin samar dan lenyap sama sekali dari pendengaran Jaehae begitu mereka menghilang di tikungan pintu luar cafe.

"Kamu mencintainya, Jandi-ya! ... mungkin kamu belum menyadari perasaanmu sendiri, tapi .. saya tahu kamu mencintainya ...Sepuluh tahun saya mengenalmu dan sikapmu terhadapku tidak pernah seperti itu, kamu selalu hormat dan tidak menunjukkan perasaanmu, sehingga .. seringkali saya harus menerka apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu .. tapi hari ini ... saya melihat perubahan itu ... kamu seperti menemukan sesuatu yang bisa dijadikan tempat untuk menumpahkan segala sesuatu yang selama ini tersimpan dalam hatimu yang paling dalam .. yang bahkan .. mungkin .. nanny sekalipun tidak pernah melihatnya ... ", desah Jaehae, sangat pelan, seperti bicara dengan diri sendiri.

****************


"Yaaa ... Goo Jun Pyo!!! .. kamu mau membawaku kemana??", teriak Jandi, dari dalam porsche perak yang sekarang lagi melaju di tengah jalan raya.

Junpyo yang memegang kemudi tidak menjawab pertanyaan Jandi. Pandangannya tetap terpusat ke jalan raya yang mereka lewati. Dia seperti tidak mendengar pertanyaan Jandi. Akan tetapi secara perlahan senyum misterius terbentuk di wajahnya yang tampan.


"GOO JUN PYOOOOOOOOOOO!!!!!!"

Teriakan Jandi yang sangat keras dan mendadak itu mengejutkan Junpyo. Badannya langsung tersentak ke belakang. Untung saja kakinya yang hampir menginjak break masih bisa dikendalikan, jika tidak kejadian fatal mungkin akan terjadi.

"YAAAA ... APA YANG KAMU LAKUKAN?? TIDAKKAH KAMU MELIHAT SAYA SEDANG MENYETIR??", protes Junpyo dengan keras.

Menyadari kecelakaan fatal yang hampir terjadi akibat dari teriakannya, Jandi langsung membungkam mulut erat-erat dengan kedua tangan dan tubuhnya menyusut di tempat.

**************


Lima belas menit kemudian, porsche perak yang mereka tumpangi memasuki area Gimpo airport. Melihat tampang Jandi yang seperti tercetak tanda tanya besar di jidatnya, Junpyo terkekeh perlahan. Suara ketawanya terdengar renyah. Tapi walaupun begitu tetap tidak mampu menghilangkan keheranan Jandi.

"Junpyo-ya, apakah kamu ingin menjemput seseorang? .. siapa?"

"He .. he .. he .. nanti kamu juga tahu sendiri .., sekarang keluarlah dari mobil!"

Junpyo membuka pintu mobil samping, kemudian melangkah keluar. Dahi Jandi berkerut. Dia tidak mengerti maksud dari semua perbuatan Junpyo. Yang bisa dilakukannya cuma mengikuti langkah Junpyo dari belakang.

Junpyo melewati pintu masuk bandara dan melangkah terus sampai ke ruang tunggu yang luas. Jandi menyejajari langkahnya dengan susah payah. 'Apa dia tidak sadar kalau dengan kaki sepanjang itu dia tidak perlu berjalan begitu cepat?', umpat Jandi dalam hati.

Seorang wanita muda yang melihat kedatangan Junpyo dan Jandi segera membungkuk dengan penuh hormat. Junpyo mengangguk pelan kearahnya, kemudian berpaling ke Jandi ..
"Lihat siapa itu?", tangannya menunjuk ke wanita setengah baya, berbadan kurus dengan kulit agak pucat, yang berdiri di samping wanita muda tadi.

Tubuh Jandi langsung membeku. Dia tidak bisa mempercayai penglihatannya sendiri. Pandangannya terpusat ke wanita setengah baya yang berdiri di hadapannya, yang kelihatan tidak kalah terkejutnya dengan Jandi.

"Nan .. ny ...", desah Jandi.

"Jandi .. Jan .. di .. anakku ... ", airmata mengalir keluar dari sepasang mata nanny yang sudah keriput.

"NANNYYYY!!!!"

Jandi menghambur ke pelukan nanny. Sebentar saja kedua wanita dengan perbedaan mencolok itu sudah menanggis tersedu-sedu.

"Nanny .. mengapa .. bisa sampai .. berada di sini?"

Nanny menunjuk kearah Junpyo,
"Orang itu ... maksud nanny, Goo Jun Pyo-ssi, dia yang menyuruh orang menjemput nanny ke sini ... "

"Miane nanny .. hu hu .. ", isak tanggis terdengar makin jelas dari mulut Jandi. Bukan karena sedih tapi lebih karena bahagia.

"Jika kamu tahu ini kesalahanmu, mengapa kamu sampai melakukannya, Jandi-ya? .. Dan kamu tidak memberitahu nanny .. mengapa?"

"Miane .. karena saya tahu nanny tidak akan menyetujuinya .. jadi saya ... "

Perkataan Jandi terpotong oleh nanny,
"Tentu saja nanny tidak akan menyetujuinya!!! .. Jandi-ya, pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, bagaimana mungkin kamu menyetujuinya dengan mudah? .. kamu tidak mengenalnya dengan baik .. Lalu bagaimana dengan nak Jaehae?"

Kepala Jandi tertunduk perlahan ..
"Karena itu saya merasa bersalah .. nanny miane .. ", jawab Jandi penuh penyesalan.

Di seberang .. Junpyo melirik jam tangannya, kemudian berteriak kearah mereka.

"Kalian sebaiknya meneruskan pembicaraan di rumah saja!! .. saya akan mengantar kalian pulang sekarang,.. saya masih ada rapat penting sejam lagi ..!!!"

Jandi melepaskan diri dari pelukan nanny. Dia mengangguk kearah Junpyo, kemudian membimbing nanny melangkah dari situ. Junpyo menunggu mereka dari tempatnya. Begitu sampai di samping Junpyo, Jandi tersenyum kecil sambil berbisik halus ..
"Gumawo .. Junpyo-ya .."

Mendengar itu, Junpyo langsung tersenyum-senyum sendiri.


************


Setelah mengantar Jandi dan nanny sampai ke rumah, Junpyo dalam perjalanan kembali ke kantor. Di tengah jalan dia mendapat telepon dari Woobin.

JP :"O Woobin-a ... "
WB :"Junpyo-ya .. malam ini berkumpul di tempat biasa!!"
JP :"Ada apa? .. kalau tidak ada yang penting, saya tidak ingin keluar malam ini .. saya sangat capek .. "
WB :"Kamu akan mengetahuinya sendiri nanti malam ... Ingat, ini kejutan jadi jangan sampai kamu tidak datang .. Saya yakin kamu akan menyesal kalau tidak datang ... " (nada suara Woobin terdengar misterius)
JP : (mendecak keras) " Ckkkk ... saya lagi malas!!!! kalian main saja sendiri!!!"


Junpyo bermaksud memutuskan hubungan telepon ketika Woobin berkata cepat ..

WB :"Takut dimarahi Jandi karena sering keluar malam ya?" (tertawa mengejek)
JP : (kesal dan marah) "Yaaaaa ... siapa bilang saya takut sama Jandi? .. Baiklah.. sampai ketemu nanti malam!!!"


Junpyo melempar ponselnya ke jok belakang.

****************


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika Junpyo memasuki bar yang biasa dia datangi dengan F3. Berpuluh pasang mata mengikuti langkahnya dengan penuh kekaguman. Kebanyakan dari pelangan bar itu adalah wanita dari kalangan atas yang mengenal siapa itu Goo Jun Pyo. Mereka saling berbisik satu sama lain dengan kerlingan penuh arti ketika Junpyo lewat di samping mereka. Pemuda itu berlalu dengan tak acuh.

Junpyo memasuki ruangan yang sudah dipesan khusus oleh Woobin. Langkahnya terhenti ketika mendapati siapa yang berada dalam ruangan itu. Matanya melebar. Dia kelihatan sangat terkejut. F3 sudah berada di sana. Dan .. di samping mereka, duduk seorang gadis cantik berambut pendek dengan senyum simpul yang sangat dikenalnya.

"GOO JUN PYOOO ...."

Gadis itu berdiri dari sofa yang didudukinya dan berlari kearah Junpyo yang masih terpaku di tempat semula. Dia memeluk Junpyo erat-erat.
"Saya sangat merindukanmu ... ", bisiknya di telinga Junpyo.


Mata Junpyo terbelalak lebar. Tanpa sadar dia mendorong gadis itu ke belakang. Dia sangat terkejut dan tidak bisa mempercayai penglihatan sendiri.

"Ha Jae Kyung!!!"

"Iya, benar!! .. ini Jaekyungmu!!", goda Jaekyung. Dia tertawa terbahak melihat tampang Junpyo yang mengkerut, "Ha .. ha .. ha .. mengapa tampangmu seperti itu? .. Apakah kamu tidak merindukanku?", lanjut Jaekyung.

Junpyo menelan ludah perlahan kemudian bertanya dengan gugup,
"Mengapa .. kamu bisa berada di sini?... kapan kamu pulang .. dan .. mengapa tidak mengabariku?"

Jaekyung tersenyum lebar. Matanya menatap lekat ke wajah Junpyo, pemuda yang pernah mengisi hidupnya dan akan selalu menghuni dalam hatinya.
"Sudah dua tahun ya, Junpyo-ya?"

"Benar, sudah dua tahun kita tidak bertemu ... dan semua itu kesalahanmu yang menghilang begitu saja selama dua tahun ini tanpa kabar sedikitpun ..", ujar Junpyo.

Jaekyung langsung cemberut, "Yaaaa .. kamu menyalahkanku? .. kalau bukan kamu yang memutuskan hubungan kita secara sepihak, saya tidak akan pergi begitu saja!!"

Keadaan dalam ruangan itu mulai memanas. Junpyo akan memprotes lagi jika Yijeong tidak segera mengeluarkan suara, "Heiiii .. kalian berdua, duduklah dulu .. jangan bertengkar terus .. Selesaikan masalah kalian secara baik-baik ... "

Teriakan Yijeong segera menyadarkan Junpyo dan Jaekyung kalau mereka tidak berduaan saja dalam ruangan itu. Wajah mereka masih terlihat tegang ketika menjatuhkan diri di sebelah Jihoo. Dahi Junpyo berkerut. Dia tidak senang disalahkan Jaekyung begitu saja. Sedangkan Jaekyung masih cemberut di tempatnya. F3 memperhatikan keduanya sambil saling melempar pandangan.

"Bagaimana? .. sekarang sudah agak baikan, kan?", tanya Jihoo.

Junpyo dan Jaekyung tidak mengeluarkan suara. Woobin mengeleng perlahan, "Kita sudah dua tahun lamanya tidak berkumpul seperti ini, jadi saya mohon bisakah kalian melupakan peristiwa yang lalu? ... Bukankah persahabatan kita melebihi segalanya? .. jadi mengapa peristiwa itu bisa begitu mudah menghancurkan persahabatan kita?"

Junpyo dan Jaekyung tidak mampu menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Woobin. Mereka menyadari apa yang dikatakan Woobin itu benar adanya. Mereka berlima sudah bersahabat sejak dari kecil, bahkan sejak bayi. Mereka sudah seperti saudara. Dulu mereka selalu melakukan segala sesuatu bersama. Tidak ada rahasia di antara mereka. Bahkan hubungan mereka lebih erat daripada hubungan saudara kandung.

Jaekyung memutar badannya perlahan menghadapi  Junpyo, kemudian bertanya pelan ..
"Saya dengar kamu .. sudah menikah .... , benarkah itu?"


Junpyo mendesah halus,
"Benar .. "

"Sungguh tidak bisa dipercaya!!", ujar Jaekyung, "Bagaimana mungkin Junpyo yang saya kenal sampai bersedia menerima pernikahan yang diatur oleh orangtua? ... Saya jadi ingin tahu seperti apa istrimu itu!!"

Junpyo langsung tersentak begitu mendengar perkataan Jaekyung,
"Yaaa ... Ha Jae Kyung, apa yang ingin kamu lakukan? .. Saya peringatkanmu, jangan sekali-kali kamu mengusik Jandi!! .. Jika saya mengetahui kamu melakukan itu, saya tidak akan memaafkanmu!!!"

Junpyo memandang tajam ke Jaekyung, "Saya bersungguh-sungguh dengan perkataanku .. "

Jaekyung membisu di tempatnya. Melihat ketegangan yang mulai menjalari mereka, Yijeong segera mengeluarkan suara lagi, "Sudahlah ... apapun itu, semua sudah terjadi, tidak bisa dirubah lagi ... Jaekyung-a, sebenarnya apa maksud kepulanganmu, jangan katakan pada kami kalau kamu merindukan korea dan kami, sahabat dekatmu!! .. Setelah kepergianmu selama dua tahun itu, kami tidak akan mempercayai jawaban itu .."

Jaekyung menghembuskan nafasnya. Dia tersenyum perlahan. Benar kata Yijeong, tidak ada gunanya dia memikirkan masa lalu.
"Saya pulang karena permintaan appa dan omma. ... Seperti kalian, appa ingin saya segera menikah .... , dan sekarang mereka sedang mencarikan calon yang pantas untuk disandingkan denganku .. "

F4 langsung menganggakan mulutnya.

"Kalian merasa heran kan? .. Setelah memberontak selama bertahun-tahun, saya akhirnya menyerah juga!! .... Tidak ada jalan lain karena saya menyadari dan saya yakin kalian juga menyadari bahwa inilah nasib kita sebagai anak-anak dari keturunan keluarga terhormat .. ", Jaekyung tersenyum kecut.

F4 mengangguk perlahan. Mereka bisa mengerti perasaan Jaekyung sekarang. Dua diantara mereka, yaitu Junpyo dan Yijeong sudah mengalami nasib seperti yang dikatakan Jaekyung. Beginilah hidup mereka. Sebagai keturunan dari keluarga terhormat seKorea, mereka tidak bisa memilih jalan hidup sendiri.

"Kami mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, Jaekyung-a!! ... Kejadian yang dialami Junpyo dan Yijeong juga akan terjadi padaku dan Jihoo, begitu juga denganmu ... appaku bahkan sudah membuat janji makan malam dengan rekan kerja dan putrinya huhhhh ... ", Woobin mendesah keras.

Beberapa menit kemudian seisi ruangan menjadi sepi. Semuanya seperti tidak berkeinginan mengeluarkan suara. Yijeong meraih bir yang tersaji diatas meja kemudian meneguknya sampai habis. Diperhatikannya gelas kosong yang terpegang di tangan, tersenyum kecil kemudian berpaling kearah Junpyo,
"Junpyo-ya, bagaimana hubunganmu dengan Jandi?"

"Apa maksud dari pertanyaanmu?", tanya Junpyo dengan kening berkerut.

"Ohh come on Junpyo-ya .. Saya tahu kamu mengerti kearah mana pertanyaanku itu .. ", Yijeong mendekatkan wajahnya ke Junpyo, kemudian bertanya halus, "Apakah kalian sudah tidur bersama?"

"Yaaaa .... ", Junpyo mendorong Yijeong kebelakang. Pertanyaan itu sangat mengejutkannya. F2 dan Jaekyung terbahak melihat tampang salah tingkah Junpyo.

"Heiii .. itu pertanyaan wajar .. kenapa kamu kelihatan malu begitu? ... Yang dilakukan pria dan wanita setelah menikah tentu saja tidur bersama .. Saya tidak akan malu mengatakannya padamu kalau saya dan Gaeul sudah melakukannya di malam pertama. .. Heiii Junpyo-ya!!, jangan katakan padaku kalau kamu belum menyentuhnya?"

Junpyo semakin serba salah dengan perkataan Yijeong. Dia ingin membantah tapi tidak bisa. Bagaimana mungkin dia bisa membantah kalau yang dikatakan Yijeong itu benar adanya. Jihoo yang lebih peka perasaannya, segera mengeluarkan suara untuk meredakan kegelisahan Junpyo.

"O sudahlah .. kita jangan saling mengolok lagi .. sebaiknya kita menikmati malam ini sebagai hari perjumpaan dan perayaan persahabatan yang telah lama terjalin ... Ingat, jangan ada yang beranjak dari sini sampai besok pagi .... "

Perkataan Jihoo sangat berpengaruh. Mereka semua langsung melupakan semua ketegangan yang sempat terjadi. Detik berikutnya suara detingan gelas yang diadu dan suara ketawa mewarnai seisi ruangan. Obrolan mereka berlangsung sampai pagi.

******************


Jandi mengedipkan mata berulangkali. Seberkas sinar menerobos masuk lewat gorden jendela yang terbuka dan tepat mengenai wajahnya. Jandi tersentak bangun dari pembaringan. Dengan cepat dia meraih jam weker dari meja dekat ranjang. Gara-gara menunggu kepulangan Junpyo semalam, dia jadi terlambat bangun. Dan .. oh tuhan, waktu sudah menunjukkan pukul 7:45 pagi.

Jandi bergegas ke kamar mandi. Mengosok gigi dan membasuh muka dengan cepat. Setelah berganti pakaian seadanya, dia berlari keluar dari kamar, menuruni tangga menuju ruang makan.

Kedua mertuanya, Goo Jun Hyun dan Moon Yong Hee, dan juga nanny sudah duduk di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan sarapan pagi hari ini juga sudah tersaji di meja makan. Tapi makanan tersebut belum disentuh sedikitpun oleh mereka.

"Anyongheseyo appa, omma dan nanny .. ", Jandi menyapa mereka bertiga dengan hormat. Badannya membungkuk sangat dalam.

Jun Hyun, Yong Hee dan nanny tersenyum padanya. Dengan isyarat tangan Jun Hyun mempersilahkan Jandi duduk di hadapan mereka.
"Anyong Jandi-ya ... Bagaimana tidurmu semalam?"

"Ba .. baik .. Miane appa dan omma, saya turun terlambat pagi ini .. ", kepala Jandi tertunduk perlahan.

Jun Hyun segera mengibaskan tangannya, "Sudahlah! .. Jangan dipikirkan itu .. Oh ya, mana Junpyo? .. Apakah dia masih belum bangun dari tidur?"

Pertanyaan itu membuat Jandi gugup. Dia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Beruntung pada waktu bersamaan, Junpyo memasuki ruangan. Wajahnya terlihat lelah. Dia menguap perlahan. Semua yang berada di ruang makan itu langsung memusatkan perhatian kearahnya.

"Junpyo-yaaa ... kamu baru pulang? Semalaman kamu kemana saja?", Yong Hee mengeluarkan pertanyaan sambil mengerutkan wajahnya.

Beberapa detik lamanya, Junpyo tidak mengeluarkan suara. Dia membalas pandangan Jun Hyun dan Yong Hee secara bergantian. Melirik sekilas ke nanny dan yang terakhir tatapannya jatuh ke Jandi, yang kelihatan tidak terpengaruh oleh keadaan di ruangan itu. Pandangannya tetap terpusat pada hidangan di atas meja.

Junpyo mendesah perlahan. Agak kecewa dengan sikap cuek dari Jandi.
"Saya dari pesta bersama F3 ..", jawabnya pelan.

Kemudian dia berbalik kearah tangga yang menghubungkan ruang tamu dengan kamarnya di lantai atas. Tapi sebelum dia sampai di anak tangga pertama, perkataan Yong Hee menghentikan langkahnya,
"Oh ya Junpyo-ya, tahukah kamu kalau Jaekyung sudah kembali ke Seoul? .. Bibi Ha mengabari omma kemarin .."

Pertanyaan itu sangat mengejutkan Junpyo. Dengan cepat dia memutar badan menghadapi orang-orang yang ada di ruang tamu itu. Sepasang matanya terbelalak lebar. Dia kelihatan gugup ketika melihat kearah Jandi. Tapi sikap tidak perduli dari gadis itu langsung membuatnya kecewe. Entah mengapa hatinya terasa tertekan.


"Junpyo-ya, apakah tidak sebaiknya kamu menghubungi Jaekyung dan mengundangnya makan malam di sini? .. Sudah lama rasanya omma tidak melihat anak itu! .. dan hmm .. bagaimanapun juga, apapun yang terjadi di antara kalian, persahabatan sejak kecil tidak akan putus begitu saja, kan?"

Junpyo mengalihkan perhatian ke Yong Hee, kemudian menjawab, pelan dan terdengar agak terpaksa,
"Kami baik-baik saja omma ... jadi jangan khawatir .. Tadi malam ... saya .. maksudnya kami .. F3 dan Jaekyung bertemu dan .. mengobrol sampai subuh .. "

Yong Hee mengangguk. Senyuman terhias di wajahnya yang masih cantik. Jun Hyun juga tersenyum. Mereka berdua telah mengenal Jaekyung sejak bayi jadi mereka mengerti hubungan antara putranya dengan gadis itu. Begitu juga dengan hubungannya dengan F3. Mereka berlima mempunyai hubungan yang sangat kental, bahkan melebihi hubungan saudara kandung.

Junpyo melirik kearah Jandi lagi. Sepasang tangan Jandi yang memegang garpu dan pisau tersampir di meja. Tidak bergerak. Kesibukkannya tadi berhenti sama sekali. Samar-samar Junpyo mendapati gadis itu menghembuskan nafas perlahan.

Junpyo mendesah pelan. Dia tidak mengerti apa arti dari sikap Jandi. Kemudian dia membungkuk kecil kearah Jun Hyun, Yong Hee dan nanny. Mundur kebelakang dan berbalik kembali ke tangga bundar di belakang.

"Kamu tidak sarapan dulu, Junpyo-ya?"

Pertanyaan Yong Hee menghentikan langkah Junpyo.
"Saya ada rapat penting hari ini jadi saya baru bisa makan setelah itu .. ", jawab Junpyo tanpa berpaling kearah mereka. Kemudian dia berlalu dari situ.

Yong Hee menghembuskan nafas panjang, "Anak ini!!",  dia tersenyum kearah nanny ketika menangkap pandangan bertanya dari orang tua itu.

Mereka lalu melanjutkan sarapan yang terganggu tadi.

"Sudah berapa lama kita tidak bertemu Jaekyung ya, appa? .... Hmmm sudah lebih dari dua tahun ya? ... Kalau tidak salah setelah putus dari Junpyo, anak itu menghilang begitu saja .. "

Jun Hyun segera menyentuh lengan Yong Hee dan mengeleng kearahnya. Dia memberi isyarat kepada istrinya untuk berhenti membicarakan itu dengan cara melirik ke Jandi. Yong Hee mengangga perlahan. Kemudian dia mengangguk ketika menyadari kata-kata yang keceplosan dari mulutnya tadi.

"Ohh .. Jandi-ya, omma berharap kamu jangan salah paham .. Junpyo dan Jaekyung sudah bersahabat sejak kecil, begitu juga dengan Jihoo, Yijeong dan Woobin .. Walaupun mereka berdua pernah kencan dua setengah tahun yang lalu, tapi itu hanya berlangsung selama setengah tahun .. Sekarang mereka hanya sebatas sahabat dekat saja, tidak lebih dari itu ... "

Jandi tersenyum perlahan.
"Omma tidak perlu menjelaskan itu padaku ... Saya tidak apa-apa!!"

Yong Hee segera memprotes perkataan Jandi,
"Omma tidak tahu apakah Junpyo sudah menceritakan semua hubungan pribadinya dulu kepadamu atau tidak, tapi melihat sikapnya tadi, omma yakin dia belum melakukannya ... Omma ingin kamu mengetahui satu hal Jandi-ya, walaupun kami menyukai Jaekyung dan pernah berharap dia bisa menjadi menantu kami .. tapi sekarang hanya kamu menantu kami, tidak ada yang lain dan kami juga tidak mau menerima yang lain .. Kami mencintaimu Jandi-ya,  ... bagaimanapun sikap Junpyo padamu, kami tidak akan membiarkannya menyakitimu, percayalah pada kami .. "

Jandi semakin memperlebar senyumannya. Sepasang matanya berkaca-kaca karena terharu dengan perkataan Yong Hee. Sedangkan nanny mendesah pelan di tempatnya. Hampir tidak terdengar tapi sempat tertangkap mata Jandi.
"Terima kasih omma dan appa .. Saya tahu kalian mencintaiku, karena itu pula saya akan bertahan di sini, sampai .. sampai .. saya tidak punya alasan lagi untuk bisa mempertahankan hubungan ini ... "

Sambil mengatakan ini, mata Jandi melirik ke nanny. Wanita setengah baya itu menatapnya dengan pandangan sendu. Nanny tidak menyetujui perkataan yang baru saja dikeluarkannya, Jandi tahu itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus memilih antara kasih dari mertuanya dan ketidakpersetujuan dari nanny.

**************


Jandi sedang merapikan kamarnya ketika nanny masuk ke ruangan tanpa bersuara. Junpyo sudah berangkat ke kantor waktu itu. Suara dehaman pelan membuat Jandi segera berpaling kearah pintu.

"Ohh nanny!!", seru Jandi.

"Kenapa? .. Tidak mengharapkan kehadiran nanny?"

"Tidak! .. Bukan begitu!! .. Mengapa nanny menjadi sensitif begini? .. A .. ada apa sebenarnya?", tanya Jandi gugup.

Dia segera berjalan ke nanny dan membimbingnya ke sofa yang terletak di sudut ruangan.

"Ada yang ingin nanny bicarakan denganmu!!"

Jandi mengarahkan perhatiannya ke nanny.

"Bagaimana kehidupan pernikahanmu, Jandi-ya?", tanya nanny dengan pandangan menyelidik.

Jandi menjadi gugup, "Ba .. ba .. ik ", suaranya terdengar bergetar.

"Baik??", nanny kedengaran tidak mempercayainya, "Jika memang baik mengapa dia sampai semalaman tidak pulang ke rumah dan tidak juga mengabarimu?", lanjut nanny.

"Mungkin .. dia .. dia lupa memberitahuku .. ", jawab Jandi. Dia berusaha menekankan jawabannya walaupun dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

"Lupa? ... Ohh Jandi-ya, kamu mengira bisa membohongi nanny? ... jangan lupa kalau nanny yang membesarkanmu!!"

Kepala Jandi tertunduk perlahan. Dia kelihatan bodoh di hadapan nanny. Benar kata wanita tua itu, bagaimana mungkin dia dapat membohongi nanny. Wanita ini tahu segalanya.
"Miane .. nanny "

"Nanny tidak ingin mendengar permintaan maaf darimu, Jandi-ya .. Kamu tidak bersalah padaku .. Yang kamu sakiti bukan nanny tapi nak Jaehae .. ".

Kepalanya Jandi tertunduk semakin dalam.

"Jandi-ya, tahukah kamu kalau nak Jaehae akan kembali ke Roma besok?", lanjut nanny lagi.

Jandi sangat terkejut. Dia langsung mengangkat wajah ke nanny.
"Oppa akan pergi .. besok?"

Nanny mengangguk, "Iya .. Nak Jaehae menghubungi nanny tadi pagi ...", dia memperhatikan sikap Jandi, kemudian melanjutkan perkataannya, "Kamu jangan salah sangka kalau nak Jaehae yang meminta nanny untuk memberitahu keberangkatannya padamu .. Sama sekali bukan Jandi-ya .."

"Saya .. saya tidak pernah menyangka begitu .. ", jawab Jandi pelan.

"Mengetahui pernikahanmu yang tidak diketahui oleh nanny, nak Jaehae ingin memastikan keadaan nanny jadi dia menghubungi nanny di Roma kemarin dan lewat pelayan di sana, dia mengetahui kepulangan nanny ke sini ..", nanny memperhatikan Jandi yang membisu di tempatnya, "Nak Jaehae memberitahu kepulangannya besok ke nanny tapi dia meminta nanny untuk tidak memberitahukannya kepadamu .... ", lanjut nanny.

Jandi tetap tidak bergerak dari sikapnya semula.


"Kamu tahu apa maksudnya, Jandi-ya? ... Karena nak Jaehae tidak ingin melihat posisimu terpojok di keluarga ini, karena itu dia meminta dengan sangat supaya nanny tidak mengatakannya kepadamu ...", nanny berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya lagi, "Tapi setelah nanny memikirkannya dengan seksama .. sebagai seorang sahabat yang sudah saling mengenal selama sepuluh tahun, nanny rasa sebaiknya kamu menemuinya .. apapun persoalan di antara kalian harus diselesaikan baik-baik ... "

Jandi mengeleng perlahan, "Saya tidak bisa .. nannya"

"Mengapa tidak bisa? Kamu takut pada suamimu? ... Jandi-ya, jika benar dia suamimu, dia harus menghormati kehidupan pribadimu .. Selain keluarga, kamu masih harus berhubungan dengan dunia luar dan teman sejati juga termasuk di dalamnya .."

Jandi bergeser dari duduknya. Dia kelihatan gelisah.

"Temuilah dia Jandi-ya!! ... Kamu tidak ingin persahabatan selama sepuluh tahun putus begitu saja, kan?"

"Tapi .... ", Jandi masih kelihatan ragu.

"Kamu bisa pulang sebelum kepulangan suamimu dari kantor! .. Hanya sebentar Jandi-ya, ... berilah waktu pada dirimu sendiri untuk mengendorkan urat-urat syarafmu yang tegang .. Nanny akan menghubungi nak Jaehae dan membuat perjanjian untukmu .. "

Setelah memikirkan semua itu selama beberapa menit. Akhirnya Jandi tersenyum perlahan dan mengangguk ke nanny.

***************


Dua setengah jam kemudian, Jandi sampai di restoran Italia yang berada di pusat kota sesuai perjanjian yang telah dibuat dengan Jaehae. Dia diantar masuk oleh seorang pelayan berseragam hitam putih. Jaehae sudah memesan sebuah ruangan khusus buat pertemuan mereka. Semua makanan sudah terhidang di meja bundar besar dengan seprai krem lembut bermotif bunga-bunga kecil itu. Musik lembut terputar dari mesin kuno di sudut ruangan. Pelayan yang mengantar Jandi tadi membungkuk hormat kepada mereka, kemudian berlalu dari situ.

"Duduklah, Jandi-ya ..", Jaehae mengulurkan tangan ke kursi yang berada di dekat Jandi sambil tersenyum lembut.

Jandi mengangguk, kemudian mendorong kursi itu kebelakang dan mendudukinya.
"Gumawo oppa .. "

"Kamu kelihatan pucat .. Apakah kamu baik-baik saja?", tanya Jaehae, penuh kekhawatiran.

"Ohhh gwencana .. Saya baik-baik saja ... ", jawab Jandi cepat.

Jaehae mengangguk. Senyuman kembali menghiasi wajahnya yang putih pucat.
"Kalau begitu ... mari kita mulai makan lunch yang sudah disajikan .. "

Jandi tersenyum. Lalu mereka mulai menyantap makan siang yang terhidang di atas meja. Mereka menikmati makanan tersebut tanpa mengeluarkan suara. Hanya suara garpu dan pisau beradu dengan piring dan alunan musik lembut yang terdengar dari ruangan itu.


Hampir setengah jam mereka gunakan untuk menghabiskan makanan di atas meja. Setelah mengelap mulut dengan serbet dan menghirup anggur dari gelas masing-masing, mereka mulai mengeluarkan suara.

"Bagaimana menurutmu makanan dan anggur ini?", tanya Jaehae.

Jandi mengangkat gelas anggur di tangannya, "Sempurna ... Oppa selalu tahu mana anggur yang istimewa .. tapi ... hmmm .. makanan-makanan itu tidak sesempurna anggur ini .. "

"Setelah tinggal beberapa lama di Korea ternyata Jandi masih bisa membedakan mana makanan yang lezat dan mana yang tidak!! ..", Jaehae  terkekeh perlahan.

Jandi tertawa renyah ketika menangkap godaan dari perkataan Jaehae, "Ha .. ha .. oppa sengaja menanyakan pertanyaan itu, kan? ... Hmmm walaupun statusku sudah berubah, aku masih saja Jandi yang dulu ... "

Jaehae mengangguk, "Benar, kamu tetap saja Jandi yang dulu .. Jandi si rakus, ha ..ha .. , Jangan cemberut begitu, oppa cuma bercanda !! ..", Jaehae tertawa keras melihat Jandi memonyongkan bibirnya, "Yah ... di sini Korea bukan Roma .. jadi tidak mungkin mendapatkan makanan Italia yang benar-benar lezat  .. "

Jandi menyetujui perkataan Jaehae. Memang benar, ini Korea, dan tidak seharusnya dia mengharapkan makanan khas Italia yang istimewa di sini. Dia merasa mulai sekarang dia harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Yang terutama adalah makanannya.

Jandi memperhatikan Jaehae dengan seksama. Dia bersyukur pembicaraan antara mereka hanya perbincangan ringan. Hanya berkisar dari makanan, keadaan perusahaan masing-masing dan kehidupan masa kecil. Jaehae tidak menyinggung hubungan persahabatan di antara mereka, yang hampir menuju ke hubungan yang lebih serius dua bulan yang lalu. Jaehae sudah mulai bisa menerima kenyataan ini. Satu hal yang tidak diketahui Jandi. Jaehae bisa melepaskannya dengan mudah karena dia bisa melihat perasaan Jandi yang sebenarnya ke Junpyo. Jaehae tahu kalau Jandi sudah jatuh cinta pada Junpyo.

***************


Junpyo pulang dari kantor agak awal sore itu. Karena semalaman tidak tidur, kepalanya terasa pusing, jadi dia memutuskan untuk beristirahat di rumah. Junpyo sampai ke rumah sebelum kepulangan Jandi. Dia memasuki rumah dengan tampang dingin, tanpa senyuman. Semua pelayan yang melihat itu segera menghindarinya.

Junpyo sampai di kamarnya sendiri di lantai atas. Dahinya berkerut. Dia tidak mendapati Jandi di ruang bawah tadi, begitu juga di kamar ini.
"HEIIIII ....  !!!", teriakannya mengetarkan seisi ruangan.

Seorang pelayan muda tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Dhore-nim ... a .. ada ... perintah ...  apa?"

"Jandi, .... Maksudku, agashi ... ada di mana?", tanya Junpyo gusar.


Pelayan itu tampak kebinggungan. Kepergian Jandi memang tidak diketahui oleh para pelayan.
"Sa ... sa ... ya ... "

"Mengapa tergagap-gagap? .... DIMANA AGASHI KATAKU?", Junpyo mulai kehilangan kesabarannya.

"Jangan bertanya padanya .. Dia tidak tahu apa-apa!!"

Junpyo berpaling kearah suara itu. Nanny sudah berdiri di ambang pintu.
"Nanny!! ... "

"Jandi ada acara di luar ... ", jawab nanny.

Junpyo langsung mengerutkan dahinya, "Acara? ... Acara apa? ... Apakah dia lupa kalau tanpa ada ijin dariku, dia tidak boleh keluar dari rumah ini?"

"Jandi bukan hidup dalam penjara, Junpyo dhore-nim ... Dia juga mempunyai kehidupan sendiri ", jawab nanny pendek.

"Tapi dia sudah berjanji padaku .... Itu sudah menjadi perjanjiannya ketika memasuki rumah ini!!!", Junpyo bersikeras dengan perkataannya.

"Apakah anda tidak merasa kalau sikap anda terlalu kekanak-kanakan dan terlalu memaksakan kehendak sendiri dhore-nim ... ".

Nanny menatap tajam ke Junpyo. Tidak ada perasaan gentar dalam hatinya ketika menghadapi pemuda ini. Tampang garang Junpyo tidak mempan di nanny.

"Sa .. ya ... ka .. mu ....", Junpyo menjadi serba salah. Tangannya terangkat ke nanny. Perkataannya tidak dimengerti sama sekali.

Dan sebelum dia berhasil menguasai dirinya untuk membantah nanny, Jandi muncul di ambang pintu.
"GOO JUN PYOO!!", teriakan keras keluar dari mulut Jandi, "Mengapa.... mengapa ... kamu pulang seawal ini?"

Junpyo mengalihkan perhatiannya ke Jandi, "Kenapa? ... Tidak bolehkah? ... Apakah saya merusak acaramu dengan kepulangan yang terlalu dini ini? .... Yaaaa Geum Jan Di, kamu sudah berani main di belakangku ya? .. Siapa yang mengajarimu?"

Pertanyaan bertubi-tubi dari Junpyo membuat Jandi pusing tujuh keliling. Mulutnya mengangga tanpa ada suara yang keluar.

"Dhore-nim, apakah anda menganggap Jandi seorang tertuduh? ... Dia cuma keluar sebentar .. Tidak seharusnya anda bersikap seperti itu!!", perkataan nanny mendahului jawaban yang sudah siap meluncur keluar dari mulut Jandi.

"Saya .. saya cuma ingin mengetahui kemana dia pergi ... Sebagai suaminya saya berhak mengetahui segalanya ... ", bela Junpyo.

Nanny membuka mulutnya. Tapi sebelum dia berhasil mengeluarkan suara, Jandi sudah membalik badannya kearah pintu,
"Nannya .. saya mohon, biarkan kami yang menyelesaikan masalah ini ...", bisik Jandi di telinga nanny.

Wanita setengah baya itu menatapnya dengan pandangan tidak yakin.
"Please!! ... ", Jandi berbisik lagi dengan penuh harap.

Akhirnya nanny mengangguk kemudian melangkah keluar dari kamar itu diikuti oleh pelayan muda yang dari tadi membeku di tempat. Jandi menghembuskan nafas lega. Perlahan dia menutup pintu itu.

"SEKARANG JAWAB PERTANYAANKU!!"

Perkataan keras itu menghentak Jandi. Tubuhnya langsung menegang. Lalu dia berbalik menghadapi Junpyo.
"Apa yang ingin kamu ketahui?"

"Semuanya!! .. Kamu dari mana saja? Pergi dengan siapa dan mengapa tidak memberitahuku?"

Junpyo memandang tajam ke Jandi. Urat-urat lehernya sudah menegang semua. Matanya seakan mengobarkan sinar api yang bersiap melahap Jandi.

"Saya minta maaf karena tidak memberitahumu .. saya tahu ini kesalahanku, miane .. ", jawab Jandi halus. Dia tidak ingin bertengkar. Melihat kemurkaan Junpyo, dia merasa lebih bijaksana kalau dia mengambil jalan halus dalam menghadapinya.

Junpyo langsung tertegun. Tidak biasanya Jandi tidak membalas kemarahannya dengan teriakan. Sekarang giliran dia menjadi serba salah.
"Tentu ... tentu saja ... itu ke .. salahanmu  ... ", ujarnya terputus-putus.

Jandi tersenyum, "Iya, kesalahanku ... Tadi saya dari restoran Italia bersama Jaehae oppa .."

"APAAAAAAAAAAA??", teriak Junpyo keras. Setelah kemarahannya yang agak mereda tadi, sekarang meledak lagi, "JAEHAE KATAMU!!! ... MENGAPA DIA? ... MENGAPA HARUS DIA? .. KAMU SENGAJA MEMPERMAIKANKU YA, JANDI-YA?"

Wajah Jandi langsung berkerut, "Apa maksudmu dengan perkataan 'sengaja mempermainkanmu?' ... Saya tidak mengerti!! ... Jaehae oppa adalah seorang sahabat sejati bagiku, bahkan lebih dari itu .. "

"Ho hoo .. bagus Jandi-ya!! .. Akhirnya kamu mengaku juga kalau dia melebihi seorang sahabat bagimu!!! ... Kamu jangan lupa Jandi-ya, saya adalah suamimu!!! ... CUMA SAYA SEORANG YANG SEHARUSNYA ORANG YANG PALING PENTING DALAM HATIMU .. BUKAN PRIA LAIN ..."

Junpyo mendekati Jandi. Wajahnya sangat garang dan ganas. Jandi langsung mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi sampai langkah kelima tubuhnya sudah membentur dinding. Dia terpojok. Tidak ada jalan buatnya untuk melarikan diri. Sekarang Junpyo sudah berdiri di depannya. Sangat tinggi dan menjulang. Kelihatan menakutkan. Jandi mengigil ketakutan.
"Ka .... mu ... mau .. a .. a ..pa ..?"

"Kamu takut saya akan memukulmu? Kamu mengira saya pria seperti itu?", suara Junpyo terdengar parau dan rendah. Kalau saja Jandi tidak sedang ketakutan pasti dia akan mendapati kalau suara itu kedengaran sangat memikat.

"TIDAAKKK!! .. Bukan begitu! .. saya ... saya ... ", Jandi menjadi semakin gugup dan takut. Dia menyusut di tempatnya. Selama dua menit lamanya mereka berada dalam posisi yang sama. Tidak ada yang bersedia mengambil langkah lebih lanjut. Kemudian sesuatu teringat oleh Jandi. Perbincangannya dengan omma dan appa Junpyo merayap masuk ke dalam pikirannya. Tampangnya langsung mengeras.

"SUAMI KATAMU? ... JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU TIDAK AKAN BERSIKAP SEPERTI INI TERHADAPKU, TIDAK AKAN MEMARAHIKU DAN BISA MENGHORMATI KEPUTUSANKU .. JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU TIDAK AKAN MELARANGKU MENEMUI KELUARGA DAN TEMAN-TEMANKU ... JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU AKAN MENJAGA PERASAANKU ... JIKA BENAR KAMU SUAMIKU, KAMU TIDAK AKAN KELUAR DENGAN JAEKYUNG APALAGI KELUAR SEMALAMAN .. JIKA BENARRR ........"

Perkataan Jandi yang bertubi-tubi itu terpotong ketika Junpyo dengan mendadak memegang erat wajahnya dengan kedua tangan dan mendaratkan ciumannya. Jandi langsung tersentak. Dia tidak siap menerima perlakuan ini. Sepasang matanya terbelalak lebar. Junpyo semakin mendalamkan tancapan bibirnya. Mata Junpyo terpejam. Nafas Jandi tertahan ketika dia merasakan sesuatu yang hangat memasuki bibirnya. Lidah Junpyo bermain di dalam bibirnya dengan panas.

 

Hati Jandi semakin terguncang. Tapi detik berikutnya, matanya terpejam perlahan. Hembusan nafas hangat dari hidung Junpyo membuat pikirannya melayang. Mulutnya mulai bergerak ketika Junpyo mulai melumat bibirnya. Dia membalas lumatan Junpyo. Desahan kecil keluar dari Jandi.


Junpyo berdeham pelan dan menurunkan tangannya ke pinggang Jandi. Dia memeluk Jandi erat-erat. Sementara itu bibirnya terus melumat bibir Jandi dengan ganas. Jandi membalasnya dengan tidak kalah ganasnya. Bibir Jandi hampir tenggelam dalam bibir Junpyo. Perlahan Junpyo meneruskan ciuman ke hidung kemudian ke telinga Jandi.
"Kamu sangat hebat ... ", desahnya lembut.

"Ahhhhhhh ..... ", balas Jandi.

****************


cre all pics, as labeled@baidu

bersambung ke chp 4 ~~~~
« Last Edit: March 05, 2010, 05:41:14 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun