Spoiler Aku duduk di sofa yang menghadap piano, kemudian menjatuhkan Peanut secara perlahan-lahan dan hati-hati bersebelahan denganku. Lalu aku mulai menekan satu, dua tutsnya. Nada-nada sumbang langsung terdengar. Aku segera menarik kembali tanganku, kebingungan. Peanut menegakan kepalanya, memandangiku dengan raut memprotes. "Omo--kok nggak enak didengar?" Guk!! Aku terperanjat. Segera ku berpaling kearah Peanut. "Oh--omma mengusik ketenangan tidurmu?" bibirku terbuka lebar. "Miane sayang ... " Aku menyentuh kepalanya sampai matanya terpejam dengan gaya malas.Peanut mengeram pendek kemudian merebahkan kepalanya di pahaku. Setelah bengong sesaat, aku kembali menjatuhkan jari-jemariku ke tuts-tuts di piano dan menekannya. Irama sumbang kembali terdengar. Kali ini lebih parah, suaranya sangat cempreng seperti dentingan-dentingan nyaring dari lonceng gereja. Peanut mengangkat kepalanya lagi. Dia memandangiku. Pandangannya seakan menunjukan 'aku sudah putus asa, omma!' Aku memanjangkan bibir ke depan. Ayolah sayang. Omma juga tak ingin seperti ini ... Balasku dengan pandangan memelas."Kau apakan piano kesayanganku?"