Author Topic: BEHIND THE SHINNING STAR (Season IV) part II (3 Juli 2011)  (Read 12316 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: BEHIND THE SHINNING STAR
« on: December 25, 2010, 09:29:20 pm »
BEHIND THE SHINING STAR
SEASON I
PART 1


Udara malam musim dingin di Seoul membuat semua orang agak menyusut untuk keluar rumah, namun tidak bagi Mino, dia segera melajukan mobilnya, membelah jalan raya demi bertemu dengan kedua sahabatnya, ya… Kim Bum dan Il Woo pasti sudah menunggunya sejak tadi di restoran itu, restoran yang selama ini merupakan langganan mereka untuk berkumpul. Apalagi hari ini, dia resmi lolos casting untuk drama seri action, dia ingin merayakan kemenangannya itu bersama Bum dan Il Woo.

“Maaf terlambat,” Mino segera menghembaskan tubuhnya di sofa restoran. Benar  saja Bum dan Il Woo sudah melahapnya dengan tatapan memprotes,”Kalian mau makan apa? Aku yang akan bayar.” Mino membaca buku menu di hadapannya demi menghindari tatapan mereka.

“Apa saja. Mino-ssi.” Bum akhirnya bersuara. Il Woo bersiul-siul sambil memandang keadaan restoran, restoran yang elegan dan dari tampilan luarnya bisa dibayangkan hanya orang berduit yang bisa memasukinya. Mereka memang selalu nyaman di restoran mahal itu, tidak ada fans norak yang selalu mengganggu mereka untuk minta tanda tangan. Itulah sebabnya mereka selalu bertemu di sini.

“Aku menang casting lagi,” Mino menyeringai lebar, pelayan yang menanyakan pesanan mereka sudah pergi dari tadi. “Oh ya?” Il Woo mulai tertarik.

“Ne…sebuah drama action.” Minho melipat jari-jari tangan kanannya lalu membidik, dia tampak seperti anak kecil yang berlagak James Bonds.

“Sepertinya menarik? Aku jadi ingin tahu bagaimana nanti hasilnya?” Bumie jadi geli melihat tingkah Mino.

“Pasti baguslah, Lee Min Hoo gitu loh…”

“Cihh…” dua sahabatnya itu jadi muak bersamaan melihat tingkah narsisnya.

Tiba-tiba televisi di restoran itu yang sedari tadi menyajikan acara infotainment menayangkan acara press conference Goo Hye Sun di Taiwan, serta merta mereka menoleh ke televisi tersebut. Gambar tentang Hye sun yang memuji lawan mainnya di proyek yang akan datang, Wu Chun tampak jelas oleh mereka. Mino menelan ludah kering.

“Wah. Wah wah, Noona kita yang satu ini makin bersinar saja, ya?” Il Woo berdecak kagum. Bumie mengalihkan pandangan pada Mino,”Aku dengar dia ke New York waktu pengambilan gambar The Musical, apa kalian bertemu?” Bumie tahu betul kalau Mino juga ke New York beberapa waktu yang lalu untuk acara fashion show. Mino tidak menjawab. Dia masih saja memperhatikan tayangan televisi, mendengarkan satu persatu kalimat yang dilontarkan oleh hye sun di acara itu. Panas….hatinya sangat panas saat ini, bagaimana mungkin hye sun membandingkan dirinya dengan Wu chun? Tangannya mengepal di balik saku jasnya. Oh, apa-apaan ini? Sejak kapan Hye Sun menyukai pria berotot, aish….!
Lalu ada gambar itu, gambar saat hye sun menghadiahkan lukisan golden fish untuk ulang tahun Wu Chun. Oh My God! Hati Mino mencelos. Sun-a ! kau bahkan tak datang di hari ulang tahunku! Dan sekarang kau…….. Huh… apa maumu sebenarnya? Mino sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Mino-a, gwencana?” Bumie menggerak-gerakkan tangannya di depan Mino.
“E… Gwencana, sepertinya aku harus ke belakang dulu.”

Mino segera berlalu dari ruangan itu, Bumie menatapnya heran, sementara Il Woo masih saja menatap layar televisi. Di  toilet Mino membasuh wajahnya, dia mencoba menenangkan diri. Matanya terpejam tapi semakin dicoba, gambaran tentang senyuman hye sun saat memberikan lukisan ke Wu Chun makin kentara.  Dia membuka mata, dan segera di dapati bayangan wajahnya di cermin yang begitu menakutkan. Dia merogoh kantong jasnya, saat handphone sudah di tangannya, dengan cepat dia menghubungi sebuah nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Siapa lagi kalau bukan nomor orang yang membuat perasaannya campur aduk sekarang ini?  Satu kali panggilan, tidak diangkat, dua kali panggilan? Tiga kali? Dan akhirnya…. Sepuluh kali!!!!! Mino mulai kesal. Dengan emosi meluap di mengetik,
KAU DIMANA?
JIKA TIDAK SEGERA MENJAWAB, HUBUNGAN KITA PUTUS!

Agak ragu Mino mengirim pesan itu, hatinya urung untuk melakukannya, tapi kenapa tangannya malah memencet tombol send !  “Yah… yaH….” Mino berucap dengan ekspresi menyedihkan, ditatapnya layar HP itu melas.

 
MESSAGE HAS BEEN SENT

Mino menghela nafas, nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang tersisa sekarang? Dengan malas dia melangkah menuju Bumie dan il Woo, tapi betapa terkejut dia saat di sana di tempat duduknya telah ada, Son Hye Jin! Ya ampun, lengkap sudah penderitaanku malam ini, putus dengan Sun dan sekarang harus  bertemu dengan tante ganjen itu.

“Anyeong haseyo, dongsaeng.” Sapa Hye Jin.

“Anyeong.” Mino terpaksa duduk di samping Hye Jin karena hanya tempat itu yang tersisa di Sofa melengkung itu, makanan telah tersaji di meja.

“Aku mengundang Hye Jin Noona saat melihatnya memasuki restoran tadi, kau tak keberatankan, Mino?” tanya Il Woo. Mino menjawab, “Tentu saja tidak.”

Sudah pasti bohong!

“Ayo sekarang kita makan!” Seru Bumie. Sebentar saja suara peralatan makan beradu, diselingi dengan candaan dan perbincangan ringan diantara mereka.

Pintu ruang pertemuan di samping mereka terbuka lebar, segeralah muncul dua orang pria dengan tampilan perlente dan dua orang wanita. “Senang berbisnis dengan anda, Hye Sun-ssi. Saya yakin film ini akan sukses, melebihi sekuel Twillight Saga, tentunya.”

“Ah, Tuan terlalu memuji, saya masih perlu banyak belajar.”

“Ah, jangan merendah, artis berbakat seperti andalah yang selalu kami cari untuk diajak kerja sama.”
Pria yang satunya yang merupakan asisten bisnisman yang sedari tadi berbincang dengan Hye Sun membisikkan sesuatu di telinga bosnya.”Maaf, Hye Sun-ssi, sepertinya saya harus pergi sekarang.”

Hye Sun tersenyum, “Terima kasih telah bersedia memperhatikan proposal kami.” Dia menunduk hormat melepas kepergian dua pria tersebut.

Il Woo yang sedari tadi melihat Hye Sun segera meloncat dari kursinya dan menarik Hye Sun mendekati Mino, Bum dan Hye Jin. Nah loh, kenapa Il Woo jadi mengundang banyak orang di situ? Bukannya ini perayaan Mino? Seharusnya Mino yang berhak?

Hye Sun memberi tanda pada manajernya untuk pulang lebih dahulu, entah mengapa dia juga ingin berlama-lama di situ, apalagi sekarang ini, saat didapatinya Mino sedang duduk berdampingan dengan Hye Jin, dan tingkah tante itu…..? Uh, bener-bener bikin kesel, tapi tidak… aku harus tenang…. Harus!

“Ayo duduk, Noona,” Il Woo menarik tangan Hye Sun hingga terduduk di sampingnya. Posisi mereka sekarang berlima mulai dari ujung kanan Mino, Hye Jin, Bumie pas ditengah, sementara Il Woo dan Hye sun di kiri.

“Wah, rupanya ada perayaan, ya?” Hye Sun bertanya dengan suara riang.

“Iya, Noona, Mino lolos casting drama action,” rupanya Il Woo ingin lebih mendominasi pembicaraan.
“Dongsaeng, coba kau makan ini?” Dengan manja Hye Jin menyodorkan kimchi ke mulut Mino.
 
Terkejut, Mino membuka mulutnya lalu menelan dengan susah saat kimchi itu sudah di suapkan. Mino jadi gelagapan, didapatinya Hye Sun memandang ke arahnya. “Uni juga di sini?”

“Iya, Sun-a. Aku tidak mungkin melewatkan perayaan ini,” seru Hye Jin.
 
Melewatkan? Huh…., tingkahnya seperti orang yang sengaja diundang saja, kalau saja Il WOO sialan itu tidak mengacaukan semuanya, kau tidak akan di sini, tante jelek! Mino merutuk dalam hati.

Hye Sun tertawa renyah, tentu saja untuk menutupi emosinya. Bumie menangkap luapan perang antara Mino dan Hye Sun, dia menyusut di tempat duduknya, saat dipandanginya Il Woo, ya Tuhan…, kenapa Il Woo masih setenang itu? Apa dia tidak tahu tentang Mino dan Sun? dasar, kenapa harus aku yang selalu ada di antara mereka. Tidak! Aku harus bertindak, suasana sudah tidak nyaman.

“Bagaimana kabar dari Taiwan, Noona?” Oh tidak, Bumie…. Kenapa malah pertanyaan itu yang kau katakan? Takut-takut Bumie melirik Mino yang sudah menatapnya tajam. Usahanya untuk mencairkan suasana gagal total, alih-alih cair, wajah Mino dan Sun makin tegang saja.

“Oh, Taiwan baik-baik saja, dongsaeng,” Hye Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya. Il Woo menepuk pundak Sun,”Ah, Noona sangat murah hati, hanya karena berjanji pada Whu Cun untuk kerja sama lagi, Noona segera mengambil proyek itu. Tahu begini, aku akan membuat Noona berjanji untuk kerja sama lagi waktu iklan kosmetik dulu.”

“Wah, sekarang aku minder jika harus kerja sama denganmu, Il Woo, secara kan kau sudah sangat di gandrungi gadis-gadis.”

“Ah, Noona bisa saja! Oh ya, Noona.. kalau ada tawaran iklan lagi, aku akan minta dipasangkan lagi dengan Noona, wajah kita kan sama-sama imut, Noona. Kita pasti jadi pasangan serasi.”

Mino tambah gusar, ingin rasanya menyumpal mulut Il Woo. Kenapa Il Woo jadi cerewet sekali malam ini, manja sekali dia di depan Sun, yang berhak manja di depan Sun itu aku, dan wajah imut? Cih! Imut apaan? Wajahku juga tidak kalah imut. Nah lho, kok malah bahas wajah imut? Dalam hati mino jadi bingung sendiri.

“Dongsaeng, bisa tuang soju itu ke gelasku?” Hye Jin menyodorkan gelas ke arah Mino. Apa-apaan lagi ini, nenek lampir….? Mulutnya menyebut dongsaeng, tapi tingkahnya centil minta ampun! Dengan senyum dipaksakan, Mino menuangkan soju ke gelas yang disodorkan Hye Jin.

“Gomawo, dongsaeng-a.”

“Ne,” Mino menjawab sambil melirik Hye Sun di ujung matanya. Sun juga sekilas meliriknya walau pun masih tertawa karena lelucon Il Woo. Batin Sun sebal dengan tingkah pasangan personality taste itu.

Sementara Bumie semakin tidak karuan, pandangannya dialihkan dari Mino ke Sun bergantian, Oh, Tidak!!!!!!! Kalau bisa aku pasti menjatuhkan bom saja di antara mereka biar luluh lantak sekalian dari pada suasana jadi seperti ini. Panas! Panas! Panas! Bumie mengkipas-kipaskan buku menu di dadanya padahal ruangan itu ber-AC.

“Ya ampun..,” Sun tiba-tiba menepuk jidatnya.
“Gwencana, Noona?” tanya Bum dan Il Woo bersamaan. Mino terperanjat.

“Gwencana, saya lupa kalau malam ini ada acara dengan Appa, dia pasti sudah berkali-kali menelpon padahal HP kusilence waktu meeting tadi.” Sun segera mencari HP di tasnya. Saat Mino melihat Sun sudah memegang HP, wajah Mino menjadi tegang, Bumie heran melihat wajah muram Mino. Kenapa segitunya melihat Sun yang menunduk menatap layar ponsel. Mino teringat sms yang dikirimkan waktu di toilet tadi, batin Mino memohon, jangan dibaca, Sun-a… jangan, jangan!

Tentu saja kekawatiran Mino terjadi, saat Sun melihat layar itu, mata bulatnya membelalak mendapati panggilan tak terjawab dari Mino sebanyak sepuluh kali. Mino masih saja memandang nanar, dia tidak bisa menangkap ekspresi Sun karena wajah gadis itu menunduk saat menatap ponsel. Dan saat Sun mulai membaca SMS itu…..

KAU DIMANA?
JIKA TIDAK SEGERA MENJAWAB, HUBUNGAN KITA PUTUS!

Matanya tambah membelalak, tapi segera teduh kembali saat membaca SMS dari Appanya,

SUNNY, APPA & OMMA MENUNGGUMU DI RUMAH, JIKA ACARAMU SUDAH SELESAI, SEGERA PULANG, YA…..

“Well. Sepertinya aku harus pergi sekarang?”
“Yah, Noona… kok buru-buru.”
“Miane, dongsaeng, Appa sudah menungguku. Selamat bersenang-senang, semuanya.”

“Noona….”  Il Woo memberikan pelukan perpisahan pada Sun. Mino semakin terbelalak. Bumie hanya mengangkat tangannya pada Sun. Dan Mino…. Kikuk, salah tingkah dan apalah pokoknya… . Tapi Sun mencuekkan pasangan personality taste itu dan segera berlalu.

“Sepertinya aku juga harus segera pergi!” Mino segera angkat kaki dari ruangan itu, tentu saja untuk mengejar Sun.

“Yah, Ya.. Mino-ssi!” teriak Il Woo, Bumie dan Hye Jin kaget.

“Hei, kenapa kau kesal sekali, Woo?” tanya Bumie. Il Woo melengos,”Bukankah dia yang akan membayar semua ini? Lalu sekarang siapa yang bayar?”

“Jangan kawatir, sementara biar aku yang bayar, besok aku akan tunjukkan bonnya ke Mino,”jawab Bum enteng. Dia tahu benar apa yang akan dilakukan Mino. Dalam hati dia juga lega karena akhirnya keluar dari suasana menyeramkan tadi.

Sementara di area parkir, Mino berusaha mengejar Sun. Terlambat, Sun sudah mengendarai mobilnya dan mobil itu mulai bergerak menjauh. Mino segera menuju ke mobilnya, menjalankan mesin dan mencoba mengejar mobil Sun.

Kejar-kejaran terjadi, bahkan saat keduanya sudah memasuki jalan raya, berkali-kali Mino membunyikan klakson sebagai tanda agar Sun segera menepi tapi tidak di hiraukan oleh gadis itu. Saat kedua mobil itu melewati jalan yang agak lengang, Mobil Mino berusaha mendahului Sun, Mino segera banting stir ke kiri dan… . Tepat! Mobil Mino sukses menghalangi laju mobil Sun, saat Sun dengan sigap menginjak rem mendadak supaya tidak menabrak mobil Mino yang melintang di depannya. Nafas Sun memburu, tapi dia berusaha tetap tenang, ekspresinya begitu datar ketika memperhatikan gerak-gerik Mino yang segera keluar dari mobil. Seperti perkiraan, pikirnya waktu Mino berjalan ke arahnya. Sun cepat-cepat memundurkan mobilnya, yakin jarak itu sudah tidak terhalang mobil Mino, Sun membelokkan mobil itu ke kanan, menginjak gas, dan akhirnya mobil itu sukses melaju mulus meninggalkan Mino.

“Sial!” umpat Mino sambil menendang-nendang mobilnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang!” Mino berteriak-teriak sendiri. Dengan kesal dia masuk kembali ke dalam mobil. “Sepertinya tidak ada jalan lain, ya… aku harus ke apartemennya sekarang.”

-----TBC Part 2-----
« Last Edit: December 25, 2010, 09:43:04 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]