Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 99197 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Song of The Day :
Now That She's Gone by JJ Lin Jun Jie
http://www.youtube.com/watch?v=evKLaObf2HE&feature=related



"8 am--morning meeting dengan para direksi, 9:30--call with James Whitecross from ML, 10:15--meeting dengan para analyst Stanberg, rekomendasi Aussie Bank, 12 pm ... lunch with .. Carlson Kim from Korean Capital, 1:30 ... "

"Tunggu sebentar!!" Rathyan mengangkat tangannya yang sedari tadi sibuk menanda-tangani setumpuk dokumen di atas meja. Alisnya berkerut. "Lunch dengan siapa, katamu?"

"Carlson Kim .. dari Korean Capital .. ," jawab Daze lambat-lambat.

"Mwo?!!" Mata Rathyan terbelalak lebar. Pulpen di tangannya langsung melayang ke sudut meja, brakkk!! "Siapa yang membuat janji itu?!!!"

"A .. aku ... " Daze kembali menjawab dengan segan. "Carlson membicarakannya pagi ini denganku .. dan .. kurasa tak ada salahnya jika membuat janji itu ... kau, maksudku--tuan, tak punya jadwal jam segitu ... "

Rathyan menatap Daze dengan pandangan menusuk. "Batalkan janji itu!!" perintahnya dengan nada ketus.

"Ta .. tapi .. saya ... saya sudah meluruskannya .. ," ujar Daze takut-takut.

"Apa hakmu membuat janji untuk ku?" Rathyan mendengus. "Kau hanya sekretarisku, Daze Han!! Kau tak berhak melakukan itu!!Semua janji harus disetujui dulu olehku baru boleh kau buat. Araso?!!"

Daze menunduk perlahan.

"Ku bilang batal, ya batal!!" lanjut Rathyan dengan nada hampir berteriak. "Aku tak ingin ketemu orang itu!!!"

"Ta .. tapi ... "

"DAZE HAN!!! Apa kau tuli?!!!"

Teriakan Rathyan menghentak Daze. Gadis itu terperanjat kaget dan menyusut perlahan-lahan. Kedua pundaknya terangkat dan dia menatap Rathyan yang sedang mendelik kearahnya dengan ekspresi ngeri. Samar-samar pembicaraannya dengan Carlson dalam perjalanan ke kantor pagi ini kembali terbayang dalam pikirannya.

Flash back ...

Wajah Carlson tampak berseri-seri. Sepanjang perjalanan dari Han's mansion mulutnya tak henti bersenandung kecil. Jari-jemarinya mengetuk-ngetuk gagang kemudi dengan berirama.

Daze tertawa. "Sepertinya ada hal yang mengembirakan?"

Carlson berpaling padanya. "Dhe?"

"Ada sesuatu kan?" Daze memperlebar senyumnya.

Carlson membalas sambil mengangguk kecil. "Ne. Tapi bagaimana kau tahu?"

"Aku hanya menebak. Tapi kelihatannya tak salah, wajahmu mengambarkan semua itu ... " Daze mengedipkan matanya. "Boleh ku tahu apa itu?"

"Tentu saja!" sahut Carlson semangat. "Kau sudah tahu tentang perubahan struktur kepemimpinan Max Global Korea kan?"

"Ne .. ," sahut Daze halus. Nada suaranya terdengar sangat rendah. Entah mengapa kata 'Max Global' membuat lututnya lemah. Begitu menyadari Carlson tak tahu apa-apa mengenai hubungannya dengan sang pemimpin Max Global Korea baru itu membuat hatinya sesak. Apa perlu dia menjelaskan semuanya pada Carlson? Tapi, hubungannya dengan Carlson kan sudah bukan seperti yang dulu lagi .., apa masih perlu? "Lalu apa kaitannya semua itu dengan kegembiraanmu?" lanjut Daze.

"Kudengar pemimpin barunya--putra dari Mr. Oliver Jang itu sendiri--orangnya sangat menghargai karya bermutu dari para partner usahanya. Aku sudah menyelesaikan sebuah proposal penawaran kerjasama mengenai pendirian sebuah mall pada Max Global. Proposal ini kubuat dengan sepenuh hati. Menghabiskan waktu hampir setahun dan aku yakin proyek ini akan mendatangkan keuntungan besar. Beberapa bank juga sudah kuhubungi guna mendapatkan dana yang dibutuhkan. Jika Max Global menganggukan kepala, semua akan terselesaikan dengan mudah ... aku tak perlu bersusah payah menunggu persetujuan dan pencairan dana dari bank .. "

"Apa .. tak ada cara lain?" tanya Daze sambil menundukan kepalanya. "Mengapa harus Max Global?"

"Kenapa?" Carlson balas bertanya begitu mendapati kesenduan terkandung dalam nada suara Daze. "Kau sakit?"

Daze mengeleng perlahan. "Anhi ... Aku hanya tak mengerti, mengapa harus Max Global?"

"Karna perusahaan itu penyalur dana utama buat Korean Capital selama setahun ini ... ," jawab Carlson. "Bekerjasama dengan perusahaan itu lebih menjanjikan daripada badan lain .. "

"O--" Daze mengangguk pelan.

"Apa masalah ini menganggu pikiranmu?"

"Mwo?" Daze mengangkat kepalanya. "Anhi, kenapa berkata begitu?"

"Mengingat kau merupakan bagian dari Max Global. Miane--tak seharusnya aku membicarakan rencana ini denganmu?" Carlson tersenyum penuh penyesalan.

"Tak apa." Daze balas tersenyum walaupun terlihat agak terpaksa. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

"Aku akan membuat janji bertemu dengan direktur Jang hari ini, dan jika ada kesempatan, segera mengajukan proposal tersebut padanya. Mudah-mudahan beliau menerimanya ... "

Beliau? Daze tersenyum kecut. "Ya--semoga usaha kerasmu dihargai, Carls-a ... ," ujarnya. Dalam hati, Daze merasa tak yakin.

End of flash back ...


Dan perkiraan Daze menjadi kenyataan. Rathyan menolak keras janji makan siang yang diajukan Carlson. Jangankan untuk menyampaikan proposal tersebut, kesempatan untuk bertemu dengannya saja rasanya sangat sulit. Kayaknya Rathyan bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dia ingin menjaga jarak dengan Carlson. Perkataan 'Aku tak ingin ketemu orang itu!!!' membuat Daze menyesal. Karna hubungannya dengan Rathyan, Carlson harus menanggung semua akibatnya. Akibat dari perbuatan yang sama sekali tak diketahuinya.

"Kenapa? Kau sakit hati?"

Suara Rathyan menyadarkan Daze dari ketermenungan berkepanjangan. Perlahan dia mengalihkan perhatian pada Rathyan. Tapi gadis itu tetap tak mengeluarkan suara.

"Kau berusaha menolongnya dengan membuat janji makan siang itu. Jangan menganggapku bodoh, Daze Han! Aku tahu apa yang akan dikatakannya dalam acara makan siang konyol itu!"

"Mwo?!" Daze mengerutkan alisnya. "Apa maksud tuan?"

"Masih berpura-pura jua?!" Rathyan mendengus. Dia bangkit dari kursi kerjanya yang tinggi kemudian berjalan kearah Daze dan berhenti tepat di hadapannya. "Jangan katakan padaku kau tak mengatakan padanya kalau kau sekarang sudah menjadi sekretaris pribadiku?! Dia memanfaatkan kesempatan ini dengan menyuruhmu membuat janji makan siang denganku, begitu kan?" Rathyan menyengir sinis.

"Tidak!!" seru Daze. "Dia tak tahu apa-apa!! Jangan sangkut-pautkan masalah kita dengannya!!"

"O ya?!! Apa kau kira aku percaya? Mengingat hubungan kalian ... "

"Hubungan apa?!! Hubungan apa?!!" Mata Daze terbelalak lebar. Nafasnya memburu dan dia agak kaget ketika tangannya tiba-tiba terangkat dan menekan dada Rathyan keras-keras sampai terdorong beberapa langkah. Dia sama sekali tak menyangka dirinya bisa sehisteris ini. "Katakan padaku, hubungan seperti apa maksudmu?!!"

"Aku tak ingin membicarakannya sekarang!!" Rathyan menepis tangan Daze dengan kasar. Kemudian dia berbalik kembali ke meja kerjanya. Menjatuhkan dirinya di kursi lalu berkutat kembali dengan dokumen-dokumen di atas meja. "Siapkan segala keperluan buat morning meeting hari ini, dan katakan pada para direksi aku akan siap sepuluh menit lagi. Secepatnya!! Pergi!!"

Daze menghela nafasnya. Selalu begini ... Yang bisa dilakukan anak ini selalu menghindar! SELALU--dari setahun yang lalu sampai sekarang sifatnya yang satu ini tak berubah ...

Daze mundur sambil membungkukan badannya. "Ne, tuan Jang ... "

Rathyan mengangkat kepala dari tumpukan file di hadapannya. "Satu hal lagi!"

Daze menoleh. "Dhe?!"

"Jangan memanggilku tuan, pak, atau apa itu!! Panggil saja namaku, atau cukup margaku, terserah kau!"

"Ta .. tapi .. ," Daze bermaksud memprotes tapi Rathyan segera mengangkat tangannya.

"Cukup! Keluarlah!"

Daze menutup mata kemudian menghembuskan nafasnya, berat. "NE!!" jawabnya dengan nada keras.

Setelah itu dia berjalan ke pintu. Terakhir kali dia berbalik dan mengamati Rathyan lewat celah dibalik pintu. Pemuda itu tampak berkutat kembali dalam kesibukannya. Rambutnya yang panjang dan agak acak-acakan hampir seluruhnya menutupi wajahnya. Wajah yang senantiasa membuat hati Daze berdesir keras. Aku akan segera melupakanmu! Aku yakin itu! tekad Daze dalam hati.


***** ><><>< *****



"Kita makan di luar!!"

Brakk, Rathyan menjatuhkan sumpit di tangannya ke atas meja. Sushi dan sashimi dalam kotak di hadapannya belum disentuhnya sama sekali. Dia bangkit dari duduknya. Setelah menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi, dia berjalan ke arah pintu.

"Mwo?!" Daze mengangkat wajah dari kotak lunch yang sedang dihadapinya. Kebingungan, dia melirik kotak lunch di atas meja Rathyan. Tak kurang lima belas menit yang lalu majikannya ini memerintahnya untuk membelikan sushi dan sashimi buat makan siang dengan alasan dia tak punya waktu lunch di luar. Tapi sekarang lihat, apa yang dilakukan anak muda ini? Dia ingin yang lain?

Daze menoleh kearah pintu dan mendapatkan Rathyan berdiri di sana dengan ekspresi tak sabar.

"Masih melongo di situ?"

"Eh--maksudnya, aku pergi denganmu?" tanya Daze sambil berdiri dengan ragu-ragu.

"Tentu saja!" sahut Rathyan kesal. "Apa kau tak dengar kata 'KITA'?"

"Oh--" Daze membuka mulut lebar-lebar. "Ta .. tapi .. bagaimana dengan makanan-makanan ini?" tanyanya sambil mengaruk-garuk kepala kebingungan. Seluruh perhatiannya terpusat pada makanan di atas meja dengan raut prihatin.

Berapa banyak manusia di dunia ini yang masih berjuang buat kelangsungan hidup hanya untuk  sesuap nasi? Bahkan mungkin banyak di antaranya yang mati kelaparan, sedangkan orang-orang kaya tak tahu diuntung ini membuangnya dengan percuma, sama sekali tak menghargainya. Sungguh menyedihkan.

"Buang saja!!"

Perkataan keras itu menyentak Daze. Seketika dia berpaling kearah Rathyan.

"Maksudmu ... buang ke tong sampah?"

"Ne!! Ada masalah?!!"

"Ta .. tapi .. makanan-makanan ini belum disentuh sama sekali ... "

"Persetan!!" Rathyan mengibaskan tangannya. "Saat ini saya menginginkan sesuatu yang hangat." Dia berbalik membelakangi Daze. "Jika kau tak bergerak jua, jangan salahkan aku melakukan sesuatu yang tak terbayangkan!!"

"Mwo?" tanya Daze kaget. "A .. apa maksudmu?!"

"Kau akan mengetahuinya jika tak mengikuti perintahku!!" Rathyan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari ruang kantor tersebut.

"Yaa--Rathyan Jang!! Jangan lakukan itu?!!" Tergesa-gesa Daze menyambar tas genggamnya lalu berlari cepat mengejar Rathyan yang sudah berada jauh di depannya. "Dia tak bersalah! Saya mohon, jangan menganggunya!"

Bibir Rathyan tertarik ke atas. Dalam hati, dia merutuki pria yang telah merubah seluruh kehidupannya itu. Hubungannya dengan Daze, juga hubungannya dengan Oliver--ayahnya. Sifatnya dari seorang Rathyan dulu menjadi Rathyan sekarang--yang jujur saja, tak disukainya.

I'm no longer the man that i was. Jika saja kau memberiku kesempatan waktu itu, aku tak akan begini! Aku membencimu, Daze Han. Kau menjadikanku seorang pria yang tak tahu arah hidupnya sendiri. Semua yang kulakukan tak berguna. Max Global--bagiku hanya benda mati. Kau--tak teraih. Yang sulit dipercaya, aku malah menolong seseorang yang menyebabkan semuanya, dia--Carlson Kim!!!

Rathyan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi Daze. "Sudah kukira ... ," katanya dengan nada mendesis.

"Mwo?" Daze sampai di hadapan Rathyan dengan nafas tersengal-sengal. Matanya melebar menatap pemuda itu, tak mengerti.

"Kau akan membelanya!" sahut Rathyan ketus.

"Mwo? Aku tidak ... "

"Sudah! Aku tak perduli pada perjalanan hubungan kalian!"

Dengan tegap Rathyan berbalik dan meneruskan langkahnya.

"Yaa--bukan begitu!!"

Teriakan Daze tak dihiraukan Rathyan. Pemuda itu merogoh ke dalam saku celana dengan kecepatan luar biasa dan mengeluarkan earphone set yang segera disumbatkan ke telinganya. Dalam hitungan detik volume MP3 di tangannya diputar ke volume tertinggi sehingga suara-suara di sekitarnya tak terdengar.

Dia menoleh begitu Daze sampai di sebelahnya dengan nafas terengah. Gadis itu mengerak-gerakan tangannya berulangkali, berusaha mengutarakan maksudnya. Tapi dengan tampang dingin dan datar Rathyan mengalihkan perhatian ke depan. Tak dihiraukannya Daze yang masih berkoak-koak sendiri.

Daze mendengus. "Anak ini--huhhh--"


***** ><><>< *****



Waktu hampir memasuki jam makan malam. Daze melirik jam tangannya, sudah pukul 7 malam. Perlahan dia mendorong kursinya ke belakang dan mengangkat wajah, mengarahkan pandangan ke depan. Matanya agak disipitkan guna mempertajam penglihatan yang rada kabur akibat terlalu lama menghadapi layar komputer.

Sesaat Daze tertegun. Desiran itu terulang lagi begitu paras di depan terlihat jelas olehnya. Tampang yang sangat serius waktu mengeluti dokumen-dokumen yang berserakan di hadapannya. Sebagian rambutnya menutupi wajah, tapi justru itu menambah daya tariknya yang sempurna.

Daze mendesah. Tekadnya semula terlupakan. Laki-laki tipe pekerja keras memang terlihat jauh lebih menarik. Dan ini baru disadari Daze dari seorang Rathyan. Lima menit lamanya Daze tak bergerak dari posisinya. Matanya terarah lurus mengamati kesibukan Rathyan.

Pukul setengah delapan Rathyan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Sejenak dia mengangkat tangan untuk merengangkan otot-otot badannya yang terasa kaku sambil mengerak-gerakan kepalanya ke kanan dan kiri. Perhatiannya teralih begitu mendapati Daze yang terpaku di tempatnya.

Alis Rathyan berkenyit perlahan. "Kau belum pulang juga?"

Mata Daze melebar. "Bukannya kau sendiri yang tak mengijinkanku pulang sebelum ada perintah darimu?!"

"Oh--" Rathyan menepuk jidatnya. Matanya terpejam sambil digelengkan perlahan. "Aku lupa ... "

Daze memberenggut tapi tak mengucapkan apa-apa.

Rathyan membuka mata kemudian berdiri dari kursinya. "Kita pergi sekarang?"

"Pu .. pulang?" Terburu-buru Daze bangkit dari kursinya.

"Tidak. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita dinner di luar. Kau belum makan kan?"

Daze mengeleng sambil mendesah pendek.

"Selesai makan, kita balik lagi .. "

Rathyan mendahului Daze menuju pintu. Yang ditinggal mengerutu sendiri di posisinya. "Huh--sudah malam begini masih bekerja. Sejak kapan anak bebal itu serajin ini?"

"Hey--tunggu!!!!"

Daze menghambur keluar begitu bayangan Rathyan sudah tak kelihatan lagi.


***** ><><>< *****



Rathyan meminggirkan mobilnya di pinggir jalan. Setelah mematikan mesin, dia keluar dari mobil.

“Mau kemana?”

Teriakan Daze tak dihiraukannya. Dia menutup pintu dengan satu hentakan keras, kemudian dia menyandar ke badan mobil sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Ternyata itu sekotak rokok dengan geretannya. Dia menghidupkan sebatang rokok kemudian menghisapnya.

Daze memperhatikan lewat kaca spion dengan kening berkerut. Sejak kapan anak ini merokok? Seingatnya, dia tak pernah melihatnya merokok waktu di Perth dulu.

Daze menurunkan kaca jendela kemudian menjulurkan kepalanya keluar.

“Kau merokok?”

Rathyan meliriknya sekilas. Dia tak menjawab. Ekspresinya tetap datar. Dengan santai dia menghabiskan rokok tersebut kemudian membuang sisa-sisa puntungnya ke tong sampah dekat situ. Sesaat kemudian dia masuk kembali ke mobil. Menghidupkan mesin dan menjalankannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Daze tak bertanya lebih lanjut, percuma—Dia tahu Rathyan tak akan menjawabnya.


***** ><><>< *****



"Makan apa?" tanya Rathyan sambil menyelusuri deretan menu dalam daftar menu di tangannya.

"Hmm--" Daze tak menjawab. Pandangannya masih sibuk berseliweran di antara berpuluh-puluh menu yang menarik perhatiannya.

"Cepatlah!" desak Rathyan. Dia melempar daftar menu ke atas meja dan kemudian mengangkat tangan memanggil pelayan yang melayani mereka. "Dinner set .. ," dia berpaling pada Daze, "Kau juga?"

"Sa .. saya ... "

Daze belum sempat menjawab Rathyan sudah beralih kembali ke pelayan muda di sampingnya. "Dinner set for two .. "

"Yes, Mr. Jang ... " Si pelayan membungkuk kemudian berlalu dari hadapan mereka.

"Hey--saya belum memutuskan mau makan apa?" protes Daze tak senang karna Rathyan mengambil keputusan seenak perut buatnya.

"Kita tak punya waktu berlama-lama di sini. Jika kau mau kerja sampai dini hari, aku tak keberatan kau melakukannya?!" jawab Rathyan ketus.

Daze langsung membungkam dalam kebisuan. Terus terang saja dia tak mau hal yang dikatakan Rathyan sampai terjadi. Lebih baik dia makan sekedarnya daripada harus berduaan dengan pemuda ini dalam satu ruangan.

Lima belas menit kemudian makanan tersaji di atas meja. Mereka menghabiskan hidangan tersebut dalam waktu setengah jam, lalu keluar dari restoran Perancis itu dengan jarak yang agak jauh. Rathyan berada di depan, sekitar lima meter dari Daze.


***** ><><>< *****



Daze menghentikan langkahnya ketika hampir menabrak punggung Rathyan. Pemuda jangkung di depannya berdiri mematung di pintu masuk restoran dengan posisi menengadah ke atas. Tubuhnya agak tertutupi oleh daun pintu sehingga tak terlihat oleh Daze. Gadis itu memutarinya dan ikut menengadah.

"Omo--hujan?" mulut Daze mengangga. "Bagaimana mungkin? Waktu datang tadi cuacanya sangat cerah .. "

Rathyan tak menjawab. Dia mencondongkan badan ke depan, mencoba mengukur jaraknya dengan tempat parkir di lapangan depan.

"Bagaimana ini?" tanya Daze cemas. Tangannya saling meremas dan melirik dengan gelisah. "Jangan sampai tak pulang ke rumah. Omma akan mengkhawatirkanku ... "

"Diamlah!" bentak Rathyan. Dengan tenang dia membuka jas yang dikenakannya kemudian secara mendadak dia meraih tangan Daze. "Ayo ke sana!!"

"Mwo?!!"

Daze tersentak. Sebelum keterkejutannya hilang, Rathyan sudah menariknya membelah hujan deras. Jas yang tadi dilepas pemuda ini diangkat melindungi kepala mereka berdua dari siraman air hujan.

Daze yang belum bisa menguasai perasaannya, mengangkat wajah perlahan, menatap Rathyan dengan pandangan nanar. Pemuda yang berlari di sampingnya tak bergeming, pandangannya tajam tertuju ke depan tapi entah mengapa daya tarik yang sering ditimbulkannya kembali menghentak hati Daze yang terdalam. Daze memejamkan mata perlahan. Untuk melupakan Rathyan, ternyata bukan hal mudah.

Mereka sampai di samping mobil Rathyan yang terparkir di barisan paling depan. Rathyan membuka pintu di bangku yang bersebelahan dengan bangku kemudi.

"Masuklah .. ," katanya dengan sedikit mendorong Daze agar segera masuk ke dalam.

Daze menjatuhkan tubuhnya di bangku. Pakaiannya basah kuyup. Dia sibuk mengibas-ngibaskan jaket kulit yang membalut tubuhnya ketika Rathyan menjatuhkan diri di sebelahnya.

"Siap?" tanya pemuda itu.

Daze mengangguk dengan tubuh mengigil pelan. "Ne .. "

Rathyan menatapnya sesaat, kemudian dia berbalik dengan bertumpu di atas bangku yang didudukinya. Tangannya terjulur meraih sesuatu di jok belakang. Sebentar kemudian dia menarik kembali tangannya.

"Keringkan badanmu ... ," katanya sambil menyodorkan sebuah handuk besar pada Daze.

"O--gumawo .. ," Daze menerima handuk tersebut dengan tubuh agak menyusut. Perhatian mendadak dari Rathyan agak mengejutkannya.

Rathyan hanya mengangguk halus. Dia kembali ke posisi semula, memakai sabuk pengaman kemudian menghidupkan mesin mobil. Tak berapa lama Lotus merah tersebut meraung-raung meninggalkan tempat parkir.


***** ><><>< *****



Sampai di kantor Max Global, Rathyan menenggelamkan diri kembali dalam pekerjaannya. Tak diperdulikannya Daze yang memojok di meja kerjanya. Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pakaian basah ditambah ruangan ber-AC yang cukup rendah membuatnya mengigil kedinginan.

Perlahan Daze mengarahkan pandangannya pada Rathyan. Digigitnya bibir keras-keras. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya terasa panas dingin. Setengah jam berlalu sudah, dan keheningan dalam ruangan tersebut tiba-tiba dileburkan oleh deringan telepon dari meja Rathyan.

Kring ... kring .. kring ...

Daze melirik Rathyan. Pemuda di hadapannya tak berpaling sedikitpun dari pekerjaannya. Daze menarik nafas perlahan. Dengan tangan gemetar dia menekan tombol masuk yang terhubung langsung dari nomor Rathyan.

"Hallo, this is Max Global. What can i do for you?"

"Hy--" terdengar sahutan serak dari seberang. "Saya Oliver Jang--tolong sambungkan ke majikanmu!"

"Pak .. pak direktur ... ?" seru Daze kaget. Dia sama sekali tak menyangka orang yang menelepon semalam ini adalah majikan tertingginya. Dengan gugup dia berpaling pada Rathyan yang sekarang sudah menatap kearahnya.

"Ne! Jika dia tak mau dengar, katakan padanya--aku akan terbang sekarang juga ke Korea!!! kata Oliver tegas.

"Ne ... " sambil membalas pandangan Rathyan, Daze menunjuk telepon di tangannya. "Pak direktur ... ," katanya dengan nada pelan.

Rathyan menghembuskan nafas sambil memberi tanda dengan tangannya. "Sambungkan padaku!!"

"Ne .. " Daze menunduk kemudian menekan tombol merah di teleponnya.

Tak berapa lama, hubungan tersambung ke nomor Rathyan. Pemuda itu segera mengangkat gagang telepon kemudian merapatkan ke telinganya.

"Ya?"

"Appa bisa menghadiri 1st annivesary nya Max Global cabang Korea ... ," kata Oliver tanpa tedeng aling-aling. " .. dan Jennifer juga ikut dengan appa ... "

"What?!" Rathyan tersentak dari tempatnya. "Untuk apa dia kemari?"

"Dia tunanganmu, Rath. Sudah seharusnya kita mengumumkan statusnya di depan umum ... "

"Aku tak pernah menyetujui keinginanmu itu!!" dengus Rathyan.

"Kalian bersahabat sejak kecil dan keluarganya juga sepadan dengan kita. Suka atau tidak, kau harus menerimanya!"

"Persetan dengan keputusanmu!!!!"

Brakkk!!! Rathyan menghempas gagang telepon di tangannya ke atas meja. Suara benturan keras menghentak Daze. Bibirnya yang gemetaran langsung terbuka lebar.

"Ke .. kenapa?"

Rathyan tak menjawab. Tubuhnya diayunkan  keras-keras ke belakang sehingga menimbulkan bunyi berderek dari kursi yang didudukinya. Wajahnya menengadah ke atas dengan sepasang mata terpejam rapat.

"Kau .. tak apa kan?"

Perlahan Daze berdiri dari tempatnya. Kepalanya terasa pening. Dia mengangkat tangan dan menekan jidatnya. Agak sempoyongan dia mendekati meja kerja Rathyan.

"Rath ... "

Rathyan membuka mata. Sesaat dia memandang nanar langit-langit ruangan bercat putih, kemudian dia menegakan tubuh dan dengan cepat bangkit dari kursinya.

"Kita pulang sekarang!!!" katanya tegas sambil memutari meja kerja dan menarik tangan Daze. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika Daze langsung ambruk kearahnya. "Hey---Dazya!!"

Daze membuka mata perlahan. "Di .. dingin .. dan panas ... saya rasa ... saya demam ... "

Rathyan tersentak. Gelabakan, dia menepuk pipi Daze berulangkali buat menyadarkannya begitu dilihatnya sepasang mata gadis dalam pelukannya terpejam kembali.

“Daze Han!!! Jangan menakutiku, buka matamu!! Gwencana??!!” Dia menguncang tubuh Daze. Sikapnya dinginnya tadi musnah seketika. Hatinya terguncang hebat, apalagi wajah Daze terlihat sangat pucat. “Daze Han!!! Bangun!!”

“Grrrr!!” Daze mengigil kedinginan. Tubuhnya bergetar seperti orang kejang-kejang. “Dingin …. Dingin .. “

“Dingin? Tunggu sebentar!!” Tergesa-gesa Rathyan membuka kancing kemeja dengan sebelah tangan. Setelah terbuka seluruhnya, dia melepaskan kemeja tersebut dari tubuhnya kemudian memakaikannya ke tubuh Daze. “Apa agak baikan?” Berulangkali tangannya mengosok-gosok lengan Daze. “Gimana? Gwencana?”

Daze membuka mata kemudian tersenyum perlahan, sangat samar dan rada susah. “Gumawo.. “

Dipandang seperti itu oleh Daze, Rathyan tersadar akan perbuatannya yang rada tak wajar. Bukankah dia sangat membenci gadis ini? Dia sudah merubah segala kehidupannya, jadi mengapa dia masih begitu perhatian terhadapnya?

Rathyan segera membuang muka kearah lain. “Bagus kalau tak apa-apa. Jika kau bisa jalan, aku akan mengantarkanmu pulang sekarang.. “

“Hmm—tapi .. pekerjaanmu …. ,” kata Daze lemah.

“Tak perlu khawatir. Aku bisa menyelesaikannya di rumah.,” sahut Rathyan tanpa menatap Daze.

“Miane … ,” ucap Daze penuh penyesalan. “Karna saya … “

“Jangan kegeeran, Daze Han!!” sela Rathyan. “Saya memutuskan pulang bukan karena kau, tapi lebih karna masalahku dengan orang tadi .. ,” dia menunjuk telepon yang masih tergeletak menyedihkan di atas meja dengan tampang garang.

“Abojimu .. ?” tanya Daze ragu-ragu. Ekspresi Rathyan membuatnya ngeri. Sepertinya pemuda ini tak begitu akur, atau, bahkan boleh dikatakan, sangat membenci pria di telepon tadi.

“Jangan mengungkitnya lagi!!!” teriak Rathyan. “Kuperingatkan, Daze Han!! Jangan sampai berurusan dengan orang itu!! Kau dengar?!”

“Ne … ,” Daze menyusut sedikit dari posisinya sehingga tubuhnya jadi agak limbung ke samping. Bisa dimaklumi, keadaannya memang belum sadar benar.

Rathyan langsung meraih badannya. “Sebaiknya kau minum obat dulu. Aku akan mengambilkan obat buatmu. Tunggu di sini .. “ Sebelum Daze membantah, Rathyan sudah berlalu ke seberang ruangan.

“Aku tak ingin kau berurusan dengannya. Sungguh aku tak ingin kau berurusan dengannya .. ,” Rathyan mengulangi perkataan tadi beberapa kali sewaktu mengeledah obat yang cocok buat dikonsumsi Daze. Nadanya lebih seperti desahan dan pengharapan yang menyayat.

Beberapa saat kemudian dia kembali lagi dengan dua butir obat dan segelas air tergenggam di tangan. Dia membantu Daze meminum obat tersebut kemudian membantunya berdiri dari lantai.

“Are you sure you can do it?”

“Yes .. ,” jawab Daze yakin. “I feel better now .. “

Rathyan masih terlihat ragu-ragu untuk beberapa saat. Tapi setelah Daze mendesak dengan memastikan bahwa dia benar-benar sudah baik barulah dia menuntunnya keluar dari ruangan tersebut.


***** ><><>< *****



Daze memasuki Han’s mansion dengan pikiran menerawang. Pengaruh obat yang diberikan Rathyan mulai bekerja. Dia merasa ngantuk dan tubuhnya seperti melayang-layang di atas awan, seringan kapas.

“Dazya … “

Panggilan tersebut samar-samar memasuki telinga Daze. Dia memutar tubuh perlahan. Ternyata yang memanggilnya adalah omma.

“Omma … “

“Kenapa pulang selarut ini?”

“Oh—“ Daze menyentuh bagian belakang tenguknya. “Pekerjaanku terlalu banyak, omma .. “

“Gwencana?” Omma mendekati Daze dengan ekspresi khawatir.

“O—gwencana .. ,” Daze tertawa lebar.

“Syukurlah.” Omma mengangguk lega. Lalu sesuatu teringat olehnya. “O ya—obatmu sudah diantar suster Park kemari … “

“Obat?” Alis Daze berkerut. “Obat apa?” ulangnya tak mengerti.

“Tentu saja obat tidurmu—“ sahut omma keheranan. “Apa kau benar, tak apa-apa, Dazya?” tanyanya ragu-ragu.

“Oh—itu .. “ Daze membuka mulut lebar-lebar. “Gumawo omma … ,” lanjutnya dengan nada pelan yang hampir tak terdengar.

Dia terpana. Ya, obat tidurnya. Sudah berapa lama dia tak menyentuh pil-pil tersebut? Dia tak ingat lagi. Mungkin dua atau tiga hari. Pekerjaan-pekerjaan berjubun yang dilimpahkan Rathyan padanya membuatnya lupa segalanya, termasuk insomnia yang diidapnya selama setahun terakhir.

Apakah benar pekerjaan-pekerjaan menumpuk itu yang menjadi penyebabnya, ataukah orang yang sering hadir dalam mimpinya itu sendiri yang sudah kembali dalam kehidupannya? Daze tak tahu sebenarnya aspek mana obat paling manjur bagi penyakit insomnianya selama ini. Dia mendesah kemudian mengangguk kearah omma.

“Good night, omma … “


***** ><><>< *****


p.s : nggak periksa ulang jadi kalau ada yang ganjil harap dimaafkan [hmpfh] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
« Last Edit: December 27, 2010, 01:31:54 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun